2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kebebasan di Balik Lembar Buku: Mencuri Jeda dari Era Tergesa

T.H. Hari Sucahyo by T.H. Hari Sucahyo
February 4, 2026
in Esai
Kebebasan di Balik Lembar Buku: Mencuri Jeda dari Era Tergesa

Ilustrasi tatkala.co | Canva

KETIKA kita mengambil sebuah buku dari rak, duduk, lalu mulai membuka halaman pertamanya, hari terasa seperti tindakan yang hampir subversif. Ia bukan lagi sekadar kebiasaan santai atau kegiatan pengisi waktu luang, melainkan sebuah latihan pembebasan yang sunyi; pembebasan dari pusaran notifikasi, linimasa tanpa ujung, dan tuntutan untuk selalu “hadir” dalam setiap peristiwa yang bahkan belum sempat kita pahami. Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, gerakan kecil ini menjadi bentuk pemutusan hubungan yang disengaja: jeda dari Era Tergesa-gesa yang mencengkeram kesadaran kolektif kita.

Seiring bertambahnya usia, manusia sering merasakan bahwa waktu berjalan semakin cepat. Hari-hari terasa lebih singkat, tahun-tahun berlalu tanpa bekas yang jelas, dan kenangan menumpuk tanpa sempat diendapkan. Psikologi menjelaskan ini sebagai perubahan persepsi: semakin banyak pengalaman yang kita miliki, semakin sedikit “hal baru” yang menandai ingatan, sehingga waktu tampak melaju. Namun apa yang kini dialami masyarakat modern bukan sekadar ilusi subjektif. Ada percepatan nyata dalam ritme kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya; percepatan yang dapat diukur, diamati, dan dirasakan secara kolektif.

Dua elemen utama mendorong percepatan ini dengan kekuatan yang belum pernah ada sebelumnya: jejaring sosial dan kemajuan teknologi. Keduanya tidak berdiri sendiri; mereka saling memperkuat, membentuk lingkaran umpan balik yang mendorong dunia bergerak lebih cepat dari kemampuan manusia untuk mencerna. Teknologi mempercepat produksi dan distribusi informasi, sementara jejaring sosial mengamplifikasi jangkauannya, menghapus jarak geografis dan waktu tunggu yang dahulu memberi ruang bagi refleksi.

Jejaring sosial, pada awalnya, menjanjikan kedekatan. Ia mempertemukan teman lama, memperluas percakapan lintas budaya, dan membuka akses terhadap informasi yang sebelumnya tersimpan di pusat-pusat kekuasaan. Namun dalam praktiknya, ia juga mengubah peristiwa menjadi arus yang mengalir tanpa henti. Berita global muncul berdampingan dengan gosip selebritas, tragedi kemanusiaan bersebelahan dengan iklan sepatu, semua ditampilkan dalam format yang sama, dengan tempo yang sama. Akibatnya, skala peristiwa menjadi kabur; yang penting bukan lagi bobot makna, melainkan kecepatan dan daya tarik sesaat.

Akses informasi yang nyaris tak terbatas ini membebani kemampuan asimilasi masyarakat. Dahulu, seseorang mungkin hanya mengikuti apa yang terjadi di kota atau negaranya, dengan ritme yang memungkinkan pembahasan dan penilaian. Kini, peristiwa dari belahan dunia lain hadir dalam hitungan detik, menuntut perhatian dan reaksi instan. Otak manusia, yang berevolusi untuk menghadapi lingkungan dengan informasi terbatas dan kontekstual, dipaksa bekerja dalam kondisi kelebihan beban. Hasilnya bukan pemahaman yang lebih dalam, melainkan fragmentasi perhatian dan kelelahan kognitif.

Dalam kondisi seperti ini, waktu tidak hanya terasa lebih cepat; ia benar-benar dipadatkan. Peristiwa datang sebelum yang sebelumnya sempat berakhir. Skandal hari ini ditenggelamkan oleh krisis esok pagi, yang kemudian dilupakan ketika tren baru muncul sore harinya. Masyarakat hidup dalam keadaan “sekarang” yang terus-menerus diperbarui, tanpa masa lalu yang sempat direnungkan dan tanpa masa depan yang direncanakan dengan matang. Kita bergerak dari satu stimulus ke stimulus lain, seperti penonton yang dipaksa menonton ratusan adegan tanpa jeda.

Kemajuan teknologi memperparah keadaan ini dengan menghapus banyak friksi alami dalam kehidupan. Pesan yang dahulu membutuhkan waktu berhari-hari kini tiba seketika. Pekerjaan yang sebelumnya terikat jam dan tempat kini merembes ke setiap sudut kehidupan melalui perangkat genggam. Batas antara waktu kerja dan waktu pribadi mengabur, dan dengan itu, kesempatan untuk benar-benar berhenti. Kecepatan menjadi norma, efisiensi menjadi nilai tertinggi, dan keterlambatan dalam bentuk apa pun, dianggap sebagai kegagalan personal, bukan konsekuensi dari sistem yang menuntut terlalu banyak.

Era Tergesa-gesa ini tidak hanya mengubah cara kita bekerja dan berkomunikasi, tetapi juga cara kita memahami diri sendiri. Identitas dibentuk dan dipertontonkan secara real time, diukur melalui respons instan berupa suka, komentar, dan bagikan. Nilai diri terikat pada visibilitas dan kecepatan reaksi. Dalam iklim seperti ini, keheningan terasa mencurigakan, dan keterlambatan merespons dianggap sebagai ketidakhadiran atau ketidakpedulian. Padahal, justru dalam keheningan dan jeda itulah pemahaman sering tumbuh.

Di sinilah tindakan sederhana seperti membaca buku mendapatkan makna baru. Buku, dengan ritmenya yang lambat dan tuntutannya akan perhatian berkelanjutan, berdiri berseberangan dengan arus percepatan. Ia tidak berteriak meminta perhatian, tidak memperbarui dirinya setiap menit, dan tidak menawarkan imbalan instan. Membaca membutuhkan komitmen waktu dan kesabaran; dua hal yang semakin langka. Namun justru karena itulah ia menjadi latihan pembebasan: pembebasan dari tuntutan untuk selalu mengikuti arus, dari tekanan untuk selalu mengetahui segalanya sekarang juga.

Ketika seseorang membaca, ia memasuki waktu yang berbeda. Waktu naratif, yang bergerak sesuai logika cerita atau argumen, bukan sesuai algoritma. Dalam waktu ini, peristiwa memiliki awal, tengah, dan akhir; gagasan berkembang, diuji, dan disimpulkan. Pembaca diberi kesempatan untuk berhenti sejenak, mengulang kalimat, atau merenung tanpa takut tertinggal. Ini adalah pengalaman yang semakin jarang di dunia yang memuja kecepatan, namun justru semakin penting untuk menjaga kewarasan intelektual.

Pemutusan hubungan yang ditawarkan oleh membaca bukanlah pelarian dari dunia, melainkan cara untuk kembali kepadanya dengan lebih utuh. Dengan menjauh sejenak dari arus informasi yang deras, seseorang dapat memulihkan kapasitas untuk menilai, memilah, dan memberi makna. Ia belajar bahwa tidak semua hal membutuhkan reaksi instan, dan bahwa pemahaman sering kali lahir dari keterlambatan yang disengaja.

Namun, tantangan Era Tergesa-gesa tidak berhenti pada individu. Ia meresap ke dalam struktur sosial dan politik. Keputusan publik dibuat di bawah tekanan siklus berita yang cepat, opini dibentuk oleh potongan informasi yang terlepas dari konteks, dan perdebatan disederhanakan menjadi slogan. Dalam iklim seperti ini, kompleksitas dianggap sebagai beban, dan nuansa sebagai kelemahan. Padahal, persoalan besar, apakah itu ketimpangan, krisis iklim, konflik global, justru  membutuhkan pemikiran jangka panjang dan kesabaran kolektif.

Percepatan juga mengubah cara kita mengalami empati. Ketika tragedi datang bertubi-tubi dari seluruh penjuru dunia, rasa iba mudah berubah menjadi kebas. Bukan karena kita tidak peduli, tetapi karena kapasitas emosional kita terbatas. Tanpa jeda untuk memproses dan merespons, empati menjadi dangkal dan cepat berlalu. Kita “mengetahui” banyak hal, tetapi jarang benar-benar “memahami” atau bertindak secara bermakna.

Dalam konteks ini, kritik terhadap Era Tergesa-gesa bukanlah penolakan terhadap teknologi atau jejaring sosial secara mutlak. Keduanya telah membawa manfaat nyata dan membuka kemungkinan baru. Yang dipertanyakan adalah cara kita membiarkan kecepatan menjadi nilai tertinggi, mengorbankan kedalaman dan kebijaksanaan. Alternatifnya bukan mundur ke masa lalu, melainkan membangun hubungan yang lebih sadar dengan alat-alat yang kita ciptakan.

Kesadaran ini dimulai dari pengakuan bahwa waktu adalah sumber daya yang terbatas dan bernilai. Mengisinya dengan stimulus tanpa henti bukanlah tanda produktivitas, melainkan gejala kehilangan arah. Dengan memilih kapan terhubung dan kapan melepaskan diri, individu dan masyarakat dapat merebut kembali sebagian kendali atas ritme kehidupan. Tindakan-tindakan kecil, seeperti membaca, berjalan tanpa tujuan, berbincang tanpa gawai, menjadi bentuk perlawanan halus terhadap logika percepatan.

Pertanyaan yang diajukan oleh Era Tergesa-gesa bukanlah seberapa cepat kita dapat bergerak, melainkan ke mana kita ingin pergi. Kecepatan tanpa arah hanya menghasilkan kelelahan kolektif. Dengan memperlambat langkah, kita memberi ruang bagi refleksi, makna, dan pilihan yang lebih sadar. Buku yang diam di rak, menunggu untuk diambil, mengingatkan kita bahwa tidak semua yang berharga bergerak cepat, dan bahwa di tengah detik-detik yang berlari, keheningan masih menyimpan kekuatan untuk membebaskan. [T]

Penulis: T.H. Hari Sucahyo
Editor: Adnyana Ole


                                       

Tags: Bukumembacaminat baca
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Saat Anak-Anak SD Meriahkan Lomba Melukis Satua Bali di Bulan Bahasa Bali 2026

Next Post

Saat Kokurikuler Menjadi Gerakan: ‘ECO-VOICES’ dan Suara Bumi dari Generasi Muda Griasta

T.H. Hari Sucahyo

T.H. Hari Sucahyo

Peminat bidang Sosial, Budaya, dan Humaniora. Penggagas Lingkar Studi Adiluhung dan Kelompok Studi Pusaka AgroPol. IG : har1scyhebat

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Saat Kokurikuler Menjadi Gerakan: ‘ECO-VOICES’ dan Suara Bumi dari Generasi Muda Griasta

Saat Kokurikuler Menjadi Gerakan: ‘ECO-VOICES’ dan Suara Bumi dari Generasi Muda Griasta

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co