27 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pementasan Teater “Detik-Detik Proklamasi” dan Fakta-fakta Sejarah yang Menggelitik Saya

Ari Antoni by Ari Antoni
October 31, 2019
in Ulasan
Pementasan Teater “Detik-Detik Proklamasi” dan Fakta-fakta Sejarah yang Menggelitik Saya

Pementasan "Detik-Detik Proklamasi" dari Teater Bumi

Berangkat dari rumah menuju Taman Budaya  Provinsi Bali saya datang dengan semangat 45 bahwa apa yang akan tonton di Gedung Ksiranawa, Taman Budaya Denpasar, Bali, akan memuaskan dahaga saya di tengah suhu panas meliputi Kota Denpasar.

Pertunjukkan malam ini bertajuk ‘Detik-Detik Proklamasi’ yang dipentaskan Teater Bumi dengan sutradara Abu Bakar. Seperti judulnya apa yang diceritakan dalam pentas kali ini adalah seputaran hari-hari saat proklamasi kemerdekaan Indonesia dikumandangkan. Digambarkan bagaimana pergulatan dan hiruk-pikuk menjelang bangsa Indonesia memerdekakan dirinya.

Pertunjukan malam itu (30 Oktober 2019) adalah rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) 2019.

Koor anak-anak yang berjalan dari kursi penonton menuju sisi kiri panggung membuka jalannya pertunjukkan. Lalu kayon dihadirkan oleh seorang dalang, sebagai tanda pertunjukan dimulai. Segera keriuhan pentas dilempar ke atas panggung melalui derap serdadu-serdadu Jepang yang menggiring para romusha dengan kasar. Di tengah keriuhan itu datang empat orang yang menghalau serdadu untuk menyelamatkan para romusha. Rupanya keempat orang ini adalah orang penting, bidan berdirinya Indonesia sebagai bangsa dan negara. Mereka adalah Soekarno, Hatta, Sjahrir, dan Radjiman[i].

Keempat tokoh lalu dikisahkan berkunjung menghadap Marsekal Hisaichi di Dalat, Vietnam. Hisaichi adalah panglima angkatan perang Jepang untuk Asia Tenggara. Soekarno diadegkan menagih janji kemerdekaan Indonesia. Adegan berlangsung panas, Soekarno terus mengejar Si Marsekal untuk memenuhi janjinya. Sementara itu Sjahrir sebagai pengiringnya lebih panas lagi. Dengan emosional bahkan sampai melonjak-lonjak untuk saja ada Hatta yang menenangkannya.

Di bagian inilah saya mulai merasa ada yang salah dengan pertunjukkan ini. Ada fakta sejarah yang tidak benar. Untuk itu perkenankanlah saya mengulas apa yang menggangu benak saya. Saya tidak akan membahas artistik, tata lampu, tata rias ataupun kemampuan aktornya.

Ada beberapa fakta-fakta sejarah yang menggelitik saya dari pementasan Pak Abu malam ini. Yang paling menggelitik saya adalah kunjungan Soekarno dan rekan-rekannya ke Dalat, Vietnam pada 12 Agustus 1945. Pada pementasan ini tokoh-tokoh yang pergi ke sana adalah Soekarno, Sjahrir, Hatta dan Radjiman. Tujuan kunjungan ini untuk menagih janji kemerdekaan yang dijanjikan oleh Jepang. Mereka menemui panglima angkatan perang Jepang untuk Asia Tenggara, Marsekal Hisaichi Terauchi. Fakta sejarah Sjahrir tidak ikut berangkat hari itu ke Dalat[ii]. Ini adalah sesuatu yang fatal menurut saya mengingat judul pementasan yang tidak main-main: ‘Detik-Detik Proklamasi’, yang tendesinya sarat muatan sejarah.

Kemudian masih di adegan Dalat, Soekarno menagih janji kemerdekaan pada Si Marsekal dengan gagah berani seperti adegan menagih hutang yang telah lama jatuh tempo. Padahal fakta sejarah Si Marsekal sebagai pihak pengundang membeberkan bahwa Jepang telah diujung tanduk dan telah siap memberikan kemerdekaan pada Indonesia[iii]. Kemerdekaan yang telah dijanjikan ini disarankan pada 24 Agustus 1945.

Masih tetap di adegan Dalat, Sjahrir yang seharusnya tidak di sana yang paling mengebu-gebu menagih janji kemerdekaan bahkan hampir mirip kelakuan jago yang jauh dari watak aslinya. Sjahrir adalah intelektual yang lebih sering bermain dibelakang layar dia tidak akan mengotori tangannya secara langsung.[iv]   

Mari tinggalkan Dalat kita menuju ke adegan di Indonesia. Setelah kekalahan Jepang ada adegan dimana bendera Jepang diturunkan dan bendera Belanda dinaikkan sebagai gantinya. Ini simbol kembali bercokolnya Belanda di bumi nusantara melaui agresi militer. Agresi militer dibagi menjadi dua periode Yang pertama tahun 1947 yang kedua pada 1948.

Sebagai  pengiring adegan ini dipakailah musik yang riang gembira yaitu lagu Nasi Goreng untuk mengiringi noni-noni Belanda berdansa-dansi. Judul lengkap lagu ini  Geef Mij Maar Nasi Goreng yang menggambarkan kerinduan seorang Belanda pada aneka penganan Indonesia antara lain nasi goreng, tahu petis, bakpao dan sate babi. Di lagu ini dia membandingkan ketika dia hijrah ke Belanda dia harus beradaptasi dengan makanan setempat. Lidahnya masih saja rindu pada tempat dia dilahirkan[v]. Lagu ini digubah Wieteke van Dort pada tahun 1977 sebagai wujud rindunya pada penganan Indonesia. Wieteke atau Tante Lien lahir di Surabaya pada tahun 1943 lalu hijrah ke Belanda pada 1957 karena masalah politik[vi]. Lagu ini dipakai untuk musik pengiring adegan agresi militer Belanda yang terjadi pada 1947.

Menurut saya hal itu sangat tidak tepat, ahistoris. Masih banyak lagu-lagu Belanda yang bisa dipakai menggambarkan kerianggembiraan yang periode waktunya sinkron. Lagipula lagu yang menceritakan kerinduan seorang Belanda akan masakan Indonesia dipakai untuk menggambarkan kegembiraan orang Belanda yang bisa kembali bercokol di Indonesia.

Satu lagi adegan yang sangat menggangu saya adalah adegan pembuatan naskah proklamasi. Pada adegan ini peran Soekarno sangat sentral. Kesan yang saya tangkap Soekarnolah adalah penggagas acara ini. Padahal pada 16 Agustus 1945 Soekarno dan Hatta masih menunggu keputusan dari Jepang untuk memberi kemerdekaan. Golongan mudalah yang sangat berperan hingga proklamasi terjadi pada 17 Agustus 1945. Soekarno dan Hatta masih berharap proklamasi akan didapatkan dengan cara baik-baik. Jepang yang akan menyerahkan kedaulatan atas nusantara pada Bangsa Indonesia.

Untuk itu golongan muda tidak mau hal ini terjadi. Mereka tidak mau kemerdekaan adalah hadiah. Mereka ingin merebutnya! Tapi di babak ini Soekarno memimpin rombongan datang ke kediaman Laksmana Maeda untuk menyusun naskah proklamasi. Golongan muda hanya diwakili oleh Sayuti Melik yang digambarkan sebagai tukang ketik. Suatu hal yang melenceng dari fakta sejarah. Peran golongan muda pada 16 Agustus 1945 ini sangat penting dan bisa dibilang sentral, mereka mengamankan golongan tua dari pengaruh Jepang. Memberi informasi bahwa Jepang telah kalah perang yang ditutupi oleh pihak jepang. Informasi ini tidak sampai ke telingga Soekarno dan Hatta.

Dus, apa yang saya bahas kurang lebih bisa membuka diskusi. Sebuah pertunjukan baik itu teater, film, atau wayang yang mengangkat muatan sejarah haruslah ketat dalam risetnya jangan asal. Jangan sampai demi keindahan dan kemegahan untuk menghadirkan suasana mengesampingkan fakta-fakta sejarah. Seperti akronim terkenal dari Soekarno, JAS MERAH; Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah. Oh ya lupa satu lagi aktor yang memerankan Sjahrir harusnya lebih pendek dari Hatta. Sjahrir tingginya hanya 160 sentimetir lebih sedikit karena itulah dia dijuluki Bung Kecil! [T]




[i] Soekarno, presiden pertama Indonesia; Hatta, wakil presiden pertama Indonesia; Sjahrir, perdana mentri pertama Indonesia dan Radjiman adalah ketua Badan Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI)

[ii] https://tirto.id/sejarah-sukarno-hatta-menjemput-janji-kemerdekaan-ke-dalat-ef51

Anwar, Rosihan.2011. Sutan Sjahri. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.

[iii] idem

[iv] Anwar, Rosihan.2011. Sutan Sjahri. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.

[v] https://id.wikipedia.org/wiki/Geef_Mij_Maar_Nasi_Goreng

[vi] https://id.wikipedia.org/wiki/Wieteke_van_Dort

Tags: Festival Seni Bali JanisejarahTeater
Share50TweetSendShareSend
Previous Post

Memaknai Sumpah Pemuda: Sudahkan Pemuda Berjuang Untuk Permasalahan Lingkungan di Indonesia?

Next Post

Yudane Ajak Penonton Berpikir Sains dalam Gamelan Kontemporer rOrAs Ensemble

Ari Antoni

Ari Antoni

Kadang-kadang jadi fotografer. Tinggal di Denpasar

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Yudane Ajak Penonton Berpikir Sains dalam Gamelan Kontemporer rOrAs Ensemble

Yudane Ajak Penonton Berpikir Sains dalam Gamelan Kontemporer rOrAs Ensemble

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik

HUJAN mengguyur Ubud ketika malam penutupan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) hendak dimulai. Namun, hujan perlahan mereda seiring berlangsungnya...

by Dede Putra Wiguna
October 27, 2026
Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co