12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Film “Calon Bini”, Menghibur sekaligus Mendidik

Wayan Junaedy by Wayan Junaedy
July 10, 2019
in Ulasan
Film “Calon Bini”, Menghibur sekaligus Mendidik

Pemeran fil Calon Bini (Foto: Google)

  • Judul Film : Calon Bini
  • Sutradara :  Asep Kusdinar
  • Pemeran :  Michelle Ziudith, Rizky Nazar, Slamet Rahardjo, Niniek L. Karim, Cut Mini,    Minati Atmanegara, Butet Kertaradjasa
  • Tanggal Rilis :  14 Februari 2019

 ___

Film bertema usang tidak selalu menjemukan untuk ditonton. Calon Bini, salah satu film Indonesia yang telah berhasil membuat saya betah lama-lama memelototi layar monitor. Menonton lewat smartphone, pada aplikasi Inflix. Terlambat untuk menonton, karena dulu di bioskop keburu habis maya tayangnya.

Film ini mirip dongeng. Atau memang betul-betul dongeng. Sebenarnya ceritanya klise. Kisah tentang gadis desa. Lari dari rumah untuk menghindari perjodohan. Menjadi pembantu di sebuah rumah mewah, milik pengusaha kaya raya. Kemudian happy ending: menjadi calon istri dari putra majikannya sendiri.

Tapi film ini telah didaur-ulang sehingga terasa baru. Tema lama dengan bentuk baru. Sehingga menghadirkan tontonan yang sungguh bergizi dan menyehatkan batin. Nutrisi untuk kesehatan jiwa. Film yang mengocok-ngocok emosi kita selama beberapa jam. Dibalut bentuk komedi, yang membuat kita tertawa, terharu, bersedih dan kemudian merenung.

Cerita dibuka dengan adegan kegembiraan semua siswa SMU karena telah lulus. Ningsih, tokoh utama dalam film ini yang diperankan sangat apik oleh Michelle Ziudith, pulang dengan wajah berseri-seri dari sekolah, ditemani dua orang temannya. Dalam benaknya hanya ada tekad untuk melanjutkan kuliah. Cita-cita harus digapai, setinggi apapun dia menggantung.

Betapa kecewa hati Ningsih, karena di rumahnya ada rembug keluarga untuk menjodohkan dirinya dengan Sapto, anak Pak Kepala Desa. Sapto tergila-gila dengan Ningsih. Di awal cerita ada adegan saat Sapto mencegat Ningsih di perjalanan dari sekolah, sekedar memberikan sekuntum bunga untuk Ningsih, pujaan hatinya. Agung, paman Ningsih, yang digambarkan haus harta, berperan sebagai penghubung perjodohan itu.

Ayah Ningsih digambarkan sebagai pribadi yang lugu. Dia tidak bisa dengan tegas menolak perjodohan itu.

Ningsih berontak. Dia bertekad pergi ke Jakarta. Menggapai cita-citanya yang masih menggantung di langit. Takdirnya bukan lagi sumur, dapur, kasur. Dia ingin kuliah, kalau perlu sampai S2. Atas ijin kedua orang tuanya, Ningsih pun berangkat ke ibu kota yang keras. Anak gadis yang pergi ke metropolitan yang kejam.

Di Jakarta, Ningsih diperkenalkan dengan keluarga Prawira, pengusaha kaya raya, oleh Sri teman baik Ningsih. Dalam film ini, Sri tidak pernah dimunculkan dalam sebuah adegan. Hanya digambarkan lewat percakapan telepon dengan Ningsih. Dan karakter Sri juga digambarkan dalam percakapan Ningsih dengan Bu Andini.

Nutrisi film ini dibentuk dari kehadiran beberapa aktor dan aktris senior yang tak diragukan lagi kualitas akting mereka. Ada nama besar seperti Slamet Rahardjo yang berperan sebagai Pak Prawira, majikan Ningsih di Jakarta. Minati Atmanegara sebagai Andini, istri Pak Prawira. Niniek L. Karim menjadi tokoh Oma, mertuanya Pak Prawira.

Dan Cut Mini, yang aktingnya begitu kuat dalam film Laskar Pelangi sebagai ibu guru muda yang memperjuangkan nasib pendidikan anak-anak di daerah terpencil, mendapatkan bagian peran sebagai ibunya Ningsih. Terus ada Butet Kertaradjasa yang terasa pas sebagai kepala desa.

Seperti kebanyakan anak remaja jaman sekarang, Ningsih begitu lekat dengan gadget. Chatting, selfie, menjadi keseharian Ningsih di sela-sela pekerjaanya sebagai pembantu rumah tangga di keluarga Pak Prawira. Walau begitu Ningsih tetap sebagai perempuan desa yang lugu, mandiri, dan penyayang.

Beberapa kali adegan saat Ningsih selfie berlatar rumah mewah majikannya. Dia begitu kagum melihat rumah mewah majikannya, sekaligus bahagia bisa bekerja di sana. Foto-foto selfie yang kemudian dia kirim kepada orang tuanya di kampung, yang kemudian memicu salah paham yang menjadi klimaks pada film ini. Karena semua orang di kampungnya mengira bahwa Ningsih telah sukses dan kaya raya. Adegan kekonyolan yang menjadi ciri khas sebagai film komedi.

Tokoh Oma diperankan begitu kuat oleh Niniek L. Karim. Perempuan tua yang dingin, yang lebih banyak mengurung diri di kamar. Oma tidak memiliki hubungan baik dengan anak dan menantunya. Pelan-pelan Ningsih berhasil meluluhkan hati Oma. Untuk pertama kalinya Oma bisa tersenyum dan tertawa di hadapan Ningsih.

“Kamu pernah kesepian, nggak?” tanya Oma kepada Ningsih. Kalimat pertama dari Oma ini menggambarkan betapa galau hatinya karena rasa sepi. Kesepian di masa tua yang begitu menggigit. Satu-satunya hiburan bagi perempuan tua ini adalah saat ketemu sahabat-sahabatnya di rumah makan. Setelah ditinggal Satria Bagus, cucunya tersayang, untuk kuliah di New York, Oma menemukan pengobat rasa sepinya pada diri Ningsih yang lugu dan penyayang.

Tapi karena sebuah kesalahan, kesalah-pahaman yang konyol, Ningsih dipecat oleh Pak Prawira. Oma menjadi sedih dan kembali merasa kehilangan. Ningsih pulang ke kampung dengan perasaan hancur. Rencana perjodohannya dengan Sapto berlanjut lagi, lelaki yang dia benci selama ini. Ningsih putus asa. Masa depannya telah habis.

“Sayapku telah patah,” tulis Ningsih kepada teman chatting-nya yang bernama Jejak Langkah, yang sebenarnya tak lain adalah Satria Bagus, putra bekas majikannya di Jakarta, yang sedang menuntaskan kuliahnya di New York. Selama ini mereka sering chatting lewat media sosial tanpa pernah mengenal satu sama lain di dunia nyata, dan akun Satria Bagus dengan nama samaran tanpa foto profil. Walau sosok misterius, ternyata Ningsih membiarkan perasaannya mengalir. Mereka begitu akrab di dunia maya karena sama-sama ingin menggapai cita-cita setinggi langit.

Kemudian dalam dunia nyata, Satria Bagus yang diperankan Rizky Nazar, menjemput Ningsih untuk dilamar. Bagaikan seorang pangeran yang jatuh cinta pada perempuan desa dari kasta yang rendah, yang kemudian diboyong menjadi putri istana. Betul-betul dongeng yang menarik dan jenaka. Ningsih menolak lamaran Sapto, dan menyatakan jatuh cinta dengan Satria Bagus.

“Pak, Bu, Ningsih boleh bahagia kan?” ucap Ningsih dalam bahasa Jawa, begitu lugunya.

“Boleh, boleh,” kata ayahnya bersukacita, menerima lamaran Satria.

Adegan-adegan dalam film ini begitu hidup, segar dan menarik. Mengalir dan tidak membosankan.  Alurnya yang terasa jenaka, sangat menghibur dan memberi perenungan. Film yang sangat berkualitas. Begitu kaya dengan karakter tokoh-tokohnya. Ada juga figuran yang tidak berperan dalam benang merah alur cerita. Tokoh yang dilihat Ningsih di dalam kereta, seorang pria yang kebetulan memakai sepatu kets dengan gambar sayap, sepatu sama seperti yang dipakai oleh Jejak Langkah, teman chatting Ningsih di media sosial.

Beberapa adegan mengandung kritik sosial. Seperti saat Sapto merampas motor di sebuah bengkel untuk dipakai mengejar Ningsih ke Jakarta.

“Aku ini anak kepala desa!” teriak Sapto sambil mengambil motor begitu saja seperti begal. Demikian juga saat dicegat penjaga loket kereta api. “Aku anak kepala desa!” Sapto begitu angkuh.

Sosok Sapto mewakili putra-putra pejabat tinggi, yang sombong, angkuh, manja dan juga rapuh.

Kesimpulannya, Calon Bini memang layak ditonton. Bukan Cuma layak, tapi harus. Rugi tidak nonton film sebagus ini. Duduk selama satu setengah jam akan dirasa kurang setelah menikmati adegan demi adegan di film ini. Tidak perlulah kita nonton film-film yang berat. Tema ringan dengan gaya komedi dalam Calon Bini, di samping menghibur juga memberikan pendidikan karakter. Film komedi yang penuh isi.   [T]

Tags: filmhiburanPendidikanresensi
Share26TweetSendShareSend
Previous Post

Pangraksa Jiwa dari Dayu Ani, Mengukuhkan Keragaman Nusantara

Next Post

Mebalih Dalang Cilik Narend di Festival Tepi Sawah

Wayan Junaedy

Wayan Junaedy

Lahir dan tinggal di kawasan Taman Margarana, Marga, Tabanan. Suka gowes, suka menulis, suka berteman

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Mebalih Dalang Cilik Narend di Festival Tepi Sawah

Mebalih Dalang Cilik Narend di Festival Tepi Sawah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co