2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Kuangan Tutur’ dan ‘Lebihan Tutur’, Parenting ala Bali

Angga Wijaya by Angga Wijaya
January 14, 2026
in Esai
‘Kuangan Tutur’ dan ‘Lebihan Tutur’, Parenting ala Bali

SAYA kerap mengamati orang tua Bali dengan cara yang sederhana. Cara mereka memperlakukan kata-kata di rumah. Ada yang terlalu hemat bicara. Ada pula yang seolah tak pernah selesai menasihati. Dari sanalah saya melihat bagaimana anak-anak Bali tumbuh. Dari tutur yang ditahan. Dari tutur yang diluapkan. Dari kata-kata yang diucapkan setengah sadar dan dari keheningan yang terlalu lama dipelihara.

Dalam kehidupan orang Bali, tutur bukan sekadar alat komunikasi. Kata-kata dipercaya membawa daya. Ia bisa menjadi doa. Ia juga bisa menjadi luka yang bekerja pelan. Karena itu orang Bali mengenal ukuran dalam berbicara. Jangan kuangan tutur. Jangan lebihan tutur. Jangan kurang. Jangan berlebih. Prinsip ini terdengar sederhana. Namun dalam praktik pengasuhan, ia justru paling sering dilanggar tanpa disadari.

Kuangan tutur kerap hadir dalam rumah yang tampak tertib dan baik-baik saja. Orang tua bekerja keras. Anak disekolahkan. Kebutuhan fisik terpenuhi. Rumah terlihat aman. Namun ruang bicara jarang dibuka. Kata-kata hangat dianggap tak perlu. Penjelasan dirasa membuang waktu. Anak belajar memahami orang tua dengan cara menebak. Bukan dengan bertanya. Bukan dengan berdialog.

Diam sering disalahartikan sebagai kewibawaan. Seolah orang tua yang sedikit bicara adalah orang tua yang berwibawa. Padahal diam juga bisa menjadi jarak yang perlahan menjauhkan. Anak tumbuh peka membaca suasana. Mereka belajar mengenali perubahan nada napas. Gerak tubuh. Ekspresi wajah. Tetapi kehilangan keberanian menyampaikan perasaan. Kesalahan kecil bisa memicu kemarahan yang selama ini ditahan. Keberhasilan jarang mendapat pengakuan. Dari situ anak belajar patuh. Bukan percaya diri.

Saya tumbuh dalam pola seperti ini. Kata bangga jarang diucapkan. Bukan karena orang tua tidak bangga. Kebanggaan dianggap cukup disimpan. Prestasi sering dibalas dengan peringatan agar tidak besar kepala. Agar tidak cepat puas. Kalimat yang dimaksudkan sebagai pengingat. Tetapi perlahan mengikis keyakinan diri. Saya belajar bekerja keras. Namun ragu merayakan capaian sendiri.

Pengalaman ini tidak unik. Banyak anak Bali tumbuh dengan pola serupa. Mereka tangguh. Mandiri. Tetapi canggung menyebut perasaan. Sulit meminta bantuan. Terbiasa memendam. Kuangan tutur membentuk generasi yang kuat di luar. Namun rapuh di dalam. Generasi yang jarang mengeluh. Tetapi juga jarang merasa cukup.

Di sisi lain, lebihan tutur hadir dengan wajah berbeda. Orang tua berbicara hampir tanpa jeda. Semua hal dikomentari. Semua langkah diarahkan. Dari cara duduk. Cara berbicara. Cara berpakaian. Cara berteman. Nasihat mengalir dari pagi hingga malam. Diam dianggap lalai. Bicara terus-menerus dianggap tanda perhatian. Anak dikelilingi kata-kata tanpa sempat bernapas.

Lebihan tutur sering lahir dari kecemasan. Dunia dianggap terlalu berbahaya. Anak harus dijaga dengan kata-kata. Orang tua merasa harus selalu hadir lewat nasihat. Takut anak salah jalan. Takut anak gagal. Takut anak tidak sesuai harapan. Niatnya baik. Tetapi kata-kata yang terlalu banyak kehilangan daya. Anak mendengar. Tetapi tidak menyimak. Mereka tahu kalimatnya. Namun tidak lagi merasakan maknanya.

Saya melihat bagaimana anak-anak belajar menyaring cerita. Tidak semua hal layak dibagi. Tidak semua pengalaman aman diceritakan. Rumah berubah menjadi ruang evaluasi. Setiap kisah bisa berujung ceramah. Setiap kesalahan menjadi daftar panjang koreksi. Diam menjadi pilihan paling aman. Bukan karena tidak percaya. Tetapi karena lelah.

Dalam kebudayaan Bali, kuangan tutur dan lebihan tutur sejatinya berada di titik yang sama. Keduanya menandai ketidakseimbangan. Tutur yang baik bukan soal jumlah. Ia soal ketepatan. Ia tahu kapan harus hadir. Ia tahu kapan harus berhenti. Ia tidak lahir dari emosi sesaat. Ia lahir dari kesadaran.

Prinsip ini sejalan dengan konsep desa, kala, patra. Tidak semua hal disampaikan dengan cara yang sama. Tidak semua situasi membutuhkan kata-kata. Anak kecil tidak diperlakukan seperti orang dewasa. Remaja tidak diperlakukan seperti anak kecil. Kesalahan tidak selalu ditegur dengan suara keras. Kebaikan tidak selalu harus dipuji berlebihan. Semua ada takarannya.

Namun keseimbangan ini semakin sulit dijaga hari ini. Tekanan hidup membuat banyak orang tua kelelahan. Pekerjaan menyita energi. Waktu habis di luar rumah. Media sosial menambah kebisingan. Semua orang bicara. Semua orang menasihati. Semua orang merasa punya rumus paling benar. Di rumah justru sering terjadi keheningan yang canggung.

Anak-anak Bali generasi sekarang hidup dalam paradoks. Di luar mereka dibanjiri kata-kata. Di layar mereka berkomunikasi tanpa henti. Di media sosial mereka belajar mengekspresikan diri. Namun di dalam rumah dialog justru minim. Mereka fasih berbicara di ruang digital. Namun gagap menyampaikan perasaan kepada orang tua.

Sebagai pengamat, saya melihat ini bukan semata kesalahan individu. Pola asuh diwariskan. Orang tua hari ini dibesarkan oleh orang tua yang juga belajar diam atau berbicara dengan caranya sendiri. Luka yang tidak dikenali diteruskan. Kadang dalam bentuk kata keras. Kadang dalam bentuk diam yang panjang. Semua berlangsung tanpa niat jahat.

Dalam tradisi Bali, tutur adalah laku hidup. Ia bagian dari upaya menjaga harmoni. Menjaga hubungan dengan sesama. Menjaga hubungan dengan diri sendiri. Menegur tidak harus merendahkan. Menasihati tidak harus menggurui. Memuji tidak harus membuat anak lupa diri. Semua mungkin dilakukan jika orang tua mau hadir sebagai manusia. Bukan sekadar figur otoritas.

Pengalaman pribadi mengajarkan saya satu hal. Satu kalimat yang jujur bisa bertahan seumur hidup. Kalimat sederhana yang diucapkan pada waktu yang tepat bisa menjadi pegangan. Sebaliknya satu kalimat yang diucapkan dalam emosi bisa menjadi luka yang menetap. Bahkan keheningan tertentu terasa lebih menyakitkan daripada kemarahan yang jujur.

Saya pernah merasa lebih terluka oleh tidak adanya kata. Bukan oleh kata yang keras. Karena dalam diam, anak dibiarkan menafsir sendiri. Dan tafsir anak sering kali lebih kejam daripada kenyataan. Kuangan tutur memberi ruang bagi asumsi. Lebihan tutur memberi ruang bagi ketakutan. Keduanya sama-sama melelahkan.

Parenting ala Bali tidak seharusnya terjebak pada romantisasi masa lalu. Tidak semua yang lama selalu benar. Tidak semua yang baru harus ditolak. Tradisi bukan benda mati. Ia hidup. Ia berubah. Kuangan tutur dan lebihan tutur perlu dibaca ulang. Sebagai cermin. Bukan sebagai dogma.

Anak-anak tidak hanya tumbuh dari apa yang kita katakan. Mereka tumbuh dari cara kita berbicara. Dari nada suara. Dari ekspresi wajah. Dari kesediaan mendengar tanpa menghakimi. Dari keberanian meminta maaf ketika salah. Dari ruang aman yang dibangun perlahan.

Saya percaya rumah yang sehat bukan rumah tanpa konflik. Juga bukan rumah yang penuh nasihat. Rumah yang sehat memberi ruang pada tutur yang hidup. Tutur yang mendekatkan. Tutur yang memberi rasa aman. Tutur yang tidak menguasai. Tutur yang tidak menghilang.

Di tengah dunia yang semakin bising, mungkin tantangan terbesar pengasuhan hari ini adalah menata kata. Mengurangi yang berlebih. Menambah yang kurang. Belajar berhenti pada waktu yang tepat. Belajar berbicara tanpa melukai. Belajar diam tanpa meninggalkan.

Esai ini tidak menawarkan resep. Ia juga tidak menutup dengan kesimpulan yang rapi. Ia hanya mengajak kita berhenti sejenak. Mendengar kembali cara kita bertutur di rumah. Lalu bertanya dengan jujur. Apakah kata-kata kita selama ini menjadi jembatan. Atau justru tembok yang pelan-pelan menjauhkan. Dari pertanyaan itulah mungkin parenting ala Bali bisa terus hidup. Berubah. Bertumbuh. Tanpa kehilangan rohnya. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: baliparenting
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Senjakala Hierarki Informasi: Ketika Media Sosial Melumat Segalanya

Next Post

TikTok, Literasi Singkat, dan Nasib Buku Cetak di Era Scroll

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
TikTok, Literasi Singkat, dan Nasib Buku Cetak di Era Scroll

TikTok, Literasi Singkat, dan Nasib Buku Cetak di Era Scroll

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co