2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Buku dan Jok yang Tabu – Catatan Perjalanan dari Bandara

Agus Wiratama by Agus Wiratama
May 13, 2019
in Esai
Buku dan Jok yang Tabu – Catatan Perjalanan dari Bandara

tatkala

Beberapa bulan yang lalu saya menjemput seorang teman ke bandara yang katanya akan menikmati jatah libur dari pekerjaannya di Jakarta. Seperti orang pulang kampung pada umumnya, teman saya membawa banyak barang. Mungkin baju atau oleh-oleh. Sebetulnya saya tidak peduli, sebab setiap pulang dari Jakarta dia selalu membawa banyak barang.

Jadi, saya tidak perlu kaget lagi. Ketika pulang, kami mencoba memasuki jalan-jalan kecil dari bandara menuju rumah. Rupanya kami tembus ke jalan Teuku Umar Denpasar. Kebetulan toko buku posisinya dekat dengan jalan itu. Saya mengajaknya singgah ke sana dengan barang bawaan yang cukup merepotkan dan dia setuju.

Tak perlu waktu lama di toko buku, kami kembali ke motor untuk melanjutkan perjalanan. Dengan barang yang dia bawa termasuk di kaki saya yang sudah diisi barangnya, tempat yang satu-satunya kosong melompong adalah bagasi motor yang cukup luas. Pertimbangan itu membuat saya berencana memasukkan beberapa buku yang saya beli ke bagasi. Ketika bagasi telah terbuka, lalu saya meminta buku yang sementara ia pegang.

Dia bertanya, “untuk apa?”  Saya katakan bahwa sebaiknya buku ditaruh saja di bagasi, di bawah jok. Dengan tegas dia menolak, “Buku adalah Dewi Saraswati. Masak dipantati, aku bawa aja”.

Di perut teman saya ada sebuah tas, di punggungnya, dua tas ukuran sedang di tangan kanan dan kiri. Kondisi seperti itu membuat saya bingung, antara memberi saran menaruh dulu anggapannya, atau memberitahu anggapan saya.

Saya mengatakan bahwa tak ada maksud saya menduduki buku, tetapi barang bawaan yang berlebihan membuat saya berpikir pilihan terakhir adalah bawah jok, “Toh Tuhan pemaaf, nanti sampai di rumah kita minta maaf” ujar saya sambil tertawa, tetapi dia tetap bersikeras bahwa buku itu sebaiknya dibawa saja dari pada diletakkan di bawah jok. Akhirnya saya mengalah, toh yang beban bukan saya.

Sesungguhnya dia bukan orang yang ambisius dengan buku, hampir mirip dengan saya. Tetapi bedanya, kalau dia membeli buku kemudian selesai atau tidak bacaannya, beberapa hari kemudian akan dia berikan pada saya. Sementara saya, selesai tidak selesai buku dibaca, tidak akan saya berikan padanya.

Ketika kami melanjutkan perjalanan, tiba-tiba kami ingat sebuah warung nasi campur lawar. Kali ini kami sepakat untuk singgah. Saya banyak bertanya padanya tentang pekerjaannya, kelelahannya, waktunya bekerja, hingga gajinya. Kami cukup lama berbincang di sana—perbincangan yang saya rasa tidak terlalu serius.

Semua pertanyaan tadi dijawab dengan tertawa-tawa. Sampai pada akhrinya saya teringat lagi dengan kejadian di parkiran toko buku. Saya bertanya padanya, “kenapa kau begitu takut meletakkan buku di bawah jok?”.

Dia menjelaskan dengan berapi-api bahwa buku adalah representasi Dewi Saraswati. Tentu saja kali ini adalah kesempatan yang tepat untuk memberitahu alasan saya meletakkan buku di jok. Tentu alasannya bukan tentang barang bawaan melulu. Bagi saya, hal ini harus dijelaskan sebab apabila tidak dijelaskan, saya kawatir akan dicap tak percaya pada Tuhan. Cap seperti itu belakangan menjadi satu hal yang murah diberikan pada orang.

Saya mengatakan padanya bahwa buku adalah kumpulan ide secara tertulis. “Bahan Kertas itu apa?” tanya saya padanya. Saya bukan berusaha menguji, tetapi mencoba meyakinkan dari pertanyaan tersebut. Ia mengatakan bahan kertas adalah serat kayu. Tentu saya setuju. Saya bukan orang yang benar-benar tahu bahan dasar kertas sebab belum pernah berkunjung ke pabrik kertas, tetapi dari beberapa sumber yang saya dapat, ya, bahan dasar kertas adalah kayu.

“Kursi juga banyak dari kayu, tapi kita duduki, kok. Tidak ada masalah sama sekali dengan itu.” kata saya padanya.

Dia masih tidak menerima alasan itu dan tetap tidak setuju kalau saya menaruh buku di bawah jok. Dia pun mengatakan bahwa Dewi Saraswati itu ada pada tulisannya, bukan pada kertasnya saja. Jawabannya yang ini membuat saya benar-benar tidak setuju, sebab ada banyak tulisan di bangku ketika saya SD bahkan hingga SMA. Itu juga tak ada masalah. Bahkan, nama orang yang sedang jatuh cinta bisa jadi ditulis pada salah satu bangku. Betapa tulisan itu dianggap sesuatu yang sakral barangkali oleh penulisnya. “Tapi saya duduk dan tidak masalah, teman-teman saya juga” kata saya padanya.

Teman saya mulai menaikkan nada bicaranya. Saya agak curiga, yang membuatnya menaikkan nada bukan karena bantahan saya, tetapi karena lelah oleh perjalanan dan sambal nasi lawar yang pedas. Waktu itu air juga belum datang. Untung saya langsung berinisiatif untuk mengambil minuman dingin. Saat dia membantah, nadanya tinggi dan cukup keras, tentu saja saya beranjak menuju ke kulkas untuk mengambil sebotol minuman. Saya tawari dia minum terlebih dahulu.

Dia menurut, minum dan langsung dihabisinya minuman itu. Tetapi, nadanya masih tinggi ketika berkata, “buku adalah sumber pengetahuan! Buku adalah jendela dunia!”. Mengingat keadaannya, saya menyetujui saja lalu mengambil minuman dingin lagi untuk diri saya sendiri. Pembicaraan ini saya hentikan karena takut membuatnya tak nyaman ketika di perjalanan nanti.

Hingga kini, sesungguhnya saya masih beranggapan buku dengan pandangan saya. Buku sama dengan kursi, dengan motor yang didominasi produk Jepang dan tak pernah ragu untuk diduduki, dengan kloset jongkok atau duduk merk Amerika, dengan sandal dari negara-negara lain. Bedanya buku berbicara ide secara tertulis. Memang buku memberi pengetahuan, tetapi apabila diperhatikan, hal yang paling dekat sekali pun, kursi misalnya, tanpa tulisan nakal anak sekolahan pun sesungguhnya adalah ide yang berbentuk.

Mungkin kursi memang telah memiliki nilai sebagai tempat duduk, tetapi dalam konteks ketika saya menaruh buku di bawah jok, bukankah itu sesungguhnya bukan suatu kesengajaan untuk mendudukinya?

Saya pikir motor pun memiliki kesamaan dengan buku. Orang bisa belajar dari buku, begitupun dari kursi dan motor atau joknya. Tetapi, saya rasa tak ada hari istimewa untuk kursi, kecuali bentuknya yang diadopsi menjadi pelinggih. Tetapi ada hari istimewa untuk motor, itupun tak jadi alasan untuk ragu duduk di motor.

Sampai di rumah, saya kemudian pergi ke sebuah ruangan untuk mengambil air minum dan makanan ringan. Saya melihat ke pelangkiran yang ada di ruangan itu. Pandangan saya langsung tertuju ke sana sebab saya lihat ada tumpukan canang segar yang cukup tinggi dan asap yang keluar dari dupa. Buku tebal bertuliskan Bhagavad-Gita yang rupanya menyebabkan tumpukan canang semakin tinggi. 

Kebetulan, ketika itu ada kedua orang tua saya. Saya bertanya siapa pemilik buku itu. Ibu saya menjawab, bahwa itu bukunya. Lalu saya bertanya, “Sudah dibaca?”

“Belum” katanya santai sambil mengunyah nikmatnya nasi lawar dicampur kuah serapah yang saya bawakan. Sementara dupa masih menyala semakin pendek di bawah canang, di bawah buku. [T]

Tags: BukuDewi SaraswatiHari Saraswati
Share31TweetSendShareSend
Previous Post

Puasa Tapi Foya-Foya

Next Post

Mencintai Kesejatian Diri

Agus Wiratama

Agus Wiratama

Agus Wiratama adalah penulis, aktor, produser teater dan pertunjukan kelahiran 1995 yang aktif di Mulawali Performance Forum. Ia menjadi manajer program di Mulawali Institute, sebuah lembaga kajian, manajemen, dan produksi seni pertunjukan berbasis di Bali.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Mencintai Kesejatian Diri

Mencintai Kesejatian Diri

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co