3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dari Flores Mengejar Bayang-Bayang Surga di Pulau Dewata

Robinson Gamar by Robinson Gamar
June 17, 2019
in Esai
Dari Flores Mengejar Bayang-Bayang Surga di Pulau Dewata

Ulun Danu Beratan (Foto: Mursal Buyung)

Sebagai seorang pekerja media saya tentu selalu bergelut dengan peristiwa atau isu yang menjadi perhatian publik. Setelah ramai-ramai urusan pemilihan presiden 2019 kemarin, rutinitas peliputan kemudian secara cepat beralih ke topik Hari Raya Idul Fitri. Sebagaimana di tahun – tahun sebelumnya, urusannya ya itu-itu saja.

Ya soal suasana Ramadhan di Bali yang mayoritas warganya memeluk agama Hindu, menu berbuka, mudik bareng, arus balik sampai soal susahnya mencari pecel lele di saat banyak perantau asal Pulau jawa mudik.

Seperti halnya kaset yang diputar berulang-ulang dari tahun ke tahun, liputan media biasanya diakhir dengan edisi “pamungkas” yaitu gelombang pendatang “baru” yang menyerbu Pulau Dewata. Ini seperti ritual yang ditunggu-tunggu oleh media lokal.

Rasanya kurang afdol kalau tidak mmberitakan razia Satpol PP di pintu-pintu masuk. Entah itu di pelabuhan laut maupun di terminal bus. Namun jarang situasi itu ditemukan di bandara ngurah Rai, Bali. Entah apa sebabnya, atau mungkin saya saja yang tidak mendapat informasi.

Satu per satu tas penumpang diperiksa isinya. Kartu identitas penduduk dicermati. Bahkan sampai berujung pemulangan. Intinya ceritanya ya gitu-gitu aja.

Namun, deretan peristiwa ini sesungguhnya masih menyisakan tanya. Mengapa begitu banyak pendatang yang tergiur datang ke Bali atau kota-kota besar lainnya di Indonesia? Rela meninggalkan kampung halaman untuk mengejar sesuatu yang juga belum pasti? Untuk konteks Bali, beresiko dipulangkan kembali jika tidak mengatongi kartu identitas yang jelas.

Pertanyaan-pertanyaan ini membawa memori saya ke tahun 2001. Saat dimana saya pertama kali menginjakan kaki di Pulau Bali. Pilihan untuk merantau atau tepatnya melanjutkan pendidikan di Bali bukanlah keputusan yang diambil semalam. Ada pertimbangan untung ruginya. Sehingga sampai pada kesimpulan rasa-rasanya enak hidup di Bali..hehehe..

Keputusan untuk ke Bali bermula dari tawaran yang datang saat SMA. Ketika itu sejumlah sekolah negeri di Flores tempat saya berasal membuka jalur khusus PMDK untuk masuk perguruan tinggi Negeri.

Dimana, syaratnya adalah mengirimkan curiculum vitae ke kampus yang dipilih dengan melampirkan nilai akademis. Siswa yang berminat ditawari sejumlah perguruan tinggi negeri, termasuk universitas udayana (UNUD), Bali.

Ketika itu saya memutuskan untuk melamar ke Unud. Petimbangannya tidak semata-mata urusan akademis. Gambaran pulau Bali yang ditangkap melalui media cukup memberi andil. Media televisi selalu menampilkan Bali bagai surga yang mengundang hasrat untuk dikunjungi.

Indahya sunset di Kuta, ragam seni yang menakjubkan, ritual ngaben yang mempesona, sampai hal remeh temeh seperti bisa lihat bule jemuran pakai cawat doang masuk dalam daftar hal-hal yang memotivasi saya memutuskan untuk memilih UNUD; maklum saja, saya kan anak desa, jarang-jarang juga liat tu barang hehehe…

Soal pesona Bali ini tak perlu diragukan lagi. Bukankah wisatawan dari berbagai penjuru dunia juga datang untuk merasakan eksotisme Bali. Investor juga berbondong-bondong berinvestasi di Bali. Jangan salah, pendatang “kelas teri” kaya saya ketika itu ya punya selera ga kalah tinggi juga. Ke Bali gitu lho kaya bule-bule. Walaupu urusannya untuk kuliah.

Dengan kata lain, dalam benak saya saat itu, Bali ya benar-benar pulau surga yang menawarkan banyak kebahagian dan keindahan. Sebuah gambaran yang ternyata juga melekat di kepala kawan seangkatan yang memutuskan melanjutkan studi di Bali.

Pokoknya kaya ga ada susahnya la kalau hidup di Bali. Mau santai ada pantai, mau alcohol ada arak seperti yang dilagukan slank, mau dugem ada di Legian, mau liat artis ah itu mah urusan cenik (gampang). Mau kenikmatan apa lagi ayo, pasti ada solusinya..hehe..

Gambaran-gambaran nikmatnya berlibur ke Bali atau hidup di Bali dimateraikan lewat iklan-iklan pariwisata yang berseliweran. Julukan the last paradise, potongan surga, dan jargon-jargon iklan lainnya seakan makin mempertegas bobot Bali sebagai pulau surga.

Singkat cerita demi sampai ke Bali saya menempuh 48 jam darat sekitar 48 jam dari tanah kelahiran saya, Flores. Tiga kali penyebrangan laut dan dua kali ganti bus. Melintasi pulau Sumbawa, Lombok sebelum sampai di Bali. Naik turunkan barang jadi hal biasa dalam perjalanan. Saya pikir itu pengorbanan yang sepadan la demi mencapai tanah surga tadi..

Singkat cerita, sampailah saya di Terminal Ubung, Bali bersama teman seangkatan. Lalu numpang di kos-kosan kerabat sebelum memasuki dunia kampus. Sebagai orang yang baru meniti karir sebagai “perantau” di sinilah saya harus mulai beradaptasi dengan kenyataan.

Jika di kampung makan tiga kali sehari, maka perut harus mulai dibiasakan cukup dua kali sehari. Itupun ga boleh nambah, kalau ga uang kiriman orang tua bisa jebol dalam waktu singkat. Mau ke mana-mana serba duit karena harus naik angkutan umum. Apalagi mau lihat bule berjemur di Kuta. Pastinya lebih habisin ongkos karena jaraknya cukup jauh tempat saya numpang.

Mau lihat orang tarian ternyata ga bisa seenak udel, kalau lagi tidak ada ada acara adat ya mesti bayar juga. Kena razia kipem jadi menu bulanan. Kalau tidak rutin bayar siap-siap mengikuti kuliah umum di banjar. Status saya sebagai pelajar saat itu tentu cukup banyak membantu meringankan beban administrasi di banjar. Berbeda halnya dengan mereka yang bekerja.

Bayang-bayang mengenai nikmatnya surga mulai pupus sebagian meski tidak semuanya. Realitasnya tidak seindah jargon-jargon iklan pariwisata.

Setidaknya mulai menyadari, hidup di manapun ya sama saja. Tidak ada kebahagian yang jatuh dari langit. Mau nikmat ya ada ongkos yang harus dibayar.

Saya jadi berpikir, bisa jadi pergulatan seperti inilah yang dilalui sekian banyak “pendatang” yang coba mengadu nasib di Bali. Ingin mengubah nasib sembari bisa menikmati pulau surga. Pilihan yang awalnya karena bayang-bayang surga tadi.

Di sisi lain, promosi pariwisata ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi menarik minat wisatawan untuk berkunjung. Sedangkan di sisi lain menarik mereka yang ingin mengadu nasib. Sebagai pekerja media saya sedikit banyak sering mendapat “request” untuk memberitakan yang “baik-baik” soal Bali demi kepentingan pariwisata.

Jadi cukup logis bila orang beramai-ramai datang ke tempat yang kondisinya “baik-baik” saja. Bukankah lumrah jika orang ingin hidup di tanah surga? Gawatnya lagi, objek wisata di daerah lain diberi label Bali baru. Adanya di Sumatera, Jawa hingga Indonesia Timur tapi tetap saja diberi label Bali baru. Katanya biar laku dijual.

Hitung-hitung daripada mengunjungi Bali versi imitasi, kenapa tidak sekalian yang ori. Toh aksesnya lebih mudah dengan ongkos yang lebih murah untuk sampai. Saya pikirnya saatnya kita bercerita secara jujur. Bahwa Bali memiliki ragam daya tarik tentu ya. Tapi jangan abai menyampaikan kenyatan. Bahwa investasi besar-besaran di Bali bak menyiram gula di atas lahan sempit. Semut akan datang dari berbagai penjuru.

Karena itu, ada baiknya razia tidak hanya dilakukan di terminal atau pelabuhan. Perlu pengetatan terhadap investasi agar tidak menumpuk hanya di satu tempat. Ibarat kata, gulanya perlu disebar ke mana-mana biar semutnya tidak numpuk di satu tempat.

Sehingga surga bisa ditemukan di mana-mana. Baik itu di Sumatera, Jawa, NTT, hingga Papua. Minim tidak ada lagi yang terjebak dalam baying-bayang indahya pulau Surga.

Ya udah, segitu aja dulu hehehe… [T]

Tags: balijurnalismejurnalisme wargaPariwisataPulau Dewata
Share109TweetSendShareSend
Previous Post

Yang Baru dan Yang Hilang di Pesta Kesenian Bali 2019

Next Post

Menjadi Dewasa itu Melelahkan dan Lupa Cara Bahagia

Robinson Gamar

Robinson Gamar

Lahir di Flores, NTT, 8 Juli 1982. Tinggal di Sanur, Denpasar. Sehari - hari kerja sebagai kontributor Kompas.com wilayah Bali..

Related Posts

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails
Next Post
Menjadi Dewasa itu Melelahkan dan Lupa Cara Bahagia

Menjadi Dewasa itu Melelahkan dan Lupa Cara Bahagia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co