26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Galungan Banyak Biaya? –Merayakan Hari Suci Mesti Cermat, Bukan Hemat

IK Satria by IK Satria
November 17, 2025
in Esai
Hari Suci Saraswati, Mempermulia Diri dengan “Kaweruhan Sujati”

IK Satria

YADNYA dalam arti sederhananya adalah persembahan suci, persembahan yang dilakukan dengan dasar kesucian. Landasannya adalah kitab suci, dibuat dan dihaturkan oleh orang suci, dipersembahkan di hari yang suci, serta menggunakan alat-alat yang suci dan dilakukan di tempat yang suci. Inilah acara Agama Hindu kita.

Landasan kesucian adalah kata kuncinya sesungguhnya, sekarang kita bisa melihat bahwa yadnya sudah sangat bergeser pemahamannya bagi kita semua. Ada yang menyatakan yadnya adalah korban suci, artinya setelah berkorban, semua urusan selesai. Ada juga yang mengartikan bahwa yadnya adalah rutinitas kehidupan yang spiritual, artinya setelah beryadnya berarti kita sudah spiritual, dan beberapa anggapan lainnya.

Pada hakikatnya marilah kita renungkan, apakah setelah berkorban itu kita sudah mendapatkan kebaikan yang utuh dari alam? Bukankah sesungguhnya kita hanya konsumen dari segala produk alam ini yang kita pikirkan sebagai milik kita? Yang seharusnya kita pelihara baik untuk kebaikan hasilnya pula. Ini artinya kita telah menggeser makna yadnya itu, dari esensinya turun menjadi hanya sekedar rutinitas belaka.

Hal inilah yang kurang pada diri kita saat ini, kurang mengesensi pada hakikat yadnya sesungguhnya, sehingga hasilnyapun kurang mengena, artinya tidak tepat guna. Sebagai hasilnya adalah pandangan bahwa yadnya sudah besar, tetapi penderitan dunia semakin menguat. Padahal dari Yadnya itu sesungguhnya menghasilkan vibrasi kesucian yang mampu menguatkan sradha dan bhakti manusia kepada Tuhan. Pada pelaksanaan Yadnya Suci inilah dihadirkan Tuhan yang Maha Suci itu untuk menyaksikan seluruh rangkaian kesucian yang dipersembahkan.

Sungguh luar biasa jika kita sadari bahwa yadnya suci inilah yang menjadi tolak ukur bertemunya kesucian dan akan menjadi penyangga alam.

Menyangga artinya, alam ini disokong keberlanjutannya oleh yadnya, selain orang suci atau diksa, tapa atau pengekangan, pertiwi sebagai penghidup dan diikat erat oleh keberadaan Panca Maha Bhuta. Sehingga alam menjadi degdeg, kertha dan isinya Bahagia sejahtera. Panca Maha Bhuta inilah sesungguhnya perlu harmonis, bagaikan tali, yang selalu erat mengikat sehingga kokoh berdiri. Hal itu pula agar ikatan kekokohan alam ini tetap terseimbangkan dan tetap berlangsung sesuai hukumnya.

Pemahaman Yadnya itulah yang sesungguhnya mesti muncul dan kita lakukan pada setiap hari suci. Termasuk didalamnya hari suci Galungan dan Kuningan. Menjelang hari suci inilah umat kita merasa berat dengan berbagai pengeluaran yang tentunya tidak sedikit untuk ukuran jaman sekarang. Maka disinilah muncul kata “hemat” dalam beryadnya.

Dalam pandangan saya kata hemat dalam beryadnya ini sangat tidak relevan dengan pemahaman yadnya sebagai persembahan suci di atas. Kata hemat ini menyiratkan ketidakikhlasan yang memunculkan beragama Hindu kita menjadi memberatkan dan semakin jauh dari kesadaran. Nah pada titik inilah kita tidak akan memperoleh hasil dalam persembahan kita.

Maka kita harus cermat dalam mencermati esensi yadnya sebagai persembahan suci agar kita melakukan dan menggunakan sarana yadnya sesuai dengan kemampuan dan apa adanya. Tidak lagi ada pemikiran rajasika yaitu ingin tampil beda, ingin tampil mewah walau sesungguhnya itu dilakukan dengan kepamrihan yang sangat.

Sudah terlalu banyak sloka-sloka Veda menyiratkan bahwa beryadnya itu adalah bentuk kesadaran yang menjadi cetusan kesucian, untuk harapan kesucian dan hasilnya adalah kesucian pula. Maka melalui tulisan ini saya menggugah agar kita beryadnya sesuai dengan kemampuan atau ketulusan sesuai dengan kemampuan, bukan pada meniru orang lain yang mungkin sudah mampu secara ekonomi. Ketulusan itu justru adalah kelapangan hati, kemurnian dalam mempersembahkan dan akan membuat keharmonisan.

Hal konkrit yang bisa kita lakukan pada perayaan suci Galungan dan Kuningan antara lain adalah;

 Pertama, penggunaan buah lokal yang kita punya dan terdekat dengan alam kita, sehingga dengan berisi sebiji saja buah itu maka banten kita sudah dianggap benar oleh kitab suci. Penggunaan daging bisa kita peruntukan dan khususkan untuk sarana ritual, bukan pemenuhan keinginan konsumsi terlebih jika bisa mengurangi menambah minuman keras didalamnya.

Kedua, penjor upakara adalah berisi seluruh isi alam yang kita miliki sekedarnay seperti biji-bijian secukupnya, buah-buahan secukupnya, pala bungkah dan pala gantung, serta dilengkapi dengan pala rambat. Dihias sewajarnya dan secukupnya maka akan menghasilkan penjor upakara penuh makna.

Ketiga yang lebih penting adalah melaksanakan tapa brata sesuai dengan rangkaian hari suci galungan seperti diawali dengan ke elingan pada sugi pengenten, pembersihan lingkungan atau alam semesta pada sugihan jawa, dilanjutkan dengan bersuci pada sugihan bali, dan inilah pondasi pertama. Selanjutnya adalah anyekung jnana pada penyekeban, menata kata dan laku pada penyajaan dan dilanjutkan dengan pengendalian diri dengan baik pada penampahan galungan. Inilah bangunan lanjutan dari pondasi rangkaian galungan sesungguhnya. Jika ini sudah dilakukan maka menancapkan kemenangan (disimbolkan dengan penjor) akan membuat semua menjadi lebih baik.

Mari kita mengenali dan melakukan hakikat yadnya sebagai penyangga alam sesungguhnya, dengan kesungguhan kita secara sekala dan niskala. Bukan hanya memuja, namun juga memelihara. Galungan itu akan menjadi hari perayaan kemenangan sesungguhnya jika kita memang sudah menang setiap hari dalam melaksanakan agama kita sebagai perilaku bajik dan sempurna untuk ukuran kita. Kurangi beryadnya dengan alas an kemewahan dan ingin pamer, karena itu akan mencederai yadnya yang sesungguhnya sangat menghasikan kelimpahan. Rahajeng merayakan kemenangan di Galungan yang sesungguhnya.[T]

Penulis: IK Satria
Editor: Adnyana Ole

Tags: hari raya galunganhinduHindu BaliTradisi Galungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ai Kurnia Sari, Pejuang Literasi dari Langkah Sunyi

Next Post

Dokter Gila — Kumpulan Cerpen

IK Satria

IK Satria

Penyuluh Agama Kementerian Agama Buleleng

Related Posts

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

Read moreDetails

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails
Next Post
Dokter Gila — Kumpulan Cerpen

Dokter Gila --- Kumpulan Cerpen

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co