MANG ADI memegang sebilah paku dengan gaya seperti layaknya memegang pena. Dengan ujung paku yang runcing itu, ia menggurat garis pada ujung papan. Ia sedang membuat tanda batas agar papan itu bisa dipotong dengan rapi.
Ia memandang sekilas pada garis yang baru saja ia buat, lalu tubuhnya bergeser untuk mengambil bensin, untuk kemudian dituangkan ke dalam tangki gergaji mesin. Bensin masuk, tangki ditutup. Dan, gergaji itu pun dihidupkan.
Suara mesin pun menderu. Gigi-gigi tajam gergaji itu diarahkan pada garis di atas papan yang sebelumnya dibuat dengan paku itu. Tepat pada garis, tidak kurang tidak lebih.
Serpihan kayu keluar dari liang kecil gergaji, secara acak jatuh ke lantai. Selesai memotong, lelaki itu membakar sebatang rokok, lalu rokok diisap dan asap terbang ke atap pondok. Atap itu dibuat dari daun-daun pohon ental atau siwalan (borassus flabellifer) yang tumbuh menjulang di sekitar rumahnya.


Mang Adi, begitu ia dipanggil. Nama lengkapnya Komang Adi Sastrawan. Ia bukanlah tukang kayu. Ia juga bukan tukang bangunan, atau tukang gergaji. Ia adalah penyadap tuak dan pembuat gula dari tuak lontar.
Memotong kayu adalah kegiatan waktu senggang, ketika ia tak bisa melakukan proses pembuatan gula. Musim hujan membuatnya ia istirahat, atau mengerjakan sesuatu yang bisa dikerjakan.
Saat itu, ia hendak membuat tempat duduk di amben rumahnya sebagai tempat untuk istirahat, atau merenung, atau sekadar tempat untuk merokok.
***
Saya berkunjung ke rumah Mang Adi di Sambirenteng awal Februari 2026. Saya memperhatikan lelaki itu dari pagi hingga sore hari. Saya ngobrol bebas, dan ia terus bekerja sembari menjawab pertanyaan saya sesekali.

Rokok masih mencangkung di mulutnya, Mang Adi memasang papan-papan itu menjadi tempat duduk di amben pondok. Pondok itu sebuah bangunan sederhana, dekat dengan paon atau dapur, tempat di mana ia biasanya menyimpan tuak dan memasak gula merah ental.
Mang Adi masih muda. Ia lahir tahun 2009 di wilayah Sembung, Desa Sambirenteng, Kecamatan Tejakula, Buleleng. Di desa itulah hidupnya bergerak, memanjat pohon lontar, memasak gula merah, juga membuat apa saja.
Ia hanya lulus SMP. Mang Adi memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA/SMK karena ingin bekerja mandiri. Ia merasa pikirannya macet dan kreativitasnya tak bergerak saat mengikuti pelajaran di sekolah. Tepatnya ia tak mengerti pelajaran apa yang didap[atnya di sekolah.
Bisa membaca dan menulis sudah cukup bagi Mang Adi. Sudah cukup untuk bekerja di desa.
“Dan juga karena saya tidak tertarik untuk kerja keluar negeri,” katanya setelah banyak teman-temannya usai lulus SMA/SMK memilih kerja di luar negeri.

Mang Adi lebih tertarik dengan alam. Lalu ia belajar secara lebih serius bagaimana hidup di desa yang dikaruniai banyak pohon ental dan kelapa itu. Nah, pelajaran itulah yang telah membuka jalurnya sendiri untuk menuju masa depan sesuai konstruk alam, di mana ia hidup sejak lahir.
Tahun 2017, ia belajar secara mandiri bagaimana membuat gula merah dari tuak ental atau tuak lontar. Ia juga belajar bagaimana caranya menyadap tuak. Tentu, mula-mula, ia ikut kakeknya lebih dulu, membantu menyiapkan ini dan itu soal produksi. Misalnya belajar naik ke pohon setinggi 10 meter, dan memproses tuak menjadi gula.
Bosan ikut kakek, lambat laun tangannya gatal untuk kerja sendiri, lantas ia belajar dan praktek sendiri dengan ulet dan yakin mau bergerak sendiri pada tahun 2018, menjadi penyadap tuak dan koki gula merah ental.
Kini keterampilannya memanjat pohon kelapa, selain pohon lontar, tak perlu diragukan lagi. Dalam satu hari ia bisa memanjat 1-5 atau 5-10 pohon. Keahliannya memanjat pun mula-mula berawal dari melihat atau memperhatikan dengan tajam seseorang yang sudah matang dalam panjat-memanjat. Lalu prakteklah Mang Adi sendiri, tanpa pengawasan tentu saja. Dan ia berhasil.
Itulah yang membuat kulitnya kini makin gelap dan liat, pula kekar dan liar memablut tubuh tropisnya. Dari tubuhnya selalu menguar keringat bau kulit pohon dan getah-getah usai bekerja. Musim panas dan hujan telah membentuk akalnya secara alami, dan tubuhnya terus menggeliat dengan pikiran yang jernih. Seluruh laku hidup itu membuatnya makin paham bahwa sumber daya alam di desanya memang penting bagi siapa pun yang hidup di desa.
***
Mang Adi memang selalu bergerak dan bekerja mengikuti musim, karena memang seperti itulah kehidupan desa bergantung pada alam. Tapi sayangnya, musim kadang tak menentu, dan nasib pun bisa tak menentu pula.
“Mungkin bumi sudah rusak, yah, Mas.” celetuk Mang Adi.
Empat bulan lalu, ia masih memanjat pohon dan membuat gula di dapurnya. Semua aktivitas dilakukannya pada pagi hari. Tapi sekarang ia sedang istirahat karena sedang musim hujan. Pohon lontar tidak produktif untuk disadap sarinya di musim hujan.
“Pernah saya tidak produksi cukup lama. Padahal musim kemarau waktu itu. Tapi hujan terus menerus datang, aneh dan membuat saya rugi,” kata Mang Adi menyoal musim tidak bisa diprediksi beberapa tahun ke belakang.

Tahun ini Mang Adi menunggu, apakah musim hujan akan berhenti akhir Februari atau akan hujan terus hingga akhir tahun. Mang Adi tak bisa meramal. Ia hanya bisa menunggu.
Dua jambangan (wajan besar) di tungku miliknya kini digenangi air coklat entah berapa lama air itu akan menggenang atau sejak kapan air itu menggenang. Sedang jirigen-jirigen tercantel di tembok luar dapur itu diisi angin. Tapi parang melengkung di sisi pintu masuk paonnya seakan menolak karatan.
Jadi, ia hanya bisa memperbaiki apa saja yang rusak di pondoknya, untuk menyambut produksi lagi, barangkali di bulan depan, barangkali bulan berikutnya lagi.
Jika memang musim hujan selesai pada waktunya, di akhir bulan Februari, maka ia akan menyadap tuak bulan Maret-Agustus. Dan itu pun jika ia beruntung.
Di sela menunggu musim hujan selesai, Mang Adi biasanya jadi tukang potong pohon dan panjat kelapa untuk menyeimbangkan hidup.. Orang-orang biasa menggunakan jasanya untuk itu, tinggal telepon, ia datang jika sedang tak ada kerjaan.
Misalnya, pada hari itu, ia secara tiba-tiba ditelepon seseorang dan berbicara dalam bahasa Bali. Orang di seberang telepon itu memintanya untuk memotong pohon.
Tidak sampai sepuluh menit ia berbicara dengan orang itu di telepon, juga dalam bahasa Bali, Mang Adi menolaknya secara halus. Ia bilang tak bisa melakukannya karena sedang sibuk mengerjakan amben di pondoknya.
“Sebenarnya lumayan kalau diambil.” katanya. “Memotong pohon kelapa untuk dijadikan papan, permeter ongkosnya bisa 35 ribu.”
Tapi Mang Adi tak mengambil pekerjaan itu. Ia lebih suka melanjutkan pekerjaannya memasang papan untuk istirahat di pondoknya.
***
Sore mulai merayap. Saya masih memperhatikan gerak Mang Adi di pondoknya. Ketika itu, daun-daun agak berisik. Angin cukup keras menggoyang, tapi selebihnya angin jadi sayup biasa saja menerpa. Sejuk.
Dari arah jalan keluar kebun, seekor anjing hitam datang, ia bernama Badang. Badang berwajah kuat-sangar, tapi jinak. Tidak rewel. Anjing itu datang bersama Adi Astrawan, yang tak lain adalah kakak Mang Adi. Kakaknya itu tahun lalu baru saja pulang dari Turki.
Adi Astrawan sempat bekerja di luar negeri di sebuah hotel. “Setahunan saya kerja di sana. Mungkin sekarang di sini dulu, istirahat.” katanya.
Melihat adiknya bekerja, air muka Astrawan tampak cair. Si adik terus bekerja. Tidak pernah diam.
“Dia sedari kecil memang suka begitu,” katanya, untuk menarik kembali ingatan bagaimana Mang Adi lebih suka praktik langsung ketimbang belajar teori tebal dan mengantuk.


Orang-orang di Sambirenteng adalah orang-orang yang hidup dengan laku alam. Aktivitas mereka lebih banyak di ladang di waktu pagi hari. Sore baru pulang. Dan Mang Adi, juga demikian, mengikuti pola kerja yang sudah tertanam. Hal itu diperkuat dan obrolan melebar bahwa desa ini barangkali memang telah dibangun pagi hari.
Seperti kata seorang pemandu wisata lokal, Komang Putra. Ia datang 40 menit yang lalu. “Orang-orang di sini wataknya itu, kalem.” katanya. “Mereka lebih banyak mengambil pekerjaan yang simpel dan tidak ribet.”
“Wah. Bagus dong, Bli,” kata saya.
“Iya. Tapi efek sampinya, kalau kurang uang itu, bisa tanah ladang yang dijual,” kata Komang Putra tentu saja dengan nada humor.
Di Sambirenteng, konon beberapa ladang atau tanah sudah bukan milik asli orang Sambirenteng. Entah sejak tahun berapa. Bisa sudah milik orang Jakarta, atau mungkin bule, atau mungkin siapa saja yang punya duit. Orang berduit itu bisa memanfaatkan kesempatan warga yang sedang lengah butuh duit. Warga dirayu, lalu tanah pun berpindah tangan.
Tentu fenomena jual tanah ini adalah tantangan, selain tantangan musim yang tak pasti akir-akhir ini. Dan saya kira, Mang Adi adalah manusia muda dan gaul di desa ini. Yang mau melebur dengan alam adalah gaul. Yang menganggap penting tanah moyang sebagai rumah tempatnya lahir dan bermain adalah gaul.

Saat saya merenung, saya sadari Mang Adi tidak ada di pondoknya. Ke mana ia pergi? Hanya ada suara mesin gergajinya terdengar dari arah yang jauh.
“Itu!” tunjuk Adi Astrawan ke arah Mang Adi sedang menebang pohon jati di kebunnya.
Brak!Pohon jatuh terdengar.
“Buat nambah papan yang kurang.” kata Mang Adi dengan enteng setelah kembalinya ke pondoknya. [T]
Penulis: Son Lomri
Editor: Adnyana Ole



























