22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ritual ‘Ngalaksa’ di Baduy :  Model Sensus Terakurat dan Mutakhir

Asep Kurnia by Asep Kurnia
April 13, 2026
in Esai
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

Asep Kurnia

SAMPAI saat ini Suku Baduy tetap menjadi bagian yang tak terpisahkan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan berbagai konstelasinya, keunikan, kesakralan serta keteguhan memegang prinsip hukum adat. Menurut data di kementrian kebudayaan, Baduy termasuk bagian dari Komunitas Adat Terpencil ( KAT) di mana keunikan karakteristik budaya serta tatanan hukum adat yang sering disebut Pikukuh Karuhun ( Amanat Leluhur) yang dimilikinya memiliki nilai jual yang sangat tinggi dan sering disebut sebagai aset sekaligus omset bagi pemerintah daerah Lebak dan tentunya bagi Provinsi Banten.

Salah satu keunikan budaya yang mereka pegang teguh keberadaannya adalah Ritual Ngalaksa sebagai kelanjutan yang tak terpisahkan dari yang namanya kegiatan adat Kawalu yang kemudian nanti diakhiri oleh Ritual Seba sebagai puncak kegiatan mengakhiri akhir tahun sekaligus mengawali tahun baru kesukuan mereka.

Banyak hal yang menarik untuk dibedah perihal kegiatan adat bernama Ngalaksa ini. Misalnya : apakah Ngalaksa itu semacam kegiatan membuat laksa ( mi buatan tradisional) ataukah ada penjelasan lainnya.

Kesakralan Ngalaksa Bagi Warga Baduy

Menurut penjelasan Jaro Dainah yang menjabat Jaro Pamarentah Desa Kanekes selama 3 periode berturut turut dan merupakan Jaro yang tegas, berani, serta berjiwa pembaharu ( agent of change), bahwa Ngalaksa itu  adalah ritual paling penting di antara yang sama sama penting dan wajib bagi masyarakat Baduy. Mengapa dianggap paling penting? Karena salah satu pengertian atau maksud Ngalaksa di Baduy adalah pencatatan jumlah warga atau penduduk Baduy awal tahun berjalan yang akan dilaporkan ke leluhur mereka (guriang). Bahkan bayi yang masih dikandung pun wajib dilaporkan. Pada referensi lain sering disebut “cacah jiwa” sebagai  pengontrol laju pertambahan penduduk.

Ngalaksa bagi Baduy adalah hal yang teramat penting untuk dilaksanakan oleh seluruh warga Baduy tanpa kecuali. Ngalaksa di Baduy bisa dikatagorikan sebagai sensus penduduk terakurat dan mutakhir di antara sensus yang pernah dilakukan dan tidak akan terjadi bias atau penyimpangan data, karena aturannya sangat jelas sekali bahwa seluruh warga Baduy di mana pun berada pada tanggal 21 sampai 27 bulan Katiga wajib hadir atau pulang dulu untuk mencatatkan diri pada kokolotan kampung. Tahun ini bertepatan pada tgl 8 sd 14 April 2026.

Dengan aturan yang super ketat dan tegas, bahwa seluruh warga Baduy baik warga Baduy Dalam pun demikian Baduy Luar yang menetap nyaung-nyaung (hidup di saung) di tanah Luar Ulayat Baduy, atau yang sedang kerja di mana pun harus dan wajib datang pulang kampung untuk mecatatkan diri pada tetua adat di masing kampung  atau dangka agar tercatat sekaligus terakui  sebagai warga Baduy yang akan disetorkan atau dilaporkan ke Gusti Maha Suci lalu ke leluhur (Sangiang/dangiang/guriang) mereka. Maka, sangat jelas kecil kemungkinan mereka tidak datang untuk mencatat diri, karena ada ketakutan tidak diakui sebagai warga Baduy yang tidak akan dapat perlindungan secara hukum adat maupun tidak mendapat pelindungan keselamatan.

Oleh karena itu, dipastikan Ngalaksa adalah ritual adat yang tidak akan pernah menggunakan teori “estimasi” (rumus perkiraan). Jumlah penduduk Baduy melalui ritual Ngalaksa pasti riil sesuai dengan kondisi nyata,  data fiktif atau pemalsuan data sangat  tidak mungkin terjadi. Kesahihan data akan terjamin dengan sendiri tanpa harus ada rekayasa data. Hukuman berat bagi warga Baduy yang tidak ikut Ngalaksa akan mendapat risiko buruk dalam kehidupannya karena tidak tercatat atau diakui sebagai warga Baduy yang  dilaporkan sekaligus didoakan ke Gusti Maha Suci ( guriang/karuhun ), efeknya tidak akan dilindungi oleh guriang-nya.

Tahapan Pelaksanaan  Ritual Ngalaksa

Ngalaksa adalah upacara adat Baduy yang sakral dan sangat dijaga kerahasiaan nya. Siapa pun orang luar Baduy dilarang berada di wilayah Baduy saat upacara Ngalaksa dilakukan. Ngalaksa adalah melaksanakan rukun agama Slam Sunda Wiwitan dengan fokus mendoakan keselamatan manusianya plus ngajiwa batin . Menurut keyakinan mereka batin manusia wajib disetorkan atau tedaftar untuk didoakan pada Sang pemilik manusia tentang segala aspek kehidupannya agar jiwa raga masyarakat Baduy selamat, sejahtera, aman, dan damai.

Agar semua tujuan ngalaksa tercapai dengan baik, maka Tahapan pelaksanaan Ngalaksa diatur sebagai berikut :

1. Tanggal 21 di Baduy Dalam Cikeusik dan Cikartawana (salikur)

2. Tanggal 22 di Baduy Dalam Cibeo ( dua likur)

3. Tanggal 23 di Kampung Kaduketug ( tilu likur)

4. Tanggal 24 di Dangka Cibengkung ( opat likur)

5. Tanggal 25 di Dangka Cihulu/Cipatik ( lima likur)

6. Tanggal 26 di Dangka Garehong ( genep likur)

7. Terakhir di  Dangka Warega pada tanggal 27 bulan Katiga ( tujuh likur).

Catatan penting : setelah beres Ngalaksa dua , tiga sampai empat hari  pada bulan Katiga sebelum masuk pada perhitungan tahun baru, hari -hari tersebut tidak dihitung atau tidak dimasukkan pada awal tahu baru,  tetapi dipakai sebagai waktu antara untuk menghitung, mengepaskan atau membulatkan jatuhnya awal tahun baru, mereka mengistilahkannya “Diwagekan”.

Penjelasan lain tentang Ngalaksa di Baduy adalah kegiatan melakukan pembuatan “laksa” dari tepung beras yang telah terkumpulkan dari padi seluruh warga Baduy hasil panen tahun tersebut, untuk dipakai dalam ritual adat dan sebagian digunakan untuk acara Seba yang akan diberikan pada ”  bapak gede”. Laksa tersebut wajib dibawa pada acara Seba tetapi harus dibawa oleh peserta dengan jalan kaki, tidak boleh dibawa pakai kendaraan.

Tujuannya hakikinya, laksa diserahkan oleh tokoh adat pada acara Seba ke bupati dan gubernur agar seluruh padi yang dipanen di Baduy bisa tercicipi oleh para pemimpin sehingga ada terjalin tali rasa batin antara warga Baduy dengan para pemimpin negara.

Kepercayaan dan keyakinan ini begitu melekat dan mengikat secara batiniah pada mereka. Semoga mereka tetap istiqomah memegang dan melaksanakan hukum adatnya tanpa adanya modifikasi akibat polusi budaya.

Kesimpulan : “Ngalaksa adalah cacah jiwa atau sensus penduduk paling autentik, akurat dan mutahir dan dijaga kerahasiaannya.  Jumlah penduduk asli Baduy hasil Ngalaksa tidak bisa terbuka untuk umum” ( Asep Kurnia,2026). [T]

  • Ditulis di Padepokan Sisi Leuit Perbatasan Baduy, 11 April 2026

Penulis: Asep Kurnia
Editor: Adnyana Ole

Tags: masyarakat adatProvinsi BantenSuku Baduy
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

Next Post

Perbedaan antara Pelindungan dan Perlindungan: Memahami Istilah dalam Pelestarian Bahasa

Asep Kurnia

Asep Kurnia

Pemerhati Baduy, tinggal di tapal batas Baduy

Related Posts

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

by I Made Sudiana
October 19, 2026
0
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

Read moreDetails

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

by Angga Wijaya
October 18, 2026
0
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

Read moreDetails
Next Post
Perbedaan antara Pelindungan dan Perlindungan: Memahami Istilah dalam Pelestarian Bahasa

Perbedaan antara Pelindungan dan Perlindungan: Memahami Istilah dalam Pelestarian Bahasa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran
Bahasa

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional
Pendidikan

Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan teknologi di Kabupaten Buleleng. Langit Biru, siswa Timedoor Academy Singaraja,...

by Rusdy Ulu
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co