1 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

BALI RUSAK KARENA PARTAI?

Sugi Lanus by Sugi Lanus
April 4, 2026
in Esai
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Sugi Lanus

— Catatan Harian Sugi Lanus, 3 April 2026

Bali memiliki sejarah panjang yang kelam akibat kontestasi partai. Dari pemilu pertama tahun 1955, banjir berdarah 1965, sampai era reformasi, Bali tak pernah lepas dari cengkeraman kepentingan partai, menjadikan tanah Bali sebagai korban ambisi kekuasaan dan investasi.

Sejak fajar kemerdekaan, Bali telah menjadi arena kontestasi yang intens. Pada Pemilu 1955, Bali menunjukkan pluralisme politik yang nyata dengan kemenangan Partai Nasional Indonesia (PNI) yang dominan, disusul oleh kekuatan partai lain seperti PSI dan PKI.

Indahnya multipartai ini berakhir tragis ketika gesekan ideologi memicu Tragedi Bali Berdarah 1965, yang mengubah wajah politik Bali menjadi monolitik di bawah tekanan Orde Baru lewat dominasi Golkar. 

Pasca-tumbangnya Soeharto, era Reformasi membawa harapan baru namun juga luka fisik dan trauma dari peristiwa amuk ”Bali Bakar Bali” ketika Megawati tidak terpilih sebagai presiden pada Sidang Umum MPR, Oktober 1999.

Memasuki dekade ketiga Reformasi, Bali terjebak dalam ”monoloyalitas” baru. Meskipun sistem nasional menganut multipartai, secara de facto Bali menjadi benteng kokoh satu warna yang menguasai hampir seluruh lini kebijakan dari tingkat provinsi hingga kabupaten/kota.

Awal Kemerdekaan dan Tragedi Berdarah 1965

Dari awal kemerdekaan Bali menjadi panggung multipartai yang problematik dan berubah menjadi “perang saudara”. Konflik ideologi, terutama antara pendukung PNI (Partai Nasional Indonesia) dan simpatisan PKI (Partai Komunis Indonesia), meruncing. Puncaknya adalah tragedi berdarah 1965-1966.

Bali menjadi salah satu lokasi pembantaian massal terbesar di Indonesia. Diperkirakan puluhan ribu (bahkan ada dugaan seratusan ribu) orang Bali yang dituduh komunis dibantai. Peristiwa ini menciptakan trauma mendalam dan mengubah karakteristik masyarakat Bali yang semula kritis menjadi tertutup dan ketakutan.

Era Orde Baru: Sapi Perah dan Kronisme

Jatuhnya Sukarno membawa Bali ke dalam pelukan Orde Baru dengan Golkar sebagai partai penguasa tunggal. Tekanan pusat sangat kuat untuk menguasai Bali. Selama lebih dari 30 tahun, Bali “dijinakkan” dan diubah menjadi “sapi perah” pariwisata.

Pembangunan infrastruktur dan perhotelan mewah didominasi oleh kroni Soeharto dan anak-anaknya. Reklamasi Pulau Serangan adalah peninggalan ambisi-beringas kronis Soeharto. Lahan-lahan produktif diubah menjadi kawasan wisata eksklusif, yang menguntungkan modal besar namun kerap mengabaikan kearifan lokal. Bali menjadi mesin uang, namun masyarakat lokal seringkali hanya menjadi penonton atau pekerja kelas bawah, hingga akhirnya tumbang oleh gerakan reformasi 1998.

Reformasi, ‘Bali Bakar Bali’, dan Dominasi PDIP

Tahun 1999 menjadi titik balik mengejutkan. Ketika Megawati Soekarnoputri (PDIP) kalah dalam pemilihan presiden oleh Gus Dur di Sidang Umum MPR, pendukung PDIP di Bali mengamuk. Peristiwa “Bali Bakar Bali” terjadi, di mana pembakaran dan unjuk rasa terjadi di berbagai titik, terutama di Buleleng, Badung, dan Denpasar. Bali membara karena kekecewaan politik.

Pasca kerusuhan tersebut, PDIP menguasai Bali secara total. PDIP memenangkan hampir setiap pemilu, bupati, dan gubernur berturut-turut.

Apakah Bali serta merta menjadi lebih baik?

Dominasi PDIP selama lebih dari dua dekade ini menyisakan rapor merah di tengah narasi pembangunan:
▪ Konversi Lahan: Masalah konversi lahan produktif dan kawasan suci menjadi perumahan dan vila-vila mewah terus berlanjut.
▪ Isu Lingkungan: Masalah sampah, krisis air, dan kerusakan lingkungan akibat pariwisata massal yang tak terkendali di bawah izin pemerintahan daerah (PDIP) semakin akut.
▪ Ketimpangan: Meski ekonomi pariwisata tumbuh, ketimpangan antara Bali Selatan dan Utara-Timur masih terjadi, serta alih fungsi lahan yang mengancam subak (sistem irigasi tradisional).

Mampukah Partai Memperbaiki Bali?

Jika tolak ukurnya adalah kemenangan politik, Golkar pernah 30an tahun berkuasa total, dan sejak tahun 1999 PDIP terus jawara di Bali .

Namun, jika tolak ukurnya adalah pelestarian alam, budaya, dan kesejahteraan yang merata, dominasi kepartaian—baik era Orba maupun Reformasi—menunjukkan bahwa Bali seringkali dikorbankan demi investasi dan kekuasaan.

Apakah Bali akan lebih baik ke depan?

Jawabannya kompleks. Kalaupun ada beberapa infrastruktur fisik kelihatannya membaik, seperti jalan raya dan rumah sakit, namun ekologi dan budaya Bali justru mengalami tekanan terberat sepanjang sejarah.

Partai politik, terlepas dari warnanya, dalam sejarah politik Bali umumnya menjadikan Bali hanya sebagai aset, bukan subjek yang harus dilindungi. Narasi kekuasaan politik yang silih berganti pada ujungnya menjadikan Bali hanya sebagai “aset” yang dieksploitasi, bukan sebagai “subjek” yang harus dilindungi kelestarian alam dan budayanya.

Belajar dari sejarah dan realitas lapangan, di mana Pulau Serangan direklamasi, sawah-sawah produktif diberi ijin untuk dikonversi menjadi villa, hutan mangrove dicaplok investor, sudah saatnya masyarakat Bali berhenti bersandar pada partai politik untuk perubahan yang substansial.

Bali mesti mandiri, berdiri di atas kakinya sendiri. Kekuatan sesungguhnya untuk menyelamatkan Bali bukan pada wakil-wakil partai, melainkan pada kekuatan kultural yang berakar pada sistem banjar dan tradisi gotong royong (ngayah) yang lintas partai dan melampaui kepentingan politik formal.

Jika masyarakat Bali mau berbenah: Jangan mau dijebak dalam “monoloyalitas” partai. [T]

Tags: baliOrde BaruPartai PolitikPolitikReformasi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lolot Band Rilis ‘Tajir Melintir’: Album ke-11 yang Ringkas dan Mengena

Next Post

Saraswati dan Cara Kita Menghargai Ilmu

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
0
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

Read moreDetails

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

Read moreDetails
Next Post
Tumpek Landep dan Ketajaman Pikiran

Saraswati dan Cara Kita Menghargai Ilmu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas
Khas

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi
Ulas Buku

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co