24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Buku dan Jok yang Tabu – Catatan Perjalanan dari Bandara

Agus Wiratama by Agus Wiratama
May 13, 2019
in Esai
Buku dan Jok yang Tabu – Catatan Perjalanan dari Bandara

tatkala

Beberapa bulan yang lalu saya menjemput seorang teman ke bandara yang katanya akan menikmati jatah libur dari pekerjaannya di Jakarta. Seperti orang pulang kampung pada umumnya, teman saya membawa banyak barang. Mungkin baju atau oleh-oleh. Sebetulnya saya tidak peduli, sebab setiap pulang dari Jakarta dia selalu membawa banyak barang.

Jadi, saya tidak perlu kaget lagi. Ketika pulang, kami mencoba memasuki jalan-jalan kecil dari bandara menuju rumah. Rupanya kami tembus ke jalan Teuku Umar Denpasar. Kebetulan toko buku posisinya dekat dengan jalan itu. Saya mengajaknya singgah ke sana dengan barang bawaan yang cukup merepotkan dan dia setuju.

Tak perlu waktu lama di toko buku, kami kembali ke motor untuk melanjutkan perjalanan. Dengan barang yang dia bawa termasuk di kaki saya yang sudah diisi barangnya, tempat yang satu-satunya kosong melompong adalah bagasi motor yang cukup luas. Pertimbangan itu membuat saya berencana memasukkan beberapa buku yang saya beli ke bagasi. Ketika bagasi telah terbuka, lalu saya meminta buku yang sementara ia pegang.

Dia bertanya, “untuk apa?”  Saya katakan bahwa sebaiknya buku ditaruh saja di bagasi, di bawah jok. Dengan tegas dia menolak, “Buku adalah Dewi Saraswati. Masak dipantati, aku bawa aja”.

Di perut teman saya ada sebuah tas, di punggungnya, dua tas ukuran sedang di tangan kanan dan kiri. Kondisi seperti itu membuat saya bingung, antara memberi saran menaruh dulu anggapannya, atau memberitahu anggapan saya.

Saya mengatakan bahwa tak ada maksud saya menduduki buku, tetapi barang bawaan yang berlebihan membuat saya berpikir pilihan terakhir adalah bawah jok, “Toh Tuhan pemaaf, nanti sampai di rumah kita minta maaf” ujar saya sambil tertawa, tetapi dia tetap bersikeras bahwa buku itu sebaiknya dibawa saja dari pada diletakkan di bawah jok. Akhirnya saya mengalah, toh yang beban bukan saya.

Sesungguhnya dia bukan orang yang ambisius dengan buku, hampir mirip dengan saya. Tetapi bedanya, kalau dia membeli buku kemudian selesai atau tidak bacaannya, beberapa hari kemudian akan dia berikan pada saya. Sementara saya, selesai tidak selesai buku dibaca, tidak akan saya berikan padanya.

Ketika kami melanjutkan perjalanan, tiba-tiba kami ingat sebuah warung nasi campur lawar. Kali ini kami sepakat untuk singgah. Saya banyak bertanya padanya tentang pekerjaannya, kelelahannya, waktunya bekerja, hingga gajinya. Kami cukup lama berbincang di sana—perbincangan yang saya rasa tidak terlalu serius.

Semua pertanyaan tadi dijawab dengan tertawa-tawa. Sampai pada akhrinya saya teringat lagi dengan kejadian di parkiran toko buku. Saya bertanya padanya, “kenapa kau begitu takut meletakkan buku di bawah jok?”.

Dia menjelaskan dengan berapi-api bahwa buku adalah representasi Dewi Saraswati. Tentu saja kali ini adalah kesempatan yang tepat untuk memberitahu alasan saya meletakkan buku di jok. Tentu alasannya bukan tentang barang bawaan melulu. Bagi saya, hal ini harus dijelaskan sebab apabila tidak dijelaskan, saya kawatir akan dicap tak percaya pada Tuhan. Cap seperti itu belakangan menjadi satu hal yang murah diberikan pada orang.

Saya mengatakan padanya bahwa buku adalah kumpulan ide secara tertulis. “Bahan Kertas itu apa?” tanya saya padanya. Saya bukan berusaha menguji, tetapi mencoba meyakinkan dari pertanyaan tersebut. Ia mengatakan bahan kertas adalah serat kayu. Tentu saya setuju. Saya bukan orang yang benar-benar tahu bahan dasar kertas sebab belum pernah berkunjung ke pabrik kertas, tetapi dari beberapa sumber yang saya dapat, ya, bahan dasar kertas adalah kayu.

“Kursi juga banyak dari kayu, tapi kita duduki, kok. Tidak ada masalah sama sekali dengan itu.” kata saya padanya.

Dia masih tidak menerima alasan itu dan tetap tidak setuju kalau saya menaruh buku di bawah jok. Dia pun mengatakan bahwa Dewi Saraswati itu ada pada tulisannya, bukan pada kertasnya saja. Jawabannya yang ini membuat saya benar-benar tidak setuju, sebab ada banyak tulisan di bangku ketika saya SD bahkan hingga SMA. Itu juga tak ada masalah. Bahkan, nama orang yang sedang jatuh cinta bisa jadi ditulis pada salah satu bangku. Betapa tulisan itu dianggap sesuatu yang sakral barangkali oleh penulisnya. “Tapi saya duduk dan tidak masalah, teman-teman saya juga” kata saya padanya.

Teman saya mulai menaikkan nada bicaranya. Saya agak curiga, yang membuatnya menaikkan nada bukan karena bantahan saya, tetapi karena lelah oleh perjalanan dan sambal nasi lawar yang pedas. Waktu itu air juga belum datang. Untung saya langsung berinisiatif untuk mengambil minuman dingin. Saat dia membantah, nadanya tinggi dan cukup keras, tentu saja saya beranjak menuju ke kulkas untuk mengambil sebotol minuman. Saya tawari dia minum terlebih dahulu.

Dia menurut, minum dan langsung dihabisinya minuman itu. Tetapi, nadanya masih tinggi ketika berkata, “buku adalah sumber pengetahuan! Buku adalah jendela dunia!”. Mengingat keadaannya, saya menyetujui saja lalu mengambil minuman dingin lagi untuk diri saya sendiri. Pembicaraan ini saya hentikan karena takut membuatnya tak nyaman ketika di perjalanan nanti.

Hingga kini, sesungguhnya saya masih beranggapan buku dengan pandangan saya. Buku sama dengan kursi, dengan motor yang didominasi produk Jepang dan tak pernah ragu untuk diduduki, dengan kloset jongkok atau duduk merk Amerika, dengan sandal dari negara-negara lain. Bedanya buku berbicara ide secara tertulis. Memang buku memberi pengetahuan, tetapi apabila diperhatikan, hal yang paling dekat sekali pun, kursi misalnya, tanpa tulisan nakal anak sekolahan pun sesungguhnya adalah ide yang berbentuk.

Mungkin kursi memang telah memiliki nilai sebagai tempat duduk, tetapi dalam konteks ketika saya menaruh buku di bawah jok, bukankah itu sesungguhnya bukan suatu kesengajaan untuk mendudukinya?

Saya pikir motor pun memiliki kesamaan dengan buku. Orang bisa belajar dari buku, begitupun dari kursi dan motor atau joknya. Tetapi, saya rasa tak ada hari istimewa untuk kursi, kecuali bentuknya yang diadopsi menjadi pelinggih. Tetapi ada hari istimewa untuk motor, itupun tak jadi alasan untuk ragu duduk di motor.

Sampai di rumah, saya kemudian pergi ke sebuah ruangan untuk mengambil air minum dan makanan ringan. Saya melihat ke pelangkiran yang ada di ruangan itu. Pandangan saya langsung tertuju ke sana sebab saya lihat ada tumpukan canang segar yang cukup tinggi dan asap yang keluar dari dupa. Buku tebal bertuliskan Bhagavad-Gita yang rupanya menyebabkan tumpukan canang semakin tinggi. 

Kebetulan, ketika itu ada kedua orang tua saya. Saya bertanya siapa pemilik buku itu. Ibu saya menjawab, bahwa itu bukunya. Lalu saya bertanya, “Sudah dibaca?”

“Belum” katanya santai sambil mengunyah nikmatnya nasi lawar dicampur kuah serapah yang saya bawakan. Sementara dupa masih menyala semakin pendek di bawah canang, di bawah buku. [T]

Tags: BukuDewi SaraswatiHari Saraswati
Share31TweetSendShareSend
Previous Post

Puasa Tapi Foya-Foya

Next Post

Mencintai Kesejatian Diri

Agus Wiratama

Agus Wiratama

Agus Wiratama adalah penulis, aktor, produser teater dan pertunjukan kelahiran 1995 yang aktif di Mulawali Performance Forum. Ia menjadi manajer program di Mulawali Institute, sebuah lembaga kajian, manajemen, dan produksi seni pertunjukan berbasis di Bali.

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Mencintai Kesejatian Diri

Mencintai Kesejatian Diri

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co