23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Omong Kutang Kutang

Kadek Sonia Piscayanti by Kadek Sonia Piscayanti
December 14, 2019
in Esai
Omong Kutang Kutang

Kadek Sonia Piscayanti

Dalam sebuah percakapan dengan ibu mertua ketika saya baru-baru menikah, saya tertegun dengan sebuah idiom yang digunakan ibu mertua saya. Omong kutang-kutang. Dilanjutkan dengan isi ceritanya.

Saya tidak sepenuhnya tahu, paham atau mengerti dengan istilah omong kutang-kutang. Kutang itu bahasa Bali, artinya buang. Jadi, omong kutang-kutang adalah semacam pembicaraan yang dibuang-buang.

Apakah begitu? Mungkin. Kembali pada omong kutang-kutang. Beberapa kali sejak saya bicara dengan ibu mertua yang didahului dengan omong kutang-kutang, maka saya sesungguhnya sedang menyimak serius sekali. Saya tahu ibu mertua tidak mungkin bercerita jika hanya untuk di-kutang atau dibuang-buang.

Salah satu ceritanya begini. Syahdan ada seorang perempuan yang sangat baik hatinya dan selalu menolong sesama namun dia hanya memiliki satu anak laki-laki dan ketika dewasa tiba waktu si anak laki-laki menikah. Muncul persoalan klasik. Perempuan ini sering bertengkar dengan menantunya atau istri dari anak lelakinya. Dan tak bisa didamaikan.

Menilik situasi rumah yang makin lama makin panas, si perempuan baik hati ini memilih meninggalkan rumahnya dan membangun rumah baru, menepi di pinggir kampung, membuat warung sederhana untuk membiayai dirinya dan dengan  demikian tak lagi minta pada anak menantunya. Nah lalu dimana letak omong kutang-kutang-nya?

Begini. Omong kutang-kutangnya adalah: Seandainya perempuan baik hati ini meninggal, bukankah semua hartanya akan jatuh ke tangan anak laki-laki dan mantunya? Lalu mengapa tidak dijadikan pertimbangan untuk menjaga perempuan baik itu sebab toh semua akan kembali untuk anaknya?

Nah. Bukankah tidak ada yang perlu dibuang dalam cerita itu? Mana yang sebenarnya omong kutang-kutang? Tidak jelas. Yang lebih jelas bagi saya, mungkin itu adalah semuanya adalah cerita utuh.

Kali lain ibu mertua bercerita tentang seorang janda tua yang mati gantung diri.

Omong kutang-kutang katanya janda itu sangat kesepian sehingga tidak tahu lagi caranya menjalani hidup yang memang tidak bisa diharapkan. Tidak ada suami, anak, apalagi cucu, untuk menghiburnya. Lalu dimana omong kutang-kutangnya? Katanya begitulah perempuan tua kesepian yang bisa saja bunuh diri untuk sekaligus membunuh kesepiannya.

Lalu sekali lagi dimana omong kutang-kutangnya? Semua cerita itu bagi saya adalah intinya.

Lalu saya mendengar sekali lagi omong kutang-kutang yang lain. Tentang seorang perempuan doduga selingkuh, disiksa suamin dan diusir lalu diceraikan. Padahal si perempuan ini rajin dan sangat berbakti pada keluarga. Omong kutang-kutangnya, kalau tidak ada perempuan ini, sekeluarga itu bisa kelaparan karena dialah yang satu satunya yang bekerja di keluarga itu.

Saya tidak mengerti. Tapi jikapun benar itu omong kutang-kutang, tapi tetap bagi saya itu bukan omong kutang-kutang. Saya tetap menyerapnya sebagai cerita utuh.

Barangkali karena saya selalu menyimak semua omong kutang-kutang itu dengan serius, ibu mertua selalu bercerita banyak sekali omong kutang-kutang yang lain.

Saya selalu berpikir setelah menyimaknya. Mengapa ada istilah omong kutang-kutang? Dalam dunia literasi yang sangat maju saat ini, dimana semua pesan harus disampaikan dengan efektif maka saya tidak mengenal omong kutang-kutang. Dalam bahasa Indonesia ini tidak ada padanannya. Apakah terjemahannya menjadi omong yang dibuang, pesan kosong, atau bualan semu (sudah bualan, semu pula)?.

Dalam ilmu bahasa yang saya pelajari ada sebuah istilah peyorasi atau penurunan makna. Contohnya tai adalah peyorasi dari kotoran. Dia merendahkan makna. Tapi kan memang tai itu kotoran. Bagaimana bisa dia disebut mengalami penurunan makna. Ini cukup bisa diperdebatkan.

Sebagai lawan peyorasi adalah ameliorasi. Peninggian derajat makna. Misalnya buta menjadi tunanetra. Ini juga bagi saya cukup aneh. Makna ditinggikan, padahal niatnya sama. Begitulah bahasa. Terlalu banyak istilah sesuai keinginan pemakainya. Namun kembali ke omong kutang-kutang, dia bukan peyorasi dan bukan juga ameliorasi. Bukan juga apapun.

Apakah sejenis metafor? Untuk pengandaian?

Jadi saya tidak tahu apakah istilah ini memang ada untuk memetaforakan sesuatu yang memang sudah metafor. Kenyataan memang sangat metafor tanpa perlu dimetaforkan. Kadang kenyataan lebih metafor dari metafor itu sendiri. Sehingga metafor tak begitu banyak fungsinya. Jadi apakah ibu mertua ingin mengajarkan metafor pada saya? Atau kenyataan? Atau dua-duanya? Metafor yang nyata atau nyata yang metafor. Saya mengimaninya sebagai dua duanya. Bagi saya apapun itu, baik yang metafor maupun yang nyata, ada satu omong kutang-kutang dari ibu mertua saya yang akhirnya paling saya ingat.

Omong kutang-kutang itu adalah: “Nah, omong kutang-kutang, jika saya pergi, kamu harus siap”. Dia berkata tapi dia tidak menatap saya. Saya juga tidak menatapnya. Omong kutang-kutangnya adalah, kami berdua tidak pernah siap.

Itulah yang terjadi. Dia pergi. Meninggalkan saya yang belum siap. Barangkali tak pernah siap. Tapi juga memang kalau ditunggu saya tidak akan pernah siap. [T]

Tags: BahasaBahasa BaliBahasa Indonesiakata-katakomunikasi
Share133TweetSendShareSend
Previous Post

Sisa Hujan Semalam

Next Post

Ulangan Sejarah Krisis Air di Nusa Penida

Kadek Sonia Piscayanti

Kadek Sonia Piscayanti

Penulis adalah dosen di Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja

Related Posts

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails
Next Post
Ulangan Sejarah Krisis Air di Nusa Penida

Ulangan Sejarah Krisis Air di Nusa Penida

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co