12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kebebasan di Balik Lembar Buku: Mencuri Jeda dari Era Tergesa

T.H. Hari Sucahyo by T.H. Hari Sucahyo
February 4, 2026
in Esai
Kebebasan di Balik Lembar Buku: Mencuri Jeda dari Era Tergesa

Ilustrasi tatkala.co | Canva

KETIKA kita mengambil sebuah buku dari rak, duduk, lalu mulai membuka halaman pertamanya, hari terasa seperti tindakan yang hampir subversif. Ia bukan lagi sekadar kebiasaan santai atau kegiatan pengisi waktu luang, melainkan sebuah latihan pembebasan yang sunyi; pembebasan dari pusaran notifikasi, linimasa tanpa ujung, dan tuntutan untuk selalu “hadir” dalam setiap peristiwa yang bahkan belum sempat kita pahami. Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, gerakan kecil ini menjadi bentuk pemutusan hubungan yang disengaja: jeda dari Era Tergesa-gesa yang mencengkeram kesadaran kolektif kita.

Seiring bertambahnya usia, manusia sering merasakan bahwa waktu berjalan semakin cepat. Hari-hari terasa lebih singkat, tahun-tahun berlalu tanpa bekas yang jelas, dan kenangan menumpuk tanpa sempat diendapkan. Psikologi menjelaskan ini sebagai perubahan persepsi: semakin banyak pengalaman yang kita miliki, semakin sedikit “hal baru” yang menandai ingatan, sehingga waktu tampak melaju. Namun apa yang kini dialami masyarakat modern bukan sekadar ilusi subjektif. Ada percepatan nyata dalam ritme kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya; percepatan yang dapat diukur, diamati, dan dirasakan secara kolektif.

Dua elemen utama mendorong percepatan ini dengan kekuatan yang belum pernah ada sebelumnya: jejaring sosial dan kemajuan teknologi. Keduanya tidak berdiri sendiri; mereka saling memperkuat, membentuk lingkaran umpan balik yang mendorong dunia bergerak lebih cepat dari kemampuan manusia untuk mencerna. Teknologi mempercepat produksi dan distribusi informasi, sementara jejaring sosial mengamplifikasi jangkauannya, menghapus jarak geografis dan waktu tunggu yang dahulu memberi ruang bagi refleksi.

Jejaring sosial, pada awalnya, menjanjikan kedekatan. Ia mempertemukan teman lama, memperluas percakapan lintas budaya, dan membuka akses terhadap informasi yang sebelumnya tersimpan di pusat-pusat kekuasaan. Namun dalam praktiknya, ia juga mengubah peristiwa menjadi arus yang mengalir tanpa henti. Berita global muncul berdampingan dengan gosip selebritas, tragedi kemanusiaan bersebelahan dengan iklan sepatu, semua ditampilkan dalam format yang sama, dengan tempo yang sama. Akibatnya, skala peristiwa menjadi kabur; yang penting bukan lagi bobot makna, melainkan kecepatan dan daya tarik sesaat.

Akses informasi yang nyaris tak terbatas ini membebani kemampuan asimilasi masyarakat. Dahulu, seseorang mungkin hanya mengikuti apa yang terjadi di kota atau negaranya, dengan ritme yang memungkinkan pembahasan dan penilaian. Kini, peristiwa dari belahan dunia lain hadir dalam hitungan detik, menuntut perhatian dan reaksi instan. Otak manusia, yang berevolusi untuk menghadapi lingkungan dengan informasi terbatas dan kontekstual, dipaksa bekerja dalam kondisi kelebihan beban. Hasilnya bukan pemahaman yang lebih dalam, melainkan fragmentasi perhatian dan kelelahan kognitif.

Dalam kondisi seperti ini, waktu tidak hanya terasa lebih cepat; ia benar-benar dipadatkan. Peristiwa datang sebelum yang sebelumnya sempat berakhir. Skandal hari ini ditenggelamkan oleh krisis esok pagi, yang kemudian dilupakan ketika tren baru muncul sore harinya. Masyarakat hidup dalam keadaan “sekarang” yang terus-menerus diperbarui, tanpa masa lalu yang sempat direnungkan dan tanpa masa depan yang direncanakan dengan matang. Kita bergerak dari satu stimulus ke stimulus lain, seperti penonton yang dipaksa menonton ratusan adegan tanpa jeda.

Kemajuan teknologi memperparah keadaan ini dengan menghapus banyak friksi alami dalam kehidupan. Pesan yang dahulu membutuhkan waktu berhari-hari kini tiba seketika. Pekerjaan yang sebelumnya terikat jam dan tempat kini merembes ke setiap sudut kehidupan melalui perangkat genggam. Batas antara waktu kerja dan waktu pribadi mengabur, dan dengan itu, kesempatan untuk benar-benar berhenti. Kecepatan menjadi norma, efisiensi menjadi nilai tertinggi, dan keterlambatan dalam bentuk apa pun, dianggap sebagai kegagalan personal, bukan konsekuensi dari sistem yang menuntut terlalu banyak.

Era Tergesa-gesa ini tidak hanya mengubah cara kita bekerja dan berkomunikasi, tetapi juga cara kita memahami diri sendiri. Identitas dibentuk dan dipertontonkan secara real time, diukur melalui respons instan berupa suka, komentar, dan bagikan. Nilai diri terikat pada visibilitas dan kecepatan reaksi. Dalam iklim seperti ini, keheningan terasa mencurigakan, dan keterlambatan merespons dianggap sebagai ketidakhadiran atau ketidakpedulian. Padahal, justru dalam keheningan dan jeda itulah pemahaman sering tumbuh.

Di sinilah tindakan sederhana seperti membaca buku mendapatkan makna baru. Buku, dengan ritmenya yang lambat dan tuntutannya akan perhatian berkelanjutan, berdiri berseberangan dengan arus percepatan. Ia tidak berteriak meminta perhatian, tidak memperbarui dirinya setiap menit, dan tidak menawarkan imbalan instan. Membaca membutuhkan komitmen waktu dan kesabaran; dua hal yang semakin langka. Namun justru karena itulah ia menjadi latihan pembebasan: pembebasan dari tuntutan untuk selalu mengikuti arus, dari tekanan untuk selalu mengetahui segalanya sekarang juga.

Ketika seseorang membaca, ia memasuki waktu yang berbeda. Waktu naratif, yang bergerak sesuai logika cerita atau argumen, bukan sesuai algoritma. Dalam waktu ini, peristiwa memiliki awal, tengah, dan akhir; gagasan berkembang, diuji, dan disimpulkan. Pembaca diberi kesempatan untuk berhenti sejenak, mengulang kalimat, atau merenung tanpa takut tertinggal. Ini adalah pengalaman yang semakin jarang di dunia yang memuja kecepatan, namun justru semakin penting untuk menjaga kewarasan intelektual.

Pemutusan hubungan yang ditawarkan oleh membaca bukanlah pelarian dari dunia, melainkan cara untuk kembali kepadanya dengan lebih utuh. Dengan menjauh sejenak dari arus informasi yang deras, seseorang dapat memulihkan kapasitas untuk menilai, memilah, dan memberi makna. Ia belajar bahwa tidak semua hal membutuhkan reaksi instan, dan bahwa pemahaman sering kali lahir dari keterlambatan yang disengaja.

Namun, tantangan Era Tergesa-gesa tidak berhenti pada individu. Ia meresap ke dalam struktur sosial dan politik. Keputusan publik dibuat di bawah tekanan siklus berita yang cepat, opini dibentuk oleh potongan informasi yang terlepas dari konteks, dan perdebatan disederhanakan menjadi slogan. Dalam iklim seperti ini, kompleksitas dianggap sebagai beban, dan nuansa sebagai kelemahan. Padahal, persoalan besar, apakah itu ketimpangan, krisis iklim, konflik global, justru  membutuhkan pemikiran jangka panjang dan kesabaran kolektif.

Percepatan juga mengubah cara kita mengalami empati. Ketika tragedi datang bertubi-tubi dari seluruh penjuru dunia, rasa iba mudah berubah menjadi kebas. Bukan karena kita tidak peduli, tetapi karena kapasitas emosional kita terbatas. Tanpa jeda untuk memproses dan merespons, empati menjadi dangkal dan cepat berlalu. Kita “mengetahui” banyak hal, tetapi jarang benar-benar “memahami” atau bertindak secara bermakna.

Dalam konteks ini, kritik terhadap Era Tergesa-gesa bukanlah penolakan terhadap teknologi atau jejaring sosial secara mutlak. Keduanya telah membawa manfaat nyata dan membuka kemungkinan baru. Yang dipertanyakan adalah cara kita membiarkan kecepatan menjadi nilai tertinggi, mengorbankan kedalaman dan kebijaksanaan. Alternatifnya bukan mundur ke masa lalu, melainkan membangun hubungan yang lebih sadar dengan alat-alat yang kita ciptakan.

Kesadaran ini dimulai dari pengakuan bahwa waktu adalah sumber daya yang terbatas dan bernilai. Mengisinya dengan stimulus tanpa henti bukanlah tanda produktivitas, melainkan gejala kehilangan arah. Dengan memilih kapan terhubung dan kapan melepaskan diri, individu dan masyarakat dapat merebut kembali sebagian kendali atas ritme kehidupan. Tindakan-tindakan kecil, seeperti membaca, berjalan tanpa tujuan, berbincang tanpa gawai, menjadi bentuk perlawanan halus terhadap logika percepatan.

Pertanyaan yang diajukan oleh Era Tergesa-gesa bukanlah seberapa cepat kita dapat bergerak, melainkan ke mana kita ingin pergi. Kecepatan tanpa arah hanya menghasilkan kelelahan kolektif. Dengan memperlambat langkah, kita memberi ruang bagi refleksi, makna, dan pilihan yang lebih sadar. Buku yang diam di rak, menunggu untuk diambil, mengingatkan kita bahwa tidak semua yang berharga bergerak cepat, dan bahwa di tengah detik-detik yang berlari, keheningan masih menyimpan kekuatan untuk membebaskan. [T]

Penulis: T.H. Hari Sucahyo
Editor: Adnyana Ole


                                       

Tags: Bukumembacaminat baca
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Saat Anak-Anak SD Meriahkan Lomba Melukis Satua Bali di Bulan Bahasa Bali 2026

Next Post

Saat Kokurikuler Menjadi Gerakan: ‘ECO-VOICES’ dan Suara Bumi dari Generasi Muda Griasta

T.H. Hari Sucahyo

T.H. Hari Sucahyo

Peminat bidang Sosial, Budaya, dan Humaniora. Penggagas Lingkar Studi Adiluhung dan Kelompok Studi Pusaka AgroPol. IG : har1scyhebat

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post
Saat Kokurikuler Menjadi Gerakan: ‘ECO-VOICES’ dan Suara Bumi dari Generasi Muda Griasta

Saat Kokurikuler Menjadi Gerakan: ‘ECO-VOICES’ dan Suara Bumi dari Generasi Muda Griasta

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co