14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Konsepsi Segara-Gunung dalam Masyarakat Tradisional dan Kini

Chusmeru by Chusmeru
February 15, 2026
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

MEMBAYANGKAN masyarakat Indonesia, khususnya Jawa; di masa lalu terasa menemukan satu garis lurus kontinum yang begitu harmonis. Komunikasi tradisional yang terjalin di antara masyarakat pun dilakukan berdasar simbol-simbol keharmonisan tiga posisi, yaitu segara, pusat kekuasaan, dan gunung.

 Segara atau laut di masa lalu adalah simbol peradaban, transportasi, dan perdagangan. Proses penyebaran agama-agama langit banyak dilakukan lewat jalur laut. Budaya masyarakat maritim pun diwarnai dengan akulturasi antara pedagang, penyiar agama, dan penduduk lokal di sekitar segara.

Selain sebagai pintu gerbang perdagangan, segara juga telah melahirkan budaya maritim di Tanah Air. Budaya maritim itu berupa nilai, pengetahuan, dan tradisi yang bersumber pada laut. Predikat bangsa bahari bagi Indonesia dilekatkan atas kemampuan para pelaut menghasilkan kapal tradisional yang mampu mengarungi samudra luas. Sistem navigasi tradisional juga dimiliki para pelaut Indonesia dengan mencermati bintang, angin, dan arus air untuk berlayar.

Budaya maritim juga menghasilkan tradisi yang dimiliki nelayan dari ujung barat hingga ujung timur Nusantara. Ritual adat seperti sedekah laut atau pesta laut yang dilakukan nelayan adalah bentuk kearifan lokal. Tradisi itu bukan sekadar mitologi yang berbau klenik. Sedekah laut bagi nelayan adalah kearifan lokal untuk pengaturan sumber daya laut dan menjaga keseimbangan ekosistem laut.

Sedangkan gunung secara simbolik menggambarkan kedamaian, keteguhan, keilahian, keagungan, dan kesuburan. Gunung sering dimanfaatkan sebagai tempat spiritualitas, meditasi, hingga narasi mistis. Tinggi dan besarnya gunung memberi makna reflektif bagi manusia, ruang kontemplasi, dan mengajarkan bahwa manusia itu kecil di hadapan alam.

Gunung telah melahirkan masyarakat dan budaya agraris. Masayarakat menggantungkan hidupnya dari sektor pertanian. Akitivitas politik, sosial, spiritual, dan ekonomi sangat berkaitan dengan tanah, tanaman, dan siklus alam. Budaya dan tradisi yang dimiliki pun diwarnai dengan esensi tanah, tanaman, dan alam.

Tradisi sedekah bumi dan beberapa tradisi yang berbeda nama di masing-masing daerah adalah bentuk rasa syukur masyarakat atas berkah yang diterima dari alam. Tradisi semacam itu selain berdimensi transendental atas karunia Tuhan, juga upaya membentuk kohesitas dan solidaritas sosial. Bahwa kerja dan hasilnya adalah perbuatan kolektif, bukan lantaran kebijakan perangkat desa atau arahan tokoh masyarakat, namun semangat kebersamaan seluruh masyarakat.

Simbol Ekulibrium

Konsepsi Segara-Gunung pada masyarakat Indonesia bukan semata menggambarkan posisi alam semesta. Di tengah segara dan gunung terdapat pusat kekuasaan (civic center). Ketiganya merupakan satu garis lurus kontinum yang menggambarkan ekulibrium atau keseimbangan. Posisi tiga elemen simbol ekulibrium itu sudah tampak sejak zaman dahulu.

Bila dicermati, beberapa daerah di Indonesia di masa lalu memiliki konsepsi garis imajiner Segara-Gunung. Pusat kota atau pusat kekuasaan biasanya akan diapit oleh laut dan gunung. Laut menjadi pusat perdagangan, gunung menjadi simbol pertanian, dan pusat kekuasaan sebagai tempat raja atau penguasa membuat kebijakan untuk rakyatnya.

Di depan pusat kekuasaan terdapat alun-alun yang berfungsi mengumpulkan rakyat, sekaligus sebagai tempat bagi rakyat untuk mengkritisi kebijakan raja atau penguasa. Kala itu, masyarakat Jawa protes kepada raja tidak dengan jalan demonstrasi, tetapi denganpépé atau berjemur di tengah terik matahari di alun-alun. Raja yang tanggap akan menemui rakyat sambil mendengar keluhan mereka.

Biasanya di kiri dan kanan pusat kekuasaan dan alun-alun berdiri tempat ibadah dan penjara. Secara simbolik, kekuasaan akan stabil dan dalam kondisi ekulibrium bila raja atau para pejabat di lingkaran kekuasaan akan selalu menatap tempat ibadah dan penjara. Tempat ibadah mengingatkan kebaikan dan penjara simbol kejahatan.

Secara mitologis, stabilitas suatu kerajaan atau pemerintahan akan tergambar dari hubungan yang harmonis di antara tiga pilar itu, yaitu segara, gunung, dan pusat kekuasaan. Gangguan yang terjadi pada salah satu pilar akan berdampak pada ekulibrium pilar yang lain. Guncangan yang melanda gunung akan berakibat pada gejolak segara. Pusat kekuasaan juga terganggu saat gunung dan segara menunjukkan gelagat kurang baik.

Tak heran, bila raja atau penguasa di masa lalu akan segera “menemui” dan “menghaturkan” sesuatu kepada gunung atau laut yang bergejolak dengan ritual dan sesaji. Dengan harapan, gunung tidak meletus yang berakibat rakyat petani di lereng gunung menanggung musibah. Harapan yang sama, segara tidak bergejolak yang menyebabkan rakyat nelayan tidak dapat menangkap hasil laut.

Begitu pula dengan segara dan gunung yang akan merespons secara alamiah ketika terjadi kemelut politik di pusat kekuasaan. Konflik politik atau perebutan kekuasaan di masa lalu ditandai dengan letupan gunung maupun luapan samudra. Rakyat yang paham tentang tanda-tanda alam itu hanya bisa berharap agar kemelut politik di pusat kekuasaan akan segera mereda.

Oleh karena itulah, rakyat berharap agar raja maupun penguasa menjalankan kekuasaannya dengan adil dan bijaksana, agar tidak terjadi gejolak alam.  Penguasa yang zalim atau rakus dipercaya akan menimbulkan amarah segara dan gunung. Ekulibrium semesta terganggu, dan rakyat yang tak punya kuasa atas sumber daya alam menanggung akibat kesulitan mencari sumber penghidupan.

Segara-Gunung Kini

Konsepsi Segara-Gunung kini nyaris banyak berubah, baik secara planologi maupun kultural. Posisi segara, gunung, dan pusat kekuasaan mengalami perubahan di tengah modernitas. Segara tak lagi menyimpan budaya maritim. Nelayan yang melakukan sedekah laut bukan lagi tuntutan tradisi, tetapi ambisi rezim pariwisata. Sedekah laut kehilangan esensi dan menjadi tontonan bagi wisatawan.

Segara juga bukan lagi tempat yang aman dan nyaman bagi nelayan untuk mencari sumber penghidupan. Laut sudah dikavling dan dipagari oleh pengusaha untuk dijadikan resort pariwisata. Bahkan laut sebagai simbol komunitas masyarakat pesisir berubah sertipikat kepemilikan pribadi. Nelayan terusir dari kampungnya, tercerabut dari akar budayanya. Mitologi laut perlahan tergerus oleh konglomerasi. Segara tak lagi menjadi simbol ekuilibrium, karena bencana bisa datang kapan saja.

Gunung bukan lagi simbol kesuburan dan muara budaya agraris. Gunung sudah menjadi ladang bisnis kapitalis. Sama halnya dengan segara, gunung juga dikavling dan dikuras isi buminya untuk industri tambang. Hijau lereng gunung tergantikan tembok-tembok hotel berbintang. Gunung tak lagi aman bagi habitat satwa, lantaran rumah mereka tergusur oleh kepentingan bisnis kelapa sawit, tambang nikel, hingga pembalakan liar hutan belantara.

Mitologi gunung sebagai tonggak bumi kalah oleh ambisi kapitalis yang mengeruk isi bumi. Budaya agraris dan ritual yang menyertainya terdistorsi oleh hiruk-pikuk buldoser dan alat berat lain yang lalu-lalang. Sedekah bumi hanya pemanis dan merupakan kemurahan budi penguasa untuk menenangkan hati rakyat di lereng gunung.

Pusat kekuasaan secara simbolik juga berubah, tak lagi mengacu pada konsepsi Segara-Gunung. Kantor bupati, gubernur, maupun istana presiden bisa di mana saja. Tidak harus berada dalam kontinum garis imajiner segara dan gunung. Pusat kekuasaan tercerabut dari akar kultural dan menciptakan sejarah baru yang mengabaikan posisi segara dan gunung.

Alun-alun tidak lagi simbol komunikasi rakyat dan penguasa. Alun-alun bukan lagi tempat rakyat pépé untuk memprotes kebijakan penguasa. Alun-alun kini bukan hanya bersanding dengan masjid dan penjara, tetapi juga bersaing dengan mal dan pusat hiburan di sekelilingnya. Maka, hubungan emosional serta kultural rakyat dan penguasa terhadap alun-alun pun berubah. Kekuasaan tidak lagi identik dengan nilai-nilai kebaikan, tetapi mendekati selera bisnis dan hiburan.

Konsepsi Segara-Gunung yang awalnya dikenal masyarakat tradisional sebagai penjaga ekulibrium semesta kini berubah menjadi perusak ekosistem. Di mana ada segara, di situ ada mafia. Di mana ada gunung, di situ kapitalisme mengepung. Dan penguasa tak lagi mampu memberi jaminan keberlanjutan ekologi serta budaya di segara dan gunung. [T]

Tags: komunikasikomunikasi tradisionalTradisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tabé dan Tabik: Kesopanan dalam Bertindak dan Kesantunan dalam Berbahasa

Next Post

Puisi-puisi I Wayan Kuntara | Aku Benci Politik

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
0
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

Read moreDetails

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi I Wayan Kuntara | Aku Benci Politik

Puisi-puisi I Wayan Kuntara | Aku Benci Politik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co