6 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Clickbait”, Jurnalisme Populer yang Nyaris Kuning

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
November 14, 2025
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

SAAT masih kuliah dulu saya masih ingat , yang disebut jurnalisme kuning  alias yellow journalism adalah koran berisi berita skandal, drama, dan gosip yang membakar emosi. Isinya skandal dan berita sensasional melulu. Tujuannnya agar pembaca tertarik dan tergoda lalu membeli korannya. Sekarang ini, wajahnya sudah berganti macam oplas, bukan lagi di tangan Joseph Pulitzer atau William Randolph Hearst, tapi di layar-layar ponsel kita.

Bedanya, kalau dulu yang dikejar adalah oplah, sekarang yang dikejar adalah klik. Jadi berita-berita yang cukup berbobot semacam politik ekonomi atau budaya, juga akan dipecah jadi beberapa berita dan diberi judul yang nyeleneh-nyeleneh, agar orang tertarik untuk klik.  Fenomena ini lalu menimbulkan pertanyaan dalam hati,  apakah jurnalisme masih berpihak kepada masyarakat  atau kini justru bekerja dengan menghamba algoritma?

Dari “The Yellow Kid” ke Headline yang Meledak-Ledak

Istilah yellow journalism muncul di Amerika Serikat akhir abad ke-19, saat dua raksasa media, Pulitzer (New York World) dan Hearst (New York Journal), saling sikut berebut pembaca. Mereka menulis dengan gaya sensasional, judul membakar emosi, cerita dilebih-lebihkan, dan gambar karikatur penuh provokasi.  Pokoknya, yang penting pembaca terpikat. 

Kartun The Yellow Kid yang populer di masa itu menjadi simbol perebutan perhatian, dan dari situlah lahir istilah yellow journalism, yaitu jurnalisme murahan yang menjual sensasi ketimbang substansi. Kalimatnya kira-kira begini, “Jika tak bisa membuat pembaca berpikir, setidaknya buat mereka marah atau terkejut.”   Setelah sekian decade, slogan itu kini mulai terdengar sangat relevan lagi. Ada aroma rada mata gelap kalau soal menggaet audiens.

Mari loncat ke abad 21. Kita tak lagi membeli koran, tapi membuka beranda berita di ponsel.
Namun, logika dasarnya masih sama saja, rebut perhatian sebanyak mungkin. Bedanya, kali ini yang mengatur panggung media bukan redaktur, melainkan algoritma.Di dunia kita yang diukur dalam views, clicks, dan impressions, berita kini dinilai bukan dari kedalaman, tapi dari performa datanya.

Maka muncullah clickbait journalism,  versi digital dari yellow journalism. Bentuknya lebih sopan, tapi esensinya sebelas duabelas,  membungkus informasi dengan emosi. Headline sepert misal, “Kamu Tak Akan Percaya Apa yang Dikatakan Menteri Ini!”, “Omongan Pejabat Ini Bakal Bikin Kamu Tepok Jidat!” Bahkan media yang dulu kita anggap serius pun mulai memakai strategi ini. Apakah mereka tiba-tiba berubah menjadi tabloid kuning digital? Tidak juga. Saya yakin dan paham, mereka para pelaku media ini dalam kondisi sedang mencoba bertahan,  sedang bernegosiasi alot dengan realitas algoritma.

Ketika Nilai Berita Dihitung oleh Mesin

Di masa lalu, nilai berita alias news value ditentukan oleh editor berdasarkan lima kriteria klasik, timeliness, proximity, conflict, prominence, dan human interest.  Kini, muncul kriteria baru yang terdengar asyik, “clickworthiness.”Berita yang dianggap penting bukan lagi yang berdampak besar, tapi yang paling sering dibaca.  Dan siapa yang menentukan itu? Bukan para  jurnalis, melainkan mesin pembaca perilaku kita.

Seperti kata Christian Fuchs (2017), kita kini hidup di dalam algorithmic public sphere, ruang publik yang diatur bukan oleh nalar manusia, melainkan logika kode. Facebook, X (Twitter), dan Google tidak peduli apakah isi berita mencerdaskan atau menyesatkan. Mereka hanya peduli berapa lama kita menatap layar. Neil Postman pernah mengingatkan dalam Amusing Ourselves to Death (1985), “Kita tidak lagi dihancurkan oleh apa yang kita benci, tetapi oleh apa yang kita cintai, yakni hiburan.” Dan kini, hati-hati para pembaca yang budiman, hiburan itu menyamar sebagai berita.

Di Sini Letak Dilema Etiknya

Kita juga tak bisa semata menyalahkan media. Ekonomi digital memaksa mereka untuk hidup dalam tekanan klik. Iklan digital dibayar per tayangan, bukan per bobot isi. Maka, redaksi harus beradaptasi dengan  cara memecah satu isu menjadi tiga atau empat berita, menulis ulang dengan sudut berbeda, menata thumbnail agar lebih menggoda.  Ini disebut strategi fragmentasi konten. Tujuannya sederhana, untuk memaksimalkan visibilitas.

Misalnya begini, satu peristiwa sidang korupsi yang sedang naik daun bisa dibuat jadi empat berita. Contoh headline-nya bisa dipecah dari unsur who-nya, Jaksa tuntut 10 tahun penjara, Pembela sebut tuntutan tidak adil, Ahli hukum menilai adanya preseden baru, Publik bereaksi keras di media sosial, dll. Apakah ini jurnalisme kuning? Tidak. Apakah ini jurnalisme ideal? Belum tentu juga.  Inilah wajah jurnalisme populer algoritmik, suatu formula jurnalistik campuran antara idealisme profesi dan pragmatisme platform.

Yang menjadi masalah bukan pada isinya. Isi berita tetap sering kali faktual dan informatif,
tetapi yang kadang jadi persoalan adalah pada cara dan frekuensi penyajiannya. Ketika berita terlalu dipecah, konteksnya cenderung hilang.  Ketika headline terlalu hiperbola, kepercayaan publik bisa runtuh. Ketika semua berita berlomba menjadi viral, ruang publik berubah menjadi pasar emosi. Dan di situlah marwah jurnalisme diuji. 

Bill Kovach dan Tom Rosenstiel (2001) dalam The Elements of Journalism menulis, “Kewajiban pertama jurnalisme adalah kepada kebenaran, dan kesetiaan pertamanya adalah kepada warga.” Artinya jelas, pada hakiktnya jurnalis tidak boleh menjadi hamba algoritma. Ibarat ia boleh menari mengikuti irama digital, tapi langkahnya tetap harus dipandu oleh nurani.

Melek Algoritma, tapi Tetap Beretika

Karena itu, saya kira jalan keluarnya bukan menolak algoritma, tapi memahaminya. Seorang jurnalis modern perlu memiliki algorithmic literacy , kemampuan untuk mengerti bagaimana mesin distribusi bekerja,  tanpa kehilangan tanggung jawab sosial.  Ia harus tahu bagaimana membuat headline menarik tapi tidak menipu, bagaimana mengemas data agar ramah SEO tapi tetap kontekstual, bagaimana mengoptimalkan tayangan tanpa mengorbankan substansi. Dengan kata lain, bermain cerdas di ekosistem digital tanpa menggadaikan integritas.

Itu sebabnya pendidikan jurnalistik masa kini perlu menanamkan dua literasi sekaligus, pertama adalah literasi algoritmik,  agar para calon jurnalis kita  paham bagaimana cara kerja ekosistem digital, lalu yang kedua adalah literasi etika digital ,  agar mereka tidak kehilangan kompas arah moral di tengah banjir klik. Tanpa dua hal itu, kita hanya akan menghasilkan jurnalis yang pandai menulis, tapi tak tahu untuk siapa ia menulis.

Menjaga Pilar Demokrasi di Tengah Tekanan Mesin

Pada akhirnya, seperti harapan masyarakat pada umumnya, bahwa jurnalisme bukan sekadar industri informasi, yang sekedar mencari cuan, lebih dari itu jurnalisme  adalah pilar demokrasi. Ketika publik dicekoki hoaks, manipulasi, dan politik citra, jurnalis adalah penjaga terakhir agar wacana publik tetap rasional.

Jürgen Habermas (1989) mengingatkan,  demokrasi hidup di atas ruang publik yang sehat, di mana warganya dapat berpikir, berdialog, dan berdebat dengan dasar fakta.
Tanpa jurnalisme yang independen, ruang publik akan berubah menjadi sesuatu yang  istilah kerennya Algorithmic Echo Chamber,  ruang yang hanya memantulkan opini kita sendiri.

Maka jurnalis yang baik bukan hanya penulis berita belaka, tapi juga penjaga kesadaran kolektif.
Ia harus cakap mengelola perhatian publik  tetapi dengan kejujuran, bukan tipu muslihat.  Jurnalis boleh mengikuti ritme digital, memakai SEO, memecah konten, dan memantau klik. 
tetapi tetap  tidak boleh melupakan satu hal, bahwa setiap berita adalah tentang manusia, untuk manusia, dan demi manusia.

Karena pada akhirnya, sebagaimana dikatakan oleh Walter Lippmann seabad lalu, bahwa berita berfungsi sebagai penerang dalam dunia yang penuh ketidakpastian dan manipulasi informasi.  Karena itulah tugas jurnalis adalah menjaga agar lampu penerangan itu tetap menyala, meski kini ia harus tertatih menjaga terangnya di bawah silau sorotan lampu algoritma. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

AI dan Seni, Karya Dialogis yang Sarat Ancaman?
Tags: jurnalismejurnalistikmedia massa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Memilih Pohon Sebelum Pinangan — Kumpulan Puisi

Next Post

Richard Feynman, Fisika dan Puisi

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
0
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

Read moreDetails

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
0
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

Read moreDetails

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails
Next Post
Richard Feynman, Fisika dan Puisi

Richard Feynman, Fisika dan Puisi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi
Esai

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra
Esai

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop
Panggung

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co