2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kampusku Sarang Hantu [41]: Kesurupan Massal di Kampus

Chusmeru by Chusmeru
November 20, 2025
in Fiksi
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Ilustrasi tatkala.co

KAMPUS yang memiliki banyak kegiatan akan menjadikannya semarak. Bukan hanya kegiatan proses belajar mengajar, kampus juga perlu melakukan kegiatan lain di bidang olah raga, seni, maupun kegiatan rekreatif. Kampus yang sepi kegiatan akan terasa hampa.

Tidak sedikit kampus yang hanya menggeliat di pagi hingga sore hari. Setelah proses belajar mengajar selesai tidak ada lagi kegiatan yang dilakukan dosen, pegawai, maupun mahasiswanya. Mahasiswa hanya dituntut aktif kuliah, sedangkan kegiatan di luar kelas sangat minim.

Sesungguhnya banyak kegiatan yang dapat dilakukan di kampus dari pagi hingga malam hari. Seperti kampus di kota Purwokerto ini misalnya, suasana kampus tampak hidup. Bahkan di hari Minggu pun banyak dosen dan mahasiswa yang melakukan aktivitas di kampus, entah untuk kegiatan diskusi maupun olah raga.

Setiap hari Jumat pagi diadakan senam kesegaran jasmani yang diikuti dosen dan pegawai. Biasanya dengan mengundang instruktur senam untuk memandu gerakan. Meski yang hadir tidak begitu banyak, karena jadwal mengajar pagi dosen, namun kegiatan ini tetap rutin dilakukan.

Kampus juga memiliki aula yang digunakan untuk olah raga tenis meja serta aula untuk kegiatan kesenian. Lapangan voli yang luas tersedia berdekatan dengan tempat parkir kendaraan. Jika kampus melaksanakan dies natalis sering diadakan lomba voli antarjurusan dan lomba olah raga lainnya.

Mahasiswa di kampus ini tak pernah sepi dari kegiatan. Setiap himpunan mahasiswa jurusan memiliki agenda kegiatan ilmiah dan kesenian yang selalu diadakan di kampus. Hal ini membuat kampus menjadi hidup dari dari pagi hingga malam.

Letak kampus yang strategis di pinggir jalan besar memang membuat antusiasme warganya untuk beraktivitas. Jika memerlukan kebutuhan untuk keperluan kegiatan, banyak toko maupun minimarket  yang buka hingga malam. Warung makan juga berderet di sepanjang jalan menuju kampus.

Pihak dekanat pun memberi iklim yang baik bagi mahasiswa maupun dosen untuk berorganisasi di dalam kampus. Tak heran jika banyak tumbuh unit kegiatan mahasiswa yang ikut meramaikan suasana kampus. Kota yang sejuk ini pun dimeriahkan oleh geliat kegiatan warga kampus.

Kesan angker kampus di malam hari tidak menyurutkan mahasiswa untuk berkegiatan. Ada saja acara pentas teater, pemutaran film, maupun diskusi yang dilakukan malam hari. Sedangkan di kampus lain banyak yang menggembok pintu gerbangnya jika sore telah tiba.

***

Pagi yang berkabut. Kota Purwokerto terasa sejuk dan sedikit dingin di hari Jumat. Dosen dan pegawai sudah siap di halaman belakang kampus. Senam rutin akan diadakan dengan instruktur cantik Prima Nurani.

Beberapa perlengkapan untuk senam sudah disiapkan, mulai panggung untuk instruktur memberi aba-aba, pengeras suara dan musik, hingga konsumsi yang akan disantap setelah senam usai. Pukul 07.00 kabut sudah mulai surut ketika matahari mulai merangkak naik. Dosen dan pegawai berbaris rapi memulai senam pagi.

Musik dimainkan. Lagu Goyang Dumang yang dinyanyikan Cita Citata mengiringi Prima Nurani melenggak-lenggok energik yang diikuti oleh dosen dan pegawai. Sesekali terdengar teriakan semangat dari Sisilia Meriani, dosen muda yang lincah bergerak mengikuti irama musik. Tak kalah seru, Saliman pegawai tata usaha juga bergerak sambil berjoget riang.

Semangat Sisilia menggerakan badan begitu menggebu, hingga musik berakhir ia masih bergerak. Begitu pula Saliman masih saja berjoget riang ketika lagu Goyang Dumang sudah tak lagi mengalun. Dosen dan pegawai lain tertawa melihat Sisilia dan Saliman masih berjoget. Namun suasana menjadi berubah ketika Sisilia dan Saliman tertawa terbahak-bahak sambil mata mereka melotot.

“Bu Sisil… Bu Sisil… !” kata Wafinda dosen satu jurusan mengingatkan Sisilia yang tertawa terbahak-bahak.

Sisilia tetap saja berjoget sambil tertawa. Saliman yang diingatkan oleh pegawai lain juga masih tetap berjoget sambil tertawa-tawa. Semua peserta senam kebingungan. Prima Nurani sang instruktur senam juga terkejut. Baru kali ini senam di kampus terjadi suasana seperti ini.

“Mereka kesurupan..!” kata Bekto Istiadi, dosen yang paham tentang kejadian tak wajar.

Semua terkejut. Suasana halaman belakang kampus menjadi berubah dari riang gembira menjadi mencekam. Beberapa dosen mengerumuni Sisilia dan Saliman untuk menyadarkannya dengan memegangi tubuh mereka. Namun keadaan justru tambah tegang. Sisilia dan Saliman melotot sambil berkata-kata yang tidak jelas. Peserta senam pagi banyak yang merinding.

Bekto Istiadi mendatangi mereka. Dipeganginya tangan Saliman sambil membaca doa untuk mengusir makhluk halus. Saliman masih melotot sambil berucap tak karuan. Bekto Istiadi mengeraskan bacaan doanya. Saliman menggelinjang dan mendadak lemas. Ia telah sadar.

“Apa yang terjadi?” tanya Saliman bingung.

“Nggak ada apa-apa..,” jawab Bekto Istiadi menenangkan.

Sisilia masih berjoget sambil tertawa. Ia tak memperhatikan Saliman yang telah sadar. Ia juga tak peduli pada upaya teman-teman dosen yang mengingatkannya. Lagi-lagi Bekto Istiadi turun tangan. Disentuhnya kening Sisilia dengan jari telunjuk sambil membaca doa, sama seperti doa yang dibacakan untuk Saliman. Seketika Sisilia menjerit keras, lalu terkulai lemas.

“Ada apa ini..?” tanya Sisilia lirih begitu sadar.

“Nggak ada apa-apa bu..,” jawab Bekto Istiadi sambil menyarankan kepada dosen perempuan untuk membawa Sisilia ke tempat yang lebih teduh.

Acara senam pagi dihentikan. Semua dosen dan pegawai berteduh ke lobi kampus. Sinar mentari mulai terasa menyengat. Tidak pernah terbayangkan akan terjadi kesurupan pada peserta senam. Semua bertanya, ada apa dengan kampus sehingga dosen dan pegawai kesurupan.

  ***

Lapangan voli di sebelah utara kampus sudah ramai pemain dan penonton sore hari. Setiap hari Sabtu sore diwarnai dengan berbagai kegiatan olah raga oleh dosen dan pegawai. Selain voli, ada juga yang bermain tenis meja dan bulu tangkis. Namun voli menjadi olah raga yang meriah dan seru oleh para suporter dari dosen dan pegawai.

Dosen memiliki Masrukan, pemain voli andalan. Pegawai punya Windarto yang menjadi atlet voli tingkat kabupaten. Ketika tim dosen dan pegawai bertemu di lapangan voli, maka pertandingan menjadi sangat seru.

Sorak sorai penonton begitu riuh setiap tim mendapatkan nilai. Saking riangnya penonton, Adis Rianto dosen muda tak mampu menahan emosi. Tubuhnya kaku dan matanya melotot. Mulutnya komat-kamit mengucapkan kalimat tak jelas seperti orang kesurupan. Melihat ada dosen yang histeris, tiba-tiba Suwaryo, pegawai bagian perlengkapan ikutan histeris. Tubuhnya meronta dan memasuki area lapangan voli.

Suasana lapangan voli menjadi mencekam. Dua orang mengalami kesurupan di lapangan. Beberapa orang mencoba menyadarkan mereka, namun tak ada yang berhasil. Adis Rianto dan Suwaryo kejet-kejet, tubuh mereka kejang dan bergerak tak terkendali. Bekto Istiadi yang sempat menyadarkan dosen dan pegawai yang kesurupan saat senam pagi juga tidak mampu mengatasi. Bahkan ia dibentak oleh Adis Rianto dan Suwaryo.

Hari sudah semakin sore, mereka belum juga sadarkan diri dari kesurupan. Semua merasa cemas, takut, dan merinding. Seorang pegawai mendatangkan Mbah Mino, seorang sesepuh di sekitar kampus. Sesaat sebelum azan magrib terdengar, mereka berhasil disadarkan oleh Mbah Mino.

“Mereka kerasukan makhluk halus yang menghuni di sekitar kampus ini,” ujar Mbah Mino kepada dosen dan pegawai yang masih berkumpul di lapangan voli.

Peristiwa kesurupan massal di kampus pagi dan sore hari menimbulkan banyak pertanyaan. Mengapa dosen dan pegawai diganggu makhluk halus? Bukankah mereka hanya melakukan kegiatan olah raga? Apakah makhluk halus yang menghuni kampus merasa terusik dengan kegiatan yang dilakukan dosen dan pegawai?

Belum terjawab pertanyaan-pertanyaan itu, peristiwa serupa terjadi pada malam hari. Salah satu himpunan mahasiswa jurusan sedang melakukan pemilihan ketua himpunan yang baru. Kegiatan itu dilakukan di aula kampus. Mahasiswa memang sering melakukan aktivitas malam hari, karena pagi dan siang hari mereka kuliah.

Saat Yopie Andesta terpilih sebagai ketua himpunan mahasiswa jurusan, para pendukungnya berjingkrak-jingkrak riang gembira. Mereka meneriakan yel-yel kemenangan Yopie Andesta. Ada pula yang bernyanyi keras sambil berjoget dan meniup terompet. Aula kampus menjadi ajang luapan kegembiraan.

Di tengah kegembiraan itu, beberapa orang mahasiswa berlarian memutari ruangan aula dengan tertawa sambil mata melotot. Mereka berlari tiada henti. Terbahak, namun matanya melotot. Mahasiswa pria dan wanita itu tampak kesurupan seperti penari kuda lumping mengelilingi aula kampus. Semua terkejut. Musik yang mengalun di aula dihentikan oleh panitia.

Cukup lama beberapa mahasiswa yang kesurupan di malam hari itu berlarian sambil tertawa. Sesekali mereka menjerit histeris. Suasana aula menjadi menyeramkan. Kesurupan massal melanda mahasiswa yang sedang merayakan kemenangan terpilihinya ketua himpunan jurusan yang baru. Semua kebingungan, tak tahu apa yang harus dilakukan.

Mendengar terjadi kesurupan massal di aula kampus, Dekan fakultas segera mendatangi mahasiswa. Betapa terkejut Dekan ketika menyaksikan bukan hanya satu atau dua mahasiswa yang kesurupan, tetapi lebih dari sepuluh orang. Dekan segera memerintahkan pegawainya untuk memanggil Mbah Mino datang kembali ke kampus.

Tak begitu lama Mbah Mino sudah berada di aula. Ia menggelengkan kepala, heran mengapa terjadi kesurupan massal. Satu per satu mahasiswa yang kesurupan didatanginya. Mereka diajak berkomunikasi secara gaib oleh Mbah Mino. Tampak Mbah Mino begitu serius mendengarkan apa yang disampaikan mahasiswa yang kesurupan.

Mbah Mino seperti mengerti dan menyetujui perkataan mahasiswa. Ia menjabat dan menggenggam tangan mahasiswa satu per satu sambil membacakan mantra. Setelah berjabat tangan, mahasiswa yang kesurupan kembali sadar. Suasana aula tidak lagi mencekam.

“Mengapa terjadi kesurupan massal di kampus, Mbah?” tanya Dekan yang sempat larut dalam ketakutan kepada Mbah Mino.

“Sepertinya kegiatan dosen, pegawai, dan mahasiswa berbarengan dengan kegiatan makhluk halus yang ada di kampus,” jawab Mbah Mino.

“Berbarengan dengan kegiatan apa, Mbah?” tanya Dekan masih belum paham jawaban Mbah Mino.

“Makhluk halus juga memiliki jadwal kegiatan di dunia gaib. Kebetulan waktunya berbarengan dengan kegiatan di kampus. Jadi mereka terganggu, karenanya mereka mengusik dosen, pegawai, dan mahasiswa dengan cara merasuki,” jelas Mbah Mino.

“Terus apa yang perlu dilakukan, Mbah?” tanya Dekan.

“Tidak masalah melakukan kegiatan di kampus, asal dengan perhitungan waktu. Nanti saya buatkan kalender kegiatan makhluk halus di kampus ini,” terang Mbah Mino membuat Dekan merasa lega.

Mbah Mino membuatkan kalender kegiatan berdasarkan primbon Jawa. Ada beberapa hari taliwangke, yaitu hari larangan untuk melakukan aktivitas. Jika dilanggar akan berdampak buruk dalam kehidupan. Ada pula hari pengapesan atau hari naas, jika melakukan kegiatan di hari itu akan menjumpai naas, sial, atau hal buruk lain.

Hari, tanggal, dan waktu ternyata bukan hanya ada di kalender yang biasa terpajang di dinding. Waktu juga memiliki dimensi budaya, tradisi, dan gaib. Selain manusia, ada pula makhluk gaib yang memiliki kegiatan berdasarkan waktu mereka. Sejak dibuatkan kalender oleh Mbah Mino, kegiatan di kampus berjalan dengan lancar, aman, dan tidak lagi terjadi kesurupan massal. [T]

  • Ini adalah cerita fiksi misteri bersambung. Jika terdapat kesamaan nama, tempat, dan peristiwa hanyalah kebetulan dan rekaan penulis semata

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

KLIK untuk baca cerita selengkapnya:

Tags: Cerbung Kampusku Sarang Hantucerita misterimisteri
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Boy Candra dan Ruang Literasi di Sudut Kota

Next Post

Tuturangan Ambengan [4]: Bersama Arland Academy, Mahasiswa KKN IAHN Mpu Kuturan Menerangi Jalan Desa Ambengan.

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

by Chusmeru
September 27, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

Read moreDetails

Suara dari Dalam Lemari

by Chusmeru
September 17, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

BEKERJA sebagai arsitek muda freelance, Dara Ayunita terbiasa tidur larut malam. Itu tak menjadi masalah, meskipun ia masih tinggal di...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
0
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

by Salman Alade
September 6, 2026
0
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails
Next Post
Tuturangan Ambengan [4]: Bersama Arland Academy, Mahasiswa KKN IAHN Mpu Kuturan Menerangi Jalan Desa Ambengan.

Tuturangan Ambengan [4]: Bersama Arland Academy, Mahasiswa KKN IAHN Mpu Kuturan Menerangi Jalan Desa Ambengan.

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co