14 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Imlek, Nyepi, dan Ekonomi Kreatif

Agung Bawantara by Agung Bawantara
February 18, 2026
in Esai
Imlek, Nyepi, dan Ekonomi Kreatif

Ilustrasi tatkala.co

Ada pemandangan yang hangat di Tabanan pada 17 Februari 2026. Di tengah suasana kekeluargaan, anak-anak (dari beragam etnis) berbaris menerima angpao dari kelarga Tionghoa. Anak-anak itu tampak tersenyum ketika menerima dan menyimpan angpao itu ke saku atau tas mereka. Amplop merah itu sederhana, tetapi memuat makna yang besar: silaturahmi keluarga, penghormatan kepada leluhur, dan harapan agar tahun yang baru membawa pertumbuhan. Tradisi itu merupakan bagian dari perayaan Imlek keluarga besar Kho di Bali.

Imlek di Bali selalu terasa khas. Tidak terlalu riuh, tetapi intim. Ada meja makan keluarga, doa bersama, obrolan lintas generasi, dan ucapan Gong Xi Fa Cai yang terdengar alami, bahkan bagi mereka yang bukan Tionghoa. Di Bali, Imlek bukanlah perayaan yang asing.

Sejarah panjang perjumpaan Bali dan Tiongkok telah membentuk lapisan budaya yang saling berkelindan selama berabad-abad. Jejaknya hadir dalam jalur perdagangan lama, dalam ragam kuliner, dalam arsitektur, bahkan dalam ruang spiritual. Di sejumlah pura terdapat pelinggih yang dihormati sebagai tempat sembahyang bagi saudara Tionghoa. Ini bukan sekadar simbol toleransi, melainkan penanda sejarah interaksi budaya yang telah berakar.  Karena itu, ketika anak-anak menerima angpao di Bali, itu bukan tradisi yang datang dan pergi. Ia sudah menjadi bagian dari denyut kebudayaan pulau ini.

Secara makna, Imlek adalah momen memulai ulang. Rumah dibersihkan, relasi diperbaiki, kalender diganti, niat diperbarui. Ucapan Gong Xi Fa Cai kerap dipahami sebagai doa agar makmur. Namun dalam makna budayanya yang lebih dalam, fa berarti bertumbuh—usaha bertumbuh, kepercayaan bertumbuh, peluang terbuka.

Imlek menyalakan optimisme kolektif. Ketika satu komunitas sepakat bahwa ini adalah awal yang baik, keberanian untuk melangkah menjadi lebih besar. Orang berani membuka usaha, memulai proyek, atau memperbarui strategi hidupnya. Di sini kita melihat bahwa Imlek bukan sekadar ritual spiritual, tetapi juga infrastruktur psikologis bagi pertumbuhan. Dan tanpa disadari, itu merupakan fondasi penting dalam ekonomi kreatif.

Nyepi: Keberanian Berhenti

Bersamaan dengan itu, hampir di seluruh banjar di Bali anak-anak muda mulai sibuk mempersiapkan rangkaian Nyepi. Ogoh-ogoh dibentuk dengan penuh imajinasi daalam sebuah kerja kolektif. Kreativitas disemai dan ditumbuhkan sebelum akhirnya pulau ini memasuki keheningan total.

Berbeda dengan banyak perayaan dunia yang semakin riuh, Nyepi justru menuju sunyi. Tidak ada lampu, tidak ada perjalanan, tidak ada hiburan, tidak ada aktivitas. Seluruh pulau berhenti.

Namun Nyepi bukan hanya satu hari hening. Ia adalah rangkaian proses yang berpuncak pada keheningan tersebut. Salah satu bagian pentingnya adalah Tawur Kesanga, yang dilaksanakan sehari sebelumnya sebagai upacara penyeimbangan dan penyucian simbolik. Melalui Bhuta Yadnya, masyarakat menata ulang hubungan antara manusia, alam, dan kekuatan kosmis. Arak-arakan ogoh-ogoh menjadi ekspresi kolektif untuk melepaskan energi-energi negatif sebelum memasuki hari sunyi.

Setelah itu, Catur Brata Penyepian dijalankan: tidak menyalakan api (amati geni), tidak bekerja (amati karya), tidak bepergian (amati lelungan), dan tidak menikmati hiburan (amati lelanguan). Keheningan ini menjadi ruang refleksi, penataan batin, dan pembaruan kesadaran.

Menariknya, ogoh-ogoh—yang berkembang luas sejak 1980-an—bukan inti teologis Nyepi, tetapi ia lahir dari spirit yang sama: kesadaran akan pelepasan dan pembersihan. Kreativitas meledak sebelum keheningan datang, lalu semuanya dilepas. Ekspresi dan pengosongan menjadi satu siklus.

Jika dilihat berdekatan dalam kalender, Imlek dan Nyepi menghadirkan dua energi yang berbeda namun saling melengkapi. Imlek mengajarkan keberanian memulai dan bertumbuh, Nyepi mengajarkan keberanian berhenti dan membersihkan diri. Imlek mengisi, Nyepi mengosongkan. Imlek menyalakan optimisme, Nyepi menata kesadaran. Keduanya berbasis siklus. Keduanya membangun energi kolektif. Keduanya memperkuat jaringan sosial. Dan keduanya memiliki dimensi estetika yang hidup.

Dalam bahasa yang lebih kontemporer, Bali memiliki kalender kreatif yang kaya: ada momentum ekspansi, ada momentum refleksi.

Di Tengah Disrupsi AI

Hari ini, ekonomi kreatif bergerak dalam percepatan teknologi. AI mampu menghasilkan desain, teks, bahkan konsep dalam hitungan detik. Produksi menjadi cepat. Skala menjadi mudah. Namun percepatan juga membawa risiko: kehilangan arah.

AI tidak memiliki Catur Brata. Ia tidak mengenal jeda. Ia tidak mengenal penyepian.

Di sinilah Imlek dan Nyepi menjadi relevan. Imlek memberi dorongan untuk bertumbuh. Nyepi memberi disiplin untuk menata ulang niat.

Ekonomi kreatif yang sehat membutuhkan keduanya: keberanian untuk ekspansi dan keberanian untuk refleksi. Jika Bali mampu membaca siklus budayanya sebagai kompas—menggunakan momentum pertumbuhan untuk inovasi dan momentum hening untuk evaluasi—maka yang lahir bukan sekadar konten, melainkan ekosistem.

Di awal tahun lunar, anak-anak menerima angpao sebagai simbol pertumbuhan. Beberapa minggu kemudian, seluruh pulau mematikan lampu untuk menata batin. Di antara amplop merah dan keheningan total, Bali sesungguhnya memperlihatkan sesuatu yang sangat modern: model keberlanjutan. Bertumbuh tanpa kehilangan pusat. Bergerak tanpa lupa berhenti. Di tengah disrupsi AI, mungkin justru itulah kekuatan terbesar yang dimiliki Bali—bukan pada kecepatannya, tetapi pada siklusnya. [T]

Penulis: Agung Bawantara
Editor: Adnyana Ole

Tags: ekonomi kreatifHari Raya ImlekHari Raya NyepiImlek
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Promosi Doktor Ni Luh Putu Putri Setianingsih: Strategi Teknologi dalam Menjaga Stabilitas Senyawa Bioaktif Kulit Jeruk Siam Kintamani

Next Post

Menjadi Penolong Pertama di Usia Belia: Ketika Para Dokter Kecil Beradu Cerdas di Kesbam Anniversary Contest (KAC) VI

Agung Bawantara

Agung Bawantara

Penulis DONGENG yang juga gemar menulis esai, prosa, dan puisi. Juga aktif dalam gerakan film dokumenter di Bali. Agung adalah inisiator Denpasar Film Festival.

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post
Menjadi Penolong Pertama di Usia Belia: Ketika Para Dokter Kecil Beradu Cerdas di Kesbam Anniversary Contest (KAC) VI

Menjadi Penolong Pertama di Usia Belia: Ketika Para Dokter Kecil Beradu Cerdas di Kesbam Anniversary Contest (KAC) VI

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co