24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dari Flores Mengejar Bayang-Bayang Surga di Pulau Dewata

Robinson Gamar by Robinson Gamar
June 17, 2019
in Esai
Dari Flores Mengejar Bayang-Bayang Surga di Pulau Dewata

Ulun Danu Beratan (Foto: Mursal Buyung)

Sebagai seorang pekerja media saya tentu selalu bergelut dengan peristiwa atau isu yang menjadi perhatian publik. Setelah ramai-ramai urusan pemilihan presiden 2019 kemarin, rutinitas peliputan kemudian secara cepat beralih ke topik Hari Raya Idul Fitri. Sebagaimana di tahun – tahun sebelumnya, urusannya ya itu-itu saja.

Ya soal suasana Ramadhan di Bali yang mayoritas warganya memeluk agama Hindu, menu berbuka, mudik bareng, arus balik sampai soal susahnya mencari pecel lele di saat banyak perantau asal Pulau jawa mudik.

Seperti halnya kaset yang diputar berulang-ulang dari tahun ke tahun, liputan media biasanya diakhir dengan edisi “pamungkas” yaitu gelombang pendatang “baru” yang menyerbu Pulau Dewata. Ini seperti ritual yang ditunggu-tunggu oleh media lokal.

Rasanya kurang afdol kalau tidak mmberitakan razia Satpol PP di pintu-pintu masuk. Entah itu di pelabuhan laut maupun di terminal bus. Namun jarang situasi itu ditemukan di bandara ngurah Rai, Bali. Entah apa sebabnya, atau mungkin saya saja yang tidak mendapat informasi.

Satu per satu tas penumpang diperiksa isinya. Kartu identitas penduduk dicermati. Bahkan sampai berujung pemulangan. Intinya ceritanya ya gitu-gitu aja.

Namun, deretan peristiwa ini sesungguhnya masih menyisakan tanya. Mengapa begitu banyak pendatang yang tergiur datang ke Bali atau kota-kota besar lainnya di Indonesia? Rela meninggalkan kampung halaman untuk mengejar sesuatu yang juga belum pasti? Untuk konteks Bali, beresiko dipulangkan kembali jika tidak mengatongi kartu identitas yang jelas.

Pertanyaan-pertanyaan ini membawa memori saya ke tahun 2001. Saat dimana saya pertama kali menginjakan kaki di Pulau Bali. Pilihan untuk merantau atau tepatnya melanjutkan pendidikan di Bali bukanlah keputusan yang diambil semalam. Ada pertimbangan untung ruginya. Sehingga sampai pada kesimpulan rasa-rasanya enak hidup di Bali..hehehe..

Keputusan untuk ke Bali bermula dari tawaran yang datang saat SMA. Ketika itu sejumlah sekolah negeri di Flores tempat saya berasal membuka jalur khusus PMDK untuk masuk perguruan tinggi Negeri.

Dimana, syaratnya adalah mengirimkan curiculum vitae ke kampus yang dipilih dengan melampirkan nilai akademis. Siswa yang berminat ditawari sejumlah perguruan tinggi negeri, termasuk universitas udayana (UNUD), Bali.

Ketika itu saya memutuskan untuk melamar ke Unud. Petimbangannya tidak semata-mata urusan akademis. Gambaran pulau Bali yang ditangkap melalui media cukup memberi andil. Media televisi selalu menampilkan Bali bagai surga yang mengundang hasrat untuk dikunjungi.

Indahya sunset di Kuta, ragam seni yang menakjubkan, ritual ngaben yang mempesona, sampai hal remeh temeh seperti bisa lihat bule jemuran pakai cawat doang masuk dalam daftar hal-hal yang memotivasi saya memutuskan untuk memilih UNUD; maklum saja, saya kan anak desa, jarang-jarang juga liat tu barang hehehe…

Soal pesona Bali ini tak perlu diragukan lagi. Bukankah wisatawan dari berbagai penjuru dunia juga datang untuk merasakan eksotisme Bali. Investor juga berbondong-bondong berinvestasi di Bali. Jangan salah, pendatang “kelas teri” kaya saya ketika itu ya punya selera ga kalah tinggi juga. Ke Bali gitu lho kaya bule-bule. Walaupu urusannya untuk kuliah.

Dengan kata lain, dalam benak saya saat itu, Bali ya benar-benar pulau surga yang menawarkan banyak kebahagian dan keindahan. Sebuah gambaran yang ternyata juga melekat di kepala kawan seangkatan yang memutuskan melanjutkan studi di Bali.

Pokoknya kaya ga ada susahnya la kalau hidup di Bali. Mau santai ada pantai, mau alcohol ada arak seperti yang dilagukan slank, mau dugem ada di Legian, mau liat artis ah itu mah urusan cenik (gampang). Mau kenikmatan apa lagi ayo, pasti ada solusinya..hehe..

Gambaran-gambaran nikmatnya berlibur ke Bali atau hidup di Bali dimateraikan lewat iklan-iklan pariwisata yang berseliweran. Julukan the last paradise, potongan surga, dan jargon-jargon iklan lainnya seakan makin mempertegas bobot Bali sebagai pulau surga.

Singkat cerita demi sampai ke Bali saya menempuh 48 jam darat sekitar 48 jam dari tanah kelahiran saya, Flores. Tiga kali penyebrangan laut dan dua kali ganti bus. Melintasi pulau Sumbawa, Lombok sebelum sampai di Bali. Naik turunkan barang jadi hal biasa dalam perjalanan. Saya pikir itu pengorbanan yang sepadan la demi mencapai tanah surga tadi..

Singkat cerita, sampailah saya di Terminal Ubung, Bali bersama teman seangkatan. Lalu numpang di kos-kosan kerabat sebelum memasuki dunia kampus. Sebagai orang yang baru meniti karir sebagai “perantau” di sinilah saya harus mulai beradaptasi dengan kenyataan.

Jika di kampung makan tiga kali sehari, maka perut harus mulai dibiasakan cukup dua kali sehari. Itupun ga boleh nambah, kalau ga uang kiriman orang tua bisa jebol dalam waktu singkat. Mau ke mana-mana serba duit karena harus naik angkutan umum. Apalagi mau lihat bule berjemur di Kuta. Pastinya lebih habisin ongkos karena jaraknya cukup jauh tempat saya numpang.

Mau lihat orang tarian ternyata ga bisa seenak udel, kalau lagi tidak ada ada acara adat ya mesti bayar juga. Kena razia kipem jadi menu bulanan. Kalau tidak rutin bayar siap-siap mengikuti kuliah umum di banjar. Status saya sebagai pelajar saat itu tentu cukup banyak membantu meringankan beban administrasi di banjar. Berbeda halnya dengan mereka yang bekerja.

Bayang-bayang mengenai nikmatnya surga mulai pupus sebagian meski tidak semuanya. Realitasnya tidak seindah jargon-jargon iklan pariwisata.

Setidaknya mulai menyadari, hidup di manapun ya sama saja. Tidak ada kebahagian yang jatuh dari langit. Mau nikmat ya ada ongkos yang harus dibayar.

Saya jadi berpikir, bisa jadi pergulatan seperti inilah yang dilalui sekian banyak “pendatang” yang coba mengadu nasib di Bali. Ingin mengubah nasib sembari bisa menikmati pulau surga. Pilihan yang awalnya karena bayang-bayang surga tadi.

Di sisi lain, promosi pariwisata ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi menarik minat wisatawan untuk berkunjung. Sedangkan di sisi lain menarik mereka yang ingin mengadu nasib. Sebagai pekerja media saya sedikit banyak sering mendapat “request” untuk memberitakan yang “baik-baik” soal Bali demi kepentingan pariwisata.

Jadi cukup logis bila orang beramai-ramai datang ke tempat yang kondisinya “baik-baik” saja. Bukankah lumrah jika orang ingin hidup di tanah surga? Gawatnya lagi, objek wisata di daerah lain diberi label Bali baru. Adanya di Sumatera, Jawa hingga Indonesia Timur tapi tetap saja diberi label Bali baru. Katanya biar laku dijual.

Hitung-hitung daripada mengunjungi Bali versi imitasi, kenapa tidak sekalian yang ori. Toh aksesnya lebih mudah dengan ongkos yang lebih murah untuk sampai. Saya pikirnya saatnya kita bercerita secara jujur. Bahwa Bali memiliki ragam daya tarik tentu ya. Tapi jangan abai menyampaikan kenyatan. Bahwa investasi besar-besaran di Bali bak menyiram gula di atas lahan sempit. Semut akan datang dari berbagai penjuru.

Karena itu, ada baiknya razia tidak hanya dilakukan di terminal atau pelabuhan. Perlu pengetatan terhadap investasi agar tidak menumpuk hanya di satu tempat. Ibarat kata, gulanya perlu disebar ke mana-mana biar semutnya tidak numpuk di satu tempat.

Sehingga surga bisa ditemukan di mana-mana. Baik itu di Sumatera, Jawa, NTT, hingga Papua. Minim tidak ada lagi yang terjebak dalam baying-bayang indahya pulau Surga.

Ya udah, segitu aja dulu hehehe… [T]

Tags: balijurnalismejurnalisme wargaPariwisataPulau Dewata
Share109TweetSendShareSend
Previous Post

Yang Baru dan Yang Hilang di Pesta Kesenian Bali 2019

Next Post

Menjadi Dewasa itu Melelahkan dan Lupa Cara Bahagia

Robinson Gamar

Robinson Gamar

Lahir di Flores, NTT, 8 Juli 1982. Tinggal di Sanur, Denpasar. Sehari - hari kerja sebagai kontributor Kompas.com wilayah Bali..

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Menjadi Dewasa itu Melelahkan dan Lupa Cara Bahagia

Menjadi Dewasa itu Melelahkan dan Lupa Cara Bahagia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co