14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Manunggaling Kawula Gusti’: Dari Spiritualitas ke Penghambaan Politik

Chusmeru by Chusmeru
December 1, 2025
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

Zaman silih berganti. Penguasa dari masa ke masa pun berubah. Namun wacana dan mitologi tentang penguasa dan kekuasaan masih saja muncul ketika terjadi pergantian kekuasaan. Orang selalu menunggu siapa yang akan berkuasa di republik ini serta membandingkan dengan penguasa sebelumnya.

Meski zaman sudah berubah, walau teknologi digital telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia, wacana dan mitologi seputar penguasa ataupun pemimpin masih ada saja yang mempercayainya. Modernitas, demokratisasi, dan digitalisasi tak serta-merta menggantikan referensi tradisional tentang mitos sosok pemimpin.

Penguasa di masa lalu sering dikaitkan dengan berbagai metafora dan dimensi transendental. Fenomena semacam ini telah dikomunikasikan dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, dan menjadi bagian dari kepercayaan masyarakat Indonesia. Andai pun fenomena itu telah tergantikan dengan simbol-simbol yang lebih kekinian, sisi irasionalitasnya tetap saja tampak.

Seorang pemimpin adalah satria yang agung binathara, demikian persepsi sosial kultural masyarakat Indonesia di masa lampau. Persepsi yang berbau semiotik ini menggambarkan seorang pemimpin yang memiliki kekuasaan absolut. Seorang pemimpin memiliki kekuasaan mutlak atas eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Absolutisme itu kemudian dibungkus dengan prasyarat moralitas, adil, dan bijaksana.

 Satria agung binathara itu merupakan metafora sosok yang memiliki kharisma politik, mempunyai garis keturunan seorang pemimpin besar di masa lalu. Dalam perspektif kekinian, penguasa yang memiliki kekuasaan absolut itu lalu digambarkan sebagai pemimpin yang mendapat dukungan dari partai politik besar yang mampu membesarkan namanya. Tak heran bila kini pertarungan calon pemimpin bukan hanya bersifat personal, namun juga pertarungan antarpartai politik besar.

Kondisi sosial, ekonomi, dan politik yang tak kunjung membaik dari waktu ke waktu memunculkan mitos tentang akan datangnya  ratu adil dan satria piningit sebagai pemimpin yang akan menyejahterakan bangsa. Sosok pemimpin ratu adil dan satria piningit digambarkan sebagai tokoh yang prihatin, sedang menjalani laku tirakat, selalu direndahkan, dan menjadi korban intrik politik. Mitos politik seperti ini lantas dijadikan strategi playing victim untuk meraih simpati dan dukungan politik.

Perspektif transendental dan religiusitas ikut mewarnai sosok pemimpin. Menjadi seorang penguasa membutuhkan wahyu ilahiah. Pemimpin adalah orang yang mendapat titah dari langit. Untuk mendapat legitimasi itu, seorang calon pemimpin harus mendapat restu dari ulama, elite agama, dan tokoh masyarakat. Konsekuensinya, secara transendental dan horisontal seorang pemimpin harus dapat manunggaling kawula gusti. Tanpa itu, pemimpin akan kehilangan kekuasaan dan kredibilitasnya.

Konsepsi Manunggaling Kawula Gusti

Manunggaling kawula gusti sering dikaitkan dengan sosok Syekh Siti Jenar. Konsepsi awalnya adalah ajaran spiritualitas manusia. Namun ajaran ini ternyata dianggap kontroversial, baik dari sisi sosok pencetusnya maupun pemaknaannya.

Siapa Syekh Siti Jenar, bagaimana ajarannya, seperti apa kehidupannya, dan bagaimana akhir hidupnya memunculkan pro kontra dan banyak versi. Syekh Siti Jenar banyak memiliki nama, seperti Sitibrit dan Lemah Abang. Ia dianggap sebagai tokoh sufi dan penyebar agama Islam di Pulau Jawa.

Salah satu ajaran yang kontroversial dari Syekh Siti Jenar adalah manunggaling kawula gusti. Ada yang beranggapan konsepsi dan ajaran ini bersifat sesat. Namun ada pula yang menganggapnya sebagai konsepsi intelektual tentang esensi kehidupan dan ketuhanan.

Dari sekian banyak ajaran Syekh Siti Jenar, manunggaling kawula gusti memang lebih banyak dibahas dan memunculkan banyak kontroversi. Menurut para pendukungnya, ajaran ini menjelaskan bahwa di dalam diri manusia terdapat ruh yang berasal dari ruh Tuhan sesuai dengan ayat Al Qur’an yang menerangkan tentang penciptaan manusia.

Ruh manusia akan menyatu dengan ruh Tuhan di saat penyembahan terhadap Tuhan terjadi. Konsepsi semacam inilah yang menimbulkan kontroversi, karena disusul asumsi bahwa di dalam tubuh manusia bersemayam ruh Tuhan. Apalagi bila konsepsi ini dimaknai secara mistik  yang terwakili dalam budaya Jawa, manusia dipandang sebagai manifestasi zat Tuhan.

Meski demikian, para pendukung Syekh Siti Jenar tetap bersikukuh bahwa Syekh Siti Jenar tidak pernah menyebut dirinya sebagai Tuhan. Konsepsi manunggaling kawula gusti bukan berarti bercampurnya Tuhan dengan makhluknya, namun Tuhan Sang Pencipta sebagai tempat kembali semua makhluk.

Selain menyoal hubungan manusia dan Tuhan, Syekh Siti Jenar juga membahas tentang hakikat manusia yang memiliki fitrah keagungan dan kemuliaan. Walau demikian, manusia selalu membawa nafsu rendah ragawi, cenderung mengejar kesenangan materi dan duniawi.

Bukan hanya ajarannya yang menuai kontroversi, kematian Syekh Siti Jenar pun sarat dengan kontroversi. Para wali saat itu sangat mengkhawatirkan ajaran Syekh Siti Jenar yang akan menyebabkan kesesatan. Padahal Walisongo saat itu menjadi penopang kekuasaan Kerajaan Demak Bintoro. Para wali pun sepakat untuk menjatuhkan hukuman mati kepada Syekh Siti Jenar. Kontroversi terus berlanjut. Siapa yang mengeksekusi, di mana dieksekusi, dan di mana makam Syekh Siti Jenar hingga kini masih diperdebatkan.

Hamba Politik dan Kekuasaan

Bukan melulu konsepsi spiritualitas, manunggaling kawula gusti sering diadopsi oleh politisi dan pemimpin menjadi model perilaku politik. Konsepsi Syekh Siti Jenar itu dimaknai sebagai bersatunya kawula dengan raja, menyatunya rakyat dan penguasa.

Namun model perilaku politik ini ditafsirkan sebagai suatu keharusan bagi rakyat untuk tunduk kepada raja, bukan kehendak pemimpin untuk melindungi rakyatnya. Ini merupakan distorsi dari gagasan pribumi itu sendiri. Kemampuan seorang pemimpin untuk hamemayu hayuning bawana atau menciptakan masyarakat yang adil dan sejahtera bukan menjadi nilai operasional, karena kekuasaan bersifat personal ( Kusnanto Anggoro, 1996).

Klaim sebagai negara demokratis tidak serta-merta menghilangkan relativisme kultural dalam kekuasaan saat ini. Demokratisasi yang semestinya bermakna daulat rakyat menjadi daulat tuanku, daulat penguasa. Rakyat sebagai pemegang mandat dalam negara demokrasi tersisih oleh sentralisme kekuasaan yang satria gung binathara itu. Rakyat pun masih selalu menjadi hamba politik dan kekuasaan.

Manunggaling kawula gusti dalam perspektif politik kekinian juga dapat berarti menyatunya kehendak para menteri kepada presiden. Para menteri adalah orang-orang yang diberi lungguh (kedudukan) oleh pemegang kekuasaan. Maka sudah sepantasnya mereka mikul dhuwur mendhem jero, menyanjung apa pun program penguasa, dan menutupi segala kekurangannya.

Kondisi seperti ini pernah tumbuh subur di era Orde Baru, dan menggejala di era kini; di mana tak satu pun menteri yang berani berbeda pendapat dengan presiden. Apa pun yang dikatakan dan dilakukan presiden tak ada yang keliru, karena dia titah dari langit, satria gung binathara yang tak boleh disalahkan. Tugas menteri adalah penghambaan pada politik  penguasa. Daulat presiden adalah daulat menteri.

Demokratisasi yang semestinya juga ditandai dengan birokrasi yang modern dan rasional ternyata masih berbau tradisional. Perasaan sungkan atau ewuh pekewuh terhadap penguasa masih terlihat kental. Jangan harap ada sikap kritis para birokrat kepada presiden. Yang muncul adalah sanjung puji para hamba politik dan kekuasaan.

Sejatinya, dalam negara yang demokratis manunggaling kawula gusti bersifat resiprokal. Namun nyatanya budaya politik turut mewarnai pengelolaan negara, sehingga yang terjadi adalah politik eliter, bukan egaliter. Kekuasaan tetap berada di tangan pemimpin yang sewaktu-waktu bisa otoriter, penguasa yang didewa-dewakan.

Pembangunan jalan, jembatan, dan bandara bisa saja bukan karena kebutuhan mendesak rakyat, namun kehendak penguasa yang begitu berdaulat. Bantuan sosial, makan bergizi gratis, dan sekolah rakyat dianggap berbudi bawa leksana, sebagai kebaikan budi penguasa; bukan keharusan penguasa yang mendapat mandat dari rakyat.

Meski dianggap mitos dan berdimensi spritualitas, manunggaling kawula gusti masih dipercaya mampu menumbuhkan kredibilitas politik penguasa. Padahal dalam masyarakat yang demokratis, kekuasaan adalah mandat yang diperoleh dari rakyat, bukan klaim personal dan supranatural. Menyejahterakan rakyat adalah keharusan, bukan kebaikan budi sang penguasa, sehingga rakyat tak perlu menghamba membabi buta. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Tags: komunikasikomunikasi politikPolitikSpiritual
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Sang Nahkoda Telah Meninggalkan Kapalnya —Selamat Purna Tugas, Pak Boy

Next Post

Wayang Ental, Dari Badung ke Panggung Internasional

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Wayang Ental, Dari Badung ke Panggung Internasional

Wayang Ental, Dari Badung ke Panggung Internasional

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co