24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kebebasan di Balik Lembar Buku: Mencuri Jeda dari Era Tergesa

T.H. Hari Sucahyo by T.H. Hari Sucahyo
February 4, 2026
in Esai
Kebebasan di Balik Lembar Buku: Mencuri Jeda dari Era Tergesa

Ilustrasi tatkala.co | Canva

KETIKA kita mengambil sebuah buku dari rak, duduk, lalu mulai membuka halaman pertamanya, hari terasa seperti tindakan yang hampir subversif. Ia bukan lagi sekadar kebiasaan santai atau kegiatan pengisi waktu luang, melainkan sebuah latihan pembebasan yang sunyi; pembebasan dari pusaran notifikasi, linimasa tanpa ujung, dan tuntutan untuk selalu “hadir” dalam setiap peristiwa yang bahkan belum sempat kita pahami. Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, gerakan kecil ini menjadi bentuk pemutusan hubungan yang disengaja: jeda dari Era Tergesa-gesa yang mencengkeram kesadaran kolektif kita.

Seiring bertambahnya usia, manusia sering merasakan bahwa waktu berjalan semakin cepat. Hari-hari terasa lebih singkat, tahun-tahun berlalu tanpa bekas yang jelas, dan kenangan menumpuk tanpa sempat diendapkan. Psikologi menjelaskan ini sebagai perubahan persepsi: semakin banyak pengalaman yang kita miliki, semakin sedikit “hal baru” yang menandai ingatan, sehingga waktu tampak melaju. Namun apa yang kini dialami masyarakat modern bukan sekadar ilusi subjektif. Ada percepatan nyata dalam ritme kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya; percepatan yang dapat diukur, diamati, dan dirasakan secara kolektif.

Dua elemen utama mendorong percepatan ini dengan kekuatan yang belum pernah ada sebelumnya: jejaring sosial dan kemajuan teknologi. Keduanya tidak berdiri sendiri; mereka saling memperkuat, membentuk lingkaran umpan balik yang mendorong dunia bergerak lebih cepat dari kemampuan manusia untuk mencerna. Teknologi mempercepat produksi dan distribusi informasi, sementara jejaring sosial mengamplifikasi jangkauannya, menghapus jarak geografis dan waktu tunggu yang dahulu memberi ruang bagi refleksi.

Jejaring sosial, pada awalnya, menjanjikan kedekatan. Ia mempertemukan teman lama, memperluas percakapan lintas budaya, dan membuka akses terhadap informasi yang sebelumnya tersimpan di pusat-pusat kekuasaan. Namun dalam praktiknya, ia juga mengubah peristiwa menjadi arus yang mengalir tanpa henti. Berita global muncul berdampingan dengan gosip selebritas, tragedi kemanusiaan bersebelahan dengan iklan sepatu, semua ditampilkan dalam format yang sama, dengan tempo yang sama. Akibatnya, skala peristiwa menjadi kabur; yang penting bukan lagi bobot makna, melainkan kecepatan dan daya tarik sesaat.

Akses informasi yang nyaris tak terbatas ini membebani kemampuan asimilasi masyarakat. Dahulu, seseorang mungkin hanya mengikuti apa yang terjadi di kota atau negaranya, dengan ritme yang memungkinkan pembahasan dan penilaian. Kini, peristiwa dari belahan dunia lain hadir dalam hitungan detik, menuntut perhatian dan reaksi instan. Otak manusia, yang berevolusi untuk menghadapi lingkungan dengan informasi terbatas dan kontekstual, dipaksa bekerja dalam kondisi kelebihan beban. Hasilnya bukan pemahaman yang lebih dalam, melainkan fragmentasi perhatian dan kelelahan kognitif.

Dalam kondisi seperti ini, waktu tidak hanya terasa lebih cepat; ia benar-benar dipadatkan. Peristiwa datang sebelum yang sebelumnya sempat berakhir. Skandal hari ini ditenggelamkan oleh krisis esok pagi, yang kemudian dilupakan ketika tren baru muncul sore harinya. Masyarakat hidup dalam keadaan “sekarang” yang terus-menerus diperbarui, tanpa masa lalu yang sempat direnungkan dan tanpa masa depan yang direncanakan dengan matang. Kita bergerak dari satu stimulus ke stimulus lain, seperti penonton yang dipaksa menonton ratusan adegan tanpa jeda.

Kemajuan teknologi memperparah keadaan ini dengan menghapus banyak friksi alami dalam kehidupan. Pesan yang dahulu membutuhkan waktu berhari-hari kini tiba seketika. Pekerjaan yang sebelumnya terikat jam dan tempat kini merembes ke setiap sudut kehidupan melalui perangkat genggam. Batas antara waktu kerja dan waktu pribadi mengabur, dan dengan itu, kesempatan untuk benar-benar berhenti. Kecepatan menjadi norma, efisiensi menjadi nilai tertinggi, dan keterlambatan dalam bentuk apa pun, dianggap sebagai kegagalan personal, bukan konsekuensi dari sistem yang menuntut terlalu banyak.

Era Tergesa-gesa ini tidak hanya mengubah cara kita bekerja dan berkomunikasi, tetapi juga cara kita memahami diri sendiri. Identitas dibentuk dan dipertontonkan secara real time, diukur melalui respons instan berupa suka, komentar, dan bagikan. Nilai diri terikat pada visibilitas dan kecepatan reaksi. Dalam iklim seperti ini, keheningan terasa mencurigakan, dan keterlambatan merespons dianggap sebagai ketidakhadiran atau ketidakpedulian. Padahal, justru dalam keheningan dan jeda itulah pemahaman sering tumbuh.

Di sinilah tindakan sederhana seperti membaca buku mendapatkan makna baru. Buku, dengan ritmenya yang lambat dan tuntutannya akan perhatian berkelanjutan, berdiri berseberangan dengan arus percepatan. Ia tidak berteriak meminta perhatian, tidak memperbarui dirinya setiap menit, dan tidak menawarkan imbalan instan. Membaca membutuhkan komitmen waktu dan kesabaran; dua hal yang semakin langka. Namun justru karena itulah ia menjadi latihan pembebasan: pembebasan dari tuntutan untuk selalu mengikuti arus, dari tekanan untuk selalu mengetahui segalanya sekarang juga.

Ketika seseorang membaca, ia memasuki waktu yang berbeda. Waktu naratif, yang bergerak sesuai logika cerita atau argumen, bukan sesuai algoritma. Dalam waktu ini, peristiwa memiliki awal, tengah, dan akhir; gagasan berkembang, diuji, dan disimpulkan. Pembaca diberi kesempatan untuk berhenti sejenak, mengulang kalimat, atau merenung tanpa takut tertinggal. Ini adalah pengalaman yang semakin jarang di dunia yang memuja kecepatan, namun justru semakin penting untuk menjaga kewarasan intelektual.

Pemutusan hubungan yang ditawarkan oleh membaca bukanlah pelarian dari dunia, melainkan cara untuk kembali kepadanya dengan lebih utuh. Dengan menjauh sejenak dari arus informasi yang deras, seseorang dapat memulihkan kapasitas untuk menilai, memilah, dan memberi makna. Ia belajar bahwa tidak semua hal membutuhkan reaksi instan, dan bahwa pemahaman sering kali lahir dari keterlambatan yang disengaja.

Namun, tantangan Era Tergesa-gesa tidak berhenti pada individu. Ia meresap ke dalam struktur sosial dan politik. Keputusan publik dibuat di bawah tekanan siklus berita yang cepat, opini dibentuk oleh potongan informasi yang terlepas dari konteks, dan perdebatan disederhanakan menjadi slogan. Dalam iklim seperti ini, kompleksitas dianggap sebagai beban, dan nuansa sebagai kelemahan. Padahal, persoalan besar, apakah itu ketimpangan, krisis iklim, konflik global, justru  membutuhkan pemikiran jangka panjang dan kesabaran kolektif.

Percepatan juga mengubah cara kita mengalami empati. Ketika tragedi datang bertubi-tubi dari seluruh penjuru dunia, rasa iba mudah berubah menjadi kebas. Bukan karena kita tidak peduli, tetapi karena kapasitas emosional kita terbatas. Tanpa jeda untuk memproses dan merespons, empati menjadi dangkal dan cepat berlalu. Kita “mengetahui” banyak hal, tetapi jarang benar-benar “memahami” atau bertindak secara bermakna.

Dalam konteks ini, kritik terhadap Era Tergesa-gesa bukanlah penolakan terhadap teknologi atau jejaring sosial secara mutlak. Keduanya telah membawa manfaat nyata dan membuka kemungkinan baru. Yang dipertanyakan adalah cara kita membiarkan kecepatan menjadi nilai tertinggi, mengorbankan kedalaman dan kebijaksanaan. Alternatifnya bukan mundur ke masa lalu, melainkan membangun hubungan yang lebih sadar dengan alat-alat yang kita ciptakan.

Kesadaran ini dimulai dari pengakuan bahwa waktu adalah sumber daya yang terbatas dan bernilai. Mengisinya dengan stimulus tanpa henti bukanlah tanda produktivitas, melainkan gejala kehilangan arah. Dengan memilih kapan terhubung dan kapan melepaskan diri, individu dan masyarakat dapat merebut kembali sebagian kendali atas ritme kehidupan. Tindakan-tindakan kecil, seeperti membaca, berjalan tanpa tujuan, berbincang tanpa gawai, menjadi bentuk perlawanan halus terhadap logika percepatan.

Pertanyaan yang diajukan oleh Era Tergesa-gesa bukanlah seberapa cepat kita dapat bergerak, melainkan ke mana kita ingin pergi. Kecepatan tanpa arah hanya menghasilkan kelelahan kolektif. Dengan memperlambat langkah, kita memberi ruang bagi refleksi, makna, dan pilihan yang lebih sadar. Buku yang diam di rak, menunggu untuk diambil, mengingatkan kita bahwa tidak semua yang berharga bergerak cepat, dan bahwa di tengah detik-detik yang berlari, keheningan masih menyimpan kekuatan untuk membebaskan. [T]

Penulis: T.H. Hari Sucahyo
Editor: Adnyana Ole


                                       

Tags: Bukumembacaminat baca
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Saat Anak-Anak SD Meriahkan Lomba Melukis Satua Bali di Bulan Bahasa Bali 2026

Next Post

Saat Kokurikuler Menjadi Gerakan: ‘ECO-VOICES’ dan Suara Bumi dari Generasi Muda Griasta

T.H. Hari Sucahyo

T.H. Hari Sucahyo

Peminat bidang Sosial, Budaya, dan Humaniora. Penggagas Lingkar Studi Adiluhung dan Kelompok Studi Pusaka AgroPol. IG : har1scyhebat

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Saat Kokurikuler Menjadi Gerakan: ‘ECO-VOICES’ dan Suara Bumi dari Generasi Muda Griasta

Saat Kokurikuler Menjadi Gerakan: ‘ECO-VOICES’ dan Suara Bumi dari Generasi Muda Griasta

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co