24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Senjakala Hierarki Informasi: Ketika Media Sosial Melumat Segalanya

I Gede Joni Suhartawan by I Gede Joni Suhartawan
January 14, 2026
in Esai
Senjakala Hierarki Informasi: Ketika Media Sosial Melumat Segalanya

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

DUNIA informasi kita hari ini tidak lagi sekadar berputar; ia sedang mengalami disrupsi yang bersifat kanibalistik. Belum genap luka menganga di tubuh media cetak akibat hantaman media online, kini keduanya justru sedang berada di ruang gawat darurat yang sama. Mereka sedang dilumat oleh kekuatan baru yang lebih masif, lebih intim, sekaligus lebih beringas: Media Sosial.

Jika dulu media online bangga karena berhasil melibas media konvensional dengan kecepatan (speed), kini mereka terkapar karena media sosial menawarkan sesuatu yang tidak mereka miliki—yaitu eksistensi yang egaliter dan algoritma yang mendikte kesadaran.

Kanibalisme Digital: Dari Kertas ke Klik, dari Klik ke Scroll

Dua dekade lalu, kita menyaksikan “pembantaian” pertama. Media cetak yang berbasis kertas—koran, majalah, tabloid—tumbang satu per satu. Musuhnya adalah portal berita digital. Logikanya sederhana: mengapa harus menunggu besok pagi untuk membaca berita yang sudah terjadi pagi ini? Media online menawarkan efisiensi. Namun, media online sebenarnya masih membawa “gen” yang sama dengan media konvensional, yaitu kurasi redaksional.

Peta peperangan berubah total ketika platform bernama Facebook, X, TikTok, dan Instagram mengambil alih panggung. Media sosial tidak sekadar menjadi saluran distribusi; ia menjadi ekosistem. Kini, media sosial secara de facto telah menggantikan media massa dalam tiga fungsi fundamental: sebagai sumber berita utama, penentu agenda (agenda setting), dan penyedot kue iklan paling rakus.

Media sosial menang karena ia menghapus jarak antara subjek dan objek. Dalam media online, pembaca masih menjadi konsumen. Dalam media sosial, setiap orang adalah produser, editor, sekaligus distributor. Di sinilah letak ironinya: media online yang dulu dianggap praktis, kini dianggap “berisik” karena penuh dengan iklan pop-up yang mengganggu, sementara media sosial menawarkan pengalaman mengonsumsi konten yang mulus (seamless) dan terpersonalisasi.

Publisher Rights: Keadilan atau Sekadar “Uang Damai”?

Di tengah hegemoni algoritma ini, lahirnya regulasi Publisher Rights (Perpres Nomor 32 Tahun 2024) di Indonesia seharusnya menjadi oase. Namun, kebijakan ini tidak boleh hanya dipandang sebagai urusan bagi hasil recehan. Ia adalah pertaruhan kedaulatan digital.

Ada analisis tajam yang harus kita garis bawahi: Publisher Rights adalah bentuk restitusi ekonomi. Selama bertahun-tahun, raksasa teknologi (Big Tech) telah memanen keuntungan dari konten berita tanpa membayar “dapur” yang memproduksinya. Mereka mengambil cuplikan (snippet), menarik perhatian pengguna, dan menjual data tersebut kepada pengiklan.

Namun, kita harus waspada. Jangan sampai regulasi ini hanya menjadi “uang damai” yang menutup mulut kritis media. Ada risiko media justru menjadi semakin haus akan validasi platform demi mengejar insentif. Jika parameter “jurnalisme berkualitas” tidak didefinisikan dengan rigid, media akan terjebak dalam dilema: tetap memproduksi konten yang “disukai algoritma” agar trafik tinggi, yang kemudian dikonversi menjadi nilai tawar dalam negosiasi. Apakah regulasi ini akan memperbaiki kualitas jurnalisme, atau justru mempermanenkan ketergantungan media pada platform digital?

Apa yang Harus Dilakukan?

Fenomena ini bukan lagi sekadar tren, melainkan perubahan struktur sosial. Perlu langkah strategis dari tiga pilar utama:

1. Peran Pemerintah: Penegakan Kedaulatan Digital

Pemerintah, melalui Komite Independen, tidak boleh membiarkan negosiasi Publisher Rights hanya menjadi urusan business-to-business (B2B) yang tertutup. Jika transaksinya gelap, hanya media besar (konglomerasi) yang punya daya tawar kuat, sementara media lokal akan gigit jari. Pemerintah juga harus mendesak platform untuk transparan mengenai perubahan algoritma yang seringkali menghancurkan trafik media dalam semalam secara sepihak.

2. Organisasi Asosiasi Pers: Menjaga Marwah Etika

Asosiasi seperti PWI, AJI, dan Dewan Pers harus berhenti terjebak pada romantisme masa lalu. Harus ada redefinisi produk jurnalistik. Jika jurnalisme ikut-ikutan gaya media sosial yang dangkal demi mengejar viralitas, maka jurnalisme akan kehilangan alasan untuk tetap ada. Asosiasi harus memastikan bahwa dana dari Publisher Rights benar-benar dialokasikan untuk meningkatkan kesejahteraan jurnalis dan kualitas ruang redaksi, bukan sekadar mempercantik laporan keuangan pemilik modal.

3. Industri Media: Membangun Loyalitas, Bukan Trafik

Industri media harus sadar bahwa mereka tidak akan pernah menang jika bertarung di arena “kecepatan” melawan algoritma. Media harus mulai beralih dari model bisnis berbasis tayangan iklan (impression) ke model komunitas atau langganan (subscription). Gunakan momentum Publisher Rights untuk membangun infrastruktur data mandiri. Jangan jadikan kompensasi dari Big Tech sebagai pendapatan utama, melainkan sebagai modal untuk melakukan transformasi digital yang independen.

Penutup: Kembali ke Makna

Media sosial memang telah melibas media online dan konvensional dalam hal kecepatan. Namun, media sosial memiliki cacat bawaan: ia tidak memiliki moralitas dan tanggung jawab sosial. Ia hanyalah algoritma yang dirancang untuk menjaga mata tetap menatap layar.

Inilah peluang bagi jurnalisme. Di saat dunia semakin bising dan membingungkan oleh hoaks yang viral, manusia akan selalu merindukan kompas yang jelas. Media tidak perlu mati, mereka hanya perlu “bermetamorfosis” menjadi penyedia makna, bukan sekadar penyedia data. Jika jurnalisme gagal melakukan ini, maka kita tidak hanya kehilangan industri media, tapi kita akan kehilangan akal sehat kolektif sebagai sebuah bangsa. [T]

Prambanan, 14 Januari 2026

Penulis: I Gede Joni Suhartawan
Editor: Adnyana Ole

Tags: komunikasi informasimedia massamedia sosialteknologi informasi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Cotton Fields”: Masa Silam Abadi dalam Swamp Rock

Next Post

‘Kuangan Tutur’ dan ‘Lebihan Tutur’, Parenting ala Bali

I Gede Joni Suhartawan

I Gede Joni Suhartawan

Penulis tinggal di Prambanan Klaten Jawa Tengah. Pernah bekerja di SCTV dan pernah menjadi Head of Production Creative Development Center di Trans Corp (TransTV and Trans|7)

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
‘Kuangan Tutur’ dan ‘Lebihan Tutur’, Parenting ala Bali

'Kuangan Tutur' dan 'Lebihan Tutur', Parenting ala Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co