4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Galungan dan Keberlangsungan Pertanian Bali: Sebuah Ajakan untuk Kembali ke Akar

I Wayan Yudana by I Wayan Yudana
November 19, 2025
in Esai
Galungan dan Keberlangsungan Pertanian Bali: Sebuah Ajakan untuk Kembali ke Akar

Foto kolase: Canva

SETIAP enam bulan sekali, Bali mendapatkan dua pengingat penting. Yang pertama adalah Hari Raya Galungan—kemenangan Dharma melawan Adharma, momentum untuk eling dan mulat sarira. Yang kedua adalah melonjaknya harga kebutuhan pokok yang naik seperti layangan putus. Yang satu menggerakkan hati, yang satu lagi menggerakkan kantong.

Fenomena harga ini sebetulnya ibarat drama seri yang tidak pernah tamat. Menjelang Galungan, daging naik, ayam naik, ikan naik, bahkan harga kelapa kadang-kadan ikut naik seperti ikut lomba panjat tebing. Ibu-ibu di pasar hanya menghela napas sambil berkata,

“Walau mahal, kita harus beli, yang penting Galungan tetap jalan,” meski isi tas belanja makin tipis seperti dompet akhir bulan.

Namun menariknya, kita semua menerima ini sebagai hal biasa. Seolah-olah naiknya harga setiap Galungan itu adalah takdir kosmis yang tidak bisa diganggu gugat. Kita lupa bahwa harga naik bukan karena “roh jahat” menjelang hari suci, tetapi karena akar persoalan pertanian Bali tidak pernah benar-benar kita rawat.

Kita ingin harga murah, tetapi tidak serius menjaga petani.
Kita ingin banten lengkap, tetapi lupa siapa yang menanam kelapanya.
Kita ingin budaya tetap kokoh, tetapi abai pada fondasi pangan yang menopangnya. Inilah ironi yang terasa getir sekaligus menggelitik.

Bali hari ini terus digerus oleh perkembangan pariwisata yang melaju seperti sepeda listrik tanpa rem. Sementara pertanian, yang menjadi akar budaya dan identitas Bali, kadang tampak berjalan pelan—bahkan sesekali terpeleset. Hubungan keduanya sering disamakan dengan Tom and Jerry, saling membutuhkan, tetapi sering bertabrakan; terlihat damai, tetapi setiap saat bisa saling jebak.

Padahal pariwisata Bali lahir dari tanah pertanian. Penjor itu tidak berdiri sendiri. Ia berdiri di atas bambu yang ditanam petani. Banten itu tidak melayang turun dari langit. Ia berasal dari kebun, sawah, dan ladang. Subak itu bukan dekorasi Instagram, melainkan sistem agraris yang diwariskan ratusan tahun. Tanpa pertanian, pariwisata Bali kehilangan ceritanya.
Tanpa petani, budaya Bali kehilangan rohnya.

Sementara itu, dunia pendidikan kita tak kalah lucu, sekaligus menyedihkan. Rekrutmen siswa SMK sekarang seperti pertarungan bebas—semua sekolah memperebutkan siswa dengan segala macam strategi: seragam gratis, fasilitas ber-AC, janji masa depan gemilang. Di tengah hiruk pikuk itu, jurusan pertanian tampil paling sederhana: pacul, lahan praktik, tanah, dan sebuah kalimat, “Inilah masa depan Bali!”

Tapi sayangnya, masa depan Bali itu sering kalah pamor dibandingkan masa depan hotel, kafe, atau pekerjaan dunia pariwisata yang terdengar lebih mentereng. Anak-anak muda lebih tergoda pada dunia kerja yang “bersih dan dingin”, daripada dunia sawah yang “panas dan berlumpur”. Padahal masa depan pangan Bali bergantung pada mereka.

Lebih ironis lagi, petani, nelayan, dan peternak yang selama ini menyuplai kebutuhan Galungan jarang memperoleh insentif nyata. Harga naik, tetapi tidak selalu berarti kesejahteraan mereka ikut naik. Galungan meriah, tapi pelaku hulunya kadang tetap hidup pas-pasan. Sungguh, ada yang tidak beres di sini. Inilah Bali kita.

Di tengah segala keanehan itu, Galungan hadir sebagai teguran halus—teguran budaya yang tidak marah, tetapi menyentil dengan lembut. Penjor yang melambai seperti sedang bertanya, “Bagaimana mau menang melawan Adharma, kalau menjaga pertanian saja belum serius?”

Galungan bukan hanya tentang sembahyang. Ia adalah panggilan untuk kembali pada akar—akar budaya, akar ekologi, akar pangan, akar kehidupan. Jika akar itu keropos, maka pariwisata pun rapuh, budaya melemah, dan Bali kehilangan jati dirinya.

Pariwisata dan pertanian tidak harus seperti Tom and Jerry selamanya. Mereka bisa berdamai, saling menguatkan. Pertanian memberi cerita, pariwisata memberi nilai tambah. Pariwisata memberi pasar, pertanian memberi produk. Desa wisata, agroeduwisata, kuliner lokal—semuanya adalah jembatan indah antara kedua sektor yang sering disalahpahami sebagai dua kutub yang bertentangan.

Namun semua itu hanya mungkin bila kita mulai dari hulunya, yakni pendidikan pertanian yang kuat. Pendidikan yang tidak dibiarkan menjadi isapan jempol, tetapi benar-benar didukung kebijakan, anggaran, dan komitmen. Pendidikan yang membuat anak muda kembali menghargai tanah, benih, air, dan pangan.

Oleh karena itu, jika setiap Galungan harga kembali naik dan membuat kita mengeluh, mungkin itu bukan sekadar kejadian pasar. Mungkin itu cara alam mencubit kita pelan-pelan sambil berbisik:

“Kalau mau harga stabil, rawatlah hulunya.

Kalau mau budaya kuat, jagalah tanahnya.

Kalau mau Galungan tetap bermakna, jangan lupakan petaninya.”

Galungan adalah kemenangan Dharma. Akan tetapi Dharma tidak akan pernah menang
jika ayam untuk upacara harus impor, kelapa untuk penjor dan sate didatangkan dari luar pulau, dan anak-anak kita tidak lagi tertarik belajar bertani. Semoga itu tidak pernah terjadi.

Semoga Bali tetap berdiri di atas akar budaya dan akar pertaniannya. Semoga kita tidak hanya kembali ke pura pada hari Galungan, tetapi juga kembali mengingat sawah, ladang, kebun, dan laut—tempat di mana kehidupan Bali sesungguhnya bermula. [T]

Penulis: I Wayan Yudana
Editor: Adnyana Ole

Tags: hari raya galunganpertanianpertanian bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ulasan Wayang Wong RRI Surakarta: Teknologi Visual yang Merampas Ruang

Next Post

Boy Candra dan Ruang Literasi di Sudut Kota

I Wayan Yudana

I Wayan Yudana

Kepala SMKN 1 Petang, Badung, Bali

Related Posts

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails
Next Post
Boy Candra dan Ruang Literasi di Sudut Kota

Boy Candra dan Ruang Literasi di Sudut Kota

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co