10 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Saraswati dan Cara Kita Menghargai Ilmu

I Wayan Yudana by I Wayan Yudana
April 4, 2026
in Esai
Tumpek Landep dan Ketajaman Pikiran

I Wayan Yudana

SETIAP enam bulan sekali, tepat pada Saniscara Umanis Watugunung, umat Hindu merayakan Hari Saraswati. Di sekolah-sekolah, dari pendidikan dasar hingga perguruan tinggi, suasana menjadi berbeda. Buku-buku disusun rapi, pelinggih dihias, dan doa-doa dipanjatkan dengan khidmat. Namun, pertanyaannya sederhana: apakah Saraswati hanya berhenti pada ritual?

Bagi dunia pendidikan, Saraswati seharusnya tidak hanya menjadi perayaan seremonial. Ia adalah momen sakral untuk berhenti sejenak—merenung, menundukkan ego, dan membuka hati terhadap makna ilmu pengetahuan yang sesungguhnya. Sebab ilmu bukan sekadar angka di rapor, bukan hanya gelar yang disandang, dan bukan pula sekadar alat untuk mencari pekerjaan.

Ilmu adalah cahaya. Cahaya itu tidak akan pernah menyala jika hanya disimpan tanpa makna.

Hari Saraswati mengingatkan kita bahwa ilmu berasal dari Sang Hyang Aji Saraswati, sumber segala kaweruhan. Dalam kesadaran ini, belajar bukan lagi kewajiban, melainkan bentuk bhakti. Membaca bukan sekadar aktivitas, tetapi laku spiritual. Mengajar pun bukan sekadar profesi, melainkan pengabdian.

Namun demikian, penting untuk disadari bahwa Saraswati bukan hanya milik siswa, mahasiswa, atau guru. Ia bukan sekadar Hari raya bagi dunia pendidikan. Saraswati adalah milik setiap insan yang hidup dengan kesadaran akan pentingnya ilmu.

Siapa pun kita—petani, pedagang, pekerja, pemimpin, atau anggota masyarakat—selama kita meyakini bahwa Saraswati adalah sumber cahaya pengetahuan, maka sejatinya kita juga memiliki kewajiban untuk merayakannya. Tidak harus selalu dalam bentuk upacara besar, tetapi setidaknya dalam diri—melalui kesadaran, sikap, dan cara kita menghargai ilmu dalam kehidupan sehari-hari.

Sampai saat ini, menariknya dalam tradisi Bali, perayaan Saraswati tidak hanya berlangsung di sekolah atau kampus. Ia juga masih hadir di griya, puri, jero, rumah tangga, bahkan di berbagai tempat lain yang menyimpan warisan ilmu pengetahuan. Setiap ruang yang memiliki koleksi pustaka—baik berupa buku, lontar, maupun peninggalan lain yang mengandung nilai pengetahuan—menjadi tempat suci untuk menghaturkan penghormatan.

Ini menegaskan satu hal penting bahwa ilmu tidak hanya hidup di ruang kelas, tetapi juga di rumah, di keluarga, di masyarakat dan dalam kehidupan sehari-hari. Di sinilah makna srada dan bhakti menemukan bentuknya yang paling sederhana, namun paling dalam.

Merayakan Saraswati dalam diri berarti: mau belajar dari pengalaman hidup dan mau mendengar sebelum merasa paling tahu. Selain itu, bermakna pula mau menggunakan pengetahuan untuk kebaikan, bukan untuk kesombongan.

Dalam konteks perlembangan zaman sekarang, pemaknaan ini menjadi semakin penting. Ijazah memang tetap diperlukan sebagai bentuk pengakuan formal, tetapi ia bukan satu-satunya penentu keberhasilan. Dunia nyata menuntut lebih dari sekadar lembar kertas—ia membutuhkan kompetensi nyata, keterampilan hidup (soft skills), kemampuan beradaptasi, komunikasi, serta karakter yang kuat.

Tidak sedikit orang yang memiliki ijazah tinggi, tetapi gagap menghadapi realitas. Sebaliknya, banyak pula yang mampu bertahan dan berkembang karena memiliki keterampilan, sikap, dan kemauan untuk terus belajar. Di sinilah letak pentingnya memahami hakikat menuntut ilmu.

Belajar bukan sekadar mengejar nilai, tetapi membangun kapasitas diri. Bukan hanya untuk lulus, tetapi untuk hidup. Bukan sekadar tahu, tetapi mampu menggunakan pengetahuan dengan bijak. Melalui momen Saraswati inilah waktu yang tepat untuk membuka kesadaran tersebut.

Selanjutnya, Saraswati seakan selalu mengingatkan kita,“Apa yang kau pelajari hari ini, apakah sudah membantumu menjadi manusia yang lebih siap menghadapi kehidupan?”

Di tengah arus zaman yang serba cepat, makna itu sering terpinggirkan. Banyak yang belajar untuk lulus, bukan untuk memahami. Banyak yang bekerja tanpa terus belajar. Bahkan, tidak sedikit yang merasa cukup dengan tahu, tanpa pernah benar-benar mencari makna.

Di sinilah Saraswati menjadi “pengingat yang halus, tapi menampar.”

Ia bukan hanya tentang menghaturkan banten di depan buku, tetapi tentang bagaimana kita memperlakukan ilmu itu sendiri. Apakah kita menjadikannya sebagai jalan untuk memperbaiki diri? Atau hanya sebagai alat untuk meninggikan diri?

Bagi siswa, Saraswati adalah ajakan untuk belajar dengan hati, bukan sekadar menghafal.
Bagi guru, Saraswati adalah panggilan untuk mengajar dengan ketulusan, bukan sekadar menyelesaikan jam pelajaran. Bagi setiap insan, Saraswati adalah kesadaran bahwa belajar tidak pernah selesai—bahwa kehidupan itu sendiri adalah ruang belajar yang luas.

Barangkali, yang perlu kita lakukan di Hari Saraswati bukan hanya menghaturkan sesajen, tetapi juga “membersihkan” cara kita memandang ilmu. Mengembalikan kesadaran bahwa setiap pengetahuan yang kita peroleh adalah anugerah, bukan semata hasil usaha pribadi.

Sebab pada akhirnya, ilmu yang sejati bukan hanya yang membuat kita pintar berbicara, tetapi yang mampu menuntun kita untuk rendah hati. Mungkin, di situlah Saraswati benar-benar hidup—bukan di altar, bukan di buku, tetapi di dalam hati dan sikap kita sehari-hari. [T]

Penulis: I Wayan Yudana
Editor: Adnyana Ole

Tags: Hari Raya Saraswatihinduilmuilmu pengetahuan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

BALI RUSAK KARENA PARTAI?

Next Post

Sunyi yang Dilanggar Ponsel Kita

I Wayan Yudana

I Wayan Yudana

Kepala SMKN 1 Petang, Badung, Bali

Related Posts

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails

Terbang di Atas Sepi

by Angga Wijaya
May 8, 2026
0
Terbang di Atas Sepi

“Kalau gak sabar, silakan terbang di atas sepi.” Tulisan di bak truk itu mungkin lahir dari kemacetan. Dari jalan yang...

Read moreDetails

Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama

by I Gede Joni Suhartawan
May 8, 2026
0
Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama

DATA BPS Februari 2026 membuat kita harus berhenti pura-pura tidak hirau: tingkat pengangguran terbuka lulusan SMK  8.62%..! Tertinggi dari semua...

Read moreDetails

Trio Brunkow, Ramsdell, dan Sakaguchi: Ketika Kolaborasi Ilmiah Mengubah Masa Depan Kemanusiaan

by Agung Sudarsa
May 8, 2026
0
Trio Brunkow, Ramsdell, dan Sakaguchi: Ketika Kolaborasi Ilmiah Mengubah Masa Depan Kemanusiaan

Jejak Kehidupan Tiga Ilmuwan Penjaga Sistem Imun Dunia ilmu pengetahuan sering melahirkan tokoh-tokoh besar yang bekerja dalam kesunyian laboratorium, jauh...

Read moreDetails

Deforestasi Sangat Ditabukan Suku Baduy

by Asep Kurnia
May 7, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

DUNIA saat ini sedang dilanda berbagai bencana alam yang mengerikan dan akan menghadapi suatu bencana yang amat sangat mengerikan bila...

Read moreDetails

Tengah Malam Rokok Habis                           

by Angga Wijaya
May 7, 2026
0
Tengah Malam Rokok Habis                           

HAL yang paling menyiksa bagi para perokok adalah ketika bangun tengah malam dan mendapati bungkus rokok kosong di atas meja....

Read moreDetails

KENAPA MASYARAKAT BALI MENSAKRALKAN MANGROVE (Prapat/Pedada/Pidada)?

by Sugi Lanus
May 7, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Mengenang Kembali Pohon Pesisir yang Dimuliakan Danghyang Nirartha Oleh: Sugi Lanus Di sepanjang garis pantai pulau Serangan dan pantai-pantai...

Read moreDetails

Menjual Sepi: Ketika ‘Healing’ di Bali Berubah Menjadi Industri

by Nur Kamilia
May 5, 2026
0
Menjual Sepi: Ketika ‘Healing’ di Bali Berubah Menjadi Industri

- Sebuah Refleksi tentang Komodifikasi Kesunyian dan Pergeseran Makna Ruang Sakral BALI kini tengah menjual sesuatu yang paling mahal di...

Read moreDetails
Next Post
Sunyi yang Dilanggar Ponsel Kita

Sunyi yang Dilanggar Ponsel Kita

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

MKN Bukan Tameng Impunitas: Notaris Berintegritas, Penegak Hukum  Taati Prosedur

MAHKAMAH Konstitusi melalui Putusan Nomor 65/PUU-XXIV/2026 menegaskan bahwa persetujuan Majelis Kehormatan Notaris (MKN) sebagaimana diatur dalam Pasal 66 Undang-Undang Nomor...

by I Made Pria Dharsana
May 9, 2026
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna
Esai

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
Puting Beliung | Cerpen Supartika
Cerpen

Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

by I Putu Supartika
May 9, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

by Sugi Lanus
May 9, 2026
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot
Esai

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
Terbang di Atas Sepi
Esai

Terbang di Atas Sepi

“Kalau gak sabar, silakan terbang di atas sepi.” Tulisan di bak truk itu mungkin lahir dari kemacetan. Dari jalan yang...

by Angga Wijaya
May 8, 2026
Filla, Unit Rock Tunanetra asal Bali Resmi Bertransformasi Jadi Solo Project Setelah Merilis Tiga Single
Pop

Filla, Unit Rock Tunanetra asal Bali Resmi Bertransformasi Jadi Solo Project Setelah Merilis Tiga Single

SETELAH mencuri perhatian sebagai unit rock tunanetra asal Bali lewat single “Keidela”, “I’m a Fire”, dan “3”, kini Filla memasuki...

by Dede Putra Wiguna
May 8, 2026
Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama
Esai

Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama

DATA BPS Februari 2026 membuat kita harus berhenti pura-pura tidak hirau: tingkat pengangguran terbuka lulusan SMK  8.62%..! Tertinggi dari semua...

by I Gede Joni Suhartawan
May 8, 2026
Trio Brunkow, Ramsdell, dan Sakaguchi: Ketika Kolaborasi Ilmiah Mengubah Masa Depan Kemanusiaan
Esai

Trio Brunkow, Ramsdell, dan Sakaguchi: Ketika Kolaborasi Ilmiah Mengubah Masa Depan Kemanusiaan

Jejak Kehidupan Tiga Ilmuwan Penjaga Sistem Imun Dunia ilmu pengetahuan sering melahirkan tokoh-tokoh besar yang bekerja dalam kesunyian laboratorium, jauh...

by Agung Sudarsa
May 8, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Deforestasi Sangat Ditabukan Suku Baduy

DUNIA saat ini sedang dilanda berbagai bencana alam yang mengerikan dan akan menghadapi suatu bencana yang amat sangat mengerikan bila...

by Asep Kurnia
May 7, 2026
Tengah Malam Rokok Habis                           
Esai

Tengah Malam Rokok Habis                           

HAL yang paling menyiksa bagi para perokok adalah ketika bangun tengah malam dan mendapati bungkus rokok kosong di atas meja....

by Angga Wijaya
May 7, 2026
Wujudkan Tri Hita Karana, KKN Tematik UPMI 2026 Sukses Bawa Perubahan Positif di Banjar Negari, Singapadu Tengah, Gianyar
Pendidikan

Wujudkan Tri Hita Karana, KKN Tematik UPMI 2026 Sukses Bawa Perubahan Positif di Banjar Negari, Singapadu Tengah, Gianyar

MAHASISWA Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI Bali) Kelompok VI Tahun 2026 sukses menyelenggarakan serangkaian program...

by Dede Putra Wiguna
May 7, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co