DI langit biru yang luas, hiduplah kawanan awan yang lembut dan setia. Pemimpin mereka bernama Rinai, awan tua berwarna kelabu keperakan yang bijaksana. Tugas mereka sederhana: turun sebagai hujan, memberi minum pada bumi, mengisi sungai, dan menumbuhkan kehidupan.
Dulu, setiap kali Rinai datang, bumi menyambutnya dengan bahagia. Tanah membuka pori-porinya. Akar pohon menari menyerap air. Sungai mengalir tenang membawa kesejukan.
Air hujan meresap perlahan ke dalam perut bumi, disimpan seperti tabungan untuk musim kemarau.
Namun tahun demi tahun, sesuatu berubah.
Hutan di tepi kota ditebang. Sawah luas disulap menjadi deretan toko dan rumah. Bukit hijau berdiri vila dan hotel megah. Tanah yang dulu lembut kini tertutup beton dan aspal.
“Ke mana sumur-sumur kecil itu?” tanya Rinai suatu hari.
Ia merindukan lubang-lubang tanah yang dulu menyerap airnya dengan penuh rasa syukur. Kini yang ia lihat hanyalah permukaan keras dan licin.
Meski begitu, tugas tetaplah tugas. Rinai dan para awan turun membawa hujan.
Mula-mula gerimis lembut. Lalu hujan yang lebih deras.
Namun air tak lagi disambut.
Ia mengalir tanpa arah. Mencari celah. Mengetuk tanah, tapi tanah tak membuka pintu. Sungai yang sempit tak mampu menampung semuanya. Air pun meluap, memasuki jalan-jalan dan rumah-rumah.
Orang-orang berteriak.
“Banjir!”
“Hujan ini keterlaluan!”
“Hujan pembawa bencana!”
Di langit, Rinai terdiam. Setiap tetes yang jatuh kini terasa seperti air mata.
“Aku hanya ingin memberi kehidupan,” ucapnya pilu.
Di sebuah rumah kecil yang tergenang, seorang anak bernama Dara berdiri di dekat jendela. Ia tidak marah pada hujan. Ia memperhatikan bagaimana air mengalir deras di jalan yang seluruhnya tertutup semen.
Dara teringat cerita kakeknya: dulu, di belakang rumah mereka ada tanah lapang penuh pohon. Air hujan selalu hilang perlahan ke dalam tanah. Tak pernah ada banjir.
Keesokan harinya, setelah air surut, Dara berjalan berkeliling kota. Ia melihat selokan penuh sampah, halaman rumah dipasang keramik rapat, dan tak ada lagi ruang terbuka.
“Bumi tidak bisa minum,” gumamnya.
Suatu hari, Dara mengajak teman-temannya membuat lubang-lubang kecil di tanah kosong dekat sekolah. Mereka menanam pohon dan membersihkan selokan. Mereka juga meminta orang tua membuat taman kecil tanpa semen di depan rumah.
Awalnya orang-orang dewasa meremehkan mereka.
“Lubang kecil seperti itu tidak akan mengubah apa-apa,” kata seseorang.
Namun musim hujan berikutnya datang lagi.
Rinai turun dengan hati-hati. Hujan tetap deras, tetapi kini sebagian air menemukan jalan masuk ke dalam tanah. Lubang-lubang kecil itu bekerja. Pohon-pohon muda membantu menahan air. Sungai memang masih penuh, tetapi tidak lagi meluap sebesar sebelumnya.
Rinai tersenyum untuk pertama kalinya setelah lama murung.
Dari tahun ke tahun, semakin banyak warga yang sadar. Mereka membuat taman resapan, menanam pohon di tepi jalan, dan menyisakan tanah terbuka di halaman rumah.
Banjir tak langsung hilang. Luka bumi tak sembuh seketika. Namun setiap tetes hujan kini kembali memiliki tempat pulang.
Dan sejak saat itu, orang-orang tak lagi menyebut hujan sebagai musuh.
Mereka tahu, jika suatu hari banjir datang lagi, bukan hujan yang harus disalahkan. Melainkan manusia yang lupa memberi bumi ruang untuk bernapas.
Di langit, Rinai tak lagi menangis. Tetes hujan yang jatuh kini bukan air mata duka, melainkan doa agar manusia terus menjaga bumi. [T]
Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole



























