27 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Clickbait”, Jurnalisme Populer yang Nyaris Kuning

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
November 14, 2025
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

SAAT masih kuliah dulu saya masih ingat , yang disebut jurnalisme kuning  alias yellow journalism adalah koran berisi berita skandal, drama, dan gosip yang membakar emosi. Isinya skandal dan berita sensasional melulu. Tujuannnya agar pembaca tertarik dan tergoda lalu membeli korannya. Sekarang ini, wajahnya sudah berganti macam oplas, bukan lagi di tangan Joseph Pulitzer atau William Randolph Hearst, tapi di layar-layar ponsel kita.

Bedanya, kalau dulu yang dikejar adalah oplah, sekarang yang dikejar adalah klik. Jadi berita-berita yang cukup berbobot semacam politik ekonomi atau budaya, juga akan dipecah jadi beberapa berita dan diberi judul yang nyeleneh-nyeleneh, agar orang tertarik untuk klik.  Fenomena ini lalu menimbulkan pertanyaan dalam hati,  apakah jurnalisme masih berpihak kepada masyarakat  atau kini justru bekerja dengan menghamba algoritma?

Dari “The Yellow Kid” ke Headline yang Meledak-Ledak

Istilah yellow journalism muncul di Amerika Serikat akhir abad ke-19, saat dua raksasa media, Pulitzer (New York World) dan Hearst (New York Journal), saling sikut berebut pembaca. Mereka menulis dengan gaya sensasional, judul membakar emosi, cerita dilebih-lebihkan, dan gambar karikatur penuh provokasi.  Pokoknya, yang penting pembaca terpikat. 

Kartun The Yellow Kid yang populer di masa itu menjadi simbol perebutan perhatian, dan dari situlah lahir istilah yellow journalism, yaitu jurnalisme murahan yang menjual sensasi ketimbang substansi. Kalimatnya kira-kira begini, “Jika tak bisa membuat pembaca berpikir, setidaknya buat mereka marah atau terkejut.”   Setelah sekian decade, slogan itu kini mulai terdengar sangat relevan lagi. Ada aroma rada mata gelap kalau soal menggaet audiens.

Mari loncat ke abad 21. Kita tak lagi membeli koran, tapi membuka beranda berita di ponsel.
Namun, logika dasarnya masih sama saja, rebut perhatian sebanyak mungkin. Bedanya, kali ini yang mengatur panggung media bukan redaktur, melainkan algoritma.Di dunia kita yang diukur dalam views, clicks, dan impressions, berita kini dinilai bukan dari kedalaman, tapi dari performa datanya.

Maka muncullah clickbait journalism,  versi digital dari yellow journalism. Bentuknya lebih sopan, tapi esensinya sebelas duabelas,  membungkus informasi dengan emosi. Headline sepert misal, “Kamu Tak Akan Percaya Apa yang Dikatakan Menteri Ini!”, “Omongan Pejabat Ini Bakal Bikin Kamu Tepok Jidat!” Bahkan media yang dulu kita anggap serius pun mulai memakai strategi ini. Apakah mereka tiba-tiba berubah menjadi tabloid kuning digital? Tidak juga. Saya yakin dan paham, mereka para pelaku media ini dalam kondisi sedang mencoba bertahan,  sedang bernegosiasi alot dengan realitas algoritma.

Ketika Nilai Berita Dihitung oleh Mesin

Di masa lalu, nilai berita alias news value ditentukan oleh editor berdasarkan lima kriteria klasik, timeliness, proximity, conflict, prominence, dan human interest.  Kini, muncul kriteria baru yang terdengar asyik, “clickworthiness.”Berita yang dianggap penting bukan lagi yang berdampak besar, tapi yang paling sering dibaca.  Dan siapa yang menentukan itu? Bukan para  jurnalis, melainkan mesin pembaca perilaku kita.

Seperti kata Christian Fuchs (2017), kita kini hidup di dalam algorithmic public sphere, ruang publik yang diatur bukan oleh nalar manusia, melainkan logika kode. Facebook, X (Twitter), dan Google tidak peduli apakah isi berita mencerdaskan atau menyesatkan. Mereka hanya peduli berapa lama kita menatap layar. Neil Postman pernah mengingatkan dalam Amusing Ourselves to Death (1985), “Kita tidak lagi dihancurkan oleh apa yang kita benci, tetapi oleh apa yang kita cintai, yakni hiburan.” Dan kini, hati-hati para pembaca yang budiman, hiburan itu menyamar sebagai berita.

Di Sini Letak Dilema Etiknya

Kita juga tak bisa semata menyalahkan media. Ekonomi digital memaksa mereka untuk hidup dalam tekanan klik. Iklan digital dibayar per tayangan, bukan per bobot isi. Maka, redaksi harus beradaptasi dengan  cara memecah satu isu menjadi tiga atau empat berita, menulis ulang dengan sudut berbeda, menata thumbnail agar lebih menggoda.  Ini disebut strategi fragmentasi konten. Tujuannya sederhana, untuk memaksimalkan visibilitas.

Misalnya begini, satu peristiwa sidang korupsi yang sedang naik daun bisa dibuat jadi empat berita. Contoh headline-nya bisa dipecah dari unsur who-nya, Jaksa tuntut 10 tahun penjara, Pembela sebut tuntutan tidak adil, Ahli hukum menilai adanya preseden baru, Publik bereaksi keras di media sosial, dll. Apakah ini jurnalisme kuning? Tidak. Apakah ini jurnalisme ideal? Belum tentu juga.  Inilah wajah jurnalisme populer algoritmik, suatu formula jurnalistik campuran antara idealisme profesi dan pragmatisme platform.

Yang menjadi masalah bukan pada isinya. Isi berita tetap sering kali faktual dan informatif,
tetapi yang kadang jadi persoalan adalah pada cara dan frekuensi penyajiannya. Ketika berita terlalu dipecah, konteksnya cenderung hilang.  Ketika headline terlalu hiperbola, kepercayaan publik bisa runtuh. Ketika semua berita berlomba menjadi viral, ruang publik berubah menjadi pasar emosi. Dan di situlah marwah jurnalisme diuji. 

Bill Kovach dan Tom Rosenstiel (2001) dalam The Elements of Journalism menulis, “Kewajiban pertama jurnalisme adalah kepada kebenaran, dan kesetiaan pertamanya adalah kepada warga.” Artinya jelas, pada hakiktnya jurnalis tidak boleh menjadi hamba algoritma. Ibarat ia boleh menari mengikuti irama digital, tapi langkahnya tetap harus dipandu oleh nurani.

Melek Algoritma, tapi Tetap Beretika

Karena itu, saya kira jalan keluarnya bukan menolak algoritma, tapi memahaminya. Seorang jurnalis modern perlu memiliki algorithmic literacy , kemampuan untuk mengerti bagaimana mesin distribusi bekerja,  tanpa kehilangan tanggung jawab sosial.  Ia harus tahu bagaimana membuat headline menarik tapi tidak menipu, bagaimana mengemas data agar ramah SEO tapi tetap kontekstual, bagaimana mengoptimalkan tayangan tanpa mengorbankan substansi. Dengan kata lain, bermain cerdas di ekosistem digital tanpa menggadaikan integritas.

Itu sebabnya pendidikan jurnalistik masa kini perlu menanamkan dua literasi sekaligus, pertama adalah literasi algoritmik,  agar para calon jurnalis kita  paham bagaimana cara kerja ekosistem digital, lalu yang kedua adalah literasi etika digital ,  agar mereka tidak kehilangan kompas arah moral di tengah banjir klik. Tanpa dua hal itu, kita hanya akan menghasilkan jurnalis yang pandai menulis, tapi tak tahu untuk siapa ia menulis.

Menjaga Pilar Demokrasi di Tengah Tekanan Mesin

Pada akhirnya, seperti harapan masyarakat pada umumnya, bahwa jurnalisme bukan sekadar industri informasi, yang sekedar mencari cuan, lebih dari itu jurnalisme  adalah pilar demokrasi. Ketika publik dicekoki hoaks, manipulasi, dan politik citra, jurnalis adalah penjaga terakhir agar wacana publik tetap rasional.

Jürgen Habermas (1989) mengingatkan,  demokrasi hidup di atas ruang publik yang sehat, di mana warganya dapat berpikir, berdialog, dan berdebat dengan dasar fakta.
Tanpa jurnalisme yang independen, ruang publik akan berubah menjadi sesuatu yang  istilah kerennya Algorithmic Echo Chamber,  ruang yang hanya memantulkan opini kita sendiri.

Maka jurnalis yang baik bukan hanya penulis berita belaka, tapi juga penjaga kesadaran kolektif.
Ia harus cakap mengelola perhatian publik  tetapi dengan kejujuran, bukan tipu muslihat.  Jurnalis boleh mengikuti ritme digital, memakai SEO, memecah konten, dan memantau klik. 
tetapi tetap  tidak boleh melupakan satu hal, bahwa setiap berita adalah tentang manusia, untuk manusia, dan demi manusia.

Karena pada akhirnya, sebagaimana dikatakan oleh Walter Lippmann seabad lalu, bahwa berita berfungsi sebagai penerang dalam dunia yang penuh ketidakpastian dan manipulasi informasi.  Karena itulah tugas jurnalis adalah menjaga agar lampu penerangan itu tetap menyala, meski kini ia harus tertatih menjaga terangnya di bawah silau sorotan lampu algoritma. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

AI dan Seni, Karya Dialogis yang Sarat Ancaman?
Tags: jurnalismejurnalistikmedia massa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Memilih Pohon Sebelum Pinangan — Kumpulan Puisi

Next Post

Richard Feynman, Fisika dan Puisi

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

by Angga Wijaya
October 27, 2026
0
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

Read moreDetails

Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

by I Wayan Yudana
October 27, 2026
0
Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

Oktober selalu menjadi bulan istimewa bagi dunia pendidikan. Sekolah-sekolah menyelenggarakan Bulan Bahasa melalui berbagai kegiatan, mulai dari lomba membaca puisi,...

Read moreDetails

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

Read moreDetails

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails
Next Post
Richard Feynman, Fisika dan Puisi

Richard Feynman, Fisika dan Puisi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara
Opini

Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara

SENIN pagi, 26 Oktober 2026, saya mengikuti sebuah diskusi di Markas Besar UNESCO, Paris, yang bertajuk Artists at Risk: Voices...

by I.G.A.K. Satrya Wibawa
October 27, 2026
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri
Esai

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

by Angga Wijaya
October 27, 2026
Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung
Esai

Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

Oktober selalu menjadi bulan istimewa bagi dunia pendidikan. Sekolah-sekolah menyelenggarakan Bulan Bahasa melalui berbagai kegiatan, mulai dari lomba membaca puisi,...

by I Wayan Yudana
October 27, 2026
Membaca  Ulang “Ubud is Winter”
Ulas Rupa

Membaca  Ulang “Ubud is Winter”

SORE menjelang senja di Gajah Mas Gallery, Pengosekan, Ubud-Gianyar, matahari kian sorong ke batas laut. Cahaya jingga yang kerap memantul...

by I Wayan Westa
October 27, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik

HUJAN mengguyur Ubud ketika malam penutupan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) hendak dimulai. Namun, hujan perlahan mereda seiring berlangsungnya...

by Dede Putra Wiguna
October 27, 2026
Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co