LANGIT masih gelap ketika aroma kayu bakar mulai menyelinap dari sebuah dapur sederhana di Banjar Gelulung, Sukawati, Gianyar. Matahari belum membuka matanya, tapi Ni Wayan Murni sudah lebih dulu terjaga. Dengan kaus oblong dan rambut terikat rapi, perempuan paruh baya itu memulai ritual yang diwariskan turun-temurun: menyalakan api, menakar bumbu, dan meracik kenangan dari generasi silam.
Di balik senyum tipis dan gerak tubuh yang tenang, Murni memanggul warisan tak ternilai: Nasi Tahu Ni Sarti, sepiring hidangan sederhana yang bukan hanya mengenyangkan, tapi juga mengisahkan cinta, tradisi, dan ketekunan.
Nama “Ni Sarti” yang kini lekat di ingatan pelanggan bukanlah nama sang pendiri. Bukan Nenek Mirin, yang pertama kali membuka warung ini pada 1963. “Nama Ni Sarti diambil dari nama kakak ipar,” kata Murni.

Tradisi itu terus hidup, diwariskan dari generasi ke generasi, yang kini dijaga sepenuhnya oleh Murni. Setiap hari, di dapur tradisional yang menghadap ke pekarangan rumah, Murni menekuni rutinitasnya dengan setia: mengaduk wajan, menyiangi sayur, dan meracik sambal dengan gerakan nyaris seperti doa yang terus dipanjatkan.
“Dari dulu, tidak ada yang ditambah atau dikurangi. Pelanggan bilang, rasanya tetap sama,” ujarnya pelan sambil menata nasi hangat.
Murni memang ramah. Sambil menyiapkan nasi, ia mempersilakan pelanggannya duduk. “Silakan duduk dulu. Mau minum apa?” katanya sambil tersenyum.
Karena tempatnya di dalam rumah, pelanggan bisa memilih duduk di mana saja – di bale, di kursi kayu panjang, atau bahkan di undakan dapur yang hangat oleh uap masakan. Rasanya seperti berkunjung ke rumah kerabat, bukan ke sebuah warung makan.

Warisan rasa dan kehangatan rumah
Memang, rasa itulah yang membuat warung kecil di pekarangan rumah ini bukan hanya bertahan, tapi terus tumbuh. Seporsi nasi tahu disajikan sederhana: nasi putih hangat, potongan tahu goreng khas Sukawati yang empuk, kerupuk tahu yang renyah, urap segar, dan tiga jenis sambal yang jadi primadona: sambal matah yang tajam, sambal ketela yang manis-pedas, dan sambal tomat yang menggoda.
Murni menata nasi di piring anyaman bambu yang dilapisi daun pisang. Tangannya cekatan, tapi tak terburu-buru. Ada kehati-hatian dalam setiap geraknya, seolah setiap piring adalah bentuk penghormatan, bukan sekadar jualan.
Saat suapan pertama menyentuh lidah, penikmat langsung paham mengapa warung ini punya pelanggan setia. Rasanya enak, tahunya lembut, perpaduan sambalnya mantap, nasi mengepul hangat, kerupuknya renyah, urapnya gurih, dan guyuran kecap di atasnya membuat semuanya berpadu sempurna. Bukan hanya kenyang, tapi juga puas.

Wayan Balik (bukan nama asli), pelanggan setia, menyebut sambal dan sayurnya dengan satu kata “enak.” Sementara Ketut Cirya (bukan nama asli), yang mengenal rasa ini sejak kecil, menyebutnya sehat sekaligus sarat nostalgia. “Dari dulu saya makan ini, sekarang pun masih. Lebih baik makan tahu-tempe daripada daging. Ringan di badan,” katanya dengan senyum kecil.
Ada kejujuran dalam cara pelanggan menyampaikan rasa, seperti berbicara tentang kenangan lama. Di pojok meja, seorang bapak dengan kemeja lusuh duduk sambil menyeruput teh hangat. “Saya ke sini hampir tiap hari. Rasanya tetap sama, seperti zaman dulu,” ucapnya.
Nasi Tahu Ni Sarti buka setiap hari, dari pukul tujuh pagi hingga satu siang. Tapi, kalau ingin berkunjung, sebaiknya datang lebih awal. Karena 50 hingga 100 porsi bisa ludes hanya dalam beberapa jam. Ada yang makan di tempat, merasakan hangatnya suasana rumah. Ada pula yang membawa pulang untuk keluarga, atau sekadar bekal kerja.

Berjualan di pekarangan rumah membawa keintiman yang tak tergantikan. Tak ada musik latar, tak ada pendingin ruangan. Hanya pekarangan yang rapi dan hijau, serta angin pagi yang berdesir pelan. Tapi justru itu yang membuat para pelanggan betah. Ada rasa yang tidak bisa dibeli di restoran besar: rasa pulang ke rumah.
Dari dapur tradisionalnya, Murni menyajikan nasi tahu yang selalu fresh from the kitchen – hangat, harum, dan penuh jiwa.
Dari bisnis kecil inilah, Murni dan keluarganya mampu membangun rumah bertingkat, menata pekarangan, dan menjalani hidup yang layak. Sebuah pencapaian yang bukan hanya soal ekonomi, tapi juga tentang konsistensi, kerja sunyi, dan kesetiaan terhadap warisan leluhur.
Di tengah dunia yang serba cepat, bising, dan instan, kesederhanaan yang jujur dan rasa yang tak berubah justru menjadi penawar rindu. Nasi Tahu Ni Sarti bukan sekadar makanan, tapi penanda identitas kuliner khas Sukawati yang diburu bukan hanya oleh warga lokal, tetapi juga pelancong yang mencari kehangatan dalam bentuk paling sederhana.
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Gde Aryantha Soethama
Catatan: Tulisan ini merupakan salah satu karya dalam buku Kumpulan Berita Kisah “Sukawati, Ya Seni” karya Dede Putra Wiguna (Prasasti, 2025).



























