2 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Film Pendek “Fauve”, Kisah Melanggar Sebuah Aturan Alam

Putu Kusuma Wijaya by Putu Kusuma Wijaya
October 6, 2019
in Ulasan
Film Pendek “Fauve”, Kisah Melanggar Sebuah Aturan Alam

Film Pendek Fauve

Cerita pendek Le Tolstoy berjudul Master and Man bergerak seputar dua tokoh yang menarik. Membuat kisah antara dua orang memerlukan kedalaman tersendiri untuk bisa dikatakan sebagai sebuah cerita yang melekat lama diingat. Pemilik tanah Vasily Andreyevich Brekunov berjuang keras untuk tetap hidup dalam lebatnya hujan salju. Inilah yang teringat, kala menyaksikan film pendek sutradara Kanada Jereme Comte berjudul FAUVE.

Sang sutradara mempunyai dua  pemain kartu AS ( Félix Grenier and Alexandre Perreault) yang tidak saja mampu memainkan perannya, tetapi berhasil menghantui penontonnya selama beberapa saat.  Awalnya cerita biasa saja, permainan antara dua anak kecil. Di gerbong kereta hingga ke tempat-tempat sekitar. Hanya dua orang ini yang terpotret, Latar belakang kosong dan sepi layaknya jaman zombie meraja lela. Sang sutradara dibantu permainan dua anak ini membuat penontonnya nyaman duduk di kursi yang empuk.

Begitu memasuki daerah eksklusif anak Krakatao, pikiran tiba-tiba berdebar. Kru film National Geographic yang saya antar, menyuruh menghubungi tim BKSDA Lampung di kapal lain yang menjaga kami. Sutradara bertanya apakah aman mendekati anak Krakatoa lebih dekat dari 200 meter seperti yang dianjurkan tim pemantau vulkanologi di Anyer Carita. Ini karena drone tak bisa memotret dengan bagus di  daerah 200 meter

“Aman”, katanya tegas. Bahkan kalau mau, saya bisa memasuki ekslusif zone yang paling aman untuk bisa membuat gambar dramatis. Saya menjelaskan dan sutradara National Geographic yang orang Inggeris itu,  berfikir sejenak,  lalu menginginkan lebih detail penjelasan di titik kordinat mana operator drone rekan saya bersama pemandu alam BKSDA Lampung akan berada.

Saya menggambar posisi sesuai penjelasan yang saya terima dari percakapan radio. “Okay, kalau ini aman, kita lakukan, tetapi tunggu dulu, saya akan menghubungi London. Melalui telepon satelit terjadi percakapan singkat dengan kantornya dan dengan dingin,  sutradara menggelengkan kepalanya. ‘No, Kita tidak boleh masuk ekskludif zone. Terlalu berbahaya dan tak diijinkan asuransi” Maka cukuplah kami hanya berada di titik 100 meter di depan anak Krakatoa yang begitu penuh misteri.

Pasir-pasir yang menyelimuti Anak Krakatoa mengingatkan akan sebuah tempat yang dilalui dua anak itu. Mereka berlari  saling bergurau. Di sinilah kemudian, cerita tiba-tiba berubah. Sesuatu terjadi dan penonton mulai menarik nafas panjang. Tak lagi nyaman duduk di kursinya.  Dari film yang sepertinya kecil, tiba-tiba membesar bagaikan gunung purba TOBA. Tak terbayangkan kalau danau terbesar Nusantara dengan panjang 90 Km itu adalah kaldera dari gunung besar TOBA. Tanah letusan TOBA hingga sampai ke India.

Banyak penulis cerita yang sengaja tidak menceritakan, sebuah kisah yang ternyata hadir tersembunyi dalam lapisan lain. Ini disengaja, seakan-akan apa yang ditulis untuk menceritakan apa yang tidak ditulis.  Kisah yang tersembunyi itu berjalan bergandengan dengan yang terlihat. Bagaikan konsep SEKALA-NISKALA dimana kedua hal ini tak terpisahkan.  Dalam film pendek FAUVE menegaskan bahwa Sinema mempunyai kemampuan yang besar menceritakan hal yang tak bisa dijelaskan dengan medium lain. Sinema bukan semata tentang apa yang ditujukkan tetapi juga tentang apa yang tidak ditunjukkan.

Dua anak itu lalu melewati batas apa yang seharusnya tidak mereka lakukan. Memasuki daerah ekslusif zone yang menawarkan berbagai macam bahaya. Mereka tetap bermain layaknya anak kecil tak terjadi apa-apa. Kejaran mobil truk pengangkut pasir hanyalah membuatnya berlari senang.

Sehari setelah mengunjungi anak Krakatoa bersama kru film National Geographic yang tengah meneliti longsoran mengakibatkan tsunami tak terduga beberapa hari lalu, hati menjadi lega karena selama syuting tak terjadi hal-hal yang tak diinginkan.

Beberapa minggu dipersiapkan melakukan perjalanan ini. Orang tak pernah menduga akan bahaya gunung meletus. Ini bisa terjadi kapan saja. Anak Krakatoa dipantau setiap hari dengan laporan-laporan tremor dari dua tempat, Pulau Sibesi yang berjarak 13 Km dari ekslusif zone dan di Anyer. Mereka membuat laporan setiap hari dan memasang CCTV.


Film pendek Fauve

Kru film dari Inggeris mempersiapkan segala detail dari prosedur keselamatan. Telepon satelit harus tetap hidup,  memberikan titik kordinat setiap jam nya. Pelampung di boat harus sesuai dengan penumpang. Apa yang  dilakukan jika terjadi letusan, dan segala hal detail seakan letusan itu benar-benar aka terjadi. . Speed boat dipersiapkan, tak boleh jauh dari kapal induk. Inilah prosedur keselamatan yang membuat orang Indonesia geleng-geleng kepala. Menggunakan sabuk keselamatan di mobil saja, kita tidak mau.  Kata NASIB selalu menjadi andalan. Yah, sudah nasib mau apa lagi? Sering kita dengar.

Seluruh kru Inggeris  pada saat sarapan pagi di pantai Carita, keesokan harinya, dikejutkan dengan gambar CCTV grup WA Anak Krakatoa. Tiga orang berpakaian bak pendaki gunung kawakan melambaikan tangannya di atas kawah gunung super aktif itu. Mereka bangga masuk ke dalam kawasan yang dilarang masuk. Kemarahan terjadi di dalam grup WA Anak Krakatoa.  Gunung ini bukan daerah tujuan wisata. Inilah sesuatu membuat kita begitu lain dalam pergaulan Internasional. Prosedur keselamatan dan segala larangan adalah hal yang harus dilanggar. Kita menganggap remeh misteri alam.

Menjelang anak Krakatoa meletus,  mengakibatkan tsunami  vulkanik selat Sunda beberapa waktu silam, seorang saksi mata menuturkan bahwa dari pantai Carita, Gunung kelihatan sangat indah. Warna keemasan menggoda. Ini pemandangan yang jarang disaksikan selama hidup. Malam harinya, sesuatu terjadi. Yang tak disangka, peringatan tsunami tak ada. Tiba-tiba saja ada hantaman yang memporak-porandakan tatanan. Alam tak bisa diajak berkompromi. Alam menjadi musuh yang tak bisa dipermainkan. Longsoran Anak Krakatoa, dari ketinggian 300 an meter menjadi 120 meter. Selisih itulah yang menyebabkan guncangan trsunami vulkanik yang tak terduga.

Akhirnya Vasily Andreyevich Brekunov, sang tuan tanah berjuang untuk melawan badai salju, bergerak untuk tetap hidup.  Begitu badai reda, sesuatu terjadi dan Leo Tolstoy memberikan renungan. Perlukah kita melawan garis kehidupan? Dimanakah prosedur keselamatan berada? Dalam bencana, waktu satu detik begitu krusial, itulah kenapa tidak boleh meletakkan bagasi dekat pintu keselamatan. Lalu teringat cerita kecelakaan Romo  gereja paroki Paulus Singaraja di Baturiti beberapa waktu lalu. Romo berhasil lolos dari hal yang tak diinginkan karena dua hal. Pertama karena lindunganTuhan, yang kedua karena mengenakan sabuk pengaman.

FAUVISME adalah aliran seni lukis yang mempunyai umur pendek, berasal dari kata FAUVE (Binatang Liar)  Gaya ekspresi begitu kuat dan melawan segala hal yang telah dihidangkan alam. Warna kuning bisa untuk daun dan tak ada aturan yang menjembatani. Terjun bebas dengan segala yang dikehendaki. Memberi warna apa saja terhadap alam sesungguhnya justru memberikan pengalaman personal antara pelukis dengan alam tersebut. [T]

Film FAUVE dari Jeremi Comte mendapatkan penghargaan di berbagai festival film dunia. Nominasi pada kategori piala Oscar 2018 lalu. Diputar dalam program IN BETWEEN- Minikino Film week 5 (Minggu, 6 Oktober 2019, pukul 17.00, di RUMAH FILM SANGKARSA)

Tags: film pendekFilm Pendek FauveMinikinoMinikino Film WeekRumah Film Sang Karsa
Share25TweetSendShareSend
Previous Post

Amor Fati: Menghadap Takdir dengan Kesederhanaan

Next Post

HUJAN

Putu Kusuma Wijaya

Putu Kusuma Wijaya

Pembuat film. Pengelola Rumah Film Sang Karsa di Jalan Singaraja-Seririt KM 13.2, Kaliasem, Buleleng

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
RIPUH

HUJAN

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

by tatkala
November 1, 2026
Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026
Bahasa

Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026

SAYA merasa bangga dan terharu melihat pemuda Bali dalam ajang Konferensi Pemuda Bali (KPB 2026). Betapa tidak, tagar #PemudaBersuaraBerdaya ini membuat...

by I Made Sudiana
November 1, 2026
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik
Esai

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual
Esai

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

by I Wayan Artika
November 1, 2026
Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak
Khas

Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak

SEBUAH kota tidak hanya dibangun dari beton, aspal, jembatan, dan gedung-gedung yang meninggi. Ada sesuatu yang tidak selalu terlihat dalam...

by Emi Suy
November 1, 2026
Saraswati dan Kenaikan Kelas
Esai

Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital
Esai

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

by tatkala
October 31, 2026
Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda
Kuliner

Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda

PAGI-PAGI, Jalan Surapati di Singaraja memiliki kehidupan yang berbeda. Di antara bangunan-bangunan tua yang menyimpan ingatan masa kolonial, ada sebuah...

by I Wayan Artika
October 31, 2026
Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung
Panggung

Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

HUJAN deras mengguyur Ubud pada Sabtu sore, 24 Oktober 2026. Namun, di Rumah Kayu, Taman Baca Ubud, suasana tetap hangat...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?
Esai

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co