24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dari Flores Mengejar Bayang-Bayang Surga di Pulau Dewata

Robinson Gamar by Robinson Gamar
June 17, 2019
in Esai
Dari Flores Mengejar Bayang-Bayang Surga di Pulau Dewata

Ulun Danu Beratan (Foto: Mursal Buyung)

Sebagai seorang pekerja media saya tentu selalu bergelut dengan peristiwa atau isu yang menjadi perhatian publik. Setelah ramai-ramai urusan pemilihan presiden 2019 kemarin, rutinitas peliputan kemudian secara cepat beralih ke topik Hari Raya Idul Fitri. Sebagaimana di tahun – tahun sebelumnya, urusannya ya itu-itu saja.

Ya soal suasana Ramadhan di Bali yang mayoritas warganya memeluk agama Hindu, menu berbuka, mudik bareng, arus balik sampai soal susahnya mencari pecel lele di saat banyak perantau asal Pulau jawa mudik.

Seperti halnya kaset yang diputar berulang-ulang dari tahun ke tahun, liputan media biasanya diakhir dengan edisi “pamungkas” yaitu gelombang pendatang “baru” yang menyerbu Pulau Dewata. Ini seperti ritual yang ditunggu-tunggu oleh media lokal.

Rasanya kurang afdol kalau tidak mmberitakan razia Satpol PP di pintu-pintu masuk. Entah itu di pelabuhan laut maupun di terminal bus. Namun jarang situasi itu ditemukan di bandara ngurah Rai, Bali. Entah apa sebabnya, atau mungkin saya saja yang tidak mendapat informasi.

Satu per satu tas penumpang diperiksa isinya. Kartu identitas penduduk dicermati. Bahkan sampai berujung pemulangan. Intinya ceritanya ya gitu-gitu aja.

Namun, deretan peristiwa ini sesungguhnya masih menyisakan tanya. Mengapa begitu banyak pendatang yang tergiur datang ke Bali atau kota-kota besar lainnya di Indonesia? Rela meninggalkan kampung halaman untuk mengejar sesuatu yang juga belum pasti? Untuk konteks Bali, beresiko dipulangkan kembali jika tidak mengatongi kartu identitas yang jelas.

Pertanyaan-pertanyaan ini membawa memori saya ke tahun 2001. Saat dimana saya pertama kali menginjakan kaki di Pulau Bali. Pilihan untuk merantau atau tepatnya melanjutkan pendidikan di Bali bukanlah keputusan yang diambil semalam. Ada pertimbangan untung ruginya. Sehingga sampai pada kesimpulan rasa-rasanya enak hidup di Bali..hehehe..

Keputusan untuk ke Bali bermula dari tawaran yang datang saat SMA. Ketika itu sejumlah sekolah negeri di Flores tempat saya berasal membuka jalur khusus PMDK untuk masuk perguruan tinggi Negeri.

Dimana, syaratnya adalah mengirimkan curiculum vitae ke kampus yang dipilih dengan melampirkan nilai akademis. Siswa yang berminat ditawari sejumlah perguruan tinggi negeri, termasuk universitas udayana (UNUD), Bali.

Ketika itu saya memutuskan untuk melamar ke Unud. Petimbangannya tidak semata-mata urusan akademis. Gambaran pulau Bali yang ditangkap melalui media cukup memberi andil. Media televisi selalu menampilkan Bali bagai surga yang mengundang hasrat untuk dikunjungi.

Indahya sunset di Kuta, ragam seni yang menakjubkan, ritual ngaben yang mempesona, sampai hal remeh temeh seperti bisa lihat bule jemuran pakai cawat doang masuk dalam daftar hal-hal yang memotivasi saya memutuskan untuk memilih UNUD; maklum saja, saya kan anak desa, jarang-jarang juga liat tu barang hehehe…

Soal pesona Bali ini tak perlu diragukan lagi. Bukankah wisatawan dari berbagai penjuru dunia juga datang untuk merasakan eksotisme Bali. Investor juga berbondong-bondong berinvestasi di Bali. Jangan salah, pendatang “kelas teri” kaya saya ketika itu ya punya selera ga kalah tinggi juga. Ke Bali gitu lho kaya bule-bule. Walaupu urusannya untuk kuliah.

Dengan kata lain, dalam benak saya saat itu, Bali ya benar-benar pulau surga yang menawarkan banyak kebahagian dan keindahan. Sebuah gambaran yang ternyata juga melekat di kepala kawan seangkatan yang memutuskan melanjutkan studi di Bali.

Pokoknya kaya ga ada susahnya la kalau hidup di Bali. Mau santai ada pantai, mau alcohol ada arak seperti yang dilagukan slank, mau dugem ada di Legian, mau liat artis ah itu mah urusan cenik (gampang). Mau kenikmatan apa lagi ayo, pasti ada solusinya..hehe..

Gambaran-gambaran nikmatnya berlibur ke Bali atau hidup di Bali dimateraikan lewat iklan-iklan pariwisata yang berseliweran. Julukan the last paradise, potongan surga, dan jargon-jargon iklan lainnya seakan makin mempertegas bobot Bali sebagai pulau surga.

Singkat cerita demi sampai ke Bali saya menempuh 48 jam darat sekitar 48 jam dari tanah kelahiran saya, Flores. Tiga kali penyebrangan laut dan dua kali ganti bus. Melintasi pulau Sumbawa, Lombok sebelum sampai di Bali. Naik turunkan barang jadi hal biasa dalam perjalanan. Saya pikir itu pengorbanan yang sepadan la demi mencapai tanah surga tadi..

Singkat cerita, sampailah saya di Terminal Ubung, Bali bersama teman seangkatan. Lalu numpang di kos-kosan kerabat sebelum memasuki dunia kampus. Sebagai orang yang baru meniti karir sebagai “perantau” di sinilah saya harus mulai beradaptasi dengan kenyataan.

Jika di kampung makan tiga kali sehari, maka perut harus mulai dibiasakan cukup dua kali sehari. Itupun ga boleh nambah, kalau ga uang kiriman orang tua bisa jebol dalam waktu singkat. Mau ke mana-mana serba duit karena harus naik angkutan umum. Apalagi mau lihat bule berjemur di Kuta. Pastinya lebih habisin ongkos karena jaraknya cukup jauh tempat saya numpang.

Mau lihat orang tarian ternyata ga bisa seenak udel, kalau lagi tidak ada ada acara adat ya mesti bayar juga. Kena razia kipem jadi menu bulanan. Kalau tidak rutin bayar siap-siap mengikuti kuliah umum di banjar. Status saya sebagai pelajar saat itu tentu cukup banyak membantu meringankan beban administrasi di banjar. Berbeda halnya dengan mereka yang bekerja.

Bayang-bayang mengenai nikmatnya surga mulai pupus sebagian meski tidak semuanya. Realitasnya tidak seindah jargon-jargon iklan pariwisata.

Setidaknya mulai menyadari, hidup di manapun ya sama saja. Tidak ada kebahagian yang jatuh dari langit. Mau nikmat ya ada ongkos yang harus dibayar.

Saya jadi berpikir, bisa jadi pergulatan seperti inilah yang dilalui sekian banyak “pendatang” yang coba mengadu nasib di Bali. Ingin mengubah nasib sembari bisa menikmati pulau surga. Pilihan yang awalnya karena bayang-bayang surga tadi.

Di sisi lain, promosi pariwisata ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi menarik minat wisatawan untuk berkunjung. Sedangkan di sisi lain menarik mereka yang ingin mengadu nasib. Sebagai pekerja media saya sedikit banyak sering mendapat “request” untuk memberitakan yang “baik-baik” soal Bali demi kepentingan pariwisata.

Jadi cukup logis bila orang beramai-ramai datang ke tempat yang kondisinya “baik-baik” saja. Bukankah lumrah jika orang ingin hidup di tanah surga? Gawatnya lagi, objek wisata di daerah lain diberi label Bali baru. Adanya di Sumatera, Jawa hingga Indonesia Timur tapi tetap saja diberi label Bali baru. Katanya biar laku dijual.

Hitung-hitung daripada mengunjungi Bali versi imitasi, kenapa tidak sekalian yang ori. Toh aksesnya lebih mudah dengan ongkos yang lebih murah untuk sampai. Saya pikirnya saatnya kita bercerita secara jujur. Bahwa Bali memiliki ragam daya tarik tentu ya. Tapi jangan abai menyampaikan kenyatan. Bahwa investasi besar-besaran di Bali bak menyiram gula di atas lahan sempit. Semut akan datang dari berbagai penjuru.

Karena itu, ada baiknya razia tidak hanya dilakukan di terminal atau pelabuhan. Perlu pengetatan terhadap investasi agar tidak menumpuk hanya di satu tempat. Ibarat kata, gulanya perlu disebar ke mana-mana biar semutnya tidak numpuk di satu tempat.

Sehingga surga bisa ditemukan di mana-mana. Baik itu di Sumatera, Jawa, NTT, hingga Papua. Minim tidak ada lagi yang terjebak dalam baying-bayang indahya pulau Surga.

Ya udah, segitu aja dulu hehehe… [T]

Tags: balijurnalismejurnalisme wargaPariwisataPulau Dewata
Share109TweetSendShareSend
Previous Post

Yang Baru dan Yang Hilang di Pesta Kesenian Bali 2019

Next Post

Menjadi Dewasa itu Melelahkan dan Lupa Cara Bahagia

Robinson Gamar

Robinson Gamar

Lahir di Flores, NTT, 8 Juli 1982. Tinggal di Sanur, Denpasar. Sehari - hari kerja sebagai kontributor Kompas.com wilayah Bali..

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Menjadi Dewasa itu Melelahkan dan Lupa Cara Bahagia

Menjadi Dewasa itu Melelahkan dan Lupa Cara Bahagia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co