23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Imlek, Nyepi, dan Ekonomi Kreatif

Agung Bawantara by Agung Bawantara
February 18, 2026
in Esai
Imlek, Nyepi, dan Ekonomi Kreatif

Ilustrasi tatkala.co

Ada pemandangan yang hangat di Tabanan pada 17 Februari 2026. Di tengah suasana kekeluargaan, anak-anak (dari beragam etnis) berbaris menerima angpao dari kelarga Tionghoa. Anak-anak itu tampak tersenyum ketika menerima dan menyimpan angpao itu ke saku atau tas mereka. Amplop merah itu sederhana, tetapi memuat makna yang besar: silaturahmi keluarga, penghormatan kepada leluhur, dan harapan agar tahun yang baru membawa pertumbuhan. Tradisi itu merupakan bagian dari perayaan Imlek keluarga besar Kho di Bali.

Imlek di Bali selalu terasa khas. Tidak terlalu riuh, tetapi intim. Ada meja makan keluarga, doa bersama, obrolan lintas generasi, dan ucapan Gong Xi Fa Cai yang terdengar alami, bahkan bagi mereka yang bukan Tionghoa. Di Bali, Imlek bukanlah perayaan yang asing.

Sejarah panjang perjumpaan Bali dan Tiongkok telah membentuk lapisan budaya yang saling berkelindan selama berabad-abad. Jejaknya hadir dalam jalur perdagangan lama, dalam ragam kuliner, dalam arsitektur, bahkan dalam ruang spiritual. Di sejumlah pura terdapat pelinggih yang dihormati sebagai tempat sembahyang bagi saudara Tionghoa. Ini bukan sekadar simbol toleransi, melainkan penanda sejarah interaksi budaya yang telah berakar.  Karena itu, ketika anak-anak menerima angpao di Bali, itu bukan tradisi yang datang dan pergi. Ia sudah menjadi bagian dari denyut kebudayaan pulau ini.

Secara makna, Imlek adalah momen memulai ulang. Rumah dibersihkan, relasi diperbaiki, kalender diganti, niat diperbarui. Ucapan Gong Xi Fa Cai kerap dipahami sebagai doa agar makmur. Namun dalam makna budayanya yang lebih dalam, fa berarti bertumbuh—usaha bertumbuh, kepercayaan bertumbuh, peluang terbuka.

Imlek menyalakan optimisme kolektif. Ketika satu komunitas sepakat bahwa ini adalah awal yang baik, keberanian untuk melangkah menjadi lebih besar. Orang berani membuka usaha, memulai proyek, atau memperbarui strategi hidupnya. Di sini kita melihat bahwa Imlek bukan sekadar ritual spiritual, tetapi juga infrastruktur psikologis bagi pertumbuhan. Dan tanpa disadari, itu merupakan fondasi penting dalam ekonomi kreatif.

Nyepi: Keberanian Berhenti

Bersamaan dengan itu, hampir di seluruh banjar di Bali anak-anak muda mulai sibuk mempersiapkan rangkaian Nyepi. Ogoh-ogoh dibentuk dengan penuh imajinasi daalam sebuah kerja kolektif. Kreativitas disemai dan ditumbuhkan sebelum akhirnya pulau ini memasuki keheningan total.

Berbeda dengan banyak perayaan dunia yang semakin riuh, Nyepi justru menuju sunyi. Tidak ada lampu, tidak ada perjalanan, tidak ada hiburan, tidak ada aktivitas. Seluruh pulau berhenti.

Namun Nyepi bukan hanya satu hari hening. Ia adalah rangkaian proses yang berpuncak pada keheningan tersebut. Salah satu bagian pentingnya adalah Tawur Kesanga, yang dilaksanakan sehari sebelumnya sebagai upacara penyeimbangan dan penyucian simbolik. Melalui Bhuta Yadnya, masyarakat menata ulang hubungan antara manusia, alam, dan kekuatan kosmis. Arak-arakan ogoh-ogoh menjadi ekspresi kolektif untuk melepaskan energi-energi negatif sebelum memasuki hari sunyi.

Setelah itu, Catur Brata Penyepian dijalankan: tidak menyalakan api (amati geni), tidak bekerja (amati karya), tidak bepergian (amati lelungan), dan tidak menikmati hiburan (amati lelanguan). Keheningan ini menjadi ruang refleksi, penataan batin, dan pembaruan kesadaran.

Menariknya, ogoh-ogoh—yang berkembang luas sejak 1980-an—bukan inti teologis Nyepi, tetapi ia lahir dari spirit yang sama: kesadaran akan pelepasan dan pembersihan. Kreativitas meledak sebelum keheningan datang, lalu semuanya dilepas. Ekspresi dan pengosongan menjadi satu siklus.

Jika dilihat berdekatan dalam kalender, Imlek dan Nyepi menghadirkan dua energi yang berbeda namun saling melengkapi. Imlek mengajarkan keberanian memulai dan bertumbuh, Nyepi mengajarkan keberanian berhenti dan membersihkan diri. Imlek mengisi, Nyepi mengosongkan. Imlek menyalakan optimisme, Nyepi menata kesadaran. Keduanya berbasis siklus. Keduanya membangun energi kolektif. Keduanya memperkuat jaringan sosial. Dan keduanya memiliki dimensi estetika yang hidup.

Dalam bahasa yang lebih kontemporer, Bali memiliki kalender kreatif yang kaya: ada momentum ekspansi, ada momentum refleksi.

Di Tengah Disrupsi AI

Hari ini, ekonomi kreatif bergerak dalam percepatan teknologi. AI mampu menghasilkan desain, teks, bahkan konsep dalam hitungan detik. Produksi menjadi cepat. Skala menjadi mudah. Namun percepatan juga membawa risiko: kehilangan arah.

AI tidak memiliki Catur Brata. Ia tidak mengenal jeda. Ia tidak mengenal penyepian.

Di sinilah Imlek dan Nyepi menjadi relevan. Imlek memberi dorongan untuk bertumbuh. Nyepi memberi disiplin untuk menata ulang niat.

Ekonomi kreatif yang sehat membutuhkan keduanya: keberanian untuk ekspansi dan keberanian untuk refleksi. Jika Bali mampu membaca siklus budayanya sebagai kompas—menggunakan momentum pertumbuhan untuk inovasi dan momentum hening untuk evaluasi—maka yang lahir bukan sekadar konten, melainkan ekosistem.

Di awal tahun lunar, anak-anak menerima angpao sebagai simbol pertumbuhan. Beberapa minggu kemudian, seluruh pulau mematikan lampu untuk menata batin. Di antara amplop merah dan keheningan total, Bali sesungguhnya memperlihatkan sesuatu yang sangat modern: model keberlanjutan. Bertumbuh tanpa kehilangan pusat. Bergerak tanpa lupa berhenti. Di tengah disrupsi AI, mungkin justru itulah kekuatan terbesar yang dimiliki Bali—bukan pada kecepatannya, tetapi pada siklusnya. [T]

Penulis: Agung Bawantara
Editor: Adnyana Ole

Tags: ekonomi kreatifHari Raya ImlekHari Raya NyepiImlek
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Promosi Doktor Ni Luh Putu Putri Setianingsih: Strategi Teknologi dalam Menjaga Stabilitas Senyawa Bioaktif Kulit Jeruk Siam Kintamani

Next Post

Menjadi Penolong Pertama di Usia Belia: Ketika Para Dokter Kecil Beradu Cerdas di Kesbam Anniversary Contest (KAC) VI

Agung Bawantara

Agung Bawantara

Penulis DONGENG yang juga gemar menulis esai, prosa, dan puisi. Juga aktif dalam gerakan film dokumenter di Bali. Agung adalah inisiator Denpasar Film Festival.

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Menjadi Penolong Pertama di Usia Belia: Ketika Para Dokter Kecil Beradu Cerdas di Kesbam Anniversary Contest (KAC) VI

Menjadi Penolong Pertama di Usia Belia: Ketika Para Dokter Kecil Beradu Cerdas di Kesbam Anniversary Contest (KAC) VI

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co