22 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

BALI RUSAK KARENA PARTAI?

Sugi Lanus by Sugi Lanus
April 4, 2026
in Esai
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Sugi Lanus

— Catatan Harian Sugi Lanus, 3 April 2026

Bali memiliki sejarah panjang yang kelam akibat kontestasi partai. Dari pemilu pertama tahun 1955, banjir berdarah 1965, sampai era reformasi, Bali tak pernah lepas dari cengkeraman kepentingan partai, menjadikan tanah Bali sebagai korban ambisi kekuasaan dan investasi.

Sejak fajar kemerdekaan, Bali telah menjadi arena kontestasi yang intens. Pada Pemilu 1955, Bali menunjukkan pluralisme politik yang nyata dengan kemenangan Partai Nasional Indonesia (PNI) yang dominan, disusul oleh kekuatan partai lain seperti PSI dan PKI.

Indahnya multipartai ini berakhir tragis ketika gesekan ideologi memicu Tragedi Bali Berdarah 1965, yang mengubah wajah politik Bali menjadi monolitik di bawah tekanan Orde Baru lewat dominasi Golkar. 

Pasca-tumbangnya Soeharto, era Reformasi membawa harapan baru namun juga luka fisik dan trauma dari peristiwa amuk ”Bali Bakar Bali” ketika Megawati tidak terpilih sebagai presiden pada Sidang Umum MPR, Oktober 1999.

Memasuki dekade ketiga Reformasi, Bali terjebak dalam ”monoloyalitas” baru. Meskipun sistem nasional menganut multipartai, secara de facto Bali menjadi benteng kokoh satu warna yang menguasai hampir seluruh lini kebijakan dari tingkat provinsi hingga kabupaten/kota.

Awal Kemerdekaan dan Tragedi Berdarah 1965

Dari awal kemerdekaan Bali menjadi panggung multipartai yang problematik dan berubah menjadi “perang saudara”. Konflik ideologi, terutama antara pendukung PNI (Partai Nasional Indonesia) dan simpatisan PKI (Partai Komunis Indonesia), meruncing. Puncaknya adalah tragedi berdarah 1965-1966.

Bali menjadi salah satu lokasi pembantaian massal terbesar di Indonesia. Diperkirakan puluhan ribu (bahkan ada dugaan seratusan ribu) orang Bali yang dituduh komunis dibantai. Peristiwa ini menciptakan trauma mendalam dan mengubah karakteristik masyarakat Bali yang semula kritis menjadi tertutup dan ketakutan.

Era Orde Baru: Sapi Perah dan Kronisme

Jatuhnya Sukarno membawa Bali ke dalam pelukan Orde Baru dengan Golkar sebagai partai penguasa tunggal. Tekanan pusat sangat kuat untuk menguasai Bali. Selama lebih dari 30 tahun, Bali “dijinakkan” dan diubah menjadi “sapi perah” pariwisata.

Pembangunan infrastruktur dan perhotelan mewah didominasi oleh kroni Soeharto dan anak-anaknya. Reklamasi Pulau Serangan adalah peninggalan ambisi-beringas kronis Soeharto. Lahan-lahan produktif diubah menjadi kawasan wisata eksklusif, yang menguntungkan modal besar namun kerap mengabaikan kearifan lokal. Bali menjadi mesin uang, namun masyarakat lokal seringkali hanya menjadi penonton atau pekerja kelas bawah, hingga akhirnya tumbang oleh gerakan reformasi 1998.

Reformasi, ‘Bali Bakar Bali’, dan Dominasi PDIP

Tahun 1999 menjadi titik balik mengejutkan. Ketika Megawati Soekarnoputri (PDIP) kalah dalam pemilihan presiden oleh Gus Dur di Sidang Umum MPR, pendukung PDIP di Bali mengamuk. Peristiwa “Bali Bakar Bali” terjadi, di mana pembakaran dan unjuk rasa terjadi di berbagai titik, terutama di Buleleng, Badung, dan Denpasar. Bali membara karena kekecewaan politik.

Pasca kerusuhan tersebut, PDIP menguasai Bali secara total. PDIP memenangkan hampir setiap pemilu, bupati, dan gubernur berturut-turut.

Apakah Bali serta merta menjadi lebih baik?

Dominasi PDIP selama lebih dari dua dekade ini menyisakan rapor merah di tengah narasi pembangunan:
▪ Konversi Lahan: Masalah konversi lahan produktif dan kawasan suci menjadi perumahan dan vila-vila mewah terus berlanjut.
▪ Isu Lingkungan: Masalah sampah, krisis air, dan kerusakan lingkungan akibat pariwisata massal yang tak terkendali di bawah izin pemerintahan daerah (PDIP) semakin akut.
▪ Ketimpangan: Meski ekonomi pariwisata tumbuh, ketimpangan antara Bali Selatan dan Utara-Timur masih terjadi, serta alih fungsi lahan yang mengancam subak (sistem irigasi tradisional).

Mampukah Partai Memperbaiki Bali?

Jika tolak ukurnya adalah kemenangan politik, Golkar pernah 30an tahun berkuasa total, dan sejak tahun 1999 PDIP terus jawara di Bali .

Namun, jika tolak ukurnya adalah pelestarian alam, budaya, dan kesejahteraan yang merata, dominasi kepartaian—baik era Orba maupun Reformasi—menunjukkan bahwa Bali seringkali dikorbankan demi investasi dan kekuasaan.

Apakah Bali akan lebih baik ke depan?

Jawabannya kompleks. Kalaupun ada beberapa infrastruktur fisik kelihatannya membaik, seperti jalan raya dan rumah sakit, namun ekologi dan budaya Bali justru mengalami tekanan terberat sepanjang sejarah.

Partai politik, terlepas dari warnanya, dalam sejarah politik Bali umumnya menjadikan Bali hanya sebagai aset, bukan subjek yang harus dilindungi. Narasi kekuasaan politik yang silih berganti pada ujungnya menjadikan Bali hanya sebagai “aset” yang dieksploitasi, bukan sebagai “subjek” yang harus dilindungi kelestarian alam dan budayanya.

Belajar dari sejarah dan realitas lapangan, di mana Pulau Serangan direklamasi, sawah-sawah produktif diberi ijin untuk dikonversi menjadi villa, hutan mangrove dicaplok investor, sudah saatnya masyarakat Bali berhenti bersandar pada partai politik untuk perubahan yang substansial.

Bali mesti mandiri, berdiri di atas kakinya sendiri. Kekuatan sesungguhnya untuk menyelamatkan Bali bukan pada wakil-wakil partai, melainkan pada kekuatan kultural yang berakar pada sistem banjar dan tradisi gotong royong (ngayah) yang lintas partai dan melampaui kepentingan politik formal.

Jika masyarakat Bali mau berbenah: Jangan mau dijebak dalam “monoloyalitas” partai. [T]

Tags: baliOrde BaruPartai PolitikPolitikReformasi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lolot Band Rilis ‘Tajir Melintir’: Album ke-11 yang Ringkas dan Mengena

Next Post

Saraswati dan Cara Kita Menghargai Ilmu

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails

‘Lamak’ dan ‘Maceniga’:Tantangan Praktik Budaya di Tengah Modernitas

by Pande Susan
June 18, 2026
0
‘Lamak’ dan ‘Maceniga’:Tantangan Praktik Budaya di Tengah Modernitas

SAAT matahari mulai menuju satu garis lurus di atas kepala, derau ritmis mengisi ruang di bawah atap Bale Daja rumahku...

Read moreDetails

Mendengarkan Hidup Saya dari Mulut Orang Lain

by Angga Wijaya
June 18, 2026
0
Mendengarkan Hidup Saya dari Mulut Orang Lain

TIGAminggu lalu saya mendengarkan tunangan saya diwawancarai. Kalimat itu terdengar aneh. Biasanya sayalah yang mewawancarai orang. Sejak menjadi wartawan, entah...

Read moreDetails
Next Post
Tumpek Landep dan Ketajaman Pikiran

Saraswati dan Cara Kita Menghargai Ilmu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar
Tualang

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

by Made Wirya
June 21, 2026
Lubang | Cerpen Asmaran Dani
Cerpen

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

by Asmaran Dani
June 21, 2026
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi
Puisi

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

by Mahesa Putra
June 21, 2026
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045
Esai

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar
Esai

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

by Made Chandra
June 21, 2026
“Aji Pemalik Sumpah” dari Sekaa Dramatari Arja Sudhamala di Pesta Kesenian Bali 2026: Pertama dan Total
Panggung

“Aji Pemalik Sumpah” dari Sekaa Dramatari Arja Sudhamala di Pesta Kesenian Bali 2026: Pertama dan Total

SEKAA Dramatari Arja Sudhamala ini baru pertamakali pentas di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Bahkan, sekaa kesenian tradisional Bali yang...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi
Ulas Musik

’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia...

by Ahmad Sihabudin
June 21, 2026
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   
Esai

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!
Khas

Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!

 “Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama,...

by Dede Putra Wiguna
June 21, 2026
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital
Esai

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

by Angga Wijaya
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co