1 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sunyi yang Dilanggar Ponsel Kita

Angga Wijaya by Angga Wijaya
April 4, 2026
in Esai
Sunyi yang Dilanggar Ponsel Kita

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Di era digitalisasi sekarang, dengan teknologi yang amat maju, ponsel pintar dan internet, orang-orang bisa berkomunikasi tanpa hambatan melalui telepon atau fitur pesan. Atau dengan video call. Dunia seolah-olah dipadatkan ke dalam satu benda kecil yang selalu kita genggam di saku celana, di meja makan, di samping bantal ketika tidur, bahkan di tangan ketika kita sedang berbicara dengan orang di hadapan kita.

Namun justru di titik ini paradoks itu muncul, bahwa semakin mudah kita terhubung, semakin sulit kita memahami batas. Sayangnya, semua kemudahan itu menciptakan pergeseran etika. Orang dengan mudah dan tak berpikir panjang bisa menghubungi kita tanpa mengenal waktu, bahkan saat tengah malam atau dini hari—pada jam-jam umumnya orang-orang beristirahat. Notifikasi dianggap netral, padahal ia telah berubah menjadi bentuk interupsi sosial yang paling halus sekaligus paling invasif dalam sejarah manusia. Etika menjadi sesuatu yang mahal.

Kesunyian Tidak Lagi Dihormati

Dulu, malam adalah wilayah sunyi yang disepakati bersama. Ada semacam kontrak sosial tak tertulis: setelah jam tertentu, dunia melambat, suara dikecilkan, urusan ditunda. Malam adalah milik tubuh untuk pulih, milik pikiran untuk diam, milik manusia untuk tidak menjadi “siaga”.

Kini, batas itu runtuh.  Pesan bisa datang jam 1 pagi. Telepon bisa berdering jam 2 dini hari. Bahkan jika tidak dijawab, ia meninggalkan jejak psikologis, yakni rasa bersalah, rasa ingin tahu, atau tekanan halus bahwa kita “harus” segera merespons.

Dalam banyak studi tentang perilaku digital, fenomena ini disebut sebagai always-on culture—budaya selalu terhubung. Dalam laporan Microsoft Work Trend Index (2023), ditemukan bahwa sebagian besar pekerja digital mengalami lonjakan notifikasi di luar jam kerja formal, dan banyak yang merasa tidak punya ruang benar-benar “offline”. Dunia kerja dan dunia pribadi melebur tanpa sekat.

Di titik ini, kita tidak hanya kehilangan waktu istirahat. Kita kehilangan hak atas ketidakhadiran. Ada hal lain yang lebih dalam dari sekadar etika komunikasi, kesepian. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam beberapa laporan terbarunya menyebut kesepian sebagai global public health concern. Bukan lagi sekadar perasaan personal, melainkan fenomena sosial yang berdampak pada kesehatan fisik dan mental. Studi meta-analisis yang dilakukan Julianne Holt-Lunstad (2015) bahkan menunjukkan bahwa kesepian dan isolasi sosial dapat meningkatkan risiko kematian dini setara dengan merokok 15 batang sehari.

Ironisnya, di era ketika kita bisa menghubungi siapa saja dalam hitungan detik, manusia justru semakin merasa sendiri. Kesepian modern tidak selalu berarti tidak punya teman. Sering kali ia hadir di tengah keramaian percakapan digital yang dangkal, cepat, dan terputus-putus. Seseorang bisa memiliki ratusan kontak, ribuan pengikut, namun tetap merasa tidak benar-benar didengar.

Di sinilah paradoks digital semakin nyata: koneksi meningkat, kedekatan menurun. Dan dalam kondisi kesepian seperti ini, manusia menjadi lebih reaktif terhadap notifikasi. Setiap bunyi ponsel bisa menjadi pengganti kehadiran emosional. Setiap pesan menjadi semacam “validasi eksistensi”. Maka kita tidak hanya berkomunikasi. Kita mencari pengakuan bahwa kita masih ada.

Masalah utama dari komunikasi digital bukan hanya soal kapan kita menghubungi orang lain, tetapi juga bagaimana cara kita memaknai waktu orang lain.

Dalam dunia sebelum digital, komunikasi membutuhkan usaha: menulis surat, datang langsung, atau menelepon dengan perangkat terbatas. Ada jeda., pertimbangan, dan kesadaran bahwa mengganggu orang lain bukan hal sepele.

Kini, hambatan itu hilang. Dan ketika hambatan hilang, kontrol diri sering ikut menghilang. Orang merasa bebas mengirim pesan kapan saja, dengan asumsi sederhana: “Toh nanti juga dibalas.”

Padahal di balik layar kecil itu, ada kehidupan lain yang sedang berjalan. Ada orang yang sedang bekerja, tidur, menangis, berpikir, atau sekadar ingin tidak terganggu. Etika digital seharusnya bukan hanya tentang sopan santun formal, tetapi tentang kesadaran spasial dan temporal, bahwa orang lain hidup dalam waktu yang tidak selalu sama dengan waktu kita.

Namun justru kesadaran ini yang semakin pudar. Salah satu masalah besar dalam komunikasi digital adalah ilusi urgensi. Setiap pesan terasa penting karena ia datang secara instan. Padahal tidak semua hal perlu instan.

Kita mulai kehilangan kemampuan membedakan antara “penting sekarang” dan “bisa nanti”. Akibatnya, banyak orang merasa berhak mengganggu waktu orang lain hanya karena mereka sedang merasa ingin menyampaikan sesuatu. Bahkan hal-hal yang sebenarnya bisa menunggu esok pagi dipaksakan menjadi pesan malam hari.

Di sini etika berubah menjadi ego. Dan ego yang difasilitasi teknologi menjadi sangat cepat, sangat mudah, dan sangat sulit dikendalikan.

Jam Sunyi yang Hilang

Bagi sebagian orang, terutama pekerja kreatif seperti jurnalis, penulis, atau pekerja media, malam bukan selalu waktu istirahat. Sering kali justru malam adalah waktu bekerja paling produktif. Pikiran lebih tenang, dunia lebih sepi, dan ide lebih mudah mengalir.

Namun justru pada jam-jam inilah gangguan sering datang. Pesan-pesan seperti “lagi di mana?”, “bisa telepon sebentar?”, atau “urgent ya” muncul tanpa mempertimbangkan bahwa di sisi lain ada proses kerja yang sedang berlangsung.

Ini bukan sekadar ketidaksopanan kecil. Ini adalah bentuk erosi terhadap ruang kerja mental seseorang. Dalam jangka panjang, gangguan seperti ini berkontribusi pada kelelahan digital (digital fatigue), kondisi yang kini banyak dibahas dalam literatur psikologi kerja modern. Otak tidak lagi memiliki ruang jeda yang cukup untuk memulihkan fokus.

Sering kali kita merasa dunia terlalu cepat. Tetapi mungkin masalahnya bukan kecepatan dunia, melainkan hilangnya batas. antara siang dan malam, antara penting dan tidak penting, dan batas antara aku dan orang lain.

Dalam masyarakat tradisional, batas itu dijaga oleh norma sosial. Dalam masyarakat digital, batas itu diserahkan kepada individu. Dan tidak semua individu siap dengan tanggung jawab itu. Akibatnya, kita hidup dalam ruang sosial tanpa pagar.

Kesepian dan Pelanggaran Batas

Ada sisi lain yang perlu dipahami dengan lebih jujur: banyak orang menghubungi orang lain pada waktu-waktu tidak pantas bukan karena tidak tahu etika, tetapi karena kesepian. Kesepian membuat seseorang mencari respon segera. Ia tidak sabar. Ia ingin merasa terhubung sekarang juga. Maka tombol “kirim” menjadi pelarian emosional.

Namun di sinilah masalahnya: kesepian satu orang bisa menjadi gangguan bagi ketenangan orang lain. Inilah yang membuat kesepian modern menjadi paradoks sosial. Ia bukan hanya kondisi individu, tetapi juga kekuatan yang memengaruhi perilaku kolektif.

Dan jika tidak disadari, kesepian bisa berubah menjadi bentuk invasi kecil terhadap ruang hidup orang lain. Lalu apa yang bisa dilakukan?

Mungkin kita perlu kembali membangun etika, tetapi bukan etika lama yang kaku, melainkan etika digital yang berbasis kesadaran. Beberapa prinsip sederhana sebenarnya bisa menjadi awal:

Pertama, kesadaran waktu orang lain. Tidak semua orang hidup dalam ritme yang sama. Kedua, kesadaran bahwa tidak semua pesan harus segera dikirim, apalagi segera dibalas. Ketiga, kesadaran bahwa diam bukan berarti menolak, dan lambat merespons bukan berarti tidak peduli. Keempat, kesadaran bahwa privasi adalah hak, bukan kemurahan hati. Dalam dunia yang terlalu cepat ini, etika justru berarti memperlambat diri.

Hak untuk Tidak Tersedia

Salah satu konsep yang mulai banyak dibicarakan dalam studi budaya digital adalah right to disconnect—hak untuk tidak selalu tersedia. Beberapa negara bahkan mulai membahas regulasi jam kerja digital agar pekerja tidak terus-menerus dibebani notifikasi di luar jam kerja. Namun lebih dari regulasi, ini adalah soal kesadaran sosial.

Kita perlu menerima bahwa seseorang tidak harus selalu bisa dihubungi, tidak harus selalu membalas, dan tidak harus selalu hadir secara digital. Karena manusia bukan mesin respons. Pada akhirnya, masalah kita bukan hanya teknologi. Teknologi hanya mempercepat apa yang sudah ada dalam diri manusia, yakni, keinginan untuk segera, untuk didengar, untuk diakui.

Namun dalam kecepatan itu, kita kehilangan sesuatu yang sangat manusiawi, yakni jeda. Jeda adalah ruang di mana etika tumbuh, dan tempat kita mengingat bahwa orang lain bukan extension dari kebutuhan kita. Dan mungkin, dalam dunia yang terlalu bising oleh notifikasi, bentuk paling sederhana dari etika adalah, menunggu. Menunggu waktu yang tepat. menunggu orang lain siap, dan menunggu diri sendiri cukup tenang untuk tidak mengganggu.

Karena pada akhirnya, menghormati orang lain bukan hanya soal apa yang kita katakan, tetapi juga kapan kita memilih untuk tidak mengatakannya. Dan di era digital yang serba cepat ini, kemampuan untuk tidak mengganggu mungkin adalah bentuk kesopanan paling tinggi yang tersisa. [T]

Denpasar, 4 April 2026, 00:04 WITA

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Saraswati dan Cara Kita Menghargai Ilmu

Next Post

Seni dan Sains: Ketika Rasio Menari Bersama Rasa

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails

Seni sebagai Napas Demokrasi: Mengapa Kritik Bukan Ancaman, Melainkan Tanda Kehidupan

by Ahmad Prasetya Hady
July 28, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

“Demokrasi tidak hanya hidup di bilik suara. Ia juga hidup di panggung teater, di dinding mural, dalam bait puisi, dan...

Read moreDetails

Komunikasi Politik dan Krisis Komunikasi Publik Pemimpin

by Chusmeru
July 27, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DINAMIKA komunikasi politik selalu berubah pada setiap rezim. Puluhan tahun silam, para pemimpin dikenal lewat pidato di lapangan terbuka dan...

Read moreDetails

Bali di Persimpangan Kesadaran ——Membaca Tragedi Sosial Melalui Perspektif Pañcamaya Kośa

by Agung Sudarsa
July 27, 2026
0
Bali di Persimpangan Kesadaran ——Membaca Tragedi Sosial Melalui Perspektif Pañcamaya Kośa

SEBUAH peristiwa tragis yang baru-baru ini terjadi di Bali kembali mengguncang nurani masyarakat. Bukan semata karena adanya korban jiwa, tetapi...

Read moreDetails
Next Post
Seni dan Sains: Ketika Rasio Menari Bersama Rasa

Seni dan Sains: Ketika Rasio Menari Bersama Rasa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026

 “Perempuan punya hak atas tubuhnya sendiri!” Kalimat itu meluncur tegas dari Sasti Gotama saat membahas novel Korpus Uterus di Singaraja...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali
Khas

Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

DI ruang rapat kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, sebuah dokumen setebal puluhan halaman berpindah tangan pada Kamis, 30 Juli 2026....

by Nyoman Budarsana
August 1, 2026
Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi
Khas

Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

Revitalisasi Gending Gambang Plugon menjadi upaya menghidupkan kembali repertoar, regenerasi penabuh, dan ingatan budaya masyarakat Desa Adat Kapal SUARA bilah-bilah...

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi
Khas

Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

Evoria Baleganjur semakin menggeliat, “di sana tumbuh di sini tumbuh”. Baleganjur tidak saja sebagai musik prosesi, namun makin berkembang menjadi...

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena
Ulas Pentas

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Insolvensi dan Kewajiban Debitur Pailit

PUTUSAN Mahkamah Konstitusi Nomor 181/PUU-XXIII/2025 menjadi salah satu penegasan penting dalam perkembangan hukum kepailitan di Indonesia. Melalui putusan tersebut, Mahkamah...

by I Made Pria Dharsana
July 31, 2026
Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026

 “Rumah itu sebenarnya apa?” Pertanyaan itu terus mengemuka sepanjang diskusi buku Rumah karya J.S. Khairen pada hari ketiga Singaraja Literary...

by Dede Putra Wiguna
July 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co