17 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Indonesia Tidak Sedang ‘Frugal Living’

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
April 5, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

KONFLIK antara Amerika Serikat dan Iran memang sedang memanas. Bagi sebagian orang, peristiwa ini mungkin terasa jauh, macam konflik geopolitik yang hanya relevan bagi para analis internasional. Tapi faktanya, dampaknya sudah terasa sampai ke dapur kita di Indonesia.

Lihat saja bagaimana harga energi global bergejolak. Rantai pasok terganggu. Bahkan kata Reuters, pemerintah Indonesia memperkirakan perlu tambahan subsidi energi hingga sekitar Rp100 triliun untuk meredam dampaknya.  Artinya sederhana, ketika dunia memanas, yang ikut kepanasan bukan cuma negara, tapi juga rakyatnya. 

Lantas pemerintah menelurkan beberapa kebijakan untuk mengantisipasi ketidakstabilan ekonomi ini.  Termasuk ada menteri yang meminta masyarakat segera mematikan kompor kalau masakan sudah matang.  Mungkin saking pedulinya kepada rakyat kita. Dihimbau apa-apa harus irit, macam frugal living.

Apa iya sih, masyarakat Indonesia sedang disuruh menjalani frugal living, mumpung sedang tren, atau jangan-jangan sedang ditekan ke ambang batas sejauh mana bisa hidup lebih hemat lagi karena situasi global. Seperti kisah cerita dalam film “Keluarga Super Irit”.

Transformasi Ekonomi adalah Strategi Negara, Bukan Gaya Hidup

Konflik Iran–AS bukan sekadar perang militer. Ia adalah gangguan besar bagi ekonomi global, terutama di sektor energi. Indonesia, sebagai negara yang ketenteraman ekonominya masih bergantung pada stabilitas harga minyak dan rantai pasok global, otomatis jadi ikut terdampak. Logika sederhananya dengan adanya kenaikan harga minyak membuat biaya logistik naik, buntutnya harga barang jadi ikut naik. Efek domino yang sederhana, tapi efeknya merusak.

Bahkan pemerintah sendiri juga mengakui bahwa transmisi konflik ini ke Indonesia akan terasa melalui kenaikan harga energi dan komoditas.  Jadi apa-apa harus diirit, dan di sinilah frugal living tiba-tiba terasa relevan. Bukan karena kita tiba-tiba tercerahkan, tapi jelas saja, karena kita tidak punya banyak pilihan. Bahkan pegawai harus ada WFH nya, konsumsi BBM dibatasi, dan untung anak sekolah tidak jadi didaringkan.

Di tengah situasi ini, pemerintah melalui kebijakan transformasi ekonomi yang digerakkan oleh Airlangga Hartarto, berupaya unuk menjaga pertumbuhan. Salah satunya dengan mendorong sektor-sektor seperti pariwisata sebagai mesin ekonomi baru, terutama untuk mengantisipasi dampak konflik global. Secara makro, ini masuk akal.

Konon menurut para pakar ekonomi, ini masuk dalam strategi diversifikasi ekonomi dengan memperkuat sektor domestik, harapannya dapat menjaga pertumbuhan tetap stabil. Tapi di level mikro, di level rumah tangga yang tabung gasnya warna hijau melon, ceritanya berbeda. Karena ketika negara berbicara tentang pertumbuhan, rakyat sering kali sedang berbicara tentang bertahan.

Frugal living dalam definisi ideal adalah pilihan sadar, yaitu hidup hemat demi tujuan jangka panjang. Tapi dalam konteks hari ini, banyak masyarakat Indonesia justru menjalani apa yang dalam psikologi disebut constraint-driven behavior dengan kata lain perilaku karena keterbatasan.  Bukan ingin hemat, tapi harus hemat.  Ini penting dibedakan.  Karena kalau tidak, kita bisa terjebak dalam ilusi dimana seolah-olah rakyat sedang menjalani gaya hidup bijak, padahal sebenarnya mereka sedang berpayah-payah menyesuaikan diri dengan tekanan ekonomi.

Dalam setiap krisis, selalu muncul narasi yang familiar, misal rakyat harus kuat, kita harus hemat, ini semua merupakan ujian bersama dan seterusnya. Kalimat-kalimat ini tidak salah, tapi juga tidak netral. Dalam perspektif James C. Scott, masyarakat bawah di manapun juga mau tak mau memang selalu punya strategi bertahan.

Mereka kreatif, fleksibel, dan adaptif. Tapi dengan ini Scott tidak sedang memuji sistem yang dimiliki rakyat, ia justru menunjukkan bahwa ketika rakyat harus terus bertahan, ada beban struktural yang tidak terselesaikan. Dengan kata lain, sebenarnya ketahanan rakyatlah yang sering kali menjadi penyangga tak terlihat bagi sistem.

Indonesia Tahan Banting atau Terlalu Terbiasa?

Indonesia punya reputasi sebagai bangsa yang tahan banting. Krisis datang silih berganti, dan masyarakat selalu menemukan cara untuk bertahan. Sebagai warga negara pasti para pembaca yang budiman paham betul hal ini.  Tapi di sinilah problem mulai muncul. Ketika daya tahan itu terus-menerus diandalkan, ia bisa berubah fungsi, dari kekuatan riil menjadi pembenaran.

Apalagi kalau ini muncul bak kangker di benak para pengusasa. Seolah-olah, tidak apa-apa harga naik, toh rakyat pasti bisa adaptasi, tidak apa-apa tekanan ekonomi meningkat, rakyat sudah terbiasa kok. Padahal, dalam logika Pierre Bourdieu, kebiasaan bertahan alias habitus, tidak boleh dijadikan alasan untuk membiarkan ketimpangan tetap ada.

Mari kita tarik ke pertanyaan paling penting dalam ekonomi politik. Siapa yang menanggung beban dari krisis ini? Ketika konflik global memicu inflasi, kenaikan energi dan tekanan fiskal, negara berusaha menahan dengan subsidi. Tapi subsidi itu juga punya batas. Dan ketika batas itu tercapai, sebagian beban akan turun juga ke pundak masyarakat.  Tidak ada niat buruk di sini, tapi memang ini soal realitas sistem.  Dampaknya nyata dimana daya beli tergerus, pengeluaran makin ketat, pilihan makin sempit.

Saya bukan ahli ekonomi, pun bahkan tidak paham ilmu ekonomi. Tapi di berita-berita kita lihat bagaimana pemerintah bisa mengatakan bahwa ekonomi Indonesia tetap kuat secara makro. Dan saya percaya saja karena ada hitung-hitungannya dan ada angkanya.  

Cuma saja di level mikro, di level kita sebagai masyarakat sepertinya belanja harus dipangkas, harus menetapkan skala prioritas kebutuhan dan juga banyak keinginan harus ditunda. Kalau sampai di sini seolah frugal living lalu muncul, tentu bukan sebagai filosofi, tapi sebagai konsekuensi.

Jadi, Kita Sedang Apa?

Apakah Indonesia sedang menerapkan frugal living? Sebagian kecil, mungkin iya, yaitu mereka yang sadar dan memilih hidup sederhana. Tapi yang sebagian besar, mereka ini sedang menyesuaikan diri dengan tekanan ekonomi global yang tidak mereka ciptakan. Konflik Iran–AS terjadi jauh dari Indonesia. Tapi dampaknya hadir di Indonesia, yang direspon realistis oleh rakyat dengan mengurangi, menahan, dan menyesuaikan. 

Daya tahan rakyat Indonesia memang luar biasa. Tapi kita perlu hati-hati dalam memaknainya.  Karena ada perbedaan besar antara kuat karena sadar atau kuat karena terpaksa.  Jika frugal living adalah pilihan, itu kebijaksanaan. Jika frugal living adalah keterpaksaan, itu sinyal bahwa dunia sedang tidak baik-baik saja.  Dan mungkin juga bahwa sistem yang kita punya belum sepenuhnya melindungi kedaulatan rakyatnya di bidang ekonomi. 

Pada akhirnya, negara yang baik bukanlah negara yang mampu membuat rakyatnya kuat menghadapi tekanan, melainkan negara yang membuat rakyatnya tidak perlu menguat-kuatkan diri untuk sekadar hidup layak.  Tapi bagaimana pun  di tengah konflik global hari ini, kita tak perlu ragu apakah kita bisa hidup hemat, karena mau tak mau sepertinya kita jadi sadar, kok selama ini bisa terus hidup dalam mode bertahan, dan nggak rampung-rampung.

Untunglah masih ada MBG, saudara, suatu janji yang telah ditepati dan sedang diupayakan sekuatnya untuk terus ditepati. Jadi, sepertinya kita aman. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: ekonomiIndonesiaPolitik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

Next Post

Paskah untuk Semua: Kebangkitan Kasih dalam Kesadaran Universal

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Purbaya Yudhi Sadewa, Saatnya Berkarya Tanpa Pamrih di Luar Sistem

by Agung Sudarsa
September 16, 2026
0
Purbaya Yudhi Sadewa, Saatnya Berkarya Tanpa Pamrih di Luar Sistem

SENIN, 14 September 2026, tidak ada suara petir yang menggelegar. Namun, masyarakat cukup dikejutkan oleh sebuah kabar yang sesungguhnya sudah...

Read moreDetails

Suka-Duka di Rumah Sakit

by Angga Wijaya
September 15, 2026
0
Suka-Duka di Rumah Sakit

BEBERAPA minggu lalu, saya mengaitkan rumah sakit dengan konsep dukkha. Dalam Buddhisme, dukkha sering diterjemahkan sebagai penderitaan, tetapi maknanya jauh...

Read moreDetails

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
0
Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

Read moreDetails

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
0
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

Read moreDetails

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
0
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

Read moreDetails

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

Read moreDetails

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails
Next Post
Paskah untuk Semua: Kebangkitan Kasih dalam Kesadaran Universal

Paskah untuk Semua: Kebangkitan Kasih dalam Kesadaran Universal

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar
Khas

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan
Panggung

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
Lift Rumah Mewah Kalea untuk Hunian Premium
Gaya

Lift Rumah Mewah Kalea untuk Hunian Premium

SAAT ini, banyak pemilik rumah mewah di Indonesia memilih menggunakan lift rumah mewah Indonesia dari Kalea karena lift ini dapat...

by tatkala
September 16, 2026
Membaca Naga Agus Kama Loedin
Ulas Rupa

Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

by I Wayan Westa
September 16, 2026
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan
Ulas Rupa

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

by Angga Wijaya
September 16, 2026
Purbaya Yudhi Sadewa, Saatnya Berkarya Tanpa Pamrih di Luar Sistem
Esai

Purbaya Yudhi Sadewa, Saatnya Berkarya Tanpa Pamrih di Luar Sistem

SENIN, 14 September 2026, tidak ada suara petir yang menggelegar. Namun, masyarakat cukup dikejutkan oleh sebuah kabar yang sesungguhnya sudah...

by Agung Sudarsa
September 16, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026
Panggung

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
Suka-Duka di Rumah Sakit
Esai

Suka-Duka di Rumah Sakit

BEBERAPA minggu lalu, saya mengaitkan rumah sakit dengan konsep dukkha. Dalam Buddhisme, dukkha sering diterjemahkan sebagai penderitaan, tetapi maknanya jauh...

by Angga Wijaya
September 15, 2026
Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI
Esai

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”
Esai

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik
Khas

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

by Afgan Fadilla
September 14, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co