3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Konsepsi Segara-Gunung dalam Masyarakat Tradisional dan Kini

Chusmeru by Chusmeru
February 15, 2026
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

MEMBAYANGKAN masyarakat Indonesia, khususnya Jawa; di masa lalu terasa menemukan satu garis lurus kontinum yang begitu harmonis. Komunikasi tradisional yang terjalin di antara masyarakat pun dilakukan berdasar simbol-simbol keharmonisan tiga posisi, yaitu segara, pusat kekuasaan, dan gunung.

 Segara atau laut di masa lalu adalah simbol peradaban, transportasi, dan perdagangan. Proses penyebaran agama-agama langit banyak dilakukan lewat jalur laut. Budaya masyarakat maritim pun diwarnai dengan akulturasi antara pedagang, penyiar agama, dan penduduk lokal di sekitar segara.

Selain sebagai pintu gerbang perdagangan, segara juga telah melahirkan budaya maritim di Tanah Air. Budaya maritim itu berupa nilai, pengetahuan, dan tradisi yang bersumber pada laut. Predikat bangsa bahari bagi Indonesia dilekatkan atas kemampuan para pelaut menghasilkan kapal tradisional yang mampu mengarungi samudra luas. Sistem navigasi tradisional juga dimiliki para pelaut Indonesia dengan mencermati bintang, angin, dan arus air untuk berlayar.

Budaya maritim juga menghasilkan tradisi yang dimiliki nelayan dari ujung barat hingga ujung timur Nusantara. Ritual adat seperti sedekah laut atau pesta laut yang dilakukan nelayan adalah bentuk kearifan lokal. Tradisi itu bukan sekadar mitologi yang berbau klenik. Sedekah laut bagi nelayan adalah kearifan lokal untuk pengaturan sumber daya laut dan menjaga keseimbangan ekosistem laut.

Sedangkan gunung secara simbolik menggambarkan kedamaian, keteguhan, keilahian, keagungan, dan kesuburan. Gunung sering dimanfaatkan sebagai tempat spiritualitas, meditasi, hingga narasi mistis. Tinggi dan besarnya gunung memberi makna reflektif bagi manusia, ruang kontemplasi, dan mengajarkan bahwa manusia itu kecil di hadapan alam.

Gunung telah melahirkan masyarakat dan budaya agraris. Masayarakat menggantungkan hidupnya dari sektor pertanian. Akitivitas politik, sosial, spiritual, dan ekonomi sangat berkaitan dengan tanah, tanaman, dan siklus alam. Budaya dan tradisi yang dimiliki pun diwarnai dengan esensi tanah, tanaman, dan alam.

Tradisi sedekah bumi dan beberapa tradisi yang berbeda nama di masing-masing daerah adalah bentuk rasa syukur masyarakat atas berkah yang diterima dari alam. Tradisi semacam itu selain berdimensi transendental atas karunia Tuhan, juga upaya membentuk kohesitas dan solidaritas sosial. Bahwa kerja dan hasilnya adalah perbuatan kolektif, bukan lantaran kebijakan perangkat desa atau arahan tokoh masyarakat, namun semangat kebersamaan seluruh masyarakat.

Simbol Ekulibrium

Konsepsi Segara-Gunung pada masyarakat Indonesia bukan semata menggambarkan posisi alam semesta. Di tengah segara dan gunung terdapat pusat kekuasaan (civic center). Ketiganya merupakan satu garis lurus kontinum yang menggambarkan ekulibrium atau keseimbangan. Posisi tiga elemen simbol ekulibrium itu sudah tampak sejak zaman dahulu.

Bila dicermati, beberapa daerah di Indonesia di masa lalu memiliki konsepsi garis imajiner Segara-Gunung. Pusat kota atau pusat kekuasaan biasanya akan diapit oleh laut dan gunung. Laut menjadi pusat perdagangan, gunung menjadi simbol pertanian, dan pusat kekuasaan sebagai tempat raja atau penguasa membuat kebijakan untuk rakyatnya.

Di depan pusat kekuasaan terdapat alun-alun yang berfungsi mengumpulkan rakyat, sekaligus sebagai tempat bagi rakyat untuk mengkritisi kebijakan raja atau penguasa. Kala itu, masyarakat Jawa protes kepada raja tidak dengan jalan demonstrasi, tetapi denganpépé atau berjemur di tengah terik matahari di alun-alun. Raja yang tanggap akan menemui rakyat sambil mendengar keluhan mereka.

Biasanya di kiri dan kanan pusat kekuasaan dan alun-alun berdiri tempat ibadah dan penjara. Secara simbolik, kekuasaan akan stabil dan dalam kondisi ekulibrium bila raja atau para pejabat di lingkaran kekuasaan akan selalu menatap tempat ibadah dan penjara. Tempat ibadah mengingatkan kebaikan dan penjara simbol kejahatan.

Secara mitologis, stabilitas suatu kerajaan atau pemerintahan akan tergambar dari hubungan yang harmonis di antara tiga pilar itu, yaitu segara, gunung, dan pusat kekuasaan. Gangguan yang terjadi pada salah satu pilar akan berdampak pada ekulibrium pilar yang lain. Guncangan yang melanda gunung akan berakibat pada gejolak segara. Pusat kekuasaan juga terganggu saat gunung dan segara menunjukkan gelagat kurang baik.

Tak heran, bila raja atau penguasa di masa lalu akan segera “menemui” dan “menghaturkan” sesuatu kepada gunung atau laut yang bergejolak dengan ritual dan sesaji. Dengan harapan, gunung tidak meletus yang berakibat rakyat petani di lereng gunung menanggung musibah. Harapan yang sama, segara tidak bergejolak yang menyebabkan rakyat nelayan tidak dapat menangkap hasil laut.

Begitu pula dengan segara dan gunung yang akan merespons secara alamiah ketika terjadi kemelut politik di pusat kekuasaan. Konflik politik atau perebutan kekuasaan di masa lalu ditandai dengan letupan gunung maupun luapan samudra. Rakyat yang paham tentang tanda-tanda alam itu hanya bisa berharap agar kemelut politik di pusat kekuasaan akan segera mereda.

Oleh karena itulah, rakyat berharap agar raja maupun penguasa menjalankan kekuasaannya dengan adil dan bijaksana, agar tidak terjadi gejolak alam.  Penguasa yang zalim atau rakus dipercaya akan menimbulkan amarah segara dan gunung. Ekulibrium semesta terganggu, dan rakyat yang tak punya kuasa atas sumber daya alam menanggung akibat kesulitan mencari sumber penghidupan.

Segara-Gunung Kini

Konsepsi Segara-Gunung kini nyaris banyak berubah, baik secara planologi maupun kultural. Posisi segara, gunung, dan pusat kekuasaan mengalami perubahan di tengah modernitas. Segara tak lagi menyimpan budaya maritim. Nelayan yang melakukan sedekah laut bukan lagi tuntutan tradisi, tetapi ambisi rezim pariwisata. Sedekah laut kehilangan esensi dan menjadi tontonan bagi wisatawan.

Segara juga bukan lagi tempat yang aman dan nyaman bagi nelayan untuk mencari sumber penghidupan. Laut sudah dikavling dan dipagari oleh pengusaha untuk dijadikan resort pariwisata. Bahkan laut sebagai simbol komunitas masyarakat pesisir berubah sertipikat kepemilikan pribadi. Nelayan terusir dari kampungnya, tercerabut dari akar budayanya. Mitologi laut perlahan tergerus oleh konglomerasi. Segara tak lagi menjadi simbol ekuilibrium, karena bencana bisa datang kapan saja.

Gunung bukan lagi simbol kesuburan dan muara budaya agraris. Gunung sudah menjadi ladang bisnis kapitalis. Sama halnya dengan segara, gunung juga dikavling dan dikuras isi buminya untuk industri tambang. Hijau lereng gunung tergantikan tembok-tembok hotel berbintang. Gunung tak lagi aman bagi habitat satwa, lantaran rumah mereka tergusur oleh kepentingan bisnis kelapa sawit, tambang nikel, hingga pembalakan liar hutan belantara.

Mitologi gunung sebagai tonggak bumi kalah oleh ambisi kapitalis yang mengeruk isi bumi. Budaya agraris dan ritual yang menyertainya terdistorsi oleh hiruk-pikuk buldoser dan alat berat lain yang lalu-lalang. Sedekah bumi hanya pemanis dan merupakan kemurahan budi penguasa untuk menenangkan hati rakyat di lereng gunung.

Pusat kekuasaan secara simbolik juga berubah, tak lagi mengacu pada konsepsi Segara-Gunung. Kantor bupati, gubernur, maupun istana presiden bisa di mana saja. Tidak harus berada dalam kontinum garis imajiner segara dan gunung. Pusat kekuasaan tercerabut dari akar kultural dan menciptakan sejarah baru yang mengabaikan posisi segara dan gunung.

Alun-alun tidak lagi simbol komunikasi rakyat dan penguasa. Alun-alun bukan lagi tempat rakyat pépé untuk memprotes kebijakan penguasa. Alun-alun kini bukan hanya bersanding dengan masjid dan penjara, tetapi juga bersaing dengan mal dan pusat hiburan di sekelilingnya. Maka, hubungan emosional serta kultural rakyat dan penguasa terhadap alun-alun pun berubah. Kekuasaan tidak lagi identik dengan nilai-nilai kebaikan, tetapi mendekati selera bisnis dan hiburan.

Konsepsi Segara-Gunung yang awalnya dikenal masyarakat tradisional sebagai penjaga ekulibrium semesta kini berubah menjadi perusak ekosistem. Di mana ada segara, di situ ada mafia. Di mana ada gunung, di situ kapitalisme mengepung. Dan penguasa tak lagi mampu memberi jaminan keberlanjutan ekologi serta budaya di segara dan gunung. [T]

Tags: komunikasikomunikasi tradisionalTradisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tabé dan Tabik: Kesopanan dalam Bertindak dan Kesantunan dalam Berbahasa

Next Post

Puisi-puisi I Wayan Kuntara | Aku Benci Politik

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Pertemuan William James dan Vivekananda

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
0
Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

Read moreDetails

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi I Wayan Kuntara | Aku Benci Politik

Puisi-puisi I Wayan Kuntara | Aku Benci Politik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co