23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Buku dan Jok yang Tabu – Catatan Perjalanan dari Bandara

Agus Wiratama by Agus Wiratama
May 13, 2019
in Esai
Buku dan Jok yang Tabu – Catatan Perjalanan dari Bandara

tatkala

Beberapa bulan yang lalu saya menjemput seorang teman ke bandara yang katanya akan menikmati jatah libur dari pekerjaannya di Jakarta. Seperti orang pulang kampung pada umumnya, teman saya membawa banyak barang. Mungkin baju atau oleh-oleh. Sebetulnya saya tidak peduli, sebab setiap pulang dari Jakarta dia selalu membawa banyak barang.

Jadi, saya tidak perlu kaget lagi. Ketika pulang, kami mencoba memasuki jalan-jalan kecil dari bandara menuju rumah. Rupanya kami tembus ke jalan Teuku Umar Denpasar. Kebetulan toko buku posisinya dekat dengan jalan itu. Saya mengajaknya singgah ke sana dengan barang bawaan yang cukup merepotkan dan dia setuju.

Tak perlu waktu lama di toko buku, kami kembali ke motor untuk melanjutkan perjalanan. Dengan barang yang dia bawa termasuk di kaki saya yang sudah diisi barangnya, tempat yang satu-satunya kosong melompong adalah bagasi motor yang cukup luas. Pertimbangan itu membuat saya berencana memasukkan beberapa buku yang saya beli ke bagasi. Ketika bagasi telah terbuka, lalu saya meminta buku yang sementara ia pegang.

Dia bertanya, “untuk apa?”  Saya katakan bahwa sebaiknya buku ditaruh saja di bagasi, di bawah jok. Dengan tegas dia menolak, “Buku adalah Dewi Saraswati. Masak dipantati, aku bawa aja”.

Di perut teman saya ada sebuah tas, di punggungnya, dua tas ukuran sedang di tangan kanan dan kiri. Kondisi seperti itu membuat saya bingung, antara memberi saran menaruh dulu anggapannya, atau memberitahu anggapan saya.

Saya mengatakan bahwa tak ada maksud saya menduduki buku, tetapi barang bawaan yang berlebihan membuat saya berpikir pilihan terakhir adalah bawah jok, “Toh Tuhan pemaaf, nanti sampai di rumah kita minta maaf” ujar saya sambil tertawa, tetapi dia tetap bersikeras bahwa buku itu sebaiknya dibawa saja dari pada diletakkan di bawah jok. Akhirnya saya mengalah, toh yang beban bukan saya.

Sesungguhnya dia bukan orang yang ambisius dengan buku, hampir mirip dengan saya. Tetapi bedanya, kalau dia membeli buku kemudian selesai atau tidak bacaannya, beberapa hari kemudian akan dia berikan pada saya. Sementara saya, selesai tidak selesai buku dibaca, tidak akan saya berikan padanya.

Ketika kami melanjutkan perjalanan, tiba-tiba kami ingat sebuah warung nasi campur lawar. Kali ini kami sepakat untuk singgah. Saya banyak bertanya padanya tentang pekerjaannya, kelelahannya, waktunya bekerja, hingga gajinya. Kami cukup lama berbincang di sana—perbincangan yang saya rasa tidak terlalu serius.

Semua pertanyaan tadi dijawab dengan tertawa-tawa. Sampai pada akhrinya saya teringat lagi dengan kejadian di parkiran toko buku. Saya bertanya padanya, “kenapa kau begitu takut meletakkan buku di bawah jok?”.

Dia menjelaskan dengan berapi-api bahwa buku adalah representasi Dewi Saraswati. Tentu saja kali ini adalah kesempatan yang tepat untuk memberitahu alasan saya meletakkan buku di jok. Tentu alasannya bukan tentang barang bawaan melulu. Bagi saya, hal ini harus dijelaskan sebab apabila tidak dijelaskan, saya kawatir akan dicap tak percaya pada Tuhan. Cap seperti itu belakangan menjadi satu hal yang murah diberikan pada orang.

Saya mengatakan padanya bahwa buku adalah kumpulan ide secara tertulis. “Bahan Kertas itu apa?” tanya saya padanya. Saya bukan berusaha menguji, tetapi mencoba meyakinkan dari pertanyaan tersebut. Ia mengatakan bahan kertas adalah serat kayu. Tentu saya setuju. Saya bukan orang yang benar-benar tahu bahan dasar kertas sebab belum pernah berkunjung ke pabrik kertas, tetapi dari beberapa sumber yang saya dapat, ya, bahan dasar kertas adalah kayu.

“Kursi juga banyak dari kayu, tapi kita duduki, kok. Tidak ada masalah sama sekali dengan itu.” kata saya padanya.

Dia masih tidak menerima alasan itu dan tetap tidak setuju kalau saya menaruh buku di bawah jok. Dia pun mengatakan bahwa Dewi Saraswati itu ada pada tulisannya, bukan pada kertasnya saja. Jawabannya yang ini membuat saya benar-benar tidak setuju, sebab ada banyak tulisan di bangku ketika saya SD bahkan hingga SMA. Itu juga tak ada masalah. Bahkan, nama orang yang sedang jatuh cinta bisa jadi ditulis pada salah satu bangku. Betapa tulisan itu dianggap sesuatu yang sakral barangkali oleh penulisnya. “Tapi saya duduk dan tidak masalah, teman-teman saya juga” kata saya padanya.

Teman saya mulai menaikkan nada bicaranya. Saya agak curiga, yang membuatnya menaikkan nada bukan karena bantahan saya, tetapi karena lelah oleh perjalanan dan sambal nasi lawar yang pedas. Waktu itu air juga belum datang. Untung saya langsung berinisiatif untuk mengambil minuman dingin. Saat dia membantah, nadanya tinggi dan cukup keras, tentu saja saya beranjak menuju ke kulkas untuk mengambil sebotol minuman. Saya tawari dia minum terlebih dahulu.

Dia menurut, minum dan langsung dihabisinya minuman itu. Tetapi, nadanya masih tinggi ketika berkata, “buku adalah sumber pengetahuan! Buku adalah jendela dunia!”. Mengingat keadaannya, saya menyetujui saja lalu mengambil minuman dingin lagi untuk diri saya sendiri. Pembicaraan ini saya hentikan karena takut membuatnya tak nyaman ketika di perjalanan nanti.

Hingga kini, sesungguhnya saya masih beranggapan buku dengan pandangan saya. Buku sama dengan kursi, dengan motor yang didominasi produk Jepang dan tak pernah ragu untuk diduduki, dengan kloset jongkok atau duduk merk Amerika, dengan sandal dari negara-negara lain. Bedanya buku berbicara ide secara tertulis. Memang buku memberi pengetahuan, tetapi apabila diperhatikan, hal yang paling dekat sekali pun, kursi misalnya, tanpa tulisan nakal anak sekolahan pun sesungguhnya adalah ide yang berbentuk.

Mungkin kursi memang telah memiliki nilai sebagai tempat duduk, tetapi dalam konteks ketika saya menaruh buku di bawah jok, bukankah itu sesungguhnya bukan suatu kesengajaan untuk mendudukinya?

Saya pikir motor pun memiliki kesamaan dengan buku. Orang bisa belajar dari buku, begitupun dari kursi dan motor atau joknya. Tetapi, saya rasa tak ada hari istimewa untuk kursi, kecuali bentuknya yang diadopsi menjadi pelinggih. Tetapi ada hari istimewa untuk motor, itupun tak jadi alasan untuk ragu duduk di motor.

Sampai di rumah, saya kemudian pergi ke sebuah ruangan untuk mengambil air minum dan makanan ringan. Saya melihat ke pelangkiran yang ada di ruangan itu. Pandangan saya langsung tertuju ke sana sebab saya lihat ada tumpukan canang segar yang cukup tinggi dan asap yang keluar dari dupa. Buku tebal bertuliskan Bhagavad-Gita yang rupanya menyebabkan tumpukan canang semakin tinggi. 

Kebetulan, ketika itu ada kedua orang tua saya. Saya bertanya siapa pemilik buku itu. Ibu saya menjawab, bahwa itu bukunya. Lalu saya bertanya, “Sudah dibaca?”

“Belum” katanya santai sambil mengunyah nikmatnya nasi lawar dicampur kuah serapah yang saya bawakan. Sementara dupa masih menyala semakin pendek di bawah canang, di bawah buku. [T]

Tags: BukuDewi SaraswatiHari Saraswati
Share31TweetSendShareSend
Previous Post

Puasa Tapi Foya-Foya

Next Post

Mencintai Kesejatian Diri

Agus Wiratama

Agus Wiratama

Agus Wiratama adalah penulis, aktor, produser teater dan pertunjukan kelahiran 1995 yang aktif di Mulawali Performance Forum. Ia menjadi manajer program di Mulawali Institute, sebuah lembaga kajian, manajemen, dan produksi seni pertunjukan berbasis di Bali.

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Mencintai Kesejatian Diri

Mencintai Kesejatian Diri

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co