2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Manunggaling Kawula Gusti’: Dari Spiritualitas ke Penghambaan Politik

Chusmeru by Chusmeru
December 1, 2025
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

Zaman silih berganti. Penguasa dari masa ke masa pun berubah. Namun wacana dan mitologi tentang penguasa dan kekuasaan masih saja muncul ketika terjadi pergantian kekuasaan. Orang selalu menunggu siapa yang akan berkuasa di republik ini serta membandingkan dengan penguasa sebelumnya.

Meski zaman sudah berubah, walau teknologi digital telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia, wacana dan mitologi seputar penguasa ataupun pemimpin masih ada saja yang mempercayainya. Modernitas, demokratisasi, dan digitalisasi tak serta-merta menggantikan referensi tradisional tentang mitos sosok pemimpin.

Penguasa di masa lalu sering dikaitkan dengan berbagai metafora dan dimensi transendental. Fenomena semacam ini telah dikomunikasikan dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, dan menjadi bagian dari kepercayaan masyarakat Indonesia. Andai pun fenomena itu telah tergantikan dengan simbol-simbol yang lebih kekinian, sisi irasionalitasnya tetap saja tampak.

Seorang pemimpin adalah satria yang agung binathara, demikian persepsi sosial kultural masyarakat Indonesia di masa lampau. Persepsi yang berbau semiotik ini menggambarkan seorang pemimpin yang memiliki kekuasaan absolut. Seorang pemimpin memiliki kekuasaan mutlak atas eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Absolutisme itu kemudian dibungkus dengan prasyarat moralitas, adil, dan bijaksana.

 Satria agung binathara itu merupakan metafora sosok yang memiliki kharisma politik, mempunyai garis keturunan seorang pemimpin besar di masa lalu. Dalam perspektif kekinian, penguasa yang memiliki kekuasaan absolut itu lalu digambarkan sebagai pemimpin yang mendapat dukungan dari partai politik besar yang mampu membesarkan namanya. Tak heran bila kini pertarungan calon pemimpin bukan hanya bersifat personal, namun juga pertarungan antarpartai politik besar.

Kondisi sosial, ekonomi, dan politik yang tak kunjung membaik dari waktu ke waktu memunculkan mitos tentang akan datangnya  ratu adil dan satria piningit sebagai pemimpin yang akan menyejahterakan bangsa. Sosok pemimpin ratu adil dan satria piningit digambarkan sebagai tokoh yang prihatin, sedang menjalani laku tirakat, selalu direndahkan, dan menjadi korban intrik politik. Mitos politik seperti ini lantas dijadikan strategi playing victim untuk meraih simpati dan dukungan politik.

Perspektif transendental dan religiusitas ikut mewarnai sosok pemimpin. Menjadi seorang penguasa membutuhkan wahyu ilahiah. Pemimpin adalah orang yang mendapat titah dari langit. Untuk mendapat legitimasi itu, seorang calon pemimpin harus mendapat restu dari ulama, elite agama, dan tokoh masyarakat. Konsekuensinya, secara transendental dan horisontal seorang pemimpin harus dapat manunggaling kawula gusti. Tanpa itu, pemimpin akan kehilangan kekuasaan dan kredibilitasnya.

Konsepsi Manunggaling Kawula Gusti

Manunggaling kawula gusti sering dikaitkan dengan sosok Syekh Siti Jenar. Konsepsi awalnya adalah ajaran spiritualitas manusia. Namun ajaran ini ternyata dianggap kontroversial, baik dari sisi sosok pencetusnya maupun pemaknaannya.

Siapa Syekh Siti Jenar, bagaimana ajarannya, seperti apa kehidupannya, dan bagaimana akhir hidupnya memunculkan pro kontra dan banyak versi. Syekh Siti Jenar banyak memiliki nama, seperti Sitibrit dan Lemah Abang. Ia dianggap sebagai tokoh sufi dan penyebar agama Islam di Pulau Jawa.

Salah satu ajaran yang kontroversial dari Syekh Siti Jenar adalah manunggaling kawula gusti. Ada yang beranggapan konsepsi dan ajaran ini bersifat sesat. Namun ada pula yang menganggapnya sebagai konsepsi intelektual tentang esensi kehidupan dan ketuhanan.

Dari sekian banyak ajaran Syekh Siti Jenar, manunggaling kawula gusti memang lebih banyak dibahas dan memunculkan banyak kontroversi. Menurut para pendukungnya, ajaran ini menjelaskan bahwa di dalam diri manusia terdapat ruh yang berasal dari ruh Tuhan sesuai dengan ayat Al Qur’an yang menerangkan tentang penciptaan manusia.

Ruh manusia akan menyatu dengan ruh Tuhan di saat penyembahan terhadap Tuhan terjadi. Konsepsi semacam inilah yang menimbulkan kontroversi, karena disusul asumsi bahwa di dalam tubuh manusia bersemayam ruh Tuhan. Apalagi bila konsepsi ini dimaknai secara mistik  yang terwakili dalam budaya Jawa, manusia dipandang sebagai manifestasi zat Tuhan.

Meski demikian, para pendukung Syekh Siti Jenar tetap bersikukuh bahwa Syekh Siti Jenar tidak pernah menyebut dirinya sebagai Tuhan. Konsepsi manunggaling kawula gusti bukan berarti bercampurnya Tuhan dengan makhluknya, namun Tuhan Sang Pencipta sebagai tempat kembali semua makhluk.

Selain menyoal hubungan manusia dan Tuhan, Syekh Siti Jenar juga membahas tentang hakikat manusia yang memiliki fitrah keagungan dan kemuliaan. Walau demikian, manusia selalu membawa nafsu rendah ragawi, cenderung mengejar kesenangan materi dan duniawi.

Bukan hanya ajarannya yang menuai kontroversi, kematian Syekh Siti Jenar pun sarat dengan kontroversi. Para wali saat itu sangat mengkhawatirkan ajaran Syekh Siti Jenar yang akan menyebabkan kesesatan. Padahal Walisongo saat itu menjadi penopang kekuasaan Kerajaan Demak Bintoro. Para wali pun sepakat untuk menjatuhkan hukuman mati kepada Syekh Siti Jenar. Kontroversi terus berlanjut. Siapa yang mengeksekusi, di mana dieksekusi, dan di mana makam Syekh Siti Jenar hingga kini masih diperdebatkan.

Hamba Politik dan Kekuasaan

Bukan melulu konsepsi spiritualitas, manunggaling kawula gusti sering diadopsi oleh politisi dan pemimpin menjadi model perilaku politik. Konsepsi Syekh Siti Jenar itu dimaknai sebagai bersatunya kawula dengan raja, menyatunya rakyat dan penguasa.

Namun model perilaku politik ini ditafsirkan sebagai suatu keharusan bagi rakyat untuk tunduk kepada raja, bukan kehendak pemimpin untuk melindungi rakyatnya. Ini merupakan distorsi dari gagasan pribumi itu sendiri. Kemampuan seorang pemimpin untuk hamemayu hayuning bawana atau menciptakan masyarakat yang adil dan sejahtera bukan menjadi nilai operasional, karena kekuasaan bersifat personal ( Kusnanto Anggoro, 1996).

Klaim sebagai negara demokratis tidak serta-merta menghilangkan relativisme kultural dalam kekuasaan saat ini. Demokratisasi yang semestinya bermakna daulat rakyat menjadi daulat tuanku, daulat penguasa. Rakyat sebagai pemegang mandat dalam negara demokrasi tersisih oleh sentralisme kekuasaan yang satria gung binathara itu. Rakyat pun masih selalu menjadi hamba politik dan kekuasaan.

Manunggaling kawula gusti dalam perspektif politik kekinian juga dapat berarti menyatunya kehendak para menteri kepada presiden. Para menteri adalah orang-orang yang diberi lungguh (kedudukan) oleh pemegang kekuasaan. Maka sudah sepantasnya mereka mikul dhuwur mendhem jero, menyanjung apa pun program penguasa, dan menutupi segala kekurangannya.

Kondisi seperti ini pernah tumbuh subur di era Orde Baru, dan menggejala di era kini; di mana tak satu pun menteri yang berani berbeda pendapat dengan presiden. Apa pun yang dikatakan dan dilakukan presiden tak ada yang keliru, karena dia titah dari langit, satria gung binathara yang tak boleh disalahkan. Tugas menteri adalah penghambaan pada politik  penguasa. Daulat presiden adalah daulat menteri.

Demokratisasi yang semestinya juga ditandai dengan birokrasi yang modern dan rasional ternyata masih berbau tradisional. Perasaan sungkan atau ewuh pekewuh terhadap penguasa masih terlihat kental. Jangan harap ada sikap kritis para birokrat kepada presiden. Yang muncul adalah sanjung puji para hamba politik dan kekuasaan.

Sejatinya, dalam negara yang demokratis manunggaling kawula gusti bersifat resiprokal. Namun nyatanya budaya politik turut mewarnai pengelolaan negara, sehingga yang terjadi adalah politik eliter, bukan egaliter. Kekuasaan tetap berada di tangan pemimpin yang sewaktu-waktu bisa otoriter, penguasa yang didewa-dewakan.

Pembangunan jalan, jembatan, dan bandara bisa saja bukan karena kebutuhan mendesak rakyat, namun kehendak penguasa yang begitu berdaulat. Bantuan sosial, makan bergizi gratis, dan sekolah rakyat dianggap berbudi bawa leksana, sebagai kebaikan budi penguasa; bukan keharusan penguasa yang mendapat mandat dari rakyat.

Meski dianggap mitos dan berdimensi spritualitas, manunggaling kawula gusti masih dipercaya mampu menumbuhkan kredibilitas politik penguasa. Padahal dalam masyarakat yang demokratis, kekuasaan adalah mandat yang diperoleh dari rakyat, bukan klaim personal dan supranatural. Menyejahterakan rakyat adalah keharusan, bukan kebaikan budi sang penguasa, sehingga rakyat tak perlu menghamba membabi buta. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Tags: komunikasikomunikasi politikPolitikSpiritual
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Sang Nahkoda Telah Meninggalkan Kapalnya —Selamat Purna Tugas, Pak Boy

Next Post

Wayang Ental, Dari Badung ke Panggung Internasional

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Wayang Ental, Dari Badung ke Panggung Internasional

Wayang Ental, Dari Badung ke Panggung Internasional

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co