3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Konsepsi Segara-Gunung dalam Masyarakat Tradisional dan Kini

Chusmeru by Chusmeru
February 15, 2026
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

MEMBAYANGKAN masyarakat Indonesia, khususnya Jawa; di masa lalu terasa menemukan satu garis lurus kontinum yang begitu harmonis. Komunikasi tradisional yang terjalin di antara masyarakat pun dilakukan berdasar simbol-simbol keharmonisan tiga posisi, yaitu segara, pusat kekuasaan, dan gunung.

 Segara atau laut di masa lalu adalah simbol peradaban, transportasi, dan perdagangan. Proses penyebaran agama-agama langit banyak dilakukan lewat jalur laut. Budaya masyarakat maritim pun diwarnai dengan akulturasi antara pedagang, penyiar agama, dan penduduk lokal di sekitar segara.

Selain sebagai pintu gerbang perdagangan, segara juga telah melahirkan budaya maritim di Tanah Air. Budaya maritim itu berupa nilai, pengetahuan, dan tradisi yang bersumber pada laut. Predikat bangsa bahari bagi Indonesia dilekatkan atas kemampuan para pelaut menghasilkan kapal tradisional yang mampu mengarungi samudra luas. Sistem navigasi tradisional juga dimiliki para pelaut Indonesia dengan mencermati bintang, angin, dan arus air untuk berlayar.

Budaya maritim juga menghasilkan tradisi yang dimiliki nelayan dari ujung barat hingga ujung timur Nusantara. Ritual adat seperti sedekah laut atau pesta laut yang dilakukan nelayan adalah bentuk kearifan lokal. Tradisi itu bukan sekadar mitologi yang berbau klenik. Sedekah laut bagi nelayan adalah kearifan lokal untuk pengaturan sumber daya laut dan menjaga keseimbangan ekosistem laut.

Sedangkan gunung secara simbolik menggambarkan kedamaian, keteguhan, keilahian, keagungan, dan kesuburan. Gunung sering dimanfaatkan sebagai tempat spiritualitas, meditasi, hingga narasi mistis. Tinggi dan besarnya gunung memberi makna reflektif bagi manusia, ruang kontemplasi, dan mengajarkan bahwa manusia itu kecil di hadapan alam.

Gunung telah melahirkan masyarakat dan budaya agraris. Masayarakat menggantungkan hidupnya dari sektor pertanian. Akitivitas politik, sosial, spiritual, dan ekonomi sangat berkaitan dengan tanah, tanaman, dan siklus alam. Budaya dan tradisi yang dimiliki pun diwarnai dengan esensi tanah, tanaman, dan alam.

Tradisi sedekah bumi dan beberapa tradisi yang berbeda nama di masing-masing daerah adalah bentuk rasa syukur masyarakat atas berkah yang diterima dari alam. Tradisi semacam itu selain berdimensi transendental atas karunia Tuhan, juga upaya membentuk kohesitas dan solidaritas sosial. Bahwa kerja dan hasilnya adalah perbuatan kolektif, bukan lantaran kebijakan perangkat desa atau arahan tokoh masyarakat, namun semangat kebersamaan seluruh masyarakat.

Simbol Ekulibrium

Konsepsi Segara-Gunung pada masyarakat Indonesia bukan semata menggambarkan posisi alam semesta. Di tengah segara dan gunung terdapat pusat kekuasaan (civic center). Ketiganya merupakan satu garis lurus kontinum yang menggambarkan ekulibrium atau keseimbangan. Posisi tiga elemen simbol ekulibrium itu sudah tampak sejak zaman dahulu.

Bila dicermati, beberapa daerah di Indonesia di masa lalu memiliki konsepsi garis imajiner Segara-Gunung. Pusat kota atau pusat kekuasaan biasanya akan diapit oleh laut dan gunung. Laut menjadi pusat perdagangan, gunung menjadi simbol pertanian, dan pusat kekuasaan sebagai tempat raja atau penguasa membuat kebijakan untuk rakyatnya.

Di depan pusat kekuasaan terdapat alun-alun yang berfungsi mengumpulkan rakyat, sekaligus sebagai tempat bagi rakyat untuk mengkritisi kebijakan raja atau penguasa. Kala itu, masyarakat Jawa protes kepada raja tidak dengan jalan demonstrasi, tetapi denganpépé atau berjemur di tengah terik matahari di alun-alun. Raja yang tanggap akan menemui rakyat sambil mendengar keluhan mereka.

Biasanya di kiri dan kanan pusat kekuasaan dan alun-alun berdiri tempat ibadah dan penjara. Secara simbolik, kekuasaan akan stabil dan dalam kondisi ekulibrium bila raja atau para pejabat di lingkaran kekuasaan akan selalu menatap tempat ibadah dan penjara. Tempat ibadah mengingatkan kebaikan dan penjara simbol kejahatan.

Secara mitologis, stabilitas suatu kerajaan atau pemerintahan akan tergambar dari hubungan yang harmonis di antara tiga pilar itu, yaitu segara, gunung, dan pusat kekuasaan. Gangguan yang terjadi pada salah satu pilar akan berdampak pada ekulibrium pilar yang lain. Guncangan yang melanda gunung akan berakibat pada gejolak segara. Pusat kekuasaan juga terganggu saat gunung dan segara menunjukkan gelagat kurang baik.

Tak heran, bila raja atau penguasa di masa lalu akan segera “menemui” dan “menghaturkan” sesuatu kepada gunung atau laut yang bergejolak dengan ritual dan sesaji. Dengan harapan, gunung tidak meletus yang berakibat rakyat petani di lereng gunung menanggung musibah. Harapan yang sama, segara tidak bergejolak yang menyebabkan rakyat nelayan tidak dapat menangkap hasil laut.

Begitu pula dengan segara dan gunung yang akan merespons secara alamiah ketika terjadi kemelut politik di pusat kekuasaan. Konflik politik atau perebutan kekuasaan di masa lalu ditandai dengan letupan gunung maupun luapan samudra. Rakyat yang paham tentang tanda-tanda alam itu hanya bisa berharap agar kemelut politik di pusat kekuasaan akan segera mereda.

Oleh karena itulah, rakyat berharap agar raja maupun penguasa menjalankan kekuasaannya dengan adil dan bijaksana, agar tidak terjadi gejolak alam.  Penguasa yang zalim atau rakus dipercaya akan menimbulkan amarah segara dan gunung. Ekulibrium semesta terganggu, dan rakyat yang tak punya kuasa atas sumber daya alam menanggung akibat kesulitan mencari sumber penghidupan.

Segara-Gunung Kini

Konsepsi Segara-Gunung kini nyaris banyak berubah, baik secara planologi maupun kultural. Posisi segara, gunung, dan pusat kekuasaan mengalami perubahan di tengah modernitas. Segara tak lagi menyimpan budaya maritim. Nelayan yang melakukan sedekah laut bukan lagi tuntutan tradisi, tetapi ambisi rezim pariwisata. Sedekah laut kehilangan esensi dan menjadi tontonan bagi wisatawan.

Segara juga bukan lagi tempat yang aman dan nyaman bagi nelayan untuk mencari sumber penghidupan. Laut sudah dikavling dan dipagari oleh pengusaha untuk dijadikan resort pariwisata. Bahkan laut sebagai simbol komunitas masyarakat pesisir berubah sertipikat kepemilikan pribadi. Nelayan terusir dari kampungnya, tercerabut dari akar budayanya. Mitologi laut perlahan tergerus oleh konglomerasi. Segara tak lagi menjadi simbol ekuilibrium, karena bencana bisa datang kapan saja.

Gunung bukan lagi simbol kesuburan dan muara budaya agraris. Gunung sudah menjadi ladang bisnis kapitalis. Sama halnya dengan segara, gunung juga dikavling dan dikuras isi buminya untuk industri tambang. Hijau lereng gunung tergantikan tembok-tembok hotel berbintang. Gunung tak lagi aman bagi habitat satwa, lantaran rumah mereka tergusur oleh kepentingan bisnis kelapa sawit, tambang nikel, hingga pembalakan liar hutan belantara.

Mitologi gunung sebagai tonggak bumi kalah oleh ambisi kapitalis yang mengeruk isi bumi. Budaya agraris dan ritual yang menyertainya terdistorsi oleh hiruk-pikuk buldoser dan alat berat lain yang lalu-lalang. Sedekah bumi hanya pemanis dan merupakan kemurahan budi penguasa untuk menenangkan hati rakyat di lereng gunung.

Pusat kekuasaan secara simbolik juga berubah, tak lagi mengacu pada konsepsi Segara-Gunung. Kantor bupati, gubernur, maupun istana presiden bisa di mana saja. Tidak harus berada dalam kontinum garis imajiner segara dan gunung. Pusat kekuasaan tercerabut dari akar kultural dan menciptakan sejarah baru yang mengabaikan posisi segara dan gunung.

Alun-alun tidak lagi simbol komunikasi rakyat dan penguasa. Alun-alun bukan lagi tempat rakyat pépé untuk memprotes kebijakan penguasa. Alun-alun kini bukan hanya bersanding dengan masjid dan penjara, tetapi juga bersaing dengan mal dan pusat hiburan di sekelilingnya. Maka, hubungan emosional serta kultural rakyat dan penguasa terhadap alun-alun pun berubah. Kekuasaan tidak lagi identik dengan nilai-nilai kebaikan, tetapi mendekati selera bisnis dan hiburan.

Konsepsi Segara-Gunung yang awalnya dikenal masyarakat tradisional sebagai penjaga ekulibrium semesta kini berubah menjadi perusak ekosistem. Di mana ada segara, di situ ada mafia. Di mana ada gunung, di situ kapitalisme mengepung. Dan penguasa tak lagi mampu memberi jaminan keberlanjutan ekologi serta budaya di segara dan gunung. [T]

Tags: komunikasikomunikasi tradisionalTradisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tabé dan Tabik: Kesopanan dalam Bertindak dan Kesantunan dalam Berbahasa

Next Post

Puisi-puisi I Wayan Kuntara | Aku Benci Politik

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi I Wayan Kuntara | Aku Benci Politik

Puisi-puisi I Wayan Kuntara | Aku Benci Politik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co