14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Galungan Banyak Biaya? –Merayakan Hari Suci Mesti Cermat, Bukan Hemat

IK Satria by IK Satria
November 17, 2025
in Esai
Hari Suci Saraswati, Mempermulia Diri dengan “Kaweruhan Sujati”

IK Satria

YADNYA dalam arti sederhananya adalah persembahan suci, persembahan yang dilakukan dengan dasar kesucian. Landasannya adalah kitab suci, dibuat dan dihaturkan oleh orang suci, dipersembahkan di hari yang suci, serta menggunakan alat-alat yang suci dan dilakukan di tempat yang suci. Inilah acara Agama Hindu kita.

Landasan kesucian adalah kata kuncinya sesungguhnya, sekarang kita bisa melihat bahwa yadnya sudah sangat bergeser pemahamannya bagi kita semua. Ada yang menyatakan yadnya adalah korban suci, artinya setelah berkorban, semua urusan selesai. Ada juga yang mengartikan bahwa yadnya adalah rutinitas kehidupan yang spiritual, artinya setelah beryadnya berarti kita sudah spiritual, dan beberapa anggapan lainnya.

Pada hakikatnya marilah kita renungkan, apakah setelah berkorban itu kita sudah mendapatkan kebaikan yang utuh dari alam? Bukankah sesungguhnya kita hanya konsumen dari segala produk alam ini yang kita pikirkan sebagai milik kita? Yang seharusnya kita pelihara baik untuk kebaikan hasilnya pula. Ini artinya kita telah menggeser makna yadnya itu, dari esensinya turun menjadi hanya sekedar rutinitas belaka.

Hal inilah yang kurang pada diri kita saat ini, kurang mengesensi pada hakikat yadnya sesungguhnya, sehingga hasilnyapun kurang mengena, artinya tidak tepat guna. Sebagai hasilnya adalah pandangan bahwa yadnya sudah besar, tetapi penderitan dunia semakin menguat. Padahal dari Yadnya itu sesungguhnya menghasilkan vibrasi kesucian yang mampu menguatkan sradha dan bhakti manusia kepada Tuhan. Pada pelaksanaan Yadnya Suci inilah dihadirkan Tuhan yang Maha Suci itu untuk menyaksikan seluruh rangkaian kesucian yang dipersembahkan.

Sungguh luar biasa jika kita sadari bahwa yadnya suci inilah yang menjadi tolak ukur bertemunya kesucian dan akan menjadi penyangga alam.

Menyangga artinya, alam ini disokong keberlanjutannya oleh yadnya, selain orang suci atau diksa, tapa atau pengekangan, pertiwi sebagai penghidup dan diikat erat oleh keberadaan Panca Maha Bhuta. Sehingga alam menjadi degdeg, kertha dan isinya Bahagia sejahtera. Panca Maha Bhuta inilah sesungguhnya perlu harmonis, bagaikan tali, yang selalu erat mengikat sehingga kokoh berdiri. Hal itu pula agar ikatan kekokohan alam ini tetap terseimbangkan dan tetap berlangsung sesuai hukumnya.

Pemahaman Yadnya itulah yang sesungguhnya mesti muncul dan kita lakukan pada setiap hari suci. Termasuk didalamnya hari suci Galungan dan Kuningan. Menjelang hari suci inilah umat kita merasa berat dengan berbagai pengeluaran yang tentunya tidak sedikit untuk ukuran jaman sekarang. Maka disinilah muncul kata “hemat” dalam beryadnya.

Dalam pandangan saya kata hemat dalam beryadnya ini sangat tidak relevan dengan pemahaman yadnya sebagai persembahan suci di atas. Kata hemat ini menyiratkan ketidakikhlasan yang memunculkan beragama Hindu kita menjadi memberatkan dan semakin jauh dari kesadaran. Nah pada titik inilah kita tidak akan memperoleh hasil dalam persembahan kita.

Maka kita harus cermat dalam mencermati esensi yadnya sebagai persembahan suci agar kita melakukan dan menggunakan sarana yadnya sesuai dengan kemampuan dan apa adanya. Tidak lagi ada pemikiran rajasika yaitu ingin tampil beda, ingin tampil mewah walau sesungguhnya itu dilakukan dengan kepamrihan yang sangat.

Sudah terlalu banyak sloka-sloka Veda menyiratkan bahwa beryadnya itu adalah bentuk kesadaran yang menjadi cetusan kesucian, untuk harapan kesucian dan hasilnya adalah kesucian pula. Maka melalui tulisan ini saya menggugah agar kita beryadnya sesuai dengan kemampuan atau ketulusan sesuai dengan kemampuan, bukan pada meniru orang lain yang mungkin sudah mampu secara ekonomi. Ketulusan itu justru adalah kelapangan hati, kemurnian dalam mempersembahkan dan akan membuat keharmonisan.

Hal konkrit yang bisa kita lakukan pada perayaan suci Galungan dan Kuningan antara lain adalah;

 Pertama, penggunaan buah lokal yang kita punya dan terdekat dengan alam kita, sehingga dengan berisi sebiji saja buah itu maka banten kita sudah dianggap benar oleh kitab suci. Penggunaan daging bisa kita peruntukan dan khususkan untuk sarana ritual, bukan pemenuhan keinginan konsumsi terlebih jika bisa mengurangi menambah minuman keras didalamnya.

Kedua, penjor upakara adalah berisi seluruh isi alam yang kita miliki sekedarnay seperti biji-bijian secukupnya, buah-buahan secukupnya, pala bungkah dan pala gantung, serta dilengkapi dengan pala rambat. Dihias sewajarnya dan secukupnya maka akan menghasilkan penjor upakara penuh makna.

Ketiga yang lebih penting adalah melaksanakan tapa brata sesuai dengan rangkaian hari suci galungan seperti diawali dengan ke elingan pada sugi pengenten, pembersihan lingkungan atau alam semesta pada sugihan jawa, dilanjutkan dengan bersuci pada sugihan bali, dan inilah pondasi pertama. Selanjutnya adalah anyekung jnana pada penyekeban, menata kata dan laku pada penyajaan dan dilanjutkan dengan pengendalian diri dengan baik pada penampahan galungan. Inilah bangunan lanjutan dari pondasi rangkaian galungan sesungguhnya. Jika ini sudah dilakukan maka menancapkan kemenangan (disimbolkan dengan penjor) akan membuat semua menjadi lebih baik.

Mari kita mengenali dan melakukan hakikat yadnya sebagai penyangga alam sesungguhnya, dengan kesungguhan kita secara sekala dan niskala. Bukan hanya memuja, namun juga memelihara. Galungan itu akan menjadi hari perayaan kemenangan sesungguhnya jika kita memang sudah menang setiap hari dalam melaksanakan agama kita sebagai perilaku bajik dan sempurna untuk ukuran kita. Kurangi beryadnya dengan alas an kemewahan dan ingin pamer, karena itu akan mencederai yadnya yang sesungguhnya sangat menghasikan kelimpahan. Rahajeng merayakan kemenangan di Galungan yang sesungguhnya.[T]

Penulis: IK Satria
Editor: Adnyana Ole

Tags: hari raya galunganhinduHindu BaliTradisi Galungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ai Kurnia Sari, Pejuang Literasi dari Langkah Sunyi

Next Post

Dokter Gila — Kumpulan Cerpen

IK Satria

IK Satria

Penyuluh Agama Kementerian Agama Buleleng

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Dokter Gila — Kumpulan Cerpen

Dokter Gila --- Kumpulan Cerpen

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co