4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dari Stigma ke Dukungan: Membangun Kesadaran Pencegahan Kusta

Mukti Ali Asyadzili by Mukti Ali Asyadzili
March 1, 2026
in Esai
Dari Stigma ke Dukungan: Membangun Kesadaran Pencegahan Kusta

Ilustrasi tatkala.co | Canva

DI suatu desa bukan di daerah terluar namun di pulau padat di pusat Indonesia, seorang ibu memilih berobat diam-diam. Bukan karena penyakitnya menular ganas, namun karena takut diketahui tetangga. Ia didiagnosis kusta. Yang ia takutkan bukan hanya dampak bercak putih yang terus menjalar, tetapi bisik-bisik di belakang rumah, anaknya dijauhi teman bermain, dan label “kutukan” yang mungkin melekat selamanya. Padahal, kusta adalah penyakit yang bisa disembuhkan. Kusta, atau lepra, adalah penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae yang menyerang kulit dan saraf tepi. Bakteri ini dapat menimbulkan bercak mati rasa, kelemahan otot, hingga gangguan saraf bila tidak segera diobati. Dilihat dari cara penularannya, kusta bukan penyakit yang datang tiba-tiba dan bukan pula penyakit yang menyebar secara cepat dalam interaksi sosial sehari-hari.

Penyakit ini bukan akibat dosa, bukan kutukan, dan bukan penyakit turunan. Penularannya pun tidak terjadi hanya karena satu atau dua kali sentuhan, melainkan melalui kontak erat dan berkepanjangan dengan penderita yang belum menjalani pengobatan. Begitu terapi dimulai, risiko penularan menurun drastis. Sejak 1980-an, terapi kombinasi atau Multi Drug Therapy (MDT) tersedia gratis melalui fasilitas kesehatan pemerintah. Dengan pengobatan teratur, pasien bisa sembuh dan tidak lagi menularkan penyakitnya dan tentunya tidak membutuhkan biaya yang mahal.

Lalu mengapa stigma masih begitu kuat? Walaupun sudah tersedia pengobatan gratis  di setiap Puskesmas, penyakit ini menjadi penyakit dengan stigma yang paling ditakuti. Akar persoalan tidak sepenuhnya berada pada aspek medis, melainkan pada memori sosial yang panjang. Ditelisik lebih jauh sebelum ditemukan pengobatan efektif, kusta memang sering berujung pada kecacatan permanen akibat kerusakan saraf yang tidak tertangani. Pada masa itu, penderita kusta diasingkan ke koloni-koloni khusus, dijauhkan dari keluarga dan masyarakat karena dianggap berbahaya. Praktik pengucilan tersebut meninggalkan jejak psikologis dan budaya yang bertahan lintas generasi. Gambaran lama tentang kusta sebagai penyakit yang “menyeramkan”, “tidak dapat disembuhkan”, dan “memalukan” tertanam dalam ingatan kolektif masyarakat. Sayangnya, perkembangan ilmu pengetahuan tidak selalu diikuti oleh perubahan persepsi masyarakat. Ketika literasi kesehatan masih terbatas, mitos berkembang lebih cepat daripada informasi yang benar.

Ketika stigma lebih menyakitkan dari penyakit  maka Stigma membuat orang dengan kusta sering terlambat berobat. Mereka menyembunyikan gejala awal seperti bercak putih atau kemerahan yang mati rasa. Padahal, deteksi dini adalah kunci mencegah kecacatan.Di beberapa tempat, penyintas kusta pernah mengalami penolakan kerja, perceraian, bahkan pengucilan dari lingkungan sosial. Anak-anak mereka ikut terdampak, dijauhi teman sebaya karena ketidaktahuan orang dewasa.“Yang paling berat bukan sakitnya, tapi pandangan orang,” ujar seorang penyintas dalam sebuah forum edukasi kesehatan di Jawa Tengah.Stigma ini berakar dari sejarah panjang ketika kusta belum memiliki pengobatan efektif. Dulu, penderita kusta diasingkan ke koloni khusus. Gambaran masa lalu itu masih hidup dalam ingatan kolektif masyarakat, meski ilmu pengetahuan telah jauh berkembang.

Perubahan kecil menuju penerimaan sosialtidak selalu dimulai dari kebijakan besar. Sering kali, ia lahir dari percakapan sederhana di balai desa, ruang kelas, atau teras rumah tetangga.Di berbagai daerah, tenaga kesehatan kini aktif turun langsung ke masyarakat. Mereka menjelaskan tanda-tanda awal kusta seperti bercak pada kulit yang mati rasa, kelemahan pada tangan atau kaki serta pentingnya pemeriksaan dini. Penjelasan ini bukan untuk membuat penyakit ini menakutkan, melainkan untuk memberi rasa sadar bahwa semakin cepat diketahui, semakin kecil risiko kecacatan.

Pendekatan ini mengubah suasana. Masyarakat tidak lagi hanya menjadi pendengar, tetapi juga penanya. Mereka ingin tahu apakah kusta menular lewat sentuhan, apakah anak-anak aman bermain bersama, dan apakah seseorang yang sedang berobat masih berisiko menularkan penyakit dan pertanyaan lain yang biasanya terjawab dengan “katanya”. Dialog semacam ini perlahan menggantikan asumsi lama yang diwariskan turun-temurun. Keterlibatan tokoh masyarakat memperkuat pesan tersebut. Ketika kepala desa, guru, atau pemuka agama ikut menyuarakan penerimaan, pesan kesehatan berubah menjadi komitmen sosial. Edukasi tidak lagi berhenti pada pengetahuan, melainkan bergerak menuju sikap. Di beberapa tempat, penyintas yang telah sembuh memilih berbagi cerita mereka secara terbuka. Kesaksian itu menghadirkan wajah manusia di balik istilah medis. Kusta bukan lagi sekadar kata yang menakutkan, tetapi pengalaman yang bisa disembuhkan dan dituntaskan.

Upaya di tingkat komunitas tidak berjalan sendiri. Ia diperkuat oleh kerangka kebijakan yang lebih luas. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia terus mendorong deteksi dini, pelacakan kontak serumah, serta memastikan ketersediaan pengobatan Multi Drug Therapy (MDT) secara gratis di fasilitas kesehatan sampai dengan tingkat Puskesmas. Strategi ini tidak hanya bertujuan menurunkan angka kasus baru, tetapi juga mencegah dampak jangka panjang yang bisa terjadi bila diagnosis terlambat. Integrasi layanan kusta ke dalam pelayanan kesehatan umum menjadi langkah penting agar pasien tidak merasa “dipisahkan” atau diberi label khusus.

Pendekatan tersebut membawa pesan yang lebih luas “kusta adalah bagian dari isu kesehatan publik, bukan alasan untuk aib sosial”. Dengan menempatkannya dalam sistem layanan yang sama seperti penyakit lainnya, negara menegaskan bahwa setiap warga berhak atas perawatan yang setara. Namun, regulasi dan program hanya akan efektif bila didukung oleh lingkungan sosial yang aman. Ketika seseorang merasa diterima, ia lebih berani memeriksakan diri. Ketika keluarga tidak lagi merasa malu, pengobatan dapat dijalani dengan tuntas. Hal ini lah menunjukan perubahan dari tingkat terkecil harus saling bersinergi dengan kebijakan dari lembaga ”besar”.

Kembali ke desa tempat seorang ibu sempat menyembunyikan pengobatannya, perubahan terjadi perlahan. Setelah serangkaian pertemuan warga, pemahaman mulai menggantikan prasangka. Pertanyaan-pertanyaan yang dulu berbisik kini dibahas terbuka. Anak-anak kembali bermain tanpa jarak yang dibuat-buat. Tak ada perayaan besar. Hanya perubahan sikap yang terasa dalam keseharian seperti sapaan yang kembali hangat, undangan gotong royong yang tetap datang, dan tidak ada lagi pintu yang tertutup karena ketakutan. Disitulah makna penghapusan stigma menjadi nyata. Bukan sekadar slogan atau baliho di pinggir jalan, tetapi ruang tengah masyarakat yang kembali utuh bagi seseorang yang sempat merasa terasing. Kusta dapat disembuhkan dengan obat. Tetapi agar seseorang benar-benar pulih, ia juga membutuhkan penerimaan sosial. Tanpa itu, efek samping kusta akibat diskriminasi akan terus membekas meski terapi telah selesai. [T]

Penulis: Mukti Ali Asyadzili
Editor: Adnyana Ole

Tags: kesehatan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

The Cascades, Ketika Hujan tak Lagi Romantis

Next Post

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

Mukti Ali Asyadzili

Mukti Ali Asyadzili

Lahir di Kabupaten Blora, Jawa Tengah, 29 Desember 1995. Tinggal di Jl Sahadewa Utara Singaraja, Bali dan sudah menamatkan pendidikan S1 di Universitas Pendidikan Ganesha, Bali pada Jurusam Pendidikan Sejarah.

Related Posts

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co