Dalam pameran Bali Bhuwana Rupa oleh ISI Denpasar di ARMA Museum Ubud, yang bertajuk ‘ Adhi Jnana Astam (Mastery-Mind-Marvel), banyak dimensi rupa menarik yang ditawarkan untuk dinikmati, salah satunya adalah karya Ketut Muka Pendet yang berjudul “Gerabah”.
Karya Gerabah hadir dalam dimensi ruang masa lalu, masa kini dan masa depan, dengan frekwensi dan vibrasi beragam yang ditawarkan, sesuai dengan manusia sebagai penikmat, penghayat dan pemakna .
Gerabah dan Tembikar
Gerabah sebagai karya kerajinan, seni, intelektual dan spiritual adalah “benda” yang terbuat dari tanah liat, sering didekatkan dengan tembikar, tempayan, dan keramik. Perbedaan ini terkait dengan proses, bentuk, dan fungsinya.
Gerabah (Earthenware), adalah difinisi umum untuk kerajinan tanah liat yang dibakar dengan suhu rendah-menengah (biasanya di bawah 1000°C). Proses ini menjadikan gerabah sebagai bentuk tanah liat berpori (tidak kedap air jika tidak diglasir), tekstur kasar, dan rentan pecah, bisa berbentuk ‘caratan’ (kendi) ‘coblong’ (kuali), ‘pasepan’ (tungku), pot, bata merah, cekengan, dan lain-lain tergantung tempat, ruang, waktu, fungsi dan makna yang menyertainya.
Tembikar (Pottery) adalah sebutan benda berbahan tanah liat dalam fungsinya yang lebih spesifik sebagai karya seni wadah yang dihasilkan dari sentuhan teknologi.

Secara spesifik sebutan ‘tembikar’ merujuk pada benda fungsional (wadah) yang dihasilkan dari seni tanah liat (pottery), sering kali menggunakan roda putar, sehingga kualitasnya “dianggap’ lebih tinggi. Perbedaan sebutan dan kualitas ini, biasanya karena dibarengi dengan memrosesan secara modern, misalnya dengan dengan pengerjaan yang lebih halus, digrafir agar lebih kedap air.
Jadi, gerabah bisa dijadikan tembikar, dan semua tembikar berasal dari gerabah.
Manusia yang Berubah
Judul ‘Gerabah” yang dipakai seniman, menyiratkan maksud dan tujuannya dalam mengkomunikasikan idenya tentang ketradisionlan Bali sebagai awal dari budaya Bali Kini dan Masa Depan. Lapal ‘gerabah’ terkesan lebih polos dan apa adanya, ketimbang “tembikar” yang lebih “nyastra”.
‘Caratan” dan “Coblong”
Kepolosan seorang seniman dalam tempat, ruang dan waktu yang berkarya di masa kini, tentu sangat dipengaruhi oleh ketrampilan sebagai bagian dari pemanfaatan raga dengan indria-indrianya, perasaan dan pikirannya, sehingga Muka Pendet memilih bentuk dua (2) “Caratan” Kenci Besar sebagai bentuk ekpresi tanpa “Coblong” Kuali Besar.

Pilihan ini menyiratkan maskulinitas yang lebih bersifat spirit sebagai kecerdasan ketimbang tanah liat itu sendiri yang bersifat nyata dan menyiratkan feminimitas.
Pilihan ini membebaskan seniman menuangkan ide-ide, spirit, masukin dalam media tanah liat yang nyata, yang bersifat feminim.
Kendi
Kendi “caratan” dalam filsafat Hindu Bali, disejajarkan sebagai ‘lingga’ dimaknai sebagai laki-laki, dengan lubang, sebagai tempat air dituangkan.
Karya ‘Gerabah” Muka Pendet yang satu polos dengan 5 luang air, diletakan pada areal tengah ruangan yang tak kentara. Kehadirannya, seolahan menjadi dasar dari semua kreatifitas seni yang dipamerkan.
“Gerabah” yang lain ditempatkan pada ruang tengah di arah utara, tepat di tenggah dua karya lukis yang lebar, dengan warna terang dan bentuk mencolok, sehingga ‘Gerabah’ tanah liat ini terkesan sederhana, tetapi dalam dan penuh makna.
Berbeda dengan Kendi yang polos yang berisi lima lubang air ( panca indria), Kendi ini berisi tiga lubang air (triguna). Perbedaan lubang air ini menyiratkan perubahan manusia dalam persepsi manusia seniman, dan penulis dari masa lalu ke masa kini.
Masa Kini
Masa lalu adalah segala kondisi yang tidak bisa diutak-atik lagi, tak bisa digugat, dengan kecerdasam masa kini termasuk teknologi IA. Masa lalu seseorang, juga hidup dan kehidupannya sudah terjadi dengan struktur atom-atom, neotron (cakra/macan/kekuatan) elektron dan proton (kundalini/naga/rasa) . Ia sudah menjadi DNA seseorang, sehingga yang perlu dikelola dan diberdayakan adalah Kekuatan dan rasa yang ada saat ini.
Kekuatan dan rasa saat inilah yang terpancar dari Gerabah ‘sederhana’ yang mengandung ketrampilan, kecerdasan dan kearifan sebagai seorang seniman Bali.
Tiga guna: Tamas, Satpam dan Rajas yang ditampilkan terbaca dari pembagian; alam bawah, tengah dan atas.
Alam bawah diwakili alam/pola geometri, binatang dan tumbuhan. Alam tengah diwakili oleh hubungan manusia dengan manusia dengan binatang dan tumbuhan. Alam atas diwakili oleh mabusia yang telah mencapai pencerahan.
Melalui “Gerabah’ berbentuk kendi ini, seniman berhasil mengepresikan dirinya sebagai manusia, raganya yang berbalut ketidaktahuan, indrianya-indranya dengan berbagai perasaannya, kecerdasan dan kearifannya dalam menggali ide, mengolah dan menampilkannya dalam sebuah karya utuh yang memberi ruang, bagi penikmat.
“Celebingkah”
Seperti halnya gerabah yang berbahan tanah liat, waktu akan menghancurkannya sehinga kembali pada tanah. Karya seni berbahan tanah dalam kesadaran sebagai manusia yang berbudidaya tak akan pernah menjadikan sampah..Ia bisa menjadi media tanaman anggrek dan akar rambat lainnya. Bahkan sebelum kembali secara sempurna, saat wadah sudah tak berfungsi, hanya kepingan yang disebut “cekebingkah” .

“Celebingkah’ mewakili kearifan dasar adat dan budaya Bali dalam menerima, menghargai dan mengakui semua dan segala perbedaan. ” Cekebingkah batan biu, gumi linggah ajak liu (pecahan gerabah di bawah pisang, bumi luas untuk berbanyak. [T]
Penulis: Mas Ruscitadewi
Editor: Adnyana Ole




























