24 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Film “Dua Garis Biru”, Edukasi dalam Adaptasi

Runi Arumndari by Runi Arumndari
September 14, 2019
in Ulasan
Film “Dua Garis Biru”, Edukasi dalam Adaptasi

Film Dua Garis Biru (dok. Starvision Plus)

Ketika pertama kali menyaksikan trailer yang dibalut dengan lagu menyentuh berjudul Growing Up dari Daramuda, banyak orang yang mungkin akan teringat film Jenny, Juno (2005) atau Juno (2007), dan berpikir bahwa Dua Garis Biru tidak lebih dari sekadar adaptasi karya orang lain. Tetapi ketika Dara (Adhisty Zara) dan Bima (Angga Yunanda) diperkenalkan melalui sebuah adegan pembuka yang cerdas, kita akan sadar bahwa Gina S. Noer tidak membuat film ini untuk hiburan semata.

Film ini tidak memperkenalkan Dara dan Bima secara terpisah melalui adegan yang menunjukkan keseharian mereka masing-masing seperti yang dapat kita lihat pada Posesif (2017), dan bukan juga melalui narasi dari karakter itu sendiri seperti pada Dilan 1990 (2018). Mereka diperkenalkan secara bersamaan pada suatu adegan murid-murid yang sedang diabsen berdasarkan nilai ulangannya. Dara dan Bima memang duduk sebangku, namun mereka masing-masing mendapatkan nilai tertinggi dan terendah, yang secara tersirat menunjukkan bahwa mereka sepasang namun kontras. Dara jelas berada di atas Bima, dalam hal kecerdasan, ambisi, hingga status sosial keluarga.

Konsep mempersatukan dua hal kontras yang disiratkan melalui adegan pembuka tersebut mempunyai makna lebih dari sekadar tentang sepasang kekasih yang sangat bertolak-belakang dalam berbagai hal, tetapi juga tentang tidak mudahnya mempersatukan dua orang usia belia menjadi sepasang orangtua dalam satu kesatuan keluarga. Dara dan Bima boleh ‘duduk sebangku’, tetapi bahkan untuk perkara makan kerang saja mereka masih berdebat mana yang lebih layak dimakan antara kerang yang sudah terbuka atau masih tertutup. Mereka masih merupakan dua orang yang berbeda yang belum siap untuk hidup bersama dengan visi misi yang sama.

Mereka pikir mereka akan bisa melewati perkara apapun, termasuk kehamilan di luar nikah itu, asalkan mereka saling mencintai. Padahal mereka tidak tahu bahwa mereka butuh lebih dari sekadar rasa cinta untuk menjadi orangtua, bahwa menjadi orangtua tidaklah mudah dan merupakan ‘pekerjaan’ seumur hidup, seperti yang dikatakan oleh Ibu Dara (Lulu Tobing). Mereka tidak sadar bahwa kalimat “saya akan tanggung jawab” memiliki makna yang tidak se-ringan mengucapkannya.

Mungkin mereka adalah gambaran nyata dari kebanyakan remaja di jaman mudahnya-akses-internet ini. Remaja yang tahu terlalu banyak tetapi tidak banyak menaruh paham. Mereka mempunyai banyak akses untuk melihat beragam materi dewasa, tetapi apakah mereka paham mengenai seks itu sendiri? Apakah mereka mengerti akan adanya pencegahan kehamilan melalui alat kontrasepsi? Rasanya tidak. Dan, saya rasa lagi, kemarahan Dewi (Rachel Amanda) kepada Bima yang menyalahkan adiknya karena tidak googling terlebih dahulu sebelum berbuat, mungkin adalah penyesalan kita semua terhadap mereka yang nekad berbuat tanpa ilmu apa-apa.

Tetapi apakah hanya mereka yang dapat kita salahkan atas ketidaktahuan tersebut? Tidak adakah pihak lain yang ikut memberikan kontribusinya, sehingga ‘kepolosan’ mereka hanyalah sebuah produk gagal dari lingkaran orang-orang yang saling terkait? Hilang ke manakah peran orangtua yang seharusnya dapat mengubah topik yang tabu tersebut menjadi sesuatu yang harus mereka tahu? Lalu apakah sekolah tidak bisa menjadi tempat yang tidak hanya memberikan pendidikan berbau akademis tetapi juga pendidikan seks?

Gina S. Noer menggambarkan lingkaran orang-orang yang berkontribusi tersebut dalam satu adegan yang sangat menguras emosi, di mana kehamilan Dara pertama kali terbongkar. Semua pihak tersebut berkumpul dalam satu ruang UKS; ada Dara dan Bima sebagai remaja yang tiba-tiba harus menjadi dewasa namun tidak punya pengetahuan apa-apa tentangnya, kepala sekolah sebagai perwakilan pihak sekolah yang gagal memberikan siswanya pendidikan seks, dan ada orangtua Dara dan Bima yang begitu kecewa dan marah kepada anak mereka, namun juga merasa diri mereka tidak berguna. Dalam ruangan tertutup itu, setiap individu menyumbang kesalahan. Orangtua dan pihak sekolah hanya seperti poster alat reproduksi yang menghiasi dinding ruang UKS; ada namun tidak berhasil memberi ilmu yang berarti.

Film ini nampaknya memang menghadirkan apa yang menjadi gambaran kenyataan. Tidak seperti Juno atau Jenny, Juno di mana respon orangtua terhadap perbuatan putra putrinya terkesan santai-santai saja yang rasanya agak tidak mungkin terjadi, di film ini respon tersebut tampak begitu nyata dan emosional. Kemarahan dan kekecewaan mereka terhadap putra putrinya yang keluar dalam bentuk tamparan hingga pengusiran dari rumah sendiri. Kepanikan mereka akan kenyataan bahwa anaknya mungkin tidak bisa lanjut sekolah. Kebingungan mereka akan bagaimana anak mereka akan menanggung semua bebannya. Menyerukan kepada mereka sebuah pernyataan yang begitu menggambarkan kehancuran, kekecewaan, dan kemarahan baik kepada Dara dan Bima maupun diri sendiri sebagai orangtua; “kamu pikir gampang jadi orang tua? Saya aja gagal jadi orang tua.”

Konsep dua hal yang kontras kembali digunakan untuk menggambarkan realita pandangan dan sikap orang terhadap kehamilan di luar nikah. Ada yang bersikeras menyalahkan pihak laki-laki seperti yang dilakukan Ibu Dara, dan ada juga yang melihatnya dengan lebih ‘netral’ seperti Ibu Bima (Cut Mini), yang membalas tuduhan Ibu Dara bahwa anaknya lah yang bersalah, dengan meneriakkan “anak kita!”, sebagai bentuk penegasan bahwa perempuan juga menyumbang kesalahan yang sama dengan laki-laki.

Rantaian konsekuensi yang harus ditanggung pun diceritakan dengan tidak tanggung-tanggung. Tidak hanya Dara dan Bima sendiri yang harus menanggung konsekuensi atas perbuatan mereka dalam wujud mental, fisik, dan finansial, tetapi keluarga mereka juga ikut menanggung bebannya. Beban yang hadir dalam bentuk penanggungan rasa kecewa dan malu, pengorbanan, hingga pertaruhan harga diri.

Setiap konsekuensi hadir sebagai edukasi yang memperingatkan betapa tidak sepele-nya kehamilan di luar nikah tersebut, terutama di usia muda seperti yang terjadi pada Dara. Setiap dialog pun hadir sebagai edukasi yang memberitahu banyak hal; mulai dari hal-hal kecil mengenai pekerjaan menjadi orangtua, peristiwa pembuahan itu sendiri yang hadir melalui pelajaran Biologi di kelas, penggunaan alat pengaman yang muncul secara natural saat Dewi mengungkapkan kemarahannya pada Bima, hingga hal-hal berbau medis yang disampaikan tanpa kesan ‘berat’ oleh dr. Fiza Hatta (Ligwina Hananto).

Pada akhirnya, kehadiran seorang calon bayi yang dikandung Dara tanpa proses pernikahan tidak lantas menjadi sebuah mukjizat yang kemudian mempertegas makna cinta diantara mereka, apalagi menjadi momentum untuk belajar tentang mencintai dan dicintai, yang sudah pernah kita lihat dalam Juno. Tidakjuga seperti Jenny, Juno di mana kehadiran calon bayi itu pada akhirnya hanya menjadi momen selebrasi cinta mereka, tanpa edukasi apa-apa. Dalam Dua Garis Biru, Gina S. Noer menjadikan kehamilan Dara sebagai momen edukasi, yang diceritakan dengan penuh emosi.

Dua Garis Biru adalah sebuah gambaran nyata tentang apa saja yang akan terjadi sebagai akibat dari kehamilan di luar nikah pada usia muda, serta tentang kehamilan itu sendiri. Film ini berusaha mengambil peran sebagai media sex education, karena entah sampai kapan seks akan dilihat sebagai hal yang tabu di tengah masyarakat yang sudah serba tahu ini. [T]

Tags: edukasifilmFilm Dua Garis BiruFilm Indonesiafilm layar lebarPendidikansekolah
Share43TweetSendShareSend
Previous Post

“Saru Gremeng” Intelektual Muda Hindu

Next Post

Perjumpaan dengan Bayangan yang Hilang

Runi Arumndari

Runi Arumndari

Seorang dokter yang juga senang menulis dan melihat film tidak hanya sebagai media seni dan hiburan. Pernah menulis beberapa kali di sebuah koran. Pernah pula aktif menulis tentang film walau hanya dalam blog pribadi. Blog/website: msgretagarbo.tumblr.com dan phrasingcinema.blogspot.com

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Perjumpaan dengan Bayangan yang Hilang

Perjumpaan dengan Bayangan yang Hilang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah
Ulas Pentas

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

by Yanik Parta
August 24, 2026
Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan
Pendidikan

Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan

TIKUNGAN dengan jarak pandang terbatas menjadi titik yang membutuhkan perhatian lebih dari pengguna jalan. Karena itu, sejumlah tikungan di Desa...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo
Pop

“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo

SETELAH pop upbeat menjadi langkah pertamanya, Thalia Gunawan memilih koplo untuk melanjutkan perjalanan. Penyanyi muda asal Denpasar, Bali, itu menghadirkan...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma
Esai

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
Telenovela
Esai

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

by Angga Wijaya
August 24, 2026
Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini
Kritik Seni

Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini

“Everybody In Bali Seems to be an artist” Kutipan itu persis terlontar 89 tahun lalu dari Miguel Covarrubias. Seorang seniman...

by Made Chandra
August 24, 2026
Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026
Budaya

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

by tatkala
August 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co