13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

TikTok, Literasi Singkat, dan Nasib Buku Cetak di Era Scroll

Khairul A. El Maliky by Khairul A. El Maliky
January 14, 2026
in Esai
TikTok, Literasi Singkat, dan Nasib Buku Cetak di Era Scroll

Pendahuluan: Ketika Membaca Tak Lagi Memerlukan Kesabaran

Suatu sore yang lengang di sebuah toko buku kecil, rak-rak kayu masih berdiri setia memeluk buku-buku yang tertata rapi. Sampul-sampul berwarna cerah menatap kosong ke arah pintu, seolah berharap ada tangan yang menyentuhnya, membuka halaman demi halaman, lalu membawanya pulang. Namun harapan itu sering pupus. Yang terdengar bukan lagi suara halaman dibalik, melainkan notifikasi ponsel yang berdenting nyaring.

Beberapa pengunjung masuk, berhenti sebentar, memotret rak buku, lalu pergi. Buku-buku itu bukan dibeli, melainkan dijadikan latar konten. Rak buku menjelma properti visual, bukan lagi sumber pengetahuan.

Di luar toko, dunia bergerak jauh lebih cepat. Jempol manusia kini lebih sering menggeser layar ketimbang membuka halaman. Dalam hitungan detik, ratusan video bisa lewat di depan mata.

TikTok—dengan format video pendek, visual mencolok, musik menggugah, dan narasi serba ringkas—menjadi ruang baru tempat hiburan, opini, gosip, bahkan pengetahuan disajikan tanpa jeda.

Pertanyaannya bukan lagi apakah manusia masih membaca, melainkan bagaimana cara membaca itu berubah. Dan di balik perubahan besar ini, ada satu pihak yang terdampak paling sunyi, paling jarang disuarakan: buku cetak dan toko buku offline.

1. Literasi di Era Scroll: Dari Kedalaman Menuju Kecepatan

Membaca, pada masa lalu, adalah sebuah laku sabar. Ia menuntut waktu, keheningan, dan fokus. Membaca berarti menunda kesenangan instan demi pemahaman yang perlahan tumbuh. Duduk lama bersama buku bukan dianggap membosankan, melainkan menenangkan.

Namun hari ini, membaca sering kali berarti menangkap inti secepat mungkin, lalu berpindah ke konten berikutnya. Era scroll mengajarkan bahwa perhatian adalah komoditas langka. Siapa yang gagal menarik perhatian dalam tiga detik pertama, akan ditinggalkan tanpa penyesalan.

TikTok bukan sekadar aplikasi hiburan. Ia adalah arsitek kebiasaan kognitif baru. Informasi harus singkat, padat, visual, dan segera memikat. Tidak ada ruang untuk bertele-tele. Tidak ada waktu untuk berpikir panjang. Semua harus cepat, atau ditinggalkan.

Perubahan ini perlahan membentuk ulang cara otak bekerja. Konsentrasi menjadi rapuh. Kesabaran menipis. Teks panjang terasa melelahkan, bahkan menakutkan. Buku dengan ratusan halaman mulai tampak seperti beban mental, bukan lagi petualangan intelektual.

Fenomena ini oleh banyak peneliti disebut sebagai pergeseran dari deep reading ke surface reading. Kita masih membaca, tetapi jarang benar-benar tenggelam. Kita tahu banyak hal, tetapi dangkal. Kita akrab dengan ringkasan, tetapi asing dengan perenungan.

Masalahnya bukan pada kecerdasan manusia yang menurun. Yang berubah adalah cara berpikir dan cara berinteraksi dengan pengetahuan.

2. TikTok Bukan Musuh Tunggal Literasi

Menyalahkan TikTok sepenuhnya adalah sikap tergesa-gesa. Sejarah menunjukkan bahwa setiap teknologi baru selalu dituding sebagai biang kemunduran intelektual. Radio pernah dianggap merusak budaya membaca. Televisi dituduh membuat generasi pasif. Internet disebut membunuh buku.

Namun nyatanya, buku tetap bertahan.

TikTok justru menghadirkan paradoks menarik. Di tengah budaya scroll yang dangkal, muncul fenomena yang tidak terduga: BookTok. Sebuah ruang digital tempat buku—yang katanya sekarat—justru dibicarakan dengan penuh gairah.

Di BookTok, buku tidak dikaji secara akademik. Tidak ada istilah teoritis yang rumit. Tidak ada resensi panjang dengan bahasa kaku. Yang ada adalah emosi. Tangisan. Tawa. Amarah. Kekaguman. Buku dibicarakan sebagai pengalaman hidup, bukan sebagai objek intelektual yang menakutkan.

Ironisnya, banyak anak muda hari ini kembali membeli buku cetak bukan karena rekomendasi guru atau dosen, melainkan karena video TikTok berdurasi 30 detik.

TikTok, yang sering dituduh membunuh literasi, justru membuka pintu baru menuju buku.

3. BookTok dan Kebangkitan yang Tidak Terduga

BookTok membuktikan satu hal penting: minat baca tidak mati—ia hanya berpindah jalur masuk. Anak muda hari ini jarang masuk toko buku karena “ingin membaca”, tetapi karena ingin merasakan apa yang sedang ramai dibicarakan komunitasnya.

Sebuah buku bisa viral bukan karena kedalaman filosofisnya, melainkan karena resonansi emosionalnya. Karena satu kalimat menyentuh. Karena satu karakter terasa hidup. Karena satu akhir cerita menghancurkan perasaan.

Ketika satu video BookTok viral, dampaknya nyata. Buku lama dicetak ulang. Penulis yang nyaris dilupakan kembali dicari. Rak toko buku kembali bergerak.

Namun ada catatan penting yang tak bisa diabaikan. Buku yang laris di BookTok umumnya adalah buku yang mudah dicerna: novel romansa, fantasi, young adult, atau self-help singkat. Buku filsafat tebal? Buku sejarah mendalam? Buku kajian kritis? Masih sepi peminat.

Artinya, BookTok memang menghidupkan minat baca, tetapi belum tentu memperdalam literasi. Ia adalah pintu masuk, bukan ruang perenungan terakhir.

4. Literasi Singkat: Antara Berkah dan Bencana

Literasi singkat bukan sepenuhnya buruk. Dalam dunia yang dipenuhi informasi, kemampuan menangkap inti dengan cepat adalah keterampilan penting. Tidak semua hal perlu dibaca panjang. Tidak semua pengetahuan membutuhkan buku tebal.

Masalah muncul ketika literasi singkat menjadi satu-satunya cara berpikir. Ketika manusia hanya sanggup berinteraksi dengan ide selama 30 detik. Ketika perhatian menjadi begitu rapuh sehingga satu paragraf terasa terlalu berat.

Buku tidak hanya menyampaikan informasi. Ia melatih kesabaran. Ia menumbuhkan empati. Ia membiasakan pikiran untuk tinggal lama bersama satu gagasan, bahkan ketika gagasan itu sulit.

Membaca buku adalah latihan mental. Dan seperti otot, jika jarang digunakan, ia melemah.

Kekhawatiran terbesar dari era scroll bukanlah hilangnya buku, melainkan hilangnya kemampuan manusia untuk berpikir mendalam.

5. Toko Buku Offline: Antara Sepi dan Harapan

Dampak perubahan ini paling terasa di toko buku offline. Kunjungan menurun. Pembelian berpindah ke online. Banyak toko kecil tumbang tanpa upacara perpisahan.

Namun tidak semua menyerah.

Ada toko buku yang bertahan—bahkan tumbuh—karena menyadari satu hal penting: toko buku bukan lagi sekadar tempat jual beli. Ia harus menjadi ruang pengalaman.

Toko buku yang bertahan biasanya menjelma menjadi:

ruang diskusi
tempat nongkrong intelektual
lokasi peluncuran buku
titik temu komunitas literasi

Beberapa bahkan memanfaatkan TikTok sebagai etalase digital. Mereka merekam rak buku, membagikan rekomendasi singkat, menampilkan suasana toko. Scroll digital membawa orang ke pintu toko fisik.

Di sinilah terlihat bahwa online dan offline bukan musuh, melainkan mitra.

6. Buku Cetak dan Keintiman yang Tak Bisa Digantikan

Di tengah kemudahan digital, buku cetak tetap memiliki keunggulan yang tak bisa disalin layar:

Ia tidak berkedip
Tidak berisik
Tidak mengalihkan perhatian

Buku mengajak pembacanya masuk ke ritme lambat—ritme yang kini langka. Di dunia yang serba cepat, justru kelambatan itulah nilai paling mahal.

Buku cetak bukan sekadar media informasi. Ia adalah pengalaman fisik dan emosional. Bau kertas. Berat buku. Garis yang bisa disorot. Semua itu membangun hubungan personal yang tidak bisa diberikan layar.

Membaca buku cetak adalah bentuk perlawanan sunyi terhadap dunia yang terlalu cepat.

7. Menjembatani Dua Dunia, Bukan Memilih Salah Satu

Kesalahan terbesar dalam diskusi literasi hari ini adalah dikotomi palsu: seolah kita harus memilih antara TikTok atau buku. Padahal yang dibutuhkan adalah jembatan.

TikTok bisa menjadi pintu masuk. Buku menjadi ruang pendalaman. Video singkat memancing rasa ingin tahu. Teks panjang memuaskan dahaga intelektual.

Sekolah, perpustakaan, dan toko buku perlu memahami ini. Literasi masa depan bukan soal menolak teknologi, tetapi menggunakannya tanpa kehilangan kedalaman.

8. Algoritma, Selera, dan Cara Kita Memilih Bacaan

Di balik setiap video yang muncul di layar, ada algoritma yang bekerja senyap. Ia mencatat apa yang kita tonton, berapa lama kita bertahan, apa yang kita lewati, dan apa yang kita ulang. Perlahan, algoritma itu membentuk selera kita—atau lebih tepatnya, mempersempitnya.

Dalam konteks literasi, algoritma tidak netral. Ia cenderung menyajikan apa yang mudah disukai, bukan apa yang menantang. Buku yang viral di TikTok sering kali bukan yang paling kompleks, tetapi yang paling mudah dirasakan secara emosional. Ini bukan kesalahan pembaca, melainkan konsekuensi dari sistem.

Masalahnya, ketika selera membaca sepenuhnya dibentuk oleh algoritma, ruang eksplorasi menjadi sempit. Kita membaca buku yang “mirip dengan yang sudah kita suka”, bukan yang memperluas cakrawala berpikir. Bacaan menjadi nyaman, tetapi tidak selalu memperkaya.

Di masa lalu, seseorang bisa tersesat di toko buku—secara harfiah dan intelektual. Ia masuk untuk membeli satu buku, pulang dengan buku lain yang sama sekali tak direncanakan. Hari ini, sistem rekomendasi digital jarang memberi ruang untuk kebetulan semacam itu.

Maka tantangan literasi di era scroll bukan hanya soal panjang teks, tetapi juga siapa yang menentukan apa yang kita baca.

9. Pendidikan di Tengah Krisis Perhatian

Sekolah dan lembaga pendidikan berada di persimpangan sulit. Di satu sisi, mereka dituntut menyesuaikan diri dengan zaman. Di sisi lain, mereka memikul tanggung jawab menjaga kedalaman berpikir.

Ketika siswa terbiasa dengan konten singkat dan visual, buku pelajaran terasa kaku, berat, dan membosankan. Guru sering diposisikan sebagai pihak yang “kalah menarik” dibandingkan layar. Akibatnya, muncul godaan untuk memendekkan semuanya: ringkasan, slide, potongan materi.

Adaptasi memang perlu. Namun jika pendidikan hanya mengejar keterjangkauan perhatian, maka ia kehilangan fungsinya sebagai ruang pembentukan nalar. Pendidikan bukan sekadar menyampaikan informasi, melainkan melatih ketahanan berpikir.

Membaca teks panjang di kelas bukan hukuman. Ia adalah latihan. Sama seperti olahraga yang melelahkan tetapi menyehatkan, membaca mendalam memang tidak selalu menyenangkan, tetapi membentuk struktur berpikir yang kuat.

Di sinilah pendidikan ditantang untuk mengajarkan kembali kesabaran sebagai keterampilan, bukan sekadar nilai moral.

10. Perpustakaan dan Ruang Baca sebagai Ruang Perlawanan Sunyi

Di tengah dunia yang semakin bising, perpustakaan seharusnya menjadi ruang hening yang dilindungi. Namun ironisnya, banyak perpustakaan hari ini justru sepi, terpinggirkan, dan kehilangan daya tarik.

Padahal, perpustakaan tidak harus menjadi ruang sunyi yang kaku. Ia bisa menjadi ruang hidup—tempat diskusi, bedah buku, baca puisi, hingga pertemuan komunitas. Yang dibutuhkan bukan sekadar renovasi bangunan, melainkan perubahan cara pandang.

Perpustakaan dan ruang baca komunitas adalah bentuk perlawanan sunyi terhadap logika kecepatan. Di sanalah orang belajar duduk lama, membaca tanpa distraksi, dan berpikir tanpa tuntutan viral.

Jika toko buku adalah ruang ekonomi literasi, maka perpustakaan adalah ruang etikanya. Keduanya saling melengkapi, bukan bersaing.

11. Penulis di Era Scroll: Antara Idealisme dan Adaptasi

Perubahan lanskap literasi juga memengaruhi penulis. Hari ini, menulis buku saja sering dianggap tidak cukup. Penulis dituntut hadir di media sosial, membuat konten, membangun personal branding, bahkan menjadi “produk” dari karyanya sendiri.

Sebagian penulis beradaptasi dengan membuat karya yang lebih ringkas, lebih ringan, dan lebih mudah dipasarkan. Tidak ada yang salah dengan itu. Namun ada risiko yang mengintai: ketika penulis mulai menulis demi algoritma, bukan demi gagasan.

Era scroll membutuhkan penulis yang cerdas membaca zaman, tetapi juga berani menjaga kedalaman. Menulis bukan hanya soal dibaca banyak orang, tetapi juga soal apa yang ditinggalkan dalam pikiran pembaca.

Buku yang baik tidak selalu viral. Namun ia bertahan lebih lama dari tren.

12. Masa Depan Buku Cetak: Bertahan dengan Cara Berbeda

Pertanyaan tentang masa depan buku cetak sering diajukan dengan nada cemas. Padahal, sejarah menunjukkan bahwa media lama jarang benar-benar mati. Ia hanya menemukan fungsi baru.

Buku cetak mungkin tidak lagi menjadi media utama informasi cepat. Namun justru di situlah kekuatannya: ia menjadi ruang kontemplasi. Ia dibaca bukan untuk segera tahu, tetapi untuk memahami.

Di masa depan, buku cetak kemungkinan akan lebih selektif. Tidak semua teks perlu dicetak. Tetapi buku yang dicetak akan memiliki nilai lebih—baik secara estetika, intelektual, maupun emosional.

Buku cetak akan bertahan bukan karena nostalgia, melainkan karena kebutuhan manusia akan kedalaman.

Penutup Tambahan: Membaca sebagai Tindakan Kemanusiaan

Di tengah dunia yang semakin terfragmentasi, membaca buku tetap berdiri sebagai tindakan kemanusiaan yang paling sederhana sekaligus paling radikal. Ia mengajak manusia berhenti sejenak dari arus yang terus memecah perhatian, untuk mendengar suara lain, meresapi pengalaman yang bukan miliknya, dan melihat kehidupan dari sudut pandang yang lebih luas. Membaca bukan pelarian dari kenyataan, melainkan cara paling jujur untuk memahaminya secara lebih utuh.

Era scroll tidak serta-merta menandai kemunduran literasi. Ia justru menghadirkan tantangan baru yang memaksa manusia mendefinisikan ulang apa arti membaca, memahami, dan berpikir. Di tengah derasnya informasi, membaca buku menjadi penanda kesadaran: bahwa tidak semua hal harus dipercepat, tidak semua persoalan harus disederhanakan, dan tidak semua perbedaan harus direspons dengan emosi singkat. Buku hadir bukan untuk menyaingi kecepatan zaman, melainkan untuk mengingatkan bahwa ada nilai dalam kelambatan.

Membaca sebagai tindakan kemanusiaan juga berarti menolak direduksi menjadi sekadar konsumen informasi. Ketika manusia diukur dari seberapa cepat ia merespons, seberapa sering ia muncul, dan seberapa ramai ia dilihat, membaca buku adalah bentuk keberanian untuk menjadi pelan. Ia melatih kesabaran intelektual—kesediaan untuk menunda penilaian, mengikuti argumen hingga tuntas, dan menerima bahwa kebenaran sering lahir dari proses yang berliku, bukan dari potongan konteks.

Dalam dunia yang gemar memotong cerita, buku justru mengajarkan keutuhan. Ia membiasakan pembaca menyimak gagasan secara lengkap, memahami latar belakang, dan menghargai kompleksitas. Dari situlah tumbuh sikap yang semakin langka: kesediaan untuk tidak selalu sepakat tanpa harus membenci, dan kemampuan untuk berbeda tanpa kehilangan empati. Membaca membuat manusia lebih sabar pada pikiran orang lain, bahkan ketika pandangan itu berseberangan dengan keyakinannya sendiri.

Lebih jauh, membaca adalah latihan empati paling sunyi. Novel, esai, dan memoar membuka pintu menuju kehidupan yang tak pernah kita jalani. Kita diajak memasuki batin yang asing, menyusuri konflik yang jauh dari pengalaman pribadi, dan memahami penderitaan yang mungkin tak pernah kita rasakan secara langsung. Di tengah dunia yang kian terpolarisasi, kemampuan ini menjadi penyangga kemanusiaan yang vital. Tanpa empati yang dilatih oleh bacaan panjang, manusia mudah terjebak dalam logika hitam-putih dan penghakiman instan.

Membaca juga menghadirkan keheningan batin—sebuah ruang yang kini semakin langka. Keheningan ini bukan kekosongan, melainkan ruang jujur tempat pikiran bekerja tanpa tekanan. Tidak ada notifikasi yang menuntut reaksi, tidak ada algoritma yang mengejar atensi, tidak ada angka yang harus dipertahankan. Dalam keheningan membaca, manusia berhadapan dengan dirinya sendiri: merenung, mempertanyakan, dan kadang menggugat ulang keyakinan yang selama ini diterima begitu saja.

Di titik inilah buku melampaui fungsinya sebagai medium. Ia menjadi ruang dialog batin yang intim. Banyak perubahan cara pandang, keputusan penting, dan pergeseran nilai hidup lahir dari pertemuan sunyi antara pembaca dan teks. Proses semacam ini hampir mustahil terjadi dalam pola konsumsi cepat yang menuntut perhatian terus terpecah dan reaksi segera.

Maka pertarungan literasi di era scroll sejatinya bukan antara buku dan teknologi, melainkan antara kedalaman dan ketercerabutan. Teknologi akan terus bergerak maju, dan manusia tidak mungkin kembali ke masa lalu. Namun manusia selalu memiliki pilihan: larut sepenuhnya dalam arus kecepatan, atau sesekali menepi untuk berpikir. Membaca buku adalah keputusan menepi itu—keputusan sadar untuk tidak selalu terhubung, tidak selalu bereaksi, dan tidak selalu mengikuti arus.

Pada akhirnya, literasi bukan hanya soal kemampuan membaca huruf, tetapi kemampuan membaca kehidupan. Dan kehidupan, seperti buku yang baik, tidak pernah bisa dipahami secara tergesa-gesa. Ia meminta kesabaran, keberanian untuk berdiam, dan kesediaan untuk mendengarkan hingga selesai. Selama manusia masih bersedia memberi ruang bagi proses itu—di sela-sela scroll, di antara notifikasi, di tengah hiruk pikuk zaman—maka membaca akan tetap hidup. Bukan sebagai nostalgia, bukan sebagai kewajiban, melainkan sebagai kebutuhan paling dasar manusia: memahami diri, memahami sesama, dan memahami dunia dengan lebih manusiawi.

Catatan Referensial Umum (Non-Kutipan Langsung)

  • Tulisan ini disusun dengan merujuk pada: kajian kognitif tentang perhatian dan konsumsi video pendek penelitian literasi digital dan perubahan perilaku membaca fenomena BookTok dalam industri penerbitan global laporan media nasional dan internasional tentang toko buku offline

Penulis: Khairul A. El Maliky
Editor: Made Adnyana Ole

Tags: BukuLiterasitiktok
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Kuangan Tutur’ dan ‘Lebihan Tutur’, Parenting ala Bali

Next Post

Tanah dan Apartemen untuk Orang Asing di Indonesia

Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky

Pengarang novel yang lahir di Kota Probolinggo. Buku terbarunya yang sudah terbit antara lain, Akad, Pintu Tauhid, Kalam, Kalam Cinta (Penerbit MNC, 2024) dan Pernikahan & Prasangka Cinta (Segera). Di sela-sela mengajar Sastra Indonesia, pengarang juga menulis dan mengirimkan cerpennya ke berbagai media massa.

Related Posts

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails

KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

by Sugi Lanus
July 7, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2026 Alkisah Balang Tamak, tokoh cerdik sekaligus satir dalam cerita rakyat Bali, pernah berpesan...

Read moreDetails
Next Post
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Tanah dan Apartemen untuk Orang Asing di Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co