2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

TikTok, Literasi Singkat, dan Nasib Buku Cetak di Era Scroll

Khairul A. El Maliky by Khairul A. El Maliky
January 14, 2026
in Esai
TikTok, Literasi Singkat, dan Nasib Buku Cetak di Era Scroll

Pendahuluan: Ketika Membaca Tak Lagi Memerlukan Kesabaran

Suatu sore yang lengang di sebuah toko buku kecil, rak-rak kayu masih berdiri setia memeluk buku-buku yang tertata rapi. Sampul-sampul berwarna cerah menatap kosong ke arah pintu, seolah berharap ada tangan yang menyentuhnya, membuka halaman demi halaman, lalu membawanya pulang. Namun harapan itu sering pupus. Yang terdengar bukan lagi suara halaman dibalik, melainkan notifikasi ponsel yang berdenting nyaring.

Beberapa pengunjung masuk, berhenti sebentar, memotret rak buku, lalu pergi. Buku-buku itu bukan dibeli, melainkan dijadikan latar konten. Rak buku menjelma properti visual, bukan lagi sumber pengetahuan.

Di luar toko, dunia bergerak jauh lebih cepat. Jempol manusia kini lebih sering menggeser layar ketimbang membuka halaman. Dalam hitungan detik, ratusan video bisa lewat di depan mata.

TikTok—dengan format video pendek, visual mencolok, musik menggugah, dan narasi serba ringkas—menjadi ruang baru tempat hiburan, opini, gosip, bahkan pengetahuan disajikan tanpa jeda.

Pertanyaannya bukan lagi apakah manusia masih membaca, melainkan bagaimana cara membaca itu berubah. Dan di balik perubahan besar ini, ada satu pihak yang terdampak paling sunyi, paling jarang disuarakan: buku cetak dan toko buku offline.

1. Literasi di Era Scroll: Dari Kedalaman Menuju Kecepatan

Membaca, pada masa lalu, adalah sebuah laku sabar. Ia menuntut waktu, keheningan, dan fokus. Membaca berarti menunda kesenangan instan demi pemahaman yang perlahan tumbuh. Duduk lama bersama buku bukan dianggap membosankan, melainkan menenangkan.

Namun hari ini, membaca sering kali berarti menangkap inti secepat mungkin, lalu berpindah ke konten berikutnya. Era scroll mengajarkan bahwa perhatian adalah komoditas langka. Siapa yang gagal menarik perhatian dalam tiga detik pertama, akan ditinggalkan tanpa penyesalan.

TikTok bukan sekadar aplikasi hiburan. Ia adalah arsitek kebiasaan kognitif baru. Informasi harus singkat, padat, visual, dan segera memikat. Tidak ada ruang untuk bertele-tele. Tidak ada waktu untuk berpikir panjang. Semua harus cepat, atau ditinggalkan.

Perubahan ini perlahan membentuk ulang cara otak bekerja. Konsentrasi menjadi rapuh. Kesabaran menipis. Teks panjang terasa melelahkan, bahkan menakutkan. Buku dengan ratusan halaman mulai tampak seperti beban mental, bukan lagi petualangan intelektual.

Fenomena ini oleh banyak peneliti disebut sebagai pergeseran dari deep reading ke surface reading. Kita masih membaca, tetapi jarang benar-benar tenggelam. Kita tahu banyak hal, tetapi dangkal. Kita akrab dengan ringkasan, tetapi asing dengan perenungan.

Masalahnya bukan pada kecerdasan manusia yang menurun. Yang berubah adalah cara berpikir dan cara berinteraksi dengan pengetahuan.

2. TikTok Bukan Musuh Tunggal Literasi

Menyalahkan TikTok sepenuhnya adalah sikap tergesa-gesa. Sejarah menunjukkan bahwa setiap teknologi baru selalu dituding sebagai biang kemunduran intelektual. Radio pernah dianggap merusak budaya membaca. Televisi dituduh membuat generasi pasif. Internet disebut membunuh buku.

Namun nyatanya, buku tetap bertahan.

TikTok justru menghadirkan paradoks menarik. Di tengah budaya scroll yang dangkal, muncul fenomena yang tidak terduga: BookTok. Sebuah ruang digital tempat buku—yang katanya sekarat—justru dibicarakan dengan penuh gairah.

Di BookTok, buku tidak dikaji secara akademik. Tidak ada istilah teoritis yang rumit. Tidak ada resensi panjang dengan bahasa kaku. Yang ada adalah emosi. Tangisan. Tawa. Amarah. Kekaguman. Buku dibicarakan sebagai pengalaman hidup, bukan sebagai objek intelektual yang menakutkan.

Ironisnya, banyak anak muda hari ini kembali membeli buku cetak bukan karena rekomendasi guru atau dosen, melainkan karena video TikTok berdurasi 30 detik.

TikTok, yang sering dituduh membunuh literasi, justru membuka pintu baru menuju buku.

3. BookTok dan Kebangkitan yang Tidak Terduga

BookTok membuktikan satu hal penting: minat baca tidak mati—ia hanya berpindah jalur masuk. Anak muda hari ini jarang masuk toko buku karena “ingin membaca”, tetapi karena ingin merasakan apa yang sedang ramai dibicarakan komunitasnya.

Sebuah buku bisa viral bukan karena kedalaman filosofisnya, melainkan karena resonansi emosionalnya. Karena satu kalimat menyentuh. Karena satu karakter terasa hidup. Karena satu akhir cerita menghancurkan perasaan.

Ketika satu video BookTok viral, dampaknya nyata. Buku lama dicetak ulang. Penulis yang nyaris dilupakan kembali dicari. Rak toko buku kembali bergerak.

Namun ada catatan penting yang tak bisa diabaikan. Buku yang laris di BookTok umumnya adalah buku yang mudah dicerna: novel romansa, fantasi, young adult, atau self-help singkat. Buku filsafat tebal? Buku sejarah mendalam? Buku kajian kritis? Masih sepi peminat.

Artinya, BookTok memang menghidupkan minat baca, tetapi belum tentu memperdalam literasi. Ia adalah pintu masuk, bukan ruang perenungan terakhir.

4. Literasi Singkat: Antara Berkah dan Bencana

Literasi singkat bukan sepenuhnya buruk. Dalam dunia yang dipenuhi informasi, kemampuan menangkap inti dengan cepat adalah keterampilan penting. Tidak semua hal perlu dibaca panjang. Tidak semua pengetahuan membutuhkan buku tebal.

Masalah muncul ketika literasi singkat menjadi satu-satunya cara berpikir. Ketika manusia hanya sanggup berinteraksi dengan ide selama 30 detik. Ketika perhatian menjadi begitu rapuh sehingga satu paragraf terasa terlalu berat.

Buku tidak hanya menyampaikan informasi. Ia melatih kesabaran. Ia menumbuhkan empati. Ia membiasakan pikiran untuk tinggal lama bersama satu gagasan, bahkan ketika gagasan itu sulit.

Membaca buku adalah latihan mental. Dan seperti otot, jika jarang digunakan, ia melemah.

Kekhawatiran terbesar dari era scroll bukanlah hilangnya buku, melainkan hilangnya kemampuan manusia untuk berpikir mendalam.

5. Toko Buku Offline: Antara Sepi dan Harapan

Dampak perubahan ini paling terasa di toko buku offline. Kunjungan menurun. Pembelian berpindah ke online. Banyak toko kecil tumbang tanpa upacara perpisahan.

Namun tidak semua menyerah.

Ada toko buku yang bertahan—bahkan tumbuh—karena menyadari satu hal penting: toko buku bukan lagi sekadar tempat jual beli. Ia harus menjadi ruang pengalaman.

Toko buku yang bertahan biasanya menjelma menjadi:

ruang diskusi
tempat nongkrong intelektual
lokasi peluncuran buku
titik temu komunitas literasi

Beberapa bahkan memanfaatkan TikTok sebagai etalase digital. Mereka merekam rak buku, membagikan rekomendasi singkat, menampilkan suasana toko. Scroll digital membawa orang ke pintu toko fisik.

Di sinilah terlihat bahwa online dan offline bukan musuh, melainkan mitra.

6. Buku Cetak dan Keintiman yang Tak Bisa Digantikan

Di tengah kemudahan digital, buku cetak tetap memiliki keunggulan yang tak bisa disalin layar:

Ia tidak berkedip
Tidak berisik
Tidak mengalihkan perhatian

Buku mengajak pembacanya masuk ke ritme lambat—ritme yang kini langka. Di dunia yang serba cepat, justru kelambatan itulah nilai paling mahal.

Buku cetak bukan sekadar media informasi. Ia adalah pengalaman fisik dan emosional. Bau kertas. Berat buku. Garis yang bisa disorot. Semua itu membangun hubungan personal yang tidak bisa diberikan layar.

Membaca buku cetak adalah bentuk perlawanan sunyi terhadap dunia yang terlalu cepat.

7. Menjembatani Dua Dunia, Bukan Memilih Salah Satu

Kesalahan terbesar dalam diskusi literasi hari ini adalah dikotomi palsu: seolah kita harus memilih antara TikTok atau buku. Padahal yang dibutuhkan adalah jembatan.

TikTok bisa menjadi pintu masuk. Buku menjadi ruang pendalaman. Video singkat memancing rasa ingin tahu. Teks panjang memuaskan dahaga intelektual.

Sekolah, perpustakaan, dan toko buku perlu memahami ini. Literasi masa depan bukan soal menolak teknologi, tetapi menggunakannya tanpa kehilangan kedalaman.

8. Algoritma, Selera, dan Cara Kita Memilih Bacaan

Di balik setiap video yang muncul di layar, ada algoritma yang bekerja senyap. Ia mencatat apa yang kita tonton, berapa lama kita bertahan, apa yang kita lewati, dan apa yang kita ulang. Perlahan, algoritma itu membentuk selera kita—atau lebih tepatnya, mempersempitnya.

Dalam konteks literasi, algoritma tidak netral. Ia cenderung menyajikan apa yang mudah disukai, bukan apa yang menantang. Buku yang viral di TikTok sering kali bukan yang paling kompleks, tetapi yang paling mudah dirasakan secara emosional. Ini bukan kesalahan pembaca, melainkan konsekuensi dari sistem.

Masalahnya, ketika selera membaca sepenuhnya dibentuk oleh algoritma, ruang eksplorasi menjadi sempit. Kita membaca buku yang “mirip dengan yang sudah kita suka”, bukan yang memperluas cakrawala berpikir. Bacaan menjadi nyaman, tetapi tidak selalu memperkaya.

Di masa lalu, seseorang bisa tersesat di toko buku—secara harfiah dan intelektual. Ia masuk untuk membeli satu buku, pulang dengan buku lain yang sama sekali tak direncanakan. Hari ini, sistem rekomendasi digital jarang memberi ruang untuk kebetulan semacam itu.

Maka tantangan literasi di era scroll bukan hanya soal panjang teks, tetapi juga siapa yang menentukan apa yang kita baca.

9. Pendidikan di Tengah Krisis Perhatian

Sekolah dan lembaga pendidikan berada di persimpangan sulit. Di satu sisi, mereka dituntut menyesuaikan diri dengan zaman. Di sisi lain, mereka memikul tanggung jawab menjaga kedalaman berpikir.

Ketika siswa terbiasa dengan konten singkat dan visual, buku pelajaran terasa kaku, berat, dan membosankan. Guru sering diposisikan sebagai pihak yang “kalah menarik” dibandingkan layar. Akibatnya, muncul godaan untuk memendekkan semuanya: ringkasan, slide, potongan materi.

Adaptasi memang perlu. Namun jika pendidikan hanya mengejar keterjangkauan perhatian, maka ia kehilangan fungsinya sebagai ruang pembentukan nalar. Pendidikan bukan sekadar menyampaikan informasi, melainkan melatih ketahanan berpikir.

Membaca teks panjang di kelas bukan hukuman. Ia adalah latihan. Sama seperti olahraga yang melelahkan tetapi menyehatkan, membaca mendalam memang tidak selalu menyenangkan, tetapi membentuk struktur berpikir yang kuat.

Di sinilah pendidikan ditantang untuk mengajarkan kembali kesabaran sebagai keterampilan, bukan sekadar nilai moral.

10. Perpustakaan dan Ruang Baca sebagai Ruang Perlawanan Sunyi

Di tengah dunia yang semakin bising, perpustakaan seharusnya menjadi ruang hening yang dilindungi. Namun ironisnya, banyak perpustakaan hari ini justru sepi, terpinggirkan, dan kehilangan daya tarik.

Padahal, perpustakaan tidak harus menjadi ruang sunyi yang kaku. Ia bisa menjadi ruang hidup—tempat diskusi, bedah buku, baca puisi, hingga pertemuan komunitas. Yang dibutuhkan bukan sekadar renovasi bangunan, melainkan perubahan cara pandang.

Perpustakaan dan ruang baca komunitas adalah bentuk perlawanan sunyi terhadap logika kecepatan. Di sanalah orang belajar duduk lama, membaca tanpa distraksi, dan berpikir tanpa tuntutan viral.

Jika toko buku adalah ruang ekonomi literasi, maka perpustakaan adalah ruang etikanya. Keduanya saling melengkapi, bukan bersaing.

11. Penulis di Era Scroll: Antara Idealisme dan Adaptasi

Perubahan lanskap literasi juga memengaruhi penulis. Hari ini, menulis buku saja sering dianggap tidak cukup. Penulis dituntut hadir di media sosial, membuat konten, membangun personal branding, bahkan menjadi “produk” dari karyanya sendiri.

Sebagian penulis beradaptasi dengan membuat karya yang lebih ringkas, lebih ringan, dan lebih mudah dipasarkan. Tidak ada yang salah dengan itu. Namun ada risiko yang mengintai: ketika penulis mulai menulis demi algoritma, bukan demi gagasan.

Era scroll membutuhkan penulis yang cerdas membaca zaman, tetapi juga berani menjaga kedalaman. Menulis bukan hanya soal dibaca banyak orang, tetapi juga soal apa yang ditinggalkan dalam pikiran pembaca.

Buku yang baik tidak selalu viral. Namun ia bertahan lebih lama dari tren.

12. Masa Depan Buku Cetak: Bertahan dengan Cara Berbeda

Pertanyaan tentang masa depan buku cetak sering diajukan dengan nada cemas. Padahal, sejarah menunjukkan bahwa media lama jarang benar-benar mati. Ia hanya menemukan fungsi baru.

Buku cetak mungkin tidak lagi menjadi media utama informasi cepat. Namun justru di situlah kekuatannya: ia menjadi ruang kontemplasi. Ia dibaca bukan untuk segera tahu, tetapi untuk memahami.

Di masa depan, buku cetak kemungkinan akan lebih selektif. Tidak semua teks perlu dicetak. Tetapi buku yang dicetak akan memiliki nilai lebih—baik secara estetika, intelektual, maupun emosional.

Buku cetak akan bertahan bukan karena nostalgia, melainkan karena kebutuhan manusia akan kedalaman.

Penutup Tambahan: Membaca sebagai Tindakan Kemanusiaan

Di tengah dunia yang semakin terfragmentasi, membaca buku tetap berdiri sebagai tindakan kemanusiaan yang paling sederhana sekaligus paling radikal. Ia mengajak manusia berhenti sejenak dari arus yang terus memecah perhatian, untuk mendengar suara lain, meresapi pengalaman yang bukan miliknya, dan melihat kehidupan dari sudut pandang yang lebih luas. Membaca bukan pelarian dari kenyataan, melainkan cara paling jujur untuk memahaminya secara lebih utuh.

Era scroll tidak serta-merta menandai kemunduran literasi. Ia justru menghadirkan tantangan baru yang memaksa manusia mendefinisikan ulang apa arti membaca, memahami, dan berpikir. Di tengah derasnya informasi, membaca buku menjadi penanda kesadaran: bahwa tidak semua hal harus dipercepat, tidak semua persoalan harus disederhanakan, dan tidak semua perbedaan harus direspons dengan emosi singkat. Buku hadir bukan untuk menyaingi kecepatan zaman, melainkan untuk mengingatkan bahwa ada nilai dalam kelambatan.

Membaca sebagai tindakan kemanusiaan juga berarti menolak direduksi menjadi sekadar konsumen informasi. Ketika manusia diukur dari seberapa cepat ia merespons, seberapa sering ia muncul, dan seberapa ramai ia dilihat, membaca buku adalah bentuk keberanian untuk menjadi pelan. Ia melatih kesabaran intelektual—kesediaan untuk menunda penilaian, mengikuti argumen hingga tuntas, dan menerima bahwa kebenaran sering lahir dari proses yang berliku, bukan dari potongan konteks.

Dalam dunia yang gemar memotong cerita, buku justru mengajarkan keutuhan. Ia membiasakan pembaca menyimak gagasan secara lengkap, memahami latar belakang, dan menghargai kompleksitas. Dari situlah tumbuh sikap yang semakin langka: kesediaan untuk tidak selalu sepakat tanpa harus membenci, dan kemampuan untuk berbeda tanpa kehilangan empati. Membaca membuat manusia lebih sabar pada pikiran orang lain, bahkan ketika pandangan itu berseberangan dengan keyakinannya sendiri.

Lebih jauh, membaca adalah latihan empati paling sunyi. Novel, esai, dan memoar membuka pintu menuju kehidupan yang tak pernah kita jalani. Kita diajak memasuki batin yang asing, menyusuri konflik yang jauh dari pengalaman pribadi, dan memahami penderitaan yang mungkin tak pernah kita rasakan secara langsung. Di tengah dunia yang kian terpolarisasi, kemampuan ini menjadi penyangga kemanusiaan yang vital. Tanpa empati yang dilatih oleh bacaan panjang, manusia mudah terjebak dalam logika hitam-putih dan penghakiman instan.

Membaca juga menghadirkan keheningan batin—sebuah ruang yang kini semakin langka. Keheningan ini bukan kekosongan, melainkan ruang jujur tempat pikiran bekerja tanpa tekanan. Tidak ada notifikasi yang menuntut reaksi, tidak ada algoritma yang mengejar atensi, tidak ada angka yang harus dipertahankan. Dalam keheningan membaca, manusia berhadapan dengan dirinya sendiri: merenung, mempertanyakan, dan kadang menggugat ulang keyakinan yang selama ini diterima begitu saja.

Di titik inilah buku melampaui fungsinya sebagai medium. Ia menjadi ruang dialog batin yang intim. Banyak perubahan cara pandang, keputusan penting, dan pergeseran nilai hidup lahir dari pertemuan sunyi antara pembaca dan teks. Proses semacam ini hampir mustahil terjadi dalam pola konsumsi cepat yang menuntut perhatian terus terpecah dan reaksi segera.

Maka pertarungan literasi di era scroll sejatinya bukan antara buku dan teknologi, melainkan antara kedalaman dan ketercerabutan. Teknologi akan terus bergerak maju, dan manusia tidak mungkin kembali ke masa lalu. Namun manusia selalu memiliki pilihan: larut sepenuhnya dalam arus kecepatan, atau sesekali menepi untuk berpikir. Membaca buku adalah keputusan menepi itu—keputusan sadar untuk tidak selalu terhubung, tidak selalu bereaksi, dan tidak selalu mengikuti arus.

Pada akhirnya, literasi bukan hanya soal kemampuan membaca huruf, tetapi kemampuan membaca kehidupan. Dan kehidupan, seperti buku yang baik, tidak pernah bisa dipahami secara tergesa-gesa. Ia meminta kesabaran, keberanian untuk berdiam, dan kesediaan untuk mendengarkan hingga selesai. Selama manusia masih bersedia memberi ruang bagi proses itu—di sela-sela scroll, di antara notifikasi, di tengah hiruk pikuk zaman—maka membaca akan tetap hidup. Bukan sebagai nostalgia, bukan sebagai kewajiban, melainkan sebagai kebutuhan paling dasar manusia: memahami diri, memahami sesama, dan memahami dunia dengan lebih manusiawi.

Catatan Referensial Umum (Non-Kutipan Langsung)

  • Tulisan ini disusun dengan merujuk pada: kajian kognitif tentang perhatian dan konsumsi video pendek penelitian literasi digital dan perubahan perilaku membaca fenomena BookTok dalam industri penerbitan global laporan media nasional dan internasional tentang toko buku offline

Penulis: Khairul A. El Maliky
Editor: Made Adnyana Ole

Tags: BukuLiterasitiktok
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Kuangan Tutur’ dan ‘Lebihan Tutur’, Parenting ala Bali

Next Post

Tanah dan Apartemen untuk Orang Asing di Indonesia

Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky

Pengarang novel yang lahir di Kota Probolinggo. Buku terbarunya yang sudah terbit antara lain, Akad, Pintu Tauhid, Kalam, Kalam Cinta (Penerbit MNC, 2024) dan Pernikahan & Prasangka Cinta (Segera). Di sela-sela mengajar Sastra Indonesia, pengarang juga menulis dan mengirimkan cerpennya ke berbagai media massa.

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Tanah dan Apartemen untuk Orang Asing di Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co