24 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Self-Acceptance” Pada Realitas Hidup – [Ulasan Buku Kumpulan Cerpen Kereta Tidur]

L Margi by L Margi
July 9, 2019
in Ulasan
“Self-Acceptance” Pada Realitas Hidup – [Ulasan Buku Kumpulan Cerpen Kereta Tidur]
  • Judul               : Kereta Tidur
  • Penulis             : Avianti Armand
  • Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
  • Tebal               : 152 halaman
  • Tahun              : Juni 2018

***

Sebagian manusia memiliki keterbatasan dalam memahami apa yang ada dalam pikiran dan hatinya. Tak sedikit yang menjadi korban dari ketidakmampuan mengatasi konflik batin dan pada akhirnya memicu melakukan tindakan-tindakan di luar nalar.

Hidup itu haruslah ideal, baik-baik saja, tak perlu ada kegagalan, tak boleh ada kecewa. Siapa yang tak ingin semua ini? Tapi pada kenyataannya hidup itu dinamis. Beberapa hal tersebut penyebab manusia selalu memelihara rasa takut. Terlebih hal ini akan terjadi pada orang yang dalam hidupnya selalu ada pada zona nyaman.

Avianti Armand mencoba mengusik pembaca dengan hal-hal unik seperti konflik cinta; ketidakharmonisan keluarga; beberapa pertanyaan atas eksistensi manusia. Dalam bukunya, ia menyajikan kumpulan cerpen dengan alur cerita yang tak terduga-duga.

Judul buku kumpulan cerita “Kereta Tidur” diangkat dari salah satu cerpen dari lima belas cerita di dalamnya. Saya mencoba lebih awal menebak sejumlah cerpen di dalam buku ini pasti berkisah tentang sebuah petualangan atau mungkin saja perjalanan hidup seseorang. Dan ternyata di luar ekspektasi, pada cerpen “Kereta Tidur”, Avianti Armand—sebagai penulis buku ini—jauh menceritakan tentang petualangan batin dua manusia, bagaimana mereka menjaga rasa pada sebuah relationship yang tak wajar.

“Kita akan lupa,” Naomi mengeluh, sedikit sedih sedikit khawatir, meski tak bisa berbuat lagi. Mereka memang harus cukup puas dengan memori yang melekat pada benda-benda kecil.

“Kelak,” ujar lelaki itu yakin, “kita akan punya tempat untuk memajangnya. Ketika bulan lega dan segaris oranye di kaki langit.” (Kereta Tidur: 101)

Manusia—mungkin saja diantaranya saya, kamu, atau kalian—terlalu sibuk menciptakan kenangan-kenangan dalam setiap tipak perjalanan hidup, tetapi kita sering lupa menjaganya. Dalam cerpen ini, Avianti begitu jelas memotret tentang cerita yang bertolak belakang dengan kehidupan ideal atau kisah cinta yang wajar. Tentang sebuah perasaan sayang pada orang dan waktu yang tidak tepat, namun tak pernah ada kata korban atau dikorbankan. 

Avianti berusaha menegaskan pada cerita ini bahwa bahagia itu begitu sederhana, sesederhana Naomi (tokoh dalam cerita) menamai diri mereka: pengumpul “souvenir”- hal-hal kecil yang mampir sejenak, mengikat dia, lelaki itu, dan tempat-tempat. Seperti subuh ini, kamar ini, surat kabar kemarin, genggaman tangan di bawah bantal, remah keringat pada selimut, rambut kusut, senyum mengantuk, kopi asam yang tak pernah habis, dan cangkir biru laut yang menyisakan asap.

Namun, saya sangat yakin, jika salah satu dari kita membaca cerpen ini lalu menarik pada pemahaman agama, tentu kita akan memicingkan mata berusaha mencari di mana letak kebenaran dalam hubungan terlarang antara Naomi dan lelakinya.

Tidak jarang antara agama dan sastra memunculkan pertentangan esensial, namun sering pula keduanya menunjukkan satu kesamaan perspektif. Begitu pula beberapa cerita pada buku ini. Kita lihat saja bagaimana tokoh dalam cerpen berjudul Matahari begitu sibuk mempertanyakan tentang Tuhan pada kekasihnya: ”Bagaimana kita tahu bahwa Tuhan bukanlah matahari?”

Atau pada cerita berjudul Ayah yang mengisahkan lelaki tua yang selalu memberikan ciuman pada malaikat kecilnya dengan meninggalkan perih dan bekas yang semakin membuat ia meringis kesakitan,” Kamu seorang perempuan sekarang, ujarmu, dulu kamu adalah malaikat. Aku lebih suka disebut bejat. Sebab kini kita telah bercinta, di batas antara tanah dan air, di bawah ribuan bintang dan sapuan ombak, walau aku tahu itu tabu.” (Kereta Tidur: 110).

Inilah kenapa kita tidak selamanya bisa memperdebatkan karya sastra dengan dalil agama yang hakikatnya selalu mempunyai batasan-batasan yang mengikat, sedangkan jelas sekali berbeda dengan hakikat sastra sebagai sesuatu yang lentur dan tidak terikat. Istilah chatarsis yang dikemukakan oleh Aristoteles menandakan bahwa sastra adalah pembebasan atas jiwa, pembebasan atas apa yang terikat, karena itu pula, dalam dunia sastra dikenal istilah licensia poetica, yakni kebebasan atau hak dan wewenang seorang sastrawan dalam berkarya. Pada tataran itulah sastra dan agama menjadi dua entitas yang kontradiktif.

Dalam buku ini, kalian juga akan temui sebuah cerpen yang paling pendek diantara cerpen lainnya: Pelajaran Terbang, cerita sebuah pertentangan batin manusia, antara mimpi dan realita, juga segala konsekuensinya. Avianti mengawali cerita dengan membenturkan manusia pada ketakutan-ketakutan yang seringkali menghentikan kita pada perbatasan. Antara rasa takut dan berani, waras dan gila.

“Kamu takut, tapi juga bergairah. Kamu akan sedih karena keterbatasanmu, tapi juga sadar, bahwa ini hanyalah soal pilihan. Pulang – tanpa pernah mencoba – dengan utuh dan selamat, atau sekali saja, hanya sekali saja sebelum mati, kamu merasakan terbang. Kamu mungkin mati, mungkin juga tidak.” (Kereta Tidur: 121)

Manusia tidak bisa menghindari perasaan takut, bahkan pada titik tertentu manusia berusaha menyelamatkan dirinya dari rasa takut dengan cara yang terkadang diluar dari prediksi kita. Misalkan saja sebuah kasus, seorang manusia yang ingin menangis, berteriak tapi takut dianggap gila, atau manusia yang ingin mati tapi takut bunuh diri, atau manusia petualang yang setelah melampiaskan birahinya, menghilang karena takut akan kehancuran karir dan nama baiknya. Memutuskan memilih zona aman adalah salah satu reaksi yang bisa dilakukan untuk merespon kasus-kasus tersebut.

Dalam cerpen ini, Avianti berhasil menarasikan dengan baik bagaimana manusia harus melawan  dirinya sendiri. Ia memberi sebuah gambaran bahwa hidup bukan hanya sekedar bagaimana kita  merangkul rasa sakit dan takut, melainkan bagaimana sebuah keberanian menentukan pilihan mengakhiri rasa sakit dan takut dengan segala konsekuensi.

Hal ini nampak pada ending cerita, di mana “aku” telah berhasil menyelesaikan pemberontakan dalam batinnya,”jika aku bisa terbang, maka aku akan melayang di udara seperti elang. Jika Tidak, aku cukup bahagia untuk jatuh.” (Kereta Tidur: 122)

Buku tentang sebuah perjuangan

Buku kumpulan cerita Kereta Tidur adalah sebuah gambaran realita hidup di sekitar kita yang bisa dialami oleh siapa saja. Kisah tentang perjuangan baik dalam kewajaran maupun ketidakwajaran. Perjuangan bagaimana mencintai, mendapatkan cinta, menunggu, meninggalkan, menjaga kenangan, melawan rasa takut, bahkan perjuangan meyakini sesuatu yang tidak semua orang mampu paham.

Apakah perlu membaca semua cerpen dalam buku ini setelah apa yang saya tulis?

Tentu, setidaknya kita akan tahu betapa hidup itu tak hanya putih atau hitam, dan sedikit belajar bertanggung jawab atas rasa yang sudah kita bangun. Lebih dari itu, yang sangat menarik dari buku Kereta Tidur, sebuah cerita penutup yang mengajarkan betapa sebuah keyakinan itu dibutuhkan dalam setiap relasi.

Pembaca bisa melihat begitu kuat keyakinan tokoh pada cerpen: “Tak Ada yang Lebih Tepat Berada di Sini Selain Kamu.” dalam mencari cintanya. Ia menulis sebuah pesan dalam botol: “Aku akan mencarimu, sampai kau hilang lagi.” [T]

Tags: Bukuresensi bukusastra
Share15TweetSendShareSend
Previous Post

Tubuh Kita Butuh Stres

Next Post

Koes Plus Tak Pernah Mati

L Margi

L Margi

Alumnus Magister Pendidikan UNESA

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Koes Plus Tak Pernah Mati

Koes Plus Tak Pernah Mati

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah
Ulas Pentas

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

by Yanik Parta
August 24, 2026
Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan
Pendidikan

Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan

TIKUNGAN dengan jarak pandang terbatas menjadi titik yang membutuhkan perhatian lebih dari pengguna jalan. Karena itu, sejumlah tikungan di Desa...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo
Pop

“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo

SETELAH pop upbeat menjadi langkah pertamanya, Thalia Gunawan memilih koplo untuk melanjutkan perjalanan. Penyanyi muda asal Denpasar, Bali, itu menghadirkan...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma
Esai

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
Telenovela
Esai

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

by Angga Wijaya
August 24, 2026
Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini
Kritik Seni

Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini

“Everybody In Bali Seems to be an artist” Kutipan itu persis terlontar 89 tahun lalu dari Miguel Covarrubias. Seorang seniman...

by Made Chandra
August 24, 2026
Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026
Budaya

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

by tatkala
August 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co