23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Manunggaling Kawula Gusti’: Dari Spiritualitas ke Penghambaan Politik

Chusmeru by Chusmeru
December 1, 2025
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

Zaman silih berganti. Penguasa dari masa ke masa pun berubah. Namun wacana dan mitologi tentang penguasa dan kekuasaan masih saja muncul ketika terjadi pergantian kekuasaan. Orang selalu menunggu siapa yang akan berkuasa di republik ini serta membandingkan dengan penguasa sebelumnya.

Meski zaman sudah berubah, walau teknologi digital telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia, wacana dan mitologi seputar penguasa ataupun pemimpin masih ada saja yang mempercayainya. Modernitas, demokratisasi, dan digitalisasi tak serta-merta menggantikan referensi tradisional tentang mitos sosok pemimpin.

Penguasa di masa lalu sering dikaitkan dengan berbagai metafora dan dimensi transendental. Fenomena semacam ini telah dikomunikasikan dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, dan menjadi bagian dari kepercayaan masyarakat Indonesia. Andai pun fenomena itu telah tergantikan dengan simbol-simbol yang lebih kekinian, sisi irasionalitasnya tetap saja tampak.

Seorang pemimpin adalah satria yang agung binathara, demikian persepsi sosial kultural masyarakat Indonesia di masa lampau. Persepsi yang berbau semiotik ini menggambarkan seorang pemimpin yang memiliki kekuasaan absolut. Seorang pemimpin memiliki kekuasaan mutlak atas eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Absolutisme itu kemudian dibungkus dengan prasyarat moralitas, adil, dan bijaksana.

 Satria agung binathara itu merupakan metafora sosok yang memiliki kharisma politik, mempunyai garis keturunan seorang pemimpin besar di masa lalu. Dalam perspektif kekinian, penguasa yang memiliki kekuasaan absolut itu lalu digambarkan sebagai pemimpin yang mendapat dukungan dari partai politik besar yang mampu membesarkan namanya. Tak heran bila kini pertarungan calon pemimpin bukan hanya bersifat personal, namun juga pertarungan antarpartai politik besar.

Kondisi sosial, ekonomi, dan politik yang tak kunjung membaik dari waktu ke waktu memunculkan mitos tentang akan datangnya  ratu adil dan satria piningit sebagai pemimpin yang akan menyejahterakan bangsa. Sosok pemimpin ratu adil dan satria piningit digambarkan sebagai tokoh yang prihatin, sedang menjalani laku tirakat, selalu direndahkan, dan menjadi korban intrik politik. Mitos politik seperti ini lantas dijadikan strategi playing victim untuk meraih simpati dan dukungan politik.

Perspektif transendental dan religiusitas ikut mewarnai sosok pemimpin. Menjadi seorang penguasa membutuhkan wahyu ilahiah. Pemimpin adalah orang yang mendapat titah dari langit. Untuk mendapat legitimasi itu, seorang calon pemimpin harus mendapat restu dari ulama, elite agama, dan tokoh masyarakat. Konsekuensinya, secara transendental dan horisontal seorang pemimpin harus dapat manunggaling kawula gusti. Tanpa itu, pemimpin akan kehilangan kekuasaan dan kredibilitasnya.

Konsepsi Manunggaling Kawula Gusti

Manunggaling kawula gusti sering dikaitkan dengan sosok Syekh Siti Jenar. Konsepsi awalnya adalah ajaran spiritualitas manusia. Namun ajaran ini ternyata dianggap kontroversial, baik dari sisi sosok pencetusnya maupun pemaknaannya.

Siapa Syekh Siti Jenar, bagaimana ajarannya, seperti apa kehidupannya, dan bagaimana akhir hidupnya memunculkan pro kontra dan banyak versi. Syekh Siti Jenar banyak memiliki nama, seperti Sitibrit dan Lemah Abang. Ia dianggap sebagai tokoh sufi dan penyebar agama Islam di Pulau Jawa.

Salah satu ajaran yang kontroversial dari Syekh Siti Jenar adalah manunggaling kawula gusti. Ada yang beranggapan konsepsi dan ajaran ini bersifat sesat. Namun ada pula yang menganggapnya sebagai konsepsi intelektual tentang esensi kehidupan dan ketuhanan.

Dari sekian banyak ajaran Syekh Siti Jenar, manunggaling kawula gusti memang lebih banyak dibahas dan memunculkan banyak kontroversi. Menurut para pendukungnya, ajaran ini menjelaskan bahwa di dalam diri manusia terdapat ruh yang berasal dari ruh Tuhan sesuai dengan ayat Al Qur’an yang menerangkan tentang penciptaan manusia.

Ruh manusia akan menyatu dengan ruh Tuhan di saat penyembahan terhadap Tuhan terjadi. Konsepsi semacam inilah yang menimbulkan kontroversi, karena disusul asumsi bahwa di dalam tubuh manusia bersemayam ruh Tuhan. Apalagi bila konsepsi ini dimaknai secara mistik  yang terwakili dalam budaya Jawa, manusia dipandang sebagai manifestasi zat Tuhan.

Meski demikian, para pendukung Syekh Siti Jenar tetap bersikukuh bahwa Syekh Siti Jenar tidak pernah menyebut dirinya sebagai Tuhan. Konsepsi manunggaling kawula gusti bukan berarti bercampurnya Tuhan dengan makhluknya, namun Tuhan Sang Pencipta sebagai tempat kembali semua makhluk.

Selain menyoal hubungan manusia dan Tuhan, Syekh Siti Jenar juga membahas tentang hakikat manusia yang memiliki fitrah keagungan dan kemuliaan. Walau demikian, manusia selalu membawa nafsu rendah ragawi, cenderung mengejar kesenangan materi dan duniawi.

Bukan hanya ajarannya yang menuai kontroversi, kematian Syekh Siti Jenar pun sarat dengan kontroversi. Para wali saat itu sangat mengkhawatirkan ajaran Syekh Siti Jenar yang akan menyebabkan kesesatan. Padahal Walisongo saat itu menjadi penopang kekuasaan Kerajaan Demak Bintoro. Para wali pun sepakat untuk menjatuhkan hukuman mati kepada Syekh Siti Jenar. Kontroversi terus berlanjut. Siapa yang mengeksekusi, di mana dieksekusi, dan di mana makam Syekh Siti Jenar hingga kini masih diperdebatkan.

Hamba Politik dan Kekuasaan

Bukan melulu konsepsi spiritualitas, manunggaling kawula gusti sering diadopsi oleh politisi dan pemimpin menjadi model perilaku politik. Konsepsi Syekh Siti Jenar itu dimaknai sebagai bersatunya kawula dengan raja, menyatunya rakyat dan penguasa.

Namun model perilaku politik ini ditafsirkan sebagai suatu keharusan bagi rakyat untuk tunduk kepada raja, bukan kehendak pemimpin untuk melindungi rakyatnya. Ini merupakan distorsi dari gagasan pribumi itu sendiri. Kemampuan seorang pemimpin untuk hamemayu hayuning bawana atau menciptakan masyarakat yang adil dan sejahtera bukan menjadi nilai operasional, karena kekuasaan bersifat personal ( Kusnanto Anggoro, 1996).

Klaim sebagai negara demokratis tidak serta-merta menghilangkan relativisme kultural dalam kekuasaan saat ini. Demokratisasi yang semestinya bermakna daulat rakyat menjadi daulat tuanku, daulat penguasa. Rakyat sebagai pemegang mandat dalam negara demokrasi tersisih oleh sentralisme kekuasaan yang satria gung binathara itu. Rakyat pun masih selalu menjadi hamba politik dan kekuasaan.

Manunggaling kawula gusti dalam perspektif politik kekinian juga dapat berarti menyatunya kehendak para menteri kepada presiden. Para menteri adalah orang-orang yang diberi lungguh (kedudukan) oleh pemegang kekuasaan. Maka sudah sepantasnya mereka mikul dhuwur mendhem jero, menyanjung apa pun program penguasa, dan menutupi segala kekurangannya.

Kondisi seperti ini pernah tumbuh subur di era Orde Baru, dan menggejala di era kini; di mana tak satu pun menteri yang berani berbeda pendapat dengan presiden. Apa pun yang dikatakan dan dilakukan presiden tak ada yang keliru, karena dia titah dari langit, satria gung binathara yang tak boleh disalahkan. Tugas menteri adalah penghambaan pada politik  penguasa. Daulat presiden adalah daulat menteri.

Demokratisasi yang semestinya juga ditandai dengan birokrasi yang modern dan rasional ternyata masih berbau tradisional. Perasaan sungkan atau ewuh pekewuh terhadap penguasa masih terlihat kental. Jangan harap ada sikap kritis para birokrat kepada presiden. Yang muncul adalah sanjung puji para hamba politik dan kekuasaan.

Sejatinya, dalam negara yang demokratis manunggaling kawula gusti bersifat resiprokal. Namun nyatanya budaya politik turut mewarnai pengelolaan negara, sehingga yang terjadi adalah politik eliter, bukan egaliter. Kekuasaan tetap berada di tangan pemimpin yang sewaktu-waktu bisa otoriter, penguasa yang didewa-dewakan.

Pembangunan jalan, jembatan, dan bandara bisa saja bukan karena kebutuhan mendesak rakyat, namun kehendak penguasa yang begitu berdaulat. Bantuan sosial, makan bergizi gratis, dan sekolah rakyat dianggap berbudi bawa leksana, sebagai kebaikan budi penguasa; bukan keharusan penguasa yang mendapat mandat dari rakyat.

Meski dianggap mitos dan berdimensi spritualitas, manunggaling kawula gusti masih dipercaya mampu menumbuhkan kredibilitas politik penguasa. Padahal dalam masyarakat yang demokratis, kekuasaan adalah mandat yang diperoleh dari rakyat, bukan klaim personal dan supranatural. Menyejahterakan rakyat adalah keharusan, bukan kebaikan budi sang penguasa, sehingga rakyat tak perlu menghamba membabi buta. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Tags: komunikasikomunikasi politikPolitikSpiritual
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Sang Nahkoda Telah Meninggalkan Kapalnya —Selamat Purna Tugas, Pak Boy

Next Post

Wayang Ental, Dari Badung ke Panggung Internasional

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Wayang Ental, Dari Badung ke Panggung Internasional

Wayang Ental, Dari Badung ke Panggung Internasional

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar
Tualang

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

by Made Wirya
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co