24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Kuangan Tutur’ dan ‘Lebihan Tutur’, Parenting ala Bali

Angga Wijaya by Angga Wijaya
January 14, 2026
in Esai
‘Kuangan Tutur’ dan ‘Lebihan Tutur’, Parenting ala Bali

SAYA kerap mengamati orang tua Bali dengan cara yang sederhana. Cara mereka memperlakukan kata-kata di rumah. Ada yang terlalu hemat bicara. Ada pula yang seolah tak pernah selesai menasihati. Dari sanalah saya melihat bagaimana anak-anak Bali tumbuh. Dari tutur yang ditahan. Dari tutur yang diluapkan. Dari kata-kata yang diucapkan setengah sadar dan dari keheningan yang terlalu lama dipelihara.

Dalam kehidupan orang Bali, tutur bukan sekadar alat komunikasi. Kata-kata dipercaya membawa daya. Ia bisa menjadi doa. Ia juga bisa menjadi luka yang bekerja pelan. Karena itu orang Bali mengenal ukuran dalam berbicara. Jangan kuangan tutur. Jangan lebihan tutur. Jangan kurang. Jangan berlebih. Prinsip ini terdengar sederhana. Namun dalam praktik pengasuhan, ia justru paling sering dilanggar tanpa disadari.

Kuangan tutur kerap hadir dalam rumah yang tampak tertib dan baik-baik saja. Orang tua bekerja keras. Anak disekolahkan. Kebutuhan fisik terpenuhi. Rumah terlihat aman. Namun ruang bicara jarang dibuka. Kata-kata hangat dianggap tak perlu. Penjelasan dirasa membuang waktu. Anak belajar memahami orang tua dengan cara menebak. Bukan dengan bertanya. Bukan dengan berdialog.

Diam sering disalahartikan sebagai kewibawaan. Seolah orang tua yang sedikit bicara adalah orang tua yang berwibawa. Padahal diam juga bisa menjadi jarak yang perlahan menjauhkan. Anak tumbuh peka membaca suasana. Mereka belajar mengenali perubahan nada napas. Gerak tubuh. Ekspresi wajah. Tetapi kehilangan keberanian menyampaikan perasaan. Kesalahan kecil bisa memicu kemarahan yang selama ini ditahan. Keberhasilan jarang mendapat pengakuan. Dari situ anak belajar patuh. Bukan percaya diri.

Saya tumbuh dalam pola seperti ini. Kata bangga jarang diucapkan. Bukan karena orang tua tidak bangga. Kebanggaan dianggap cukup disimpan. Prestasi sering dibalas dengan peringatan agar tidak besar kepala. Agar tidak cepat puas. Kalimat yang dimaksudkan sebagai pengingat. Tetapi perlahan mengikis keyakinan diri. Saya belajar bekerja keras. Namun ragu merayakan capaian sendiri.

Pengalaman ini tidak unik. Banyak anak Bali tumbuh dengan pola serupa. Mereka tangguh. Mandiri. Tetapi canggung menyebut perasaan. Sulit meminta bantuan. Terbiasa memendam. Kuangan tutur membentuk generasi yang kuat di luar. Namun rapuh di dalam. Generasi yang jarang mengeluh. Tetapi juga jarang merasa cukup.

Di sisi lain, lebihan tutur hadir dengan wajah berbeda. Orang tua berbicara hampir tanpa jeda. Semua hal dikomentari. Semua langkah diarahkan. Dari cara duduk. Cara berbicara. Cara berpakaian. Cara berteman. Nasihat mengalir dari pagi hingga malam. Diam dianggap lalai. Bicara terus-menerus dianggap tanda perhatian. Anak dikelilingi kata-kata tanpa sempat bernapas.

Lebihan tutur sering lahir dari kecemasan. Dunia dianggap terlalu berbahaya. Anak harus dijaga dengan kata-kata. Orang tua merasa harus selalu hadir lewat nasihat. Takut anak salah jalan. Takut anak gagal. Takut anak tidak sesuai harapan. Niatnya baik. Tetapi kata-kata yang terlalu banyak kehilangan daya. Anak mendengar. Tetapi tidak menyimak. Mereka tahu kalimatnya. Namun tidak lagi merasakan maknanya.

Saya melihat bagaimana anak-anak belajar menyaring cerita. Tidak semua hal layak dibagi. Tidak semua pengalaman aman diceritakan. Rumah berubah menjadi ruang evaluasi. Setiap kisah bisa berujung ceramah. Setiap kesalahan menjadi daftar panjang koreksi. Diam menjadi pilihan paling aman. Bukan karena tidak percaya. Tetapi karena lelah.

Dalam kebudayaan Bali, kuangan tutur dan lebihan tutur sejatinya berada di titik yang sama. Keduanya menandai ketidakseimbangan. Tutur yang baik bukan soal jumlah. Ia soal ketepatan. Ia tahu kapan harus hadir. Ia tahu kapan harus berhenti. Ia tidak lahir dari emosi sesaat. Ia lahir dari kesadaran.

Prinsip ini sejalan dengan konsep desa, kala, patra. Tidak semua hal disampaikan dengan cara yang sama. Tidak semua situasi membutuhkan kata-kata. Anak kecil tidak diperlakukan seperti orang dewasa. Remaja tidak diperlakukan seperti anak kecil. Kesalahan tidak selalu ditegur dengan suara keras. Kebaikan tidak selalu harus dipuji berlebihan. Semua ada takarannya.

Namun keseimbangan ini semakin sulit dijaga hari ini. Tekanan hidup membuat banyak orang tua kelelahan. Pekerjaan menyita energi. Waktu habis di luar rumah. Media sosial menambah kebisingan. Semua orang bicara. Semua orang menasihati. Semua orang merasa punya rumus paling benar. Di rumah justru sering terjadi keheningan yang canggung.

Anak-anak Bali generasi sekarang hidup dalam paradoks. Di luar mereka dibanjiri kata-kata. Di layar mereka berkomunikasi tanpa henti. Di media sosial mereka belajar mengekspresikan diri. Namun di dalam rumah dialog justru minim. Mereka fasih berbicara di ruang digital. Namun gagap menyampaikan perasaan kepada orang tua.

Sebagai pengamat, saya melihat ini bukan semata kesalahan individu. Pola asuh diwariskan. Orang tua hari ini dibesarkan oleh orang tua yang juga belajar diam atau berbicara dengan caranya sendiri. Luka yang tidak dikenali diteruskan. Kadang dalam bentuk kata keras. Kadang dalam bentuk diam yang panjang. Semua berlangsung tanpa niat jahat.

Dalam tradisi Bali, tutur adalah laku hidup. Ia bagian dari upaya menjaga harmoni. Menjaga hubungan dengan sesama. Menjaga hubungan dengan diri sendiri. Menegur tidak harus merendahkan. Menasihati tidak harus menggurui. Memuji tidak harus membuat anak lupa diri. Semua mungkin dilakukan jika orang tua mau hadir sebagai manusia. Bukan sekadar figur otoritas.

Pengalaman pribadi mengajarkan saya satu hal. Satu kalimat yang jujur bisa bertahan seumur hidup. Kalimat sederhana yang diucapkan pada waktu yang tepat bisa menjadi pegangan. Sebaliknya satu kalimat yang diucapkan dalam emosi bisa menjadi luka yang menetap. Bahkan keheningan tertentu terasa lebih menyakitkan daripada kemarahan yang jujur.

Saya pernah merasa lebih terluka oleh tidak adanya kata. Bukan oleh kata yang keras. Karena dalam diam, anak dibiarkan menafsir sendiri. Dan tafsir anak sering kali lebih kejam daripada kenyataan. Kuangan tutur memberi ruang bagi asumsi. Lebihan tutur memberi ruang bagi ketakutan. Keduanya sama-sama melelahkan.

Parenting ala Bali tidak seharusnya terjebak pada romantisasi masa lalu. Tidak semua yang lama selalu benar. Tidak semua yang baru harus ditolak. Tradisi bukan benda mati. Ia hidup. Ia berubah. Kuangan tutur dan lebihan tutur perlu dibaca ulang. Sebagai cermin. Bukan sebagai dogma.

Anak-anak tidak hanya tumbuh dari apa yang kita katakan. Mereka tumbuh dari cara kita berbicara. Dari nada suara. Dari ekspresi wajah. Dari kesediaan mendengar tanpa menghakimi. Dari keberanian meminta maaf ketika salah. Dari ruang aman yang dibangun perlahan.

Saya percaya rumah yang sehat bukan rumah tanpa konflik. Juga bukan rumah yang penuh nasihat. Rumah yang sehat memberi ruang pada tutur yang hidup. Tutur yang mendekatkan. Tutur yang memberi rasa aman. Tutur yang tidak menguasai. Tutur yang tidak menghilang.

Di tengah dunia yang semakin bising, mungkin tantangan terbesar pengasuhan hari ini adalah menata kata. Mengurangi yang berlebih. Menambah yang kurang. Belajar berhenti pada waktu yang tepat. Belajar berbicara tanpa melukai. Belajar diam tanpa meninggalkan.

Esai ini tidak menawarkan resep. Ia juga tidak menutup dengan kesimpulan yang rapi. Ia hanya mengajak kita berhenti sejenak. Mendengar kembali cara kita bertutur di rumah. Lalu bertanya dengan jujur. Apakah kata-kata kita selama ini menjadi jembatan. Atau justru tembok yang pelan-pelan menjauhkan. Dari pertanyaan itulah mungkin parenting ala Bali bisa terus hidup. Berubah. Bertumbuh. Tanpa kehilangan rohnya. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: baliparenting
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Senjakala Hierarki Informasi: Ketika Media Sosial Melumat Segalanya

Next Post

TikTok, Literasi Singkat, dan Nasib Buku Cetak di Era Scroll

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
TikTok, Literasi Singkat, dan Nasib Buku Cetak di Era Scroll

TikTok, Literasi Singkat, dan Nasib Buku Cetak di Era Scroll

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co