13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menjadi Dewasa itu Melelahkan dan Lupa Cara Bahagia

Widi Hermawan by Widi Hermawan
June 17, 2019
in Esai
Menjadi Dewasa itu Melelahkan dan Lupa Cara Bahagia

Foto ilustrasi: Mursal Buyung

Menjadi dewasa ternyata tidak sebercanda itu. Menjadi dewasa itu melelahkan.

Lahir di penghujung tahun 1996 membuat usia saya kini hampir menginjak angka 23. Di sebuah warung kopi kecil sepi di pinggiran Kota Solo, tetiba lamunan membawa saya yang saat itu tengah duduk sendiri ke masa belasan tahun silam ketika saya masih berseragam merah putih.

Semasa masih SD, saya sering membayangkan betapa menyenangkannya menjadi orang dewasa. Dalam pikiran saya kala itu, orang dewasa adalah orang yang merdeka. Dia berhak atas semua hal tentangnya, dia berhak atas segala keputusan tentang hidupnya.

Betapa bahagia dan menyenangkannya menjadi orang dewasa yang punya uang sendiri, bebas pulang malam, boleh merokok, boleh pacaran, dan boleh mengumpat dengan kata-kata kasar. Sebab sejak kecil, karena hidup di desa membuat norma-norma yang berlaku di keluarga saya begitu tradisional dan cenderung naif.

Saya hampir tidak pernah bermain lebih jauh dari lingkup RT, meski saya adalah anak laki-laki. Saya kerap tidak bisa masuk rumah, karena ketika azan Maghrib berkumandang saya masih asyik bermain di lapangan kampung.

Saya pernah menjadi bulan-bulanan ibu dan kakek saya karena nilai harian matematika saya hanya 60, alih-alih seratus. Meski sangat jarang bahkan hampir tidak pernah melakukan kekerasan fisik, namun kata-kata mereka begitu pedas untuk anak seusia saya kala itu.

Saya pernah tak mendapat jatah makan malam, karena kedapatan mengumpat “Asu” oleh ibu saya. Ya, saat itu saya memang sedang gencar-gencarnya mencari jati diri. Karena teman bermain saya kebanyakan jauh lebih tua dari saya, sedikit banyak saya terbawa kultur mereka.

Merokok adalah hal tabu dalam pikiran saya saat itu, meski bapak saya adalah perokok yang sangat aktif. Di tengah rasa penasaran yang sangat tinggi, saya mengubur dalam-dalam keinginan untuk merokok. Stigma yang dibangun saat itu, puncak kenakalan seorang anak adalah merokok. Dan saya tidak mau dicap sebagai anak nakal.

Saya belum mengenal istilah alkohol, arak, tuak, ciu, ganja, ngomik, ngelem, narkoba, apa lagi hamil di luar nikah. Ya, seperti itulah kultur yang dibangun di dalam keluarga, juga kampung saya. Meski saat itu masih menjadi anak tunggal (saya memiliki adik ketika usia 12 tahun), saya sama sekali tidak berani meminta apapun yang berupa materi kepada orangtua. Jauh berbeda dengan anak-anak sekarang, apa lagi anak tunggal yang terkenal begitu dimanjakan dan dipenuhi semua permintaannya.

Bukan karena orangtua tidak mampu, tapi karena saya benar-benar takut permintaan saya akan membebani mereka. Apabila saya menginginkan sesuatu, saya lebih memilih menabung selama berbulan-bulan, memotong uang saku yang tidak seberapa supaya barang tersebut bisa saya beli daripada harus meminta ke orangtua.

Bahkan untuk urusan uang saku pun saya tidak berani meminta. Karena saking sibuknya, ibu kerap lupa memberi uang saku, sehingga siang hari saya hanya menghabiskan waktu di dalam kelas saat istirahat sembari pura-pura sibuk membaca buku atau mengerjakan tugas. Sebab di luar kelas hampir semua anak tengah menikmati jajan mereka masing-masing.

Pernah ketika saya baru saja disunat (bagi anak laki-laki, sunat atau khiran merupakan hajatan terbesar baginya sebelum mengenal pernikahan) saya ditanya, “mau minta apa?” sebagai hadiah karena saya sudah berani disunat. Ketika anak-anak seusia saya kebanyakan meminta handphone, sepeda baru, atau sepeda motor setelah sunatan, saya justru meminta bola. Ya, bola, yang bentuknya bulat dan ditendang-tendang itu.

Naif? Betul! Kendati demikian, saya termasuk anak yang beruntung karena orangtua saya, khususnya ibu merupakan orang yang sangat pengertian. Mereka akan membelikan kebutuhan saya seperti sepatu, tas, baju, buku, dan sebagainya tanpa saya harus meminta dulu.

Dari kultur yang terbangun sejak kecil seperti itu, membuat saya membayangkan, betapa bahagianya menjadi orang dewasa yang bisa mencari uang sendiri dan bisa membeli apapun yang dia inginkan.

Dari kultur itu juga, selama bertahun-tahun, saya hidup menjadi anak rumahan, bahkan saat saya sudah duduk di bangku STM. Meski menjadi anak STM, saya tidak akrab dengan tawuran pelajar seperti yang banyak dikisahkan oleh banyak orang. Saya bahkan lebih sering nongkrong di masjid agung bersama beberapa teman yang jumlahnya tak seberapa. Beruntung, saat itu belum menjamur kajian-kajian radikal dan tren hijrah ngehe seperti sekarang.

Pandangan saya terkait norma-norma kehidupan di atas perlahan mulai bergeser, bahkan berbalik ketika saya mulai kuliah di Yogyakarta. Mungkin hal ini tidak akan pernah terjadi jika saya tidak tersesat di pers mahasiswa dan kebanyakan bergaul dengan anak mapala.

Saya yang sejak kecil tak pernah suka membaca buku, kecuali buku pelajaran, akhirnya dipaksa membaca berbagai buku yang penulisnya benar-benar asing di telinga saya. Di mulai dari Pramoedya, kemudian naik membaca tulisan-tulisan Soe Hok Gie, Tan Malaka, Mahatma Gandhi, Lenin, Karl Marx, Neitzsche, Sigmund Freud, dan tokoh-tokoh lain yang benar-benar tidak pernah saya dengar sebelumnya.

Saya mulai terbiasa dengan umpatan demi umpatan, dengan teman-teman sekitar saya yang kebanyakan merokok, minum-minuman keras, dan sebagainya yang akhirnya membuat saya sadar, saya sudah mulai dewasa. Masa kuliah seperti membalik hidup saya 180 derajat.

Memasuki tahun kedua kuliah saya mulaijarang pulang kos. Saya lebih banyak menghabiskan waktu dan bermalam di kampus, atau diskusi dari hal-hal remeh temeh sampai ke tema-tema yang membuat pikiran terkuras di warung-warung kopi sampai subuh. Bahkan tidak jarang saya tidak pulang ke kos selama berhari-hari.

Saat itu saya seperti merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya, diskusi dengan teman-teman di warung kopi, angkringan, atau manapun sampai tubuh benar-benar tak kuat lagi mengikuti kemauan otak.

Tapi ternyata itu bukan kebahagiaan yang kekal, karena menginjak semester tua, satu per satu teman mulai lulus, teman ngopi berkurang, dan kebanyakan teman diskusi saya sudah berganti menjadi adik tingkat saya. Teman-teman saya mulai fokus menata masa depan, menghadapi sebuah fase kehidupan baru yang kata banyak orang adalah “hidup yang sesungguhnya, real life”.

Hingga akhirnya giliran saya yang harus meninggalkan romantisme dunia perkuliahan. Saya kini harus memasuki fase baru seperti yang telah dihadapi teman-teman yang lain. Dan saya sadar, saya semakin dewasa!

Pasca lulus sejak November 2018 silam, beberapa kali saya sudah menjajal beberapa profesi. Mulai dari mengajar di STM, menjadi content writer, menjadi penulis lepas di beberapa media, wartawan lapangan, sampai wartawan kantoran sudah saya jajal, di tengah derasnya desakan untuk menjadi PNS dari keluarga besar.

Lima tahun tinggal di Yogyakarta memang telah mengubah pandangan saya terhadap PNS, dan akhirnya saya memutuskan PNS adalah jalan terakhir kehidupan saya. Memasuki dunia kerja membuat saya merasa semakin dewasa, juga tua. Pikiran saya tentang indahnya menjadi orang dewasa ketika masa SD dulu terbantahkan dengan sendirinya seiring realita yang saya hadapi.

Pulang malam bagi orang dewasa ternyata bukan karena keinginannya untuk bersenang-senang, melainkan tuntutan pekerjaan agar dia bisa tetap makan. Merokok ternyata bukan keinginan orang dewasa, melainkan kebutuhan, karena menjadi dewasa itu berat, dan nikotin adalah pelipur yang tepat. Umpatan yang kerap dilontarkan orang dewasa ternyata juga bukan untuk gaya-gaya-an, tapi memang mereka butuh melakukan itu supaya rasa dongkol di dalam hati terhadap kehidupan sedikit berkurang.

Menjadi orang dewasa memang sudah bisa mencari uang. Tapi kebutuhan orang dewasa bukan hanya mobil-mobilan, bola plastik, sepeda, kaos AHHA, atau smartphone keluaran terbaru supaya bisa main Mobile Legend bersama teman-teman. Pacaran? Ah, pikirkan dulu caranya membahagiakan orangtua dan menyekolahkan adik-adik.

Hingga akhirnya saya mafhum, bahwa menjadi dewasa ternyata tidak sebercanda itu. Menjadi dewasa itu melelahkan. Maka tidak heran ketika banyak orang-orang tua sekarang justru bertingkah kekanak-kanakan.

Satu lagi alasan kenapa menjadi dewasa itu melelahkan, yaitu harus merasakan jatuh cinta dankemudian patah hati. [T]

Tags: anak-anakdewasagaya hidupkemanusiaan
Share36TweetSendShareSend
Previous Post

Dari Flores Mengejar Bayang-Bayang Surga di Pulau Dewata

Next Post

Bendo Gerit & Kebebasan Soekarno

Widi Hermawan

Widi Hermawan

Jurnalis, tinggal di Solo, Jawa Tengah

Related Posts

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails

KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

by Sugi Lanus
July 7, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2026 Alkisah Balang Tamak, tokoh cerdik sekaligus satir dalam cerita rakyat Bali, pernah berpesan...

Read moreDetails
Next Post
Bendo Gerit & Kebebasan Soekarno

Bendo Gerit & Kebebasan Soekarno

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co