26 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Clickbait”, Jurnalisme Populer yang Nyaris Kuning

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
November 14, 2025
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

SAAT masih kuliah dulu saya masih ingat , yang disebut jurnalisme kuning  alias yellow journalism adalah koran berisi berita skandal, drama, dan gosip yang membakar emosi. Isinya skandal dan berita sensasional melulu. Tujuannnya agar pembaca tertarik dan tergoda lalu membeli korannya. Sekarang ini, wajahnya sudah berganti macam oplas, bukan lagi di tangan Joseph Pulitzer atau William Randolph Hearst, tapi di layar-layar ponsel kita.

Bedanya, kalau dulu yang dikejar adalah oplah, sekarang yang dikejar adalah klik. Jadi berita-berita yang cukup berbobot semacam politik ekonomi atau budaya, juga akan dipecah jadi beberapa berita dan diberi judul yang nyeleneh-nyeleneh, agar orang tertarik untuk klik.  Fenomena ini lalu menimbulkan pertanyaan dalam hati,  apakah jurnalisme masih berpihak kepada masyarakat  atau kini justru bekerja dengan menghamba algoritma?

Dari “The Yellow Kid” ke Headline yang Meledak-Ledak

Istilah yellow journalism muncul di Amerika Serikat akhir abad ke-19, saat dua raksasa media, Pulitzer (New York World) dan Hearst (New York Journal), saling sikut berebut pembaca. Mereka menulis dengan gaya sensasional, judul membakar emosi, cerita dilebih-lebihkan, dan gambar karikatur penuh provokasi.  Pokoknya, yang penting pembaca terpikat. 

Kartun The Yellow Kid yang populer di masa itu menjadi simbol perebutan perhatian, dan dari situlah lahir istilah yellow journalism, yaitu jurnalisme murahan yang menjual sensasi ketimbang substansi. Kalimatnya kira-kira begini, “Jika tak bisa membuat pembaca berpikir, setidaknya buat mereka marah atau terkejut.”   Setelah sekian decade, slogan itu kini mulai terdengar sangat relevan lagi. Ada aroma rada mata gelap kalau soal menggaet audiens.

Mari loncat ke abad 21. Kita tak lagi membeli koran, tapi membuka beranda berita di ponsel.
Namun, logika dasarnya masih sama saja, rebut perhatian sebanyak mungkin. Bedanya, kali ini yang mengatur panggung media bukan redaktur, melainkan algoritma.Di dunia kita yang diukur dalam views, clicks, dan impressions, berita kini dinilai bukan dari kedalaman, tapi dari performa datanya.

Maka muncullah clickbait journalism,  versi digital dari yellow journalism. Bentuknya lebih sopan, tapi esensinya sebelas duabelas,  membungkus informasi dengan emosi. Headline sepert misal, “Kamu Tak Akan Percaya Apa yang Dikatakan Menteri Ini!”, “Omongan Pejabat Ini Bakal Bikin Kamu Tepok Jidat!” Bahkan media yang dulu kita anggap serius pun mulai memakai strategi ini. Apakah mereka tiba-tiba berubah menjadi tabloid kuning digital? Tidak juga. Saya yakin dan paham, mereka para pelaku media ini dalam kondisi sedang mencoba bertahan,  sedang bernegosiasi alot dengan realitas algoritma.

Ketika Nilai Berita Dihitung oleh Mesin

Di masa lalu, nilai berita alias news value ditentukan oleh editor berdasarkan lima kriteria klasik, timeliness, proximity, conflict, prominence, dan human interest.  Kini, muncul kriteria baru yang terdengar asyik, “clickworthiness.”Berita yang dianggap penting bukan lagi yang berdampak besar, tapi yang paling sering dibaca.  Dan siapa yang menentukan itu? Bukan para  jurnalis, melainkan mesin pembaca perilaku kita.

Seperti kata Christian Fuchs (2017), kita kini hidup di dalam algorithmic public sphere, ruang publik yang diatur bukan oleh nalar manusia, melainkan logika kode. Facebook, X (Twitter), dan Google tidak peduli apakah isi berita mencerdaskan atau menyesatkan. Mereka hanya peduli berapa lama kita menatap layar. Neil Postman pernah mengingatkan dalam Amusing Ourselves to Death (1985), “Kita tidak lagi dihancurkan oleh apa yang kita benci, tetapi oleh apa yang kita cintai, yakni hiburan.” Dan kini, hati-hati para pembaca yang budiman, hiburan itu menyamar sebagai berita.

Di Sini Letak Dilema Etiknya

Kita juga tak bisa semata menyalahkan media. Ekonomi digital memaksa mereka untuk hidup dalam tekanan klik. Iklan digital dibayar per tayangan, bukan per bobot isi. Maka, redaksi harus beradaptasi dengan  cara memecah satu isu menjadi tiga atau empat berita, menulis ulang dengan sudut berbeda, menata thumbnail agar lebih menggoda.  Ini disebut strategi fragmentasi konten. Tujuannya sederhana, untuk memaksimalkan visibilitas.

Misalnya begini, satu peristiwa sidang korupsi yang sedang naik daun bisa dibuat jadi empat berita. Contoh headline-nya bisa dipecah dari unsur who-nya, Jaksa tuntut 10 tahun penjara, Pembela sebut tuntutan tidak adil, Ahli hukum menilai adanya preseden baru, Publik bereaksi keras di media sosial, dll. Apakah ini jurnalisme kuning? Tidak. Apakah ini jurnalisme ideal? Belum tentu juga.  Inilah wajah jurnalisme populer algoritmik, suatu formula jurnalistik campuran antara idealisme profesi dan pragmatisme platform.

Yang menjadi masalah bukan pada isinya. Isi berita tetap sering kali faktual dan informatif,
tetapi yang kadang jadi persoalan adalah pada cara dan frekuensi penyajiannya. Ketika berita terlalu dipecah, konteksnya cenderung hilang.  Ketika headline terlalu hiperbola, kepercayaan publik bisa runtuh. Ketika semua berita berlomba menjadi viral, ruang publik berubah menjadi pasar emosi. Dan di situlah marwah jurnalisme diuji. 

Bill Kovach dan Tom Rosenstiel (2001) dalam The Elements of Journalism menulis, “Kewajiban pertama jurnalisme adalah kepada kebenaran, dan kesetiaan pertamanya adalah kepada warga.” Artinya jelas, pada hakiktnya jurnalis tidak boleh menjadi hamba algoritma. Ibarat ia boleh menari mengikuti irama digital, tapi langkahnya tetap harus dipandu oleh nurani.

Melek Algoritma, tapi Tetap Beretika

Karena itu, saya kira jalan keluarnya bukan menolak algoritma, tapi memahaminya. Seorang jurnalis modern perlu memiliki algorithmic literacy , kemampuan untuk mengerti bagaimana mesin distribusi bekerja,  tanpa kehilangan tanggung jawab sosial.  Ia harus tahu bagaimana membuat headline menarik tapi tidak menipu, bagaimana mengemas data agar ramah SEO tapi tetap kontekstual, bagaimana mengoptimalkan tayangan tanpa mengorbankan substansi. Dengan kata lain, bermain cerdas di ekosistem digital tanpa menggadaikan integritas.

Itu sebabnya pendidikan jurnalistik masa kini perlu menanamkan dua literasi sekaligus, pertama adalah literasi algoritmik,  agar para calon jurnalis kita  paham bagaimana cara kerja ekosistem digital, lalu yang kedua adalah literasi etika digital ,  agar mereka tidak kehilangan kompas arah moral di tengah banjir klik. Tanpa dua hal itu, kita hanya akan menghasilkan jurnalis yang pandai menulis, tapi tak tahu untuk siapa ia menulis.

Menjaga Pilar Demokrasi di Tengah Tekanan Mesin

Pada akhirnya, seperti harapan masyarakat pada umumnya, bahwa jurnalisme bukan sekadar industri informasi, yang sekedar mencari cuan, lebih dari itu jurnalisme  adalah pilar demokrasi. Ketika publik dicekoki hoaks, manipulasi, dan politik citra, jurnalis adalah penjaga terakhir agar wacana publik tetap rasional.

Jürgen Habermas (1989) mengingatkan,  demokrasi hidup di atas ruang publik yang sehat, di mana warganya dapat berpikir, berdialog, dan berdebat dengan dasar fakta.
Tanpa jurnalisme yang independen, ruang publik akan berubah menjadi sesuatu yang  istilah kerennya Algorithmic Echo Chamber,  ruang yang hanya memantulkan opini kita sendiri.

Maka jurnalis yang baik bukan hanya penulis berita belaka, tapi juga penjaga kesadaran kolektif.
Ia harus cakap mengelola perhatian publik  tetapi dengan kejujuran, bukan tipu muslihat.  Jurnalis boleh mengikuti ritme digital, memakai SEO, memecah konten, dan memantau klik. 
tetapi tetap  tidak boleh melupakan satu hal, bahwa setiap berita adalah tentang manusia, untuk manusia, dan demi manusia.

Karena pada akhirnya, sebagaimana dikatakan oleh Walter Lippmann seabad lalu, bahwa berita berfungsi sebagai penerang dalam dunia yang penuh ketidakpastian dan manipulasi informasi.  Karena itulah tugas jurnalis adalah menjaga agar lampu penerangan itu tetap menyala, meski kini ia harus tertatih menjaga terangnya di bawah silau sorotan lampu algoritma. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

AI dan Seni, Karya Dialogis yang Sarat Ancaman?
Tags: jurnalismejurnalistikmedia massa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Memilih Pohon Sebelum Pinangan — Kumpulan Puisi

Next Post

Richard Feynman, Fisika dan Puisi

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Kalau Rakyat Harus Naik Bus ke Jakarta Agar Didengar, Ada Apa dengan Telinga Kekuasaan?

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 26, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

ADA yang menarik dari perjalanan sejumlah warga Pati menuju Jakarta menjelang aksi 27 Agustus 2026.  Mereka tidak sedang piknik. Empat...

Read moreDetails

Ibu Memasak di Kota

by Angga Wijaya
August 25, 2026
0
Ibu Memasak di Kota

MEMASAK, aktivitas yang sering diidentikkan dengan para ibu, baik yang usianya muda ataupun juga tua. Di kota, saya tidak tahu...

Read moreDetails

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

by Sugi Lanus
August 25, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

Read moreDetails

Karnaval dan Kemacetan Sosial

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
0
Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

Read moreDetails

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
0
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

Read moreDetails

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

by Angga Wijaya
August 24, 2026
0
Telenovela

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

Read moreDetails

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails
Next Post
Richard Feynman, Fisika dan Puisi

Richard Feynman, Fisika dan Puisi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Kalau Rakyat Harus Naik Bus ke Jakarta Agar Didengar, Ada Apa dengan Telinga Kekuasaan?

ADA yang menarik dari perjalanan sejumlah warga Pati menuju Jakarta menjelang aksi 27 Agustus 2026.  Mereka tidak sedang piknik. Empat...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 26, 2026
Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya
Ulas Rupa

Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

DI penghujung bulan Agustus, tepatnya pada tanggal 25 hingga 31 agustus mendatang – akan digelar Pameran senirupa yang bertajuk “The...

by Hartanto
August 26, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
Ibu Memasak di Kota
Esai

Ibu Memasak di Kota

MEMASAK, aktivitas yang sering diidentikkan dengan para ibu, baik yang usianya muda ataupun juga tua. Di kota, saya tidak tahu...

by Angga Wijaya
August 25, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

by Sugi Lanus
August 25, 2026
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?
Opini

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan
Panggung

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda
Budaya

Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda

UTSAWA Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 kembali digelar. Itu artinya, lantunan sloka, palawakya, kakawin, kidung, hingga gaguritan kembali...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]
Tualang

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan
Panggung

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co