AL-ARABI, atau Bapak Othmane (Usman) saya dulu memanggilnya, adalah seorang imigran Maroko yang menetap di Castellon de la Plana, kota kecil di pesisir pantai timur Spanyol. Ia pemilik halal mercado atau toko halal tempat penduduk Muslim kota, terutama yang berasal dari jazirah Arab, bisa menemukan bahan makanan khas daerahnya.
Saya memanggil ingatan samar-samar sepuluh tahun lalu. Toko itu menjadi satu dari banyak hal baru bagi seorang mahasiswa semester akhir yang baru pertama kali pergi ke Eropa. Di selasar toko bagian kanan, sebuah mesin besar dengan penutup kaca menampakkan beberapa ekor ayam matang tergantung pada pipa besi yang berputar perlahan untuk memasaknya dengan teknik pengasapan. Di atas mesin tersebut tertulis pollo asado; dalam Bahasa Indonesia berarti ayam asap.
Toko itu tidak terlalu luas, sekitar empat hingga lima meter lebarnya, dengan rak memanjang di tengah yang membagi ruang menjadi dua lorong cukup untuk dua orang berpapasan. Rak-rak di sepanjang dinding dipenuhi bahan makanan kering yang asing bagi saya saat itu: kacang-kacangan kaleng, pasta, olahan susu, hingga biji-bijian seperti couscous dan semolina. Di sana pula, untuk pertama kalinya, saya melihat Indomie dengan kemasan berbahasa Inggris dan Arab.

Di ujung toko, dua etalase pendingin membentuk sudut L, berisi potongan daging sapi, ayam, dan domba segar, aneka sosis dengan ukuran yang beragam, serta ember-ember acar buah zaitun hijau dan hitam.
Saya dan dua teman masuk dengan ragu dan canggung, masih asing dan belum yakin dapat berkomunikasi dengan pemilik toko. Beberapa hari berada di kota kecil itu sudah cukup untuk menyadarkan kami bahwa mayoritas penduduknya tidak bisa berbahasa Inggris. Di toko Bapak Othmane, interaksi yang diawali salam berbahasa Arab pun segera berlanjut dengan bahasa tubuh.
Saat kami mendekati etalase daging, pemilik toko memulai percakapan dengan bertanya, “Hablas español?” Dengan cepat kami menjawab, “No,” sambil memperagakan berbagai isyarat penolakan; dari melambaikan tangan hingga membentuk huruf X dengan kedua tangan. Kurang dari seminggu berada di sana, belum satu pun dari kami mampu berbicara bahasa Spanyol.
Keberuntungan pun memihak. Putri, teman saya, sedikit menguasai bahasa Arab dari pengalamannya nyantren selama enam tahun. Setelah upaya berbahasa Spanyol gagal, komunikasi akhirnya terjalin berbekal bahasa Arab yang terbatas.

Bapak Othmane bertanya dari mana kami berasal dan apa yang kami lakukan di kota itu. Ia mendengarkan dengan sabar dan penuh perhatian, seperti seorang ayah mendengarkan cerita anaknya yang baru pulang dari perjalanan panjang. Begitulah kami saat itu: lelah oleh perjalanan lintas benua, perubahan cuaca ekstrem, dan proses beradaptasi di tempat asing.
Layaknya seorang ayah, Bapak Othmane tidak membiarkan kami pergi tanpa wejangan. Melalui Putri ia menyampaikan nasihat tentang menjadi seorang Muslim yang baik, menegaskan bahwa sesama Muslim adalah saudara. Ternyata, wejangan itu bukan sekadar kata-kata.
Sebelum pulang, ia meminta seorang pegawainya mengambilkan dua ekor pollo asado untuk kami, sementara ia sendiri memasukkan beberapa bungkus kacang arab, lentil, dan pasta. Seolah belum cukup, ia menambahkan beberapa bungkus daging giling. “Pasta enak kalau dimasak dengan ini,” katanya, sambil menunjuk daging giling itu. Semuanya diberikan cuma-cuma. Bapak Othmane membuat kami merasa diperlakukan seperti keluarga.
Belanjaan yang semula hanya dua kantong, beranak-pinak jadi lima kantong penuh. Bapak Othmane hanya meminta satu hal sebagai balasan; doa baik untuk orang tuanya. Semenjak saat itu, kunjungan kami tidak pernah absen dari diskon dan bonus yang seringkali lebih banyak dari barang yang kami bayar. Saya heran, karena seolah dialah yang lebih merasa berterima kasih, hanya karena kehadiran kami. Di saat dunia modern mengajarkan kita untuk mengukur relasi dari untung-rugi, Bapak Othmane mengajarkan bahwa saling jaga, saling peduli, dan saling empati tidak melulu tentang pertukaran materi.
Diselingi makan di luar sekali dua kali seminggu, bekal abon, rendang, dan mi instan dari Indonesia, serta upaya menghemat ala anak rantau lintas benua, kami baru kembali ke toko Bapak Othmane sebulan kemudian. Kami datang tepat setelah menyelesaikan les intensif bahasa Spanyol selama sebulan. Tentu saja, kedatangan kami disambut wajah teduh serta senyum hangat Al-Arabi, nama dari Bapak Othmane.
Dengan bangga kami menyampaikan kabar baik kepada pertemanan baru ini: kami bisa berbahasa Spanyol. “Hablo un poquito de español, ahora,” ujar saya. “Saya bisa berbicara sedikit-sedikit bahasa Spanyol.” Sejak saat itu, percakapan pun mulai mengalir, meski masih terbata-bata.
Pada hari itu pula, saya mendengar untuk pertama kalinya mantra andalan Al-Arabi: “Todos los musulmanes son hermanos.” Semua umat Muslim adalah saudara. Kalimat itu ia ulangi berkali-kali, di hampir setiap kesempatan.

Beberapa tahun kemudian, dari kumpulan cerita teman-teman yang pernah berkunjung ke Maroko, saya mulai memahami bahwa negara ini dikenal dengan keramahan warganya. Di Maroko, bukan hal yang aneh jika seseorang langsung mengundangmu makan di rumahnya, meski baru saja berkenalan.
Tentu saja, undangan untuk makan datang dari Al-Arabi. Kami diajak ikut merayakan ulang tahun Othmane. Masalahnya, rumah mereka berada jauh dari pusat kota. Dibutuhkan perjalanan sekitar tiga puluh menit dengan mobil untuk kesana. Artinya, demi mengajak kami, Othmane harus menjemput dan mengantar kami kembali.
Kami pergi dan bertemu seluruh keluarga Al-Arabi untuk pertama kalinya. Saat itu juga kami menyaksikan kebaikan yang sama terpancar dari istri dan kelima anaknya.
Sangat terasa bahwa keluarga ini menjamu dengan sepenuh hati. Tidak kurang dari empat kali kami berkunjung ke rumah keluarga Al-Arabi. Pada setiap kunjungan, makanan selalu memenuhi meja. Ada paella (makanan khas Spanyol), salad, berbagai jenis minuman dan kudapan manis. Selesai makan, biasanya kami duduk-duduk di sofa sambil menikmati teh mint khas Maroko. Beberapa kali juga kami diajak jalan-jalan ke kota, pantai, atau pusat keramaian di sekitar.
Suatu hari, saya datang ke toko Al-Arabi bersama dua teman lokal, Cristina dan Mariam. Kami membeli ayam untuk memasak paella (baca: paeya) bersama. Setelah berbelanja, Al-Arabi berbincang dengan Mariam sambil sesekali menunjuk ke arah saya. Ternyata, ia berpesan, “Temanmu ini sangat jauh dari rumahnya, tolong jaga dia baik-baik.” Ia meminta teman-teman saya untuk ikut “menjaga” saya, sebagaimana selama ini ia lakukan sesuai dengan kapasitasnya. Pesan itu disampaikan dengan tulus dan rendah hati, tanpa paksaan.
Jauh sebelum mengenalnya melalui teori, Al-Arabi dan keluarganya telah lebih dulu mengajarkan saya tentang nilai-nilai perawatan, tentang saling menjaga. Pada suatu kesempatan ketika sedang menginap di rumahnya, Al-Arabi sempat mengatakan bahwa ia telah menganggap saya seperti anaknya sendiri, sehingga saya tak perlu sungkan meminta bantuan. “Eres como mi hija. Si necesitas algo, dime,” begitu katanya.
Al-Arabi adalah bagian dari komunitas yang terbentuk ketika saya dan empat orang teman dari Indonesia hidup di Spanyol selama enam bulan sebagai mahasiswa pertukaran. Dalam perjalanannya, kami saling membantu dan dibantu, berbagi sumber daya ketika ada yang membutuhkan. Kami membangun ruang aman; menumbuhkan empati dan solidaritas kepada satu sama lain.

Saya kemudian menyadari bahwa jauh sebelum pertemuan dengan keluarga Al-Arabi, nilai-nilai perawatan itu telah lebih dahulu diajarkan oleh orang-orang dewasa di sekitar saya sejak masa tumbuh dan dibesarkan. Nilai-nilai itu hadir melalui tetangga yang setiap hari membuka rumahnya bagi anak-anak untuk bermain di halaman atau sekadar menonton televisi bersama; melalui tetangga yang mengajarkan saya memasak untuk pertama kalinya saat kelas empat SD; melalui tetangga yang mengasuh adik saya ketika masih balita karena orang tuanya bekerja dan kakak-kakaknya bersekolah; melalui tetangga yang menanam pohon salam di depan rumah sehingga siapa pun boleh memetiknya saat membutuhkan; hingga ibu-ibu yang memasak kue kering Lebaran bersama untuk berbagi alat, tenaga, dan waktu.
Ada pepatah Barat yang mengatakan: “It takes a village to raise a child.” Dibutuhkan satu “desa” untuk membesarkan seorang anak. Kini, desa itu seolah telah hilang, digantikan oleh “kota-kota” modern dimana kepemilikan pribadi atas kebutuhan sehari-hari memberi kemudahan tetapi sekaligus menciptakan jarak dan mengisolasi. Secara administratif, desa mungkin masih ada; namun kehidupan ala desa lah yang perlahan menghilang.
Walau begitu, nilai-nilai perawatan kolektif sejatinya tidak pernah benar-benar lenyap. Nilai-nilai itu tetap hidup sebagai ingatan yang mengalir dalam tubuh. Hal ini tercermin dari solidaritas yang terbangun, baik kepada saudara di Sumatera atau kepada mereka yang ditangkap karena menyuarakan keadilan.
Kita mungkin tidak dapat mengubah semuanya sekaligus. Namun, kita bisa berupaya melatih kembali refleks terhadap nilai-nilai perawatan; membangun kembali empati dan solidaritas kolektif. Sudah banyak kelompok, dari skala kecil hingga besar, yang memulainya: membangun kebun kolektif, mengadakan kantin sehat bagi anak-anak sekolah, menghidupkan rumah baca dan komunitas literasi, menggunakan kesenian sebagai cara merawat ingatan, mendirikan sekolah alternatif, hingga membangun usaha bersama melalui skema koperasi.

Bagi saya, Al-Arabi bukan sekedar sosok dari masa lalu ketika dalam perantauan. Ia adalah pengingat bahwa nilai-nilai perawatan akan selalu menemukan jalannya, bahkan jauh dari rumah. [T]
Penulis: J. Savitri
Editor: Adnyana Ole



























