12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Saatnya Peduli Gizi yang Sering Terabaikan —Catatan di Bulan Vitamin A

I Putu Suiraoka by I Putu Suiraoka
February 13, 2026
in Esai
Saatnya Peduli Gizi yang Sering Terabaikan —Catatan di Bulan Vitamin A

Ilustrasi tatkala.co | Canva

ADA hal-hal penting dalam hidup yang bekerja dalam diam, sehingga orang cenderung jadi abai terhadapnya. Meski demikian ia tidak menuntut perhatian, tidak mengeluh ketika diabaikan, dan tidak segera terasa dampaknya ketika hilang. Vitamin A adalah salah satunya. Ia hadir sebagai zat gizi mikro yang sangat kecil dalam jumlah, tetapi besar dalam makna. Meski tidak setenar protein yang relatif sering muncul dalam iklan makanan, bahkan juga tidak sepopuler vitamin C yang identik dengan daya tahan tubuh. Namun tanpa banyak suara, Vitamin A menjaga sesuatu yang amat mendasar: cahaya di mata anak-anak, kekuatan tubuh mereka melawan penyakit, dan kesempatan mereka untuk tumbuh secara optimal.

Februari (dan juga Agustus) datang setiap tahun, dan bersama itu pula datang pengingat yang sering luput dari perhatian: Bulan Vitamin A. Di semua sudut negeri ini, di posyandu-posyandu sederhana, di balai desa, di puskesmas, para ibu menggendong anaknya, menunggu giliran menerima kapsul kecil berwarna biru atau merah. Sebagian datang dengan kesadaran penuh, sebagian lagi datang karena ajakan kader, dan tidak sedikit yang datang sekadar mengikuti kebiasaan. Bahkan yang tidak datangpun dihantarkan ke rumah oleh para kader. Orang boleh  memandang kegiatan itu sebagai hal sederhana—bahkan rutin. Namun sesungguhnya, di situlah berlangsung salah satu upaya paling nyata dalam melindungi generasi masa depan.

Kapsul kecil itu mungkin tampak remeh. Ia hanya ditelan dalam hitungan detik. Anak-anak kadang meringis karena rasanya, lalu kembali bermain seolah tak terjadi apa-apa. Tetapi di dalam tubuh mereka, Vitamin A mulai menjalankan perannya: memperkuat sistem imun, menjaga kesehatan mata, dan membantu pertumbuhan sel. Sesuatu yang tak terlihat, namun bekerja terus-menerus.

Sering kali kita mengira masalah gizi hanya milik mereka yang kekurangan makanan. Gambaran tentang anak kurus, perut kosong, dan wajah pucat kerap menjadi simbol utama. Padahal kekurangan gizi tidak selalu tampil dalam wujud yang mudah dikenali. Ada bentuk kekurangan gizi yang lebih sunyi—hidden hunger, kelaparan tersembunyi. Perut mungkin kenyang, tetapi zat gizi mikro mungkin saja tidak terpenuhi. Makanan tersedia, tetapi tidak beragam. Di sinilah Vitamin A sering menjadi korban ketidaksadaran.

Banyak keluarga merasa anaknya sudah makan dengan baik karena tidak pernah kelaparan. Sepiring nasi, lauk sederhana, mungkin ditambah makanan ringan kemasan—semua terasa cukup. Namun gizi bukan sekadar kenyang. Tubuh, terutama tubuh anak yang sedang tumbuh, memerlukan berbagai zat gizi untuk membangun jaringan, memperkuat organ, dan mengoptimalkan fungsi biologis. Vitamin A adalah salah satu kunci di dalamnya.

Peran Vitamin A pada penglihatan adalah yang paling dikenal. Ia membantu retina menangkap cahaya, terutama dalam kondisi redup. Tanpa Vitamin A yang cukup, seorang anak dapat mengalami rabun senja—kesulitan melihat saat cahaya minim. Ini bukan sekadar gangguan kecil. Pada kondisi berat dan berkepanjangan, kekurangan Vitamin A dapat menyebabkan mata kering, kerusakan kornea, bahkan kebutaan permanen. Tentunya ini Adalah sesuatu yang tragis, terlebih jika kita tahu bahwa sebagian besar kasusnya dapat dicegah.

Sebenarnya Vitamin A tidak hanya tentang Kesehatan mata saja. Ia adalah penjaga lapisan epitel, yaitu lapisan pelindung di saluran napas, pencernaan, dan juga kulit. Lapisan ini ibarat benteng pertama tubuh terhadap kuman. Ketika Vitamin A kurang, benteng itu menjadi melemah. Anak akan lebih mudah terkena infeksi, lebih sering sakit, dan lebih lama pulih. Dalam konteks kesehatan masyarakat, kecukupan Vitamin A bahkan dikaitkan dengan penurunan risiko kematian pada anak akibat penyakit infeksi.

Vitamin A bukanlah sekadar kebutuhan zat gizi personal, melainkan investasi kesehatan publik. Vitamin ini berkaitan dengan kualitas generasi, beban kesehatan, bahkan produktivitas jangka panjang. Menariknya, sumber Vitamin A sebenarnya tidak jauh dari kehidupan sehari-hari. Alam sudah menyediakan makanan dengan tanda warna-warni yang begitu mudah dikenali. Wortel dengan jingganya yang terang, labu kuning yang lembut, ubi oranye yang manis, bayam dan daun singkong yang hijau tua, pepaya dan mangga yang oranye hingga kuning yang ranum. Seolah mereka memberi pesan sederhana: warna cerah untuk masa depan yang cerah. Pada pangan hewani, Vitamin A hadir dalam bentuk yang siap digunakan tubuh—pada telur, susu, ikan, dan hati.

Masalahnya bukan semata ketersediaan, tetapi kebiasaan dan pengetahuan. Kita berhadapan dengan pola makan yang monoton (dari segi bahan dan juga variasi menunya), preferensi anak pada makanan ultra-proses, keterbatasan akses pangan segar di beberapa wilayah, hingga kurangnya edukasi gizi membuat konsumsi sumber Vitamin A belum selalu optimal. Dalam keluarga dengan ekonomi terbatas, prioritas sering jatuh pada makanan yang mengenyangkan, bukan yang bergizi lengkap. Sekali lagi ini bukan soal salah atau benar, melainkan realitas yang perlu dipahami dengan empati.

Di sisi lain, modernitas juga membawa tantangan baru. Anak-anak semakin akrab dengan makanan cepat saji, minuman manis, dan camilan tinggi kalori namun rendah zat gizi. Fenomena ini memunculkan paradoks: anak bisa tampak gemuk tetapi tetap kekurangan zat gizi mikro. Tubuhnya mendapat energi berlebih, tetapi miskin vitamin dan mineral. Termasuk vitamin A pun bisa menjadi salah satu yang terlewat.

Karena itulah program suplementasi Vitamin A saat ini masih tetap relevan. Upaya ini menjadi jaring pengaman, terutama bagi anak-anak di wilayah dengan risiko kekurangan gizi. Pemberian kapsul dua kali setahun dirancang untuk mengisi cadangan tubuh dan menurunkan risiko dampak buruk kekurangan. Namun perlu diingat bahwa ini bukan pengganti makanan bergizi, melainkan pelengkap upaya pemenuhan gizi.

Bulan Vitamin A seharusnya tidak berhenti pada pembagian kapsul. Mestinya lebih menjadi momentum refleksi: sudahkah piring makan keluarga kita beragam? Sudahkah anak-anak dikenalkan pada sayur dan buah sejak dini? Sudahkah kita memandang gizi sebagai fondasi, bukan pelengkap? Perubahan besar sering berawal dari kebiasaan kecil. Menambahkan sayur berwarna di menu harian. Membiasakan anak mencoba buah lokal. Mengurangi dominasi makanan ultra-proses. Hal-hal sederhana ini, jika dilakukan konsisten, akan membentuk dampak jangka panjang.

Ada dimensi lain yang jarang dibicarakan: Vitamin A juga berbicara tentang keadilan sosial. Tentang bagaimana setiap anak, di kota maupun desa, di keluarga mampu maupun sederhana, memiliki hak yang sama untuk tumbuh sehat. Ketika seorang anak kehilangan kesempatan melihat dunia dengan jelas akibat kekurangan Vitamin A, itu bukan sekadar persoalan medis, tetapi juga persoalan sistem—akses, edukasi, dan perhatian.

Kita sering berbicara tentang mimpi anak-anak: ingin menjadi guru, dokter, atlet, seniman. Namun sebelum semua itu, ada prasyarat dasar: tubuh yang sehat. Mata yang mampu membaca, tubuh yang cukup kuat untuk belajar dan bermain, sistem imun yang tidak mudah tumbang. Zat gizi seperti Vitamin A bekerja di balik layar untuk memastikan semua itu mungkin.

Mungkin inilah yang membuat Vitamin A terasa “terlupa.” Karena vitamin ini tidak memberi efek instan, tidak menjanjikan perubahan dramatis, melainkan  bekerja perlahan, menjaga keseimbangan, memastikan proses tumbuh kembang berjalan semestinya. Tentunya harus kita sadari bahwa di dunia yang serba cepat dan instan, hal-hal yang bekerja pelan sering kali kurang dihargai. Bulan Vitamin A sejatinya adalah pengingat tentang kepedulian. Tentang bagaimana keluarga, tenaga kesehatan, kader, dan masyarakat saling menguatkan. Tentang bagaimana negara hadir melalui program kesehatan masyarakat. Dan tentang bagaimana setiap orang tua, dengan segala keterbatasannya, berusaha memberi yang terbaik bagi anak.

Vitamin A mengajarkan kepada kita bahwa hal kecil bisa bermakna besar. Bahwa masa depan tidak hanya ditentukan oleh hal-hal megah, tetapi juga oleh kapsul kecil, potongan kukusan labu kuning, irisan wortel di piring, atau semangkuk sayur bening yang tampak sederhana. Mungkin juga ketika seorang anak dapat menatap dunia dengan jelas, berlari dengan tubuh yang kuat, serta tumbuh dengan optimal, di situlah kita melihat hasil dari perhatian yang tampaknya sepele, namun sesungguhnya menentukan. Karena pada akhirnya, menjaga gizi anak bukan hanya soal hari ini, melainkan merawat untuk hari esok. [T]

Penulis: I Putu Suiraoka
Editor: Adnyana Ole

Tags: gizikesehatanmakanan bergizivitamin
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

Next Post

Puisi-puisi Maria Utami | Dongeng Robusta Nusantara

I Putu Suiraoka

I Putu Suiraoka

Dr. I Putu Suiraoka, M.Kes., dosen di jurusan Gizi, Poltekkes Denpasar

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Maria Utami | Dongeng Robusta Nusantara

Puisi-puisi Maria Utami | Dongeng Robusta Nusantara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co