14 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Saatnya Peduli Gizi yang Sering Terabaikan —Catatan di Bulan Vitamin A

I Putu Suiraoka by I Putu Suiraoka
February 13, 2026
in Esai
Saatnya Peduli Gizi yang Sering Terabaikan —Catatan di Bulan Vitamin A

Ilustrasi tatkala.co | Canva

ADA hal-hal penting dalam hidup yang bekerja dalam diam, sehingga orang cenderung jadi abai terhadapnya. Meski demikian ia tidak menuntut perhatian, tidak mengeluh ketika diabaikan, dan tidak segera terasa dampaknya ketika hilang. Vitamin A adalah salah satunya. Ia hadir sebagai zat gizi mikro yang sangat kecil dalam jumlah, tetapi besar dalam makna. Meski tidak setenar protein yang relatif sering muncul dalam iklan makanan, bahkan juga tidak sepopuler vitamin C yang identik dengan daya tahan tubuh. Namun tanpa banyak suara, Vitamin A menjaga sesuatu yang amat mendasar: cahaya di mata anak-anak, kekuatan tubuh mereka melawan penyakit, dan kesempatan mereka untuk tumbuh secara optimal.

Februari (dan juga Agustus) datang setiap tahun, dan bersama itu pula datang pengingat yang sering luput dari perhatian: Bulan Vitamin A. Di semua sudut negeri ini, di posyandu-posyandu sederhana, di balai desa, di puskesmas, para ibu menggendong anaknya, menunggu giliran menerima kapsul kecil berwarna biru atau merah. Sebagian datang dengan kesadaran penuh, sebagian lagi datang karena ajakan kader, dan tidak sedikit yang datang sekadar mengikuti kebiasaan. Bahkan yang tidak datangpun dihantarkan ke rumah oleh para kader. Orang boleh  memandang kegiatan itu sebagai hal sederhana—bahkan rutin. Namun sesungguhnya, di situlah berlangsung salah satu upaya paling nyata dalam melindungi generasi masa depan.

Kapsul kecil itu mungkin tampak remeh. Ia hanya ditelan dalam hitungan detik. Anak-anak kadang meringis karena rasanya, lalu kembali bermain seolah tak terjadi apa-apa. Tetapi di dalam tubuh mereka, Vitamin A mulai menjalankan perannya: memperkuat sistem imun, menjaga kesehatan mata, dan membantu pertumbuhan sel. Sesuatu yang tak terlihat, namun bekerja terus-menerus.

Sering kali kita mengira masalah gizi hanya milik mereka yang kekurangan makanan. Gambaran tentang anak kurus, perut kosong, dan wajah pucat kerap menjadi simbol utama. Padahal kekurangan gizi tidak selalu tampil dalam wujud yang mudah dikenali. Ada bentuk kekurangan gizi yang lebih sunyi—hidden hunger, kelaparan tersembunyi. Perut mungkin kenyang, tetapi zat gizi mikro mungkin saja tidak terpenuhi. Makanan tersedia, tetapi tidak beragam. Di sinilah Vitamin A sering menjadi korban ketidaksadaran.

Banyak keluarga merasa anaknya sudah makan dengan baik karena tidak pernah kelaparan. Sepiring nasi, lauk sederhana, mungkin ditambah makanan ringan kemasan—semua terasa cukup. Namun gizi bukan sekadar kenyang. Tubuh, terutama tubuh anak yang sedang tumbuh, memerlukan berbagai zat gizi untuk membangun jaringan, memperkuat organ, dan mengoptimalkan fungsi biologis. Vitamin A adalah salah satu kunci di dalamnya.

Peran Vitamin A pada penglihatan adalah yang paling dikenal. Ia membantu retina menangkap cahaya, terutama dalam kondisi redup. Tanpa Vitamin A yang cukup, seorang anak dapat mengalami rabun senja—kesulitan melihat saat cahaya minim. Ini bukan sekadar gangguan kecil. Pada kondisi berat dan berkepanjangan, kekurangan Vitamin A dapat menyebabkan mata kering, kerusakan kornea, bahkan kebutaan permanen. Tentunya ini Adalah sesuatu yang tragis, terlebih jika kita tahu bahwa sebagian besar kasusnya dapat dicegah.

Sebenarnya Vitamin A tidak hanya tentang Kesehatan mata saja. Ia adalah penjaga lapisan epitel, yaitu lapisan pelindung di saluran napas, pencernaan, dan juga kulit. Lapisan ini ibarat benteng pertama tubuh terhadap kuman. Ketika Vitamin A kurang, benteng itu menjadi melemah. Anak akan lebih mudah terkena infeksi, lebih sering sakit, dan lebih lama pulih. Dalam konteks kesehatan masyarakat, kecukupan Vitamin A bahkan dikaitkan dengan penurunan risiko kematian pada anak akibat penyakit infeksi.

Vitamin A bukanlah sekadar kebutuhan zat gizi personal, melainkan investasi kesehatan publik. Vitamin ini berkaitan dengan kualitas generasi, beban kesehatan, bahkan produktivitas jangka panjang. Menariknya, sumber Vitamin A sebenarnya tidak jauh dari kehidupan sehari-hari. Alam sudah menyediakan makanan dengan tanda warna-warni yang begitu mudah dikenali. Wortel dengan jingganya yang terang, labu kuning yang lembut, ubi oranye yang manis, bayam dan daun singkong yang hijau tua, pepaya dan mangga yang oranye hingga kuning yang ranum. Seolah mereka memberi pesan sederhana: warna cerah untuk masa depan yang cerah. Pada pangan hewani, Vitamin A hadir dalam bentuk yang siap digunakan tubuh—pada telur, susu, ikan, dan hati.

Masalahnya bukan semata ketersediaan, tetapi kebiasaan dan pengetahuan. Kita berhadapan dengan pola makan yang monoton (dari segi bahan dan juga variasi menunya), preferensi anak pada makanan ultra-proses, keterbatasan akses pangan segar di beberapa wilayah, hingga kurangnya edukasi gizi membuat konsumsi sumber Vitamin A belum selalu optimal. Dalam keluarga dengan ekonomi terbatas, prioritas sering jatuh pada makanan yang mengenyangkan, bukan yang bergizi lengkap. Sekali lagi ini bukan soal salah atau benar, melainkan realitas yang perlu dipahami dengan empati.

Di sisi lain, modernitas juga membawa tantangan baru. Anak-anak semakin akrab dengan makanan cepat saji, minuman manis, dan camilan tinggi kalori namun rendah zat gizi. Fenomena ini memunculkan paradoks: anak bisa tampak gemuk tetapi tetap kekurangan zat gizi mikro. Tubuhnya mendapat energi berlebih, tetapi miskin vitamin dan mineral. Termasuk vitamin A pun bisa menjadi salah satu yang terlewat.

Karena itulah program suplementasi Vitamin A saat ini masih tetap relevan. Upaya ini menjadi jaring pengaman, terutama bagi anak-anak di wilayah dengan risiko kekurangan gizi. Pemberian kapsul dua kali setahun dirancang untuk mengisi cadangan tubuh dan menurunkan risiko dampak buruk kekurangan. Namun perlu diingat bahwa ini bukan pengganti makanan bergizi, melainkan pelengkap upaya pemenuhan gizi.

Bulan Vitamin A seharusnya tidak berhenti pada pembagian kapsul. Mestinya lebih menjadi momentum refleksi: sudahkah piring makan keluarga kita beragam? Sudahkah anak-anak dikenalkan pada sayur dan buah sejak dini? Sudahkah kita memandang gizi sebagai fondasi, bukan pelengkap? Perubahan besar sering berawal dari kebiasaan kecil. Menambahkan sayur berwarna di menu harian. Membiasakan anak mencoba buah lokal. Mengurangi dominasi makanan ultra-proses. Hal-hal sederhana ini, jika dilakukan konsisten, akan membentuk dampak jangka panjang.

Ada dimensi lain yang jarang dibicarakan: Vitamin A juga berbicara tentang keadilan sosial. Tentang bagaimana setiap anak, di kota maupun desa, di keluarga mampu maupun sederhana, memiliki hak yang sama untuk tumbuh sehat. Ketika seorang anak kehilangan kesempatan melihat dunia dengan jelas akibat kekurangan Vitamin A, itu bukan sekadar persoalan medis, tetapi juga persoalan sistem—akses, edukasi, dan perhatian.

Kita sering berbicara tentang mimpi anak-anak: ingin menjadi guru, dokter, atlet, seniman. Namun sebelum semua itu, ada prasyarat dasar: tubuh yang sehat. Mata yang mampu membaca, tubuh yang cukup kuat untuk belajar dan bermain, sistem imun yang tidak mudah tumbang. Zat gizi seperti Vitamin A bekerja di balik layar untuk memastikan semua itu mungkin.

Mungkin inilah yang membuat Vitamin A terasa “terlupa.” Karena vitamin ini tidak memberi efek instan, tidak menjanjikan perubahan dramatis, melainkan  bekerja perlahan, menjaga keseimbangan, memastikan proses tumbuh kembang berjalan semestinya. Tentunya harus kita sadari bahwa di dunia yang serba cepat dan instan, hal-hal yang bekerja pelan sering kali kurang dihargai. Bulan Vitamin A sejatinya adalah pengingat tentang kepedulian. Tentang bagaimana keluarga, tenaga kesehatan, kader, dan masyarakat saling menguatkan. Tentang bagaimana negara hadir melalui program kesehatan masyarakat. Dan tentang bagaimana setiap orang tua, dengan segala keterbatasannya, berusaha memberi yang terbaik bagi anak.

Vitamin A mengajarkan kepada kita bahwa hal kecil bisa bermakna besar. Bahwa masa depan tidak hanya ditentukan oleh hal-hal megah, tetapi juga oleh kapsul kecil, potongan kukusan labu kuning, irisan wortel di piring, atau semangkuk sayur bening yang tampak sederhana. Mungkin juga ketika seorang anak dapat menatap dunia dengan jelas, berlari dengan tubuh yang kuat, serta tumbuh dengan optimal, di situlah kita melihat hasil dari perhatian yang tampaknya sepele, namun sesungguhnya menentukan. Karena pada akhirnya, menjaga gizi anak bukan hanya soal hari ini, melainkan merawat untuk hari esok. [T]

Penulis: I Putu Suiraoka
Editor: Adnyana Ole

Tags: gizikesehatanmakanan bergizivitamin
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

Next Post

Puisi-puisi Maria Utami | Dongeng Robusta Nusantara

I Putu Suiraoka

I Putu Suiraoka

Dr. I Putu Suiraoka, M.Kes., dosen di jurusan Gizi, Poltekkes Denpasar

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Maria Utami | Dongeng Robusta Nusantara

Puisi-puisi Maria Utami | Dongeng Robusta Nusantara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co