2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Amor Fati: Menghadap Takdir dengan Kesederhanaan

Ayu Winastri by Ayu Winastri
October 5, 2019
in Ulasan
Amor Fati: Menghadap Takdir dengan Kesederhanaan

Buku kumpulan puisi Amor Fati karya Wayan Jengki Sunarta

Nietzsche menyatakan amor fati dalam bukunya The Gay Science sebagai penyerahan diri pada hidup dengan berkata ‘ya’ atas apapun yang menimpanya, baik atau buruk.  Selanjutnya, Nietzsche dalam Ecce Homo menulis rahasia kebahagiaan adalah amor fati. Dengan tidak menyesali masa lalu atau takut pada masa depan, bukan dengan pasrah dan menyerah namun alih-alih mencintainya dengan seluruh.

Wayan “Jengki” Sunarta barangkali telah menemukan Amor-Fati-nya sendiri dalam puisi. Seperti tercuplik dalam puisinya “AmorFati”.


Aku mencintai takdirku

Meski ladang-ladang kuyu

Dan bunga-bunga layu

Di taman penuh debu 


Merunut proses kreatif Wayan ‘Jengki’ Sunarta, kepiawaiannya mengolah puisi tentu tidak dicapai dengan serta merta. Jalan puisi sejajar dengan pengalaman hidup si penyair, tempat manusia berdialog dengan diri, dan kerap kali mempertanyakan eksistensi dirinya. Jengki, dalam hal ini, sadar betul dengan proses yang dialaminya. Ia seolah hadir dengan kepolosan, kesederhanaan, dan kerendahatian. Ia menerima takdirnya sebagai seorang Jengki, seorang penyair, dan seorang manusia biasa.

Kesederhanaan itu dengan benderang ia nyatakan dalam puisi pertama di buku Amor Fati.


Kutulis Puisi dengan Bahasa Sederhana


Kutulis puisi dengan bahasa sederhana

Bagai kebeningan telaga

Agar mampu merasuki jiwamu

Di mana kau mampu bersekutu dengan bayanganmu


Kutulis puisi dengan bahasa sederhana

Agar bunga-bunga mekar pada tapak tanganku

Dan embun rela mengakhiri takdirnya

Demi matahari dan lebah madu


Kutulis puisi dengan bahasa sederhana

Agar jiwa kita saling meraba

Dan dengan girang kau akan berseru

: aku berada dalam pelukanmu


Kutulis puisi dengan bahasa sederhana

Mungkin kau makin tidak memahamiku

Maka dengan mesra kubiskkan kepadamu

:tidak apa-apa, sayangku


Puisi “Kutulis Puisi dengan Bahasa Sederhana” menyatakan kepada pembacanya bahwa puisi di dalam buku ini berkata-kata sederhana, berisikan sebuah ajakan serupa tuan rumah pada tamunya untuk menyantap hidangan, mari, memaknai diri. Sekaligus kerendahatian Jengki memaknai dirinya sebagai penyair bahwa ia ingin pembacanya membaca karyanya agar takdir kepenyairannya terpenuhi, dan jika mungkin pembaca bisa menjadi Jengki. Dan jika sekiranya puisi-puisinya sulit dipahami, maka biarlah begitu adanya.

Dalam “Aku Datang” Jengki menyatakan kepasrahannya sebagai manusia yang fana, menyatakan kelelahannya pada kelahiran berulang-ulang, berujung pada penerimaan pada keniscayaan kematian, namun tetap apa dan bagaimana, tentulah misteri bagi manusia.


Aku datang, aku datang

Ke dalam pelukanmu

O, samudera rahasia

Kuburan terakhirku


Tak jauh berbeda dengan Merayakan Usia 


(selamat merayakan usia, gumamku)

Semoga puisi sederhaana ini sampai padamu

Sebelum rokokku benar-benar padam

Menjadi puntung rokok mengabu)


Entah puisi ini adalah persembahan bagi kawannya yang berulang tahum atau ini adalah percakapan dalam diri, yang selagi sempat sebelum terlambat mengucapkan dan bersulang, sebab hidup itu sementara.

Jengki banyak memberikan puisi persembahan pada sekelilingnya, tak membatasi pada kawan tetapi juga pada alam dan untuk dirinya sendiri, serta puisi bernuansa gugatan sosial. “Obituari Sungaidan “Obituari Laut” menyiratkan kepedihan akan kehilangan mata sungai dan laut yang tercemar. Dalam “Berulangkali Ia Meyakinkan Aku”, kita dapat membayangkan penolakan pada janji-janji pembangunan yang mengorbankan alam, dan keprihatinan pada kaum petani, dan ragam fenomena sosial lainnya.


Berulangkali Ia Meyakinkan Aku

Demi rakyat makmur

Pantai dan teluk akan dikubur

Dengan pasir dan kapur

Namun aku terlanjur percaya

Anak-anak kepiting dan hutan bakau

Lebih penting dibela

Ketimbang silau cahaya pariwisata


Jangan lupa, Jengki adalah seorang pecinta. Pada “Sepasang Bayang”, Ia menulis sosok ratu-ratu pewayangan seperti Panchali, Saraswati, atau Dedes. Dan puisi kerinduan “Puisi Untukmu” dengan kata-kata yang cair, sebuah pernyataan dan kerinduan yang hangat, seperti pucuk-pucuk cengkeh  dan perayaan cinta kasih sesederhana kaum tani yang tetap bertahan dalam suka dan duka.


Kita rayakan hari-hari cerah

Kaum tani dan buruh

Kita kutuk tahun-tahun kelabu

Hembusan angin barat gemuruh

Menghancurkan ladang tembakau

Tapi tak usah resah, cintaku


Dalam “Yanwa Tanarsu” – sebuah anagram namanya sendiri, Jengki memecah dirinya menjadi dua pribadi, dibatasi sebilah cermin, menjadikan peristiwa teatrikal yang menarik antara Tanarsu dan Sunarta. Tanarsu yang meyakinkan dirinya yang lain di seberang, dan Sunarta yang gamang (barangkali melongo saja kehilangan kuasa diri) mendengarkan wasiat tentang takdir yang akan dijalaninya.


Kau ada dalam diri-Ku

Kita saling melengkapi

Serupa madu pada sari bunga

Seperti bintang dalam galaksi

Lalu,mengapa kau

Berjalan tidak tentu arah


Apapun itu, Jengki telah memaparkan dengan kerendahan hatinya. Dialog diri yang personal tak malu-malu ia sampaikan kepada pembaca, dengan jujur melalui puisi.  Kumpulan puisi Amor Fati oleh Wayan ‘Jengki’ Sunarta adalah sebuah kumpulan puisi yang berisi puisi-puisi yang ia kumpulkan dari tahun 2010-2019. Terangkum dalam tiga sub judul disesuaikan dengan tema: “Sepasang Bayang”, “Waktu Merapuh”, dan “Bayang yang Hilang”.

Dari keberagaman karya-karya Wayan ‘Jengki’ Sunarta, Amor Fati sangat layak dibaca oleh siapa saja dari kalangan apa saja. Puisi yang berhasil tak selalu berteka-teki, namun dapat juga bertumpu pada kedalaman maknawi dan daya renungnya. Kesederhanaan dalam kata takkan abai pada dua hal tersebut selama ada kejujuran si penulis hingga dapat diresapi oleh pembacanya.  Sebab dalam hidup, pada akhirnya yang tersisa adalah kejujuran. [T]

Tags: Bukukumpulan puisiPuisiresensi buku
Share182TweetSendShareSend
Previous Post

Penjara Perempuan

Next Post

Film Pendek “Fauve”, Kisah Melanggar Sebuah Aturan Alam

Ayu Winastri

Ayu Winastri

Ni Kadek Ayu Winastri, penulis, tinggal di Denpasar

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Film Pendek “Fauve”, Kisah Melanggar Sebuah Aturan Alam

Film Pendek “Fauve”, Kisah Melanggar Sebuah Aturan Alam

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co