23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kesopanan Tak Perlu dalam Sinema #Catatan Kurator Denpasar Documentary Film Festival 2019

Putu Kusuma Wijaya by Putu Kusuma Wijaya
September 30, 2019
in Ulasan
Kesopanan Tak Perlu dalam Sinema #Catatan Kurator Denpasar Documentary Film Festival 2019

Poster film unggulan DDFF 2019. (Foto: FB?Tonny Trimarsanto A)

Tidak seperti perkembangan film fiksi pendek dan panjang yang mencerahkan langit perfilman Indonesia, film dokumenter pendek dan panjang masih berada dalam awan gelap bercampur asap menyesakkan. Sedikit sekali para produser dan sutradara yang mencurahkan raga dan hatinya ke dalam genre ini.  Film dokumenter dianggap membosankan, tak laku dijual dan jauh dari glamor karper merah layaknya film-film cerita fiksi. Tak ada jaringan bioskop yang mau mati-matian membela film jenis ini, membuatnya hanya tumbuh dalam lingkaran ruang putar film kantong budaya dan film festival. 

Dalam Festival Film Indonesia dari tahun ke tahun memang ada piala citra untuk kategori dokumenter, tetapi ini hanya untuk sebatas ada saja. Film yang dinominasikan tak pernah beredar secara normal dan teratur seperti saudaranya film cerita dan hanya tersimpan rapi di lemari para pembuatnya setelah itu.

Dalam sirkuit film festival dokumenter  ada beberapa yang masih membara, menghidupkan semesta para pembuat film dokumenter di negeri ini. Jogja film Festival masih memberi peluang kepada para pembuat film dokumenter panjang berkompetisi, sementara Denpasar Film festival yang sudah sepuluh tahun berkibar, memberikan peluang kepada para pelajar, sutradara film pendek dokumenter untuk berkompetisi dengan para juri yang sangat mumpuni menilai sebuah film.  

Kesempatan untuk menggali potensi cikal bakal pembuat film dokumenter Indonesia telah dihidangkan dan disambut oleh para sineas dari berbagai sudut daerah, memperkenalkan karakter dan potensi daerah masing-masing. Dari tahun ke tahun, kita bisa menyaksikan film dari Aceh, Nias hingga Papua.

Yang menggembirakan munculnya para sineas pelajar dengan pendekatan dan ide-ide segar. Dalam edisi DEDOFF ke !0 tahun ini, ada Sarah Salsabila berkunjung ke pasar Sepur  Surabaya untuk melihat situasi yang ada. Agung Natha Prabangsa dengan tata fotograpi yang rapi memotret tukad Pakerisan serta Yunita Putri mengisahkan masalah air di derahnya. Anak-anak ini telah sanggup dan mampu menngabarkan persoalan-persoalan di daerahnya dengan baik.  Memang ide-ide besar tak akan jauh dari rumah.

Perkembangan dunia fotografi dengan makin mudahnya mendapatkan kamera digital canggih dengan hasil bagus, begitu pesat dimana-mana di dunia ini. Semua orang saat ini bisa menjadi pewarta, bisa membuat film dan mengabadikan apa saja dengan murah dan mudah. Sayang pencapaian ini tidak dibarengi oleh ilmu pengetahuan tentang film (dokumenter) sehinga karya-karya film dokumenter saat ini sering jatuh terjerembab ke dalam lubang kebosanan. Inilah yang menyebabkan film dokumenter tak laku dijual, karena masih menggunakan cara-cara lama layaknya film propaganda atau reportase televisi yang memamerkan hasil panen yang melimpah, misalnya.


PASUR karya Sarah Salsabila

Dalam bagan film dokumenter dunia, laju pencapaian begitu canggih. Inilah genre yang menjadi ujung tombak perkembangan sinema.  Film dokumenter bukan sebuah reportase jurnalisme semata, bukan juga film untuk televisi.  Jauh lebih besar dan tinggi dari itu. Untuk menjadikan karya yang berbicara, pendekatan sinema diperlukan. Bahasa sinema digunakan. Sentuhan personal diharapkan. Karakter misterius nan dalam dibutuhkan. Ini tidak saja orang-orang yang terkenal, tetapi bisa saja ayah, ibu atau adik-adik kita. Ini bukan saja orang yang sanggup mendaki puncak Jaya Wijaya, tetapi orang yang terkapar tak berdaya di dipan rumah sakit. Dalam dunia dokumenter modern, semua bisa dilakukan, dan bisa mencuri perhatian. Inilah sejatinya materi uanggu film dokumenter.

Dunia dokumenter Indonesia kebanyakan masih dipenuhi oleh serial wawancara yang dilakukan dengan pakem standar membosankan. Tidak pernah orang diwawancarai sambil makan, atau mandi, atau tidur, karena tidak sopan. Kesopanan tak perlu dalam sinema. Ini hanya hadir dalam film pelatihan atau propaganda.

Hal yang paling sering dijumpai dalam film dokumenter Indonesia, adalah pertanyaan seputar penghasilan nara sumber. Pembuat film ingin menyederhanakan segala jerih payahnya dengan satu pertanyaan. Ini adalah jurnalisme.

Bagi seorang sineas, dia akan mengikuti sang nara sumber bekerja, lalu akan melihat bagaimana sang nara sumber menerima sejumlah uang, lalu menunjukkannya. Tunjukkan apa yang diperbuat adalah sinema. Bertanya apa yang diperbuat, adalah jurnalistik.

Minimnya akademi film di Indonesia membuat para seneas muda tumbuh dengan segala macam cara tanpa bimbingan. Dari you tube,  pelajaran extra kurikuler sekolah, satu dua ilmu diperoleh. Tetapi itu sama sekali tak menjamin mengerti bahasa sinema yang benar.  Hal-hal yang menyangkut teknik  begitu digandrungi.  Anak muda mengejar satu kecanggihan merk kamera satu ke lainnya.  Mereka mengabadikan momen lalu akan berakhir nyaman dalam bisnis foto dan video kawinan. Dijuluki tukang foto oleh orang-orang.

Denpasar Documentary Film Festival dalam edidi ke 10 * benar-benar serius untuk memberikan edukasi dan wadah bagi perkembangan sinema dokumenter yang masih dipandang sebelah mata di Indonesia. Dengan semangat tak henti-henti dan disokong oleh pemerintah daerah, DIDOFF mengadakan pembekalan film dokumenter bagi pelajar dengan mengadakan kemah. Ini diharapkan mampu mendidik para sineas muda menggali potensi daerahnya. Perjalanan masih panjang dan jauh. Langkah awal jelas diperlukan. Dengan alat seadannya seharus cukup menggetarkan dunia melalui film dokumenter. Banyak film-film penting dokumenter dunia hanya dikerjakan dengan seorang diri.

Tersendatnya aliran distribusi film film dokumenter di Indonesia ke penontonnya,  karena minimnya ruang putar yang layak. Ini kendala serius mengkerdilkan.  Persoalan yang sudah patut  dibantu oleh pemerintah dari pajak bioskop yang diterima. Jika ini  dilakukan, maka akan terjadi siklus sehat perkembangan  distribusi sinema Indonesia. Yang kuat menolong yang lemah. Film fiksi panjang sudah mampu hidup, membiayai film dokumenter yang masih belum mampu berjalan. Jika film fiksi panjang hanya berpusat di Jakarta, maka film dokumenter sudah tumbuh dari Aceh hingga Papua. Mereka lahir dari sineas-sineas daerah penuh harapan. Dengan membantu film dokumenter membantu Nusantara berbicara dan menumbuhkan benih-benih industri film di daerah.

Akhirnya, mencari celah agar film dokumenter tidak lagi sesuatu yang membosankan  mesti tetap dilakukan. Maka cobalah tonton film dokumenter pendek dari  Rina Tsou berjdul Horrible 30 me, My Father and Richard the Tiger, yang nanti akan diputar dalam Minikino Film week ke 5 tanggal 5-12 Oktober di berbagai tempat di Bali.  Dengan menggunakan arsip film lama Taiwan, sang sutradara 30 tahun ini, sanggup membuat kita menangis tersedu-sedu. Karya dokumenter yang hidup dan begitu personal. Inilah sejatinya arah perkembangan dokumenter dunia. Dia adalah kita yang tak bisa berbuat apa-apa, bukan mereka yang begitu besar dan tenar. Dia adalah lubuk hati kita yang paling personal.  Sesuatu yang personal ternyata begitu universal.  

Tags: Denpasar Documentary Film Festivalfilmfilm dokumentersinema
Share28TweetSendShareSend
Previous Post

September 30

Next Post

Restorasi Lontar Antar Generasi – Catatan Harian Sugi Lanus

Putu Kusuma Wijaya

Putu Kusuma Wijaya

Pembuat film. Pengelola Rumah Film Sang Karsa di Jalan Singaraja-Seririt KM 13.2, Kaliasem, Buleleng

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Restorasi Lontar Antar Generasi – Catatan Harian Sugi Lanus

Restorasi Lontar Antar Generasi – Catatan Harian Sugi Lanus

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co