12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menjadi Dewasa itu Melelahkan dan Lupa Cara Bahagia

Widi Hermawan by Widi Hermawan
June 17, 2019
in Esai
Menjadi Dewasa itu Melelahkan dan Lupa Cara Bahagia

Foto ilustrasi: Mursal Buyung

Menjadi dewasa ternyata tidak sebercanda itu. Menjadi dewasa itu melelahkan.

Lahir di penghujung tahun 1996 membuat usia saya kini hampir menginjak angka 23. Di sebuah warung kopi kecil sepi di pinggiran Kota Solo, tetiba lamunan membawa saya yang saat itu tengah duduk sendiri ke masa belasan tahun silam ketika saya masih berseragam merah putih.

Semasa masih SD, saya sering membayangkan betapa menyenangkannya menjadi orang dewasa. Dalam pikiran saya kala itu, orang dewasa adalah orang yang merdeka. Dia berhak atas semua hal tentangnya, dia berhak atas segala keputusan tentang hidupnya.

Betapa bahagia dan menyenangkannya menjadi orang dewasa yang punya uang sendiri, bebas pulang malam, boleh merokok, boleh pacaran, dan boleh mengumpat dengan kata-kata kasar. Sebab sejak kecil, karena hidup di desa membuat norma-norma yang berlaku di keluarga saya begitu tradisional dan cenderung naif.

Saya hampir tidak pernah bermain lebih jauh dari lingkup RT, meski saya adalah anak laki-laki. Saya kerap tidak bisa masuk rumah, karena ketika azan Maghrib berkumandang saya masih asyik bermain di lapangan kampung.

Saya pernah menjadi bulan-bulanan ibu dan kakek saya karena nilai harian matematika saya hanya 60, alih-alih seratus. Meski sangat jarang bahkan hampir tidak pernah melakukan kekerasan fisik, namun kata-kata mereka begitu pedas untuk anak seusia saya kala itu.

Saya pernah tak mendapat jatah makan malam, karena kedapatan mengumpat “Asu” oleh ibu saya. Ya, saat itu saya memang sedang gencar-gencarnya mencari jati diri. Karena teman bermain saya kebanyakan jauh lebih tua dari saya, sedikit banyak saya terbawa kultur mereka.

Merokok adalah hal tabu dalam pikiran saya saat itu, meski bapak saya adalah perokok yang sangat aktif. Di tengah rasa penasaran yang sangat tinggi, saya mengubur dalam-dalam keinginan untuk merokok. Stigma yang dibangun saat itu, puncak kenakalan seorang anak adalah merokok. Dan saya tidak mau dicap sebagai anak nakal.

Saya belum mengenal istilah alkohol, arak, tuak, ciu, ganja, ngomik, ngelem, narkoba, apa lagi hamil di luar nikah. Ya, seperti itulah kultur yang dibangun di dalam keluarga, juga kampung saya. Meski saat itu masih menjadi anak tunggal (saya memiliki adik ketika usia 12 tahun), saya sama sekali tidak berani meminta apapun yang berupa materi kepada orangtua. Jauh berbeda dengan anak-anak sekarang, apa lagi anak tunggal yang terkenal begitu dimanjakan dan dipenuhi semua permintaannya.

Bukan karena orangtua tidak mampu, tapi karena saya benar-benar takut permintaan saya akan membebani mereka. Apabila saya menginginkan sesuatu, saya lebih memilih menabung selama berbulan-bulan, memotong uang saku yang tidak seberapa supaya barang tersebut bisa saya beli daripada harus meminta ke orangtua.

Bahkan untuk urusan uang saku pun saya tidak berani meminta. Karena saking sibuknya, ibu kerap lupa memberi uang saku, sehingga siang hari saya hanya menghabiskan waktu di dalam kelas saat istirahat sembari pura-pura sibuk membaca buku atau mengerjakan tugas. Sebab di luar kelas hampir semua anak tengah menikmati jajan mereka masing-masing.

Pernah ketika saya baru saja disunat (bagi anak laki-laki, sunat atau khiran merupakan hajatan terbesar baginya sebelum mengenal pernikahan) saya ditanya, “mau minta apa?” sebagai hadiah karena saya sudah berani disunat. Ketika anak-anak seusia saya kebanyakan meminta handphone, sepeda baru, atau sepeda motor setelah sunatan, saya justru meminta bola. Ya, bola, yang bentuknya bulat dan ditendang-tendang itu.

Naif? Betul! Kendati demikian, saya termasuk anak yang beruntung karena orangtua saya, khususnya ibu merupakan orang yang sangat pengertian. Mereka akan membelikan kebutuhan saya seperti sepatu, tas, baju, buku, dan sebagainya tanpa saya harus meminta dulu.

Dari kultur yang terbangun sejak kecil seperti itu, membuat saya membayangkan, betapa bahagianya menjadi orang dewasa yang bisa mencari uang sendiri dan bisa membeli apapun yang dia inginkan.

Dari kultur itu juga, selama bertahun-tahun, saya hidup menjadi anak rumahan, bahkan saat saya sudah duduk di bangku STM. Meski menjadi anak STM, saya tidak akrab dengan tawuran pelajar seperti yang banyak dikisahkan oleh banyak orang. Saya bahkan lebih sering nongkrong di masjid agung bersama beberapa teman yang jumlahnya tak seberapa. Beruntung, saat itu belum menjamur kajian-kajian radikal dan tren hijrah ngehe seperti sekarang.

Pandangan saya terkait norma-norma kehidupan di atas perlahan mulai bergeser, bahkan berbalik ketika saya mulai kuliah di Yogyakarta. Mungkin hal ini tidak akan pernah terjadi jika saya tidak tersesat di pers mahasiswa dan kebanyakan bergaul dengan anak mapala.

Saya yang sejak kecil tak pernah suka membaca buku, kecuali buku pelajaran, akhirnya dipaksa membaca berbagai buku yang penulisnya benar-benar asing di telinga saya. Di mulai dari Pramoedya, kemudian naik membaca tulisan-tulisan Soe Hok Gie, Tan Malaka, Mahatma Gandhi, Lenin, Karl Marx, Neitzsche, Sigmund Freud, dan tokoh-tokoh lain yang benar-benar tidak pernah saya dengar sebelumnya.

Saya mulai terbiasa dengan umpatan demi umpatan, dengan teman-teman sekitar saya yang kebanyakan merokok, minum-minuman keras, dan sebagainya yang akhirnya membuat saya sadar, saya sudah mulai dewasa. Masa kuliah seperti membalik hidup saya 180 derajat.

Memasuki tahun kedua kuliah saya mulaijarang pulang kos. Saya lebih banyak menghabiskan waktu dan bermalam di kampus, atau diskusi dari hal-hal remeh temeh sampai ke tema-tema yang membuat pikiran terkuras di warung-warung kopi sampai subuh. Bahkan tidak jarang saya tidak pulang ke kos selama berhari-hari.

Saat itu saya seperti merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya, diskusi dengan teman-teman di warung kopi, angkringan, atau manapun sampai tubuh benar-benar tak kuat lagi mengikuti kemauan otak.

Tapi ternyata itu bukan kebahagiaan yang kekal, karena menginjak semester tua, satu per satu teman mulai lulus, teman ngopi berkurang, dan kebanyakan teman diskusi saya sudah berganti menjadi adik tingkat saya. Teman-teman saya mulai fokus menata masa depan, menghadapi sebuah fase kehidupan baru yang kata banyak orang adalah “hidup yang sesungguhnya, real life”.

Hingga akhirnya giliran saya yang harus meninggalkan romantisme dunia perkuliahan. Saya kini harus memasuki fase baru seperti yang telah dihadapi teman-teman yang lain. Dan saya sadar, saya semakin dewasa!

Pasca lulus sejak November 2018 silam, beberapa kali saya sudah menjajal beberapa profesi. Mulai dari mengajar di STM, menjadi content writer, menjadi penulis lepas di beberapa media, wartawan lapangan, sampai wartawan kantoran sudah saya jajal, di tengah derasnya desakan untuk menjadi PNS dari keluarga besar.

Lima tahun tinggal di Yogyakarta memang telah mengubah pandangan saya terhadap PNS, dan akhirnya saya memutuskan PNS adalah jalan terakhir kehidupan saya. Memasuki dunia kerja membuat saya merasa semakin dewasa, juga tua. Pikiran saya tentang indahnya menjadi orang dewasa ketika masa SD dulu terbantahkan dengan sendirinya seiring realita yang saya hadapi.

Pulang malam bagi orang dewasa ternyata bukan karena keinginannya untuk bersenang-senang, melainkan tuntutan pekerjaan agar dia bisa tetap makan. Merokok ternyata bukan keinginan orang dewasa, melainkan kebutuhan, karena menjadi dewasa itu berat, dan nikotin adalah pelipur yang tepat. Umpatan yang kerap dilontarkan orang dewasa ternyata juga bukan untuk gaya-gaya-an, tapi memang mereka butuh melakukan itu supaya rasa dongkol di dalam hati terhadap kehidupan sedikit berkurang.

Menjadi orang dewasa memang sudah bisa mencari uang. Tapi kebutuhan orang dewasa bukan hanya mobil-mobilan, bola plastik, sepeda, kaos AHHA, atau smartphone keluaran terbaru supaya bisa main Mobile Legend bersama teman-teman. Pacaran? Ah, pikirkan dulu caranya membahagiakan orangtua dan menyekolahkan adik-adik.

Hingga akhirnya saya mafhum, bahwa menjadi dewasa ternyata tidak sebercanda itu. Menjadi dewasa itu melelahkan. Maka tidak heran ketika banyak orang-orang tua sekarang justru bertingkah kekanak-kanakan.

Satu lagi alasan kenapa menjadi dewasa itu melelahkan, yaitu harus merasakan jatuh cinta dankemudian patah hati. [T]

Tags: anak-anakdewasagaya hidupkemanusiaan
Share36TweetSendShareSend
Previous Post

Dari Flores Mengejar Bayang-Bayang Surga di Pulau Dewata

Next Post

Bendo Gerit & Kebebasan Soekarno

Widi Hermawan

Widi Hermawan

Jurnalis, tinggal di Solo, Jawa Tengah

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post
Bendo Gerit & Kebebasan Soekarno

Bendo Gerit & Kebebasan Soekarno

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co