7 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Indonesia Tidak Sedang ‘Frugal Living’

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
April 5, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

KONFLIK antara Amerika Serikat dan Iran memang sedang memanas. Bagi sebagian orang, peristiwa ini mungkin terasa jauh, macam konflik geopolitik yang hanya relevan bagi para analis internasional. Tapi faktanya, dampaknya sudah terasa sampai ke dapur kita di Indonesia.

Lihat saja bagaimana harga energi global bergejolak. Rantai pasok terganggu. Bahkan kata Reuters, pemerintah Indonesia memperkirakan perlu tambahan subsidi energi hingga sekitar Rp100 triliun untuk meredam dampaknya.  Artinya sederhana, ketika dunia memanas, yang ikut kepanasan bukan cuma negara, tapi juga rakyatnya. 

Lantas pemerintah menelurkan beberapa kebijakan untuk mengantisipasi ketidakstabilan ekonomi ini.  Termasuk ada menteri yang meminta masyarakat segera mematikan kompor kalau masakan sudah matang.  Mungkin saking pedulinya kepada rakyat kita. Dihimbau apa-apa harus irit, macam frugal living.

Apa iya sih, masyarakat Indonesia sedang disuruh menjalani frugal living, mumpung sedang tren, atau jangan-jangan sedang ditekan ke ambang batas sejauh mana bisa hidup lebih hemat lagi karena situasi global. Seperti kisah cerita dalam film “Keluarga Super Irit”.

Transformasi Ekonomi adalah Strategi Negara, Bukan Gaya Hidup

Konflik Iran–AS bukan sekadar perang militer. Ia adalah gangguan besar bagi ekonomi global, terutama di sektor energi. Indonesia, sebagai negara yang ketenteraman ekonominya masih bergantung pada stabilitas harga minyak dan rantai pasok global, otomatis jadi ikut terdampak. Logika sederhananya dengan adanya kenaikan harga minyak membuat biaya logistik naik, buntutnya harga barang jadi ikut naik. Efek domino yang sederhana, tapi efeknya merusak.

Bahkan pemerintah sendiri juga mengakui bahwa transmisi konflik ini ke Indonesia akan terasa melalui kenaikan harga energi dan komoditas.  Jadi apa-apa harus diirit, dan di sinilah frugal living tiba-tiba terasa relevan. Bukan karena kita tiba-tiba tercerahkan, tapi jelas saja, karena kita tidak punya banyak pilihan. Bahkan pegawai harus ada WFH nya, konsumsi BBM dibatasi, dan untung anak sekolah tidak jadi didaringkan.

Di tengah situasi ini, pemerintah melalui kebijakan transformasi ekonomi yang digerakkan oleh Airlangga Hartarto, berupaya unuk menjaga pertumbuhan. Salah satunya dengan mendorong sektor-sektor seperti pariwisata sebagai mesin ekonomi baru, terutama untuk mengantisipasi dampak konflik global. Secara makro, ini masuk akal.

Konon menurut para pakar ekonomi, ini masuk dalam strategi diversifikasi ekonomi dengan memperkuat sektor domestik, harapannya dapat menjaga pertumbuhan tetap stabil. Tapi di level mikro, di level rumah tangga yang tabung gasnya warna hijau melon, ceritanya berbeda. Karena ketika negara berbicara tentang pertumbuhan, rakyat sering kali sedang berbicara tentang bertahan.

Frugal living dalam definisi ideal adalah pilihan sadar, yaitu hidup hemat demi tujuan jangka panjang. Tapi dalam konteks hari ini, banyak masyarakat Indonesia justru menjalani apa yang dalam psikologi disebut constraint-driven behavior dengan kata lain perilaku karena keterbatasan.  Bukan ingin hemat, tapi harus hemat.  Ini penting dibedakan.  Karena kalau tidak, kita bisa terjebak dalam ilusi dimana seolah-olah rakyat sedang menjalani gaya hidup bijak, padahal sebenarnya mereka sedang berpayah-payah menyesuaikan diri dengan tekanan ekonomi.

Dalam setiap krisis, selalu muncul narasi yang familiar, misal rakyat harus kuat, kita harus hemat, ini semua merupakan ujian bersama dan seterusnya. Kalimat-kalimat ini tidak salah, tapi juga tidak netral. Dalam perspektif James C. Scott, masyarakat bawah di manapun juga mau tak mau memang selalu punya strategi bertahan.

Mereka kreatif, fleksibel, dan adaptif. Tapi dengan ini Scott tidak sedang memuji sistem yang dimiliki rakyat, ia justru menunjukkan bahwa ketika rakyat harus terus bertahan, ada beban struktural yang tidak terselesaikan. Dengan kata lain, sebenarnya ketahanan rakyatlah yang sering kali menjadi penyangga tak terlihat bagi sistem.

Indonesia Tahan Banting atau Terlalu Terbiasa?

Indonesia punya reputasi sebagai bangsa yang tahan banting. Krisis datang silih berganti, dan masyarakat selalu menemukan cara untuk bertahan. Sebagai warga negara pasti para pembaca yang budiman paham betul hal ini.  Tapi di sinilah problem mulai muncul. Ketika daya tahan itu terus-menerus diandalkan, ia bisa berubah fungsi, dari kekuatan riil menjadi pembenaran.

Apalagi kalau ini muncul bak kangker di benak para pengusasa. Seolah-olah, tidak apa-apa harga naik, toh rakyat pasti bisa adaptasi, tidak apa-apa tekanan ekonomi meningkat, rakyat sudah terbiasa kok. Padahal, dalam logika Pierre Bourdieu, kebiasaan bertahan alias habitus, tidak boleh dijadikan alasan untuk membiarkan ketimpangan tetap ada.

Mari kita tarik ke pertanyaan paling penting dalam ekonomi politik. Siapa yang menanggung beban dari krisis ini? Ketika konflik global memicu inflasi, kenaikan energi dan tekanan fiskal, negara berusaha menahan dengan subsidi. Tapi subsidi itu juga punya batas. Dan ketika batas itu tercapai, sebagian beban akan turun juga ke pundak masyarakat.  Tidak ada niat buruk di sini, tapi memang ini soal realitas sistem.  Dampaknya nyata dimana daya beli tergerus, pengeluaran makin ketat, pilihan makin sempit.

Saya bukan ahli ekonomi, pun bahkan tidak paham ilmu ekonomi. Tapi di berita-berita kita lihat bagaimana pemerintah bisa mengatakan bahwa ekonomi Indonesia tetap kuat secara makro. Dan saya percaya saja karena ada hitung-hitungannya dan ada angkanya.  

Cuma saja di level mikro, di level kita sebagai masyarakat sepertinya belanja harus dipangkas, harus menetapkan skala prioritas kebutuhan dan juga banyak keinginan harus ditunda. Kalau sampai di sini seolah frugal living lalu muncul, tentu bukan sebagai filosofi, tapi sebagai konsekuensi.

Jadi, Kita Sedang Apa?

Apakah Indonesia sedang menerapkan frugal living? Sebagian kecil, mungkin iya, yaitu mereka yang sadar dan memilih hidup sederhana. Tapi yang sebagian besar, mereka ini sedang menyesuaikan diri dengan tekanan ekonomi global yang tidak mereka ciptakan. Konflik Iran–AS terjadi jauh dari Indonesia. Tapi dampaknya hadir di Indonesia, yang direspon realistis oleh rakyat dengan mengurangi, menahan, dan menyesuaikan. 

Daya tahan rakyat Indonesia memang luar biasa. Tapi kita perlu hati-hati dalam memaknainya.  Karena ada perbedaan besar antara kuat karena sadar atau kuat karena terpaksa.  Jika frugal living adalah pilihan, itu kebijaksanaan. Jika frugal living adalah keterpaksaan, itu sinyal bahwa dunia sedang tidak baik-baik saja.  Dan mungkin juga bahwa sistem yang kita punya belum sepenuhnya melindungi kedaulatan rakyatnya di bidang ekonomi. 

Pada akhirnya, negara yang baik bukanlah negara yang mampu membuat rakyatnya kuat menghadapi tekanan, melainkan negara yang membuat rakyatnya tidak perlu menguat-kuatkan diri untuk sekadar hidup layak.  Tapi bagaimana pun  di tengah konflik global hari ini, kita tak perlu ragu apakah kita bisa hidup hemat, karena mau tak mau sepertinya kita jadi sadar, kok selama ini bisa terus hidup dalam mode bertahan, dan nggak rampung-rampung.

Untunglah masih ada MBG, saudara, suatu janji yang telah ditepati dan sedang diupayakan sekuatnya untuk terus ditepati. Jadi, sepertinya kita aman. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: ekonomiIndonesiaPolitik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

Next Post

Paskah untuk Semua: Kebangkitan Kasih dalam Kesadaran Universal

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Gen Alpha sebagai Penentu Destinasi Wisata

by Chusmeru
October 7, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MEMBINCANG pariwisata, nyaris tak pernah dibahas keberadaan generasi Alpha atau Gen Alpha. Padahal secara statistik Gen Alpha di Indonesia memiliki...

Read moreDetails

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
0
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

Read moreDetails

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
0
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

Read moreDetails

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails
Next Post
Paskah untuk Semua: Kebangkitan Kasih dalam Kesadaran Universal

Paskah untuk Semua: Kebangkitan Kasih dalam Kesadaran Universal

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa
Opini

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Gen Alpha sebagai Penentu Destinasi Wisata

MEMBINCANG pariwisata, nyaris tak pernah dibahas keberadaan generasi Alpha atau Gen Alpha. Padahal secara statistik Gen Alpha di Indonesia memiliki...

by Chusmeru
October 7, 2026
10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud
Pameran

10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud

SUDAH mengunjungi pameran Ten Ubud Local Artists di Sthala Ubud Bali? Jumlah karya yang disajikan tidak terlalu banyak memang, namun...

by Nyoman Budarsana
October 7, 2026
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi
Esai

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra
Esai

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop
Panggung

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co