HUJAN turun. Saya dan Putri–adik kandung saya, bersiap untuk sembahyang ke Pura Dalem Gede Sukawati. Meski hujan, kami tetap semangat. Entah apa yang menyebabkan kami begitu bersemangat malam itu.
Kami mengendarai Scoopy kesayangan adik saya, Putri. Hujan masih cukup deras. Kami starter motor, dan siap berangkat. Putri memegang payung. Ia memayungi saya yang mengendalikan laju motor menuju Pura. Dari rumah, kami melaju ke Pura yang jaraknya sekitar satu kilometer.
Upacara Odalan Pura Dalem Gede Sukawati, Gianyar, dimulai Selasa, 13 Januari 2026, dan berakhir Jumat, 16 Januari 2026. Kami bersembahyang di hari terakhir, Jumat malam.
Setibanya di tempat parkir, di jaba Pura, hujan berhenti. Payung saya taruh di bagasi motor. Seperti pada umumnya sebelum memasuki Pura, kami melakukan penyiratan tirta. Saya menyiratkan tirta penglukan ke diri saya dan Putri. Setelah itu kami masuk ke area jaba tengah Pura untuk kemudian menuju jeroan atau utama mandala untuk sembahyang.
Awalnya terlihat biasa saja seperti pura pada umumnya. Namun, setibanya di jaba tengah Pura, hentakan kaki saya seketika berhenti karena mendengar suara gamelan gender wayang. Saya bersama Putri melihat pemedek berkerumun di sebuah bangunan, di mana suara gamelan itu berasal.
Saya pun ikut menghampiri kerumuman itu. Saya bengong, Putri reflek mengambil HP dan merekam video. Kami melihat para penabuh gamelan gender wayang sedang ngayah mempersembahkan tabuh-tabuh gender wayang.
Satu persatu wajah-wajah kecil para penabuh itu saya perhatikan dengan rasa takjub. Sebagian dari mereka itu barangkali anak-anak yang juga terbiasa membuat video Tiktok sebagaimana anak-anak lain di zaman media sosial ini. Tapi kini mereka duduk rapi, berjejer, sangat piawai memainkan gamelan gender wayang.
Hujan benar-benar berhenti, seakan harmoni perpaduan nada-nada suara gender wayang yang mereka mainkan itulah yang menghentikan riaknya hujan.

Para pemedek lain yang akan sembahyang juga mengabadikan kelihaian mereka dengan kamera HP. Satu-satu persatu wajah kecil itu terlihat terampil. Gadis-gadis kecil, wajah polos yang tampan, menarikan tangannya di atas gamelan gender wayang.
Ketut Buda selaku pemilik sanggar gender wayang, Sanggar Suara Murti, menjelaskan anak-anak dari sanggar yang ia bina itu ngayah bergantian dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama 35 orang, dan sesi kedua 35 orang juga.
“Itu ada yang masih kecil banget ikut ngayah. Baru belajar beberapa bulan,” kata Kadek Sendy, sang pelatih yang juga anak dari Ketut Buda.
Menurut Sendy, anak-anak yang ikut ngayah itu sudah menguasai 4 sampai 5 gending gender wayang. Tidak hanya dari Sukawati, penabuh yang ngayah tersebut juga berasal dari Gianyar Kota, hingga dari Kota Denpasar.
Kadek Sendy menuturkan, selain anggota paling tua yaitu remaja SMA, terdapat penabuh yang masih SD ikut dalam anggotanya.
Saya bersyukur mendengar penuturan Kadek Sendy. Di tengah gempuran Tiktok yang goyang sana sini, seni di Sukawati masih lestari.

Kadek Sendy bersama bapaknya, Ketut Buda, sudah dari tahun 2013 membentuk sekaa gender wayang. Awal terbentuk anggotanya hanya berjumlah 5 orang dari warga sekitar. Seiring berjalannya waktu, jumlah anak-anak yang mau belajar menabuh gender wayang makin banyak. KIni jumlah anggota Sanggar Suara Murti, yang khusus belajar menabuh gender wayang berjumlah 70 orang.
Sanggar Suara Murti adalah sanggar di Sukawati yang membimbing anak-anak di bidang seni pertunjukan yaitu gamelan gender wayang, gamelan selonding, gamelan semar pegulingan, dan pedalangan. Sejak berdiri dari tahun 2003, sampai saat ini Sanggar Seni Suara Murti memiliki anggota mencapai 120 orang. Beberapa di antaranya ada orang asing (bule) yang ikut belajar di sanggar tersebut.
Sanggar ini, dengan 150 penabuh gender wayang juga sempat menggemparkan panggung Balai Budaya Gianyar pada tahun 2016 dalam rangkat HUT Kabupaten Gianyar. Sanggar Suara Murti memiliki jam terbang yang tinggi di bidang seni pertunjukan, hingga beberapa kali menjurai lomba gender wayang seperti pada Pesta Kesenian Bali, maupun juara selonding di luar daerah, hingga ikut terlibat dalam acara Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 tingkat Internasional di Nusa Dua Bali beberapa tahun lalu.

Saat bersembahyang di jeroan, saya merasa benar-benar lega. Barangkali karena saya merasa mendapatkan berkah yang melimpah setelah menonton anak-anak memainkan gender wayang di jaba tengah Pura.
Usai sembahyang, saat pulang ke rumah, tak henti-henti saya tersenyum. Putri juga. [T]
Penulis: Agus Suardiana Putra
Editor: Adnyana Ole



























