24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menjadi Dewasa itu Melelahkan dan Lupa Cara Bahagia

Widi Hermawan by Widi Hermawan
June 17, 2019
in Esai
Menjadi Dewasa itu Melelahkan dan Lupa Cara Bahagia

Foto ilustrasi: Mursal Buyung

Menjadi dewasa ternyata tidak sebercanda itu. Menjadi dewasa itu melelahkan.

Lahir di penghujung tahun 1996 membuat usia saya kini hampir menginjak angka 23. Di sebuah warung kopi kecil sepi di pinggiran Kota Solo, tetiba lamunan membawa saya yang saat itu tengah duduk sendiri ke masa belasan tahun silam ketika saya masih berseragam merah putih.

Semasa masih SD, saya sering membayangkan betapa menyenangkannya menjadi orang dewasa. Dalam pikiran saya kala itu, orang dewasa adalah orang yang merdeka. Dia berhak atas semua hal tentangnya, dia berhak atas segala keputusan tentang hidupnya.

Betapa bahagia dan menyenangkannya menjadi orang dewasa yang punya uang sendiri, bebas pulang malam, boleh merokok, boleh pacaran, dan boleh mengumpat dengan kata-kata kasar. Sebab sejak kecil, karena hidup di desa membuat norma-norma yang berlaku di keluarga saya begitu tradisional dan cenderung naif.

Saya hampir tidak pernah bermain lebih jauh dari lingkup RT, meski saya adalah anak laki-laki. Saya kerap tidak bisa masuk rumah, karena ketika azan Maghrib berkumandang saya masih asyik bermain di lapangan kampung.

Saya pernah menjadi bulan-bulanan ibu dan kakek saya karena nilai harian matematika saya hanya 60, alih-alih seratus. Meski sangat jarang bahkan hampir tidak pernah melakukan kekerasan fisik, namun kata-kata mereka begitu pedas untuk anak seusia saya kala itu.

Saya pernah tak mendapat jatah makan malam, karena kedapatan mengumpat “Asu” oleh ibu saya. Ya, saat itu saya memang sedang gencar-gencarnya mencari jati diri. Karena teman bermain saya kebanyakan jauh lebih tua dari saya, sedikit banyak saya terbawa kultur mereka.

Merokok adalah hal tabu dalam pikiran saya saat itu, meski bapak saya adalah perokok yang sangat aktif. Di tengah rasa penasaran yang sangat tinggi, saya mengubur dalam-dalam keinginan untuk merokok. Stigma yang dibangun saat itu, puncak kenakalan seorang anak adalah merokok. Dan saya tidak mau dicap sebagai anak nakal.

Saya belum mengenal istilah alkohol, arak, tuak, ciu, ganja, ngomik, ngelem, narkoba, apa lagi hamil di luar nikah. Ya, seperti itulah kultur yang dibangun di dalam keluarga, juga kampung saya. Meski saat itu masih menjadi anak tunggal (saya memiliki adik ketika usia 12 tahun), saya sama sekali tidak berani meminta apapun yang berupa materi kepada orangtua. Jauh berbeda dengan anak-anak sekarang, apa lagi anak tunggal yang terkenal begitu dimanjakan dan dipenuhi semua permintaannya.

Bukan karena orangtua tidak mampu, tapi karena saya benar-benar takut permintaan saya akan membebani mereka. Apabila saya menginginkan sesuatu, saya lebih memilih menabung selama berbulan-bulan, memotong uang saku yang tidak seberapa supaya barang tersebut bisa saya beli daripada harus meminta ke orangtua.

Bahkan untuk urusan uang saku pun saya tidak berani meminta. Karena saking sibuknya, ibu kerap lupa memberi uang saku, sehingga siang hari saya hanya menghabiskan waktu di dalam kelas saat istirahat sembari pura-pura sibuk membaca buku atau mengerjakan tugas. Sebab di luar kelas hampir semua anak tengah menikmati jajan mereka masing-masing.

Pernah ketika saya baru saja disunat (bagi anak laki-laki, sunat atau khiran merupakan hajatan terbesar baginya sebelum mengenal pernikahan) saya ditanya, “mau minta apa?” sebagai hadiah karena saya sudah berani disunat. Ketika anak-anak seusia saya kebanyakan meminta handphone, sepeda baru, atau sepeda motor setelah sunatan, saya justru meminta bola. Ya, bola, yang bentuknya bulat dan ditendang-tendang itu.

Naif? Betul! Kendati demikian, saya termasuk anak yang beruntung karena orangtua saya, khususnya ibu merupakan orang yang sangat pengertian. Mereka akan membelikan kebutuhan saya seperti sepatu, tas, baju, buku, dan sebagainya tanpa saya harus meminta dulu.

Dari kultur yang terbangun sejak kecil seperti itu, membuat saya membayangkan, betapa bahagianya menjadi orang dewasa yang bisa mencari uang sendiri dan bisa membeli apapun yang dia inginkan.

Dari kultur itu juga, selama bertahun-tahun, saya hidup menjadi anak rumahan, bahkan saat saya sudah duduk di bangku STM. Meski menjadi anak STM, saya tidak akrab dengan tawuran pelajar seperti yang banyak dikisahkan oleh banyak orang. Saya bahkan lebih sering nongkrong di masjid agung bersama beberapa teman yang jumlahnya tak seberapa. Beruntung, saat itu belum menjamur kajian-kajian radikal dan tren hijrah ngehe seperti sekarang.

Pandangan saya terkait norma-norma kehidupan di atas perlahan mulai bergeser, bahkan berbalik ketika saya mulai kuliah di Yogyakarta. Mungkin hal ini tidak akan pernah terjadi jika saya tidak tersesat di pers mahasiswa dan kebanyakan bergaul dengan anak mapala.

Saya yang sejak kecil tak pernah suka membaca buku, kecuali buku pelajaran, akhirnya dipaksa membaca berbagai buku yang penulisnya benar-benar asing di telinga saya. Di mulai dari Pramoedya, kemudian naik membaca tulisan-tulisan Soe Hok Gie, Tan Malaka, Mahatma Gandhi, Lenin, Karl Marx, Neitzsche, Sigmund Freud, dan tokoh-tokoh lain yang benar-benar tidak pernah saya dengar sebelumnya.

Saya mulai terbiasa dengan umpatan demi umpatan, dengan teman-teman sekitar saya yang kebanyakan merokok, minum-minuman keras, dan sebagainya yang akhirnya membuat saya sadar, saya sudah mulai dewasa. Masa kuliah seperti membalik hidup saya 180 derajat.

Memasuki tahun kedua kuliah saya mulaijarang pulang kos. Saya lebih banyak menghabiskan waktu dan bermalam di kampus, atau diskusi dari hal-hal remeh temeh sampai ke tema-tema yang membuat pikiran terkuras di warung-warung kopi sampai subuh. Bahkan tidak jarang saya tidak pulang ke kos selama berhari-hari.

Saat itu saya seperti merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya, diskusi dengan teman-teman di warung kopi, angkringan, atau manapun sampai tubuh benar-benar tak kuat lagi mengikuti kemauan otak.

Tapi ternyata itu bukan kebahagiaan yang kekal, karena menginjak semester tua, satu per satu teman mulai lulus, teman ngopi berkurang, dan kebanyakan teman diskusi saya sudah berganti menjadi adik tingkat saya. Teman-teman saya mulai fokus menata masa depan, menghadapi sebuah fase kehidupan baru yang kata banyak orang adalah “hidup yang sesungguhnya, real life”.

Hingga akhirnya giliran saya yang harus meninggalkan romantisme dunia perkuliahan. Saya kini harus memasuki fase baru seperti yang telah dihadapi teman-teman yang lain. Dan saya sadar, saya semakin dewasa!

Pasca lulus sejak November 2018 silam, beberapa kali saya sudah menjajal beberapa profesi. Mulai dari mengajar di STM, menjadi content writer, menjadi penulis lepas di beberapa media, wartawan lapangan, sampai wartawan kantoran sudah saya jajal, di tengah derasnya desakan untuk menjadi PNS dari keluarga besar.

Lima tahun tinggal di Yogyakarta memang telah mengubah pandangan saya terhadap PNS, dan akhirnya saya memutuskan PNS adalah jalan terakhir kehidupan saya. Memasuki dunia kerja membuat saya merasa semakin dewasa, juga tua. Pikiran saya tentang indahnya menjadi orang dewasa ketika masa SD dulu terbantahkan dengan sendirinya seiring realita yang saya hadapi.

Pulang malam bagi orang dewasa ternyata bukan karena keinginannya untuk bersenang-senang, melainkan tuntutan pekerjaan agar dia bisa tetap makan. Merokok ternyata bukan keinginan orang dewasa, melainkan kebutuhan, karena menjadi dewasa itu berat, dan nikotin adalah pelipur yang tepat. Umpatan yang kerap dilontarkan orang dewasa ternyata juga bukan untuk gaya-gaya-an, tapi memang mereka butuh melakukan itu supaya rasa dongkol di dalam hati terhadap kehidupan sedikit berkurang.

Menjadi orang dewasa memang sudah bisa mencari uang. Tapi kebutuhan orang dewasa bukan hanya mobil-mobilan, bola plastik, sepeda, kaos AHHA, atau smartphone keluaran terbaru supaya bisa main Mobile Legend bersama teman-teman. Pacaran? Ah, pikirkan dulu caranya membahagiakan orangtua dan menyekolahkan adik-adik.

Hingga akhirnya saya mafhum, bahwa menjadi dewasa ternyata tidak sebercanda itu. Menjadi dewasa itu melelahkan. Maka tidak heran ketika banyak orang-orang tua sekarang justru bertingkah kekanak-kanakan.

Satu lagi alasan kenapa menjadi dewasa itu melelahkan, yaitu harus merasakan jatuh cinta dankemudian patah hati. [T]

Tags: anak-anakdewasagaya hidupkemanusiaan
Share36TweetSendShareSend
Previous Post

Dari Flores Mengejar Bayang-Bayang Surga di Pulau Dewata

Next Post

Bendo Gerit & Kebebasan Soekarno

Widi Hermawan

Widi Hermawan

Jurnalis, tinggal di Solo, Jawa Tengah

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Bendo Gerit & Kebebasan Soekarno

Bendo Gerit & Kebebasan Soekarno

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co