24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kebebasan di Balik Lembar Buku: Mencuri Jeda dari Era Tergesa

T.H. Hari Sucahyo by T.H. Hari Sucahyo
February 4, 2026
in Esai
Kebebasan di Balik Lembar Buku: Mencuri Jeda dari Era Tergesa

Ilustrasi tatkala.co | Canva

KETIKA kita mengambil sebuah buku dari rak, duduk, lalu mulai membuka halaman pertamanya, hari terasa seperti tindakan yang hampir subversif. Ia bukan lagi sekadar kebiasaan santai atau kegiatan pengisi waktu luang, melainkan sebuah latihan pembebasan yang sunyi; pembebasan dari pusaran notifikasi, linimasa tanpa ujung, dan tuntutan untuk selalu “hadir” dalam setiap peristiwa yang bahkan belum sempat kita pahami. Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, gerakan kecil ini menjadi bentuk pemutusan hubungan yang disengaja: jeda dari Era Tergesa-gesa yang mencengkeram kesadaran kolektif kita.

Seiring bertambahnya usia, manusia sering merasakan bahwa waktu berjalan semakin cepat. Hari-hari terasa lebih singkat, tahun-tahun berlalu tanpa bekas yang jelas, dan kenangan menumpuk tanpa sempat diendapkan. Psikologi menjelaskan ini sebagai perubahan persepsi: semakin banyak pengalaman yang kita miliki, semakin sedikit “hal baru” yang menandai ingatan, sehingga waktu tampak melaju. Namun apa yang kini dialami masyarakat modern bukan sekadar ilusi subjektif. Ada percepatan nyata dalam ritme kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya; percepatan yang dapat diukur, diamati, dan dirasakan secara kolektif.

Dua elemen utama mendorong percepatan ini dengan kekuatan yang belum pernah ada sebelumnya: jejaring sosial dan kemajuan teknologi. Keduanya tidak berdiri sendiri; mereka saling memperkuat, membentuk lingkaran umpan balik yang mendorong dunia bergerak lebih cepat dari kemampuan manusia untuk mencerna. Teknologi mempercepat produksi dan distribusi informasi, sementara jejaring sosial mengamplifikasi jangkauannya, menghapus jarak geografis dan waktu tunggu yang dahulu memberi ruang bagi refleksi.

Jejaring sosial, pada awalnya, menjanjikan kedekatan. Ia mempertemukan teman lama, memperluas percakapan lintas budaya, dan membuka akses terhadap informasi yang sebelumnya tersimpan di pusat-pusat kekuasaan. Namun dalam praktiknya, ia juga mengubah peristiwa menjadi arus yang mengalir tanpa henti. Berita global muncul berdampingan dengan gosip selebritas, tragedi kemanusiaan bersebelahan dengan iklan sepatu, semua ditampilkan dalam format yang sama, dengan tempo yang sama. Akibatnya, skala peristiwa menjadi kabur; yang penting bukan lagi bobot makna, melainkan kecepatan dan daya tarik sesaat.

Akses informasi yang nyaris tak terbatas ini membebani kemampuan asimilasi masyarakat. Dahulu, seseorang mungkin hanya mengikuti apa yang terjadi di kota atau negaranya, dengan ritme yang memungkinkan pembahasan dan penilaian. Kini, peristiwa dari belahan dunia lain hadir dalam hitungan detik, menuntut perhatian dan reaksi instan. Otak manusia, yang berevolusi untuk menghadapi lingkungan dengan informasi terbatas dan kontekstual, dipaksa bekerja dalam kondisi kelebihan beban. Hasilnya bukan pemahaman yang lebih dalam, melainkan fragmentasi perhatian dan kelelahan kognitif.

Dalam kondisi seperti ini, waktu tidak hanya terasa lebih cepat; ia benar-benar dipadatkan. Peristiwa datang sebelum yang sebelumnya sempat berakhir. Skandal hari ini ditenggelamkan oleh krisis esok pagi, yang kemudian dilupakan ketika tren baru muncul sore harinya. Masyarakat hidup dalam keadaan “sekarang” yang terus-menerus diperbarui, tanpa masa lalu yang sempat direnungkan dan tanpa masa depan yang direncanakan dengan matang. Kita bergerak dari satu stimulus ke stimulus lain, seperti penonton yang dipaksa menonton ratusan adegan tanpa jeda.

Kemajuan teknologi memperparah keadaan ini dengan menghapus banyak friksi alami dalam kehidupan. Pesan yang dahulu membutuhkan waktu berhari-hari kini tiba seketika. Pekerjaan yang sebelumnya terikat jam dan tempat kini merembes ke setiap sudut kehidupan melalui perangkat genggam. Batas antara waktu kerja dan waktu pribadi mengabur, dan dengan itu, kesempatan untuk benar-benar berhenti. Kecepatan menjadi norma, efisiensi menjadi nilai tertinggi, dan keterlambatan dalam bentuk apa pun, dianggap sebagai kegagalan personal, bukan konsekuensi dari sistem yang menuntut terlalu banyak.

Era Tergesa-gesa ini tidak hanya mengubah cara kita bekerja dan berkomunikasi, tetapi juga cara kita memahami diri sendiri. Identitas dibentuk dan dipertontonkan secara real time, diukur melalui respons instan berupa suka, komentar, dan bagikan. Nilai diri terikat pada visibilitas dan kecepatan reaksi. Dalam iklim seperti ini, keheningan terasa mencurigakan, dan keterlambatan merespons dianggap sebagai ketidakhadiran atau ketidakpedulian. Padahal, justru dalam keheningan dan jeda itulah pemahaman sering tumbuh.

Di sinilah tindakan sederhana seperti membaca buku mendapatkan makna baru. Buku, dengan ritmenya yang lambat dan tuntutannya akan perhatian berkelanjutan, berdiri berseberangan dengan arus percepatan. Ia tidak berteriak meminta perhatian, tidak memperbarui dirinya setiap menit, dan tidak menawarkan imbalan instan. Membaca membutuhkan komitmen waktu dan kesabaran; dua hal yang semakin langka. Namun justru karena itulah ia menjadi latihan pembebasan: pembebasan dari tuntutan untuk selalu mengikuti arus, dari tekanan untuk selalu mengetahui segalanya sekarang juga.

Ketika seseorang membaca, ia memasuki waktu yang berbeda. Waktu naratif, yang bergerak sesuai logika cerita atau argumen, bukan sesuai algoritma. Dalam waktu ini, peristiwa memiliki awal, tengah, dan akhir; gagasan berkembang, diuji, dan disimpulkan. Pembaca diberi kesempatan untuk berhenti sejenak, mengulang kalimat, atau merenung tanpa takut tertinggal. Ini adalah pengalaman yang semakin jarang di dunia yang memuja kecepatan, namun justru semakin penting untuk menjaga kewarasan intelektual.

Pemutusan hubungan yang ditawarkan oleh membaca bukanlah pelarian dari dunia, melainkan cara untuk kembali kepadanya dengan lebih utuh. Dengan menjauh sejenak dari arus informasi yang deras, seseorang dapat memulihkan kapasitas untuk menilai, memilah, dan memberi makna. Ia belajar bahwa tidak semua hal membutuhkan reaksi instan, dan bahwa pemahaman sering kali lahir dari keterlambatan yang disengaja.

Namun, tantangan Era Tergesa-gesa tidak berhenti pada individu. Ia meresap ke dalam struktur sosial dan politik. Keputusan publik dibuat di bawah tekanan siklus berita yang cepat, opini dibentuk oleh potongan informasi yang terlepas dari konteks, dan perdebatan disederhanakan menjadi slogan. Dalam iklim seperti ini, kompleksitas dianggap sebagai beban, dan nuansa sebagai kelemahan. Padahal, persoalan besar, apakah itu ketimpangan, krisis iklim, konflik global, justru  membutuhkan pemikiran jangka panjang dan kesabaran kolektif.

Percepatan juga mengubah cara kita mengalami empati. Ketika tragedi datang bertubi-tubi dari seluruh penjuru dunia, rasa iba mudah berubah menjadi kebas. Bukan karena kita tidak peduli, tetapi karena kapasitas emosional kita terbatas. Tanpa jeda untuk memproses dan merespons, empati menjadi dangkal dan cepat berlalu. Kita “mengetahui” banyak hal, tetapi jarang benar-benar “memahami” atau bertindak secara bermakna.

Dalam konteks ini, kritik terhadap Era Tergesa-gesa bukanlah penolakan terhadap teknologi atau jejaring sosial secara mutlak. Keduanya telah membawa manfaat nyata dan membuka kemungkinan baru. Yang dipertanyakan adalah cara kita membiarkan kecepatan menjadi nilai tertinggi, mengorbankan kedalaman dan kebijaksanaan. Alternatifnya bukan mundur ke masa lalu, melainkan membangun hubungan yang lebih sadar dengan alat-alat yang kita ciptakan.

Kesadaran ini dimulai dari pengakuan bahwa waktu adalah sumber daya yang terbatas dan bernilai. Mengisinya dengan stimulus tanpa henti bukanlah tanda produktivitas, melainkan gejala kehilangan arah. Dengan memilih kapan terhubung dan kapan melepaskan diri, individu dan masyarakat dapat merebut kembali sebagian kendali atas ritme kehidupan. Tindakan-tindakan kecil, seeperti membaca, berjalan tanpa tujuan, berbincang tanpa gawai, menjadi bentuk perlawanan halus terhadap logika percepatan.

Pertanyaan yang diajukan oleh Era Tergesa-gesa bukanlah seberapa cepat kita dapat bergerak, melainkan ke mana kita ingin pergi. Kecepatan tanpa arah hanya menghasilkan kelelahan kolektif. Dengan memperlambat langkah, kita memberi ruang bagi refleksi, makna, dan pilihan yang lebih sadar. Buku yang diam di rak, menunggu untuk diambil, mengingatkan kita bahwa tidak semua yang berharga bergerak cepat, dan bahwa di tengah detik-detik yang berlari, keheningan masih menyimpan kekuatan untuk membebaskan. [T]

Penulis: T.H. Hari Sucahyo
Editor: Adnyana Ole


                                       

Tags: Bukumembacaminat baca
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Saat Anak-Anak SD Meriahkan Lomba Melukis Satua Bali di Bulan Bahasa Bali 2026

Next Post

Saat Kokurikuler Menjadi Gerakan: ‘ECO-VOICES’ dan Suara Bumi dari Generasi Muda Griasta

T.H. Hari Sucahyo

T.H. Hari Sucahyo

Peminat bidang Sosial, Budaya, dan Humaniora. Penggagas Lingkar Studi Adiluhung dan Kelompok Studi Pusaka AgroPol. IG : har1scyhebat

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Saat Kokurikuler Menjadi Gerakan: ‘ECO-VOICES’ dan Suara Bumi dari Generasi Muda Griasta

Saat Kokurikuler Menjadi Gerakan: ‘ECO-VOICES’ dan Suara Bumi dari Generasi Muda Griasta

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co