23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kampusku Sarang Hantu [41]: Kesurupan Massal di Kampus

Chusmeru by Chusmeru
November 20, 2025
in Fiksi
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Ilustrasi tatkala.co

KAMPUS yang memiliki banyak kegiatan akan menjadikannya semarak. Bukan hanya kegiatan proses belajar mengajar, kampus juga perlu melakukan kegiatan lain di bidang olah raga, seni, maupun kegiatan rekreatif. Kampus yang sepi kegiatan akan terasa hampa.

Tidak sedikit kampus yang hanya menggeliat di pagi hingga sore hari. Setelah proses belajar mengajar selesai tidak ada lagi kegiatan yang dilakukan dosen, pegawai, maupun mahasiswanya. Mahasiswa hanya dituntut aktif kuliah, sedangkan kegiatan di luar kelas sangat minim.

Sesungguhnya banyak kegiatan yang dapat dilakukan di kampus dari pagi hingga malam hari. Seperti kampus di kota Purwokerto ini misalnya, suasana kampus tampak hidup. Bahkan di hari Minggu pun banyak dosen dan mahasiswa yang melakukan aktivitas di kampus, entah untuk kegiatan diskusi maupun olah raga.

Setiap hari Jumat pagi diadakan senam kesegaran jasmani yang diikuti dosen dan pegawai. Biasanya dengan mengundang instruktur senam untuk memandu gerakan. Meski yang hadir tidak begitu banyak, karena jadwal mengajar pagi dosen, namun kegiatan ini tetap rutin dilakukan.

Kampus juga memiliki aula yang digunakan untuk olah raga tenis meja serta aula untuk kegiatan kesenian. Lapangan voli yang luas tersedia berdekatan dengan tempat parkir kendaraan. Jika kampus melaksanakan dies natalis sering diadakan lomba voli antarjurusan dan lomba olah raga lainnya.

Mahasiswa di kampus ini tak pernah sepi dari kegiatan. Setiap himpunan mahasiswa jurusan memiliki agenda kegiatan ilmiah dan kesenian yang selalu diadakan di kampus. Hal ini membuat kampus menjadi hidup dari dari pagi hingga malam.

Letak kampus yang strategis di pinggir jalan besar memang membuat antusiasme warganya untuk beraktivitas. Jika memerlukan kebutuhan untuk keperluan kegiatan, banyak toko maupun minimarket  yang buka hingga malam. Warung makan juga berderet di sepanjang jalan menuju kampus.

Pihak dekanat pun memberi iklim yang baik bagi mahasiswa maupun dosen untuk berorganisasi di dalam kampus. Tak heran jika banyak tumbuh unit kegiatan mahasiswa yang ikut meramaikan suasana kampus. Kota yang sejuk ini pun dimeriahkan oleh geliat kegiatan warga kampus.

Kesan angker kampus di malam hari tidak menyurutkan mahasiswa untuk berkegiatan. Ada saja acara pentas teater, pemutaran film, maupun diskusi yang dilakukan malam hari. Sedangkan di kampus lain banyak yang menggembok pintu gerbangnya jika sore telah tiba.

***

Pagi yang berkabut. Kota Purwokerto terasa sejuk dan sedikit dingin di hari Jumat. Dosen dan pegawai sudah siap di halaman belakang kampus. Senam rutin akan diadakan dengan instruktur cantik Prima Nurani.

Beberapa perlengkapan untuk senam sudah disiapkan, mulai panggung untuk instruktur memberi aba-aba, pengeras suara dan musik, hingga konsumsi yang akan disantap setelah senam usai. Pukul 07.00 kabut sudah mulai surut ketika matahari mulai merangkak naik. Dosen dan pegawai berbaris rapi memulai senam pagi.

Musik dimainkan. Lagu Goyang Dumang yang dinyanyikan Cita Citata mengiringi Prima Nurani melenggak-lenggok energik yang diikuti oleh dosen dan pegawai. Sesekali terdengar teriakan semangat dari Sisilia Meriani, dosen muda yang lincah bergerak mengikuti irama musik. Tak kalah seru, Saliman pegawai tata usaha juga bergerak sambil berjoget riang.

Semangat Sisilia menggerakan badan begitu menggebu, hingga musik berakhir ia masih bergerak. Begitu pula Saliman masih saja berjoget riang ketika lagu Goyang Dumang sudah tak lagi mengalun. Dosen dan pegawai lain tertawa melihat Sisilia dan Saliman masih berjoget. Namun suasana menjadi berubah ketika Sisilia dan Saliman tertawa terbahak-bahak sambil mata mereka melotot.

“Bu Sisil… Bu Sisil… !” kata Wafinda dosen satu jurusan mengingatkan Sisilia yang tertawa terbahak-bahak.

Sisilia tetap saja berjoget sambil tertawa. Saliman yang diingatkan oleh pegawai lain juga masih tetap berjoget sambil tertawa-tawa. Semua peserta senam kebingungan. Prima Nurani sang instruktur senam juga terkejut. Baru kali ini senam di kampus terjadi suasana seperti ini.

“Mereka kesurupan..!” kata Bekto Istiadi, dosen yang paham tentang kejadian tak wajar.

Semua terkejut. Suasana halaman belakang kampus menjadi berubah dari riang gembira menjadi mencekam. Beberapa dosen mengerumuni Sisilia dan Saliman untuk menyadarkannya dengan memegangi tubuh mereka. Namun keadaan justru tambah tegang. Sisilia dan Saliman melotot sambil berkata-kata yang tidak jelas. Peserta senam pagi banyak yang merinding.

Bekto Istiadi mendatangi mereka. Dipeganginya tangan Saliman sambil membaca doa untuk mengusir makhluk halus. Saliman masih melotot sambil berucap tak karuan. Bekto Istiadi mengeraskan bacaan doanya. Saliman menggelinjang dan mendadak lemas. Ia telah sadar.

“Apa yang terjadi?” tanya Saliman bingung.

“Nggak ada apa-apa..,” jawab Bekto Istiadi menenangkan.

Sisilia masih berjoget sambil tertawa. Ia tak memperhatikan Saliman yang telah sadar. Ia juga tak peduli pada upaya teman-teman dosen yang mengingatkannya. Lagi-lagi Bekto Istiadi turun tangan. Disentuhnya kening Sisilia dengan jari telunjuk sambil membaca doa, sama seperti doa yang dibacakan untuk Saliman. Seketika Sisilia menjerit keras, lalu terkulai lemas.

“Ada apa ini..?” tanya Sisilia lirih begitu sadar.

“Nggak ada apa-apa bu..,” jawab Bekto Istiadi sambil menyarankan kepada dosen perempuan untuk membawa Sisilia ke tempat yang lebih teduh.

Acara senam pagi dihentikan. Semua dosen dan pegawai berteduh ke lobi kampus. Sinar mentari mulai terasa menyengat. Tidak pernah terbayangkan akan terjadi kesurupan pada peserta senam. Semua bertanya, ada apa dengan kampus sehingga dosen dan pegawai kesurupan.

  ***

Lapangan voli di sebelah utara kampus sudah ramai pemain dan penonton sore hari. Setiap hari Sabtu sore diwarnai dengan berbagai kegiatan olah raga oleh dosen dan pegawai. Selain voli, ada juga yang bermain tenis meja dan bulu tangkis. Namun voli menjadi olah raga yang meriah dan seru oleh para suporter dari dosen dan pegawai.

Dosen memiliki Masrukan, pemain voli andalan. Pegawai punya Windarto yang menjadi atlet voli tingkat kabupaten. Ketika tim dosen dan pegawai bertemu di lapangan voli, maka pertandingan menjadi sangat seru.

Sorak sorai penonton begitu riuh setiap tim mendapatkan nilai. Saking riangnya penonton, Adis Rianto dosen muda tak mampu menahan emosi. Tubuhnya kaku dan matanya melotot. Mulutnya komat-kamit mengucapkan kalimat tak jelas seperti orang kesurupan. Melihat ada dosen yang histeris, tiba-tiba Suwaryo, pegawai bagian perlengkapan ikutan histeris. Tubuhnya meronta dan memasuki area lapangan voli.

Suasana lapangan voli menjadi mencekam. Dua orang mengalami kesurupan di lapangan. Beberapa orang mencoba menyadarkan mereka, namun tak ada yang berhasil. Adis Rianto dan Suwaryo kejet-kejet, tubuh mereka kejang dan bergerak tak terkendali. Bekto Istiadi yang sempat menyadarkan dosen dan pegawai yang kesurupan saat senam pagi juga tidak mampu mengatasi. Bahkan ia dibentak oleh Adis Rianto dan Suwaryo.

Hari sudah semakin sore, mereka belum juga sadarkan diri dari kesurupan. Semua merasa cemas, takut, dan merinding. Seorang pegawai mendatangkan Mbah Mino, seorang sesepuh di sekitar kampus. Sesaat sebelum azan magrib terdengar, mereka berhasil disadarkan oleh Mbah Mino.

“Mereka kerasukan makhluk halus yang menghuni di sekitar kampus ini,” ujar Mbah Mino kepada dosen dan pegawai yang masih berkumpul di lapangan voli.

Peristiwa kesurupan massal di kampus pagi dan sore hari menimbulkan banyak pertanyaan. Mengapa dosen dan pegawai diganggu makhluk halus? Bukankah mereka hanya melakukan kegiatan olah raga? Apakah makhluk halus yang menghuni kampus merasa terusik dengan kegiatan yang dilakukan dosen dan pegawai?

Belum terjawab pertanyaan-pertanyaan itu, peristiwa serupa terjadi pada malam hari. Salah satu himpunan mahasiswa jurusan sedang melakukan pemilihan ketua himpunan yang baru. Kegiatan itu dilakukan di aula kampus. Mahasiswa memang sering melakukan aktivitas malam hari, karena pagi dan siang hari mereka kuliah.

Saat Yopie Andesta terpilih sebagai ketua himpunan mahasiswa jurusan, para pendukungnya berjingkrak-jingkrak riang gembira. Mereka meneriakan yel-yel kemenangan Yopie Andesta. Ada pula yang bernyanyi keras sambil berjoget dan meniup terompet. Aula kampus menjadi ajang luapan kegembiraan.

Di tengah kegembiraan itu, beberapa orang mahasiswa berlarian memutari ruangan aula dengan tertawa sambil mata melotot. Mereka berlari tiada henti. Terbahak, namun matanya melotot. Mahasiswa pria dan wanita itu tampak kesurupan seperti penari kuda lumping mengelilingi aula kampus. Semua terkejut. Musik yang mengalun di aula dihentikan oleh panitia.

Cukup lama beberapa mahasiswa yang kesurupan di malam hari itu berlarian sambil tertawa. Sesekali mereka menjerit histeris. Suasana aula menjadi menyeramkan. Kesurupan massal melanda mahasiswa yang sedang merayakan kemenangan terpilihinya ketua himpunan jurusan yang baru. Semua kebingungan, tak tahu apa yang harus dilakukan.

Mendengar terjadi kesurupan massal di aula kampus, Dekan fakultas segera mendatangi mahasiswa. Betapa terkejut Dekan ketika menyaksikan bukan hanya satu atau dua mahasiswa yang kesurupan, tetapi lebih dari sepuluh orang. Dekan segera memerintahkan pegawainya untuk memanggil Mbah Mino datang kembali ke kampus.

Tak begitu lama Mbah Mino sudah berada di aula. Ia menggelengkan kepala, heran mengapa terjadi kesurupan massal. Satu per satu mahasiswa yang kesurupan didatanginya. Mereka diajak berkomunikasi secara gaib oleh Mbah Mino. Tampak Mbah Mino begitu serius mendengarkan apa yang disampaikan mahasiswa yang kesurupan.

Mbah Mino seperti mengerti dan menyetujui perkataan mahasiswa. Ia menjabat dan menggenggam tangan mahasiswa satu per satu sambil membacakan mantra. Setelah berjabat tangan, mahasiswa yang kesurupan kembali sadar. Suasana aula tidak lagi mencekam.

“Mengapa terjadi kesurupan massal di kampus, Mbah?” tanya Dekan yang sempat larut dalam ketakutan kepada Mbah Mino.

“Sepertinya kegiatan dosen, pegawai, dan mahasiswa berbarengan dengan kegiatan makhluk halus yang ada di kampus,” jawab Mbah Mino.

“Berbarengan dengan kegiatan apa, Mbah?” tanya Dekan masih belum paham jawaban Mbah Mino.

“Makhluk halus juga memiliki jadwal kegiatan di dunia gaib. Kebetulan waktunya berbarengan dengan kegiatan di kampus. Jadi mereka terganggu, karenanya mereka mengusik dosen, pegawai, dan mahasiswa dengan cara merasuki,” jelas Mbah Mino.

“Terus apa yang perlu dilakukan, Mbah?” tanya Dekan.

“Tidak masalah melakukan kegiatan di kampus, asal dengan perhitungan waktu. Nanti saya buatkan kalender kegiatan makhluk halus di kampus ini,” terang Mbah Mino membuat Dekan merasa lega.

Mbah Mino membuatkan kalender kegiatan berdasarkan primbon Jawa. Ada beberapa hari taliwangke, yaitu hari larangan untuk melakukan aktivitas. Jika dilanggar akan berdampak buruk dalam kehidupan. Ada pula hari pengapesan atau hari naas, jika melakukan kegiatan di hari itu akan menjumpai naas, sial, atau hal buruk lain.

Hari, tanggal, dan waktu ternyata bukan hanya ada di kalender yang biasa terpajang di dinding. Waktu juga memiliki dimensi budaya, tradisi, dan gaib. Selain manusia, ada pula makhluk gaib yang memiliki kegiatan berdasarkan waktu mereka. Sejak dibuatkan kalender oleh Mbah Mino, kegiatan di kampus berjalan dengan lancar, aman, dan tidak lagi terjadi kesurupan massal. [T]

  • Ini adalah cerita fiksi misteri bersambung. Jika terdapat kesamaan nama, tempat, dan peristiwa hanyalah kebetulan dan rekaan penulis semata

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

KLIK untuk baca cerita selengkapnya:

Tags: Cerbung Kampusku Sarang Hantucerita misterimisteri
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Boy Candra dan Ruang Literasi di Sudut Kota

Next Post

Tuturangan Ambengan [4]: Bersama Arland Academy, Mahasiswa KKN IAHN Mpu Kuturan Menerangi Jalan Desa Ambengan.

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Ajian Jaran Goyang

by Chusmeru
August 20, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

MENJADI lelaki jomblo di usia yang tidak lagi muda membuat Teguh Priyono selalu menjadi perbincangan tetangga. Wajahnya tidak terlalu jelek....

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Kencan Pertama di Kafe Pinggir Sungai

by Chusmeru
August 6, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

KENCAN pertama untuk sebagian besar orang dianggap sesuatu yang mendebarkan. Begitu pun yang dirasakan Heru Pambudi dan Tuty Rosdiana. Belum...

Read moreDetails

Malam Keakraban Berbuntut Teror

by Chusmeru
July 23, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

MENJADI dosen pembimbing Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Ilmu Komunikasi membuat Asifa Furoda selalu dekat dengan mahasiswa. Bukan hanya ketika berada...

Read moreDetails

Resepsi Pernikahan Genderuwo di Bulan Suro

by Chusmeru
July 2, 2026
0

MENDAPAT amanah dari warganya, Suyadi merasa bangga dan terharu menjadi kepala desa. Jabatan yang membuatnya harus memimpin daerah yang agak...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Takut Galungan

by Dede Putra Wiguna
June 27, 2026
0
Takut Galungan

DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Tuturangan Ambengan [4]: Bersama Arland Academy, Mahasiswa KKN IAHN Mpu Kuturan Menerangi Jalan Desa Ambengan.

Tuturangan Ambengan [4]: Bersama Arland Academy, Mahasiswa KKN IAHN Mpu Kuturan Menerangi Jalan Desa Ambengan.

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co