1 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sunyi yang Dilanggar Ponsel Kita

Angga Wijaya by Angga Wijaya
April 4, 2026
in Esai
Sunyi yang Dilanggar Ponsel Kita

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Di era digitalisasi sekarang, dengan teknologi yang amat maju, ponsel pintar dan internet, orang-orang bisa berkomunikasi tanpa hambatan melalui telepon atau fitur pesan. Atau dengan video call. Dunia seolah-olah dipadatkan ke dalam satu benda kecil yang selalu kita genggam di saku celana, di meja makan, di samping bantal ketika tidur, bahkan di tangan ketika kita sedang berbicara dengan orang di hadapan kita.

Namun justru di titik ini paradoks itu muncul, bahwa semakin mudah kita terhubung, semakin sulit kita memahami batas. Sayangnya, semua kemudahan itu menciptakan pergeseran etika. Orang dengan mudah dan tak berpikir panjang bisa menghubungi kita tanpa mengenal waktu, bahkan saat tengah malam atau dini hari—pada jam-jam umumnya orang-orang beristirahat. Notifikasi dianggap netral, padahal ia telah berubah menjadi bentuk interupsi sosial yang paling halus sekaligus paling invasif dalam sejarah manusia. Etika menjadi sesuatu yang mahal.

Kesunyian Tidak Lagi Dihormati

Dulu, malam adalah wilayah sunyi yang disepakati bersama. Ada semacam kontrak sosial tak tertulis: setelah jam tertentu, dunia melambat, suara dikecilkan, urusan ditunda. Malam adalah milik tubuh untuk pulih, milik pikiran untuk diam, milik manusia untuk tidak menjadi “siaga”.

Kini, batas itu runtuh.  Pesan bisa datang jam 1 pagi. Telepon bisa berdering jam 2 dini hari. Bahkan jika tidak dijawab, ia meninggalkan jejak psikologis, yakni rasa bersalah, rasa ingin tahu, atau tekanan halus bahwa kita “harus” segera merespons.

Dalam banyak studi tentang perilaku digital, fenomena ini disebut sebagai always-on culture—budaya selalu terhubung. Dalam laporan Microsoft Work Trend Index (2023), ditemukan bahwa sebagian besar pekerja digital mengalami lonjakan notifikasi di luar jam kerja formal, dan banyak yang merasa tidak punya ruang benar-benar “offline”. Dunia kerja dan dunia pribadi melebur tanpa sekat.

Di titik ini, kita tidak hanya kehilangan waktu istirahat. Kita kehilangan hak atas ketidakhadiran. Ada hal lain yang lebih dalam dari sekadar etika komunikasi, kesepian. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam beberapa laporan terbarunya menyebut kesepian sebagai global public health concern. Bukan lagi sekadar perasaan personal, melainkan fenomena sosial yang berdampak pada kesehatan fisik dan mental. Studi meta-analisis yang dilakukan Julianne Holt-Lunstad (2015) bahkan menunjukkan bahwa kesepian dan isolasi sosial dapat meningkatkan risiko kematian dini setara dengan merokok 15 batang sehari.

Ironisnya, di era ketika kita bisa menghubungi siapa saja dalam hitungan detik, manusia justru semakin merasa sendiri. Kesepian modern tidak selalu berarti tidak punya teman. Sering kali ia hadir di tengah keramaian percakapan digital yang dangkal, cepat, dan terputus-putus. Seseorang bisa memiliki ratusan kontak, ribuan pengikut, namun tetap merasa tidak benar-benar didengar.

Di sinilah paradoks digital semakin nyata: koneksi meningkat, kedekatan menurun. Dan dalam kondisi kesepian seperti ini, manusia menjadi lebih reaktif terhadap notifikasi. Setiap bunyi ponsel bisa menjadi pengganti kehadiran emosional. Setiap pesan menjadi semacam “validasi eksistensi”. Maka kita tidak hanya berkomunikasi. Kita mencari pengakuan bahwa kita masih ada.

Masalah utama dari komunikasi digital bukan hanya soal kapan kita menghubungi orang lain, tetapi juga bagaimana cara kita memaknai waktu orang lain.

Dalam dunia sebelum digital, komunikasi membutuhkan usaha: menulis surat, datang langsung, atau menelepon dengan perangkat terbatas. Ada jeda., pertimbangan, dan kesadaran bahwa mengganggu orang lain bukan hal sepele.

Kini, hambatan itu hilang. Dan ketika hambatan hilang, kontrol diri sering ikut menghilang. Orang merasa bebas mengirim pesan kapan saja, dengan asumsi sederhana: “Toh nanti juga dibalas.”

Padahal di balik layar kecil itu, ada kehidupan lain yang sedang berjalan. Ada orang yang sedang bekerja, tidur, menangis, berpikir, atau sekadar ingin tidak terganggu. Etika digital seharusnya bukan hanya tentang sopan santun formal, tetapi tentang kesadaran spasial dan temporal, bahwa orang lain hidup dalam waktu yang tidak selalu sama dengan waktu kita.

Namun justru kesadaran ini yang semakin pudar. Salah satu masalah besar dalam komunikasi digital adalah ilusi urgensi. Setiap pesan terasa penting karena ia datang secara instan. Padahal tidak semua hal perlu instan.

Kita mulai kehilangan kemampuan membedakan antara “penting sekarang” dan “bisa nanti”. Akibatnya, banyak orang merasa berhak mengganggu waktu orang lain hanya karena mereka sedang merasa ingin menyampaikan sesuatu. Bahkan hal-hal yang sebenarnya bisa menunggu esok pagi dipaksakan menjadi pesan malam hari.

Di sini etika berubah menjadi ego. Dan ego yang difasilitasi teknologi menjadi sangat cepat, sangat mudah, dan sangat sulit dikendalikan.

Jam Sunyi yang Hilang

Bagi sebagian orang, terutama pekerja kreatif seperti jurnalis, penulis, atau pekerja media, malam bukan selalu waktu istirahat. Sering kali justru malam adalah waktu bekerja paling produktif. Pikiran lebih tenang, dunia lebih sepi, dan ide lebih mudah mengalir.

Namun justru pada jam-jam inilah gangguan sering datang. Pesan-pesan seperti “lagi di mana?”, “bisa telepon sebentar?”, atau “urgent ya” muncul tanpa mempertimbangkan bahwa di sisi lain ada proses kerja yang sedang berlangsung.

Ini bukan sekadar ketidaksopanan kecil. Ini adalah bentuk erosi terhadap ruang kerja mental seseorang. Dalam jangka panjang, gangguan seperti ini berkontribusi pada kelelahan digital (digital fatigue), kondisi yang kini banyak dibahas dalam literatur psikologi kerja modern. Otak tidak lagi memiliki ruang jeda yang cukup untuk memulihkan fokus.

Sering kali kita merasa dunia terlalu cepat. Tetapi mungkin masalahnya bukan kecepatan dunia, melainkan hilangnya batas. antara siang dan malam, antara penting dan tidak penting, dan batas antara aku dan orang lain.

Dalam masyarakat tradisional, batas itu dijaga oleh norma sosial. Dalam masyarakat digital, batas itu diserahkan kepada individu. Dan tidak semua individu siap dengan tanggung jawab itu. Akibatnya, kita hidup dalam ruang sosial tanpa pagar.

Kesepian dan Pelanggaran Batas

Ada sisi lain yang perlu dipahami dengan lebih jujur: banyak orang menghubungi orang lain pada waktu-waktu tidak pantas bukan karena tidak tahu etika, tetapi karena kesepian. Kesepian membuat seseorang mencari respon segera. Ia tidak sabar. Ia ingin merasa terhubung sekarang juga. Maka tombol “kirim” menjadi pelarian emosional.

Namun di sinilah masalahnya: kesepian satu orang bisa menjadi gangguan bagi ketenangan orang lain. Inilah yang membuat kesepian modern menjadi paradoks sosial. Ia bukan hanya kondisi individu, tetapi juga kekuatan yang memengaruhi perilaku kolektif.

Dan jika tidak disadari, kesepian bisa berubah menjadi bentuk invasi kecil terhadap ruang hidup orang lain. Lalu apa yang bisa dilakukan?

Mungkin kita perlu kembali membangun etika, tetapi bukan etika lama yang kaku, melainkan etika digital yang berbasis kesadaran. Beberapa prinsip sederhana sebenarnya bisa menjadi awal:

Pertama, kesadaran waktu orang lain. Tidak semua orang hidup dalam ritme yang sama. Kedua, kesadaran bahwa tidak semua pesan harus segera dikirim, apalagi segera dibalas. Ketiga, kesadaran bahwa diam bukan berarti menolak, dan lambat merespons bukan berarti tidak peduli. Keempat, kesadaran bahwa privasi adalah hak, bukan kemurahan hati. Dalam dunia yang terlalu cepat ini, etika justru berarti memperlambat diri.

Hak untuk Tidak Tersedia

Salah satu konsep yang mulai banyak dibicarakan dalam studi budaya digital adalah right to disconnect—hak untuk tidak selalu tersedia. Beberapa negara bahkan mulai membahas regulasi jam kerja digital agar pekerja tidak terus-menerus dibebani notifikasi di luar jam kerja. Namun lebih dari regulasi, ini adalah soal kesadaran sosial.

Kita perlu menerima bahwa seseorang tidak harus selalu bisa dihubungi, tidak harus selalu membalas, dan tidak harus selalu hadir secara digital. Karena manusia bukan mesin respons. Pada akhirnya, masalah kita bukan hanya teknologi. Teknologi hanya mempercepat apa yang sudah ada dalam diri manusia, yakni, keinginan untuk segera, untuk didengar, untuk diakui.

Namun dalam kecepatan itu, kita kehilangan sesuatu yang sangat manusiawi, yakni jeda. Jeda adalah ruang di mana etika tumbuh, dan tempat kita mengingat bahwa orang lain bukan extension dari kebutuhan kita. Dan mungkin, dalam dunia yang terlalu bising oleh notifikasi, bentuk paling sederhana dari etika adalah, menunggu. Menunggu waktu yang tepat. menunggu orang lain siap, dan menunggu diri sendiri cukup tenang untuk tidak mengganggu.

Karena pada akhirnya, menghormati orang lain bukan hanya soal apa yang kita katakan, tetapi juga kapan kita memilih untuk tidak mengatakannya. Dan di era digital yang serba cepat ini, kemampuan untuk tidak mengganggu mungkin adalah bentuk kesopanan paling tinggi yang tersisa. [T]

Denpasar, 4 April 2026, 00:04 WITA

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Saraswati dan Cara Kita Menghargai Ilmu

Next Post

Seni dan Sains: Ketika Rasio Menari Bersama Rasa

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
0
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

Read moreDetails

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

Read moreDetails
Next Post
Seni dan Sains: Ketika Rasio Menari Bersama Rasa

Seni dan Sains: Ketika Rasio Menari Bersama Rasa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas
Khas

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi
Ulas Buku

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co