SORE itu, di atas panggung utama, lima penari perempuan berdiri dalam sikap anggun nan tegas. Jemari mereka lentik, sorot mata tajam namun teduh. Di belakangnya, videotron menampilkan nama yang sarat makna: Dhanwantari. Pada Jumat, 13 Februari 2026, tepat di puncak peringatan Hari Ulang Tahun SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) ke-17, tarian itu resmi diluncurkan.
Tari Dhanwantari lahir dari kesadaran akan pentingnya simbol. Kepala SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar, I Komang Rika Adi Putra, M.Pd., melihat bahwa di usia ke-17, sekolah yang berdiri sejak 2009 di bawah naungan Yayasan Bali Medika Denpasar itu membutuhkan ikon yang merepresentasikan jati dirinya. Selama ini, sekolah-sekolah di Bali lazim memiliki tari maskot sebagai identitas artistik yang melekat pada setiap perayaan dan momentum penting. Sementara Kesbam belum memilikinya.
Ia menginisiasi proses panjang penciptaan tari maskot dengan seleksi yang tidak mudah. Koreografer dan komposer dari berbagai kabupaten dipertimbangkan. Setelah melalui berbagai perhitungan, pilihan jatuh kepada dua seniman dari Gianyar: I Komang Adi Pranata, S.Pd., M.Sn. atau akrab disapa Mang Adi sebagai koreografer, dan I Wayan Agus Suardiana Putra, S.Pd., M.Pd. atau akrab disapa Yancul (Wayan Muncul) yang juga pengajar di Kesbam sebagai komposer.

Pemilihan nama Dhanwantari bukan tanpa alasan. Dalam khazanah Hindu, Dhanwantari dikenal sebagai awatara Dewa Wisnu yang membawa kesehatan dan pengobatan. Ia muncul dalam kisah pengadukan lautan susu (Samudramanthana), ketika para dewa dan asura mencari amrta ─ air suci kehidupan. Dari pusaran samudra itu, Dhanwantari tampil membawa kendi berisi amrta serta ramuan obat. Sejak saat itu, ia dihormati sebagai pembawa ilmu pengobatan, pencetus ilahi Ayurveda, dan tabib para dewa.
Filosofi inilah yang menjadi ruh tarian. Dalam konteks sekolah kesehatan, Dhanwantari bukan sekadar figur mitologis, melainkan simbol cita-cita. Ia melambangkan penyatuan ilmu pengetahuan, spiritualitas, dan kasih sayang ─ tiga hal yang menjadi fondasi tenaga kesehatan. Menjaga keseimbangan pikiran, jiwa, dan raga. Menjaga diri sendiri, sekaligus peduli pada orang lain.

Bagi I Komang Adi Pranata alias Mang Adi, proses menerjemahkan filosofi itu ke dalam gerak adalah tantangan sekaligus kehormatan. Koreografer yang dikenal lewat Komunitas Manubada dan berbagai karyanya di event-event besar itu mengaku merasakan kesan mendalam selama proses penciptaan.
“Saya merasa sangat berkesan, senang, dan berbahagia bisa terlibat dalam proses ini. Semoga karya ini benar-benar bisa menjadi identitas yang kuat bagi SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar,” ujarnya.
Ia menggarap Tari Dhanwantari sebagai tarian putri dengan karakter agung dan mulia. Gerakannya tegas namun tetap anggun, memancarkan wibawa tanpa kehilangan kelembutan. Ada simbolisasi membawa kendi, meracik ramuan, hingga gestur memberi berkah ─ semua dirangkai dalam struktur koreografi yang dinamis, tetapi tidak terlampau rumit agar memungkinkan dipelajari oleh siswa Kesbam lainnya.
Menariknya, menurut Mang Adi, hampir tidak ada kendala berarti selama proses kreatifnya. “Semua berjalan dengan santai, asyik, dan seru,” katanya. Kolaborasi antara dirinya dan komposer berlangsung cair. Diskusi-diskusi kecil mengalir tanpa beban, tetapi tetap fokus pada satu tujuan: melahirkan karya monumental yang membumi dan mudah diwariskan.

Di sisi musikal, I Wayan Agus Suardiana Putra alias Yancul menghadapi tantangan tersendiri. Ia menyadari bahwa gending tari maskot ini bukan sekadar musik pengiring, melainkan penopang karakter.
“Saya turut merasa bangga dipilih sebagai komposer Tari Dhanwantari, karena dapat berkontribusi untuk kemajuan KESBAM dan meninggalkan kenangan hidup atas nama saya di sini,” tuturnya.
Namun kebanggaan itu dibarengi kehati-hatian. Ia memikirkan secara matang komposisi yang tepat. “Gending tarinya harus bagus, nyaman ditarikan, dan mudah dipelajari oleh siswa Kesbam,” katanya. Sebagai pengajar di sekolah tersebut, ia memahami betul kemampuan dan kebutuhan siswa.

Ada satu momen unik dalam proses penciptaan musiknya. Untuk pertama kalinya, Yancul menggunakan MIDI (Musical Instrument Digital Interface) dengan bantuan I Putu Widatama sebagai penerjemah di aplikasi DAW (Digital Audio Workstation). Jika biasanya ia harus mengoordinasikan puluhan penabuh untuk menghasilkan sebuah garapan, kini cukup satu ‘penabuh digital’.
“Biasanya susah mengurus penabuh yang berjumlah puluhan orang untuk membuat karya. Sekarang cukup satu orang ‘penabuh digital’ sudah bisa membuat karya tabuh. Secara kasar, komposisi ini rampung dalam empat kali pertemuan. Total enam kali pertemuan termasuk rekaman instrumen suling dan proses mixing & mastering.” ungkapnya.
Bagi Yancul, ini adalah karya gending tari maskot pertamanya. Nilai emosionalnya tak bisa diabaikan. Ia menyebut keterlibatannya sebagai bagian dari sejarah sekolah tempatnya bekerja. Ia juga mengaku bangga dapat berkolaborasi dengan koreografer profesional seperti I Komang Adi Pranata.

Proses kreatif di balik layar tak kalah menarik. Lima penari terpilih melalui seleksi ketat, di antaranya Bunga Lestari, Ni Luh Putu Nindy Pratiwi, Gusti Ayu Semara Dewi, Ni Kadek Anintya Kusuma, dan Ni Luh Nagita Putri. Mereka menjadi penari pertama yang menarikan Dhanwantari.
Bunga Lestari mengaku bangga dipercaya menjadi penari maskot perdana. “Setelah melalui proses seleksi yang diikuti banyak peserta, saya dipercaya untuk menjadi penari maskot ini. Menjadi kehormatan tersendiri bagi saya,” katanya.
Namun kehormatan itu dibayar dengan disiplin. Selama kurang lebih dua bulan, mereka berlatih hingga malam. Rasa lelah dan badan pegal menjadi teman sehari-hari. “Bukan perjalanan yang mudah. Kami berlatih hingga malam, melewati rasa lelah dan badan yang terasa sakit hampir setiap hari. Tapi semua terbayar ketika akhirnya kami bisa menarikan maskot ini untuk pertama kalinya,” ujar Bunga.
Justru di tengah kelelahan itu, kekompakan tumbuh. Dari awalnya canggung, perlahan mereka saling menguatkan. Ikatan tim terbentuk bukan hanya lewat gerakan yang seragam, tetapi juga rasa percaya satu sama lain.

Ni Luh Nagita Putri merasakan hal serupa. Ia menyebut pengalaman ini sebagai momen yang sangat berharga. “Saya sangat senang, bangga, dan bersyukur diberi kepercayaan menjadi penari pertama dalam tarian ini. Bagi saya, pengalaman ini tidak hanya menambah keterampilan menari, tetapi juga melatih rasa percaya diri, tanggung jawab, dan kekompakan,” tuturnya.
Menurut Nagita, keunikan Tari Dhanwantari terletak pada gerakan yang memiliki ciri khas dan memberi ruang ekspresi pada setiap penari. Meski koreografi telah ditata, setiap individu tetap menghadirkan warna.
“Setiap penari memiliki gaya dan ekspresi yang membuat tarian ini lebih hidup dan dinamis. Gerakan-gerakan cepat yang cukup ekstrem justru menjadi pemacu semangat.” katanya.

Peluncuran Tari Dhanwantari pada HUT Kesbam ke-17 menjadi momen simbolik. Di panggung itu, para penari tidak hanya menampilkan estetika, tetapi juga menegaskan arah dan karakter sekolah lewat tarian. SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar yang dikenal sebagai salah satu sekolah kesehatan terkemuka di Bali dengan akreditasi A, dengan empat jurusan ─ Keperawatan dan Caregiving, Farmasi Klinis dan Komunitas, Teknologi Laboratorium Medik, serta Manajemen Perkantoran (Rumah Sakit) ─ kini memiliki identitas artistik atas visi dan misinya.
Tari Dhanwantari secara tersirat menjadi simbolis perjalanan siswa Kesbam. Mereka datang sebagai remaja yang belajar, ditempa disiplin dan ilmu. Kelak, mereka diharapkan menjadi tenaga kesehatan yang tidak hanya terampil secara teknis, tetapi juga berkarakter dan penuh empati. Seperti Dhanwantari yang membawa amrta, mereka diharapkan membawa ‘air kehidupan’ bagi masyarakat ─ dalam bentuk pelayanan, kepedulian, dan pengabdian.
Di usia ke-17 tahun, yang kerap dimaknai sebagai fase kedewasaan, SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar menandai langkahnya dengan sebuah karya. Tari Dhanwantari bukan sekadar koreografi yang ditarikan di panggung-panggung seremoni. Ia adalah pernyataan nilai dan penanda identitas.
Nilai tentang ilmu yang tidak boleh terlepas dari moral. Tentang kesehatan yang bukan hanya urusan fisik, tetapi juga jiwa. Tentang sekolah yang tidak hanya mencetak lulusan, tetapi membentuk manusia. [T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Budarsana



























