26 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ritual ‘Ngalaksa’ di Baduy :  Model Sensus Terakurat dan Mutakhir

Asep Kurnia by Asep Kurnia
April 13, 2026
in Esai
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

Asep Kurnia

SAMPAI saat ini Suku Baduy tetap menjadi bagian yang tak terpisahkan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan berbagai konstelasinya, keunikan, kesakralan serta keteguhan memegang prinsip hukum adat. Menurut data di kementrian kebudayaan, Baduy termasuk bagian dari Komunitas Adat Terpencil ( KAT) di mana keunikan karakteristik budaya serta tatanan hukum adat yang sering disebut Pikukuh Karuhun ( Amanat Leluhur) yang dimilikinya memiliki nilai jual yang sangat tinggi dan sering disebut sebagai aset sekaligus omset bagi pemerintah daerah Lebak dan tentunya bagi Provinsi Banten.

Salah satu keunikan budaya yang mereka pegang teguh keberadaannya adalah Ritual Ngalaksa sebagai kelanjutan yang tak terpisahkan dari yang namanya kegiatan adat Kawalu yang kemudian nanti diakhiri oleh Ritual Seba sebagai puncak kegiatan mengakhiri akhir tahun sekaligus mengawali tahun baru kesukuan mereka.

Banyak hal yang menarik untuk dibedah perihal kegiatan adat bernama Ngalaksa ini. Misalnya : apakah Ngalaksa itu semacam kegiatan membuat laksa ( mi buatan tradisional) ataukah ada penjelasan lainnya.

Kesakralan Ngalaksa Bagi Warga Baduy

Menurut penjelasan Jaro Dainah yang menjabat Jaro Pamarentah Desa Kanekes selama 3 periode berturut turut dan merupakan Jaro yang tegas, berani, serta berjiwa pembaharu ( agent of change), bahwa Ngalaksa itu  adalah ritual paling penting di antara yang sama sama penting dan wajib bagi masyarakat Baduy. Mengapa dianggap paling penting? Karena salah satu pengertian atau maksud Ngalaksa di Baduy adalah pencatatan jumlah warga atau penduduk Baduy awal tahun berjalan yang akan dilaporkan ke leluhur mereka (guriang). Bahkan bayi yang masih dikandung pun wajib dilaporkan. Pada referensi lain sering disebut “cacah jiwa” sebagai  pengontrol laju pertambahan penduduk.

Ngalaksa bagi Baduy adalah hal yang teramat penting untuk dilaksanakan oleh seluruh warga Baduy tanpa kecuali. Ngalaksa di Baduy bisa dikatagorikan sebagai sensus penduduk terakurat dan mutakhir di antara sensus yang pernah dilakukan dan tidak akan terjadi bias atau penyimpangan data, karena aturannya sangat jelas sekali bahwa seluruh warga Baduy di mana pun berada pada tanggal 21 sampai 27 bulan Katiga wajib hadir atau pulang dulu untuk mencatatkan diri pada kokolotan kampung. Tahun ini bertepatan pada tgl 8 sd 14 April 2026.

Dengan aturan yang super ketat dan tegas, bahwa seluruh warga Baduy baik warga Baduy Dalam pun demikian Baduy Luar yang menetap nyaung-nyaung (hidup di saung) di tanah Luar Ulayat Baduy, atau yang sedang kerja di mana pun harus dan wajib datang pulang kampung untuk mecatatkan diri pada tetua adat di masing kampung  atau dangka agar tercatat sekaligus terakui  sebagai warga Baduy yang akan disetorkan atau dilaporkan ke Gusti Maha Suci lalu ke leluhur (Sangiang/dangiang/guriang) mereka. Maka, sangat jelas kecil kemungkinan mereka tidak datang untuk mencatat diri, karena ada ketakutan tidak diakui sebagai warga Baduy yang tidak akan dapat perlindungan secara hukum adat maupun tidak mendapat pelindungan keselamatan.

Oleh karena itu, dipastikan Ngalaksa adalah ritual adat yang tidak akan pernah menggunakan teori “estimasi” (rumus perkiraan). Jumlah penduduk Baduy melalui ritual Ngalaksa pasti riil sesuai dengan kondisi nyata,  data fiktif atau pemalsuan data sangat  tidak mungkin terjadi. Kesahihan data akan terjamin dengan sendiri tanpa harus ada rekayasa data. Hukuman berat bagi warga Baduy yang tidak ikut Ngalaksa akan mendapat risiko buruk dalam kehidupannya karena tidak tercatat atau diakui sebagai warga Baduy yang  dilaporkan sekaligus didoakan ke Gusti Maha Suci ( guriang/karuhun ), efeknya tidak akan dilindungi oleh guriang-nya.

Tahapan Pelaksanaan  Ritual Ngalaksa

Ngalaksa adalah upacara adat Baduy yang sakral dan sangat dijaga kerahasiaan nya. Siapa pun orang luar Baduy dilarang berada di wilayah Baduy saat upacara Ngalaksa dilakukan. Ngalaksa adalah melaksanakan rukun agama Slam Sunda Wiwitan dengan fokus mendoakan keselamatan manusianya plus ngajiwa batin . Menurut keyakinan mereka batin manusia wajib disetorkan atau tedaftar untuk didoakan pada Sang pemilik manusia tentang segala aspek kehidupannya agar jiwa raga masyarakat Baduy selamat, sejahtera, aman, dan damai.

Agar semua tujuan ngalaksa tercapai dengan baik, maka Tahapan pelaksanaan Ngalaksa diatur sebagai berikut :

1. Tanggal 21 di Baduy Dalam Cikeusik dan Cikartawana (salikur)

2. Tanggal 22 di Baduy Dalam Cibeo ( dua likur)

3. Tanggal 23 di Kampung Kaduketug ( tilu likur)

4. Tanggal 24 di Dangka Cibengkung ( opat likur)

5. Tanggal 25 di Dangka Cihulu/Cipatik ( lima likur)

6. Tanggal 26 di Dangka Garehong ( genep likur)

7. Terakhir di  Dangka Warega pada tanggal 27 bulan Katiga ( tujuh likur).

Catatan penting : setelah beres Ngalaksa dua , tiga sampai empat hari  pada bulan Katiga sebelum masuk pada perhitungan tahun baru, hari -hari tersebut tidak dihitung atau tidak dimasukkan pada awal tahu baru,  tetapi dipakai sebagai waktu antara untuk menghitung, mengepaskan atau membulatkan jatuhnya awal tahun baru, mereka mengistilahkannya “Diwagekan”.

Penjelasan lain tentang Ngalaksa di Baduy adalah kegiatan melakukan pembuatan “laksa” dari tepung beras yang telah terkumpulkan dari padi seluruh warga Baduy hasil panen tahun tersebut, untuk dipakai dalam ritual adat dan sebagian digunakan untuk acara Seba yang akan diberikan pada ”  bapak gede”. Laksa tersebut wajib dibawa pada acara Seba tetapi harus dibawa oleh peserta dengan jalan kaki, tidak boleh dibawa pakai kendaraan.

Tujuannya hakikinya, laksa diserahkan oleh tokoh adat pada acara Seba ke bupati dan gubernur agar seluruh padi yang dipanen di Baduy bisa tercicipi oleh para pemimpin sehingga ada terjalin tali rasa batin antara warga Baduy dengan para pemimpin negara.

Kepercayaan dan keyakinan ini begitu melekat dan mengikat secara batiniah pada mereka. Semoga mereka tetap istiqomah memegang dan melaksanakan hukum adatnya tanpa adanya modifikasi akibat polusi budaya.

Kesimpulan : “Ngalaksa adalah cacah jiwa atau sensus penduduk paling autentik, akurat dan mutahir dan dijaga kerahasiaannya.  Jumlah penduduk asli Baduy hasil Ngalaksa tidak bisa terbuka untuk umum” ( Asep Kurnia,2026). [T]

  • Ditulis di Padepokan Sisi Leuit Perbatasan Baduy, 11 April 2026

Penulis: Asep Kurnia
Editor: Adnyana Ole

Tags: masyarakat adatProvinsi BantenSuku Baduy
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

Next Post

Perbedaan antara Pelindungan dan Perlindungan: Memahami Istilah dalam Pelestarian Bahasa

Asep Kurnia

Asep Kurnia

Pemerhati Baduy, tinggal di tapal batas Baduy

Related Posts

Merasa Bebas, Padahal Diperbudak Ego

by T.H. Hari Sucahyo
July 26, 2026
0
Merasa Bebas, Padahal Diperbudak Ego

ADA sebuah kalimat yang telah bertahan melewati pergantian zaman, melintasi peradaban, dan terus dikutip hingga hari ini: “Dan kamu akan...

Read moreDetails

“Kapan Nikah?”: Ketika Usia Jadi Alat untuk Menghakimi Perempuan

by Fitria Hani Aprina
July 25, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

"Kapan Nikah?" Dua kata yang terdengar ringan di telinga yang menanyakannya, tapi menjadi beban yang dibawa pulang bagi perempuan yang...

Read moreDetails

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

by Tri Nugroho Adi
July 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Tidak semua orang membatik untuk menghasilkan kain. Ada yang membatik agar hatinya tetap utuh." Di ruang terbuka lantai atas rumahnya,...

Read moreDetails

Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?

by Pande Susan
July 24, 2026
0
Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?

KEMERIAHAN saya sebagai generasi milenial dalam berpakaian pada masa kanak kanak sangat jauh berbeda dengan gen alpha dan gen beta...

Read moreDetails

Ketika Negara Kehilangan Hak untuk Dipercaya

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BEBERAPA waktu terakhir, publik menyaksikan pemberitaan mengenai penyitaan barang bukti berupa emas dan uang tunai dalam jumlah yang sangat besar...

Read moreDetails

Sejak Kapan Pemerintah Mengurus Orientasi Seksual Warganya?

by Surfian Rahmat AP
July 24, 2026
0
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

Salah satu indikator paling nyata dari kemunduran tata kelola pemerintahan adalah ketika negara lebih disibukkan mengatur moralitas di ruang privat...

Read moreDetails

Menyelami Air, Menyelami Kehidupan —Catatan dari Tepi Kolam tentang Klub Selam Dolphin Singaraja

by Dewa Rhadea
July 23, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

Air memiliki cara mendidik yang tidak dimiliki ruang kelas. Ia tidak pernah meninggikan suara ketika mengajarkan manusia tentang kesabaran. Ia...

Read moreDetails

Demokratisasi Suara, Krisis Pengetahuan: Tribalisme dan Ilusi Kesetaraan di Era Algoritma

by Wayan Gde Yudane
July 23, 2026
0
Demokratisasi Suara, Krisis Pengetahuan: Tribalisme dan Ilusi Kesetaraan di Era Algoritma

KETIKA kebebasan berbicara terbuka tanpa batas, yang terbebaskan bukan hanya kemampuan manusia untuk menyampaikan gagasan, tetapi juga insting purba kesukuan...

Read moreDetails

Ketika Ngopi Menjadi Cara Anak Muda Membaca Dunia

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
July 22, 2026
0
Ketika Ngopi Menjadi Cara Anak Muda Membaca Dunia

Dahulu, kopi identik dengan rutinitas orang dewasa, diseduh pagi hari, diminum di rumah, atau dinikmati di warung sambil berbincang tentang...

Read moreDetails

Siapa yang Berhak Menentukan Kebebasan Tubuh Perempuan? —-[Menanggapi Tulisan Surfian Rahmat AP]

by Early NHS
July 20, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

SEJAK dulu, tubuh perempuan selalu menjadi objek analisis dan justifikasi orang lain. Kita sering mendengar komentar terhadap cara seorang perempuan...

Read moreDetails
Next Post
Perbedaan antara Pelindungan dan Perlindungan: Memahami Istilah dalam Pelestarian Bahasa

Perbedaan antara Pelindungan dan Perlindungan: Memahami Istilah dalam Pelestarian Bahasa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi
Ulas Buku

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan
Khas

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

---Catatan dari International Craft Discussion "Prakriti–Pustaka–Padma" di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud ADA masa ketika seni kriya dipandang...

by Angga Wijaya
July 26, 2026
Merasa Bebas, Padahal Diperbudak Ego
Esai

Merasa Bebas, Padahal Diperbudak Ego

ADA sebuah kalimat yang telah bertahan melewati pergantian zaman, melintasi peradaban, dan terus dikutip hingga hari ini: “Dan kamu akan...

by T.H. Hari Sucahyo
July 26, 2026
Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan
Khas

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

KALA itu, saya berkesempatan memandu salah satu diskusi di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar. Selasa sore, 21...

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris
Khas

Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

TAWA dan percakapan dalam bahasa Inggris silih berganti memenuhi Ruang Pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), Jumat, 24 Juli...

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

“Kapan Nikah?”: Ketika Usia Jadi Alat untuk Menghakimi Perempuan

"Kapan Nikah?" Dua kata yang terdengar ringan di telinga yang menanyakannya, tapi menjadi beban yang dibawa pulang bagi perempuan yang...

by Fitria Hani Aprina
July 25, 2026
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi
Ulas Pentas

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Tidak semua orang membatik untuk menghasilkan kain. Ada yang membatik agar hatinya tetap utuh." Di ruang terbuka lantai atas rumahnya,...

by Tri Nugroho Adi
July 25, 2026
‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan
Panggung

‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan

RUANGAN Gedung Ksirarnawa mendadak sunyi. Lampu panggung meredup, hanya menyisakan seberkas cahaya yang jatuh pada seorang lelaki yang duduk di...

by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026
“Katarsis Jiwa Kelam”: Ketika Geguritan ‘Bagus Diarsa’ Menjelma Drama Musikal Kontemporer di Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

“Katarsis Jiwa Kelam”: Ketika Geguritan ‘Bagus Diarsa’ Menjelma Drama Musikal Kontemporer di Festival Seni Bali Jani 2026

KETIKA Bagus Diarsa tampak sibuk menatap layar telepon genggamnya, di sampingnya berdiri sosok berwajah penuh riasan, berbusana merah menyala. Dialah...

by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026
Menapak Jejak Rarud Batur, Mengenang Seratus Tahun Ketangguhan dari Lereng Gunung Batur
Budaya

Menapak Jejak Rarud Batur, Mengenang Seratus Tahun Ketangguhan dari Lereng Gunung Batur

DI kaki Gunung Batur, sejarah tidak hanya tersimpan dalam arsip atau cerita para tetua; tapi hidup di jalan-jalan yang pernah...

by tatkala
July 25, 2026
Orkestra Warna Kun Adnyana
Ulas Rupa

Orkestra Warna Kun Adnyana

YOGYA Annual Art ke-11 tahun 2026 dengan tema Direction (Arah) ini, menurut saya, dibuka dengan sebuah kesadaran yang tajam: bahwa...

by Hartanto
July 25, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co