24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Saatnya Peduli Gizi yang Sering Terabaikan —Catatan di Bulan Vitamin A

I Putu Suiraoka by I Putu Suiraoka
February 13, 2026
in Esai
Saatnya Peduli Gizi yang Sering Terabaikan —Catatan di Bulan Vitamin A

Ilustrasi tatkala.co | Canva

ADA hal-hal penting dalam hidup yang bekerja dalam diam, sehingga orang cenderung jadi abai terhadapnya. Meski demikian ia tidak menuntut perhatian, tidak mengeluh ketika diabaikan, dan tidak segera terasa dampaknya ketika hilang. Vitamin A adalah salah satunya. Ia hadir sebagai zat gizi mikro yang sangat kecil dalam jumlah, tetapi besar dalam makna. Meski tidak setenar protein yang relatif sering muncul dalam iklan makanan, bahkan juga tidak sepopuler vitamin C yang identik dengan daya tahan tubuh. Namun tanpa banyak suara, Vitamin A menjaga sesuatu yang amat mendasar: cahaya di mata anak-anak, kekuatan tubuh mereka melawan penyakit, dan kesempatan mereka untuk tumbuh secara optimal.

Februari (dan juga Agustus) datang setiap tahun, dan bersama itu pula datang pengingat yang sering luput dari perhatian: Bulan Vitamin A. Di semua sudut negeri ini, di posyandu-posyandu sederhana, di balai desa, di puskesmas, para ibu menggendong anaknya, menunggu giliran menerima kapsul kecil berwarna biru atau merah. Sebagian datang dengan kesadaran penuh, sebagian lagi datang karena ajakan kader, dan tidak sedikit yang datang sekadar mengikuti kebiasaan. Bahkan yang tidak datangpun dihantarkan ke rumah oleh para kader. Orang boleh  memandang kegiatan itu sebagai hal sederhana—bahkan rutin. Namun sesungguhnya, di situlah berlangsung salah satu upaya paling nyata dalam melindungi generasi masa depan.

Kapsul kecil itu mungkin tampak remeh. Ia hanya ditelan dalam hitungan detik. Anak-anak kadang meringis karena rasanya, lalu kembali bermain seolah tak terjadi apa-apa. Tetapi di dalam tubuh mereka, Vitamin A mulai menjalankan perannya: memperkuat sistem imun, menjaga kesehatan mata, dan membantu pertumbuhan sel. Sesuatu yang tak terlihat, namun bekerja terus-menerus.

Sering kali kita mengira masalah gizi hanya milik mereka yang kekurangan makanan. Gambaran tentang anak kurus, perut kosong, dan wajah pucat kerap menjadi simbol utama. Padahal kekurangan gizi tidak selalu tampil dalam wujud yang mudah dikenali. Ada bentuk kekurangan gizi yang lebih sunyi—hidden hunger, kelaparan tersembunyi. Perut mungkin kenyang, tetapi zat gizi mikro mungkin saja tidak terpenuhi. Makanan tersedia, tetapi tidak beragam. Di sinilah Vitamin A sering menjadi korban ketidaksadaran.

Banyak keluarga merasa anaknya sudah makan dengan baik karena tidak pernah kelaparan. Sepiring nasi, lauk sederhana, mungkin ditambah makanan ringan kemasan—semua terasa cukup. Namun gizi bukan sekadar kenyang. Tubuh, terutama tubuh anak yang sedang tumbuh, memerlukan berbagai zat gizi untuk membangun jaringan, memperkuat organ, dan mengoptimalkan fungsi biologis. Vitamin A adalah salah satu kunci di dalamnya.

Peran Vitamin A pada penglihatan adalah yang paling dikenal. Ia membantu retina menangkap cahaya, terutama dalam kondisi redup. Tanpa Vitamin A yang cukup, seorang anak dapat mengalami rabun senja—kesulitan melihat saat cahaya minim. Ini bukan sekadar gangguan kecil. Pada kondisi berat dan berkepanjangan, kekurangan Vitamin A dapat menyebabkan mata kering, kerusakan kornea, bahkan kebutaan permanen. Tentunya ini Adalah sesuatu yang tragis, terlebih jika kita tahu bahwa sebagian besar kasusnya dapat dicegah.

Sebenarnya Vitamin A tidak hanya tentang Kesehatan mata saja. Ia adalah penjaga lapisan epitel, yaitu lapisan pelindung di saluran napas, pencernaan, dan juga kulit. Lapisan ini ibarat benteng pertama tubuh terhadap kuman. Ketika Vitamin A kurang, benteng itu menjadi melemah. Anak akan lebih mudah terkena infeksi, lebih sering sakit, dan lebih lama pulih. Dalam konteks kesehatan masyarakat, kecukupan Vitamin A bahkan dikaitkan dengan penurunan risiko kematian pada anak akibat penyakit infeksi.

Vitamin A bukanlah sekadar kebutuhan zat gizi personal, melainkan investasi kesehatan publik. Vitamin ini berkaitan dengan kualitas generasi, beban kesehatan, bahkan produktivitas jangka panjang. Menariknya, sumber Vitamin A sebenarnya tidak jauh dari kehidupan sehari-hari. Alam sudah menyediakan makanan dengan tanda warna-warni yang begitu mudah dikenali. Wortel dengan jingganya yang terang, labu kuning yang lembut, ubi oranye yang manis, bayam dan daun singkong yang hijau tua, pepaya dan mangga yang oranye hingga kuning yang ranum. Seolah mereka memberi pesan sederhana: warna cerah untuk masa depan yang cerah. Pada pangan hewani, Vitamin A hadir dalam bentuk yang siap digunakan tubuh—pada telur, susu, ikan, dan hati.

Masalahnya bukan semata ketersediaan, tetapi kebiasaan dan pengetahuan. Kita berhadapan dengan pola makan yang monoton (dari segi bahan dan juga variasi menunya), preferensi anak pada makanan ultra-proses, keterbatasan akses pangan segar di beberapa wilayah, hingga kurangnya edukasi gizi membuat konsumsi sumber Vitamin A belum selalu optimal. Dalam keluarga dengan ekonomi terbatas, prioritas sering jatuh pada makanan yang mengenyangkan, bukan yang bergizi lengkap. Sekali lagi ini bukan soal salah atau benar, melainkan realitas yang perlu dipahami dengan empati.

Di sisi lain, modernitas juga membawa tantangan baru. Anak-anak semakin akrab dengan makanan cepat saji, minuman manis, dan camilan tinggi kalori namun rendah zat gizi. Fenomena ini memunculkan paradoks: anak bisa tampak gemuk tetapi tetap kekurangan zat gizi mikro. Tubuhnya mendapat energi berlebih, tetapi miskin vitamin dan mineral. Termasuk vitamin A pun bisa menjadi salah satu yang terlewat.

Karena itulah program suplementasi Vitamin A saat ini masih tetap relevan. Upaya ini menjadi jaring pengaman, terutama bagi anak-anak di wilayah dengan risiko kekurangan gizi. Pemberian kapsul dua kali setahun dirancang untuk mengisi cadangan tubuh dan menurunkan risiko dampak buruk kekurangan. Namun perlu diingat bahwa ini bukan pengganti makanan bergizi, melainkan pelengkap upaya pemenuhan gizi.

Bulan Vitamin A seharusnya tidak berhenti pada pembagian kapsul. Mestinya lebih menjadi momentum refleksi: sudahkah piring makan keluarga kita beragam? Sudahkah anak-anak dikenalkan pada sayur dan buah sejak dini? Sudahkah kita memandang gizi sebagai fondasi, bukan pelengkap? Perubahan besar sering berawal dari kebiasaan kecil. Menambahkan sayur berwarna di menu harian. Membiasakan anak mencoba buah lokal. Mengurangi dominasi makanan ultra-proses. Hal-hal sederhana ini, jika dilakukan konsisten, akan membentuk dampak jangka panjang.

Ada dimensi lain yang jarang dibicarakan: Vitamin A juga berbicara tentang keadilan sosial. Tentang bagaimana setiap anak, di kota maupun desa, di keluarga mampu maupun sederhana, memiliki hak yang sama untuk tumbuh sehat. Ketika seorang anak kehilangan kesempatan melihat dunia dengan jelas akibat kekurangan Vitamin A, itu bukan sekadar persoalan medis, tetapi juga persoalan sistem—akses, edukasi, dan perhatian.

Kita sering berbicara tentang mimpi anak-anak: ingin menjadi guru, dokter, atlet, seniman. Namun sebelum semua itu, ada prasyarat dasar: tubuh yang sehat. Mata yang mampu membaca, tubuh yang cukup kuat untuk belajar dan bermain, sistem imun yang tidak mudah tumbang. Zat gizi seperti Vitamin A bekerja di balik layar untuk memastikan semua itu mungkin.

Mungkin inilah yang membuat Vitamin A terasa “terlupa.” Karena vitamin ini tidak memberi efek instan, tidak menjanjikan perubahan dramatis, melainkan  bekerja perlahan, menjaga keseimbangan, memastikan proses tumbuh kembang berjalan semestinya. Tentunya harus kita sadari bahwa di dunia yang serba cepat dan instan, hal-hal yang bekerja pelan sering kali kurang dihargai. Bulan Vitamin A sejatinya adalah pengingat tentang kepedulian. Tentang bagaimana keluarga, tenaga kesehatan, kader, dan masyarakat saling menguatkan. Tentang bagaimana negara hadir melalui program kesehatan masyarakat. Dan tentang bagaimana setiap orang tua, dengan segala keterbatasannya, berusaha memberi yang terbaik bagi anak.

Vitamin A mengajarkan kepada kita bahwa hal kecil bisa bermakna besar. Bahwa masa depan tidak hanya ditentukan oleh hal-hal megah, tetapi juga oleh kapsul kecil, potongan kukusan labu kuning, irisan wortel di piring, atau semangkuk sayur bening yang tampak sederhana. Mungkin juga ketika seorang anak dapat menatap dunia dengan jelas, berlari dengan tubuh yang kuat, serta tumbuh dengan optimal, di situlah kita melihat hasil dari perhatian yang tampaknya sepele, namun sesungguhnya menentukan. Karena pada akhirnya, menjaga gizi anak bukan hanya soal hari ini, melainkan merawat untuk hari esok. [T]

Penulis: I Putu Suiraoka
Editor: Adnyana Ole

Tags: gizikesehatanmakanan bergizivitamin
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

Next Post

Puisi-puisi Maria Utami | Dongeng Robusta Nusantara

I Putu Suiraoka

I Putu Suiraoka

Dr. I Putu Suiraoka, M.Kes., dosen di jurusan Gizi, Poltekkes Denpasar

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Maria Utami | Dongeng Robusta Nusantara

Puisi-puisi Maria Utami | Dongeng Robusta Nusantara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co