BARANGKALI, bagi sebagian orang yang pernah melintasi Jalan Raya Kapal, Badung, pemandangan deretan gerabah yang dijual di sepanjang jalan sudah menjadi hal biasa. Lalu-lalang kendaraan tak pernah berhenti, membuat kawasan itu tampak seperti pusat kerajinan pada umumnya. Namun, begitu menyusuri jalan menuju Banjar Basang Tamiang, suasananya berubah. Dari luar, rumah-rumah warga terlihat biasa, tetapi di dalamnya tradisi bekerja tak pernah putus. Ada yang mengukir, menganyam, dan banyak pula yang membuat gerabah ─ sebagaimana dilakukan leluhur mereka sejak ratusan tahun silam.
Di sebuah rumah yang teduh meski cahaya siang menembus masuk, Putu Artini (55) duduk di bangku rendah di tempat kerjanya. Dari sudut rumah, terdengar lagu-lagu pop Bali lawas dari sebuah radio tua dengan suara sedikit soak. Suara itu mengiringi jemari Artini bekerja stabil membentuk tanah liat, gerakannya pasti dan berulang. Di rumah itu, ia bekerja bersama kerabat-kerabatnya yang juga perajin gerabah ─ masing-masing dengan usaha sendiri, hanya berbagi ruang kerja yang sama.

Meski siang itu panas terasa menyengat, ia tetap bekerja dengan tenang, seolah ritme seperti ini sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari hidupnya. Di hadapannya, gumpalan tanah liat menunggu untuk dibentuk menjadi carat dan coblong ─ wadah air untuk upacara.
“Di banjar ini, hampir semua rumah membuat gerabah. Banyak yang percaya itu keharusan yang wajib dilanjutkan turun-temurun,” ujar Artini.
Kepercayaan itu bukan sekadar cerita yang tersebar dari mulut ke mulut. Banjar Basang Tamiang, Desa Kapal, memiliki sejarah panjang dalam kerajinan tanah liat. Mengutip dari budayabali.com, pembuatan gerabah di Basang Tamiang telah dilakukan sejak sekitar tahun 1171–1181 pada masa pemerintahan Raja Sri Aji Jaya Pangus. Ketika sang raja kembali dari Cina, ia membawa pulang banyak pengaruh budaya, salah satunya teknik pembuatan gerabah. Perajin Cina bahkan dikisahkan pernah didatangkan khusus untuk mengajar warga setempat.
Sejak itu masyarakat Kapal mulai memproduksi gerabah sendiri, awalnya untuk kebutuhan rumah tangga dan upacara, lalu berkembang menjadi penopang ekonomi. Tradisi itu bertahan hingga kini, diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Produk yang dihasilkan beragam, mulai dari jun pere, coblong, jun tandeg, carat, dulang, hingga celengan dan pot. Semuanya dibuat menggunakan pemubutan ─ alat putar tanah liat tradisional. Dari alat itu, ratusan gerabah bisa lahir setiap hari di Basang Tamiang.

Tiga Puluh Tahun Bersama Tanah Liat
Putu Artini sendiri telah menekuni pekerjaan ini lebih dari 30 tahun. Setiap hari, dari pagi hingga petang, ia mampu membuat sekitar 400 carat atau coblong. Tanah liat yang digunakan adalah tanah yang sudah siap dibentuk, ia beli dari distributor asal Darmasaba ─ jenis tanah yang juga dipakai untuk membuat genteng.
“Setiap perajin punya spesialisasi. Di tempat lain ada yang bikin celengan, guci, pot. Saya fokus membuat carat dan coblong,” tuturnya.
Saya pun sempat mencoba membuat coblong. Putu Artini memberi contoh ─ gerakan tangannya halus, ritmis, seolah tanah liat mengerti arahannya. Namun ketika saya mencoba, tanah justru terasa tak mau diatur. Permukaannya miring, bentuknya goyah. Putu Artini hanya tertawa kecil. “Memang tidak bisa cepat. Harus terbiasa dulu,” katanya.


Musim hujan menjadi masa paling berat. Gerabah yang seharusnya dijemur seharian tidak bisa kering sempurna. “Kalau tidak bisa menjemur, produksi jadi lebih sedikit,” ujar Artini.
Setelah kering, gerabah-gerabah itu dijual kepada pengepul untuk dibakar. Tidak semua rumah memiliki tungku, sehingga pembakaran dilakukan di beberapa titik di beberapa rumah warga. Salah satu pengepul itu adalah Ni Nyoman Rai Suweni (45).
Rumah Rai Suweni berada tak jauh dari rumah Putu Artini. Begitu memasuki tempat pembakarannya, aroma asap dan tanah terbakar langsung tercium. Sebuah tungku besar berdiri di sudut, dikelilingi tumpukan gerabah dari para perajin: ceret, coblong, pot, jun pere ─ semuanya menunggu giliran dibakar.


Setiap pagi, selama lebih dari tiga jam, Rai Suweni membakar gerabah-gerabah itu hingga matang. Api tidak boleh terlalu besar agar tidak gosong, juga tidak boleh terlalu kecil agar matang sempurna. Proses pembakaran membutuhkan kehati-hatian agar gerabah tidak rusak.
“Tidak semuanya berhasil. Ada yang retak, ada yang pecah. Penyebabnya karena penjemuran kurang bagus, atau kualitas tanahnya kurang baik. Tapi kalau retaknya sedikit, masih bisa diperbaiki,” jelasnya sambil menunjukkan gerabah yang rusak.
Rai Suweni juga membenarkan kepercayaan yang hidup di Basang Tamiang, yaitu setiap keluarga wajib memiliki setidaknya satu perajin gerabah. Jika tidak, dipercaya akan muncul hambatan dalam keluarga atau penyakit yang sulit disembuhkan. Ada pula keyakinan lain, jika seseorang menikah keluar banjar, kemampuan membuat gerabahnya akan “hilang”. Sebaliknya, jika menikah masuk ke Basang Tamiang, seseorang bisa tiba-tiba mahir hanya dengan melihat prosesnya.

“Tentu tidak semuanya percaya penuh, tapi ini seperti pengikat tradisi agar tetap hidup,” ujarnya sambil tersenyum.
Rai Suweni sendiri awalnya tidak membayangkan akan terjun ke pekerjaan ini. “Saya dulu sekolah pariwisata. Tapi setelah menikah ke sini, entah kenapa cocok saja. Mungkin memang jalannya di sini. Dulu sempat coba pekerjaan lain, tapi ada saja hambatannya, ujung-ujungnya balik ke sini lagi,” katanya.
Menurutnya, sekitar 70 persen warga Basang Tamiang masih bekerja sebagai perajin gerabah. Namun hanya sedikit yang memiliki tungku. Sebagian besar hanya memproduksi dan menjemur, lalu menjualnya kepada pengepul untuk dibakar dan didistribusikan.
Basang Tamiang dan Tradisi yang Tetap Bertahan
Meski lingkungan sekitarnya makin berkembang, suasana di dalam rumah-rumah Basang Tamiang tetap tradisional. Saat menyusuri lingkungan banjar, saya melihat gerabah dijemur di teras rumah, ditumpuk di pinggir jalan, atau diangkut dengan sepeda motor untuk dibawa ke distributor atau toko-toko.

Proses pembuatan gerabah di Basang Tamiang mungkin tampak sederhana, tetapi memerlukan ketekunan dan kesabaran. Mulai dari menjemur tanah, mencampurnya dengan batu padas, mengolah adonan, membentuknya di atas pemubutan, hingga menjemur kembali dan membakarnya. Setiap tahap adalah pengetahuan yang diwariskan turun-temurun.
Sebelum meninggalkan Basang Tamiang, saya kembali menyambangi Putu Artini bekerja. Tangannya masih bergerak mantap, membentuk carat-carat dan coblong-coblong baru dengan telaten. Dari caranya bekerja, terlihat bahwa yang diwariskan bukan hanya teknik, tetapi juga ketulusan dan rasa hormat pada pekerjaan itu sendiri.

“Ya, saya begini saja setiap hari, sudah terbiasa, dan tak pernah jenuh,” ujarnya tersenyum kecil.
Di banyak tempat, barangkali kerajinan tradisional perlahan menyusut terdesak perubahan. Tetapi di Basang Tamiang, aktivitas membuat gerabah masih menjadi bagian dari laku harian masyarakat. Setiap hari, tanah diolah, bentuk demi bentuk dibuat, lalu dibakar di tungku-tungku warga. Selama ritme tersebut terus berlangsung, tradisi gerabah di banjar ini akan tetap lestari dan hidup sebagaimana adanya. [T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole



























