1 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Saraswati dan Cara Kita Menghargai Ilmu

I Wayan Yudana by I Wayan Yudana
April 4, 2026
in Esai
Tumpek Landep dan Ketajaman Pikiran

I Wayan Yudana

SETIAP enam bulan sekali, tepat pada Saniscara Umanis Watugunung, umat Hindu merayakan Hari Saraswati. Di sekolah-sekolah, dari pendidikan dasar hingga perguruan tinggi, suasana menjadi berbeda. Buku-buku disusun rapi, pelinggih dihias, dan doa-doa dipanjatkan dengan khidmat. Namun, pertanyaannya sederhana: apakah Saraswati hanya berhenti pada ritual?

Bagi dunia pendidikan, Saraswati seharusnya tidak hanya menjadi perayaan seremonial. Ia adalah momen sakral untuk berhenti sejenak—merenung, menundukkan ego, dan membuka hati terhadap makna ilmu pengetahuan yang sesungguhnya. Sebab ilmu bukan sekadar angka di rapor, bukan hanya gelar yang disandang, dan bukan pula sekadar alat untuk mencari pekerjaan.

Ilmu adalah cahaya. Cahaya itu tidak akan pernah menyala jika hanya disimpan tanpa makna.

Hari Saraswati mengingatkan kita bahwa ilmu berasal dari Sang Hyang Aji Saraswati, sumber segala kaweruhan. Dalam kesadaran ini, belajar bukan lagi kewajiban, melainkan bentuk bhakti. Membaca bukan sekadar aktivitas, tetapi laku spiritual. Mengajar pun bukan sekadar profesi, melainkan pengabdian.

Namun demikian, penting untuk disadari bahwa Saraswati bukan hanya milik siswa, mahasiswa, atau guru. Ia bukan sekadar Hari raya bagi dunia pendidikan. Saraswati adalah milik setiap insan yang hidup dengan kesadaran akan pentingnya ilmu.

Siapa pun kita—petani, pedagang, pekerja, pemimpin, atau anggota masyarakat—selama kita meyakini bahwa Saraswati adalah sumber cahaya pengetahuan, maka sejatinya kita juga memiliki kewajiban untuk merayakannya. Tidak harus selalu dalam bentuk upacara besar, tetapi setidaknya dalam diri—melalui kesadaran, sikap, dan cara kita menghargai ilmu dalam kehidupan sehari-hari.

Sampai saat ini, menariknya dalam tradisi Bali, perayaan Saraswati tidak hanya berlangsung di sekolah atau kampus. Ia juga masih hadir di griya, puri, jero, rumah tangga, bahkan di berbagai tempat lain yang menyimpan warisan ilmu pengetahuan. Setiap ruang yang memiliki koleksi pustaka—baik berupa buku, lontar, maupun peninggalan lain yang mengandung nilai pengetahuan—menjadi tempat suci untuk menghaturkan penghormatan.

Ini menegaskan satu hal penting bahwa ilmu tidak hanya hidup di ruang kelas, tetapi juga di rumah, di keluarga, di masyarakat dan dalam kehidupan sehari-hari. Di sinilah makna srada dan bhakti menemukan bentuknya yang paling sederhana, namun paling dalam.

Merayakan Saraswati dalam diri berarti: mau belajar dari pengalaman hidup dan mau mendengar sebelum merasa paling tahu. Selain itu, bermakna pula mau menggunakan pengetahuan untuk kebaikan, bukan untuk kesombongan.

Dalam konteks perlembangan zaman sekarang, pemaknaan ini menjadi semakin penting. Ijazah memang tetap diperlukan sebagai bentuk pengakuan formal, tetapi ia bukan satu-satunya penentu keberhasilan. Dunia nyata menuntut lebih dari sekadar lembar kertas—ia membutuhkan kompetensi nyata, keterampilan hidup (soft skills), kemampuan beradaptasi, komunikasi, serta karakter yang kuat.

Tidak sedikit orang yang memiliki ijazah tinggi, tetapi gagap menghadapi realitas. Sebaliknya, banyak pula yang mampu bertahan dan berkembang karena memiliki keterampilan, sikap, dan kemauan untuk terus belajar. Di sinilah letak pentingnya memahami hakikat menuntut ilmu.

Belajar bukan sekadar mengejar nilai, tetapi membangun kapasitas diri. Bukan hanya untuk lulus, tetapi untuk hidup. Bukan sekadar tahu, tetapi mampu menggunakan pengetahuan dengan bijak. Melalui momen Saraswati inilah waktu yang tepat untuk membuka kesadaran tersebut.

Selanjutnya, Saraswati seakan selalu mengingatkan kita,“Apa yang kau pelajari hari ini, apakah sudah membantumu menjadi manusia yang lebih siap menghadapi kehidupan?”

Di tengah arus zaman yang serba cepat, makna itu sering terpinggirkan. Banyak yang belajar untuk lulus, bukan untuk memahami. Banyak yang bekerja tanpa terus belajar. Bahkan, tidak sedikit yang merasa cukup dengan tahu, tanpa pernah benar-benar mencari makna.

Di sinilah Saraswati menjadi “pengingat yang halus, tapi menampar.”

Ia bukan hanya tentang menghaturkan banten di depan buku, tetapi tentang bagaimana kita memperlakukan ilmu itu sendiri. Apakah kita menjadikannya sebagai jalan untuk memperbaiki diri? Atau hanya sebagai alat untuk meninggikan diri?

Bagi siswa, Saraswati adalah ajakan untuk belajar dengan hati, bukan sekadar menghafal.
Bagi guru, Saraswati adalah panggilan untuk mengajar dengan ketulusan, bukan sekadar menyelesaikan jam pelajaran. Bagi setiap insan, Saraswati adalah kesadaran bahwa belajar tidak pernah selesai—bahwa kehidupan itu sendiri adalah ruang belajar yang luas.

Barangkali, yang perlu kita lakukan di Hari Saraswati bukan hanya menghaturkan sesajen, tetapi juga “membersihkan” cara kita memandang ilmu. Mengembalikan kesadaran bahwa setiap pengetahuan yang kita peroleh adalah anugerah, bukan semata hasil usaha pribadi.

Sebab pada akhirnya, ilmu yang sejati bukan hanya yang membuat kita pintar berbicara, tetapi yang mampu menuntun kita untuk rendah hati. Mungkin, di situlah Saraswati benar-benar hidup—bukan di altar, bukan di buku, tetapi di dalam hati dan sikap kita sehari-hari. [T]

Penulis: I Wayan Yudana
Editor: Adnyana Ole

Tags: Hari Raya Saraswatihinduilmuilmu pengetahuan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

BALI RUSAK KARENA PARTAI?

Next Post

Sunyi yang Dilanggar Ponsel Kita

I Wayan Yudana

I Wayan Yudana

Kepala SMKN 1 Petang, Badung, Bali

Related Posts

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
0
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

Read moreDetails

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

Read moreDetails
Next Post
Sunyi yang Dilanggar Ponsel Kita

Sunyi yang Dilanggar Ponsel Kita

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas
Khas

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi
Ulas Buku

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?
Esai

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra
Esai

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

by Emi Suy
September 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co