7 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Paskah untuk Semua: Kebangkitan Kasih dalam Kesadaran Universal

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
April 5, 2026
in Esai
Paskah untuk Semua: Kebangkitan Kasih dalam Kesadaran Universal

PERAYAAN Easter atau Paskah sering kali dipahami secara eksklusif sebagai peristiwa keagamaan dalam tradisi Kristen. Ia dikaitkan dengan kebangkitan Yesus Kristus setelah penyaliban—sebuah peristiwa sakral yang menjadi fondasi iman. Namun, jika kita menyelami lebih dalam, Paskah sesungguhnya melampaui batas agama, budaya, bahkan zaman. Ia adalah simbol universal tentang kebangkitan kesadaran, kemenangan kasih atas kebencian, dan kehidupan atas kematian.

Dalam terang pemahaman ini, Paskah bukan hanya milik umat Kristen, tetapi milik seluruh umat manusia.

Dari Salib ke Kebangkitan: Transformasi Kesadaran

Kisah penyaliban dan kebangkitan Yesus bukan sekadar sejarah, tetapi juga metafora spiritual. Salib melambangkan penderitaan, ego, keterikatan, dan segala bentuk keterbatasan manusia. Sementara kebangkitan adalah simbol pembebasan, kesadaran baru, dan kelahiran kembali dalam cinta.

Dalam perspektif ini, setiap manusia mengalami “penyaliban” dalam hidupnya—saat menghadapi penderitaan, kehilangan, atau krisis makna. Namun Paskah mengingatkan bahwa di balik setiap “kematian” selalu ada potensi kebangkitan. Bukan kebangkitan fisik semata, melainkan kebangkitan batin—kesadaran yang lebih luas, lebih dalam, dan lebih penuh kasih.

Sumber foto: FB Satu Bumi

Kasih sebagai Jalan Universal

Ajaran utama Yesus sangat sederhana namun revolusioner: kasih. “Kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri.” Bahkan lebih radikal lagi, “Kasihilah musuhmu.” Ajaran ini menembus batas logika biasa dan mengarah pada kesadaran yang lebih tinggi.

Kasih dalam konteks ini bukan sekadar emosi, tetapi kesadaran. Ia adalah cara melihat dunia tanpa pemisahan, tanpa penghakiman. Dalam bahasa spiritual universal, kasih adalah energi yang menyatukan seluruh kehidupan.

Di sinilah kita dapat melihat resonansi ajaran Yesus dengan berbagai tradisi lain. Dalam Hindu dikenal konsep ahimsa (tanpa kekerasan) dan prema (cinta kasih). Dalam Buddhisme ada metta (cinta kasih universal). Semua menunjuk pada satu realitas yang sama: bahwa inti dari kehidupan adalah kasih.

Paskah dalam Perspektif Kesadaran Holistik

Jika dikaitkan dengan konsep Pancamaya Kosha, manusia terdiri dari lima lapisan kesadaran—fisik, energi, mental, intelektual, dan kebahagiaan sejati. Paskah dapat dipahami sebagai perjalanan menembus lapisan-lapisan tersebut menuju inti terdalam: kesadaran murni.

Penyaliban terjadi ketika kita terjebak pada lapisan luar—tubuh dan pikiran yang penuh konflik. Kebangkitan terjadi ketika kita menyadari dimensi terdalam diri kita, yaitu Anandamaya Kosha—lapisan kebahagiaan dan kesatuan.

Demikian pula dalam sistem chakra, kebangkitan dapat dilihat sebagai pergerakan energi dari pusat-pusat bawah menuju pusat tertinggi, Sahasrara, yang melambangkan pencerahan dan kesatuan dengan Yang Ilahi.

Doa, Syukur, dan Kehidupan Sehari-hari

Dalam kutipan Anand Krishna disebutkan:

“Seorang yang penuh kasih adalah Ilahi, hidup dalam doa, dan senantiasa bersyukur.”

Ini adalah esensi Paskah yang paling praktis. Kebangkitan bukan hanya peristiwa sekali setahun, tetapi harus menjadi pengalaman sehari-hari.

Hidup dalam doa bukan berarti selalu melafalkan kata-kata suci, tetapi hidup dalam kesadaran. Setiap tindakan menjadi doa ketika dilakukan dengan penuh perhatian dan kasih.

Syukur adalah tanda bahwa kita telah bangkit dari keluhan menuju penerimaan. Dalam syukur, tidak ada kekurangan—yang ada hanya kelimpahan.

Paskah dan Dunia Modern: Krisis dan Harapan

Di tengah dunia yang penuh konflik, polarisasi, dan krisis ekologis, pesan Paskah menjadi semakin relevan. Manusia modern sering kali terjebak dalam ego kolektif—identitas, ideologi, dan kepentingan sempit.

Paskah mengajak kita untuk “mati” terhadap ego tersebut dan “bangkit” dalam kesadaran universal. Ini bukan sekadar idealisme, tetapi kebutuhan mendesak bagi keberlangsungan umat manusia.

Tanpa kasih, teknologi hanya mempercepat kehancuran. Tanpa kesadaran, kemajuan hanya menjadi ilusi.

Paskah sebagai Jalan Bersama

Jika kita berani melihat lebih dalam, Paskah adalah undangan. Undangan untuk semua—tanpa memandang agama, suku, atau latar belakang—untuk mengalami transformasi batin.

Yesus tidak mengajarkan agama dalam arti sempit, tetapi jalan hidup. Jalan kasih, pengampunan, dan kesadaran.

Dalam semangat ini, Paskah menjadi perayaan universal. Ia bukan hanya tentang mengenang masa lalu, tetapi tentang menghidupi nilai-nilai abadi dalam kehidupan sehari-hari.

Kebangkitan dalam Diri Kita

Paskah sejati terjadi bukan di luar, tetapi di dalam diri. Setiap kali kita memilih kasih daripada kebencian, kita mengalami kebangkitan. Setiap kali kita memaafkan, kita bangkit. Setiap kali kita bersyukur, kita hidup kembali.

Maka, Paskah bukan hanya perayaan satu hari. Ia adalah perjalanan seumur hidup—menuju kesadaran yang lebih tinggi, menuju cinta yang lebih luas, menuju kemanusiaan yang lebih utuh.

Dan dalam perjalanan itu, kita menyadari satu hal sederhana namun mendalam: bahwa kasih adalah hakikat kita yang sejati. [T]

Tags: KristenKristianipaskah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Indonesia Tidak Sedang ‘Frugal Living’

Next Post

Notaris di Ujung Integritas: Ketika Etika Gagal Menyelamatkan Moral

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Indonesia dalam Secangkir Kopi

by Ahmad Fatoni
August 7, 2026
0
Indonesia dalam Secangkir Kopi

PAGI itu saya duduk di sebuah cafe kecil di pinggiran kota. Tidak ada yang istimewa. Meja kayu yang mulai kusam,...

Read moreDetails

“Gigolo Pendidikan”, Oemar Bakrie, dan Saat Kasih Sayang Guru Menjadi Barang Premium

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 7, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BEBERAPA hari lalu saya iseng melontarkan istilah yang terdengar keterlaluan.  Gigodik, “Gigolo Pendidikan”. Bayangan saya sederhana. Jangan-jangan sekarang ada "profesi"...

Read moreDetails

Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

by Agung Sudarsa
August 6, 2026
0
Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

Dampak Pembangunan Brutal dan Ugal-ugalan, Ledakan Kendaraan Tanpa Jeda, atau Buruknya Transportasi Umum? "Sanur makin macet, namun kenapa fasilitas wisata...

Read moreDetails

Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

by Arief Rahzen
August 6, 2026
0
Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

COBA hentikan sejenak geseran jempol Anda di atas layar gawai. Di luar sana, dunia hari ini bergerak dalam ritme yang...

Read moreDetails

Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana

by Angga Wijaya
August 6, 2026
0
Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana

KALIMAT itu masih saya ingat dengan jelas. Mendiang Bang D.S. Putra mengucapkannya suatu sore, ketika kami berbincang santai bersama beberapa...

Read moreDetails

Pertemuan Rutin, Agenda Lama: Pilkada Lewat DPRD, Lagi

by Luthfi Hasanal Bolqiah
August 5, 2026
0
Sepiring Nasi, Sekeping Legitimasi

PERTEMUAN itu seharusnya selesai sebagai berita protokoler. Pada Senin, 3 Agustus 2026, jajaran pimpinan MPR datang ke Istana Kepresidenan. Mereka...

Read moreDetails

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

by Sugi Lanus
August 4, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

Read moreDetails

Presiden di Dalam Kepala Saya

by Angga Wijaya
August 3, 2026
0
Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

Read moreDetails

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

by Chusmeru
August 3, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

Read moreDetails

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails
Next Post
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Notaris di Ujung Integritas: Ketika Etika Gagal Menyelamatkan Moral

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Indonesia dalam Secangkir Kopi
Esai

Indonesia dalam Secangkir Kopi

PAGI itu saya duduk di sebuah cafe kecil di pinggiran kota. Tidak ada yang istimewa. Meja kayu yang mulai kusam,...

by Ahmad Fatoni
August 7, 2026
Fakultas Bahasa dan Seni, UPMI Bali, Lepas 67 Sarjana dan Magister—‘Jangan Jadi Sarjana Kertas!
Pendidikan

Fakultas Bahasa dan Seni, UPMI Bali, Lepas 67 Sarjana dan Magister—‘Jangan Jadi Sarjana Kertas!

“HARI ini saya tidak sedang melihat sekelompok calon wisudawan. Saya sedang melihat sekumpulan wajah yang menyimpan cerita perjalanan yang berbeda-beda.”...

by Dede Putra Wiguna
August 7, 2026
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan
Ulas Film

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

by Satria Aditya
August 7, 2026
Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  
Tualang

Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

Sejak dahulu, Jimbaran, Kedonganan, Kelan, dan Kuta adalah daerah nelayan. Namun, yang terkenal hanya Jimbaran dan Kuta. Ketika Asosiasi Kepala...

by I Nyoman Tingkat
August 7, 2026
“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani
Ulas Rupa

“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

PADA 10 April hingga 30 Juni 2026 lalu digelar pameran 12 Perupa Perempuan Indonesia. Perhelatan ini diinisiasi Indonesian Women Artists...

by Hartanto
August 7, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“Gigolo Pendidikan”, Oemar Bakrie, dan Saat Kasih Sayang Guru Menjadi Barang Premium

BEBERAPA hari lalu saya iseng melontarkan istilah yang terdengar keterlaluan.  Gigodik, “Gigolo Pendidikan”. Bayangan saya sederhana. Jangan-jangan sekarang ada "profesi"...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 7, 2026
Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak
Khas

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

DI ruang aula SMAN 4 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa pemuda-pemudi dari Sanggar Putri Nyale duduk di kursi...

by Jaswanto
August 7, 2026
Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan
Khas

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

“Pentingnya kursus bahasa Inggris untuk semua kalangan tidak bisa diragukan lagi. Bahasa Inggris penting sebagai bahasa global, untuk dunia kerja,...

by tatkala
August 6, 2026
Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis
Esai

Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

Dampak Pembangunan Brutal dan Ugal-ugalan, Ledakan Kendaraan Tanpa Jeda, atau Buruknya Transportasi Umum? "Sanur makin macet, namun kenapa fasilitas wisata...

by Agung Sudarsa
August 6, 2026
Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi
Esai

Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

COBA hentikan sejenak geseran jempol Anda di atas layar gawai. Di luar sana, dunia hari ini bergerak dalam ritme yang...

by Arief Rahzen
August 6, 2026
Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana
Esai

Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana

KALIMAT itu masih saya ingat dengan jelas. Mendiang Bang D.S. Putra mengucapkannya suatu sore, ketika kami berbincang santai bersama beberapa...

by Angga Wijaya
August 6, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Kencan Pertama di Kafe Pinggir Sungai

KENCAN pertama untuk sebagian besar orang dianggap sesuatu yang mendebarkan. Begitu pun yang dirasakan Heru Pambudi dan Tuty Rosdiana. Belum...

by Chusmeru
August 6, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co