22 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sunyi yang Dilanggar Ponsel Kita

Angga Wijaya by Angga Wijaya
April 4, 2026
in Esai
Sunyi yang Dilanggar Ponsel Kita

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Di era digitalisasi sekarang, dengan teknologi yang amat maju, ponsel pintar dan internet, orang-orang bisa berkomunikasi tanpa hambatan melalui telepon atau fitur pesan. Atau dengan video call. Dunia seolah-olah dipadatkan ke dalam satu benda kecil yang selalu kita genggam di saku celana, di meja makan, di samping bantal ketika tidur, bahkan di tangan ketika kita sedang berbicara dengan orang di hadapan kita.

Namun justru di titik ini paradoks itu muncul, bahwa semakin mudah kita terhubung, semakin sulit kita memahami batas. Sayangnya, semua kemudahan itu menciptakan pergeseran etika. Orang dengan mudah dan tak berpikir panjang bisa menghubungi kita tanpa mengenal waktu, bahkan saat tengah malam atau dini hari—pada jam-jam umumnya orang-orang beristirahat. Notifikasi dianggap netral, padahal ia telah berubah menjadi bentuk interupsi sosial yang paling halus sekaligus paling invasif dalam sejarah manusia. Etika menjadi sesuatu yang mahal.

Kesunyian Tidak Lagi Dihormati

Dulu, malam adalah wilayah sunyi yang disepakati bersama. Ada semacam kontrak sosial tak tertulis: setelah jam tertentu, dunia melambat, suara dikecilkan, urusan ditunda. Malam adalah milik tubuh untuk pulih, milik pikiran untuk diam, milik manusia untuk tidak menjadi “siaga”.

Kini, batas itu runtuh.  Pesan bisa datang jam 1 pagi. Telepon bisa berdering jam 2 dini hari. Bahkan jika tidak dijawab, ia meninggalkan jejak psikologis, yakni rasa bersalah, rasa ingin tahu, atau tekanan halus bahwa kita “harus” segera merespons.

Dalam banyak studi tentang perilaku digital, fenomena ini disebut sebagai always-on culture—budaya selalu terhubung. Dalam laporan Microsoft Work Trend Index (2023), ditemukan bahwa sebagian besar pekerja digital mengalami lonjakan notifikasi di luar jam kerja formal, dan banyak yang merasa tidak punya ruang benar-benar “offline”. Dunia kerja dan dunia pribadi melebur tanpa sekat.

Di titik ini, kita tidak hanya kehilangan waktu istirahat. Kita kehilangan hak atas ketidakhadiran. Ada hal lain yang lebih dalam dari sekadar etika komunikasi, kesepian. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam beberapa laporan terbarunya menyebut kesepian sebagai global public health concern. Bukan lagi sekadar perasaan personal, melainkan fenomena sosial yang berdampak pada kesehatan fisik dan mental. Studi meta-analisis yang dilakukan Julianne Holt-Lunstad (2015) bahkan menunjukkan bahwa kesepian dan isolasi sosial dapat meningkatkan risiko kematian dini setara dengan merokok 15 batang sehari.

Ironisnya, di era ketika kita bisa menghubungi siapa saja dalam hitungan detik, manusia justru semakin merasa sendiri. Kesepian modern tidak selalu berarti tidak punya teman. Sering kali ia hadir di tengah keramaian percakapan digital yang dangkal, cepat, dan terputus-putus. Seseorang bisa memiliki ratusan kontak, ribuan pengikut, namun tetap merasa tidak benar-benar didengar.

Di sinilah paradoks digital semakin nyata: koneksi meningkat, kedekatan menurun. Dan dalam kondisi kesepian seperti ini, manusia menjadi lebih reaktif terhadap notifikasi. Setiap bunyi ponsel bisa menjadi pengganti kehadiran emosional. Setiap pesan menjadi semacam “validasi eksistensi”. Maka kita tidak hanya berkomunikasi. Kita mencari pengakuan bahwa kita masih ada.

Masalah utama dari komunikasi digital bukan hanya soal kapan kita menghubungi orang lain, tetapi juga bagaimana cara kita memaknai waktu orang lain.

Dalam dunia sebelum digital, komunikasi membutuhkan usaha: menulis surat, datang langsung, atau menelepon dengan perangkat terbatas. Ada jeda., pertimbangan, dan kesadaran bahwa mengganggu orang lain bukan hal sepele.

Kini, hambatan itu hilang. Dan ketika hambatan hilang, kontrol diri sering ikut menghilang. Orang merasa bebas mengirim pesan kapan saja, dengan asumsi sederhana: “Toh nanti juga dibalas.”

Padahal di balik layar kecil itu, ada kehidupan lain yang sedang berjalan. Ada orang yang sedang bekerja, tidur, menangis, berpikir, atau sekadar ingin tidak terganggu. Etika digital seharusnya bukan hanya tentang sopan santun formal, tetapi tentang kesadaran spasial dan temporal, bahwa orang lain hidup dalam waktu yang tidak selalu sama dengan waktu kita.

Namun justru kesadaran ini yang semakin pudar. Salah satu masalah besar dalam komunikasi digital adalah ilusi urgensi. Setiap pesan terasa penting karena ia datang secara instan. Padahal tidak semua hal perlu instan.

Kita mulai kehilangan kemampuan membedakan antara “penting sekarang” dan “bisa nanti”. Akibatnya, banyak orang merasa berhak mengganggu waktu orang lain hanya karena mereka sedang merasa ingin menyampaikan sesuatu. Bahkan hal-hal yang sebenarnya bisa menunggu esok pagi dipaksakan menjadi pesan malam hari.

Di sini etika berubah menjadi ego. Dan ego yang difasilitasi teknologi menjadi sangat cepat, sangat mudah, dan sangat sulit dikendalikan.

Jam Sunyi yang Hilang

Bagi sebagian orang, terutama pekerja kreatif seperti jurnalis, penulis, atau pekerja media, malam bukan selalu waktu istirahat. Sering kali justru malam adalah waktu bekerja paling produktif. Pikiran lebih tenang, dunia lebih sepi, dan ide lebih mudah mengalir.

Namun justru pada jam-jam inilah gangguan sering datang. Pesan-pesan seperti “lagi di mana?”, “bisa telepon sebentar?”, atau “urgent ya” muncul tanpa mempertimbangkan bahwa di sisi lain ada proses kerja yang sedang berlangsung.

Ini bukan sekadar ketidaksopanan kecil. Ini adalah bentuk erosi terhadap ruang kerja mental seseorang. Dalam jangka panjang, gangguan seperti ini berkontribusi pada kelelahan digital (digital fatigue), kondisi yang kini banyak dibahas dalam literatur psikologi kerja modern. Otak tidak lagi memiliki ruang jeda yang cukup untuk memulihkan fokus.

Sering kali kita merasa dunia terlalu cepat. Tetapi mungkin masalahnya bukan kecepatan dunia, melainkan hilangnya batas. antara siang dan malam, antara penting dan tidak penting, dan batas antara aku dan orang lain.

Dalam masyarakat tradisional, batas itu dijaga oleh norma sosial. Dalam masyarakat digital, batas itu diserahkan kepada individu. Dan tidak semua individu siap dengan tanggung jawab itu. Akibatnya, kita hidup dalam ruang sosial tanpa pagar.

Kesepian dan Pelanggaran Batas

Ada sisi lain yang perlu dipahami dengan lebih jujur: banyak orang menghubungi orang lain pada waktu-waktu tidak pantas bukan karena tidak tahu etika, tetapi karena kesepian. Kesepian membuat seseorang mencari respon segera. Ia tidak sabar. Ia ingin merasa terhubung sekarang juga. Maka tombol “kirim” menjadi pelarian emosional.

Namun di sinilah masalahnya: kesepian satu orang bisa menjadi gangguan bagi ketenangan orang lain. Inilah yang membuat kesepian modern menjadi paradoks sosial. Ia bukan hanya kondisi individu, tetapi juga kekuatan yang memengaruhi perilaku kolektif.

Dan jika tidak disadari, kesepian bisa berubah menjadi bentuk invasi kecil terhadap ruang hidup orang lain. Lalu apa yang bisa dilakukan?

Mungkin kita perlu kembali membangun etika, tetapi bukan etika lama yang kaku, melainkan etika digital yang berbasis kesadaran. Beberapa prinsip sederhana sebenarnya bisa menjadi awal:

Pertama, kesadaran waktu orang lain. Tidak semua orang hidup dalam ritme yang sama. Kedua, kesadaran bahwa tidak semua pesan harus segera dikirim, apalagi segera dibalas. Ketiga, kesadaran bahwa diam bukan berarti menolak, dan lambat merespons bukan berarti tidak peduli. Keempat, kesadaran bahwa privasi adalah hak, bukan kemurahan hati. Dalam dunia yang terlalu cepat ini, etika justru berarti memperlambat diri.

Hak untuk Tidak Tersedia

Salah satu konsep yang mulai banyak dibicarakan dalam studi budaya digital adalah right to disconnect—hak untuk tidak selalu tersedia. Beberapa negara bahkan mulai membahas regulasi jam kerja digital agar pekerja tidak terus-menerus dibebani notifikasi di luar jam kerja. Namun lebih dari regulasi, ini adalah soal kesadaran sosial.

Kita perlu menerima bahwa seseorang tidak harus selalu bisa dihubungi, tidak harus selalu membalas, dan tidak harus selalu hadir secara digital. Karena manusia bukan mesin respons. Pada akhirnya, masalah kita bukan hanya teknologi. Teknologi hanya mempercepat apa yang sudah ada dalam diri manusia, yakni, keinginan untuk segera, untuk didengar, untuk diakui.

Namun dalam kecepatan itu, kita kehilangan sesuatu yang sangat manusiawi, yakni jeda. Jeda adalah ruang di mana etika tumbuh, dan tempat kita mengingat bahwa orang lain bukan extension dari kebutuhan kita. Dan mungkin, dalam dunia yang terlalu bising oleh notifikasi, bentuk paling sederhana dari etika adalah, menunggu. Menunggu waktu yang tepat. menunggu orang lain siap, dan menunggu diri sendiri cukup tenang untuk tidak mengganggu.

Karena pada akhirnya, menghormati orang lain bukan hanya soal apa yang kita katakan, tetapi juga kapan kita memilih untuk tidak mengatakannya. Dan di era digital yang serba cepat ini, kemampuan untuk tidak mengganggu mungkin adalah bentuk kesopanan paling tinggi yang tersisa. [T]

Denpasar, 4 April 2026, 00:04 WITA

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Saraswati dan Cara Kita Menghargai Ilmu

Next Post

Seni dan Sains: Ketika Rasio Menari Bersama Rasa

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails

Indonesia yang Muncul di Beranda

by Angga Wijaya
August 18, 2026
0
Indonesia yang Muncul di Beranda

PADA 17 Agustus, saya merasa Indonesia tiba-tiba muncul di beranda media sosial.  Bukan Indonesia dalam bentuk peta yang biasa kita...

Read moreDetails

Tupai Makan Durian? ——Catatan Kecil Keresahan Petani Durian di Desa Pucaksari, Busungbiu Buleleng

by I Ketut Suar Adnyana
August 17, 2026
0
Tupai Makan Durian? ——Catatan Kecil Keresahan Petani Durian di Desa Pucaksari, Busungbiu Buleleng

BAGI petani durian di Desa Pucaksari, masa panen seharusnya menjadi waktu yang paling dinanti. Setelah berbulan-bulan merawat pohon, menjaga kesuburan...

Read moreDetails
Next Post
Seni dan Sains: Ketika Rasio Menari Bersama Rasa

Seni dan Sains: Ketika Rasio Menari Bersama Rasa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 21, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
Lampu Merah dan Mental Menerabas
Esai

Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

by Angga Wijaya
August 20, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Ajian Jaran Goyang

MENJADI lelaki jomblo di usia yang tidak lagi muda membuat Teguh Priyono selalu menjadi perbincangan tetangga. Wajahnya tidak terlalu jelek....

by Chusmeru
August 20, 2026
Syal Endek Tunjung Ungu untuk Bupati Nyoman Sutjidra di Panggung Bulfest 2026: Dekranasda Buleleng Dorong Wastra Lokal Mendunia
Budaya

Syal Endek Tunjung Ungu untuk Bupati Nyoman Sutjidra di Panggung Bulfest 2026: Dekranasda Buleleng Dorong Wastra Lokal Mendunia

BULELENG | TATKALA – Bupati Buleleng Nyoman Sutjidra tampak tersenyum bahagia ketika Ny. Wardhany Sutjidra—yang tak lain adalah istrinya—mengalungkan syal...

by tatkala
August 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co