TANGGAL 4-8 Februari 2026 lalu, saya kembali menapaki Jakarta. Saya berkesempatan terlibat di pameran INACRAFT 2026, pameran craft dan textile terbesar di Asia Tenggara, yang berlangsung di Jakarta Convention Center. Pameran tersebut selalu menjadi ajang pamer kualitas—produk premium—masing-masing perajin dan pengusaha craft dan textile dari seluruh Nusantara—bahkan dari negara-negara tetangga.
Pagi Motley—yang bergerak di bidang pewarnaan alam yang meliputi pewarnaan jasa (kulit, kain, serat agel, kayu), tenun, desain interior, natural dye workshop, dan desain pakaian—di gandeng Yayasan Dharma Bakti Astra menjadi salah satu peserta INACRAFT 2026. Saya dipercaya menjadi penjaga booth-nya.
Sembelum menjaga booth Pagi Motley, saya sempat singgah di Yogyakarta. Di sana saya mendapat banyak pengalaman menyenangkan.

Ya, perjalanan saat itu memang saya niatkan estafet menggunakan jalur darat, naik bus dan kereta api. Di samping memang ingin mendapatkan lebih banyak ruang pengalaaman selama perjalanan, rasa-rasanya bisa lebih berhemat daripada naik pesawat. Hitung-hitung juga belajar membuat jadwal perjalanan sendiri sebelum merancang jadwal perjalanan bagi orang lain atau tamu.
Tepat tanggal 3 Februari saya berangkat dari Denpasar ke Yogjakarta dengan bus M-Trans. Berangkat sekitar jam 2 siang dan sampai Jogja pukul 4.30 pagi. Harga tiket bus Rp. 450.000. Nyaman sekali, dapat makan dan snack plus makan malam satu kali di area Banyuwangi.
Di Jogja saya menghabiskan setengah hari untuk berwisata sekaligus belajar di Desa Wisata Krebet yang terletak di Dusun Krebet, Kelurahan Sendangsari, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Wilayah ini berada kurang lebih 18 km dari pusat Kota Yogyakarta dan kurang lebih 7 km dari pusat Kota Bantul. Desa Wisata Krebet berada di perbukitan kapur Pajangan.

Batik kayu, maksudnya membatik di media kayu, adalah salah satu pengalaman yang ditawarkan desa wisata yang menyabet Juara 1 Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024 untuk kategori kelembagaan dan sumber daya manusia. Kebetulan sekali, pihak Desa Wisata Krebet juga akan ikut pameran INACRAFT saat itu. Di Krebet saya bertemu Mas Agus Jati, Ketua Pengelola Desa wisata Krebet sekaligus kawan saya. Hampir 6 Jam saya habiskan di Desa Wisata Krebet. Tentu banyak hal yang dapat saya pelajari.
Seperti umumnya di Jogjakarta, selain angkringan, obrolan dan gudeg, tidak lupa saya juga menikmati tengkleng, kuliner khas berbahan dasar tulang kambing (iga, kaki, kepala, dan jeroan) yang dimasak dengan kuah encer kaya rempah, menyerupai gulai namun lebih ringan. Kuliner legendaris ini berakar dari masa penjajahan dan kini menjadi hidangan favorit dengan cita rasa gurih, pedas, dan aroma rempah kuat.


Tempat makan tengkleng itu bersebelahan dengan Dusun Krebet. Sate Kambing Pajangan namanya. Ini kali kedua saya makan di tempat itu, tapi baru pertama kali ke Krebet. Selain olahan kambingnya yang terkenal, untuk menuju ke sana saya juga mendapat pengalaman menarik. Pasalnya, saya naik ATV (All-Terrain Vehicle) ditemani kawan dari Bali yang sedang menempuh studi lanjutan di UGM—Rama Prasetya, mengambil S-2 antropologi di kampus yang dikenal hari ini dengan ketua BEM-nya yang mengkritik Program MBG itu.
Di Krebet saya melihat banyak siswa dari Jawa bahkan Bali, beberapa juga pelancong dari mancanegara. Grup study tour memang menjadi pangsa pasar utama. Bahkan saat saya di sana, ada sekolah internasional dari Jakarta yang melakukan kunjungan ke Desa Wisata Krebet. Mereka di perkanalkan dengan membatik kayu, membuat wayang sampai bermain gamelan.
Di luar itu, warga Krebet kebanyakan bertani musiman, menjadi pekerja harian, dan juga membuat kerajinan batik kayu. Bisa dibilang, pariwisata dan ladang perekonomian lainnya saling melengkapi satu sama lain—dan pariwisata bahkan sekadar menjadi alternatif.
Market Desa Wisata Krebet kebanyakan memang menyasar wisatawan lokal. Sebuah perbedaan dengan Bali. Di Bali masih berkiblat kepada wisatawan mancanegara. Perbedaan mendasar ini juga turut berpengaruh pada mindset pelaku wisata. Baik secara standar harga dan juga pelayanan.
Tetapi ada satu perbedaan yang sangat fundamental bagi saya antara pariwisata di Krebet dan Bali. Yaitu konsistensi antara wacana dan kenyataannya di lapangan. Kegiatan pariwisata di Bali sedari dulu selalu dinarasikan untuk pelestarian seni-budaya, menunjang ekonomi masyarakat, bahkan menjaga lingkungan. Namun kenyatannya jauh panggang dari api. Pembangunan hotel berbintang, villa, dan akomodasi lainnya begitu masif sampai mengabaikan pelestarian lingkungan hidup. Lain di Krebet. Itu sangat dipertimbangkan.

Pengalaman destinasi kehidupan masyarakat, kreativitas, dan budaya adalah suatu keharusan untuk menjaga eksistensi pariwisata di Bali. Tapi apa yang diharapkan dan dibicarakan seperti biasa selalu tidak pernah bisa diwujudkan. Karena pada kenyataannya, jika tidak ada hitung-hitungan yang adil dan jelas, regulasi yang dijalankan semestinya, maka petani yang menanam padi—yang menjadi cerita manis dalam berwisata Bali—tidak akan mendapatkan bagian yang layak; maka jangan kaget jika cerita beton mengantikan sawah atau bahkan pemasangan seng di sawah akan terus terjadi.
Pada akhirnya, setelah belajar dari Jogjakarta dalam setengah hari, saya melanjutkan perjalanan dengan kereta dari Stasiun Tugu menuju Stasiun Pasar Senen, Jakarta. Sebelumnya, saya menunggu jam keberangkatan dengan menikmati ronde di dekat stasiun.
Ah, ingatan kembali ke Bali. Langkanya transportasi umum, riuh di jalan sepi alternatif. Bali adalah Bali, pun Jogja adalah Jogja.

Cara menikmati kota dan desa, bahkan menikmati pagi, siang, dan malam, menurut saya, bisa dari mana saja, termasuk Jogjakarta. Setidaknya, setiap orang yang berkunjung ke Jogja bisa meng-upload semua foto ata video dengan lirik “pulang ke kotamu”—kutipan ikonik dari lagu legendaris “Yogyakarta” karya KLa Project—yang menggambarkan perasaan rindu mendalam, nostalgia, dan kehangatan suasana Kota Yogyakarta.[T]
Reporter/Penulis: Nyoman Nadiana
Editor: Jaswanto



























