7 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Indonesia Tidak Sedang ‘Frugal Living’

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
April 5, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

KONFLIK antara Amerika Serikat dan Iran memang sedang memanas. Bagi sebagian orang, peristiwa ini mungkin terasa jauh, macam konflik geopolitik yang hanya relevan bagi para analis internasional. Tapi faktanya, dampaknya sudah terasa sampai ke dapur kita di Indonesia.

Lihat saja bagaimana harga energi global bergejolak. Rantai pasok terganggu. Bahkan kata Reuters, pemerintah Indonesia memperkirakan perlu tambahan subsidi energi hingga sekitar Rp100 triliun untuk meredam dampaknya.  Artinya sederhana, ketika dunia memanas, yang ikut kepanasan bukan cuma negara, tapi juga rakyatnya. 

Lantas pemerintah menelurkan beberapa kebijakan untuk mengantisipasi ketidakstabilan ekonomi ini.  Termasuk ada menteri yang meminta masyarakat segera mematikan kompor kalau masakan sudah matang.  Mungkin saking pedulinya kepada rakyat kita. Dihimbau apa-apa harus irit, macam frugal living.

Apa iya sih, masyarakat Indonesia sedang disuruh menjalani frugal living, mumpung sedang tren, atau jangan-jangan sedang ditekan ke ambang batas sejauh mana bisa hidup lebih hemat lagi karena situasi global. Seperti kisah cerita dalam film “Keluarga Super Irit”.

Transformasi Ekonomi adalah Strategi Negara, Bukan Gaya Hidup

Konflik Iran–AS bukan sekadar perang militer. Ia adalah gangguan besar bagi ekonomi global, terutama di sektor energi. Indonesia, sebagai negara yang ketenteraman ekonominya masih bergantung pada stabilitas harga minyak dan rantai pasok global, otomatis jadi ikut terdampak. Logika sederhananya dengan adanya kenaikan harga minyak membuat biaya logistik naik, buntutnya harga barang jadi ikut naik. Efek domino yang sederhana, tapi efeknya merusak.

Bahkan pemerintah sendiri juga mengakui bahwa transmisi konflik ini ke Indonesia akan terasa melalui kenaikan harga energi dan komoditas.  Jadi apa-apa harus diirit, dan di sinilah frugal living tiba-tiba terasa relevan. Bukan karena kita tiba-tiba tercerahkan, tapi jelas saja, karena kita tidak punya banyak pilihan. Bahkan pegawai harus ada WFH nya, konsumsi BBM dibatasi, dan untung anak sekolah tidak jadi didaringkan.

Di tengah situasi ini, pemerintah melalui kebijakan transformasi ekonomi yang digerakkan oleh Airlangga Hartarto, berupaya unuk menjaga pertumbuhan. Salah satunya dengan mendorong sektor-sektor seperti pariwisata sebagai mesin ekonomi baru, terutama untuk mengantisipasi dampak konflik global. Secara makro, ini masuk akal.

Konon menurut para pakar ekonomi, ini masuk dalam strategi diversifikasi ekonomi dengan memperkuat sektor domestik, harapannya dapat menjaga pertumbuhan tetap stabil. Tapi di level mikro, di level rumah tangga yang tabung gasnya warna hijau melon, ceritanya berbeda. Karena ketika negara berbicara tentang pertumbuhan, rakyat sering kali sedang berbicara tentang bertahan.

Frugal living dalam definisi ideal adalah pilihan sadar, yaitu hidup hemat demi tujuan jangka panjang. Tapi dalam konteks hari ini, banyak masyarakat Indonesia justru menjalani apa yang dalam psikologi disebut constraint-driven behavior dengan kata lain perilaku karena keterbatasan.  Bukan ingin hemat, tapi harus hemat.  Ini penting dibedakan.  Karena kalau tidak, kita bisa terjebak dalam ilusi dimana seolah-olah rakyat sedang menjalani gaya hidup bijak, padahal sebenarnya mereka sedang berpayah-payah menyesuaikan diri dengan tekanan ekonomi.

Dalam setiap krisis, selalu muncul narasi yang familiar, misal rakyat harus kuat, kita harus hemat, ini semua merupakan ujian bersama dan seterusnya. Kalimat-kalimat ini tidak salah, tapi juga tidak netral. Dalam perspektif James C. Scott, masyarakat bawah di manapun juga mau tak mau memang selalu punya strategi bertahan.

Mereka kreatif, fleksibel, dan adaptif. Tapi dengan ini Scott tidak sedang memuji sistem yang dimiliki rakyat, ia justru menunjukkan bahwa ketika rakyat harus terus bertahan, ada beban struktural yang tidak terselesaikan. Dengan kata lain, sebenarnya ketahanan rakyatlah yang sering kali menjadi penyangga tak terlihat bagi sistem.

Indonesia Tahan Banting atau Terlalu Terbiasa?

Indonesia punya reputasi sebagai bangsa yang tahan banting. Krisis datang silih berganti, dan masyarakat selalu menemukan cara untuk bertahan. Sebagai warga negara pasti para pembaca yang budiman paham betul hal ini.  Tapi di sinilah problem mulai muncul. Ketika daya tahan itu terus-menerus diandalkan, ia bisa berubah fungsi, dari kekuatan riil menjadi pembenaran.

Apalagi kalau ini muncul bak kangker di benak para pengusasa. Seolah-olah, tidak apa-apa harga naik, toh rakyat pasti bisa adaptasi, tidak apa-apa tekanan ekonomi meningkat, rakyat sudah terbiasa kok. Padahal, dalam logika Pierre Bourdieu, kebiasaan bertahan alias habitus, tidak boleh dijadikan alasan untuk membiarkan ketimpangan tetap ada.

Mari kita tarik ke pertanyaan paling penting dalam ekonomi politik. Siapa yang menanggung beban dari krisis ini? Ketika konflik global memicu inflasi, kenaikan energi dan tekanan fiskal, negara berusaha menahan dengan subsidi. Tapi subsidi itu juga punya batas. Dan ketika batas itu tercapai, sebagian beban akan turun juga ke pundak masyarakat.  Tidak ada niat buruk di sini, tapi memang ini soal realitas sistem.  Dampaknya nyata dimana daya beli tergerus, pengeluaran makin ketat, pilihan makin sempit.

Saya bukan ahli ekonomi, pun bahkan tidak paham ilmu ekonomi. Tapi di berita-berita kita lihat bagaimana pemerintah bisa mengatakan bahwa ekonomi Indonesia tetap kuat secara makro. Dan saya percaya saja karena ada hitung-hitungannya dan ada angkanya.  

Cuma saja di level mikro, di level kita sebagai masyarakat sepertinya belanja harus dipangkas, harus menetapkan skala prioritas kebutuhan dan juga banyak keinginan harus ditunda. Kalau sampai di sini seolah frugal living lalu muncul, tentu bukan sebagai filosofi, tapi sebagai konsekuensi.

Jadi, Kita Sedang Apa?

Apakah Indonesia sedang menerapkan frugal living? Sebagian kecil, mungkin iya, yaitu mereka yang sadar dan memilih hidup sederhana. Tapi yang sebagian besar, mereka ini sedang menyesuaikan diri dengan tekanan ekonomi global yang tidak mereka ciptakan. Konflik Iran–AS terjadi jauh dari Indonesia. Tapi dampaknya hadir di Indonesia, yang direspon realistis oleh rakyat dengan mengurangi, menahan, dan menyesuaikan. 

Daya tahan rakyat Indonesia memang luar biasa. Tapi kita perlu hati-hati dalam memaknainya.  Karena ada perbedaan besar antara kuat karena sadar atau kuat karena terpaksa.  Jika frugal living adalah pilihan, itu kebijaksanaan. Jika frugal living adalah keterpaksaan, itu sinyal bahwa dunia sedang tidak baik-baik saja.  Dan mungkin juga bahwa sistem yang kita punya belum sepenuhnya melindungi kedaulatan rakyatnya di bidang ekonomi. 

Pada akhirnya, negara yang baik bukanlah negara yang mampu membuat rakyatnya kuat menghadapi tekanan, melainkan negara yang membuat rakyatnya tidak perlu menguat-kuatkan diri untuk sekadar hidup layak.  Tapi bagaimana pun  di tengah konflik global hari ini, kita tak perlu ragu apakah kita bisa hidup hemat, karena mau tak mau sepertinya kita jadi sadar, kok selama ini bisa terus hidup dalam mode bertahan, dan nggak rampung-rampung.

Untunglah masih ada MBG, saudara, suatu janji yang telah ditepati dan sedang diupayakan sekuatnya untuk terus ditepati. Jadi, sepertinya kita aman. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: ekonomiIndonesiaPolitik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

Next Post

Paskah untuk Semua: Kebangkitan Kasih dalam Kesadaran Universal

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Indonesia dalam Secangkir Kopi

by Ahmad Fatoni
August 7, 2026
0
Indonesia dalam Secangkir Kopi

PAGI itu saya duduk di sebuah cafe kecil di pinggiran kota. Tidak ada yang istimewa. Meja kayu yang mulai kusam,...

Read moreDetails

“Gigolo Pendidikan”, Oemar Bakrie, dan Saat Kasih Sayang Guru Menjadi Barang Premium

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 7, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BEBERAPA hari lalu saya iseng melontarkan istilah yang terdengar keterlaluan.  Gigodik, “Gigolo Pendidikan”. Bayangan saya sederhana. Jangan-jangan sekarang ada "profesi"...

Read moreDetails

Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

by Agung Sudarsa
August 6, 2026
0
Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

Dampak Pembangunan Brutal dan Ugal-ugalan, Ledakan Kendaraan Tanpa Jeda, atau Buruknya Transportasi Umum? "Sanur makin macet, namun kenapa fasilitas wisata...

Read moreDetails

Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

by Arief Rahzen
August 6, 2026
0
Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

COBA hentikan sejenak geseran jempol Anda di atas layar gawai. Di luar sana, dunia hari ini bergerak dalam ritme yang...

Read moreDetails

Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana

by Angga Wijaya
August 6, 2026
0
Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana

KALIMAT itu masih saya ingat dengan jelas. Mendiang Bang D.S. Putra mengucapkannya suatu sore, ketika kami berbincang santai bersama beberapa...

Read moreDetails

Pertemuan Rutin, Agenda Lama: Pilkada Lewat DPRD, Lagi

by Luthfi Hasanal Bolqiah
August 5, 2026
0
Sepiring Nasi, Sekeping Legitimasi

PERTEMUAN itu seharusnya selesai sebagai berita protokoler. Pada Senin, 3 Agustus 2026, jajaran pimpinan MPR datang ke Istana Kepresidenan. Mereka...

Read moreDetails

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

by Sugi Lanus
August 4, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

Read moreDetails

Presiden di Dalam Kepala Saya

by Angga Wijaya
August 3, 2026
0
Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

Read moreDetails

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

by Chusmeru
August 3, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

Read moreDetails

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails
Next Post
Paskah untuk Semua: Kebangkitan Kasih dalam Kesadaran Universal

Paskah untuk Semua: Kebangkitan Kasih dalam Kesadaran Universal

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Indonesia dalam Secangkir Kopi
Esai

Indonesia dalam Secangkir Kopi

PAGI itu saya duduk di sebuah cafe kecil di pinggiran kota. Tidak ada yang istimewa. Meja kayu yang mulai kusam,...

by Ahmad Fatoni
August 7, 2026
Fakultas Bahasa dan Seni, UPMI Bali, Lepas 67 Sarjana dan Magister—‘Jangan Jadi Sarjana Kertas!
Pendidikan

Fakultas Bahasa dan Seni, UPMI Bali, Lepas 67 Sarjana dan Magister—‘Jangan Jadi Sarjana Kertas!

“HARI ini saya tidak sedang melihat sekelompok calon wisudawan. Saya sedang melihat sekumpulan wajah yang menyimpan cerita perjalanan yang berbeda-beda.”...

by Dede Putra Wiguna
August 7, 2026
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan
Ulas Film

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

by Satria Aditya
August 7, 2026
Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  
Tualang

Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

Sejak dahulu, Jimbaran, Kedonganan, Kelan, dan Kuta adalah daerah nelayan. Namun, yang terkenal hanya Jimbaran dan Kuta. Ketika Asosiasi Kepala...

by I Nyoman Tingkat
August 7, 2026
“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani
Ulas Rupa

“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

PADA 10 April hingga 30 Juni 2026 lalu digelar pameran 12 Perupa Perempuan Indonesia. Perhelatan ini diinisiasi Indonesian Women Artists...

by Hartanto
August 7, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“Gigolo Pendidikan”, Oemar Bakrie, dan Saat Kasih Sayang Guru Menjadi Barang Premium

BEBERAPA hari lalu saya iseng melontarkan istilah yang terdengar keterlaluan.  Gigodik, “Gigolo Pendidikan”. Bayangan saya sederhana. Jangan-jangan sekarang ada "profesi"...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 7, 2026
Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak
Khas

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

DI ruang aula SMAN 4 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa pemuda-pemudi dari Sanggar Putri Nyale duduk di kursi...

by Jaswanto
August 7, 2026
Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan
Khas

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

“Pentingnya kursus bahasa Inggris untuk semua kalangan tidak bisa diragukan lagi. Bahasa Inggris penting sebagai bahasa global, untuk dunia kerja,...

by tatkala
August 6, 2026
Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis
Esai

Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

Dampak Pembangunan Brutal dan Ugal-ugalan, Ledakan Kendaraan Tanpa Jeda, atau Buruknya Transportasi Umum? "Sanur makin macet, namun kenapa fasilitas wisata...

by Agung Sudarsa
August 6, 2026
Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi
Esai

Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

COBA hentikan sejenak geseran jempol Anda di atas layar gawai. Di luar sana, dunia hari ini bergerak dalam ritme yang...

by Arief Rahzen
August 6, 2026
Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana
Esai

Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana

KALIMAT itu masih saya ingat dengan jelas. Mendiang Bang D.S. Putra mengucapkannya suatu sore, ketika kami berbincang santai bersama beberapa...

by Angga Wijaya
August 6, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Kencan Pertama di Kafe Pinggir Sungai

KENCAN pertama untuk sebagian besar orang dianggap sesuatu yang mendebarkan. Begitu pun yang dirasakan Heru Pambudi dan Tuty Rosdiana. Belum...

by Chusmeru
August 6, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co