28 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Indonesia Tidak Sedang ‘Frugal Living’

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
April 5, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

KONFLIK antara Amerika Serikat dan Iran memang sedang memanas. Bagi sebagian orang, peristiwa ini mungkin terasa jauh, macam konflik geopolitik yang hanya relevan bagi para analis internasional. Tapi faktanya, dampaknya sudah terasa sampai ke dapur kita di Indonesia.

Lihat saja bagaimana harga energi global bergejolak. Rantai pasok terganggu. Bahkan kata Reuters, pemerintah Indonesia memperkirakan perlu tambahan subsidi energi hingga sekitar Rp100 triliun untuk meredam dampaknya.  Artinya sederhana, ketika dunia memanas, yang ikut kepanasan bukan cuma negara, tapi juga rakyatnya. 

Lantas pemerintah menelurkan beberapa kebijakan untuk mengantisipasi ketidakstabilan ekonomi ini.  Termasuk ada menteri yang meminta masyarakat segera mematikan kompor kalau masakan sudah matang.  Mungkin saking pedulinya kepada rakyat kita. Dihimbau apa-apa harus irit, macam frugal living.

Apa iya sih, masyarakat Indonesia sedang disuruh menjalani frugal living, mumpung sedang tren, atau jangan-jangan sedang ditekan ke ambang batas sejauh mana bisa hidup lebih hemat lagi karena situasi global. Seperti kisah cerita dalam film “Keluarga Super Irit”.

Transformasi Ekonomi adalah Strategi Negara, Bukan Gaya Hidup

Konflik Iran–AS bukan sekadar perang militer. Ia adalah gangguan besar bagi ekonomi global, terutama di sektor energi. Indonesia, sebagai negara yang ketenteraman ekonominya masih bergantung pada stabilitas harga minyak dan rantai pasok global, otomatis jadi ikut terdampak. Logika sederhananya dengan adanya kenaikan harga minyak membuat biaya logistik naik, buntutnya harga barang jadi ikut naik. Efek domino yang sederhana, tapi efeknya merusak.

Bahkan pemerintah sendiri juga mengakui bahwa transmisi konflik ini ke Indonesia akan terasa melalui kenaikan harga energi dan komoditas.  Jadi apa-apa harus diirit, dan di sinilah frugal living tiba-tiba terasa relevan. Bukan karena kita tiba-tiba tercerahkan, tapi jelas saja, karena kita tidak punya banyak pilihan. Bahkan pegawai harus ada WFH nya, konsumsi BBM dibatasi, dan untung anak sekolah tidak jadi didaringkan.

Di tengah situasi ini, pemerintah melalui kebijakan transformasi ekonomi yang digerakkan oleh Airlangga Hartarto, berupaya unuk menjaga pertumbuhan. Salah satunya dengan mendorong sektor-sektor seperti pariwisata sebagai mesin ekonomi baru, terutama untuk mengantisipasi dampak konflik global. Secara makro, ini masuk akal.

Konon menurut para pakar ekonomi, ini masuk dalam strategi diversifikasi ekonomi dengan memperkuat sektor domestik, harapannya dapat menjaga pertumbuhan tetap stabil. Tapi di level mikro, di level rumah tangga yang tabung gasnya warna hijau melon, ceritanya berbeda. Karena ketika negara berbicara tentang pertumbuhan, rakyat sering kali sedang berbicara tentang bertahan.

Frugal living dalam definisi ideal adalah pilihan sadar, yaitu hidup hemat demi tujuan jangka panjang. Tapi dalam konteks hari ini, banyak masyarakat Indonesia justru menjalani apa yang dalam psikologi disebut constraint-driven behavior dengan kata lain perilaku karena keterbatasan.  Bukan ingin hemat, tapi harus hemat.  Ini penting dibedakan.  Karena kalau tidak, kita bisa terjebak dalam ilusi dimana seolah-olah rakyat sedang menjalani gaya hidup bijak, padahal sebenarnya mereka sedang berpayah-payah menyesuaikan diri dengan tekanan ekonomi.

Dalam setiap krisis, selalu muncul narasi yang familiar, misal rakyat harus kuat, kita harus hemat, ini semua merupakan ujian bersama dan seterusnya. Kalimat-kalimat ini tidak salah, tapi juga tidak netral. Dalam perspektif James C. Scott, masyarakat bawah di manapun juga mau tak mau memang selalu punya strategi bertahan.

Mereka kreatif, fleksibel, dan adaptif. Tapi dengan ini Scott tidak sedang memuji sistem yang dimiliki rakyat, ia justru menunjukkan bahwa ketika rakyat harus terus bertahan, ada beban struktural yang tidak terselesaikan. Dengan kata lain, sebenarnya ketahanan rakyatlah yang sering kali menjadi penyangga tak terlihat bagi sistem.

Indonesia Tahan Banting atau Terlalu Terbiasa?

Indonesia punya reputasi sebagai bangsa yang tahan banting. Krisis datang silih berganti, dan masyarakat selalu menemukan cara untuk bertahan. Sebagai warga negara pasti para pembaca yang budiman paham betul hal ini.  Tapi di sinilah problem mulai muncul. Ketika daya tahan itu terus-menerus diandalkan, ia bisa berubah fungsi, dari kekuatan riil menjadi pembenaran.

Apalagi kalau ini muncul bak kangker di benak para pengusasa. Seolah-olah, tidak apa-apa harga naik, toh rakyat pasti bisa adaptasi, tidak apa-apa tekanan ekonomi meningkat, rakyat sudah terbiasa kok. Padahal, dalam logika Pierre Bourdieu, kebiasaan bertahan alias habitus, tidak boleh dijadikan alasan untuk membiarkan ketimpangan tetap ada.

Mari kita tarik ke pertanyaan paling penting dalam ekonomi politik. Siapa yang menanggung beban dari krisis ini? Ketika konflik global memicu inflasi, kenaikan energi dan tekanan fiskal, negara berusaha menahan dengan subsidi. Tapi subsidi itu juga punya batas. Dan ketika batas itu tercapai, sebagian beban akan turun juga ke pundak masyarakat.  Tidak ada niat buruk di sini, tapi memang ini soal realitas sistem.  Dampaknya nyata dimana daya beli tergerus, pengeluaran makin ketat, pilihan makin sempit.

Saya bukan ahli ekonomi, pun bahkan tidak paham ilmu ekonomi. Tapi di berita-berita kita lihat bagaimana pemerintah bisa mengatakan bahwa ekonomi Indonesia tetap kuat secara makro. Dan saya percaya saja karena ada hitung-hitungannya dan ada angkanya.  

Cuma saja di level mikro, di level kita sebagai masyarakat sepertinya belanja harus dipangkas, harus menetapkan skala prioritas kebutuhan dan juga banyak keinginan harus ditunda. Kalau sampai di sini seolah frugal living lalu muncul, tentu bukan sebagai filosofi, tapi sebagai konsekuensi.

Jadi, Kita Sedang Apa?

Apakah Indonesia sedang menerapkan frugal living? Sebagian kecil, mungkin iya, yaitu mereka yang sadar dan memilih hidup sederhana. Tapi yang sebagian besar, mereka ini sedang menyesuaikan diri dengan tekanan ekonomi global yang tidak mereka ciptakan. Konflik Iran–AS terjadi jauh dari Indonesia. Tapi dampaknya hadir di Indonesia, yang direspon realistis oleh rakyat dengan mengurangi, menahan, dan menyesuaikan. 

Daya tahan rakyat Indonesia memang luar biasa. Tapi kita perlu hati-hati dalam memaknainya.  Karena ada perbedaan besar antara kuat karena sadar atau kuat karena terpaksa.  Jika frugal living adalah pilihan, itu kebijaksanaan. Jika frugal living adalah keterpaksaan, itu sinyal bahwa dunia sedang tidak baik-baik saja.  Dan mungkin juga bahwa sistem yang kita punya belum sepenuhnya melindungi kedaulatan rakyatnya di bidang ekonomi. 

Pada akhirnya, negara yang baik bukanlah negara yang mampu membuat rakyatnya kuat menghadapi tekanan, melainkan negara yang membuat rakyatnya tidak perlu menguat-kuatkan diri untuk sekadar hidup layak.  Tapi bagaimana pun  di tengah konflik global hari ini, kita tak perlu ragu apakah kita bisa hidup hemat, karena mau tak mau sepertinya kita jadi sadar, kok selama ini bisa terus hidup dalam mode bertahan, dan nggak rampung-rampung.

Untunglah masih ada MBG, saudara, suatu janji yang telah ditepati dan sedang diupayakan sekuatnya untuk terus ditepati. Jadi, sepertinya kita aman. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: ekonomiIndonesiaPolitik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

Next Post

Paskah untuk Semua: Kebangkitan Kasih dalam Kesadaran Universal

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

by Angga Wijaya
October 27, 2026
0
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

Read moreDetails

Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

by I Wayan Yudana
October 27, 2026
0
Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

Oktober selalu menjadi bulan istimewa bagi dunia pendidikan. Sekolah-sekolah menyelenggarakan Bulan Bahasa melalui berbagai kegiatan, mulai dari lomba membaca puisi,...

Read moreDetails

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

Read moreDetails

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails
Next Post
Paskah untuk Semua: Kebangkitan Kasih dalam Kesadaran Universal

Paskah untuk Semua: Kebangkitan Kasih dalam Kesadaran Universal

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara
Opini

Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara

SENIN pagi, 26 Oktober 2026, saya mengikuti sebuah diskusi di Markas Besar UNESCO, Paris, yang bertajuk Artists at Risk: Voices...

by I.G.A.K. Satrya Wibawa
October 27, 2026
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri
Esai

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

by Angga Wijaya
October 27, 2026
Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung
Esai

Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

Oktober selalu menjadi bulan istimewa bagi dunia pendidikan. Sekolah-sekolah menyelenggarakan Bulan Bahasa melalui berbagai kegiatan, mulai dari lomba membaca puisi,...

by I Wayan Yudana
October 27, 2026
Membaca  Ulang “Ubud is Winter”
Ulas Rupa

Membaca  Ulang “Ubud is Winter”

SORE menjelang senja di Gajah Mas Gallery, Pengosekan, Ubud-Gianyar, matahari kian sorong ke batas laut. Cahaya jingga yang kerap memantul...

by I Wayan Westa
October 27, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik

HUJAN mengguyur Ubud ketika malam penutupan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) hendak dimulai. Namun, hujan perlahan mereda seiring berlangsungnya...

by Dede Putra Wiguna
October 27, 2026
Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co