13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kebebasan di Balik Lembar Buku: Mencuri Jeda dari Era Tergesa

T.H. Hari Sucahyo by T.H. Hari Sucahyo
February 4, 2026
in Esai
Kebebasan di Balik Lembar Buku: Mencuri Jeda dari Era Tergesa

Ilustrasi tatkala.co | Canva

KETIKA kita mengambil sebuah buku dari rak, duduk, lalu mulai membuka halaman pertamanya, hari terasa seperti tindakan yang hampir subversif. Ia bukan lagi sekadar kebiasaan santai atau kegiatan pengisi waktu luang, melainkan sebuah latihan pembebasan yang sunyi; pembebasan dari pusaran notifikasi, linimasa tanpa ujung, dan tuntutan untuk selalu “hadir” dalam setiap peristiwa yang bahkan belum sempat kita pahami. Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, gerakan kecil ini menjadi bentuk pemutusan hubungan yang disengaja: jeda dari Era Tergesa-gesa yang mencengkeram kesadaran kolektif kita.

Seiring bertambahnya usia, manusia sering merasakan bahwa waktu berjalan semakin cepat. Hari-hari terasa lebih singkat, tahun-tahun berlalu tanpa bekas yang jelas, dan kenangan menumpuk tanpa sempat diendapkan. Psikologi menjelaskan ini sebagai perubahan persepsi: semakin banyak pengalaman yang kita miliki, semakin sedikit “hal baru” yang menandai ingatan, sehingga waktu tampak melaju. Namun apa yang kini dialami masyarakat modern bukan sekadar ilusi subjektif. Ada percepatan nyata dalam ritme kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya; percepatan yang dapat diukur, diamati, dan dirasakan secara kolektif.

Dua elemen utama mendorong percepatan ini dengan kekuatan yang belum pernah ada sebelumnya: jejaring sosial dan kemajuan teknologi. Keduanya tidak berdiri sendiri; mereka saling memperkuat, membentuk lingkaran umpan balik yang mendorong dunia bergerak lebih cepat dari kemampuan manusia untuk mencerna. Teknologi mempercepat produksi dan distribusi informasi, sementara jejaring sosial mengamplifikasi jangkauannya, menghapus jarak geografis dan waktu tunggu yang dahulu memberi ruang bagi refleksi.

Jejaring sosial, pada awalnya, menjanjikan kedekatan. Ia mempertemukan teman lama, memperluas percakapan lintas budaya, dan membuka akses terhadap informasi yang sebelumnya tersimpan di pusat-pusat kekuasaan. Namun dalam praktiknya, ia juga mengubah peristiwa menjadi arus yang mengalir tanpa henti. Berita global muncul berdampingan dengan gosip selebritas, tragedi kemanusiaan bersebelahan dengan iklan sepatu, semua ditampilkan dalam format yang sama, dengan tempo yang sama. Akibatnya, skala peristiwa menjadi kabur; yang penting bukan lagi bobot makna, melainkan kecepatan dan daya tarik sesaat.

Akses informasi yang nyaris tak terbatas ini membebani kemampuan asimilasi masyarakat. Dahulu, seseorang mungkin hanya mengikuti apa yang terjadi di kota atau negaranya, dengan ritme yang memungkinkan pembahasan dan penilaian. Kini, peristiwa dari belahan dunia lain hadir dalam hitungan detik, menuntut perhatian dan reaksi instan. Otak manusia, yang berevolusi untuk menghadapi lingkungan dengan informasi terbatas dan kontekstual, dipaksa bekerja dalam kondisi kelebihan beban. Hasilnya bukan pemahaman yang lebih dalam, melainkan fragmentasi perhatian dan kelelahan kognitif.

Dalam kondisi seperti ini, waktu tidak hanya terasa lebih cepat; ia benar-benar dipadatkan. Peristiwa datang sebelum yang sebelumnya sempat berakhir. Skandal hari ini ditenggelamkan oleh krisis esok pagi, yang kemudian dilupakan ketika tren baru muncul sore harinya. Masyarakat hidup dalam keadaan “sekarang” yang terus-menerus diperbarui, tanpa masa lalu yang sempat direnungkan dan tanpa masa depan yang direncanakan dengan matang. Kita bergerak dari satu stimulus ke stimulus lain, seperti penonton yang dipaksa menonton ratusan adegan tanpa jeda.

Kemajuan teknologi memperparah keadaan ini dengan menghapus banyak friksi alami dalam kehidupan. Pesan yang dahulu membutuhkan waktu berhari-hari kini tiba seketika. Pekerjaan yang sebelumnya terikat jam dan tempat kini merembes ke setiap sudut kehidupan melalui perangkat genggam. Batas antara waktu kerja dan waktu pribadi mengabur, dan dengan itu, kesempatan untuk benar-benar berhenti. Kecepatan menjadi norma, efisiensi menjadi nilai tertinggi, dan keterlambatan dalam bentuk apa pun, dianggap sebagai kegagalan personal, bukan konsekuensi dari sistem yang menuntut terlalu banyak.

Era Tergesa-gesa ini tidak hanya mengubah cara kita bekerja dan berkomunikasi, tetapi juga cara kita memahami diri sendiri. Identitas dibentuk dan dipertontonkan secara real time, diukur melalui respons instan berupa suka, komentar, dan bagikan. Nilai diri terikat pada visibilitas dan kecepatan reaksi. Dalam iklim seperti ini, keheningan terasa mencurigakan, dan keterlambatan merespons dianggap sebagai ketidakhadiran atau ketidakpedulian. Padahal, justru dalam keheningan dan jeda itulah pemahaman sering tumbuh.

Di sinilah tindakan sederhana seperti membaca buku mendapatkan makna baru. Buku, dengan ritmenya yang lambat dan tuntutannya akan perhatian berkelanjutan, berdiri berseberangan dengan arus percepatan. Ia tidak berteriak meminta perhatian, tidak memperbarui dirinya setiap menit, dan tidak menawarkan imbalan instan. Membaca membutuhkan komitmen waktu dan kesabaran; dua hal yang semakin langka. Namun justru karena itulah ia menjadi latihan pembebasan: pembebasan dari tuntutan untuk selalu mengikuti arus, dari tekanan untuk selalu mengetahui segalanya sekarang juga.

Ketika seseorang membaca, ia memasuki waktu yang berbeda. Waktu naratif, yang bergerak sesuai logika cerita atau argumen, bukan sesuai algoritma. Dalam waktu ini, peristiwa memiliki awal, tengah, dan akhir; gagasan berkembang, diuji, dan disimpulkan. Pembaca diberi kesempatan untuk berhenti sejenak, mengulang kalimat, atau merenung tanpa takut tertinggal. Ini adalah pengalaman yang semakin jarang di dunia yang memuja kecepatan, namun justru semakin penting untuk menjaga kewarasan intelektual.

Pemutusan hubungan yang ditawarkan oleh membaca bukanlah pelarian dari dunia, melainkan cara untuk kembali kepadanya dengan lebih utuh. Dengan menjauh sejenak dari arus informasi yang deras, seseorang dapat memulihkan kapasitas untuk menilai, memilah, dan memberi makna. Ia belajar bahwa tidak semua hal membutuhkan reaksi instan, dan bahwa pemahaman sering kali lahir dari keterlambatan yang disengaja.

Namun, tantangan Era Tergesa-gesa tidak berhenti pada individu. Ia meresap ke dalam struktur sosial dan politik. Keputusan publik dibuat di bawah tekanan siklus berita yang cepat, opini dibentuk oleh potongan informasi yang terlepas dari konteks, dan perdebatan disederhanakan menjadi slogan. Dalam iklim seperti ini, kompleksitas dianggap sebagai beban, dan nuansa sebagai kelemahan. Padahal, persoalan besar, apakah itu ketimpangan, krisis iklim, konflik global, justru  membutuhkan pemikiran jangka panjang dan kesabaran kolektif.

Percepatan juga mengubah cara kita mengalami empati. Ketika tragedi datang bertubi-tubi dari seluruh penjuru dunia, rasa iba mudah berubah menjadi kebas. Bukan karena kita tidak peduli, tetapi karena kapasitas emosional kita terbatas. Tanpa jeda untuk memproses dan merespons, empati menjadi dangkal dan cepat berlalu. Kita “mengetahui” banyak hal, tetapi jarang benar-benar “memahami” atau bertindak secara bermakna.

Dalam konteks ini, kritik terhadap Era Tergesa-gesa bukanlah penolakan terhadap teknologi atau jejaring sosial secara mutlak. Keduanya telah membawa manfaat nyata dan membuka kemungkinan baru. Yang dipertanyakan adalah cara kita membiarkan kecepatan menjadi nilai tertinggi, mengorbankan kedalaman dan kebijaksanaan. Alternatifnya bukan mundur ke masa lalu, melainkan membangun hubungan yang lebih sadar dengan alat-alat yang kita ciptakan.

Kesadaran ini dimulai dari pengakuan bahwa waktu adalah sumber daya yang terbatas dan bernilai. Mengisinya dengan stimulus tanpa henti bukanlah tanda produktivitas, melainkan gejala kehilangan arah. Dengan memilih kapan terhubung dan kapan melepaskan diri, individu dan masyarakat dapat merebut kembali sebagian kendali atas ritme kehidupan. Tindakan-tindakan kecil, seeperti membaca, berjalan tanpa tujuan, berbincang tanpa gawai, menjadi bentuk perlawanan halus terhadap logika percepatan.

Pertanyaan yang diajukan oleh Era Tergesa-gesa bukanlah seberapa cepat kita dapat bergerak, melainkan ke mana kita ingin pergi. Kecepatan tanpa arah hanya menghasilkan kelelahan kolektif. Dengan memperlambat langkah, kita memberi ruang bagi refleksi, makna, dan pilihan yang lebih sadar. Buku yang diam di rak, menunggu untuk diambil, mengingatkan kita bahwa tidak semua yang berharga bergerak cepat, dan bahwa di tengah detik-detik yang berlari, keheningan masih menyimpan kekuatan untuk membebaskan. [T]

Penulis: T.H. Hari Sucahyo
Editor: Adnyana Ole


                                       

Tags: Bukumembacaminat baca
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Saat Anak-Anak SD Meriahkan Lomba Melukis Satua Bali di Bulan Bahasa Bali 2026

Next Post

Saat Kokurikuler Menjadi Gerakan: ‘ECO-VOICES’ dan Suara Bumi dari Generasi Muda Griasta

T.H. Hari Sucahyo

T.H. Hari Sucahyo

Peminat bidang Sosial, Budaya, dan Humaniora. Penggagas Lingkar Studi Adiluhung dan Kelompok Studi Pusaka AgroPol. IG : har1scyhebat

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post
Saat Kokurikuler Menjadi Gerakan: ‘ECO-VOICES’ dan Suara Bumi dari Generasi Muda Griasta

Saat Kokurikuler Menjadi Gerakan: ‘ECO-VOICES’ dan Suara Bumi dari Generasi Muda Griasta

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co