23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sunyi yang Dilanggar Ponsel Kita

Angga Wijaya by Angga Wijaya
April 4, 2026
in Esai
Sunyi yang Dilanggar Ponsel Kita

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Di era digitalisasi sekarang, dengan teknologi yang amat maju, ponsel pintar dan internet, orang-orang bisa berkomunikasi tanpa hambatan melalui telepon atau fitur pesan. Atau dengan video call. Dunia seolah-olah dipadatkan ke dalam satu benda kecil yang selalu kita genggam di saku celana, di meja makan, di samping bantal ketika tidur, bahkan di tangan ketika kita sedang berbicara dengan orang di hadapan kita.

Namun justru di titik ini paradoks itu muncul, bahwa semakin mudah kita terhubung, semakin sulit kita memahami batas. Sayangnya, semua kemudahan itu menciptakan pergeseran etika. Orang dengan mudah dan tak berpikir panjang bisa menghubungi kita tanpa mengenal waktu, bahkan saat tengah malam atau dini hari—pada jam-jam umumnya orang-orang beristirahat. Notifikasi dianggap netral, padahal ia telah berubah menjadi bentuk interupsi sosial yang paling halus sekaligus paling invasif dalam sejarah manusia. Etika menjadi sesuatu yang mahal.

Kesunyian Tidak Lagi Dihormati

Dulu, malam adalah wilayah sunyi yang disepakati bersama. Ada semacam kontrak sosial tak tertulis: setelah jam tertentu, dunia melambat, suara dikecilkan, urusan ditunda. Malam adalah milik tubuh untuk pulih, milik pikiran untuk diam, milik manusia untuk tidak menjadi “siaga”.

Kini, batas itu runtuh.  Pesan bisa datang jam 1 pagi. Telepon bisa berdering jam 2 dini hari. Bahkan jika tidak dijawab, ia meninggalkan jejak psikologis, yakni rasa bersalah, rasa ingin tahu, atau tekanan halus bahwa kita “harus” segera merespons.

Dalam banyak studi tentang perilaku digital, fenomena ini disebut sebagai always-on culture—budaya selalu terhubung. Dalam laporan Microsoft Work Trend Index (2023), ditemukan bahwa sebagian besar pekerja digital mengalami lonjakan notifikasi di luar jam kerja formal, dan banyak yang merasa tidak punya ruang benar-benar “offline”. Dunia kerja dan dunia pribadi melebur tanpa sekat.

Di titik ini, kita tidak hanya kehilangan waktu istirahat. Kita kehilangan hak atas ketidakhadiran. Ada hal lain yang lebih dalam dari sekadar etika komunikasi, kesepian. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam beberapa laporan terbarunya menyebut kesepian sebagai global public health concern. Bukan lagi sekadar perasaan personal, melainkan fenomena sosial yang berdampak pada kesehatan fisik dan mental. Studi meta-analisis yang dilakukan Julianne Holt-Lunstad (2015) bahkan menunjukkan bahwa kesepian dan isolasi sosial dapat meningkatkan risiko kematian dini setara dengan merokok 15 batang sehari.

Ironisnya, di era ketika kita bisa menghubungi siapa saja dalam hitungan detik, manusia justru semakin merasa sendiri. Kesepian modern tidak selalu berarti tidak punya teman. Sering kali ia hadir di tengah keramaian percakapan digital yang dangkal, cepat, dan terputus-putus. Seseorang bisa memiliki ratusan kontak, ribuan pengikut, namun tetap merasa tidak benar-benar didengar.

Di sinilah paradoks digital semakin nyata: koneksi meningkat, kedekatan menurun. Dan dalam kondisi kesepian seperti ini, manusia menjadi lebih reaktif terhadap notifikasi. Setiap bunyi ponsel bisa menjadi pengganti kehadiran emosional. Setiap pesan menjadi semacam “validasi eksistensi”. Maka kita tidak hanya berkomunikasi. Kita mencari pengakuan bahwa kita masih ada.

Masalah utama dari komunikasi digital bukan hanya soal kapan kita menghubungi orang lain, tetapi juga bagaimana cara kita memaknai waktu orang lain.

Dalam dunia sebelum digital, komunikasi membutuhkan usaha: menulis surat, datang langsung, atau menelepon dengan perangkat terbatas. Ada jeda., pertimbangan, dan kesadaran bahwa mengganggu orang lain bukan hal sepele.

Kini, hambatan itu hilang. Dan ketika hambatan hilang, kontrol diri sering ikut menghilang. Orang merasa bebas mengirim pesan kapan saja, dengan asumsi sederhana: “Toh nanti juga dibalas.”

Padahal di balik layar kecil itu, ada kehidupan lain yang sedang berjalan. Ada orang yang sedang bekerja, tidur, menangis, berpikir, atau sekadar ingin tidak terganggu. Etika digital seharusnya bukan hanya tentang sopan santun formal, tetapi tentang kesadaran spasial dan temporal, bahwa orang lain hidup dalam waktu yang tidak selalu sama dengan waktu kita.

Namun justru kesadaran ini yang semakin pudar. Salah satu masalah besar dalam komunikasi digital adalah ilusi urgensi. Setiap pesan terasa penting karena ia datang secara instan. Padahal tidak semua hal perlu instan.

Kita mulai kehilangan kemampuan membedakan antara “penting sekarang” dan “bisa nanti”. Akibatnya, banyak orang merasa berhak mengganggu waktu orang lain hanya karena mereka sedang merasa ingin menyampaikan sesuatu. Bahkan hal-hal yang sebenarnya bisa menunggu esok pagi dipaksakan menjadi pesan malam hari.

Di sini etika berubah menjadi ego. Dan ego yang difasilitasi teknologi menjadi sangat cepat, sangat mudah, dan sangat sulit dikendalikan.

Jam Sunyi yang Hilang

Bagi sebagian orang, terutama pekerja kreatif seperti jurnalis, penulis, atau pekerja media, malam bukan selalu waktu istirahat. Sering kali justru malam adalah waktu bekerja paling produktif. Pikiran lebih tenang, dunia lebih sepi, dan ide lebih mudah mengalir.

Namun justru pada jam-jam inilah gangguan sering datang. Pesan-pesan seperti “lagi di mana?”, “bisa telepon sebentar?”, atau “urgent ya” muncul tanpa mempertimbangkan bahwa di sisi lain ada proses kerja yang sedang berlangsung.

Ini bukan sekadar ketidaksopanan kecil. Ini adalah bentuk erosi terhadap ruang kerja mental seseorang. Dalam jangka panjang, gangguan seperti ini berkontribusi pada kelelahan digital (digital fatigue), kondisi yang kini banyak dibahas dalam literatur psikologi kerja modern. Otak tidak lagi memiliki ruang jeda yang cukup untuk memulihkan fokus.

Sering kali kita merasa dunia terlalu cepat. Tetapi mungkin masalahnya bukan kecepatan dunia, melainkan hilangnya batas. antara siang dan malam, antara penting dan tidak penting, dan batas antara aku dan orang lain.

Dalam masyarakat tradisional, batas itu dijaga oleh norma sosial. Dalam masyarakat digital, batas itu diserahkan kepada individu. Dan tidak semua individu siap dengan tanggung jawab itu. Akibatnya, kita hidup dalam ruang sosial tanpa pagar.

Kesepian dan Pelanggaran Batas

Ada sisi lain yang perlu dipahami dengan lebih jujur: banyak orang menghubungi orang lain pada waktu-waktu tidak pantas bukan karena tidak tahu etika, tetapi karena kesepian. Kesepian membuat seseorang mencari respon segera. Ia tidak sabar. Ia ingin merasa terhubung sekarang juga. Maka tombol “kirim” menjadi pelarian emosional.

Namun di sinilah masalahnya: kesepian satu orang bisa menjadi gangguan bagi ketenangan orang lain. Inilah yang membuat kesepian modern menjadi paradoks sosial. Ia bukan hanya kondisi individu, tetapi juga kekuatan yang memengaruhi perilaku kolektif.

Dan jika tidak disadari, kesepian bisa berubah menjadi bentuk invasi kecil terhadap ruang hidup orang lain. Lalu apa yang bisa dilakukan?

Mungkin kita perlu kembali membangun etika, tetapi bukan etika lama yang kaku, melainkan etika digital yang berbasis kesadaran. Beberapa prinsip sederhana sebenarnya bisa menjadi awal:

Pertama, kesadaran waktu orang lain. Tidak semua orang hidup dalam ritme yang sama. Kedua, kesadaran bahwa tidak semua pesan harus segera dikirim, apalagi segera dibalas. Ketiga, kesadaran bahwa diam bukan berarti menolak, dan lambat merespons bukan berarti tidak peduli. Keempat, kesadaran bahwa privasi adalah hak, bukan kemurahan hati. Dalam dunia yang terlalu cepat ini, etika justru berarti memperlambat diri.

Hak untuk Tidak Tersedia

Salah satu konsep yang mulai banyak dibicarakan dalam studi budaya digital adalah right to disconnect—hak untuk tidak selalu tersedia. Beberapa negara bahkan mulai membahas regulasi jam kerja digital agar pekerja tidak terus-menerus dibebani notifikasi di luar jam kerja. Namun lebih dari regulasi, ini adalah soal kesadaran sosial.

Kita perlu menerima bahwa seseorang tidak harus selalu bisa dihubungi, tidak harus selalu membalas, dan tidak harus selalu hadir secara digital. Karena manusia bukan mesin respons. Pada akhirnya, masalah kita bukan hanya teknologi. Teknologi hanya mempercepat apa yang sudah ada dalam diri manusia, yakni, keinginan untuk segera, untuk didengar, untuk diakui.

Namun dalam kecepatan itu, kita kehilangan sesuatu yang sangat manusiawi, yakni jeda. Jeda adalah ruang di mana etika tumbuh, dan tempat kita mengingat bahwa orang lain bukan extension dari kebutuhan kita. Dan mungkin, dalam dunia yang terlalu bising oleh notifikasi, bentuk paling sederhana dari etika adalah, menunggu. Menunggu waktu yang tepat. menunggu orang lain siap, dan menunggu diri sendiri cukup tenang untuk tidak mengganggu.

Karena pada akhirnya, menghormati orang lain bukan hanya soal apa yang kita katakan, tetapi juga kapan kita memilih untuk tidak mengatakannya. Dan di era digital yang serba cepat ini, kemampuan untuk tidak mengganggu mungkin adalah bentuk kesopanan paling tinggi yang tersisa. [T]

Denpasar, 4 April 2026, 00:04 WITA

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Saraswati dan Cara Kita Menghargai Ilmu

Next Post

Seni dan Sains: Ketika Rasio Menari Bersama Rasa

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Seni dan Sains: Ketika Rasio Menari Bersama Rasa

Seni dan Sains: Ketika Rasio Menari Bersama Rasa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co