15 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dari Stigma ke Dukungan: Membangun Kesadaran Pencegahan Kusta

Mukti Ali Asyadzili by Mukti Ali Asyadzili
March 1, 2026
in Esai
Dari Stigma ke Dukungan: Membangun Kesadaran Pencegahan Kusta

Ilustrasi tatkala.co | Canva

DI suatu desa bukan di daerah terluar namun di pulau padat di pusat Indonesia, seorang ibu memilih berobat diam-diam. Bukan karena penyakitnya menular ganas, namun karena takut diketahui tetangga. Ia didiagnosis kusta. Yang ia takutkan bukan hanya dampak bercak putih yang terus menjalar, tetapi bisik-bisik di belakang rumah, anaknya dijauhi teman bermain, dan label “kutukan” yang mungkin melekat selamanya. Padahal, kusta adalah penyakit yang bisa disembuhkan. Kusta, atau lepra, adalah penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae yang menyerang kulit dan saraf tepi. Bakteri ini dapat menimbulkan bercak mati rasa, kelemahan otot, hingga gangguan saraf bila tidak segera diobati. Dilihat dari cara penularannya, kusta bukan penyakit yang datang tiba-tiba dan bukan pula penyakit yang menyebar secara cepat dalam interaksi sosial sehari-hari.

Penyakit ini bukan akibat dosa, bukan kutukan, dan bukan penyakit turunan. Penularannya pun tidak terjadi hanya karena satu atau dua kali sentuhan, melainkan melalui kontak erat dan berkepanjangan dengan penderita yang belum menjalani pengobatan. Begitu terapi dimulai, risiko penularan menurun drastis. Sejak 1980-an, terapi kombinasi atau Multi Drug Therapy (MDT) tersedia gratis melalui fasilitas kesehatan pemerintah. Dengan pengobatan teratur, pasien bisa sembuh dan tidak lagi menularkan penyakitnya dan tentunya tidak membutuhkan biaya yang mahal.

Lalu mengapa stigma masih begitu kuat? Walaupun sudah tersedia pengobatan gratis  di setiap Puskesmas, penyakit ini menjadi penyakit dengan stigma yang paling ditakuti. Akar persoalan tidak sepenuhnya berada pada aspek medis, melainkan pada memori sosial yang panjang. Ditelisik lebih jauh sebelum ditemukan pengobatan efektif, kusta memang sering berujung pada kecacatan permanen akibat kerusakan saraf yang tidak tertangani. Pada masa itu, penderita kusta diasingkan ke koloni-koloni khusus, dijauhkan dari keluarga dan masyarakat karena dianggap berbahaya. Praktik pengucilan tersebut meninggalkan jejak psikologis dan budaya yang bertahan lintas generasi. Gambaran lama tentang kusta sebagai penyakit yang “menyeramkan”, “tidak dapat disembuhkan”, dan “memalukan” tertanam dalam ingatan kolektif masyarakat. Sayangnya, perkembangan ilmu pengetahuan tidak selalu diikuti oleh perubahan persepsi masyarakat. Ketika literasi kesehatan masih terbatas, mitos berkembang lebih cepat daripada informasi yang benar.

Ketika stigma lebih menyakitkan dari penyakit  maka Stigma membuat orang dengan kusta sering terlambat berobat. Mereka menyembunyikan gejala awal seperti bercak putih atau kemerahan yang mati rasa. Padahal, deteksi dini adalah kunci mencegah kecacatan.Di beberapa tempat, penyintas kusta pernah mengalami penolakan kerja, perceraian, bahkan pengucilan dari lingkungan sosial. Anak-anak mereka ikut terdampak, dijauhi teman sebaya karena ketidaktahuan orang dewasa.“Yang paling berat bukan sakitnya, tapi pandangan orang,” ujar seorang penyintas dalam sebuah forum edukasi kesehatan di Jawa Tengah.Stigma ini berakar dari sejarah panjang ketika kusta belum memiliki pengobatan efektif. Dulu, penderita kusta diasingkan ke koloni khusus. Gambaran masa lalu itu masih hidup dalam ingatan kolektif masyarakat, meski ilmu pengetahuan telah jauh berkembang.

Perubahan kecil menuju penerimaan sosialtidak selalu dimulai dari kebijakan besar. Sering kali, ia lahir dari percakapan sederhana di balai desa, ruang kelas, atau teras rumah tetangga.Di berbagai daerah, tenaga kesehatan kini aktif turun langsung ke masyarakat. Mereka menjelaskan tanda-tanda awal kusta seperti bercak pada kulit yang mati rasa, kelemahan pada tangan atau kaki serta pentingnya pemeriksaan dini. Penjelasan ini bukan untuk membuat penyakit ini menakutkan, melainkan untuk memberi rasa sadar bahwa semakin cepat diketahui, semakin kecil risiko kecacatan.

Pendekatan ini mengubah suasana. Masyarakat tidak lagi hanya menjadi pendengar, tetapi juga penanya. Mereka ingin tahu apakah kusta menular lewat sentuhan, apakah anak-anak aman bermain bersama, dan apakah seseorang yang sedang berobat masih berisiko menularkan penyakit dan pertanyaan lain yang biasanya terjawab dengan “katanya”. Dialog semacam ini perlahan menggantikan asumsi lama yang diwariskan turun-temurun. Keterlibatan tokoh masyarakat memperkuat pesan tersebut. Ketika kepala desa, guru, atau pemuka agama ikut menyuarakan penerimaan, pesan kesehatan berubah menjadi komitmen sosial. Edukasi tidak lagi berhenti pada pengetahuan, melainkan bergerak menuju sikap. Di beberapa tempat, penyintas yang telah sembuh memilih berbagi cerita mereka secara terbuka. Kesaksian itu menghadirkan wajah manusia di balik istilah medis. Kusta bukan lagi sekadar kata yang menakutkan, tetapi pengalaman yang bisa disembuhkan dan dituntaskan.

Upaya di tingkat komunitas tidak berjalan sendiri. Ia diperkuat oleh kerangka kebijakan yang lebih luas. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia terus mendorong deteksi dini, pelacakan kontak serumah, serta memastikan ketersediaan pengobatan Multi Drug Therapy (MDT) secara gratis di fasilitas kesehatan sampai dengan tingkat Puskesmas. Strategi ini tidak hanya bertujuan menurunkan angka kasus baru, tetapi juga mencegah dampak jangka panjang yang bisa terjadi bila diagnosis terlambat. Integrasi layanan kusta ke dalam pelayanan kesehatan umum menjadi langkah penting agar pasien tidak merasa “dipisahkan” atau diberi label khusus.

Pendekatan tersebut membawa pesan yang lebih luas “kusta adalah bagian dari isu kesehatan publik, bukan alasan untuk aib sosial”. Dengan menempatkannya dalam sistem layanan yang sama seperti penyakit lainnya, negara menegaskan bahwa setiap warga berhak atas perawatan yang setara. Namun, regulasi dan program hanya akan efektif bila didukung oleh lingkungan sosial yang aman. Ketika seseorang merasa diterima, ia lebih berani memeriksakan diri. Ketika keluarga tidak lagi merasa malu, pengobatan dapat dijalani dengan tuntas. Hal ini lah menunjukan perubahan dari tingkat terkecil harus saling bersinergi dengan kebijakan dari lembaga ”besar”.

Kembali ke desa tempat seorang ibu sempat menyembunyikan pengobatannya, perubahan terjadi perlahan. Setelah serangkaian pertemuan warga, pemahaman mulai menggantikan prasangka. Pertanyaan-pertanyaan yang dulu berbisik kini dibahas terbuka. Anak-anak kembali bermain tanpa jarak yang dibuat-buat. Tak ada perayaan besar. Hanya perubahan sikap yang terasa dalam keseharian seperti sapaan yang kembali hangat, undangan gotong royong yang tetap datang, dan tidak ada lagi pintu yang tertutup karena ketakutan. Disitulah makna penghapusan stigma menjadi nyata. Bukan sekadar slogan atau baliho di pinggir jalan, tetapi ruang tengah masyarakat yang kembali utuh bagi seseorang yang sempat merasa terasing. Kusta dapat disembuhkan dengan obat. Tetapi agar seseorang benar-benar pulih, ia juga membutuhkan penerimaan sosial. Tanpa itu, efek samping kusta akibat diskriminasi akan terus membekas meski terapi telah selesai. [T]

Penulis: Mukti Ali Asyadzili
Editor: Adnyana Ole

Tags: kesehatan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

The Cascades, Ketika Hujan tak Lagi Romantis

Next Post

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

Mukti Ali Asyadzili

Mukti Ali Asyadzili

Lahir di Kabupaten Blora, Jawa Tengah, 29 Desember 1995. Tinggal di Jl Sahadewa Utara Singaraja, Bali dan sudah menamatkan pendidikan S1 di Universitas Pendidikan Ganesha, Bali pada Jurusam Pendidikan Sejarah.

Related Posts

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
0
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

Read moreDetails

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali
Hiburan

Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali

ALBUM penuh terbaru Amplitherapy bertajuk Leak Tanah Bali yang dijadwalkan terbit pada 16 Mei 2026 menandai babak baru perjalanan musikal...

by Nyoman Budarsana
May 15, 2026
Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan
Bahasa

Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan

PERNAHKAH Anda memperhatikan penulisan atau ejaan konten seseorang saat sedang berselancar di media sosial? Kesalahan tik atau saltik yang populer...

by I Made Sudiana
May 15, 2026
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co