24 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dewa Brahma & Dewi Saraswati, Sepasang Kera, dan Anugerah untuk Charles Darwin

Wayan Purne by Wayan Purne
June 10, 2019
in Esai
Dewa Brahma & Dewi Saraswati, Sepasang Kera, dan Anugerah untuk Charles Darwin

Ilustrasi diolah dari lukisan IB Pandit Parastu

Setiap enam bulan, kita menyucikan dan mengagungkan Dewi Saraswati sebagai dewi ilmu pengetahuan. Kita dititahkan untuk menjungjung tinggi ilmu pengetahuan dan selalu memahami setiap filosofi kebijaksanaan yang terkandung di dalamnya.

Bagaimana jika ilmu pengetahuan itu menjadi kontradiktif dengan dogma keyakinan kita? Apakah Dewi Saraswati salah mengilhami manusia dalam pengembangan ilmu pengetahuan itu? Atau, kita anggap ilmu pengetahuan itu bukan sebagai ilmu pengetahuan?  

Aku pun teringat sebuah kutipan yang sangat terkenal dalam dunia sains.

“Variasi-variasi kecil yang memberikan keuntungan bagi organisme yang mampu beradaptasi dan akan menghasilkan jenis-jenis baru melalui sifat-sifat keturunannya. Organisme yang mampu beradaptasi dengan baik akan tetap bertahan hidup. ‘Dengan demikian, kita dapat mengetahui bahwa manusia berasal dari satu jenis hewan berkaki empat, berekor, dan bertelinga runcing’.”

Aku baca kutipan ini di sebuah buku Kanon Ilmu Pengetahuan di dalam bab Evolusi Darwin. Kutipan ini mengungkap sejarah keberadaan asa-usul manusia yang berasal dari seekor kera. Melihat kenyataan bahwa kita berevolusi dari seekor kera, tentu menghancurkan harga diri sebagai manusia.

Melihat kenyataan ini, kita yang menganggap diri sebagai manusia ciptaan yang paling mulia, apakah kita harus mengutuk Charles Darwin? Jika mengutuk Charles Darwin, bukankah kita sedang mengutuk pencerahan Dewi Saraswati dan lari dari kebijaksanaan? Mungkin aku yang dikutuk karena memiliki pemikiran  seperti ini di hari Saraswati dengan sesajen dan harumnya asap dupa di atas tumpukan buku. Tumpukan buku yang mungkin sudah bertahun-tahun tidak pernah kita baca.

Akan tetapi aku berimajinasi tatkala dulu, di bumi hanya ada tumbuhan, tapi belum ada binatang. Ketika itu di bulan purnama, Dewa Brahma bertapa di atas batu besar.

***

“Lihat Kamajaya! Siapa yang duduk di batu besar itu?” ucap Dewi Ratih menunjuk ke arah pohon beringin dekat batu besar.

“Mana, aku tidak lihat?” tanya Kamajaya penasaran.

“Itu! Tubuhnya bercahaya menghadap ke laut,” kata Dewi Ratih.

“Oh, itu Dewa Brahma sedang bertapa,” ucap Kamajaya.

“Mengapa Dewa Brahma bertapa di sana?” tanya Dewi Ratih heran.

“Aku dengar-dengar dari Dewa Surya, Dewa Brahma bertapa di sana karena sedang menciptakan sesuatu yang belum ada di bumi dan itu permintaan Dewi Saraswati. Entah apa itu, aku tidak tahu,”jawab Kamajaya.

“Ayo kita lihat dari dekat! Siapa tahu kita bisa tahu apa yang dibuat oleh Dewa Brahma,” ajak Dewi Ratih.

“Ah, aku tidak berani. Jika ketahuan Dewa Brahma, kita tidak diperbolehkan lagi menjelajahi dan menghirup wewangian tumbuh-tumbuhan yang ada di bumi ini,” tolak Kamajaya.

“Kita hanya melihatnya dari dekat. Kalau sembunyi dan tidak berisik, kita tidak akan ketahuan atau mengganggu Dewa Brahma,” kata Dewi Ratih.

“Benar ya? Kita bersembunyi dan kamu tidak akan berisik atau membuat keributan! Aku tahu kamu tidak pernah mau diam. Janji ya!” pinta Kamajaya.

“Ya, aku tidak akan berisik ataupun membuat keributan,” kata Dewi Ratih sepakat.

Mereka pun pelan-pelan mendekati tempat pertapaan Dewa Brahma yang sedang khusuk. Tanpa pengetahuan Dewa Brahma, mereka naik ke pohon beringin dekat batu besar itu dan bersembunyi di antara dedaunannya.

“Hati-hati, jangan sampai ranting kering pohon ini jatuh mengagetkan Dewa Brahma!” bisik Kamajaya.

Dewa Brahma semakin khusuk bertapa di atas batu besar itu.

“Kira-kira apa yang akan diciptakan oleh Dewa Brama?” tanya Dewi Ratih.

“Lihat saja! Kita akan melihat ciptaan Dewa Brahma ketika bulan punamanya berakhir. Itu  yang kudengar,” ucap Kamajaya memelankan suaranya.

“Oh, begitu ya,” ucap Dewi Ratih percaya.

“Awas Dewi Ratih! Itu ranting kering,” kata Kamajaya.

“Kreakkkkkk boooook!” Ranting kering pohon beringin patah dan jatuh tepat di belakang pertapaan Dewa Brahma.

“Keraaaa!” terucap perkataan itu tanpa sengaja oleh Dewa Brahma karena kaget. Dewa Brahwa menoleh ke belakang melihat apa yang mengganggunya.

“Ooooo, apa yang kau lakukan Dewi Ratih? Lihat! Kau sudah mengacaukan pertapaanku. Kau telah menyebabkan aku menciptakan kera,” Dewa Brahma marah.

“Ampun Dewa Brahma. Bukan maksud hamba membuat kekacauan ini. Hamba hanya penasaran dengan apa yang dewa akan ciptakan. Maafkan hamba,” sesal Dewi Ratih.

“Siapa itu di atas? Jangan hanya sembunyi di sana! Turun!” ucap Dewa Brahma, nada suaranya meninggi.

“Hamba Kamajaya.” Kamajaya gemetar turun dari pohon beringin.

“Gara-gara kalian berdua, aku tak sengaja menciptakan kera. Aku melakukan pertapaan ini karena sedang menciptakan manusia,” kata dewa Brahma.

“Maaf Dewa Brahma,” ucap sesal mereka berdua.

“Karena kalian sudah mengacaukan ciptaanku, kalian berdua harus berada dalam tubuh kera ini. Selama keturunan kera ini belum bisa berjalan tegak, kalian berdua tidak akan bisa bebas,” sabda Dewa Brahma.

Seketika tangan Dewa Brahma mengeluarkan cahaya menyinari Dewi Ratih dan Kamajaya. Kemudian, Kamajaya masuk ke dalam tubuh kera jantan dan Dewi Ratih masuk tubuh kera betina.  Mereka hanya bisa berteriak ketakutan. Mereka itu lupa kalau dirinya sudah berada dalam tubuh kera.

Dewa Brahma membawa pasangan kera itu ke tengah hutan. Kini, Dewa Brahma melanjutkan pertapaanya. Di dalam pertapaannya, Dewa Brahma menunggu Dewi Saraswati.

“Ini waktunya Dewi Saraswati akan menemuiku,” pikir gelisah Dewa Brahma dengan janji yang belum mencapai paripurna.

Tiba-tiba, Dewi Saraswati datang berkunjung. Dewi Saraswati telah selesai melakukan meditasinya.

“Kakanda, bagaimana dengan permintaan hamba? Hamba sudah siap memberkahi ilmu pengetahuan kepada manusia.”

“Maafkan kakandamu ini yang belum menepati janji,” sesal Dewa Brahma.

“Mengapa Kakanda tidak bisa menepati janji?” tanya Dewi saraswati bingung.

“Coba adinda melihat mahluk hidup yang dijaga oleh Kamajaya dan Dewi Ratih!” ucap Dewa Brahma.

Dewi Saraswati mengubah pandangannya menuju mahluk hidup yang dimaksudkan oleh Dewa Brahma.

“Hamba memohon diciptakan manusia. Mengapa hamba hanya melihat seekor kera?” pikir Dewi Saraswati.

“Benar apa yang adinda pikirkan. Kakanda sudah menciptakan seekor kera, tetapi dalam hatinya sudah tertanam bibit empati yang nantinnya akan tumbuh cinta kasih. Kelak ketika ia menjadi manusia, perjalanan hidupnya tergantung anugerah yang adinda berikan kepada mereka,” ucap Dewa Brahma memecah pikiran Dewi Saraswati.

Dewi Saraswati memahami maksud dari perkataan Dewa Brahma. Ia menyadari sebagai Dewi Penyempurna ciptaan Dewa Brahma. Ia pun meninggalkan pertapaan Dewa Brahma.

“Ini sudah kehendak alam. Aku hanya harus memberikan anugerah di waktu yang tepat sehingga kera itu bisa berubah menjadi manusia yang sempurna. Kelak dengan anugrah ilmu pengetahuanku, ia akan bisa menjelaskan asal-usulnya menjadi manusia yang sempurna.”

Begitulah sabda Dewi Saraswati terbawa angin menelusuri setiap hati ciptaan Dewa Brahma.

Kini kera-kera itu pun beranak pinak. Jumlah mereka semakin banyak hidup di dalam hutan. Namun belum juga ada dari keturunan mereka bisa berjalan tegak.

Akan tetapi, tiba-tiba terjadi kemarau panjang. Hutan tempat kera itu hidup menjadi kering. Kera-kera tidak lagi bisa menemukan makanan di dalam hutan. Kera turun merangkak di darat mencari makanan. Mereka sangat lama berada di darat. Mereka tak pernah lagi bergelantungan di pohon-pohon.

Suatu ketika di malam bulan purnama, ada dua kera melahirkan bayi laki-laki dan bayi perempuan. Kedua bayi itu memancarkan cahaya kemilau. Melihat pancaran cahaya pada kedua bayi itu, para kera menjauh karena takut dengan cahaya itu. Mereka pergi meninggalkan kedua bayi kera itu.

Di balik kemilau cahaya pada kedua bayi itu, muncullah Dewi Ratih dan Kamajaya.

“Kita di mana ini, Kamajaya?” tanya Dewi Ratih bingung. Kamajaya dan Dewi Ratih belum sepenuhnya sadarkan diri.

“Entahlah, aku tidak tahu kita ada di mana,” jawab Kamajaya.

“Kalian berada di dunia baru. Di dunia baru inilah, kalian akan bebas dan akan mendapat tugas baru,” ucap Dewa Brahma menyadarkan Kamajaya dan Dewi Ratih.

“Maafkan hamba! Bukankah ini belum waktunya hamba bebas,” ucap Dewi Ratih.

“Inilah waktu yang tepat kalian bebas. Sebab, kelak kedua bayi ini akan bisa berjalan tegak ketika sudah dewasa. Kalian akan menjadi dewa pelindung yang selalu menjaga kedua bayi ini,” sabda Dewa Brahma.

Selesai Dewa Brahma bersabda, Kamajaya dan Dewi Ratih kembali dalam keadaan semula.

“Kalian sekarang sudah kembali menjadi dewa-dewi yang memiliki kekuatan cinta kasih. Rawat dan jagalah kedua bayi itu dengan baik. Kelak, kedua bayi itu akan menjadi makhluk yang paling pintar dan cerdas di antara ciptaanku.

Sebab, mereka sudah mendapatkan anugerah dari Dewi Saraswati. Tapi ingat, jika kalian tidak merawat dan menjaganya dengan baik, ia akan menjadi moster pintar yang menghancurkan alam yang telah aku ciptakan ini,” pesan Dewa Brahma. Kemudian Dewa brahma menghilang di balik cahaya bulan purnama.

Semenjak saat itu, Kamajaya dan Dewi Ratih selalu menjaga kedua bayi itu hingga menjadi makhluk yang paling pintar dan cerdas. Ribuan tahun kemudian, anak-anak mereka disebut sebagai manusia.

***

Dalam imajinasiku, mungkin kisah inilah yang menjadi alasan Charles Darwin mendapatkan anugerah dari Dewi Saraswati sehingga melahirkan ilmu pengetahuan hukum evolusi. Atau mungkin, anugrah kebijaksanaan Dewi Saraswati tertinggal di dalama hati kera sadangkan manusia hanya mau membawa kepintaran.

Atau mungkin juga, Charles Darwin adalah reinkarnasi dari Dewa Brahma dan Dewi Saraswati sehingga kita bisa bercermin kepada seekor kera dan menemukan kebijaksanaan. Kebijaksanaan yang murni seperti yang disabdakan oleh Dewi Saraswati. Sebab terkadang, seekor kera lebih berempati dibandingkan dengan kita sebagai manusia.

Benarkah semua itu? Entahlah! [T]  

Tags: Charles DarwinDewa BrahmaDewi SaraswatievolusifaunaHari SaraswatiPendidikanPengetahuan
Share91TweetSendShareSend
Previous Post

“Lawar Getih”, Menjaga Selera Mengusir Petaka

Next Post

Di Kampus, Aku Bukan BEM atau Senat, Aku Mapala yang Lebih Berbahaya

Wayan Purne

Wayan Purne

Lulusan Undiksha Singaraja. Suka membaca. Kini tinggal di sebuah desa di kawasan Buleleng timur menjadi pendidik di sebuah sekolah yang tak konvensional.

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Di Kampus, Aku Bukan BEM atau Senat, Aku Mapala yang Lebih Berbahaya

Di Kampus, Aku Bukan BEM atau Senat, Aku Mapala yang Lebih Berbahaya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co