24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Saatnya Peduli Gizi yang Sering Terabaikan —Catatan di Bulan Vitamin A

I Putu Suiraoka by I Putu Suiraoka
February 13, 2026
in Esai
Saatnya Peduli Gizi yang Sering Terabaikan —Catatan di Bulan Vitamin A

Ilustrasi tatkala.co | Canva

ADA hal-hal penting dalam hidup yang bekerja dalam diam, sehingga orang cenderung jadi abai terhadapnya. Meski demikian ia tidak menuntut perhatian, tidak mengeluh ketika diabaikan, dan tidak segera terasa dampaknya ketika hilang. Vitamin A adalah salah satunya. Ia hadir sebagai zat gizi mikro yang sangat kecil dalam jumlah, tetapi besar dalam makna. Meski tidak setenar protein yang relatif sering muncul dalam iklan makanan, bahkan juga tidak sepopuler vitamin C yang identik dengan daya tahan tubuh. Namun tanpa banyak suara, Vitamin A menjaga sesuatu yang amat mendasar: cahaya di mata anak-anak, kekuatan tubuh mereka melawan penyakit, dan kesempatan mereka untuk tumbuh secara optimal.

Februari (dan juga Agustus) datang setiap tahun, dan bersama itu pula datang pengingat yang sering luput dari perhatian: Bulan Vitamin A. Di semua sudut negeri ini, di posyandu-posyandu sederhana, di balai desa, di puskesmas, para ibu menggendong anaknya, menunggu giliran menerima kapsul kecil berwarna biru atau merah. Sebagian datang dengan kesadaran penuh, sebagian lagi datang karena ajakan kader, dan tidak sedikit yang datang sekadar mengikuti kebiasaan. Bahkan yang tidak datangpun dihantarkan ke rumah oleh para kader. Orang boleh  memandang kegiatan itu sebagai hal sederhana—bahkan rutin. Namun sesungguhnya, di situlah berlangsung salah satu upaya paling nyata dalam melindungi generasi masa depan.

Kapsul kecil itu mungkin tampak remeh. Ia hanya ditelan dalam hitungan detik. Anak-anak kadang meringis karena rasanya, lalu kembali bermain seolah tak terjadi apa-apa. Tetapi di dalam tubuh mereka, Vitamin A mulai menjalankan perannya: memperkuat sistem imun, menjaga kesehatan mata, dan membantu pertumbuhan sel. Sesuatu yang tak terlihat, namun bekerja terus-menerus.

Sering kali kita mengira masalah gizi hanya milik mereka yang kekurangan makanan. Gambaran tentang anak kurus, perut kosong, dan wajah pucat kerap menjadi simbol utama. Padahal kekurangan gizi tidak selalu tampil dalam wujud yang mudah dikenali. Ada bentuk kekurangan gizi yang lebih sunyi—hidden hunger, kelaparan tersembunyi. Perut mungkin kenyang, tetapi zat gizi mikro mungkin saja tidak terpenuhi. Makanan tersedia, tetapi tidak beragam. Di sinilah Vitamin A sering menjadi korban ketidaksadaran.

Banyak keluarga merasa anaknya sudah makan dengan baik karena tidak pernah kelaparan. Sepiring nasi, lauk sederhana, mungkin ditambah makanan ringan kemasan—semua terasa cukup. Namun gizi bukan sekadar kenyang. Tubuh, terutama tubuh anak yang sedang tumbuh, memerlukan berbagai zat gizi untuk membangun jaringan, memperkuat organ, dan mengoptimalkan fungsi biologis. Vitamin A adalah salah satu kunci di dalamnya.

Peran Vitamin A pada penglihatan adalah yang paling dikenal. Ia membantu retina menangkap cahaya, terutama dalam kondisi redup. Tanpa Vitamin A yang cukup, seorang anak dapat mengalami rabun senja—kesulitan melihat saat cahaya minim. Ini bukan sekadar gangguan kecil. Pada kondisi berat dan berkepanjangan, kekurangan Vitamin A dapat menyebabkan mata kering, kerusakan kornea, bahkan kebutaan permanen. Tentunya ini Adalah sesuatu yang tragis, terlebih jika kita tahu bahwa sebagian besar kasusnya dapat dicegah.

Sebenarnya Vitamin A tidak hanya tentang Kesehatan mata saja. Ia adalah penjaga lapisan epitel, yaitu lapisan pelindung di saluran napas, pencernaan, dan juga kulit. Lapisan ini ibarat benteng pertama tubuh terhadap kuman. Ketika Vitamin A kurang, benteng itu menjadi melemah. Anak akan lebih mudah terkena infeksi, lebih sering sakit, dan lebih lama pulih. Dalam konteks kesehatan masyarakat, kecukupan Vitamin A bahkan dikaitkan dengan penurunan risiko kematian pada anak akibat penyakit infeksi.

Vitamin A bukanlah sekadar kebutuhan zat gizi personal, melainkan investasi kesehatan publik. Vitamin ini berkaitan dengan kualitas generasi, beban kesehatan, bahkan produktivitas jangka panjang. Menariknya, sumber Vitamin A sebenarnya tidak jauh dari kehidupan sehari-hari. Alam sudah menyediakan makanan dengan tanda warna-warni yang begitu mudah dikenali. Wortel dengan jingganya yang terang, labu kuning yang lembut, ubi oranye yang manis, bayam dan daun singkong yang hijau tua, pepaya dan mangga yang oranye hingga kuning yang ranum. Seolah mereka memberi pesan sederhana: warna cerah untuk masa depan yang cerah. Pada pangan hewani, Vitamin A hadir dalam bentuk yang siap digunakan tubuh—pada telur, susu, ikan, dan hati.

Masalahnya bukan semata ketersediaan, tetapi kebiasaan dan pengetahuan. Kita berhadapan dengan pola makan yang monoton (dari segi bahan dan juga variasi menunya), preferensi anak pada makanan ultra-proses, keterbatasan akses pangan segar di beberapa wilayah, hingga kurangnya edukasi gizi membuat konsumsi sumber Vitamin A belum selalu optimal. Dalam keluarga dengan ekonomi terbatas, prioritas sering jatuh pada makanan yang mengenyangkan, bukan yang bergizi lengkap. Sekali lagi ini bukan soal salah atau benar, melainkan realitas yang perlu dipahami dengan empati.

Di sisi lain, modernitas juga membawa tantangan baru. Anak-anak semakin akrab dengan makanan cepat saji, minuman manis, dan camilan tinggi kalori namun rendah zat gizi. Fenomena ini memunculkan paradoks: anak bisa tampak gemuk tetapi tetap kekurangan zat gizi mikro. Tubuhnya mendapat energi berlebih, tetapi miskin vitamin dan mineral. Termasuk vitamin A pun bisa menjadi salah satu yang terlewat.

Karena itulah program suplementasi Vitamin A saat ini masih tetap relevan. Upaya ini menjadi jaring pengaman, terutama bagi anak-anak di wilayah dengan risiko kekurangan gizi. Pemberian kapsul dua kali setahun dirancang untuk mengisi cadangan tubuh dan menurunkan risiko dampak buruk kekurangan. Namun perlu diingat bahwa ini bukan pengganti makanan bergizi, melainkan pelengkap upaya pemenuhan gizi.

Bulan Vitamin A seharusnya tidak berhenti pada pembagian kapsul. Mestinya lebih menjadi momentum refleksi: sudahkah piring makan keluarga kita beragam? Sudahkah anak-anak dikenalkan pada sayur dan buah sejak dini? Sudahkah kita memandang gizi sebagai fondasi, bukan pelengkap? Perubahan besar sering berawal dari kebiasaan kecil. Menambahkan sayur berwarna di menu harian. Membiasakan anak mencoba buah lokal. Mengurangi dominasi makanan ultra-proses. Hal-hal sederhana ini, jika dilakukan konsisten, akan membentuk dampak jangka panjang.

Ada dimensi lain yang jarang dibicarakan: Vitamin A juga berbicara tentang keadilan sosial. Tentang bagaimana setiap anak, di kota maupun desa, di keluarga mampu maupun sederhana, memiliki hak yang sama untuk tumbuh sehat. Ketika seorang anak kehilangan kesempatan melihat dunia dengan jelas akibat kekurangan Vitamin A, itu bukan sekadar persoalan medis, tetapi juga persoalan sistem—akses, edukasi, dan perhatian.

Kita sering berbicara tentang mimpi anak-anak: ingin menjadi guru, dokter, atlet, seniman. Namun sebelum semua itu, ada prasyarat dasar: tubuh yang sehat. Mata yang mampu membaca, tubuh yang cukup kuat untuk belajar dan bermain, sistem imun yang tidak mudah tumbang. Zat gizi seperti Vitamin A bekerja di balik layar untuk memastikan semua itu mungkin.

Mungkin inilah yang membuat Vitamin A terasa “terlupa.” Karena vitamin ini tidak memberi efek instan, tidak menjanjikan perubahan dramatis, melainkan  bekerja perlahan, menjaga keseimbangan, memastikan proses tumbuh kembang berjalan semestinya. Tentunya harus kita sadari bahwa di dunia yang serba cepat dan instan, hal-hal yang bekerja pelan sering kali kurang dihargai. Bulan Vitamin A sejatinya adalah pengingat tentang kepedulian. Tentang bagaimana keluarga, tenaga kesehatan, kader, dan masyarakat saling menguatkan. Tentang bagaimana negara hadir melalui program kesehatan masyarakat. Dan tentang bagaimana setiap orang tua, dengan segala keterbatasannya, berusaha memberi yang terbaik bagi anak.

Vitamin A mengajarkan kepada kita bahwa hal kecil bisa bermakna besar. Bahwa masa depan tidak hanya ditentukan oleh hal-hal megah, tetapi juga oleh kapsul kecil, potongan kukusan labu kuning, irisan wortel di piring, atau semangkuk sayur bening yang tampak sederhana. Mungkin juga ketika seorang anak dapat menatap dunia dengan jelas, berlari dengan tubuh yang kuat, serta tumbuh dengan optimal, di situlah kita melihat hasil dari perhatian yang tampaknya sepele, namun sesungguhnya menentukan. Karena pada akhirnya, menjaga gizi anak bukan hanya soal hari ini, melainkan merawat untuk hari esok. [T]

Penulis: I Putu Suiraoka
Editor: Adnyana Ole

Tags: gizikesehatanmakanan bergizivitamin
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

Next Post

Puisi-puisi Maria Utami | Dongeng Robusta Nusantara

I Putu Suiraoka

I Putu Suiraoka

Dr. I Putu Suiraoka, M.Kes., dosen di jurusan Gizi, Poltekkes Denpasar

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Maria Utami | Dongeng Robusta Nusantara

Puisi-puisi Maria Utami | Dongeng Robusta Nusantara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co