24 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Ntud Nduk Fun Bike”, Jelajah Jalan Mesra Subak dan Pedesaan di Tabanan

Wayan Junaedy by Wayan Junaedy
July 2, 2019
in Khas
“Ntud Nduk Fun Bike”, Jelajah Jalan Mesra Subak dan Pedesaan di Tabanan

“Ntud Nduk Fun Bike”, Jelajah Jalan Mesra Subak dan Pedesaan di Tabanan

Minggu 30 Juni, sekitar pukul 7 pagi, saat dingin betul-betul menyusup sampai ke tulang, kami menggetarkan Subak Sidang Rapuh dan Subak Uma Kaang, Desa Marga Dauh Puri, Marga, Tabanan. Kalau diperkirakan, ada sekitar 900 peserta fun bike cross country, melewati subak-subak itu. Jalan subak yang begitu sempit, ketika dilewati ratusan peserta sepeda, membuat macet yang mengular sampai beberapa meter. Acara fun bike itu menjadi tontonan para petani yang sedang menggarap sawah. Sawah yang biasanya sepi, pagi itu mendadak seperti pasar.  

Ntud Nduk, sebuah komunitas sepeda di Desa Tunjuk, kecamatan Tabanan, Kabupaten Tabanan, Bali, sedang mengadakan hajatan. Dalam rangka HUT Ntud Nduk yang ke tujuh, mereka sepakat mengadakan acara bersepeda  fun bike cross country, dengan medan keluar masuk persawahan dan tegalan. Sebuah acara yang sangat positif, meningkatkan minat masyarakat tentang pentingnya hidup sehat dengan cara bersepeda. Olahraga yang bisa dilakukan oleh segala kelompok umur.

Di bawah asuhan Nyoman Nastana, Ntud Nduk telah menjadi komunitas penggiat bersepeda yang konsisten. Anggotanya sampai saat ini telah mencapai 55 orang, kebanyakan warga di desa Tunjuk, dan juga ada peserta dari luar desa yang bergabung.

“Ntud Nduk Fun Bike”, memeriksa apakah sawah kami masih alami?

Kalau ditelaah, mungkin Ntud Nduk berasal dari dua kata dalam bahasa Bali. Ntud dari urat kata entud yang artinya lutut, sedangkan Nduk dari kata enduk yang artinya lemah. Kalau digabung, artinya merujuk: lutut yang lemah. Tapi ternyata Ntud Nduk dibuat dari majas Litotes, gaya bahasa yang menggunakan kata berlawanan untuk merendah. Contoh majas litotes ini dalam sebuah kalimat: “Saya menyelesaikan S2 di Amerika dengan otak yang tumpul”.

Kalau sudah bisa menyelesaikan kuliah di Amerika, pastilah otaknya encer. Atau kalimat: “mampirlah sebentar ke gubuk saya”.  Padahal yang dia maksud gubuk itu adalah rumah yang sangat mewah.

Komunitas Ntud Nduk tidak terdiri dari orang-orang yang berlutut lemah, melainkan sebaliknya. Mereka adalah para penggowes yang perkasa. Buktinya mereka bisa menyelesaikan gowes dari Tunjuk, Tabanan sampai ke Pelabuhan Padang Bay, Karangasem, kemudian nyebrang ke Pulau Nusa Penida untuk melakukan tirta yatra, sembahyang ke pura-pura di sekitaran pulau kecil itu. Mekemit , kemudian esoknya gowes lagi dari pelabuhan Padang Bay sampai ke Tunjuk. Itu jarak yang luar biasa dan gila. Ratusan kilometer.

Saya sangat salut dan hormat kepada komunitas Ntud Nduk ini, atas konsistensi mereka bersepeda. Ketika saya mendapat tawaran untuk memeriahkan acara fun bike mereka, langsung saya mengiyakan. Berpartisipasi sebagai sesama penghobi.

Maka pagi itu, walau pergelangan tangan saya sedikit bermasalah karena asam urat yang tiba-tiba kambuh, saya memaksa ikut. Ada 3 kategori dalam acara fun bike xc itu. Jalur yang terjauh sekitar 28 kilometer, yang lebih dekat ada jalur untuk pemula sekitar 17 km, dan ada jalur untuk anak-anak sepanjang 7 km. Saya ikut yang 28 kilometer.

Jalan-jalan subak , kadang landai, berliku, kadang menanjak dengan mesra

Pukul 6.30 kumpul di lapangan sepak bola Desa Tunjuk. Peserta sudah ramai berdatangan. Di tribun, MC yang cantik dengan suaranya yang manis menyapa. Pagi yang dingin. Ketemu dengan teman-teman. Ngobrol-ngobrol sebentar menunggu start. Tak disangka ketemu dengan sahabat lama Putu Bonconk, yang jauh-jauh datang dari Buleleng menghadiri undangan fun bike ini. Putu Bonconk hadir dengan tujuh orang anggota komunitas Buleleng, bersama atlit-atlit muda ISSI Buleleng yang juga berpartisipasi. Beberapa atlit ISSI Tabanan juga ikut, di antaranya Radit dan Naomi. Walau ini bukan lomba, tapi mereka berpartisipasi.

Rencananya acara itu akan dilepas Bapak Kapolres Tabanan, karena kebetulan beliau juga hobi bersepeda. Tapi beliau berhalangan hadir karena ada acara penting, akhirnya diwakili Bapak Kapolsek Kota Tabanan. Pukul 7.00 bendera pelepasan dikibarkan.

Ratusan peserta memadati jalur Tunjuk menuju Marga. Kemudian di wilayah Desa Marga Dauh Puri, kami mulai memasuki persawahan. Jalan Subak Sidang Rapuh, yang kecil dan berbeton. Betul-betul acara yang fun. Enak rasanya ramai-ramai. Bersepeda sambil ngobrol. Tak terasa sudah memasuki Subak Uma Kaang, sebuah subak di sebelah utara Monumen Candi Margarana. Hamparan persawahan dan kebun sayur hijau, menyehatkan mata para peserta acara fun bike itu. Di Subak Uma Kaang, di samping menanam padi, mayoritas petani lebih suka bercocok tanam sayur hijau. Walaupun ada juga beberapa yang menanam kacang panjang dan bunga pacah.

Sebenarnya rute persawahan adalah medan favorit pagi para penggowes. Tidak membosankan seperti di jalan raya, yang kita lihat hanya jalan lurus dan asap kendaraan. Medan persawahan betul-betul sejuk. Apalagi kalau ada jalan subak yang sudah dibeton, berliku-liku dengan sungai di sampingnya. Tak ada yang lebih indah daripada suara gemericik air yang mengalir. Mendengarnya saja, pikiran jadi sejuk. Bahkan seseorang yang bermeditasi juga mendengarkan suara air yang telah direkam untuk menemani kegiatan meditasi mereka.

Beberapa penggiat sepeda juga senang bermain lumpur. Mereka justru sengaja mencari rute dengan jalan subak yang belum tersentuh beton. Pas hujan-hujan, jalan subak yang rusak pasti banyak kubangan lumpur. Dan mereka akan terjun ke lumpur-lumpur itu dengan rasa nikmat, walaupun nanti harus cuci sepeda, sepatu dan pakaian dengan susah.

Pada hakekatnya, seperti di masa kanak-kanak, kita sebenarnya sangat menyukai air dan tanah. Di masa kecil kita sering bandel main kotor-kotoran, main air hujan dan lumpur dengan riang, walaupun setelah itu dijewer ibu.

Dengan bersepeda melewati jalur subak, para pesepeda sepertinya ingin memeriksa dengan hati yang damai, apakah sawah-sawah kami di Tabanan masih alami, petani masih semangat bekerja dan air masih mengalir dari pegunungan dengan jernih?

Setelah melewati Subak Uma Kaang, kami ketemu turunan dan tanjakan pendek-pendek. Kemudian memasuki Desa Payangan. Kehadiran kami membuat anjing-anjing di kampung itu menyalak. Melintasi Desa Payangan yang lumayan panjang, membuat para peserta yang mungkin masih pemula di dunia sepeda mulai kelelahan. Rombongan mulai terpecah-pecah. Saat inilah kelihatan siapa endurance-nya yang sudah terlatih. Kami terpencar-pencar menjadi kelompok kecil-kecil.

Ini bukanlah fun bike biasa. Awalnya fun, selanjutnya medannya begitu menantang. Di ujung Desa Payangan, ada sebuah bendungan kecil. Ada tanjakan yang sangat curam, yang menghubungkan Desa Payangan dengan Banjar Pemanis. Tanjakan berbeton ini memaksa para peserta turun dan menuntun sepeda mereka. Syukurlah saya bisa melewatinya, sukses secara pelan-pelan.

Penulis selfie dengan teman-teman pesepeda

Di Banjar Pemanis kami terus ke utara. Jalur yang melelahkan karena menanjak terus. Sampailah di Banjar Keridan, Desa Senganan, Kecamatan Penebel. Di ujung banjar ini, kami kemudian diarahkan ke barat oleh marshal yang berjaga, memasuki persawahan lagi. Ternyata jalur itu tembus ke Banjar Pagi, kampung yang pernah saya tulis dulu, karena keberadaan konservasi burung hantu untuk memberantas hama tikus para petani. Di Banjar Pagi ini kami memasuki areal subak lagi, menuju arah selatan. Jalannya mulai menurun. Nah, ini adalah hadiah, istilah untuk para pesepeda. Ada tanjakan, ada hadiah turunan.

Tapi jangan gembira dulu. Setelah turunan yang begitu panjang, di Banjar Biaung kami diarahkan ke timur lagi, memasuki banjar Cacab Jangkahan. Ada tanjakan mesra yang memacu detak jantung lagi. Tadi saat jalan turunan, ada seorang peserta yang menyalip saya dengan tidak sopan. Saat memasuki tanjakan di Banjar Cacab Jangkahan itu, dia nuntun sepedanya. Rasain lu! Giliran saya mengentutinya di tanjakan itu…hehehe

Sepanjang perjalanan, di samping bersepeda, mata saya terus mengamati kanan-kiri, melihat kebun-kebun. Ternyata sedikit yang menanam bunga gumitir. Ada harapan, bunga gumitir akan meroket menjelang Galungan ini. Sebab saya sedang menanam bunga gumitir di petak sawah saya…hehehe

Setelah tanjakan di Banjar Cacab Jangkahan itu, jalannya terus menurun sampai ke lapangan Desa Tunjuk lagi, tempat start tadi. Kemudian makan snack bersama teman-teman sambil berhaha-hihi. Nonton joged sambil menunggu undian door prize.

Seperti sebelum-sebelumnya, kali ini saya juga tidak beruntung. Hadiah-hadiah door prize terlewati tanpa nomer saya disebut. [T]

Tags: balap sepedagowespertaniansubaktabanan
Share308TweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Surya Gemilang # Setelah Mengunduh Film Porno

Next Post

Tetralogi Buru, Panggilan Zaman dan Kekuatan yang Terabaikan

Wayan Junaedy

Wayan Junaedy

Lahir dan tinggal di kawasan Taman Margarana, Marga, Tabanan. Suka gowes, suka menulis, suka berteman

Related Posts

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

by Agung Sudarsa
August 19, 2026
0
Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

MENJELANG peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kita biasanya kembali mengenang perjuangan para pahlawan, pengorbanan para pendahulu, dan lahirnya bangsa yang...

Read moreDetails

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok...

Read moreDetails

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

by Nyoman Budarsana
August 18, 2026
0
Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

DI balik pertunjukan seni yang masih dapat disaksikan di Kuta, ada orang-orang yang bertahun-tahun berlatih, mengajar, berkarya, dan meneruskan pengetahuan...

Read moreDetails

Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

MALAM mulai turun di Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Sabtu, 15 Agustus 2026. Di sebuah tempat makan yang baru...

Read moreDetails

“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

 “Saya cari tiga orang, yang mau bikin konten pendidikan dengan menggunakan baju Handmad Campah. Saya bayar Rp1,5 juta tiap bulan....

Read moreDetails

“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

by Rusdy Ulu
August 9, 2026
0
“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

SEJARAH Desa Adat Batur tidak hanya tercatat melalui peristiwa Rarud Batur 1926, tetapi juga melalui hubungan yang terbangun antara masyarakat...

Read moreDetails

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

by Dede Putra Wiguna
August 8, 2026
0
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

“JAZZ itu musik yang meneduhkan, tapi mengajak berpikir,” ujar Gede Diarta, seorang pemuda asal Denpasar yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan...

Read moreDetails

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

by Jaswanto
August 7, 2026
0
Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

DI ruang aula SMAN 4 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa pemuda-pemudi dari Sanggar Putri Nyale duduk di kursi...

Read moreDetails

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

by tatkala
August 6, 2026
0
Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

“Pentingnya kursus bahasa Inggris untuk semua kalangan tidak bisa diragukan lagi. Bahasa Inggris penting sebagai bahasa global, untuk dunia kerja,...

Read moreDetails
Next Post
Tetralogi Buru, Panggilan Zaman dan Kekuatan yang Terabaikan

Tetralogi Buru, Panggilan Zaman dan Kekuatan yang Terabaikan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah
Ulas Pentas

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

by Yanik Parta
August 24, 2026
Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan
Pendidikan

Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan

TIKUNGAN dengan jarak pandang terbatas menjadi titik yang membutuhkan perhatian lebih dari pengguna jalan. Karena itu, sejumlah tikungan di Desa...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo
Pop

“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo

SETELAH pop upbeat menjadi langkah pertamanya, Thalia Gunawan memilih koplo untuk melanjutkan perjalanan. Penyanyi muda asal Denpasar, Bali, itu menghadirkan...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma
Esai

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
Telenovela
Esai

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

by Angga Wijaya
August 24, 2026
Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini
Kritik Seni

Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini

“Everybody In Bali Seems to be an artist” Kutipan itu persis terlontar 89 tahun lalu dari Miguel Covarrubias. Seorang seniman...

by Made Chandra
August 24, 2026
Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026
Budaya

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

by tatkala
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [5]: Penerbit yang Tidak Pernah Menolak

Buka KBM App, atau Wattpad, atau NovelToon, atau GoodNovel, atau salah satu dari selusin platform serupa yang tumbuh dalam ekosistem...

by Andre Syahreza
August 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co