30 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ritual ‘Ngalaksa’ di Baduy :  Model Sensus Terakurat dan Mutakhir

Asep Kurnia by Asep Kurnia
April 13, 2026
in Esai
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

Asep Kurnia

SAMPAI saat ini Suku Baduy tetap menjadi bagian yang tak terpisahkan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan berbagai konstelasinya, keunikan, kesakralan serta keteguhan memegang prinsip hukum adat. Menurut data di kementrian kebudayaan, Baduy termasuk bagian dari Komunitas Adat Terpencil ( KAT) di mana keunikan karakteristik budaya serta tatanan hukum adat yang sering disebut Pikukuh Karuhun ( Amanat Leluhur) yang dimilikinya memiliki nilai jual yang sangat tinggi dan sering disebut sebagai aset sekaligus omset bagi pemerintah daerah Lebak dan tentunya bagi Provinsi Banten.

Salah satu keunikan budaya yang mereka pegang teguh keberadaannya adalah Ritual Ngalaksa sebagai kelanjutan yang tak terpisahkan dari yang namanya kegiatan adat Kawalu yang kemudian nanti diakhiri oleh Ritual Seba sebagai puncak kegiatan mengakhiri akhir tahun sekaligus mengawali tahun baru kesukuan mereka.

Banyak hal yang menarik untuk dibedah perihal kegiatan adat bernama Ngalaksa ini. Misalnya : apakah Ngalaksa itu semacam kegiatan membuat laksa ( mi buatan tradisional) ataukah ada penjelasan lainnya.

Kesakralan Ngalaksa Bagi Warga Baduy

Menurut penjelasan Jaro Dainah yang menjabat Jaro Pamarentah Desa Kanekes selama 3 periode berturut turut dan merupakan Jaro yang tegas, berani, serta berjiwa pembaharu ( agent of change), bahwa Ngalaksa itu  adalah ritual paling penting di antara yang sama sama penting dan wajib bagi masyarakat Baduy. Mengapa dianggap paling penting? Karena salah satu pengertian atau maksud Ngalaksa di Baduy adalah pencatatan jumlah warga atau penduduk Baduy awal tahun berjalan yang akan dilaporkan ke leluhur mereka (guriang). Bahkan bayi yang masih dikandung pun wajib dilaporkan. Pada referensi lain sering disebut “cacah jiwa” sebagai  pengontrol laju pertambahan penduduk.

Ngalaksa bagi Baduy adalah hal yang teramat penting untuk dilaksanakan oleh seluruh warga Baduy tanpa kecuali. Ngalaksa di Baduy bisa dikatagorikan sebagai sensus penduduk terakurat dan mutakhir di antara sensus yang pernah dilakukan dan tidak akan terjadi bias atau penyimpangan data, karena aturannya sangat jelas sekali bahwa seluruh warga Baduy di mana pun berada pada tanggal 21 sampai 27 bulan Katiga wajib hadir atau pulang dulu untuk mencatatkan diri pada kokolotan kampung. Tahun ini bertepatan pada tgl 8 sd 14 April 2026.

Dengan aturan yang super ketat dan tegas, bahwa seluruh warga Baduy baik warga Baduy Dalam pun demikian Baduy Luar yang menetap nyaung-nyaung (hidup di saung) di tanah Luar Ulayat Baduy, atau yang sedang kerja di mana pun harus dan wajib datang pulang kampung untuk mecatatkan diri pada tetua adat di masing kampung  atau dangka agar tercatat sekaligus terakui  sebagai warga Baduy yang akan disetorkan atau dilaporkan ke Gusti Maha Suci lalu ke leluhur (Sangiang/dangiang/guriang) mereka. Maka, sangat jelas kecil kemungkinan mereka tidak datang untuk mencatat diri, karena ada ketakutan tidak diakui sebagai warga Baduy yang tidak akan dapat perlindungan secara hukum adat maupun tidak mendapat pelindungan keselamatan.

Oleh karena itu, dipastikan Ngalaksa adalah ritual adat yang tidak akan pernah menggunakan teori “estimasi” (rumus perkiraan). Jumlah penduduk Baduy melalui ritual Ngalaksa pasti riil sesuai dengan kondisi nyata,  data fiktif atau pemalsuan data sangat  tidak mungkin terjadi. Kesahihan data akan terjamin dengan sendiri tanpa harus ada rekayasa data. Hukuman berat bagi warga Baduy yang tidak ikut Ngalaksa akan mendapat risiko buruk dalam kehidupannya karena tidak tercatat atau diakui sebagai warga Baduy yang  dilaporkan sekaligus didoakan ke Gusti Maha Suci ( guriang/karuhun ), efeknya tidak akan dilindungi oleh guriang-nya.

Tahapan Pelaksanaan  Ritual Ngalaksa

Ngalaksa adalah upacara adat Baduy yang sakral dan sangat dijaga kerahasiaan nya. Siapa pun orang luar Baduy dilarang berada di wilayah Baduy saat upacara Ngalaksa dilakukan. Ngalaksa adalah melaksanakan rukun agama Slam Sunda Wiwitan dengan fokus mendoakan keselamatan manusianya plus ngajiwa batin . Menurut keyakinan mereka batin manusia wajib disetorkan atau tedaftar untuk didoakan pada Sang pemilik manusia tentang segala aspek kehidupannya agar jiwa raga masyarakat Baduy selamat, sejahtera, aman, dan damai.

Agar semua tujuan ngalaksa tercapai dengan baik, maka Tahapan pelaksanaan Ngalaksa diatur sebagai berikut :

1. Tanggal 21 di Baduy Dalam Cikeusik dan Cikartawana (salikur)

2. Tanggal 22 di Baduy Dalam Cibeo ( dua likur)

3. Tanggal 23 di Kampung Kaduketug ( tilu likur)

4. Tanggal 24 di Dangka Cibengkung ( opat likur)

5. Tanggal 25 di Dangka Cihulu/Cipatik ( lima likur)

6. Tanggal 26 di Dangka Garehong ( genep likur)

7. Terakhir di  Dangka Warega pada tanggal 27 bulan Katiga ( tujuh likur).

Catatan penting : setelah beres Ngalaksa dua , tiga sampai empat hari  pada bulan Katiga sebelum masuk pada perhitungan tahun baru, hari -hari tersebut tidak dihitung atau tidak dimasukkan pada awal tahu baru,  tetapi dipakai sebagai waktu antara untuk menghitung, mengepaskan atau membulatkan jatuhnya awal tahun baru, mereka mengistilahkannya “Diwagekan”.

Penjelasan lain tentang Ngalaksa di Baduy adalah kegiatan melakukan pembuatan “laksa” dari tepung beras yang telah terkumpulkan dari padi seluruh warga Baduy hasil panen tahun tersebut, untuk dipakai dalam ritual adat dan sebagian digunakan untuk acara Seba yang akan diberikan pada ”  bapak gede”. Laksa tersebut wajib dibawa pada acara Seba tetapi harus dibawa oleh peserta dengan jalan kaki, tidak boleh dibawa pakai kendaraan.

Tujuannya hakikinya, laksa diserahkan oleh tokoh adat pada acara Seba ke bupati dan gubernur agar seluruh padi yang dipanen di Baduy bisa tercicipi oleh para pemimpin sehingga ada terjalin tali rasa batin antara warga Baduy dengan para pemimpin negara.

Kepercayaan dan keyakinan ini begitu melekat dan mengikat secara batiniah pada mereka. Semoga mereka tetap istiqomah memegang dan melaksanakan hukum adatnya tanpa adanya modifikasi akibat polusi budaya.

Kesimpulan : “Ngalaksa adalah cacah jiwa atau sensus penduduk paling autentik, akurat dan mutahir dan dijaga kerahasiaannya.  Jumlah penduduk asli Baduy hasil Ngalaksa tidak bisa terbuka untuk umum” ( Asep Kurnia,2026). [T]

  • Ditulis di Padepokan Sisi Leuit Perbatasan Baduy, 11 April 2026

Penulis: Asep Kurnia
Editor: Adnyana Ole

Tags: masyarakat adatProvinsi BantenSuku Baduy
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

Next Post

Perbedaan antara Pelindungan dan Perlindungan: Memahami Istilah dalam Pelestarian Bahasa

Asep Kurnia

Asep Kurnia

Pemerhati Baduy, tinggal di tapal batas Baduy

Related Posts

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
0
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

Read moreDetails

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

Read moreDetails

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
0
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

Read moreDetails

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

Read moreDetails

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
0
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

Read moreDetails
Next Post
Perbedaan antara Pelindungan dan Perlindungan: Memahami Istilah dalam Pelestarian Bahasa

Perbedaan antara Pelindungan dan Perlindungan: Memahami Istilah dalam Pelestarian Bahasa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas
Khas

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi
Ulas Buku

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?
Esai

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra
Esai

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

by Emi Suy
September 29, 2026
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival
Tualang

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

by I Putu Ardiyasa
September 29, 2026
Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938
Kuliner

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

CUKUP dengan uang tiga ribu rupiah saja, segelas penuh minuman es santan yang creamy dan menyegarkan sudah bisa mengalir di...

by Wahyu Mahaputra
September 28, 2026
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe
Tualang

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya
Esai

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang
Khas

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta
Cerpen

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa
Puisi

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

by Chusmeru
September 27, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co