PERJALANAN saya ke Kota Jakarta kali ini memang berbeda. Sudah 15 kali ke Jakarta, naik bus 6 kali, 9 kali naik pesawat udara. Tapi kali ini saya naik kereta api dari Surabaya, tepatnya dari Stasiun Gubeng.
Ya, petang itu, di Kota Surabaya, setelah hampir seharian berbincang di Desa Ketapanrame, Mojokerto, saya masih punya satu agenda. Mengutip istilah pertemuan para penjabat, anggap saja agendanya adalah silaturahmi.
Mas jas, begitu saya memanggilnya, sudah menunggu saya di Kota Surabaya. Ia adalah keluarga saya dari Tuban, Jawa Timur—kelurga ketemu gede, maksudnya. Mas Jas sempat tinggal lama di Singaraja dan sekarang sudah pindah, ikut sang istri, ke Surabaya.

Akhirnya, bersama Mbak Ninik, sosok yang mengantar sekaligus menemani saya ke Ketapanrame, saya memutuskan untuk mencari tempat bertemu di titik yang tidak jauh dari Stasiun Gubeng. Ketemulah Kopi Nako Surabaya. Di sana saya dan Mas Jas bertemu.
Seperti biasa, selain tempat ngopi, Kopi Nako juga jual makanan. Dan saya memesan makan bukan kopi. Mas Jas datang bersama istri.
Obrolan petang itu sangat khas, seperti pertemuan di meja Mahima-Tatkala—tempat Mas Jas dan saya belajar menulis. Obrolan mengalir, kadang soal remeh-temeh sampai ke ranah paling serius. Saya menyebutnya “obrolan filsafat ala Mas Jas.”

Tepat pukul 21.00 WIB, saya pamit ke stasiun. Kereta api telat 15 menit dari jadwal di tiket 21.40 WIB. Kereta Blambangan Express datang, saya bergegas KE gerbong executive 1, seat 11. Dalam pikiran saya, selama kurang lebih 10 jam perjalanan di dalam kereta semoga nyaman.
Ketera melaju dari Stasiun Gubeng Surabaya dengan tujuan akhir Pasar Senen, Jakarta. Nyatanya sangat nyaman meski dengan durasi waktu yang cukup panjang. Harus diakui, KAI hari ini mengubah image dari gerbong yang kumel menjadi elit, tidak seperti berita yang saya lihat di televisi waktu SMP—yang penumpangnya sampai naik ke atap, kasus pencopetan, dan hal-hal butuk lainnya. Untuk kemajuan ini saya harus acungkan jempol kepada Kereta Api Indonesia.
***
Kereta tiba di Jakarta pukul 09.00 WIB. Saya langsung menuju hotel tempat menginap di daerah Kebon Sirih. Di Jakarta ada beberapa agenda yang harus saya lakukan. Tapi untuk satu hari sebelum kegiatan, saya akan menjadi pelacong di Ibu Kota atau barang kali sudah menjadi mantan Ibu Kota, semenjak IKN dibangun dan diresmikan di era Jokowi.
Untuk kulineran saya berkunjung ke Dapur Bandha. Warung mungil di daerah Tebet. Kebetulan saya ketemu pemiliknya di Bali tempo hari. Nasi curry daging dan telor dadar menjadi pesanan saya. Sedap dan sangat nikmat, ditambah suasana sekitar warung yang lengang, tak seperti di kota metropolitan.


Lalu saya mencoba menemukan kenikmatan untuk melihat dan mengisi hati di Jakarta. Mulai dari berjalan kaki di sekitar hotel di kawasan Kebon Sirih ke Monas, melewati JPO patung kuda dengan latar kantor kementerian di sekelilingnya adalah hal yang bisa sedikit membunuh waktu yang cepat dan memacetkan pikiran.
Kemudian saya berkunjung ke kawasan pecinaan, Pasar Glodok, dengan aneka kuliner khas pecinaan dan juga arsitektur Tiongkok. Saya menikmati Soto Betawi Afung di Glodok Food Street Lane—sebuah kawasan yang penuh penjual kuliner.



Di sekitar kawasan ini, busway, kereta komuter, mobil pribadi, angkot, sepeda motor, serasa tidak ada celah untuk berhenti. Kota Jakarta seakan enggan tidur hanya untuk satu detik saja.
Bagi saya orang Bali, berkunjung ke Jakarta atau ke kota mana pun, berkunjung ke pura dan sembahyang—selama saya tahu di kota itu ada pura—adalah bagian untuk bercermin. Juga mencari tahu bagaimana laku sosial perantau Bali di luar Bali. Maka saya berkunjung ke Pura Adhitya Jaya di Rawamangun.
Saya selalu merasa bahwa sembahyang adalah harmoni. Di Pura Adhitya saya melihat orang beribadah tidak terkungkung oleh busana tapi kemauan bersih di perilaku. Tak ada sampah berserakan bahkan selandang dan dupa di sediakan. Mungkin ini yang dimaksud “kita harus keluar untuk melihat ke dalam.”


Sampai di sini, Jakarta setelah kesekian kali, selalu ada yang berubah. Tidak hanya pemimpinnya, tapi juga rasanya. Saya memaknai perjalanan ke Jakarta kali ini sebagai wisata untuk merasakan lebih dini bagaimana ibu kota bisa saja berubah jadi mantan, dielu-elukan lalu diejek dan dijelek-jelakan.
Dulu sampai sekarang, setiap kali stasiun berita menayangkan banjir, saya akan teringat Kota Jakarta. Macet juga Jakarta. Tapi setelah saya balik, ternyata ibu kota Bali juga sama. Ternyata nasib ibu kota atau mantan ibu kota sama saja. Sama-sama pernah dan sering terendam banjir.[T]
Penulis: Nyoman Nadiana
Editor: Jaswanto



























