3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Kuangan Tutur’ dan ‘Lebihan Tutur’, Parenting ala Bali

Angga Wijaya by Angga Wijaya
January 14, 2026
in Esai
‘Kuangan Tutur’ dan ‘Lebihan Tutur’, Parenting ala Bali

SAYA kerap mengamati orang tua Bali dengan cara yang sederhana. Cara mereka memperlakukan kata-kata di rumah. Ada yang terlalu hemat bicara. Ada pula yang seolah tak pernah selesai menasihati. Dari sanalah saya melihat bagaimana anak-anak Bali tumbuh. Dari tutur yang ditahan. Dari tutur yang diluapkan. Dari kata-kata yang diucapkan setengah sadar dan dari keheningan yang terlalu lama dipelihara.

Dalam kehidupan orang Bali, tutur bukan sekadar alat komunikasi. Kata-kata dipercaya membawa daya. Ia bisa menjadi doa. Ia juga bisa menjadi luka yang bekerja pelan. Karena itu orang Bali mengenal ukuran dalam berbicara. Jangan kuangan tutur. Jangan lebihan tutur. Jangan kurang. Jangan berlebih. Prinsip ini terdengar sederhana. Namun dalam praktik pengasuhan, ia justru paling sering dilanggar tanpa disadari.

Kuangan tutur kerap hadir dalam rumah yang tampak tertib dan baik-baik saja. Orang tua bekerja keras. Anak disekolahkan. Kebutuhan fisik terpenuhi. Rumah terlihat aman. Namun ruang bicara jarang dibuka. Kata-kata hangat dianggap tak perlu. Penjelasan dirasa membuang waktu. Anak belajar memahami orang tua dengan cara menebak. Bukan dengan bertanya. Bukan dengan berdialog.

Diam sering disalahartikan sebagai kewibawaan. Seolah orang tua yang sedikit bicara adalah orang tua yang berwibawa. Padahal diam juga bisa menjadi jarak yang perlahan menjauhkan. Anak tumbuh peka membaca suasana. Mereka belajar mengenali perubahan nada napas. Gerak tubuh. Ekspresi wajah. Tetapi kehilangan keberanian menyampaikan perasaan. Kesalahan kecil bisa memicu kemarahan yang selama ini ditahan. Keberhasilan jarang mendapat pengakuan. Dari situ anak belajar patuh. Bukan percaya diri.

Saya tumbuh dalam pola seperti ini. Kata bangga jarang diucapkan. Bukan karena orang tua tidak bangga. Kebanggaan dianggap cukup disimpan. Prestasi sering dibalas dengan peringatan agar tidak besar kepala. Agar tidak cepat puas. Kalimat yang dimaksudkan sebagai pengingat. Tetapi perlahan mengikis keyakinan diri. Saya belajar bekerja keras. Namun ragu merayakan capaian sendiri.

Pengalaman ini tidak unik. Banyak anak Bali tumbuh dengan pola serupa. Mereka tangguh. Mandiri. Tetapi canggung menyebut perasaan. Sulit meminta bantuan. Terbiasa memendam. Kuangan tutur membentuk generasi yang kuat di luar. Namun rapuh di dalam. Generasi yang jarang mengeluh. Tetapi juga jarang merasa cukup.

Di sisi lain, lebihan tutur hadir dengan wajah berbeda. Orang tua berbicara hampir tanpa jeda. Semua hal dikomentari. Semua langkah diarahkan. Dari cara duduk. Cara berbicara. Cara berpakaian. Cara berteman. Nasihat mengalir dari pagi hingga malam. Diam dianggap lalai. Bicara terus-menerus dianggap tanda perhatian. Anak dikelilingi kata-kata tanpa sempat bernapas.

Lebihan tutur sering lahir dari kecemasan. Dunia dianggap terlalu berbahaya. Anak harus dijaga dengan kata-kata. Orang tua merasa harus selalu hadir lewat nasihat. Takut anak salah jalan. Takut anak gagal. Takut anak tidak sesuai harapan. Niatnya baik. Tetapi kata-kata yang terlalu banyak kehilangan daya. Anak mendengar. Tetapi tidak menyimak. Mereka tahu kalimatnya. Namun tidak lagi merasakan maknanya.

Saya melihat bagaimana anak-anak belajar menyaring cerita. Tidak semua hal layak dibagi. Tidak semua pengalaman aman diceritakan. Rumah berubah menjadi ruang evaluasi. Setiap kisah bisa berujung ceramah. Setiap kesalahan menjadi daftar panjang koreksi. Diam menjadi pilihan paling aman. Bukan karena tidak percaya. Tetapi karena lelah.

Dalam kebudayaan Bali, kuangan tutur dan lebihan tutur sejatinya berada di titik yang sama. Keduanya menandai ketidakseimbangan. Tutur yang baik bukan soal jumlah. Ia soal ketepatan. Ia tahu kapan harus hadir. Ia tahu kapan harus berhenti. Ia tidak lahir dari emosi sesaat. Ia lahir dari kesadaran.

Prinsip ini sejalan dengan konsep desa, kala, patra. Tidak semua hal disampaikan dengan cara yang sama. Tidak semua situasi membutuhkan kata-kata. Anak kecil tidak diperlakukan seperti orang dewasa. Remaja tidak diperlakukan seperti anak kecil. Kesalahan tidak selalu ditegur dengan suara keras. Kebaikan tidak selalu harus dipuji berlebihan. Semua ada takarannya.

Namun keseimbangan ini semakin sulit dijaga hari ini. Tekanan hidup membuat banyak orang tua kelelahan. Pekerjaan menyita energi. Waktu habis di luar rumah. Media sosial menambah kebisingan. Semua orang bicara. Semua orang menasihati. Semua orang merasa punya rumus paling benar. Di rumah justru sering terjadi keheningan yang canggung.

Anak-anak Bali generasi sekarang hidup dalam paradoks. Di luar mereka dibanjiri kata-kata. Di layar mereka berkomunikasi tanpa henti. Di media sosial mereka belajar mengekspresikan diri. Namun di dalam rumah dialog justru minim. Mereka fasih berbicara di ruang digital. Namun gagap menyampaikan perasaan kepada orang tua.

Sebagai pengamat, saya melihat ini bukan semata kesalahan individu. Pola asuh diwariskan. Orang tua hari ini dibesarkan oleh orang tua yang juga belajar diam atau berbicara dengan caranya sendiri. Luka yang tidak dikenali diteruskan. Kadang dalam bentuk kata keras. Kadang dalam bentuk diam yang panjang. Semua berlangsung tanpa niat jahat.

Dalam tradisi Bali, tutur adalah laku hidup. Ia bagian dari upaya menjaga harmoni. Menjaga hubungan dengan sesama. Menjaga hubungan dengan diri sendiri. Menegur tidak harus merendahkan. Menasihati tidak harus menggurui. Memuji tidak harus membuat anak lupa diri. Semua mungkin dilakukan jika orang tua mau hadir sebagai manusia. Bukan sekadar figur otoritas.

Pengalaman pribadi mengajarkan saya satu hal. Satu kalimat yang jujur bisa bertahan seumur hidup. Kalimat sederhana yang diucapkan pada waktu yang tepat bisa menjadi pegangan. Sebaliknya satu kalimat yang diucapkan dalam emosi bisa menjadi luka yang menetap. Bahkan keheningan tertentu terasa lebih menyakitkan daripada kemarahan yang jujur.

Saya pernah merasa lebih terluka oleh tidak adanya kata. Bukan oleh kata yang keras. Karena dalam diam, anak dibiarkan menafsir sendiri. Dan tafsir anak sering kali lebih kejam daripada kenyataan. Kuangan tutur memberi ruang bagi asumsi. Lebihan tutur memberi ruang bagi ketakutan. Keduanya sama-sama melelahkan.

Parenting ala Bali tidak seharusnya terjebak pada romantisasi masa lalu. Tidak semua yang lama selalu benar. Tidak semua yang baru harus ditolak. Tradisi bukan benda mati. Ia hidup. Ia berubah. Kuangan tutur dan lebihan tutur perlu dibaca ulang. Sebagai cermin. Bukan sebagai dogma.

Anak-anak tidak hanya tumbuh dari apa yang kita katakan. Mereka tumbuh dari cara kita berbicara. Dari nada suara. Dari ekspresi wajah. Dari kesediaan mendengar tanpa menghakimi. Dari keberanian meminta maaf ketika salah. Dari ruang aman yang dibangun perlahan.

Saya percaya rumah yang sehat bukan rumah tanpa konflik. Juga bukan rumah yang penuh nasihat. Rumah yang sehat memberi ruang pada tutur yang hidup. Tutur yang mendekatkan. Tutur yang memberi rasa aman. Tutur yang tidak menguasai. Tutur yang tidak menghilang.

Di tengah dunia yang semakin bising, mungkin tantangan terbesar pengasuhan hari ini adalah menata kata. Mengurangi yang berlebih. Menambah yang kurang. Belajar berhenti pada waktu yang tepat. Belajar berbicara tanpa melukai. Belajar diam tanpa meninggalkan.

Esai ini tidak menawarkan resep. Ia juga tidak menutup dengan kesimpulan yang rapi. Ia hanya mengajak kita berhenti sejenak. Mendengar kembali cara kita bertutur di rumah. Lalu bertanya dengan jujur. Apakah kata-kata kita selama ini menjadi jembatan. Atau justru tembok yang pelan-pelan menjauhkan. Dari pertanyaan itulah mungkin parenting ala Bali bisa terus hidup. Berubah. Bertumbuh. Tanpa kehilangan rohnya. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: baliparenting
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Senjakala Hierarki Informasi: Ketika Media Sosial Melumat Segalanya

Next Post

TikTok, Literasi Singkat, dan Nasib Buku Cetak di Era Scroll

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails
Next Post
TikTok, Literasi Singkat, dan Nasib Buku Cetak di Era Scroll

TikTok, Literasi Singkat, dan Nasib Buku Cetak di Era Scroll

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co