Di negeri itu, tanah tidak lagi disebut tanah. Ia disebut komoditas. Gunung tidak lagi dipandang sebagai punggung yang menyangga langit, melainkan sebagai tumpukan cadangan yang siap dikeruk. Sungai tak lagi dilihat sebagai nadi, melainkan sebagai saluran pembuangan yang dapat dinegosiasikan. Orang-orang di negeri itu menyebut dirinya bangsa besar, tetapi diam-diam mereka hidup dari kebiasaan menjual isi perutnya sendiri.
Namanya Negeri Amarta. Di peta dunia, Amarta terletak di garis khatulistiwa, memanjang seperti sabuk zamrud yang kaya akan hutan, batu bara, nikel, emas, dan minyak. Para pemimpinnya bangga menyebutnya “karunia tak terhingga”. Namun bagi sebagian rakyatnya, karunia itu terasa seperti kutukan yang perlahan menggerogoti.
Di kota pesisir bernama Lembayung, seorang anak muda bernama Raka duduk di tepi dermaga, memandangi kapal-kapal raksasa yang datang dan pergi. Kapal-kapal itu tak pernah membawa kembali sesuatu yang utuh. Mereka datang dengan perut kosong dan pulang dengan lambung penuh. Raka tahu apa yang mereka bawa: batu hitam dari gunung utara, bijih logam dari bukit timur, dan pasir halus dari pantai selatan.
Ayah Raka dulu seorang penambang. Tangan ayahnya kasar seperti kulit kayu, paru-parunya berat oleh debu yang tak pernah benar-benar keluar. “Negeri ini kaya, Ka,” kata ayahnya suatu malam, ketika listrik padam dan mereka hanya ditemani lampu minyak. “Tapi kekayaan itu seperti air laut. Kita dikelilingi olehnya, tapi tak bisa meminumnya.”
Raka tak benar-benar mengerti waktu itu. Ia masih remaja yang sibuk bermimpi tentang kota besar dan pekerjaan berseragam rapi. Ia tak ingin menjadi penambang. Ia ingin menjadi jurnalis, atau penulis, atau apa pun yang membuatnya bisa mengubah kata menjadi senjata.
Namun negeri ini punya cara sendiri untuk membentuk takdir warganya.
Suatu hari, kabar besar datang dari ibu kota. Presiden Amarta mengumumkan penandatanganan kontrak raksasa dengan perusahaan asing bernama Aurora Minerals. Kontrak itu disebut sebagai “lompatan kemajuan”. Televisi menampilkan gambar presiden berjabat tangan dengan lelaki berambut perak dari luar negeri. Senyum mereka lebar, lampu kilat kamera berpendar seperti kilat di musim hujan.
“Ini demi kesejahteraan rakyat,” kata presiden dalam pidato kenegaraan. “Kita harus membuka diri. Dunia adalah mitra, bukan ancaman.”
Di Lembayung, orang-orang menonton dengan campuran harap dan ragu. Kepala desa berkata proyek itu akan membuka lapangan kerja. Spanduk-spanduk dipasang: Amarta Bangkit! Amarta Maju!
Ayah Raka tak pernah menonton sampai selesai. Ia mematikan televisi sebelum pidato usai. “Bangkit untuk siapa?” gumamnya.
Beberapa bulan kemudian, truk-truk besar mulai berdatangan. Jalanan desa yang dulu sunyi kini bergetar setiap malam. Bukit tempat Raka dan teman-temannya dulu bermain layang-layang mulai dipagari seng. Di sana berdiri papan besar bertuliskan: Kawasan Proyek Strategis Nasional – Dilarang Masuk Tanpa Izin.
Raka yang kini bekerja sebagai reporter untuk media lokal kecil bernama Suara Pesisir mencoba meliput. Ia datang dengan kamera tua dan buku catatan yang sudah mulai kusut di sudut-sudutnya.
“Maaf, Mas,” kata seorang petugas keamanan dengan helm dan rompi reflektif. “Akses terbatas. Semua informasi lewat kantor pusat.”
Raka menuliskan kalimat itu dalam bukunya: Semua informasi lewat kantor pusat. Kalimat itu terasa seperti simbol zaman. Rakyat tak lagi bisa melihat apa yang terjadi di tanah mereka sendiri.
Seiring waktu, bukit itu menghilang sedikit demi sedikit. Pohon-pohon ditebang, tanah dikupas seperti kulit buah. Dari kejauhan, proyek itu tampak seperti luka terbuka di tubuh bumi. Debu beterbangan, menempel di jendela rumah, di pakaian yang dijemur, bahkan di nasi yang belum sempat ditutup.
Ayah Raka kembali bekerja di sana. “Hanya sementara,” katanya pada Raka. “Kita butuh uang untuk biaya rumah sakit ibumu.”
Ibu Raka memang sakit. Batuknya tak kunjung sembuh. Dokter puskesmas mengatakan paru-parunya teriritasi. Debu, mungkin. Atau usia. Atau kombinasi keduanya.
Raka menulis artikel demi artikel. Ia mewawancarai nelayan yang mengeluh hasil tangkapan menurun karena air keruh. Ia berbicara dengan guru sekolah dasar yang khawatir murid-muridnya sering batuk dan sesak. Ia mencoba meminta data pada dinas lingkungan hidup, tapi jawabannya selalu normatif: “Sesuai standar. Tidak ada pelanggaran berarti.”
Sementara itu, di televisi nasional, proyek Aurora Minerals dipuji sebagai keberhasilan. Angka investasi melonjak. Pertumbuhan ekonomi naik sekian persen. Amarta disebut-sebut sebagai bintang baru di kawasan.
Raka mulai merasa hidup di dua negeri yang berbeda. Negeri di layar kaca yang gemerlap dan optimis, dan negeri di bawah kakinya yang berdebu dan letih.
Suatu malam, ayahnya pulang lebih awal dari biasanya. Wajahnya pucat, napasnya berat. Ia duduk tanpa bicara, menatap dinding yang mulai retak.
“Terjadi longsor,” katanya akhirnya. “Dua orang tertimbun.”
“Siapa?” tanya Raka, suaranya tercekat.
“Teman sekampung. Mereka bilang itu kecelakaan kerja. Tapi kami tahu, mereka memaksa kami kerja meski hujan deras.”
Keesokan harinya, Raka pergi ke lokasi. Ia melihat ambulans, garis polisi, dan sekelompok pekerja yang berdiri dengan wajah kosong. Ia mengangkat kameranya, tapi seorang pria bersetelan rapi mendekat.
“Berhenti. Ini area sensitif. Jangan memperkeruh suasana,” katanya tegas.
“Rakyat berhak tahu,” balas Raka.
Pria itu tersenyum tipis. “Rakyat juga berhak atas stabilitas.”
Kata stabilitas bergema di kepala Raka. Stabilitas untuk siapa? Untuk investor? Untuk grafik ekonomi? Atau untuk keluarga yang kehilangan tulang punggung?
Artikel Raka tentang longsor itu akhirnya terbit, tapi tak lama kemudian redaksinya mendapat surat peringatan. Iklan dari perusahaan-perusahaan yang berafiliasi dengan proyek mulai ditarik. Pemilik media memanggil Raka ke ruangannya.
“Kita harus realistis,” kata sang pemilik dengan nada lelah. “Kita ini media kecil. Jangan bunuh diri.”
“Lalu bagaimana dengan kebenaran?” tanya Raka.
Pemilik itu menatapnya lama. “Kebenaran mahal, Nak. Tidak semua orang mampu membayarnya.”
Tak lama setelah itu, artikel-artikel Raka mulai diedit lebih ketat. Kata “kerusakan” diganti menjadi “dampak”. Kata “korban” diganti menjadi “insiden”. Kata “eksploitasi” dihapus sama sekali.
Di rumah, keadaan memburuk. Ibu Raka harus dirawat. Ayahnya bekerja lebih keras, meski tubuhnya semakin ringkih. Raka merasa terjepit di antara idealisme dan kenyataan. Ia ingin melawan, tapi ia juga ingin ibunya sembuh.
Suatu sore, ia bertemu dengan seorang perempuan bernama Sinta di perpustakaan kota. Sinta adalah dosen muda yang sedang meneliti dampak sosial proyek tambang. Mereka berbicara panjang tentang teori kutukan sumber daya, tentang negeri-negeri yang kaya tapi tetap miskin karena terlalu bergantung pada komoditas mentah.
“Masalahnya bukan pada kekayaan alamnya,” kata Sinta. “Masalahnya pada cara kita mengelolanya. Kita menjual bahan mentah, membeli kembali barang jadi dengan harga mahal. Kita menjual isi perut, tapi tak pernah membangun otot dan otak.”
Kalimat itu menghantam Raka. Menjual isi perut. Ia membayangkan Amarta sebagai tubuh raksasa yang perutnya terus dikorek, sementara tangannya lemah dan kepalanya bingung.
Sinta mengajak Raka bergabung dalam forum warga yang mulai kritis terhadap proyek itu. Mereka mengadakan diskusi kecil, menulis petisi, mengundang ahli lingkungan untuk berbicara. Tidak banyak yang datang, tapi cukup untuk menyalakan percikan.
Namun percikan sering kali dianggap api yang harus dipadamkan.
Suatu malam, baliho forum mereka dicopot. Keesokan harinya, kantor kecil tempat mereka berkumpul didatangi aparat. “Kegiatan tanpa izin,” kata mereka. “Bisa mengganggu ketertiban.”
Raka mulai menerima pesan anonim di ponselnya. Hati-hati. Jangan bermain api. Ayahnya khawatir. “Kita orang kecil, Ka. Jangan melawan arus besar.”
Tapi Raka sudah terlanjur melihat terlalu banyak. Ia melihat sungai yang dulu jernih kini berwarna kecokelatan. Ia melihat anak-anak bermain di antara truk-truk besar. Ia melihat ayahnya batuk darah di kamar mandi, berusaha menutupinya dengan handuk.
Pada suatu pagi yang kelabu, kabar buruk datang lagi. Terjadi kebocoran limbah di area proyek. Hujan deras semalaman membuat kolam penampungan meluap. Air bercampur lumpur dan bahan kimia mengalir ke sawah dan sungai.
Ikan-ikan mati mengapung. Petani mengeluh padi mereka menguning sebelum waktunya. Media nasional menyebutnya “kejadian tidak terduga akibat cuaca ekstrem”.
Raka menulis dengan marah. Ia tak lagi peduli pada iklan atau peringatan. Ia menulis tentang angka-angka yang tak pernah muncul di televisi: tentang kasus ISPA yang meningkat, tentang air sumur yang tak lagi layak minum, tentang kompensasi yang tak pernah benar-benar sampai.
Artikel itu viral. Dibagikan ribuan kali. Untuk pertama kalinya, Lembayung menjadi sorotan nasional.
Pemerintah pusat mengirim tim investigasi. Presiden dalam pidato terbarunya menyatakan “evaluasi menyeluruh” akan dilakukan. Aurora Minerals mengeluarkan pernyataan resmi, menyatakan komitmen pada keberlanjutan dan tanggung jawab sosial.
Namun di balik semua itu, ayah Raka tak sempat melihat perubahan apa pun. Ia meninggal beberapa minggu kemudian, paru-parunya tak lagi mampu bertahan.
Di pemakaman sederhana di tepi desa, Raka berdiri dengan mata kering. Ia merasa air matanya telah habis bersama debu yang selama ini ia hirup. Di antara tanah basah dan doa yang lirih, ia berjanji pada dirinya sendiri: ia tak akan berhenti menulis.
Waktu berjalan. Proyek itu tetap ada, meski dengan beberapa perbaikan kosmetik. Sungai perlahan dibersihkan, atau setidaknya terlihat lebih bersih dari jauh. Statistik ekonomi tetap dipamerkan.
Namun sesuatu telah berubah. Warga Lembayung tak lagi sepenuhnya diam. Mereka belajar membaca kontrak, belajar memahami istilah-istilah hukum, belajar bertanya.
Raka dan Sinta mendirikan media independen daring. Kecil, sering kekurangan dana, tapi bebas. Mereka menulis bukan hanya tentang kerusakan, tetapi juga tentang kemungkinan: tentang energi terbarukan, tentang industri hilir, tentang pendidikan teknik bagi anak-anak desa.
“Negeri ini tidak harus terus menjual isi perutnya,” kata Sinta suatu malam, ketika mereka duduk di tepi pantai yang kini sebagian telah dipagari. “Kita bisa belajar mengolahnya sendiri. Atau bahkan memilih untuk tidak selalu menggali.”
Raka menatap laut yang gelap. Kapal-kapal masih datang dan pergi, tapi ia tak lagi hanya melihat lambung yang penuh. Ia melihat peluang untuk mengubah arah.
Amarta mungkin masih menjual isi perutnya hari ini. Tapi selama masih ada orang yang menulis, yang bertanya, yang menolak diam, selalu ada kemungkinan bahwa suatu hari nanti negeri itu akan belajar mencintai tubuhnya sendiri—bukan sebagai komoditas, melainkan sebagai rumah.
Dan di antara debu yang perlahan mengendap, harapan itu tumbuh seperti rumput liar: tak diundang, sering diinjak, tapi selalu menemukan cara untuk hidup. [T]
Penulis: Muhammad Khairu Rahman
Editor: Adnyana Ole



























