22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Saraswati dan Cara Kita Menghargai Ilmu

I Wayan Yudana by I Wayan Yudana
April 4, 2026
in Esai
Tumpek Landep dan Ketajaman Pikiran

I Wayan Yudana

SETIAP enam bulan sekali, tepat pada Saniscara Umanis Watugunung, umat Hindu merayakan Hari Saraswati. Di sekolah-sekolah, dari pendidikan dasar hingga perguruan tinggi, suasana menjadi berbeda. Buku-buku disusun rapi, pelinggih dihias, dan doa-doa dipanjatkan dengan khidmat. Namun, pertanyaannya sederhana: apakah Saraswati hanya berhenti pada ritual?

Bagi dunia pendidikan, Saraswati seharusnya tidak hanya menjadi perayaan seremonial. Ia adalah momen sakral untuk berhenti sejenak—merenung, menundukkan ego, dan membuka hati terhadap makna ilmu pengetahuan yang sesungguhnya. Sebab ilmu bukan sekadar angka di rapor, bukan hanya gelar yang disandang, dan bukan pula sekadar alat untuk mencari pekerjaan.

Ilmu adalah cahaya. Cahaya itu tidak akan pernah menyala jika hanya disimpan tanpa makna.

Hari Saraswati mengingatkan kita bahwa ilmu berasal dari Sang Hyang Aji Saraswati, sumber segala kaweruhan. Dalam kesadaran ini, belajar bukan lagi kewajiban, melainkan bentuk bhakti. Membaca bukan sekadar aktivitas, tetapi laku spiritual. Mengajar pun bukan sekadar profesi, melainkan pengabdian.

Namun demikian, penting untuk disadari bahwa Saraswati bukan hanya milik siswa, mahasiswa, atau guru. Ia bukan sekadar Hari raya bagi dunia pendidikan. Saraswati adalah milik setiap insan yang hidup dengan kesadaran akan pentingnya ilmu.

Siapa pun kita—petani, pedagang, pekerja, pemimpin, atau anggota masyarakat—selama kita meyakini bahwa Saraswati adalah sumber cahaya pengetahuan, maka sejatinya kita juga memiliki kewajiban untuk merayakannya. Tidak harus selalu dalam bentuk upacara besar, tetapi setidaknya dalam diri—melalui kesadaran, sikap, dan cara kita menghargai ilmu dalam kehidupan sehari-hari.

Sampai saat ini, menariknya dalam tradisi Bali, perayaan Saraswati tidak hanya berlangsung di sekolah atau kampus. Ia juga masih hadir di griya, puri, jero, rumah tangga, bahkan di berbagai tempat lain yang menyimpan warisan ilmu pengetahuan. Setiap ruang yang memiliki koleksi pustaka—baik berupa buku, lontar, maupun peninggalan lain yang mengandung nilai pengetahuan—menjadi tempat suci untuk menghaturkan penghormatan.

Ini menegaskan satu hal penting bahwa ilmu tidak hanya hidup di ruang kelas, tetapi juga di rumah, di keluarga, di masyarakat dan dalam kehidupan sehari-hari. Di sinilah makna srada dan bhakti menemukan bentuknya yang paling sederhana, namun paling dalam.

Merayakan Saraswati dalam diri berarti: mau belajar dari pengalaman hidup dan mau mendengar sebelum merasa paling tahu. Selain itu, bermakna pula mau menggunakan pengetahuan untuk kebaikan, bukan untuk kesombongan.

Dalam konteks perlembangan zaman sekarang, pemaknaan ini menjadi semakin penting. Ijazah memang tetap diperlukan sebagai bentuk pengakuan formal, tetapi ia bukan satu-satunya penentu keberhasilan. Dunia nyata menuntut lebih dari sekadar lembar kertas—ia membutuhkan kompetensi nyata, keterampilan hidup (soft skills), kemampuan beradaptasi, komunikasi, serta karakter yang kuat.

Tidak sedikit orang yang memiliki ijazah tinggi, tetapi gagap menghadapi realitas. Sebaliknya, banyak pula yang mampu bertahan dan berkembang karena memiliki keterampilan, sikap, dan kemauan untuk terus belajar. Di sinilah letak pentingnya memahami hakikat menuntut ilmu.

Belajar bukan sekadar mengejar nilai, tetapi membangun kapasitas diri. Bukan hanya untuk lulus, tetapi untuk hidup. Bukan sekadar tahu, tetapi mampu menggunakan pengetahuan dengan bijak. Melalui momen Saraswati inilah waktu yang tepat untuk membuka kesadaran tersebut.

Selanjutnya, Saraswati seakan selalu mengingatkan kita,“Apa yang kau pelajari hari ini, apakah sudah membantumu menjadi manusia yang lebih siap menghadapi kehidupan?”

Di tengah arus zaman yang serba cepat, makna itu sering terpinggirkan. Banyak yang belajar untuk lulus, bukan untuk memahami. Banyak yang bekerja tanpa terus belajar. Bahkan, tidak sedikit yang merasa cukup dengan tahu, tanpa pernah benar-benar mencari makna.

Di sinilah Saraswati menjadi “pengingat yang halus, tapi menampar.”

Ia bukan hanya tentang menghaturkan banten di depan buku, tetapi tentang bagaimana kita memperlakukan ilmu itu sendiri. Apakah kita menjadikannya sebagai jalan untuk memperbaiki diri? Atau hanya sebagai alat untuk meninggikan diri?

Bagi siswa, Saraswati adalah ajakan untuk belajar dengan hati, bukan sekadar menghafal.
Bagi guru, Saraswati adalah panggilan untuk mengajar dengan ketulusan, bukan sekadar menyelesaikan jam pelajaran. Bagi setiap insan, Saraswati adalah kesadaran bahwa belajar tidak pernah selesai—bahwa kehidupan itu sendiri adalah ruang belajar yang luas.

Barangkali, yang perlu kita lakukan di Hari Saraswati bukan hanya menghaturkan sesajen, tetapi juga “membersihkan” cara kita memandang ilmu. Mengembalikan kesadaran bahwa setiap pengetahuan yang kita peroleh adalah anugerah, bukan semata hasil usaha pribadi.

Sebab pada akhirnya, ilmu yang sejati bukan hanya yang membuat kita pintar berbicara, tetapi yang mampu menuntun kita untuk rendah hati. Mungkin, di situlah Saraswati benar-benar hidup—bukan di altar, bukan di buku, tetapi di dalam hati dan sikap kita sehari-hari. [T]

Penulis: I Wayan Yudana
Editor: Adnyana Ole

Tags: Hari Raya Saraswatihinduilmuilmu pengetahuan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

BALI RUSAK KARENA PARTAI?

Next Post

Sunyi yang Dilanggar Ponsel Kita

I Wayan Yudana

I Wayan Yudana

Kepala SMKN 1 Petang, Badung, Bali

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Sunyi yang Dilanggar Ponsel Kita

Sunyi yang Dilanggar Ponsel Kita

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co