2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dewa Brahma & Dewi Saraswati, Sepasang Kera, dan Anugerah untuk Charles Darwin

Wayan Purne by Wayan Purne
June 10, 2019
in Esai
Dewa Brahma & Dewi Saraswati, Sepasang Kera, dan Anugerah untuk Charles Darwin

Ilustrasi diolah dari lukisan IB Pandit Parastu

Setiap enam bulan, kita menyucikan dan mengagungkan Dewi Saraswati sebagai dewi ilmu pengetahuan. Kita dititahkan untuk menjungjung tinggi ilmu pengetahuan dan selalu memahami setiap filosofi kebijaksanaan yang terkandung di dalamnya.

Bagaimana jika ilmu pengetahuan itu menjadi kontradiktif dengan dogma keyakinan kita? Apakah Dewi Saraswati salah mengilhami manusia dalam pengembangan ilmu pengetahuan itu? Atau, kita anggap ilmu pengetahuan itu bukan sebagai ilmu pengetahuan?  

Aku pun teringat sebuah kutipan yang sangat terkenal dalam dunia sains.

“Variasi-variasi kecil yang memberikan keuntungan bagi organisme yang mampu beradaptasi dan akan menghasilkan jenis-jenis baru melalui sifat-sifat keturunannya. Organisme yang mampu beradaptasi dengan baik akan tetap bertahan hidup. ‘Dengan demikian, kita dapat mengetahui bahwa manusia berasal dari satu jenis hewan berkaki empat, berekor, dan bertelinga runcing’.”

Aku baca kutipan ini di sebuah buku Kanon Ilmu Pengetahuan di dalam bab Evolusi Darwin. Kutipan ini mengungkap sejarah keberadaan asa-usul manusia yang berasal dari seekor kera. Melihat kenyataan bahwa kita berevolusi dari seekor kera, tentu menghancurkan harga diri sebagai manusia.

Melihat kenyataan ini, kita yang menganggap diri sebagai manusia ciptaan yang paling mulia, apakah kita harus mengutuk Charles Darwin? Jika mengutuk Charles Darwin, bukankah kita sedang mengutuk pencerahan Dewi Saraswati dan lari dari kebijaksanaan? Mungkin aku yang dikutuk karena memiliki pemikiran  seperti ini di hari Saraswati dengan sesajen dan harumnya asap dupa di atas tumpukan buku. Tumpukan buku yang mungkin sudah bertahun-tahun tidak pernah kita baca.

Akan tetapi aku berimajinasi tatkala dulu, di bumi hanya ada tumbuhan, tapi belum ada binatang. Ketika itu di bulan purnama, Dewa Brahma bertapa di atas batu besar.

***

“Lihat Kamajaya! Siapa yang duduk di batu besar itu?” ucap Dewi Ratih menunjuk ke arah pohon beringin dekat batu besar.

“Mana, aku tidak lihat?” tanya Kamajaya penasaran.

“Itu! Tubuhnya bercahaya menghadap ke laut,” kata Dewi Ratih.

“Oh, itu Dewa Brahma sedang bertapa,” ucap Kamajaya.

“Mengapa Dewa Brahma bertapa di sana?” tanya Dewi Ratih heran.

“Aku dengar-dengar dari Dewa Surya, Dewa Brahma bertapa di sana karena sedang menciptakan sesuatu yang belum ada di bumi dan itu permintaan Dewi Saraswati. Entah apa itu, aku tidak tahu,”jawab Kamajaya.

“Ayo kita lihat dari dekat! Siapa tahu kita bisa tahu apa yang dibuat oleh Dewa Brahma,” ajak Dewi Ratih.

“Ah, aku tidak berani. Jika ketahuan Dewa Brahma, kita tidak diperbolehkan lagi menjelajahi dan menghirup wewangian tumbuh-tumbuhan yang ada di bumi ini,” tolak Kamajaya.

“Kita hanya melihatnya dari dekat. Kalau sembunyi dan tidak berisik, kita tidak akan ketahuan atau mengganggu Dewa Brahma,” kata Dewi Ratih.

“Benar ya? Kita bersembunyi dan kamu tidak akan berisik atau membuat keributan! Aku tahu kamu tidak pernah mau diam. Janji ya!” pinta Kamajaya.

“Ya, aku tidak akan berisik ataupun membuat keributan,” kata Dewi Ratih sepakat.

Mereka pun pelan-pelan mendekati tempat pertapaan Dewa Brahma yang sedang khusuk. Tanpa pengetahuan Dewa Brahma, mereka naik ke pohon beringin dekat batu besar itu dan bersembunyi di antara dedaunannya.

“Hati-hati, jangan sampai ranting kering pohon ini jatuh mengagetkan Dewa Brahma!” bisik Kamajaya.

Dewa Brahma semakin khusuk bertapa di atas batu besar itu.

“Kira-kira apa yang akan diciptakan oleh Dewa Brama?” tanya Dewi Ratih.

“Lihat saja! Kita akan melihat ciptaan Dewa Brahma ketika bulan punamanya berakhir. Itu  yang kudengar,” ucap Kamajaya memelankan suaranya.

“Oh, begitu ya,” ucap Dewi Ratih percaya.

“Awas Dewi Ratih! Itu ranting kering,” kata Kamajaya.

“Kreakkkkkk boooook!” Ranting kering pohon beringin patah dan jatuh tepat di belakang pertapaan Dewa Brahma.

“Keraaaa!” terucap perkataan itu tanpa sengaja oleh Dewa Brahma karena kaget. Dewa Brahwa menoleh ke belakang melihat apa yang mengganggunya.

“Ooooo, apa yang kau lakukan Dewi Ratih? Lihat! Kau sudah mengacaukan pertapaanku. Kau telah menyebabkan aku menciptakan kera,” Dewa Brahma marah.

“Ampun Dewa Brahma. Bukan maksud hamba membuat kekacauan ini. Hamba hanya penasaran dengan apa yang dewa akan ciptakan. Maafkan hamba,” sesal Dewi Ratih.

“Siapa itu di atas? Jangan hanya sembunyi di sana! Turun!” ucap Dewa Brahma, nada suaranya meninggi.

“Hamba Kamajaya.” Kamajaya gemetar turun dari pohon beringin.

“Gara-gara kalian berdua, aku tak sengaja menciptakan kera. Aku melakukan pertapaan ini karena sedang menciptakan manusia,” kata dewa Brahma.

“Maaf Dewa Brahma,” ucap sesal mereka berdua.

“Karena kalian sudah mengacaukan ciptaanku, kalian berdua harus berada dalam tubuh kera ini. Selama keturunan kera ini belum bisa berjalan tegak, kalian berdua tidak akan bisa bebas,” sabda Dewa Brahma.

Seketika tangan Dewa Brahma mengeluarkan cahaya menyinari Dewi Ratih dan Kamajaya. Kemudian, Kamajaya masuk ke dalam tubuh kera jantan dan Dewi Ratih masuk tubuh kera betina.  Mereka hanya bisa berteriak ketakutan. Mereka itu lupa kalau dirinya sudah berada dalam tubuh kera.

Dewa Brahma membawa pasangan kera itu ke tengah hutan. Kini, Dewa Brahma melanjutkan pertapaanya. Di dalam pertapaannya, Dewa Brahma menunggu Dewi Saraswati.

“Ini waktunya Dewi Saraswati akan menemuiku,” pikir gelisah Dewa Brahma dengan janji yang belum mencapai paripurna.

Tiba-tiba, Dewi Saraswati datang berkunjung. Dewi Saraswati telah selesai melakukan meditasinya.

“Kakanda, bagaimana dengan permintaan hamba? Hamba sudah siap memberkahi ilmu pengetahuan kepada manusia.”

“Maafkan kakandamu ini yang belum menepati janji,” sesal Dewa Brahma.

“Mengapa Kakanda tidak bisa menepati janji?” tanya Dewi saraswati bingung.

“Coba adinda melihat mahluk hidup yang dijaga oleh Kamajaya dan Dewi Ratih!” ucap Dewa Brahma.

Dewi Saraswati mengubah pandangannya menuju mahluk hidup yang dimaksudkan oleh Dewa Brahma.

“Hamba memohon diciptakan manusia. Mengapa hamba hanya melihat seekor kera?” pikir Dewi Saraswati.

“Benar apa yang adinda pikirkan. Kakanda sudah menciptakan seekor kera, tetapi dalam hatinya sudah tertanam bibit empati yang nantinnya akan tumbuh cinta kasih. Kelak ketika ia menjadi manusia, perjalanan hidupnya tergantung anugerah yang adinda berikan kepada mereka,” ucap Dewa Brahma memecah pikiran Dewi Saraswati.

Dewi Saraswati memahami maksud dari perkataan Dewa Brahma. Ia menyadari sebagai Dewi Penyempurna ciptaan Dewa Brahma. Ia pun meninggalkan pertapaan Dewa Brahma.

“Ini sudah kehendak alam. Aku hanya harus memberikan anugerah di waktu yang tepat sehingga kera itu bisa berubah menjadi manusia yang sempurna. Kelak dengan anugrah ilmu pengetahuanku, ia akan bisa menjelaskan asal-usulnya menjadi manusia yang sempurna.”

Begitulah sabda Dewi Saraswati terbawa angin menelusuri setiap hati ciptaan Dewa Brahma.

Kini kera-kera itu pun beranak pinak. Jumlah mereka semakin banyak hidup di dalam hutan. Namun belum juga ada dari keturunan mereka bisa berjalan tegak.

Akan tetapi, tiba-tiba terjadi kemarau panjang. Hutan tempat kera itu hidup menjadi kering. Kera-kera tidak lagi bisa menemukan makanan di dalam hutan. Kera turun merangkak di darat mencari makanan. Mereka sangat lama berada di darat. Mereka tak pernah lagi bergelantungan di pohon-pohon.

Suatu ketika di malam bulan purnama, ada dua kera melahirkan bayi laki-laki dan bayi perempuan. Kedua bayi itu memancarkan cahaya kemilau. Melihat pancaran cahaya pada kedua bayi itu, para kera menjauh karena takut dengan cahaya itu. Mereka pergi meninggalkan kedua bayi kera itu.

Di balik kemilau cahaya pada kedua bayi itu, muncullah Dewi Ratih dan Kamajaya.

“Kita di mana ini, Kamajaya?” tanya Dewi Ratih bingung. Kamajaya dan Dewi Ratih belum sepenuhnya sadarkan diri.

“Entahlah, aku tidak tahu kita ada di mana,” jawab Kamajaya.

“Kalian berada di dunia baru. Di dunia baru inilah, kalian akan bebas dan akan mendapat tugas baru,” ucap Dewa Brahma menyadarkan Kamajaya dan Dewi Ratih.

“Maafkan hamba! Bukankah ini belum waktunya hamba bebas,” ucap Dewi Ratih.

“Inilah waktu yang tepat kalian bebas. Sebab, kelak kedua bayi ini akan bisa berjalan tegak ketika sudah dewasa. Kalian akan menjadi dewa pelindung yang selalu menjaga kedua bayi ini,” sabda Dewa Brahma.

Selesai Dewa Brahma bersabda, Kamajaya dan Dewi Ratih kembali dalam keadaan semula.

“Kalian sekarang sudah kembali menjadi dewa-dewi yang memiliki kekuatan cinta kasih. Rawat dan jagalah kedua bayi itu dengan baik. Kelak, kedua bayi itu akan menjadi makhluk yang paling pintar dan cerdas di antara ciptaanku.

Sebab, mereka sudah mendapatkan anugerah dari Dewi Saraswati. Tapi ingat, jika kalian tidak merawat dan menjaganya dengan baik, ia akan menjadi moster pintar yang menghancurkan alam yang telah aku ciptakan ini,” pesan Dewa Brahma. Kemudian Dewa brahma menghilang di balik cahaya bulan purnama.

Semenjak saat itu, Kamajaya dan Dewi Ratih selalu menjaga kedua bayi itu hingga menjadi makhluk yang paling pintar dan cerdas. Ribuan tahun kemudian, anak-anak mereka disebut sebagai manusia.

***

Dalam imajinasiku, mungkin kisah inilah yang menjadi alasan Charles Darwin mendapatkan anugerah dari Dewi Saraswati sehingga melahirkan ilmu pengetahuan hukum evolusi. Atau mungkin, anugrah kebijaksanaan Dewi Saraswati tertinggal di dalama hati kera sadangkan manusia hanya mau membawa kepintaran.

Atau mungkin juga, Charles Darwin adalah reinkarnasi dari Dewa Brahma dan Dewi Saraswati sehingga kita bisa bercermin kepada seekor kera dan menemukan kebijaksanaan. Kebijaksanaan yang murni seperti yang disabdakan oleh Dewi Saraswati. Sebab terkadang, seekor kera lebih berempati dibandingkan dengan kita sebagai manusia.

Benarkah semua itu? Entahlah! [T]  

Tags: Charles DarwinDewa BrahmaDewi SaraswatievolusifaunaHari SaraswatiPendidikanPengetahuan
Share91TweetSendShareSend
Previous Post

“Lawar Getih”, Menjaga Selera Mengusir Petaka

Next Post

Di Kampus, Aku Bukan BEM atau Senat, Aku Mapala yang Lebih Berbahaya

Wayan Purne

Wayan Purne

Lulusan Undiksha Singaraja. Suka membaca. Kini tinggal di sebuah desa di kawasan Buleleng timur menjadi pendidik di sebuah sekolah yang tak konvensional.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Di Kampus, Aku Bukan BEM atau Senat, Aku Mapala yang Lebih Berbahaya

Di Kampus, Aku Bukan BEM atau Senat, Aku Mapala yang Lebih Berbahaya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co