DI sudut Perumnas Lambang, Kota Pariaman, Sumatera Barat, deretan rumah sederhana berdiri rapat seperti sahabat yang saling menopang. Jalan sempit yang menjadi penghubung antarblok kerap dipenuhi suara anak-anak berlari, sepeda kecil yang berlomba, dan perbincangan hangat para ibu di teras rumah.
Namun, di antara riuh aktivitas harian itu, ada satu rumah yang berbeda auranya. Bukan karena megahnya, melainkan karena kehidupan kecil yang tumbuh dari rak-rak buku di dalamnya tempat di mana setiap lembar kertas menjadi jendela bagi banyak mimpi, dan keheningan membaca bersanding dengan suara riang anak-anak.
Dari rumah biasa di lingkungan padat ini, sebuah gerakan literasi lahir, pelan namun pasti, menembus batas ruang dan kebiasaan masyarakat yang mulai tergerus oleh layar gawai. Di balik semua itu adalah seorang perempuan bernama Ai Kurnia Sari yang tidak pernah lelah menyalakan cahaya literasi. Ia percaya bahwa satu buku dapat menuntun pada satu perubahan.
Ai Kurnia Sari adalah seorang ibu yang tumbuh dengan kebiasaan membaca. Ia sering berpikir, betapa jauhnya akses terhadap buku telah menciptakan ketimpangan dalam cara berpikir dan memahami dunia. Ketika sebagian orang bisa dengan mudah mengakses informasi dan literatur, namun masih banyak orang lain yang harus berjuang keras hanya untuk membaca satu buku yang layak.
Kesadaran itulah yang mendorongnya untuk memulai sesuatu dari yang ia miliki. Koleksi buku pribadinya terbilang banyak, mencakup berbagai genre dari novel hingga buku-buku keislaman, dari puisi hingga buku anak-anak. Awalnya, buku-buku itu hanya ia simpan rapi di rak rumah. Tapi kemudian ia berpikir, mengapa tidak dipinjamkan saja kepada mereka yang ingin membaca?
Dengan semangat itu, ia memulai langkah kecil, membuka taman baca dari rumah sendiri. Langkah pertama itu sederhana tapi bermakna. Ia mulai membagikan foto-foto koleksi buku di media sosial, terutama di Facebook dan WhatsApp dalam keterangan, ia menuliskan bahwa siapa pun yang ingin meminjam boleh menghubunginya. Tidak ada syarat sulit, tidak ada batasan. Jika mereka sibuk dan tidak sempat datang, ia bersedia mengantarkan buku langsung ke rumah mereka. selama masih satu kota.
Respon yang ia terima sungguh di luar dugaan. Teman-temannya mulai membalas unggahannya ada yang tertarik meminjam, ada pula yang sekadar bertanya. Perlahan, jumlah peminjam pun meningkat. Bahkan ada beberapa orang yang sebelumnya tidak begitu tertarik membaca, menjadi rutin datang karena penasaran dengan buku-buku yang ia tawarkan. Anak-anak kecil pun mulai berdatangan, ditemani orang tua mereka. Ia merasa senang, sekaligus terharu. Ternyata, di balik kesibukan dan kehidupan yang serba cepat ini, masih banyak orang yang punya minat terhadap buku. Mereka hanya butuh akses, dan sedikit dorongan.
Media sosial memainkan peran yang sangat besar dalam pertumbuhan taman baca ini. Bukan hanya untuk menyebarkan informasi, tetapi juga sebagai jembatan untuk bertemu dengan para pegiat literasi, komunitas, dan bahkan donator.
Beberapa penulis dan pegiat literasi yang Ai Kurnia Sari kenal secara daring mulai menghubunginya. Mereka tertarik dengan gerakan yang ia lakukan dan menawarkan bantuan. Ada yang menyumbangkan buku, ada yang mempromosikan taman bacanya di jaringan mereka, bahkan ada yang mengirimkan paket buku tanpa diminta. Jumlah koleksi buku pun bertambah secara signifikan.
Jika awalnya hanya sekitar 200-an buku, kini koleksi buku telah mencapai ribuan. Ada novel, buku agama, buku pelajaran, ensiklopedia anak, komik edukatif, majalah, dan lain-lain. Dari sinilah ia belajar bahwa media sosial, jika digunakan secara bijak, bisa menjadi alat pemberdayaan yang sangat efektif. Pengenalan dan citra taman baca menjadi penting, bukan untuk mencari ketenaran, tapi agar pesan kebaikan bisa menyebar lebih luas.
Selain sebagai penggerak literasi, Ai Kurnia Sari juga seorang ibu rumah tangga yang menjalani keseharian sederhana. Pagi hari ia biasa menyiapkan sarapan untuk keluarga, mengantar anak ke sekolah, lalu membuka pintu rumah yang juga menjadi taman baca bagi warga sekitar. Setelah pekerjaan rumah selesai, ia menyusun buku-buku, membersihkan rak, dan menyambut anak-anak yang datang untuk membaca.
Baginya, taman baca bukan hanya tempat untuk meminjam dan membaca buku, melainkan juga ruang yang hidup, menyenangkan, dan penuh interaksi. Karena itu, ia mulai mengadakan berbagai kegiatan dari lomba mewarnai untuk anak-anak, diskusi buku untuk remaja dan dewasa, hingga pelatihan membuat makanan sehat bagi ibu-ibu. Salah satu kegiatan favorit anak-anak adalah read aloud, atau membaca nyaring, di mana ia atau relawan lain membacakan cerita dengan ekspresif.
Kegiatan-kegiatan ini menjadikan taman baca sebagai ruang sosial yang hangat. Anak-anak datang tidak hanya untuk membaca, tetapi juga bermain dan belajar. Orang tua pun merasa aman membiarkan anak-anak mereka berkegiatan karena tahu mereka berada di lingkungan positif yang dipelopori oleh Ai Kurnia Sari.
Namun tentu, tidak semua berjalan mulus. Tantangan terbesar bagi Ai Kurnia Sari adalah menjaga keberlanjutan kegiatan di tengah kesibukannya sebagai ibu rumah tangga. Buku memang terus berdatangan, tetapi menjaga semangat anak-anak, merawat fasilitas, dan mengatur waktu bukanlah hal yang mudah. Meski demikian, Ia memilih tetap konsisten. Ia percaya, konsistensi akan mengubah pandangan dan menumbuhkan kepercayaan masyarakat.
Ia menyadari bahwa taman baca ini masih jauh dari sempurna. Masih banyak yang perlu dibenahi, dari sistem peminjaman, keterlibatan relawan, hingga pengembangan fasilitas. Namun ia tidak ingin berhenti. Ia punya harapan besar bahwa suatu hari nanti, taman baca ini bisa menjadi pusat literasi yang lebih lengkap, dengan ruang belajar yang nyaman, koleksi buku digital, dan program-program pembinaan yang berkelanjutan.
Ai Kurnia Sari menyampaikan pesan yang menyentuh tentang perjalanan dan makna dari perjuangannya membangun taman baca. Baginya, mengelola Taman Baca Masyarakat bukan sekadar mengatur buku dan kegiatan, tetapi sebuah proses belajar tentang ketekunan, kepedulian, dan kekuatan kolaborasi. “Perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil, dan saya percaya, satu buku bisa mengubah hidup seseorang,” ujarnya dengan mata berbinar.
Semangat itulah yang terus ia tularkan kepada siapa pun yang ia temui. Ia ingin lebih banyak orang berani memulai taman baca di lingkungannya sendiri, meski dengan keterbatasan. Kini, di sela kesibukan dan aktivitasnya, Ai Kurnia Sari mulai menyusun panduan sederhana tentang cara membangun taman baca dari nol mulai dari mengelola koleksi buku, memanfaatkan media sosial, hingga menjalin jejaring dengan komunitas literasi lain. Baginya, setiap taman baca baru adalah sebuah cahaya kecil yang akan menambah terang bagi masa depan literasi bangsa. [T]
Penulis: Jefriyan Putra Deska
Editor: Adnyana Ole



























