3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menjadi Dewasa itu Melelahkan dan Lupa Cara Bahagia

Widi Hermawan by Widi Hermawan
June 17, 2019
in Esai
Menjadi Dewasa itu Melelahkan dan Lupa Cara Bahagia

Foto ilustrasi: Mursal Buyung

Menjadi dewasa ternyata tidak sebercanda itu. Menjadi dewasa itu melelahkan.

Lahir di penghujung tahun 1996 membuat usia saya kini hampir menginjak angka 23. Di sebuah warung kopi kecil sepi di pinggiran Kota Solo, tetiba lamunan membawa saya yang saat itu tengah duduk sendiri ke masa belasan tahun silam ketika saya masih berseragam merah putih.

Semasa masih SD, saya sering membayangkan betapa menyenangkannya menjadi orang dewasa. Dalam pikiran saya kala itu, orang dewasa adalah orang yang merdeka. Dia berhak atas semua hal tentangnya, dia berhak atas segala keputusan tentang hidupnya.

Betapa bahagia dan menyenangkannya menjadi orang dewasa yang punya uang sendiri, bebas pulang malam, boleh merokok, boleh pacaran, dan boleh mengumpat dengan kata-kata kasar. Sebab sejak kecil, karena hidup di desa membuat norma-norma yang berlaku di keluarga saya begitu tradisional dan cenderung naif.

Saya hampir tidak pernah bermain lebih jauh dari lingkup RT, meski saya adalah anak laki-laki. Saya kerap tidak bisa masuk rumah, karena ketika azan Maghrib berkumandang saya masih asyik bermain di lapangan kampung.

Saya pernah menjadi bulan-bulanan ibu dan kakek saya karena nilai harian matematika saya hanya 60, alih-alih seratus. Meski sangat jarang bahkan hampir tidak pernah melakukan kekerasan fisik, namun kata-kata mereka begitu pedas untuk anak seusia saya kala itu.

Saya pernah tak mendapat jatah makan malam, karena kedapatan mengumpat “Asu” oleh ibu saya. Ya, saat itu saya memang sedang gencar-gencarnya mencari jati diri. Karena teman bermain saya kebanyakan jauh lebih tua dari saya, sedikit banyak saya terbawa kultur mereka.

Merokok adalah hal tabu dalam pikiran saya saat itu, meski bapak saya adalah perokok yang sangat aktif. Di tengah rasa penasaran yang sangat tinggi, saya mengubur dalam-dalam keinginan untuk merokok. Stigma yang dibangun saat itu, puncak kenakalan seorang anak adalah merokok. Dan saya tidak mau dicap sebagai anak nakal.

Saya belum mengenal istilah alkohol, arak, tuak, ciu, ganja, ngomik, ngelem, narkoba, apa lagi hamil di luar nikah. Ya, seperti itulah kultur yang dibangun di dalam keluarga, juga kampung saya. Meski saat itu masih menjadi anak tunggal (saya memiliki adik ketika usia 12 tahun), saya sama sekali tidak berani meminta apapun yang berupa materi kepada orangtua. Jauh berbeda dengan anak-anak sekarang, apa lagi anak tunggal yang terkenal begitu dimanjakan dan dipenuhi semua permintaannya.

Bukan karena orangtua tidak mampu, tapi karena saya benar-benar takut permintaan saya akan membebani mereka. Apabila saya menginginkan sesuatu, saya lebih memilih menabung selama berbulan-bulan, memotong uang saku yang tidak seberapa supaya barang tersebut bisa saya beli daripada harus meminta ke orangtua.

Bahkan untuk urusan uang saku pun saya tidak berani meminta. Karena saking sibuknya, ibu kerap lupa memberi uang saku, sehingga siang hari saya hanya menghabiskan waktu di dalam kelas saat istirahat sembari pura-pura sibuk membaca buku atau mengerjakan tugas. Sebab di luar kelas hampir semua anak tengah menikmati jajan mereka masing-masing.

Pernah ketika saya baru saja disunat (bagi anak laki-laki, sunat atau khiran merupakan hajatan terbesar baginya sebelum mengenal pernikahan) saya ditanya, “mau minta apa?” sebagai hadiah karena saya sudah berani disunat. Ketika anak-anak seusia saya kebanyakan meminta handphone, sepeda baru, atau sepeda motor setelah sunatan, saya justru meminta bola. Ya, bola, yang bentuknya bulat dan ditendang-tendang itu.

Naif? Betul! Kendati demikian, saya termasuk anak yang beruntung karena orangtua saya, khususnya ibu merupakan orang yang sangat pengertian. Mereka akan membelikan kebutuhan saya seperti sepatu, tas, baju, buku, dan sebagainya tanpa saya harus meminta dulu.

Dari kultur yang terbangun sejak kecil seperti itu, membuat saya membayangkan, betapa bahagianya menjadi orang dewasa yang bisa mencari uang sendiri dan bisa membeli apapun yang dia inginkan.

Dari kultur itu juga, selama bertahun-tahun, saya hidup menjadi anak rumahan, bahkan saat saya sudah duduk di bangku STM. Meski menjadi anak STM, saya tidak akrab dengan tawuran pelajar seperti yang banyak dikisahkan oleh banyak orang. Saya bahkan lebih sering nongkrong di masjid agung bersama beberapa teman yang jumlahnya tak seberapa. Beruntung, saat itu belum menjamur kajian-kajian radikal dan tren hijrah ngehe seperti sekarang.

Pandangan saya terkait norma-norma kehidupan di atas perlahan mulai bergeser, bahkan berbalik ketika saya mulai kuliah di Yogyakarta. Mungkin hal ini tidak akan pernah terjadi jika saya tidak tersesat di pers mahasiswa dan kebanyakan bergaul dengan anak mapala.

Saya yang sejak kecil tak pernah suka membaca buku, kecuali buku pelajaran, akhirnya dipaksa membaca berbagai buku yang penulisnya benar-benar asing di telinga saya. Di mulai dari Pramoedya, kemudian naik membaca tulisan-tulisan Soe Hok Gie, Tan Malaka, Mahatma Gandhi, Lenin, Karl Marx, Neitzsche, Sigmund Freud, dan tokoh-tokoh lain yang benar-benar tidak pernah saya dengar sebelumnya.

Saya mulai terbiasa dengan umpatan demi umpatan, dengan teman-teman sekitar saya yang kebanyakan merokok, minum-minuman keras, dan sebagainya yang akhirnya membuat saya sadar, saya sudah mulai dewasa. Masa kuliah seperti membalik hidup saya 180 derajat.

Memasuki tahun kedua kuliah saya mulaijarang pulang kos. Saya lebih banyak menghabiskan waktu dan bermalam di kampus, atau diskusi dari hal-hal remeh temeh sampai ke tema-tema yang membuat pikiran terkuras di warung-warung kopi sampai subuh. Bahkan tidak jarang saya tidak pulang ke kos selama berhari-hari.

Saat itu saya seperti merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya, diskusi dengan teman-teman di warung kopi, angkringan, atau manapun sampai tubuh benar-benar tak kuat lagi mengikuti kemauan otak.

Tapi ternyata itu bukan kebahagiaan yang kekal, karena menginjak semester tua, satu per satu teman mulai lulus, teman ngopi berkurang, dan kebanyakan teman diskusi saya sudah berganti menjadi adik tingkat saya. Teman-teman saya mulai fokus menata masa depan, menghadapi sebuah fase kehidupan baru yang kata banyak orang adalah “hidup yang sesungguhnya, real life”.

Hingga akhirnya giliran saya yang harus meninggalkan romantisme dunia perkuliahan. Saya kini harus memasuki fase baru seperti yang telah dihadapi teman-teman yang lain. Dan saya sadar, saya semakin dewasa!

Pasca lulus sejak November 2018 silam, beberapa kali saya sudah menjajal beberapa profesi. Mulai dari mengajar di STM, menjadi content writer, menjadi penulis lepas di beberapa media, wartawan lapangan, sampai wartawan kantoran sudah saya jajal, di tengah derasnya desakan untuk menjadi PNS dari keluarga besar.

Lima tahun tinggal di Yogyakarta memang telah mengubah pandangan saya terhadap PNS, dan akhirnya saya memutuskan PNS adalah jalan terakhir kehidupan saya. Memasuki dunia kerja membuat saya merasa semakin dewasa, juga tua. Pikiran saya tentang indahnya menjadi orang dewasa ketika masa SD dulu terbantahkan dengan sendirinya seiring realita yang saya hadapi.

Pulang malam bagi orang dewasa ternyata bukan karena keinginannya untuk bersenang-senang, melainkan tuntutan pekerjaan agar dia bisa tetap makan. Merokok ternyata bukan keinginan orang dewasa, melainkan kebutuhan, karena menjadi dewasa itu berat, dan nikotin adalah pelipur yang tepat. Umpatan yang kerap dilontarkan orang dewasa ternyata juga bukan untuk gaya-gaya-an, tapi memang mereka butuh melakukan itu supaya rasa dongkol di dalam hati terhadap kehidupan sedikit berkurang.

Menjadi orang dewasa memang sudah bisa mencari uang. Tapi kebutuhan orang dewasa bukan hanya mobil-mobilan, bola plastik, sepeda, kaos AHHA, atau smartphone keluaran terbaru supaya bisa main Mobile Legend bersama teman-teman. Pacaran? Ah, pikirkan dulu caranya membahagiakan orangtua dan menyekolahkan adik-adik.

Hingga akhirnya saya mafhum, bahwa menjadi dewasa ternyata tidak sebercanda itu. Menjadi dewasa itu melelahkan. Maka tidak heran ketika banyak orang-orang tua sekarang justru bertingkah kekanak-kanakan.

Satu lagi alasan kenapa menjadi dewasa itu melelahkan, yaitu harus merasakan jatuh cinta dankemudian patah hati. [T]

Tags: anak-anakdewasagaya hidupkemanusiaan
Share36TweetSendShareSend
Previous Post

Dari Flores Mengejar Bayang-Bayang Surga di Pulau Dewata

Next Post

Bendo Gerit & Kebebasan Soekarno

Widi Hermawan

Widi Hermawan

Jurnalis, tinggal di Solo, Jawa Tengah

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Bendo Gerit & Kebebasan Soekarno

Bendo Gerit & Kebebasan Soekarno

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co