22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Galungan Banyak Biaya? –Merayakan Hari Suci Mesti Cermat, Bukan Hemat

IK Satria by IK Satria
November 17, 2025
in Esai
Hari Suci Saraswati, Mempermulia Diri dengan “Kaweruhan Sujati”

IK Satria

YADNYA dalam arti sederhananya adalah persembahan suci, persembahan yang dilakukan dengan dasar kesucian. Landasannya adalah kitab suci, dibuat dan dihaturkan oleh orang suci, dipersembahkan di hari yang suci, serta menggunakan alat-alat yang suci dan dilakukan di tempat yang suci. Inilah acara Agama Hindu kita.

Landasan kesucian adalah kata kuncinya sesungguhnya, sekarang kita bisa melihat bahwa yadnya sudah sangat bergeser pemahamannya bagi kita semua. Ada yang menyatakan yadnya adalah korban suci, artinya setelah berkorban, semua urusan selesai. Ada juga yang mengartikan bahwa yadnya adalah rutinitas kehidupan yang spiritual, artinya setelah beryadnya berarti kita sudah spiritual, dan beberapa anggapan lainnya.

Pada hakikatnya marilah kita renungkan, apakah setelah berkorban itu kita sudah mendapatkan kebaikan yang utuh dari alam? Bukankah sesungguhnya kita hanya konsumen dari segala produk alam ini yang kita pikirkan sebagai milik kita? Yang seharusnya kita pelihara baik untuk kebaikan hasilnya pula. Ini artinya kita telah menggeser makna yadnya itu, dari esensinya turun menjadi hanya sekedar rutinitas belaka.

Hal inilah yang kurang pada diri kita saat ini, kurang mengesensi pada hakikat yadnya sesungguhnya, sehingga hasilnyapun kurang mengena, artinya tidak tepat guna. Sebagai hasilnya adalah pandangan bahwa yadnya sudah besar, tetapi penderitan dunia semakin menguat. Padahal dari Yadnya itu sesungguhnya menghasilkan vibrasi kesucian yang mampu menguatkan sradha dan bhakti manusia kepada Tuhan. Pada pelaksanaan Yadnya Suci inilah dihadirkan Tuhan yang Maha Suci itu untuk menyaksikan seluruh rangkaian kesucian yang dipersembahkan.

Sungguh luar biasa jika kita sadari bahwa yadnya suci inilah yang menjadi tolak ukur bertemunya kesucian dan akan menjadi penyangga alam.

Menyangga artinya, alam ini disokong keberlanjutannya oleh yadnya, selain orang suci atau diksa, tapa atau pengekangan, pertiwi sebagai penghidup dan diikat erat oleh keberadaan Panca Maha Bhuta. Sehingga alam menjadi degdeg, kertha dan isinya Bahagia sejahtera. Panca Maha Bhuta inilah sesungguhnya perlu harmonis, bagaikan tali, yang selalu erat mengikat sehingga kokoh berdiri. Hal itu pula agar ikatan kekokohan alam ini tetap terseimbangkan dan tetap berlangsung sesuai hukumnya.

Pemahaman Yadnya itulah yang sesungguhnya mesti muncul dan kita lakukan pada setiap hari suci. Termasuk didalamnya hari suci Galungan dan Kuningan. Menjelang hari suci inilah umat kita merasa berat dengan berbagai pengeluaran yang tentunya tidak sedikit untuk ukuran jaman sekarang. Maka disinilah muncul kata “hemat” dalam beryadnya.

Dalam pandangan saya kata hemat dalam beryadnya ini sangat tidak relevan dengan pemahaman yadnya sebagai persembahan suci di atas. Kata hemat ini menyiratkan ketidakikhlasan yang memunculkan beragama Hindu kita menjadi memberatkan dan semakin jauh dari kesadaran. Nah pada titik inilah kita tidak akan memperoleh hasil dalam persembahan kita.

Maka kita harus cermat dalam mencermati esensi yadnya sebagai persembahan suci agar kita melakukan dan menggunakan sarana yadnya sesuai dengan kemampuan dan apa adanya. Tidak lagi ada pemikiran rajasika yaitu ingin tampil beda, ingin tampil mewah walau sesungguhnya itu dilakukan dengan kepamrihan yang sangat.

Sudah terlalu banyak sloka-sloka Veda menyiratkan bahwa beryadnya itu adalah bentuk kesadaran yang menjadi cetusan kesucian, untuk harapan kesucian dan hasilnya adalah kesucian pula. Maka melalui tulisan ini saya menggugah agar kita beryadnya sesuai dengan kemampuan atau ketulusan sesuai dengan kemampuan, bukan pada meniru orang lain yang mungkin sudah mampu secara ekonomi. Ketulusan itu justru adalah kelapangan hati, kemurnian dalam mempersembahkan dan akan membuat keharmonisan.

Hal konkrit yang bisa kita lakukan pada perayaan suci Galungan dan Kuningan antara lain adalah;

 Pertama, penggunaan buah lokal yang kita punya dan terdekat dengan alam kita, sehingga dengan berisi sebiji saja buah itu maka banten kita sudah dianggap benar oleh kitab suci. Penggunaan daging bisa kita peruntukan dan khususkan untuk sarana ritual, bukan pemenuhan keinginan konsumsi terlebih jika bisa mengurangi menambah minuman keras didalamnya.

Kedua, penjor upakara adalah berisi seluruh isi alam yang kita miliki sekedarnay seperti biji-bijian secukupnya, buah-buahan secukupnya, pala bungkah dan pala gantung, serta dilengkapi dengan pala rambat. Dihias sewajarnya dan secukupnya maka akan menghasilkan penjor upakara penuh makna.

Ketiga yang lebih penting adalah melaksanakan tapa brata sesuai dengan rangkaian hari suci galungan seperti diawali dengan ke elingan pada sugi pengenten, pembersihan lingkungan atau alam semesta pada sugihan jawa, dilanjutkan dengan bersuci pada sugihan bali, dan inilah pondasi pertama. Selanjutnya adalah anyekung jnana pada penyekeban, menata kata dan laku pada penyajaan dan dilanjutkan dengan pengendalian diri dengan baik pada penampahan galungan. Inilah bangunan lanjutan dari pondasi rangkaian galungan sesungguhnya. Jika ini sudah dilakukan maka menancapkan kemenangan (disimbolkan dengan penjor) akan membuat semua menjadi lebih baik.

Mari kita mengenali dan melakukan hakikat yadnya sebagai penyangga alam sesungguhnya, dengan kesungguhan kita secara sekala dan niskala. Bukan hanya memuja, namun juga memelihara. Galungan itu akan menjadi hari perayaan kemenangan sesungguhnya jika kita memang sudah menang setiap hari dalam melaksanakan agama kita sebagai perilaku bajik dan sempurna untuk ukuran kita. Kurangi beryadnya dengan alas an kemewahan dan ingin pamer, karena itu akan mencederai yadnya yang sesungguhnya sangat menghasikan kelimpahan. Rahajeng merayakan kemenangan di Galungan yang sesungguhnya.[T]

Penulis: IK Satria
Editor: Adnyana Ole

Tags: hari raya galunganhinduHindu BaliTradisi Galungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ai Kurnia Sari, Pejuang Literasi dari Langkah Sunyi

Next Post

Dokter Gila — Kumpulan Cerpen

IK Satria

IK Satria

Penyuluh Agama Kementerian Agama Buleleng

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Dokter Gila — Kumpulan Cerpen

Dokter Gila --- Kumpulan Cerpen

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co