24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Konsepsi Segara-Gunung dalam Masyarakat Tradisional dan Kini

Chusmeru by Chusmeru
February 15, 2026
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

MEMBAYANGKAN masyarakat Indonesia, khususnya Jawa; di masa lalu terasa menemukan satu garis lurus kontinum yang begitu harmonis. Komunikasi tradisional yang terjalin di antara masyarakat pun dilakukan berdasar simbol-simbol keharmonisan tiga posisi, yaitu segara, pusat kekuasaan, dan gunung.

 Segara atau laut di masa lalu adalah simbol peradaban, transportasi, dan perdagangan. Proses penyebaran agama-agama langit banyak dilakukan lewat jalur laut. Budaya masyarakat maritim pun diwarnai dengan akulturasi antara pedagang, penyiar agama, dan penduduk lokal di sekitar segara.

Selain sebagai pintu gerbang perdagangan, segara juga telah melahirkan budaya maritim di Tanah Air. Budaya maritim itu berupa nilai, pengetahuan, dan tradisi yang bersumber pada laut. Predikat bangsa bahari bagi Indonesia dilekatkan atas kemampuan para pelaut menghasilkan kapal tradisional yang mampu mengarungi samudra luas. Sistem navigasi tradisional juga dimiliki para pelaut Indonesia dengan mencermati bintang, angin, dan arus air untuk berlayar.

Budaya maritim juga menghasilkan tradisi yang dimiliki nelayan dari ujung barat hingga ujung timur Nusantara. Ritual adat seperti sedekah laut atau pesta laut yang dilakukan nelayan adalah bentuk kearifan lokal. Tradisi itu bukan sekadar mitologi yang berbau klenik. Sedekah laut bagi nelayan adalah kearifan lokal untuk pengaturan sumber daya laut dan menjaga keseimbangan ekosistem laut.

Sedangkan gunung secara simbolik menggambarkan kedamaian, keteguhan, keilahian, keagungan, dan kesuburan. Gunung sering dimanfaatkan sebagai tempat spiritualitas, meditasi, hingga narasi mistis. Tinggi dan besarnya gunung memberi makna reflektif bagi manusia, ruang kontemplasi, dan mengajarkan bahwa manusia itu kecil di hadapan alam.

Gunung telah melahirkan masyarakat dan budaya agraris. Masayarakat menggantungkan hidupnya dari sektor pertanian. Akitivitas politik, sosial, spiritual, dan ekonomi sangat berkaitan dengan tanah, tanaman, dan siklus alam. Budaya dan tradisi yang dimiliki pun diwarnai dengan esensi tanah, tanaman, dan alam.

Tradisi sedekah bumi dan beberapa tradisi yang berbeda nama di masing-masing daerah adalah bentuk rasa syukur masyarakat atas berkah yang diterima dari alam. Tradisi semacam itu selain berdimensi transendental atas karunia Tuhan, juga upaya membentuk kohesitas dan solidaritas sosial. Bahwa kerja dan hasilnya adalah perbuatan kolektif, bukan lantaran kebijakan perangkat desa atau arahan tokoh masyarakat, namun semangat kebersamaan seluruh masyarakat.

Simbol Ekulibrium

Konsepsi Segara-Gunung pada masyarakat Indonesia bukan semata menggambarkan posisi alam semesta. Di tengah segara dan gunung terdapat pusat kekuasaan (civic center). Ketiganya merupakan satu garis lurus kontinum yang menggambarkan ekulibrium atau keseimbangan. Posisi tiga elemen simbol ekulibrium itu sudah tampak sejak zaman dahulu.

Bila dicermati, beberapa daerah di Indonesia di masa lalu memiliki konsepsi garis imajiner Segara-Gunung. Pusat kota atau pusat kekuasaan biasanya akan diapit oleh laut dan gunung. Laut menjadi pusat perdagangan, gunung menjadi simbol pertanian, dan pusat kekuasaan sebagai tempat raja atau penguasa membuat kebijakan untuk rakyatnya.

Di depan pusat kekuasaan terdapat alun-alun yang berfungsi mengumpulkan rakyat, sekaligus sebagai tempat bagi rakyat untuk mengkritisi kebijakan raja atau penguasa. Kala itu, masyarakat Jawa protes kepada raja tidak dengan jalan demonstrasi, tetapi denganpépé atau berjemur di tengah terik matahari di alun-alun. Raja yang tanggap akan menemui rakyat sambil mendengar keluhan mereka.

Biasanya di kiri dan kanan pusat kekuasaan dan alun-alun berdiri tempat ibadah dan penjara. Secara simbolik, kekuasaan akan stabil dan dalam kondisi ekulibrium bila raja atau para pejabat di lingkaran kekuasaan akan selalu menatap tempat ibadah dan penjara. Tempat ibadah mengingatkan kebaikan dan penjara simbol kejahatan.

Secara mitologis, stabilitas suatu kerajaan atau pemerintahan akan tergambar dari hubungan yang harmonis di antara tiga pilar itu, yaitu segara, gunung, dan pusat kekuasaan. Gangguan yang terjadi pada salah satu pilar akan berdampak pada ekulibrium pilar yang lain. Guncangan yang melanda gunung akan berakibat pada gejolak segara. Pusat kekuasaan juga terganggu saat gunung dan segara menunjukkan gelagat kurang baik.

Tak heran, bila raja atau penguasa di masa lalu akan segera “menemui” dan “menghaturkan” sesuatu kepada gunung atau laut yang bergejolak dengan ritual dan sesaji. Dengan harapan, gunung tidak meletus yang berakibat rakyat petani di lereng gunung menanggung musibah. Harapan yang sama, segara tidak bergejolak yang menyebabkan rakyat nelayan tidak dapat menangkap hasil laut.

Begitu pula dengan segara dan gunung yang akan merespons secara alamiah ketika terjadi kemelut politik di pusat kekuasaan. Konflik politik atau perebutan kekuasaan di masa lalu ditandai dengan letupan gunung maupun luapan samudra. Rakyat yang paham tentang tanda-tanda alam itu hanya bisa berharap agar kemelut politik di pusat kekuasaan akan segera mereda.

Oleh karena itulah, rakyat berharap agar raja maupun penguasa menjalankan kekuasaannya dengan adil dan bijaksana, agar tidak terjadi gejolak alam.  Penguasa yang zalim atau rakus dipercaya akan menimbulkan amarah segara dan gunung. Ekulibrium semesta terganggu, dan rakyat yang tak punya kuasa atas sumber daya alam menanggung akibat kesulitan mencari sumber penghidupan.

Segara-Gunung Kini

Konsepsi Segara-Gunung kini nyaris banyak berubah, baik secara planologi maupun kultural. Posisi segara, gunung, dan pusat kekuasaan mengalami perubahan di tengah modernitas. Segara tak lagi menyimpan budaya maritim. Nelayan yang melakukan sedekah laut bukan lagi tuntutan tradisi, tetapi ambisi rezim pariwisata. Sedekah laut kehilangan esensi dan menjadi tontonan bagi wisatawan.

Segara juga bukan lagi tempat yang aman dan nyaman bagi nelayan untuk mencari sumber penghidupan. Laut sudah dikavling dan dipagari oleh pengusaha untuk dijadikan resort pariwisata. Bahkan laut sebagai simbol komunitas masyarakat pesisir berubah sertipikat kepemilikan pribadi. Nelayan terusir dari kampungnya, tercerabut dari akar budayanya. Mitologi laut perlahan tergerus oleh konglomerasi. Segara tak lagi menjadi simbol ekuilibrium, karena bencana bisa datang kapan saja.

Gunung bukan lagi simbol kesuburan dan muara budaya agraris. Gunung sudah menjadi ladang bisnis kapitalis. Sama halnya dengan segara, gunung juga dikavling dan dikuras isi buminya untuk industri tambang. Hijau lereng gunung tergantikan tembok-tembok hotel berbintang. Gunung tak lagi aman bagi habitat satwa, lantaran rumah mereka tergusur oleh kepentingan bisnis kelapa sawit, tambang nikel, hingga pembalakan liar hutan belantara.

Mitologi gunung sebagai tonggak bumi kalah oleh ambisi kapitalis yang mengeruk isi bumi. Budaya agraris dan ritual yang menyertainya terdistorsi oleh hiruk-pikuk buldoser dan alat berat lain yang lalu-lalang. Sedekah bumi hanya pemanis dan merupakan kemurahan budi penguasa untuk menenangkan hati rakyat di lereng gunung.

Pusat kekuasaan secara simbolik juga berubah, tak lagi mengacu pada konsepsi Segara-Gunung. Kantor bupati, gubernur, maupun istana presiden bisa di mana saja. Tidak harus berada dalam kontinum garis imajiner segara dan gunung. Pusat kekuasaan tercerabut dari akar kultural dan menciptakan sejarah baru yang mengabaikan posisi segara dan gunung.

Alun-alun tidak lagi simbol komunikasi rakyat dan penguasa. Alun-alun bukan lagi tempat rakyat pépé untuk memprotes kebijakan penguasa. Alun-alun kini bukan hanya bersanding dengan masjid dan penjara, tetapi juga bersaing dengan mal dan pusat hiburan di sekelilingnya. Maka, hubungan emosional serta kultural rakyat dan penguasa terhadap alun-alun pun berubah. Kekuasaan tidak lagi identik dengan nilai-nilai kebaikan, tetapi mendekati selera bisnis dan hiburan.

Konsepsi Segara-Gunung yang awalnya dikenal masyarakat tradisional sebagai penjaga ekulibrium semesta kini berubah menjadi perusak ekosistem. Di mana ada segara, di situ ada mafia. Di mana ada gunung, di situ kapitalisme mengepung. Dan penguasa tak lagi mampu memberi jaminan keberlanjutan ekologi serta budaya di segara dan gunung. [T]

Tags: komunikasikomunikasi tradisionalTradisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tabé dan Tabik: Kesopanan dalam Bertindak dan Kesantunan dalam Berbahasa

Next Post

Puisi-puisi I Wayan Kuntara | Aku Benci Politik

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi I Wayan Kuntara | Aku Benci Politik

Puisi-puisi I Wayan Kuntara | Aku Benci Politik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co