14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Galungan dan Keberlangsungan Pertanian Bali: Sebuah Ajakan untuk Kembali ke Akar

I Wayan Yudana by I Wayan Yudana
November 19, 2025
in Esai
Galungan dan Keberlangsungan Pertanian Bali: Sebuah Ajakan untuk Kembali ke Akar

Foto kolase: Canva

SETIAP enam bulan sekali, Bali mendapatkan dua pengingat penting. Yang pertama adalah Hari Raya Galungan—kemenangan Dharma melawan Adharma, momentum untuk eling dan mulat sarira. Yang kedua adalah melonjaknya harga kebutuhan pokok yang naik seperti layangan putus. Yang satu menggerakkan hati, yang satu lagi menggerakkan kantong.

Fenomena harga ini sebetulnya ibarat drama seri yang tidak pernah tamat. Menjelang Galungan, daging naik, ayam naik, ikan naik, bahkan harga kelapa kadang-kadan ikut naik seperti ikut lomba panjat tebing. Ibu-ibu di pasar hanya menghela napas sambil berkata,

“Walau mahal, kita harus beli, yang penting Galungan tetap jalan,” meski isi tas belanja makin tipis seperti dompet akhir bulan.

Namun menariknya, kita semua menerima ini sebagai hal biasa. Seolah-olah naiknya harga setiap Galungan itu adalah takdir kosmis yang tidak bisa diganggu gugat. Kita lupa bahwa harga naik bukan karena “roh jahat” menjelang hari suci, tetapi karena akar persoalan pertanian Bali tidak pernah benar-benar kita rawat.

Kita ingin harga murah, tetapi tidak serius menjaga petani.
Kita ingin banten lengkap, tetapi lupa siapa yang menanam kelapanya.
Kita ingin budaya tetap kokoh, tetapi abai pada fondasi pangan yang menopangnya. Inilah ironi yang terasa getir sekaligus menggelitik.

Bali hari ini terus digerus oleh perkembangan pariwisata yang melaju seperti sepeda listrik tanpa rem. Sementara pertanian, yang menjadi akar budaya dan identitas Bali, kadang tampak berjalan pelan—bahkan sesekali terpeleset. Hubungan keduanya sering disamakan dengan Tom and Jerry, saling membutuhkan, tetapi sering bertabrakan; terlihat damai, tetapi setiap saat bisa saling jebak.

Padahal pariwisata Bali lahir dari tanah pertanian. Penjor itu tidak berdiri sendiri. Ia berdiri di atas bambu yang ditanam petani. Banten itu tidak melayang turun dari langit. Ia berasal dari kebun, sawah, dan ladang. Subak itu bukan dekorasi Instagram, melainkan sistem agraris yang diwariskan ratusan tahun. Tanpa pertanian, pariwisata Bali kehilangan ceritanya.
Tanpa petani, budaya Bali kehilangan rohnya.

Sementara itu, dunia pendidikan kita tak kalah lucu, sekaligus menyedihkan. Rekrutmen siswa SMK sekarang seperti pertarungan bebas—semua sekolah memperebutkan siswa dengan segala macam strategi: seragam gratis, fasilitas ber-AC, janji masa depan gemilang. Di tengah hiruk pikuk itu, jurusan pertanian tampil paling sederhana: pacul, lahan praktik, tanah, dan sebuah kalimat, “Inilah masa depan Bali!”

Tapi sayangnya, masa depan Bali itu sering kalah pamor dibandingkan masa depan hotel, kafe, atau pekerjaan dunia pariwisata yang terdengar lebih mentereng. Anak-anak muda lebih tergoda pada dunia kerja yang “bersih dan dingin”, daripada dunia sawah yang “panas dan berlumpur”. Padahal masa depan pangan Bali bergantung pada mereka.

Lebih ironis lagi, petani, nelayan, dan peternak yang selama ini menyuplai kebutuhan Galungan jarang memperoleh insentif nyata. Harga naik, tetapi tidak selalu berarti kesejahteraan mereka ikut naik. Galungan meriah, tapi pelaku hulunya kadang tetap hidup pas-pasan. Sungguh, ada yang tidak beres di sini. Inilah Bali kita.

Di tengah segala keanehan itu, Galungan hadir sebagai teguran halus—teguran budaya yang tidak marah, tetapi menyentil dengan lembut. Penjor yang melambai seperti sedang bertanya, “Bagaimana mau menang melawan Adharma, kalau menjaga pertanian saja belum serius?”

Galungan bukan hanya tentang sembahyang. Ia adalah panggilan untuk kembali pada akar—akar budaya, akar ekologi, akar pangan, akar kehidupan. Jika akar itu keropos, maka pariwisata pun rapuh, budaya melemah, dan Bali kehilangan jati dirinya.

Pariwisata dan pertanian tidak harus seperti Tom and Jerry selamanya. Mereka bisa berdamai, saling menguatkan. Pertanian memberi cerita, pariwisata memberi nilai tambah. Pariwisata memberi pasar, pertanian memberi produk. Desa wisata, agroeduwisata, kuliner lokal—semuanya adalah jembatan indah antara kedua sektor yang sering disalahpahami sebagai dua kutub yang bertentangan.

Namun semua itu hanya mungkin bila kita mulai dari hulunya, yakni pendidikan pertanian yang kuat. Pendidikan yang tidak dibiarkan menjadi isapan jempol, tetapi benar-benar didukung kebijakan, anggaran, dan komitmen. Pendidikan yang membuat anak muda kembali menghargai tanah, benih, air, dan pangan.

Oleh karena itu, jika setiap Galungan harga kembali naik dan membuat kita mengeluh, mungkin itu bukan sekadar kejadian pasar. Mungkin itu cara alam mencubit kita pelan-pelan sambil berbisik:

“Kalau mau harga stabil, rawatlah hulunya.

Kalau mau budaya kuat, jagalah tanahnya.

Kalau mau Galungan tetap bermakna, jangan lupakan petaninya.”

Galungan adalah kemenangan Dharma. Akan tetapi Dharma tidak akan pernah menang
jika ayam untuk upacara harus impor, kelapa untuk penjor dan sate didatangkan dari luar pulau, dan anak-anak kita tidak lagi tertarik belajar bertani. Semoga itu tidak pernah terjadi.

Semoga Bali tetap berdiri di atas akar budaya dan akar pertaniannya. Semoga kita tidak hanya kembali ke pura pada hari Galungan, tetapi juga kembali mengingat sawah, ladang, kebun, dan laut—tempat di mana kehidupan Bali sesungguhnya bermula. [T]

Penulis: I Wayan Yudana
Editor: Adnyana Ole

Tags: hari raya galunganpertanianpertanian bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ulasan Wayang Wong RRI Surakarta: Teknologi Visual yang Merampas Ruang

Next Post

Boy Candra dan Ruang Literasi di Sudut Kota

I Wayan Yudana

I Wayan Yudana

Kepala SMKN 1 Petang, Badung, Bali

Related Posts

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
0
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

Read moreDetails

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

Read moreDetails

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails
Next Post
Boy Candra dan Ruang Literasi di Sudut Kota

Boy Candra dan Ruang Literasi di Sudut Kota

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co