ISU pengelolaan sampah tak lagi berhenti sebagai wacana di ruang diskusi. Di SMP PGRI 8 Denpasar (Griasta), persoalan itu justru menjelma menjadi denyut utama kegiatan kokurikuler selama sepekan penuh. Lewat tema lingkungan, para siswa diajak bersuara, berkarya, sekaligus beraksi untuk bumi yang mereka pijak ─ Bali, pulau yang hingga kini masih terus bergulat dengan masalah sampah.
Sejak Senin, 26 Januari 2026, seluruh siswa kelas VII hingga IX mengikuti rangkaian kegiatan kokurikuler yang dirancang berbeda dari biasanya. Kali ini, khusus kelas VIII, Griasta menjalin kolaborasi dengan SMP Negeri 5 Denpasar (Spenma), sebuah langkah yang sekaligus membuka ruang persaudaraan antarsekolah.
Masing-masing jenjang diberi medium ekspresi yang berbeda. Siswa kelas VII menyuarakan kepedulian lingkungan melalui mini drama bertema pengelolaan sampah. Setiap kelas berlomba menampilkan pertunjukan terbaik demi meraih gelar juara.


Kelas VIII memilih jalur visual dan verbal melalui lomba Poster Digital yang dikemas dalam format mini talk show. Mereka tidak hanya ditantang merancang poster bertema “Kampanye Bijak Penggunaan Sampah Plastik”, tetapi juga mempresentasikan gagasan secara lisan di hadapan juri dan audiens.
Sementara itu, kelas IX mengolah limbah plastik menjadi karya busana. Setiap kelas merancang satu gaun yang kemudian diperagakan oleh perwakilan siswa. Kreativitas, ketelitian, dan keberanian tampil di depan publik menjadi indikator penilaian utama.
Hari pertama diawali dengan pengarahan dari masing-masing wali kelas mengenai konsep kokurikuler. Usai itu, siswa mulai menyusun ide dan berdiskusi, merancang konsep terbaik untuk kelas mereka. Hari kedua, proses kreatif semakin intens. Kelas VII mematangkan alur drama, kelas VIII menuntaskan desain poster untuk dinilai fasilitator, sedangkan kelas IX mulai merangkai sampah plastik menjadi busana yang estetis.


Memasuki hari ketiga, atmosfer kompetisi kian terasa, terutama di kelas VIII. Poster-poster terpilih saling bersaing memperebutkan tiket menuju babak final. Di hari yang sama, kelas VII dan IX menjalani gladi bersih sebagai persiapan penampilan puncak.
Puncak kegiatan berlangsung pada Kamis, 30 Januari 2026, bertempat di Griasta Sport Centre (GSC). Ruangan dipenuhi antusiasme siswa dan guru. Kepala SMP PGRI 8 Denpasar, I Ketut Gede Adi Trisna Sugara, S.T., M.Pd., membuka kegiatan dengan nada bangga.
“Kokurikuler kali ini berbeda karena kita berkolaborasi dengan tetangga kita, SMP Negeri 5 Denpasar. Semoga ini menjadi awal yang baik dan jalinan persaudaraan semakin kuat. Saya ucapkan selamat kepada anak-anak yang sudah antusias mengikuti kegiatan ini. Kokurikuler dengan tema ‘ECO-VOICES: Suara Bumi dari Generasi Muda Griasta’ resmi dibuka,” ucapnya, ditandai dengan ketukan botol kaca.

Setelah pembukaan, acara berlanjut ke mini talk show babak final kelas VIII yang menghadirkan tiga tim dari Griasta dan satu tim dari Spenma. Satu per satu, para siswa mempresentasikan poster mereka dengan lugas dan penuh percaya diri, menjelaskan ide kampanye plastik secara terstruktur.
Usai talk show, penonton disuguhi mini drama dari kelas VII dan peragaan busana kelas IX. Meski hanya dipersiapkan dalam waktu singkat, penampilan para siswa berhasil memukau. Drama-drama lingkungan tampil komunikatif, sementara gaun-gaun dari limbah plastik menjelma menjadi karya dengan sentuhan artistik yang tak terduga.
Hari terakhir menjadi penutup yang bermakna. Seluruh siswa dan guru bergotong royong membersihkan lingkungan sekolah dalam aksi bersih bersama. Canda dan tawa mengalir, mencairkan suasana kompetisi yang sebelumnya berlangsung ketat.


Momen yang paling dinanti pun tiba, yakni pengumuman pemenang. Para siswa kembali berkumpul di GSC, menunggu hasil kerja keras mereka selama berhari-hari. Penyerahan hadiah dilakukan langsung oleh para koordinator kokurikuler.
Koordinator kokurikuler kelas VIII, I Wayan Aditya Prayana Putra, S.Kom., menegaskan bahwa kegiatan ini jauh melampaui sekadar lomba. “Kegiatan ini selain mengajarkan anak-anak untuk bekerja sama dan saling mendukung, juga melatih penalaran kritis mereka terhadap isu-isu lingkungan. Meski persiapannya singkat, mereka mampu menyelesaikannya dengan luar biasa,” ujarnya.
Hal senada disampaikan juri peragaan busana, Ni Luh Putu Liyana Andriyani, S.Pd. Ia mengaku terkesan dengan potensi siswa yang muncul selama kegiatan berlangsung. “Gaun yang mereka tampilkan bukan sekadar hasil daur ulang, tapi memiliki nilai artistik tinggi. Mereka berjalan dan mewujudkan layaknya model profesional. Ini bisa menjadi bibit prestasi di Griasta,” katanya.

Dari pihak mitra, Kepala SMP Negeri 5 Denpasar, I Putu Krisna Sunarjaya, S.Pd., M.Pd., turut mengapresiasi kolaborasi lintas sekolah ini. Menurutnya, kerja sama tersebut menjadi langkah positif dalam menumbuhkan rasa percaya diri siswa. “Semoga kerja sama ini terus berlanjut dan melahirkan generasi yang berani berprestasi,” ungkapnya.
Melalui ECO-VOICES, suara bumi tak hanya digaungkan dari atas panggung sekolah. Ia diterjemahkan menjadi ide, karya, dan aksi nyata ─ ditumbuhkan dari ruang kelas, dirawat lewat kolaborasi, lalu dipraktikkan bersama. Dari Griasta, generasi muda belajar bahwa kepedulian lingkungan bukan sekadar slogan, melainkan tanggung jawab yang bisa dimulai dari mana pun dan kapan pun.[T]
Reporter/Penulis: Kadek Windari
Editor: Dede Putra Wiguna



























