6 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Clickbait”, Jurnalisme Populer yang Nyaris Kuning

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
November 14, 2025
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

SAAT masih kuliah dulu saya masih ingat , yang disebut jurnalisme kuning  alias yellow journalism adalah koran berisi berita skandal, drama, dan gosip yang membakar emosi. Isinya skandal dan berita sensasional melulu. Tujuannnya agar pembaca tertarik dan tergoda lalu membeli korannya. Sekarang ini, wajahnya sudah berganti macam oplas, bukan lagi di tangan Joseph Pulitzer atau William Randolph Hearst, tapi di layar-layar ponsel kita.

Bedanya, kalau dulu yang dikejar adalah oplah, sekarang yang dikejar adalah klik. Jadi berita-berita yang cukup berbobot semacam politik ekonomi atau budaya, juga akan dipecah jadi beberapa berita dan diberi judul yang nyeleneh-nyeleneh, agar orang tertarik untuk klik.  Fenomena ini lalu menimbulkan pertanyaan dalam hati,  apakah jurnalisme masih berpihak kepada masyarakat  atau kini justru bekerja dengan menghamba algoritma?

Dari “The Yellow Kid” ke Headline yang Meledak-Ledak

Istilah yellow journalism muncul di Amerika Serikat akhir abad ke-19, saat dua raksasa media, Pulitzer (New York World) dan Hearst (New York Journal), saling sikut berebut pembaca. Mereka menulis dengan gaya sensasional, judul membakar emosi, cerita dilebih-lebihkan, dan gambar karikatur penuh provokasi.  Pokoknya, yang penting pembaca terpikat. 

Kartun The Yellow Kid yang populer di masa itu menjadi simbol perebutan perhatian, dan dari situlah lahir istilah yellow journalism, yaitu jurnalisme murahan yang menjual sensasi ketimbang substansi. Kalimatnya kira-kira begini, “Jika tak bisa membuat pembaca berpikir, setidaknya buat mereka marah atau terkejut.”   Setelah sekian decade, slogan itu kini mulai terdengar sangat relevan lagi. Ada aroma rada mata gelap kalau soal menggaet audiens.

Mari loncat ke abad 21. Kita tak lagi membeli koran, tapi membuka beranda berita di ponsel.
Namun, logika dasarnya masih sama saja, rebut perhatian sebanyak mungkin. Bedanya, kali ini yang mengatur panggung media bukan redaktur, melainkan algoritma.Di dunia kita yang diukur dalam views, clicks, dan impressions, berita kini dinilai bukan dari kedalaman, tapi dari performa datanya.

Maka muncullah clickbait journalism,  versi digital dari yellow journalism. Bentuknya lebih sopan, tapi esensinya sebelas duabelas,  membungkus informasi dengan emosi. Headline sepert misal, “Kamu Tak Akan Percaya Apa yang Dikatakan Menteri Ini!”, “Omongan Pejabat Ini Bakal Bikin Kamu Tepok Jidat!” Bahkan media yang dulu kita anggap serius pun mulai memakai strategi ini. Apakah mereka tiba-tiba berubah menjadi tabloid kuning digital? Tidak juga. Saya yakin dan paham, mereka para pelaku media ini dalam kondisi sedang mencoba bertahan,  sedang bernegosiasi alot dengan realitas algoritma.

Ketika Nilai Berita Dihitung oleh Mesin

Di masa lalu, nilai berita alias news value ditentukan oleh editor berdasarkan lima kriteria klasik, timeliness, proximity, conflict, prominence, dan human interest.  Kini, muncul kriteria baru yang terdengar asyik, “clickworthiness.”Berita yang dianggap penting bukan lagi yang berdampak besar, tapi yang paling sering dibaca.  Dan siapa yang menentukan itu? Bukan para  jurnalis, melainkan mesin pembaca perilaku kita.

Seperti kata Christian Fuchs (2017), kita kini hidup di dalam algorithmic public sphere, ruang publik yang diatur bukan oleh nalar manusia, melainkan logika kode. Facebook, X (Twitter), dan Google tidak peduli apakah isi berita mencerdaskan atau menyesatkan. Mereka hanya peduli berapa lama kita menatap layar. Neil Postman pernah mengingatkan dalam Amusing Ourselves to Death (1985), “Kita tidak lagi dihancurkan oleh apa yang kita benci, tetapi oleh apa yang kita cintai, yakni hiburan.” Dan kini, hati-hati para pembaca yang budiman, hiburan itu menyamar sebagai berita.

Di Sini Letak Dilema Etiknya

Kita juga tak bisa semata menyalahkan media. Ekonomi digital memaksa mereka untuk hidup dalam tekanan klik. Iklan digital dibayar per tayangan, bukan per bobot isi. Maka, redaksi harus beradaptasi dengan  cara memecah satu isu menjadi tiga atau empat berita, menulis ulang dengan sudut berbeda, menata thumbnail agar lebih menggoda.  Ini disebut strategi fragmentasi konten. Tujuannya sederhana, untuk memaksimalkan visibilitas.

Misalnya begini, satu peristiwa sidang korupsi yang sedang naik daun bisa dibuat jadi empat berita. Contoh headline-nya bisa dipecah dari unsur who-nya, Jaksa tuntut 10 tahun penjara, Pembela sebut tuntutan tidak adil, Ahli hukum menilai adanya preseden baru, Publik bereaksi keras di media sosial, dll. Apakah ini jurnalisme kuning? Tidak. Apakah ini jurnalisme ideal? Belum tentu juga.  Inilah wajah jurnalisme populer algoritmik, suatu formula jurnalistik campuran antara idealisme profesi dan pragmatisme platform.

Yang menjadi masalah bukan pada isinya. Isi berita tetap sering kali faktual dan informatif,
tetapi yang kadang jadi persoalan adalah pada cara dan frekuensi penyajiannya. Ketika berita terlalu dipecah, konteksnya cenderung hilang.  Ketika headline terlalu hiperbola, kepercayaan publik bisa runtuh. Ketika semua berita berlomba menjadi viral, ruang publik berubah menjadi pasar emosi. Dan di situlah marwah jurnalisme diuji. 

Bill Kovach dan Tom Rosenstiel (2001) dalam The Elements of Journalism menulis, “Kewajiban pertama jurnalisme adalah kepada kebenaran, dan kesetiaan pertamanya adalah kepada warga.” Artinya jelas, pada hakiktnya jurnalis tidak boleh menjadi hamba algoritma. Ibarat ia boleh menari mengikuti irama digital, tapi langkahnya tetap harus dipandu oleh nurani.

Melek Algoritma, tapi Tetap Beretika

Karena itu, saya kira jalan keluarnya bukan menolak algoritma, tapi memahaminya. Seorang jurnalis modern perlu memiliki algorithmic literacy , kemampuan untuk mengerti bagaimana mesin distribusi bekerja,  tanpa kehilangan tanggung jawab sosial.  Ia harus tahu bagaimana membuat headline menarik tapi tidak menipu, bagaimana mengemas data agar ramah SEO tapi tetap kontekstual, bagaimana mengoptimalkan tayangan tanpa mengorbankan substansi. Dengan kata lain, bermain cerdas di ekosistem digital tanpa menggadaikan integritas.

Itu sebabnya pendidikan jurnalistik masa kini perlu menanamkan dua literasi sekaligus, pertama adalah literasi algoritmik,  agar para calon jurnalis kita  paham bagaimana cara kerja ekosistem digital, lalu yang kedua adalah literasi etika digital ,  agar mereka tidak kehilangan kompas arah moral di tengah banjir klik. Tanpa dua hal itu, kita hanya akan menghasilkan jurnalis yang pandai menulis, tapi tak tahu untuk siapa ia menulis.

Menjaga Pilar Demokrasi di Tengah Tekanan Mesin

Pada akhirnya, seperti harapan masyarakat pada umumnya, bahwa jurnalisme bukan sekadar industri informasi, yang sekedar mencari cuan, lebih dari itu jurnalisme  adalah pilar demokrasi. Ketika publik dicekoki hoaks, manipulasi, dan politik citra, jurnalis adalah penjaga terakhir agar wacana publik tetap rasional.

Jürgen Habermas (1989) mengingatkan,  demokrasi hidup di atas ruang publik yang sehat, di mana warganya dapat berpikir, berdialog, dan berdebat dengan dasar fakta.
Tanpa jurnalisme yang independen, ruang publik akan berubah menjadi sesuatu yang  istilah kerennya Algorithmic Echo Chamber,  ruang yang hanya memantulkan opini kita sendiri.

Maka jurnalis yang baik bukan hanya penulis berita belaka, tapi juga penjaga kesadaran kolektif.
Ia harus cakap mengelola perhatian publik  tetapi dengan kejujuran, bukan tipu muslihat.  Jurnalis boleh mengikuti ritme digital, memakai SEO, memecah konten, dan memantau klik. 
tetapi tetap  tidak boleh melupakan satu hal, bahwa setiap berita adalah tentang manusia, untuk manusia, dan demi manusia.

Karena pada akhirnya, sebagaimana dikatakan oleh Walter Lippmann seabad lalu, bahwa berita berfungsi sebagai penerang dalam dunia yang penuh ketidakpastian dan manipulasi informasi.  Karena itulah tugas jurnalis adalah menjaga agar lampu penerangan itu tetap menyala, meski kini ia harus tertatih menjaga terangnya di bawah silau sorotan lampu algoritma. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

AI dan Seni, Karya Dialogis yang Sarat Ancaman?
Tags: jurnalismejurnalistikmedia massa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Memilih Pohon Sebelum Pinangan — Kumpulan Puisi

Next Post

Richard Feynman, Fisika dan Puisi

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Pertemuan Rutin, Agenda Lama: Pilkada Lewat DPRD, Lagi

by Luthfi Hasanal Bolqiah
August 5, 2026
0
Sepiring Nasi, Sekeping Legitimasi

PERTEMUAN itu seharusnya selesai sebagai berita protokoler. Pada Senin, 3 Agustus 2026, jajaran pimpinan MPR datang ke Istana Kepresidenan. Mereka...

Read moreDetails

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

by Sugi Lanus
August 4, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

Read moreDetails

Presiden di Dalam Kepala Saya

by Angga Wijaya
August 3, 2026
0
Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

Read moreDetails

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

by Chusmeru
August 3, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

Read moreDetails

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails
Next Post
Richard Feynman, Fisika dan Puisi

Richard Feynman, Fisika dan Puisi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur
Ulas Musik

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun...

by Wayan Diana Putra
August 5, 2026
Sepiring Nasi, Sekeping Legitimasi
Esai

Pertemuan Rutin, Agenda Lama: Pilkada Lewat DPRD, Lagi

PERTEMUAN itu seharusnya selesai sebagai berita protokoler. Pada Senin, 3 Agustus 2026, jajaran pimpinan MPR datang ke Istana Kepresidenan. Mereka...

by Luthfi Hasanal Bolqiah
August 5, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

BENEFICIAL OWNERSHIP (BO) ——Ketika Perseroan Menjadi Topeng Kepemilikan

"Di atas kertas, pemegang saham dapat berganti. Namun kendali sesungguhnya sering kali tetap berada di tangan orang yang tidak pernah...

by I Made Pria Dharsana
August 5, 2026
Buku “Under the Spell of the Batur Volcano” Dibincangkan di Batur Village Festival 2026 untuk Mengenang Kerja Akademik Brigitta Hauser-Schäublin
Khas

Buku “Under the Spell of the Batur Volcano” Dibincangkan di Batur Village Festival 2026 untuk Mengenang Kerja Akademik Brigitta Hauser-Schäublin

TAK bisa dipungkiri, "Under the Spell of the Batur Volcano" adalah sebuah buku penting tentang Batur. Dalam buku itu Batur...

by Wahyu Mahaputra
August 5, 2026
Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  
Khas

Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  

SAYA bersyukur  menjadi Panyarikan Majelis Desa Adat (MDA) Kecamatan Kuta Selatan merangkap sebagai Kepala Sekolah yang membina  remaja SMA. Posisi...

by I Nyoman Tingkat
August 4, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

by Sugi Lanus
August 4, 2026
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita
Ulas Pentas

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia
Khas

Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia

TIM Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, yang diketuai oleh Ashlikhatul Fuaddah, pada Sabtu, 25 Juli 2026 menyelenggarakan kegiatan...

by Ashlikhatul Fuaddah
August 4, 2026
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co