26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dari Stigma ke Dukungan: Membangun Kesadaran Pencegahan Kusta

Mukti Ali Asyadzili by Mukti Ali Asyadzili
March 1, 2026
in Esai
Dari Stigma ke Dukungan: Membangun Kesadaran Pencegahan Kusta

Ilustrasi tatkala.co | Canva

DI suatu desa bukan di daerah terluar namun di pulau padat di pusat Indonesia, seorang ibu memilih berobat diam-diam. Bukan karena penyakitnya menular ganas, namun karena takut diketahui tetangga. Ia didiagnosis kusta. Yang ia takutkan bukan hanya dampak bercak putih yang terus menjalar, tetapi bisik-bisik di belakang rumah, anaknya dijauhi teman bermain, dan label “kutukan” yang mungkin melekat selamanya. Padahal, kusta adalah penyakit yang bisa disembuhkan. Kusta, atau lepra, adalah penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae yang menyerang kulit dan saraf tepi. Bakteri ini dapat menimbulkan bercak mati rasa, kelemahan otot, hingga gangguan saraf bila tidak segera diobati. Dilihat dari cara penularannya, kusta bukan penyakit yang datang tiba-tiba dan bukan pula penyakit yang menyebar secara cepat dalam interaksi sosial sehari-hari.

Penyakit ini bukan akibat dosa, bukan kutukan, dan bukan penyakit turunan. Penularannya pun tidak terjadi hanya karena satu atau dua kali sentuhan, melainkan melalui kontak erat dan berkepanjangan dengan penderita yang belum menjalani pengobatan. Begitu terapi dimulai, risiko penularan menurun drastis. Sejak 1980-an, terapi kombinasi atau Multi Drug Therapy (MDT) tersedia gratis melalui fasilitas kesehatan pemerintah. Dengan pengobatan teratur, pasien bisa sembuh dan tidak lagi menularkan penyakitnya dan tentunya tidak membutuhkan biaya yang mahal.

Lalu mengapa stigma masih begitu kuat? Walaupun sudah tersedia pengobatan gratis  di setiap Puskesmas, penyakit ini menjadi penyakit dengan stigma yang paling ditakuti. Akar persoalan tidak sepenuhnya berada pada aspek medis, melainkan pada memori sosial yang panjang. Ditelisik lebih jauh sebelum ditemukan pengobatan efektif, kusta memang sering berujung pada kecacatan permanen akibat kerusakan saraf yang tidak tertangani. Pada masa itu, penderita kusta diasingkan ke koloni-koloni khusus, dijauhkan dari keluarga dan masyarakat karena dianggap berbahaya. Praktik pengucilan tersebut meninggalkan jejak psikologis dan budaya yang bertahan lintas generasi. Gambaran lama tentang kusta sebagai penyakit yang “menyeramkan”, “tidak dapat disembuhkan”, dan “memalukan” tertanam dalam ingatan kolektif masyarakat. Sayangnya, perkembangan ilmu pengetahuan tidak selalu diikuti oleh perubahan persepsi masyarakat. Ketika literasi kesehatan masih terbatas, mitos berkembang lebih cepat daripada informasi yang benar.

Ketika stigma lebih menyakitkan dari penyakit  maka Stigma membuat orang dengan kusta sering terlambat berobat. Mereka menyembunyikan gejala awal seperti bercak putih atau kemerahan yang mati rasa. Padahal, deteksi dini adalah kunci mencegah kecacatan.Di beberapa tempat, penyintas kusta pernah mengalami penolakan kerja, perceraian, bahkan pengucilan dari lingkungan sosial. Anak-anak mereka ikut terdampak, dijauhi teman sebaya karena ketidaktahuan orang dewasa.“Yang paling berat bukan sakitnya, tapi pandangan orang,” ujar seorang penyintas dalam sebuah forum edukasi kesehatan di Jawa Tengah.Stigma ini berakar dari sejarah panjang ketika kusta belum memiliki pengobatan efektif. Dulu, penderita kusta diasingkan ke koloni khusus. Gambaran masa lalu itu masih hidup dalam ingatan kolektif masyarakat, meski ilmu pengetahuan telah jauh berkembang.

Perubahan kecil menuju penerimaan sosialtidak selalu dimulai dari kebijakan besar. Sering kali, ia lahir dari percakapan sederhana di balai desa, ruang kelas, atau teras rumah tetangga.Di berbagai daerah, tenaga kesehatan kini aktif turun langsung ke masyarakat. Mereka menjelaskan tanda-tanda awal kusta seperti bercak pada kulit yang mati rasa, kelemahan pada tangan atau kaki serta pentingnya pemeriksaan dini. Penjelasan ini bukan untuk membuat penyakit ini menakutkan, melainkan untuk memberi rasa sadar bahwa semakin cepat diketahui, semakin kecil risiko kecacatan.

Pendekatan ini mengubah suasana. Masyarakat tidak lagi hanya menjadi pendengar, tetapi juga penanya. Mereka ingin tahu apakah kusta menular lewat sentuhan, apakah anak-anak aman bermain bersama, dan apakah seseorang yang sedang berobat masih berisiko menularkan penyakit dan pertanyaan lain yang biasanya terjawab dengan “katanya”. Dialog semacam ini perlahan menggantikan asumsi lama yang diwariskan turun-temurun. Keterlibatan tokoh masyarakat memperkuat pesan tersebut. Ketika kepala desa, guru, atau pemuka agama ikut menyuarakan penerimaan, pesan kesehatan berubah menjadi komitmen sosial. Edukasi tidak lagi berhenti pada pengetahuan, melainkan bergerak menuju sikap. Di beberapa tempat, penyintas yang telah sembuh memilih berbagi cerita mereka secara terbuka. Kesaksian itu menghadirkan wajah manusia di balik istilah medis. Kusta bukan lagi sekadar kata yang menakutkan, tetapi pengalaman yang bisa disembuhkan dan dituntaskan.

Upaya di tingkat komunitas tidak berjalan sendiri. Ia diperkuat oleh kerangka kebijakan yang lebih luas. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia terus mendorong deteksi dini, pelacakan kontak serumah, serta memastikan ketersediaan pengobatan Multi Drug Therapy (MDT) secara gratis di fasilitas kesehatan sampai dengan tingkat Puskesmas. Strategi ini tidak hanya bertujuan menurunkan angka kasus baru, tetapi juga mencegah dampak jangka panjang yang bisa terjadi bila diagnosis terlambat. Integrasi layanan kusta ke dalam pelayanan kesehatan umum menjadi langkah penting agar pasien tidak merasa “dipisahkan” atau diberi label khusus.

Pendekatan tersebut membawa pesan yang lebih luas “kusta adalah bagian dari isu kesehatan publik, bukan alasan untuk aib sosial”. Dengan menempatkannya dalam sistem layanan yang sama seperti penyakit lainnya, negara menegaskan bahwa setiap warga berhak atas perawatan yang setara. Namun, regulasi dan program hanya akan efektif bila didukung oleh lingkungan sosial yang aman. Ketika seseorang merasa diterima, ia lebih berani memeriksakan diri. Ketika keluarga tidak lagi merasa malu, pengobatan dapat dijalani dengan tuntas. Hal ini lah menunjukan perubahan dari tingkat terkecil harus saling bersinergi dengan kebijakan dari lembaga ”besar”.

Kembali ke desa tempat seorang ibu sempat menyembunyikan pengobatannya, perubahan terjadi perlahan. Setelah serangkaian pertemuan warga, pemahaman mulai menggantikan prasangka. Pertanyaan-pertanyaan yang dulu berbisik kini dibahas terbuka. Anak-anak kembali bermain tanpa jarak yang dibuat-buat. Tak ada perayaan besar. Hanya perubahan sikap yang terasa dalam keseharian seperti sapaan yang kembali hangat, undangan gotong royong yang tetap datang, dan tidak ada lagi pintu yang tertutup karena ketakutan. Disitulah makna penghapusan stigma menjadi nyata. Bukan sekadar slogan atau baliho di pinggir jalan, tetapi ruang tengah masyarakat yang kembali utuh bagi seseorang yang sempat merasa terasing. Kusta dapat disembuhkan dengan obat. Tetapi agar seseorang benar-benar pulih, ia juga membutuhkan penerimaan sosial. Tanpa itu, efek samping kusta akibat diskriminasi akan terus membekas meski terapi telah selesai. [T]

Penulis: Mukti Ali Asyadzili
Editor: Adnyana Ole

Tags: kesehatan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

The Cascades, Ketika Hujan tak Lagi Romantis

Next Post

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

Mukti Ali Asyadzili

Mukti Ali Asyadzili

Lahir di Kabupaten Blora, Jawa Tengah, 29 Desember 1995. Tinggal di Jl Sahadewa Utara Singaraja, Bali dan sudah menamatkan pendidikan S1 di Universitas Pendidikan Ganesha, Bali pada Jurusam Pendidikan Sejarah.

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co