12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dewa Brahma & Dewi Saraswati, Sepasang Kera, dan Anugerah untuk Charles Darwin

Wayan Purne by Wayan Purne
June 10, 2019
in Esai
Dewa Brahma & Dewi Saraswati, Sepasang Kera, dan Anugerah untuk Charles Darwin

Ilustrasi diolah dari lukisan IB Pandit Parastu

Setiap enam bulan, kita menyucikan dan mengagungkan Dewi Saraswati sebagai dewi ilmu pengetahuan. Kita dititahkan untuk menjungjung tinggi ilmu pengetahuan dan selalu memahami setiap filosofi kebijaksanaan yang terkandung di dalamnya.

Bagaimana jika ilmu pengetahuan itu menjadi kontradiktif dengan dogma keyakinan kita? Apakah Dewi Saraswati salah mengilhami manusia dalam pengembangan ilmu pengetahuan itu? Atau, kita anggap ilmu pengetahuan itu bukan sebagai ilmu pengetahuan?  

Aku pun teringat sebuah kutipan yang sangat terkenal dalam dunia sains.

“Variasi-variasi kecil yang memberikan keuntungan bagi organisme yang mampu beradaptasi dan akan menghasilkan jenis-jenis baru melalui sifat-sifat keturunannya. Organisme yang mampu beradaptasi dengan baik akan tetap bertahan hidup. ‘Dengan demikian, kita dapat mengetahui bahwa manusia berasal dari satu jenis hewan berkaki empat, berekor, dan bertelinga runcing’.”

Aku baca kutipan ini di sebuah buku Kanon Ilmu Pengetahuan di dalam bab Evolusi Darwin. Kutipan ini mengungkap sejarah keberadaan asa-usul manusia yang berasal dari seekor kera. Melihat kenyataan bahwa kita berevolusi dari seekor kera, tentu menghancurkan harga diri sebagai manusia.

Melihat kenyataan ini, kita yang menganggap diri sebagai manusia ciptaan yang paling mulia, apakah kita harus mengutuk Charles Darwin? Jika mengutuk Charles Darwin, bukankah kita sedang mengutuk pencerahan Dewi Saraswati dan lari dari kebijaksanaan? Mungkin aku yang dikutuk karena memiliki pemikiran  seperti ini di hari Saraswati dengan sesajen dan harumnya asap dupa di atas tumpukan buku. Tumpukan buku yang mungkin sudah bertahun-tahun tidak pernah kita baca.

Akan tetapi aku berimajinasi tatkala dulu, di bumi hanya ada tumbuhan, tapi belum ada binatang. Ketika itu di bulan purnama, Dewa Brahma bertapa di atas batu besar.

***

“Lihat Kamajaya! Siapa yang duduk di batu besar itu?” ucap Dewi Ratih menunjuk ke arah pohon beringin dekat batu besar.

“Mana, aku tidak lihat?” tanya Kamajaya penasaran.

“Itu! Tubuhnya bercahaya menghadap ke laut,” kata Dewi Ratih.

“Oh, itu Dewa Brahma sedang bertapa,” ucap Kamajaya.

“Mengapa Dewa Brahma bertapa di sana?” tanya Dewi Ratih heran.

“Aku dengar-dengar dari Dewa Surya, Dewa Brahma bertapa di sana karena sedang menciptakan sesuatu yang belum ada di bumi dan itu permintaan Dewi Saraswati. Entah apa itu, aku tidak tahu,”jawab Kamajaya.

“Ayo kita lihat dari dekat! Siapa tahu kita bisa tahu apa yang dibuat oleh Dewa Brahma,” ajak Dewi Ratih.

“Ah, aku tidak berani. Jika ketahuan Dewa Brahma, kita tidak diperbolehkan lagi menjelajahi dan menghirup wewangian tumbuh-tumbuhan yang ada di bumi ini,” tolak Kamajaya.

“Kita hanya melihatnya dari dekat. Kalau sembunyi dan tidak berisik, kita tidak akan ketahuan atau mengganggu Dewa Brahma,” kata Dewi Ratih.

“Benar ya? Kita bersembunyi dan kamu tidak akan berisik atau membuat keributan! Aku tahu kamu tidak pernah mau diam. Janji ya!” pinta Kamajaya.

“Ya, aku tidak akan berisik ataupun membuat keributan,” kata Dewi Ratih sepakat.

Mereka pun pelan-pelan mendekati tempat pertapaan Dewa Brahma yang sedang khusuk. Tanpa pengetahuan Dewa Brahma, mereka naik ke pohon beringin dekat batu besar itu dan bersembunyi di antara dedaunannya.

“Hati-hati, jangan sampai ranting kering pohon ini jatuh mengagetkan Dewa Brahma!” bisik Kamajaya.

Dewa Brahma semakin khusuk bertapa di atas batu besar itu.

“Kira-kira apa yang akan diciptakan oleh Dewa Brama?” tanya Dewi Ratih.

“Lihat saja! Kita akan melihat ciptaan Dewa Brahma ketika bulan punamanya berakhir. Itu  yang kudengar,” ucap Kamajaya memelankan suaranya.

“Oh, begitu ya,” ucap Dewi Ratih percaya.

“Awas Dewi Ratih! Itu ranting kering,” kata Kamajaya.

“Kreakkkkkk boooook!” Ranting kering pohon beringin patah dan jatuh tepat di belakang pertapaan Dewa Brahma.

“Keraaaa!” terucap perkataan itu tanpa sengaja oleh Dewa Brahma karena kaget. Dewa Brahwa menoleh ke belakang melihat apa yang mengganggunya.

“Ooooo, apa yang kau lakukan Dewi Ratih? Lihat! Kau sudah mengacaukan pertapaanku. Kau telah menyebabkan aku menciptakan kera,” Dewa Brahma marah.

“Ampun Dewa Brahma. Bukan maksud hamba membuat kekacauan ini. Hamba hanya penasaran dengan apa yang dewa akan ciptakan. Maafkan hamba,” sesal Dewi Ratih.

“Siapa itu di atas? Jangan hanya sembunyi di sana! Turun!” ucap Dewa Brahma, nada suaranya meninggi.

“Hamba Kamajaya.” Kamajaya gemetar turun dari pohon beringin.

“Gara-gara kalian berdua, aku tak sengaja menciptakan kera. Aku melakukan pertapaan ini karena sedang menciptakan manusia,” kata dewa Brahma.

“Maaf Dewa Brahma,” ucap sesal mereka berdua.

“Karena kalian sudah mengacaukan ciptaanku, kalian berdua harus berada dalam tubuh kera ini. Selama keturunan kera ini belum bisa berjalan tegak, kalian berdua tidak akan bisa bebas,” sabda Dewa Brahma.

Seketika tangan Dewa Brahma mengeluarkan cahaya menyinari Dewi Ratih dan Kamajaya. Kemudian, Kamajaya masuk ke dalam tubuh kera jantan dan Dewi Ratih masuk tubuh kera betina.  Mereka hanya bisa berteriak ketakutan. Mereka itu lupa kalau dirinya sudah berada dalam tubuh kera.

Dewa Brahma membawa pasangan kera itu ke tengah hutan. Kini, Dewa Brahma melanjutkan pertapaanya. Di dalam pertapaannya, Dewa Brahma menunggu Dewi Saraswati.

“Ini waktunya Dewi Saraswati akan menemuiku,” pikir gelisah Dewa Brahma dengan janji yang belum mencapai paripurna.

Tiba-tiba, Dewi Saraswati datang berkunjung. Dewi Saraswati telah selesai melakukan meditasinya.

“Kakanda, bagaimana dengan permintaan hamba? Hamba sudah siap memberkahi ilmu pengetahuan kepada manusia.”

“Maafkan kakandamu ini yang belum menepati janji,” sesal Dewa Brahma.

“Mengapa Kakanda tidak bisa menepati janji?” tanya Dewi saraswati bingung.

“Coba adinda melihat mahluk hidup yang dijaga oleh Kamajaya dan Dewi Ratih!” ucap Dewa Brahma.

Dewi Saraswati mengubah pandangannya menuju mahluk hidup yang dimaksudkan oleh Dewa Brahma.

“Hamba memohon diciptakan manusia. Mengapa hamba hanya melihat seekor kera?” pikir Dewi Saraswati.

“Benar apa yang adinda pikirkan. Kakanda sudah menciptakan seekor kera, tetapi dalam hatinya sudah tertanam bibit empati yang nantinnya akan tumbuh cinta kasih. Kelak ketika ia menjadi manusia, perjalanan hidupnya tergantung anugerah yang adinda berikan kepada mereka,” ucap Dewa Brahma memecah pikiran Dewi Saraswati.

Dewi Saraswati memahami maksud dari perkataan Dewa Brahma. Ia menyadari sebagai Dewi Penyempurna ciptaan Dewa Brahma. Ia pun meninggalkan pertapaan Dewa Brahma.

“Ini sudah kehendak alam. Aku hanya harus memberikan anugerah di waktu yang tepat sehingga kera itu bisa berubah menjadi manusia yang sempurna. Kelak dengan anugrah ilmu pengetahuanku, ia akan bisa menjelaskan asal-usulnya menjadi manusia yang sempurna.”

Begitulah sabda Dewi Saraswati terbawa angin menelusuri setiap hati ciptaan Dewa Brahma.

Kini kera-kera itu pun beranak pinak. Jumlah mereka semakin banyak hidup di dalam hutan. Namun belum juga ada dari keturunan mereka bisa berjalan tegak.

Akan tetapi, tiba-tiba terjadi kemarau panjang. Hutan tempat kera itu hidup menjadi kering. Kera-kera tidak lagi bisa menemukan makanan di dalam hutan. Kera turun merangkak di darat mencari makanan. Mereka sangat lama berada di darat. Mereka tak pernah lagi bergelantungan di pohon-pohon.

Suatu ketika di malam bulan purnama, ada dua kera melahirkan bayi laki-laki dan bayi perempuan. Kedua bayi itu memancarkan cahaya kemilau. Melihat pancaran cahaya pada kedua bayi itu, para kera menjauh karena takut dengan cahaya itu. Mereka pergi meninggalkan kedua bayi kera itu.

Di balik kemilau cahaya pada kedua bayi itu, muncullah Dewi Ratih dan Kamajaya.

“Kita di mana ini, Kamajaya?” tanya Dewi Ratih bingung. Kamajaya dan Dewi Ratih belum sepenuhnya sadarkan diri.

“Entahlah, aku tidak tahu kita ada di mana,” jawab Kamajaya.

“Kalian berada di dunia baru. Di dunia baru inilah, kalian akan bebas dan akan mendapat tugas baru,” ucap Dewa Brahma menyadarkan Kamajaya dan Dewi Ratih.

“Maafkan hamba! Bukankah ini belum waktunya hamba bebas,” ucap Dewi Ratih.

“Inilah waktu yang tepat kalian bebas. Sebab, kelak kedua bayi ini akan bisa berjalan tegak ketika sudah dewasa. Kalian akan menjadi dewa pelindung yang selalu menjaga kedua bayi ini,” sabda Dewa Brahma.

Selesai Dewa Brahma bersabda, Kamajaya dan Dewi Ratih kembali dalam keadaan semula.

“Kalian sekarang sudah kembali menjadi dewa-dewi yang memiliki kekuatan cinta kasih. Rawat dan jagalah kedua bayi itu dengan baik. Kelak, kedua bayi itu akan menjadi makhluk yang paling pintar dan cerdas di antara ciptaanku.

Sebab, mereka sudah mendapatkan anugerah dari Dewi Saraswati. Tapi ingat, jika kalian tidak merawat dan menjaganya dengan baik, ia akan menjadi moster pintar yang menghancurkan alam yang telah aku ciptakan ini,” pesan Dewa Brahma. Kemudian Dewa brahma menghilang di balik cahaya bulan purnama.

Semenjak saat itu, Kamajaya dan Dewi Ratih selalu menjaga kedua bayi itu hingga menjadi makhluk yang paling pintar dan cerdas. Ribuan tahun kemudian, anak-anak mereka disebut sebagai manusia.

***

Dalam imajinasiku, mungkin kisah inilah yang menjadi alasan Charles Darwin mendapatkan anugerah dari Dewi Saraswati sehingga melahirkan ilmu pengetahuan hukum evolusi. Atau mungkin, anugrah kebijaksanaan Dewi Saraswati tertinggal di dalama hati kera sadangkan manusia hanya mau membawa kepintaran.

Atau mungkin juga, Charles Darwin adalah reinkarnasi dari Dewa Brahma dan Dewi Saraswati sehingga kita bisa bercermin kepada seekor kera dan menemukan kebijaksanaan. Kebijaksanaan yang murni seperti yang disabdakan oleh Dewi Saraswati. Sebab terkadang, seekor kera lebih berempati dibandingkan dengan kita sebagai manusia.

Benarkah semua itu? Entahlah! [T]  

Tags: Charles DarwinDewa BrahmaDewi SaraswatievolusifaunaHari SaraswatiPendidikanPengetahuan
Share91TweetSendShareSend
Previous Post

“Lawar Getih”, Menjaga Selera Mengusir Petaka

Next Post

Di Kampus, Aku Bukan BEM atau Senat, Aku Mapala yang Lebih Berbahaya

Wayan Purne

Wayan Purne

Lulusan Undiksha Singaraja. Suka membaca. Kini tinggal di sebuah desa di kawasan Buleleng timur menjadi pendidik di sebuah sekolah yang tak konvensional.

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post
Di Kampus, Aku Bukan BEM atau Senat, Aku Mapala yang Lebih Berbahaya

Di Kampus, Aku Bukan BEM atau Senat, Aku Mapala yang Lebih Berbahaya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co