MENJELANG senja di Hari Umanis Kuningan (sehari setelah Hari Kuningan), Minggu, 30 November 2025, suasana di Desa Blahkiuh, Badung berubah menjadi hiruk-pikuk yang penuh makna. Di pelataran pura, para lelaki terlihat sibuk merangkai tombak dan mempersiapkan atribut upacara. Sementara para perempuan dan anak-anak menyiapkan banten, konsumsi, serta tarian-tarian yang akan membuka rangkaian ritual sore itu. Semua bergerak serempak, diikat oleh tradisi yang hidup sejak lama, yakni Ngerebeg Matiti Suara.
Tradisi ngerebeg adalah salah satu upacara sakral yang dilaksanakan setiap enam bulan sekali di Pura Luhur Giri Kusuma, Blahkiuh. Dalam keyakinan masyarakat Blahkiuh, ngerebeg adalah upaya nyomia bhuta kala ─ menetralisir energi negatif yang dapat menganggu keharmonisan desa. Tujuannya jelas: menjaga kesucian pura, memurnikan Desa Blahkiuh, serta memohon keselamatan bagi seluruh warga desa.

Menurut I Ketut Jawi selaku Kelihan Adat, ngerebeg yang dikenal hari ini mulai dibangkitkan kembali sekitar tahun 1975. Kala itu Blahkiuh diliputi tresta ─ berbagai peristiwa yang dianggap sebagai pertanda buruk: wabah penyakit, gangguan kesehatan, dan situasi tidak menentu.
“Karena itu dibangkitkanlah ngerebeg lagi,” ujar Ketut Jawi. Ia juga menuturkan sebuah mitos yang melekat kuat di kalangan warga: siapa pun yang ngayah di Pura Luhur Jagat Khayangan pada masa itu, terutama mereka yang mengukir tanah atau membawa tanah persembahan, konon langsung memperoleh kesembuhan. “Yang ngayah tanpa pamrih langsung sehat pada zaman itu,” katanya.
Rangkaian ngerebeg dimulai dengan upacara di kawasan Pura Luhur Giri Kusuma. Para patih menyampaikan pesan spiritual sebagai pengingat agar masyarakat selalu berbakti kepada Sesuhunan, memuliakan sumber kesejahteraan desa, dan menjunjung tinggi martabat adat. Setelah itu digelar tari Baris Gede yang ditarikan laki-laki dewasa, disusul tari Rejang Dewa oleh anak-anak perempuan.

Sesudah tarian, pemangku memimpin pelaksanaan upakara. Barulah kemudian dimulai prosesi utama: krama banjar mengangkat tombak-tombak bambu, membawa leloteh nawa sanga, serta arca pralina yang melambangkan Sang Hyang Pasupati. Mereka berkeliling area pura sebanyak tiga kali, dipimpin oleh patih, penari Baris Gede, dan diiringi derap gamelan baleganjur yang membakar semangat. Suasananya mengingatkan pada perang zaman dahulu ─ bukan perang fisik, tetapi peperangan simbolis melawan unsur gelap yang mengganggu keseimbangan alam.
Tak hanya krama banjar yang terlibat. Aparat desa adat, perangkat dinas, perbekel, hingga camat turut mengikuti prosesi, sementara pecalang menjaga keamanan jalannya ritual. Kekompakan seluruh elemen masyarakat membuat ngerebeg terasa hidup, besar, dan penuh vitalitas.
Setelah putaran ketiga selesai, giliran para ibu-ibu PKK menarikan Tari Rejang di pura sebagai bentuk bakti. Para pembawa tombak kemudian kembali memasuki area pura untuk menerima prayascita ─ simbol penyucian setelah membawa atribut sakral. Rangkaian ngerebeg ditutup dengan makan bersama, sebuah tanda bahwa ritus telah tuntas dan masyarakat kembali dalam keadaan bersih lahir batin.

Hari Umanis Kuningan bukan dipilih tanpa alasan. “Karena hari baik ada di Umanis Kuningan, tujuannya untuk mensejahterakan masyarakat Desa Blahkiuh, nunas kerahayuan,” terang Ketut Jawi.
Ia juga menambahkan bahwa ngerebeg harus dilakukan pada Umanis Kuningan, bukan hari Kuningan itu sendiri. Jika dipaksakan, diyakini ritual tidak akan berjalan secara sakral sebagaimana mestinya.
Bagi masyarakat Blahkiuh, dampak ngerebeg terasa nyata. Tradisi ini dianggap menjaga kerukunan dan melindungi desa dari berbagai ketidakseimbangan. “Tanpa adanya ngerebeg, pasti ada saja efeknya seperti orang cacat atau petani gagal panen,” ungkap Ketut Jawi. Karena itulah ngerebeg terus ditingkatkan pelaksanaannya dari tahun ke tahun, didukung pendanaan serta partisipasi masyarakat yang semakin kuat.

Di luar dimensi spiritual, ngerebeg juga berpengaruh pada sektor pariwisata. Seiring penetapan Blahkiuh sebagai desa budaya, tradisi ini menjadi salah satu rujukan utama yang memperkenalkan identitas lokal kepada turis. Ritual yang sarat nilai ini menjadi magnet bagi wisatawan dan peneliti yang ingin melihat bagaimana tradisi kuno tetap hidup harmonis di tengah modernitas.
Pada akhirnya, Ngerebeg Matiti Suara bukan sekadar upacara enam bulanan. Ia adalah narasi panjang tentang syukur, kebersamaan, dan keyakinan masyarakat Blahkiuh terhadap keseimbangan kosmos. Setiap tombak bambu yang diangkat, setiap langkah mengitari pura, setiap tarian dan banten yang dipersembahkan, semuanya menjadi penanda bahwa tradisi bukan hanya warisan, melainkan juga napas yang terus menjaga desa dari generasi ke generasi. [T]
Reporter/Penulis: Vira Astri Agustini
Editor: Dede Putra Wiguna



























