KONFLIK antara Amerika Serikat dan Iran memang sedang memanas. Bagi sebagian orang, peristiwa ini mungkin terasa jauh, macam konflik geopolitik yang hanya relevan bagi para analis internasional. Tapi faktanya, dampaknya sudah terasa sampai ke dapur kita di Indonesia.
Lihat saja bagaimana harga energi global bergejolak. Rantai pasok terganggu. Bahkan kata Reuters, pemerintah Indonesia memperkirakan perlu tambahan subsidi energi hingga sekitar Rp100 triliun untuk meredam dampaknya. Artinya sederhana, ketika dunia memanas, yang ikut kepanasan bukan cuma negara, tapi juga rakyatnya.
Lantas pemerintah menelurkan beberapa kebijakan untuk mengantisipasi ketidakstabilan ekonomi ini. Termasuk ada menteri yang meminta masyarakat segera mematikan kompor kalau masakan sudah matang. Mungkin saking pedulinya kepada rakyat kita. Dihimbau apa-apa harus irit, macam frugal living.
Apa iya sih, masyarakat Indonesia sedang disuruh menjalani frugal living, mumpung sedang tren, atau jangan-jangan sedang ditekan ke ambang batas sejauh mana bisa hidup lebih hemat lagi karena situasi global. Seperti kisah cerita dalam film “Keluarga Super Irit”.
Transformasi Ekonomi adalah Strategi Negara, Bukan Gaya Hidup
Konflik Iran–AS bukan sekadar perang militer. Ia adalah gangguan besar bagi ekonomi global, terutama di sektor energi. Indonesia, sebagai negara yang ketenteraman ekonominya masih bergantung pada stabilitas harga minyak dan rantai pasok global, otomatis jadi ikut terdampak. Logika sederhananya dengan adanya kenaikan harga minyak membuat biaya logistik naik, buntutnya harga barang jadi ikut naik. Efek domino yang sederhana, tapi efeknya merusak.
Bahkan pemerintah sendiri juga mengakui bahwa transmisi konflik ini ke Indonesia akan terasa melalui kenaikan harga energi dan komoditas. Jadi apa-apa harus diirit, dan di sinilah frugal living tiba-tiba terasa relevan. Bukan karena kita tiba-tiba tercerahkan, tapi jelas saja, karena kita tidak punya banyak pilihan. Bahkan pegawai harus ada WFH nya, konsumsi BBM dibatasi, dan untung anak sekolah tidak jadi didaringkan.
Di tengah situasi ini, pemerintah melalui kebijakan transformasi ekonomi yang digerakkan oleh Airlangga Hartarto, berupaya unuk menjaga pertumbuhan. Salah satunya dengan mendorong sektor-sektor seperti pariwisata sebagai mesin ekonomi baru, terutama untuk mengantisipasi dampak konflik global. Secara makro, ini masuk akal.
Konon menurut para pakar ekonomi, ini masuk dalam strategi diversifikasi ekonomi dengan memperkuat sektor domestik, harapannya dapat menjaga pertumbuhan tetap stabil. Tapi di level mikro, di level rumah tangga yang tabung gasnya warna hijau melon, ceritanya berbeda. Karena ketika negara berbicara tentang pertumbuhan, rakyat sering kali sedang berbicara tentang bertahan.
Frugal living dalam definisi ideal adalah pilihan sadar, yaitu hidup hemat demi tujuan jangka panjang. Tapi dalam konteks hari ini, banyak masyarakat Indonesia justru menjalani apa yang dalam psikologi disebut constraint-driven behavior dengan kata lain perilaku karena keterbatasan. Bukan ingin hemat, tapi harus hemat. Ini penting dibedakan. Karena kalau tidak, kita bisa terjebak dalam ilusi dimana seolah-olah rakyat sedang menjalani gaya hidup bijak, padahal sebenarnya mereka sedang berpayah-payah menyesuaikan diri dengan tekanan ekonomi.
Dalam setiap krisis, selalu muncul narasi yang familiar, misal rakyat harus kuat, kita harus hemat, ini semua merupakan ujian bersama dan seterusnya. Kalimat-kalimat ini tidak salah, tapi juga tidak netral. Dalam perspektif James C. Scott, masyarakat bawah di manapun juga mau tak mau memang selalu punya strategi bertahan.
Mereka kreatif, fleksibel, dan adaptif. Tapi dengan ini Scott tidak sedang memuji sistem yang dimiliki rakyat, ia justru menunjukkan bahwa ketika rakyat harus terus bertahan, ada beban struktural yang tidak terselesaikan. Dengan kata lain, sebenarnya ketahanan rakyatlah yang sering kali menjadi penyangga tak terlihat bagi sistem.
Indonesia Tahan Banting atau Terlalu Terbiasa?
Indonesia punya reputasi sebagai bangsa yang tahan banting. Krisis datang silih berganti, dan masyarakat selalu menemukan cara untuk bertahan. Sebagai warga negara pasti para pembaca yang budiman paham betul hal ini. Tapi di sinilah problem mulai muncul. Ketika daya tahan itu terus-menerus diandalkan, ia bisa berubah fungsi, dari kekuatan riil menjadi pembenaran.
Apalagi kalau ini muncul bak kangker di benak para pengusasa. Seolah-olah, tidak apa-apa harga naik, toh rakyat pasti bisa adaptasi, tidak apa-apa tekanan ekonomi meningkat, rakyat sudah terbiasa kok. Padahal, dalam logika Pierre Bourdieu, kebiasaan bertahan alias habitus, tidak boleh dijadikan alasan untuk membiarkan ketimpangan tetap ada.
Mari kita tarik ke pertanyaan paling penting dalam ekonomi politik. Siapa yang menanggung beban dari krisis ini? Ketika konflik global memicu inflasi, kenaikan energi dan tekanan fiskal, negara berusaha menahan dengan subsidi. Tapi subsidi itu juga punya batas. Dan ketika batas itu tercapai, sebagian beban akan turun juga ke pundak masyarakat. Tidak ada niat buruk di sini, tapi memang ini soal realitas sistem. Dampaknya nyata dimana daya beli tergerus, pengeluaran makin ketat, pilihan makin sempit.
Saya bukan ahli ekonomi, pun bahkan tidak paham ilmu ekonomi. Tapi di berita-berita kita lihat bagaimana pemerintah bisa mengatakan bahwa ekonomi Indonesia tetap kuat secara makro. Dan saya percaya saja karena ada hitung-hitungannya dan ada angkanya.
Cuma saja di level mikro, di level kita sebagai masyarakat sepertinya belanja harus dipangkas, harus menetapkan skala prioritas kebutuhan dan juga banyak keinginan harus ditunda. Kalau sampai di sini seolah frugal living lalu muncul, tentu bukan sebagai filosofi, tapi sebagai konsekuensi.
Jadi, Kita Sedang Apa?
Apakah Indonesia sedang menerapkan frugal living? Sebagian kecil, mungkin iya, yaitu mereka yang sadar dan memilih hidup sederhana. Tapi yang sebagian besar, mereka ini sedang menyesuaikan diri dengan tekanan ekonomi global yang tidak mereka ciptakan. Konflik Iran–AS terjadi jauh dari Indonesia. Tapi dampaknya hadir di Indonesia, yang direspon realistis oleh rakyat dengan mengurangi, menahan, dan menyesuaikan.
Daya tahan rakyat Indonesia memang luar biasa. Tapi kita perlu hati-hati dalam memaknainya. Karena ada perbedaan besar antara kuat karena sadar atau kuat karena terpaksa. Jika frugal living adalah pilihan, itu kebijaksanaan. Jika frugal living adalah keterpaksaan, itu sinyal bahwa dunia sedang tidak baik-baik saja. Dan mungkin juga bahwa sistem yang kita punya belum sepenuhnya melindungi kedaulatan rakyatnya di bidang ekonomi.
Pada akhirnya, negara yang baik bukanlah negara yang mampu membuat rakyatnya kuat menghadapi tekanan, melainkan negara yang membuat rakyatnya tidak perlu menguat-kuatkan diri untuk sekadar hidup layak. Tapi bagaimana pun di tengah konflik global hari ini, kita tak perlu ragu apakah kita bisa hidup hemat, karena mau tak mau sepertinya kita jadi sadar, kok selama ini bisa terus hidup dalam mode bertahan, dan nggak rampung-rampung.
Untunglah masih ada MBG, saudara, suatu janji yang telah ditepati dan sedang diupayakan sekuatnya untuk terus ditepati. Jadi, sepertinya kita aman. Tabik. [T]
Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole





























