2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

HUJAN

Oka Rusmini by Oka Rusmini
October 7, 2019
in Esai
RIPUH

Edisi 7/10/19

KOPLAK memeriksa seluruh surat-surat di ruang kerjanya yang semakin menumpuk, dari urusan surat cerai mati, sampai urusan surat miskin. Belakangan ini Koplak sering merasa heran dengan banyaknya warganya tiba-tiba saja mencari surat keterangan miskin. Padahal padahal pengertian miskin itu tidak memiliki rumah tetap, rumah masih kontrak. Tidak memiliki kendaraan roda dua. Ini aneh, berjibun surat permohonan miskin justru datang dari warga desanya yang memiliki tanah luas bahkan ada yang memiliki mobil pribadi.

“Tolonglah, Koplak. Anak saya  biar bisa masuk sekolah favorit di Denpasar, berikan saya rekomendasi surat miskin. Kau tidak inginkan anak saya tidak bisa masuk sekolah favorit. Jika anak saya bisa masuk sekolah favorit kelak nasibnya bisa lebih baik. Minimal negara akan membiayai sekolahnya sampai tuntas lalu kita sebagai orang tua tinggal tenang-tenang saja,” rayu seorang warganya pada Koplak.

Bahkan perempuan yang memiliki tubuh super tambun itu mengerlingkan matanya yang tidak indah kepada Koplak. Koplak merengut sambil menatap perempuan itu tajam. Perempuan bertubuh tambun itu terdiam, ada sedikit gelisah terurai di pinggir matanya. Sebagai seorang Ibu, perempuan itu tidak mau kalah tidak juga mau menyerah yang penting seluruh keinginannya dipenuhi Koplak.

Koplak terdiam agak lama sambil mengeryitkan alis matanya. Wajahnya yang biasanya datar kali ini terlihat dipulas sedikit aroma kemarahan. Perempuan tambun yang duduk di kursi tamu di ruangan Koplak sebentar-sebentar menggeser pantatnya yang besar, pantat yang memenuhi seluruh kursi ruang tamu yang harusnya bisa diduduki dua orang.

“Seorang Ibu akan melakukan apa saja untuk anaknya demi masa depan yang lebih baik,” suara perempuan itu terdengar bergetar. Koplak menangkap hawa kecemasan terurai di nada suaranya.

Surat miskin? Kenapa belakangan ini Koplak harus menemani tamu-tamu yang sesungguhnya tidak perlu. Tamu-tamu yang seharusnya sudah bisa menyelesaikan persoalannya sendiri. Jika ingin mendapatkan sekolah yang bagus kenapa tidak memilih memacu anak untuk belajar dengan lebih baik.

Sebagai Ibu segaligus Ayah, dulu Koplak tidak pernah punya persoalan dengan anak semata wayangnya, Kemitir. Walaupun sebagai orang tua, Koplak pasti akan lebih bangga jika Kemitir tumbuh sebagai anak yang selalu menjadi nomor satu, prestasi akademik gemilang. Siapa yang tidak bangga bercerita di warung kopi atau di warung nasi be guling tentang prestasi anak.

Faktanya prestasi Kemitir biasa-biasa, juara kelas juga tidak pernah mengikuti langkahnya. Kemitir sekolah juga santai-santai saja, jika ada kesulitan belajar Koplak hanya mengikutkan Kemitir les tambahan untuk membuat Kemitir lebih nyaman dan percaya diri. Target Koplak tidak tinggi-tinggi sekali, Koplak juga enggan menuruti keingin Kemitir ketika anak itu merengek Koplak harus mempersiapkan uang sekian puluh juta, untuk memesan satu kursi di sebuah sekolah menengah di Denpasar. Sekolah yang memang diinginkan Kemitir, Koplak enggan, dan membiarkan Kemitir hampir satu bulan merengut. Akhirnya toh Kemitir bisa juga mendapatkan tiket untuk seluruh sekolah dan kuliah di tempat-tempat yang dia inginkan.

Karena alasan itulah Koplak menolak menandatangani seluruh surat miskin yang ada di mejanya, karena pada dasarnya para orang tua itu tidak miskin.

Koplak tidak mengerti kenapa belakangan ini banyak sekali orang-orang yang hanya memikirkan diri mereka sendiri. Orang-orang jang jemawa merasa paling benar, paling top, dan paling ingin dilihat. Orang-orang yang lapar menjadi “tokoh”, atau tepatnya merasa menjadi “tokoh” lagaknya sudah melebihi artis, juga melebihi lagak para koruptor yang ditangkap KPK, mengenakan baju orange eh, masih melempar senyum manis kepada para wartawan. Bahkan ada yang sengaja memasang pose gaya karena akan difoto.

Apakah yang sesungguhnya terjadi dengan negeri ini? Apa yang sedang menjangkiti manusia-manusia di negeri ini? Koplak bukan sok bijak, sok suci, tidak mau menandatangani surat miskin palsu, bukan! Yang Koplak pikirkan apa yang ada dibenak orang-orang itu sehingga tega begitu manipulatif. Bahkan untuk diri mereka sendiri.

Bayangkan mengaku miskin untuk dapat sekolah favorit. Mengaku miskin untuk dapat beasiswa dari pemerintah.

Di luar Koplak mendengar bisik-bisik yang tidak sedap. Bisik-bisik yang menganggap dirinya gaya, dan sok berlagak jadi Tuhan.

“Sekarang ini para pemimpin-pemimpin juga banyak yang berbohong pada rakyat untuk dirinya sendiri? Ketua DPR ditangkap karena korupsi e-KTP, belum lagi hakim dan jaksa, ini baru kepala desa saja sudah gaya. Mana ada orang yang akan menangkap Kades?

Rumah saja cuma satu, ke kantor juga naik motor keluaran jaman tidak enak. Mana mungkin ditangkap KPK orang seperti Koplak itu. Solidaritasnya pada teman tidak ada, belum jadi camat, belum jadi gubernur. Bayangkan saja kalau Koplak jadi menteri, pasti sok kuasa,” begitu desas-desus kata-kata yang di dengar Koplak. Hujan makian, hujan kritikan, hujan hinaan. Ini baru jadi Kades bagaimana kalau jadi gubernur?

Koplak menarik nafas alangkah susahnya menjadi orang baik di jaman “now” seperti sekarang ini. Lalu hujan janji dari 575 anggota DPR yang baru saja diangkat untuk periode 2019-2024 menjaga marwah rakyat apa bisa dipercaya? Koplak menutup pintu ruang Kades pelan, sambil menyandarkan tubuhnya di kursi. Matanya menerawang ke atas dan berbisik pada pak Sekdes, hari ini tidak mau terima tamu. Mau fokus melihat eforia sepak terjang dan gaya anggota DPR yang baru saja diangkat.

Di TV mereka terlihat glamour, pasti harum juga, melihat gaya mereka Koplak mengernyitkan alisnya, kira-kira kerja apa yang akan mereka lakukan dengan membawa nama dan suara rakyat? [T]

Tags: KoplakOka Rusmini
Share16TweetSendShareSend
Previous Post

Film Pendek “Fauve”, Kisah Melanggar Sebuah Aturan Alam

Next Post

“Mecik Manggis”, Kunci Prestasi Fiksi

Oka Rusmini

Oka Rusmini

Sastrawan & Jurnalis

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
“Mecik Manggis”, Kunci Prestasi Fiksi

“Mecik Manggis”, Kunci Prestasi Fiksi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co